Tiga Puluh Menit dengan PMK ITY    

pada hari Sabtu, 25 Maret 2017
oleh adminstube
 
Pada hari Jum’at, 24 Maret 2017, Stube-HEMAT Yogyakarta berkesempatan untuk melakukan sosialisasi kepada teman-teman Persekutuan Mahasiswa Kristiani Institut Teknologi Yogyakarta. Sosialisasi dilakukan bersamaan acara ibadah rutin mingguan mahasiswa. Ada sekitar enam belas peserta yang hadir mengikuti ibadah dan sosialisasi. Setelah selesai ibadah, Sarloce, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta diberi kesempatan menyampaikan apa itu Stube HEMAT dan program-program yang dilakukan lembaga ini. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa Stube adalah lembaga pendampingan mahasiswa bagi mahasiswa yang menempuh studi di Yogyakarta. Beberapa contoh program yang pernah dilakukan meliputi Manajemen Konflik, Pertanian Organik, Masalah Anak Muda dan masih banyak lagi.


Untuk lebih jelas mengenai pelayanan program di Stube HEMAT, diputarlah sebuah video yang berisi kegiatan Stube di tahun 2015 dan 2016. Setelah selesai pemutaran video seorang mahasiswa bernama Riyandi bertanya, “Apa cara yang dilakukan Stube dalam merangkul teman-teman yang berbeda keyakinan dan budaya?” Dijelaskan pada kesempatan itu bahwa Stube HEMAT terus melakukan pendekatan dengan teman-teman yang berbeda budaya dan agama dengan membangun silaturahmi dengan mereka. Apabila komunikasi terjalin dan sudah saling kenal satu dengan yang lain maka sudah pasti akan ada kepercayaan. Proses membangun rasa percaya bukan sesuatu yang instan tetapi dapat dicoba meski perlu sedikit kesabaran.
 

 

Timotius bertanya, “Mengapa Stube hanya di Sumba dan Bengkulu sedangkan banyak tempat lain di Indonesia?” Membuka Stube di lain tempat tidak seperti membuka cabang toko, karena harus dimulai dari keterpanggilan. Stube HEMAT Sumba dan Bengkulu dibawa oleh mereka yang pernah aktif di Stube HEMAT Yogyakarta. Jika teman-teman ingin membangun di tempat lain bergabunglah dengan Stube agar Stube dapat dibangun di Sulawesi, Papua, Kalimantan dan kota lain di Indonesia.
 

 

Elisabet Uru Ndaya (Elis), salah satu aktivis di Stube HEMAT Yogyakarta bercerita bahwa sebelum mengikuti Stube dia tidak banyak tahu tentang motif kain Sumba, meski dia berasal dari Sumba. Tetapi saat bergabung dengan Stube HEMAT Yogyakarta, dia mendapatkan tantangan karena selalu dikatakan “orang Sumba kok tidak tahu motif pada kain Sumba”. Dari kalimat ini Elis menerima tantangan untuk mengikuti program Eksposur Lokal dengan meneliti dan belajar filosofi motif kain Sumba. Saat ini dia merasa lebih diperkaya dan lebih dekat dengan kampung halamannya.
 
Sebagai penutup, Sarloce menyampaikan bahwa Stube tidak menyediakan segala yang mahasiswa butuhkan tetapi Stube merupakan batu pijakan bagi bagi teman-teman untuk meloncat lebih jauh seperti mendapat pengalaman dan pengembangan kemampuan pribadi. (SAP).

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook