Membuka Cakrawala Melalui Interaksi Antar Bangsa Partisipasi Stube-HEMAT dalam Pre-Conference International Youth Camp (IYC) 2017   Wittenberg, Jerman, 30 Jan – 5 Feb 2017

     

pada hari Jumat, 10 Februari 2017
oleh adminstube

Stube-HEMAT merupakan lembaga pengembangan sumber daya manusia yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Jaringan kerjasama terjalin baik di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan internasional yang dilakukan diantaranya adalah Eksposur ke Stube Jerman dan partisipasi dalam International Youth Camp (IYC) di Wittenberg, Jerman. Eksposur ke Stube Jerman dilakukan untuk meningkatkan persaudaraan antar pemuda dan aktivis Stube HEMAT Indonesia dan Stube yang ada di Jerman atas inisiatif ESG (Evangelischen Studierendengemeinden in Deutschland). Sementara partisipasi dalam IYC merupakan undangan dari dua lembaga yakni aej/arbeitsgemeinschaft der Evangelischen Jugend eV (Federasi Pemuda Kristen di Repulik Jerman) dan ESG.
 
IYC menjadi salah satu kegiatan dari peringatan 500 tahun reformasi gereja yang diadakan di Wittenberg, Jerman pada bulan Juli-Agustus 2017 dan diikuti sekitar 300 peserta dari 20 negara untuk belajar dan mengenal Martin Luther, sejarah dan perkembangan reformasi sampai saat ini. Di dalamnya ada aktivitas untuk saling mengenal budaya dan keberagaman melalui pertunjukan seni, workshop, permainan dan diskusi kelompok.
 
Sebagai persiapan kegiatan tersebut, diselenggarakan pertemuan awal IYC pada 30 Januari s.d. 5 Februari 2017 di Wittenberg, Jerman. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama antara panitia internasional dengan para koordinator utusan masing-masing lembaga dari berbagai negara. Stube-HEMAT mengutus Ariani Narwastujati, Direktur Stube-HEMAT dan Trustha Rembaka, koordiantor Stube-HEMAT Yogyakarta. Ariani Narwastujati merupakan anggota International Planning Committee IYC dan Trustha Rembaka sebagai koordinator utusan dari Stube-HEMAT Indonesia.
 
 
Pertemuan persiapan ini membahas banyak hal seperti usulan kegiatan selama IYC yang mencakup aspek ‘dahulu’ (then), ‘now’ (sekarang) dan ‘soon’ (nanti) dan berkaitan dengan ‘head’ (kepala), ‘heart’ (hati) dan ‘hand’ (tangan).’ Adapun usulan workshop mencakup diskusi tentang Martin Luther, acara rohani, kunjungan kota Wittenberg, olahraga, menyanyi dan permainan kerjasama. Pembahasan yang tak kalah seru adalah tata tertib, karena IYC menjadi wadah pertemuan lintas negara yang berbeda budaya dan kebiasaan, maka ada perbedaan cara pandang dan perilaku yang menjadi kebiasaan setiap bangsa. Hal ini mesti disadari dan dipahami oleh koordinator kelompok yang harus menyampaikan hal itu kepada para anggotanya. Pre-conference ini memberi gambaran yang jelas tentang IYC, apa saja yang dilakukan, siapa saja pesertanya, bagaimana keadaan lokasinya, apa saja kegiatan IYC, apa yang harus disiapkan oleh setiap kontingen dan apa yang akan dilakukan setelah pre-conference.
 
 
 


Untuk memberi gambaran lokasi yang akan dipakai, para koordinator mendapat kesempatan mengunjungi lokasi perkemahan yang terletak di bagian utara kota Wittenberg yang saat itu tertutup salju musim dingin. Namun demikian peserta tetap bisa menyaksikan lokasi yang terhampar luas dan beberapa gundukan tanah yang menyerupai bukit-bukit kecil. Dipandu oleh Claudius Weykonath, manajer pelaksana IYC, peserta mendapat informasi pembagian kawasan perkemahan baik untuk tenda peserta, kegiatan luar ruang, tenda workshop, layanan umum dan hiburan. Selanjutnya Annette Klinke (ESG) mengajak peserta berkeliling Wittenberg untuk mengunjungi Stadtkirche, tempat Martin Luther menyampaikan kotbah-kotbahnya, juga Schlosskirche, sebuah gereja klasik dari abad pertengahan yang memiliki menara tinggi besar, dimana Martin Luther memakukan dalil-dalil penolakan terhadap penyelewengan ajaran kekristenan di pintu gerbangnya. Gereja-gereja tersebut tetap terawat baik sampai saat ini.
 

Meskipun belum semua bisa hadir, beberapa koordinator lembaga yang datang saat itu diantaranya adalah Wilfredo (Argentina), Chun Yung (Taiwan), Arpad (Rumania), Fadi (Palestina), Jeno (Romania), Carmen (Germany), Gottfried (Germany), Heidrun (Germany), Matthias (Germany), Sandra (Portugal), Jean Bosco (Rwanda), Yana (Rusia), Lena (Germany), Nadine (Germany), Ulrike (Germany), Hannan (Palestine), Hafeni (Namibia), dan Hans Ulrich (Germany). Hal yang menarik adalah meskipun baru bertemu, rasa kebersamaan dan kehangatan relasi dapat dirasakan oleh masing-masing peserta.
 
 
 
Sebelum kembali ke Indonesia, Ariani dan Trustha bersama Annette Klinke bertemu dengan Dirk Thesenvitz (direktur aej) dan Kathleen Schneider-Murandu dari BfDW, salah satu jejaring Stube di Berlin. Sophieneck, sebuah restoran khas makanan Jerman, menjadi salah satu tempat untuk melewatkan malam di kota ini selain sejarah tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.
 

Sungguh sebuah pertemuan yang membuka perspektif bahwa keberagaman adalah kenyataan di muka bumi ini dan terwujudnya relasi antar bangsa khususnya anak muda yang dilandasi sikap saling menghargai merupakan upaya untuk mewujudkan perdamaian. (TRU).

Ariani memandu sesi introduction peserta

 

Trustha mempresentasikan gagasan kelompok
 
Ariani memandu salah satu FGD

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook