pada hari Jumat, 15 Juli 2016
oleh adminstube
PLTN, Siapkah Kita?

 

Kunjungan Belajar ke Pusat Sains Dan Teknologi Akselerator (PSTA) BATAN

 

(Rangkaian Eksposure Pelatihan Energi Terbarukan)

 


 
 

 

Keinginan mengetahui lebih pasti tentang nuklir membawa beberapa mahasiswa aktifis Stube HEMAT Yogyakarta berkunjung dan berdiskusi di PSTA BATAN - Badan Tenaga Nuklir Nasional (14/7/2016), Jl. Babarsari Kotak Pos 6101, Sleman, D.I Yogyakarta 55281. Kunjungan ini merupakan bagian eksposur pelatihan energi terbarukan yang sudah diselenggarakan beberapa waktu lalu (17-19/6/2016). Tetapi, mengapa nuklir? Bukankah nuklir tidak termasuk dalam komponen energi terbarukan? Pertanyaan ini wajar bagi mereka yang tidak mengikuti pelatihan, sebab mereka tidak tahu jika di awal pelatihan salah satu harapan peserta adalah ingin mengetahui sumber energi baru yaitu nuklir, tanpa mengecilkan potensi energi terbarukan Indonesia.

 

 

 

Pengalaman Perdana

 

Mengunjungi reaktor nuklir, merupakan kunjungan pertama dan pengalaman perdana bagi semua yang mengikuti kegiatan ini termasuk bagi Direktur Eksekutif Stube HEMAT. Standar prosedur pengamanan masuk sebuah reaktor nuklir termasuk ketat, karena tidak sembarang orang dapat memasuki area ini, dimulai dari gerbang masuk, kartu identitas dan barang bawaan mendapat pengawasan. Sambutan tuan rumah/ PSTA BATAN sangat baik, sejak pintu masuk ada petugas yang menyambut dan menjelaskan kegiatan dan proses apa saja yang terjadi di tempat ini, sampai diantar menuju ruang seminar. Rombongan Stube-HEMAT diterima langsung oleh Kepala PSTA BATAN Yogyakarta DR. Susilo Widodo dan Mantan Deputi BATAN RI DR. Ferhat Azis. Kesempatan mendengar “kuliah umum” dan bertanya jawab langsung dengan dua orang “decision maker” lembaga ini merupakan hal langka.

 

 

 

Mencengangkan

 

Rencana pembangunan PLTN di Jepara, Jawa Tengah menuai pro dan kontra masyarakat. Selama ini orang hanya mendengar dampak buruk nuklir, tanpa mendapat penjelasan dari pihak-pihak yang pro dan kontra dan berkompeten di bidangnya. Nuklir tidak selamanya berdampak buruk, karena menurut penjelasan Dr. Susilo, ahli dalam standar pengamanan radiasi, nuklir merupakan teknologi yang berguna bagi masyarakat, contohnya rontgen dalam bidang kedokteran, radiasi nuklir bisa memperpendek beberapa varietas padi unggulan sehingga bisa cepat dipanen, radiasi dapat mengawetkan makanan dalam kemasan, seperti bantuan makanan yang dikirim bagi korban bencana di Bangladesh. Secara sederhana, radiasi nuklir itu aman karena hanya seperti nelayan memaparkan ikan pada radiasi sinar matahari untuk membuat ikan asin awet.

 

 

 

Reaktor nuklir di Yogyakarta belum memenuhi syarat sebagai pembangkit listrik sebab daya yang dihasilkan hanya 100 KW. Meskipun demikian, reaktor ini tetap berada di bawah pengawasan IAEA (Badan Tenaga Nuklir Internasional).

 

 

 

Dr. Ferhat Azis, menjelaskan bahwa nuklir sangat bermanfaat bagi umat manusia.  Pembangkit listrik tenaga nuklir misalnya, harganya akan sangat terjangkau, karena 1 kapsul uranium (bahan nuklir) seberat 7 gram bisa menghasilkan listrik setara yang dihasilkan oleh 3,5 barel minyak bumi atau 2 ton batu bara. Tragedi Chernobyl dan Fukushima bisa diatasi dengan kemajuan teknologi Generasi 3+ yang artinya semua peralatan yang dipakai sangat canggih dan memiliki sistem untuk memperkecil resiko ledakan dan radiasi. PLTN 3G+ didesain tahan gempa, tsunami, ledakan, dan memiliki sistem mati (shut down) otomatis ketika terjadi human error atau kegagalan yang tidak teratasi manusia. Sehingga, Dr. Ferhat menambahkan, kita tidak perlu khawatir dengan ledakan besar nuklir, sebab potensi ledakan besar nuklir hanya terjadi jika uranium yang dipakai mengalami proses pengayaan dari 20% sampai 80% sementara pada umumnya PLTN maksimal melakukan pengayaan hanya mencapai 20%.

 

 

 

Melihat Reaktor

 

Melihat reaktor “Kartini” di belakang ruang seminar membuat kami semua takjub. Standar prosedur keamanan begitu ketat seperti tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam ruang reaktor, menggunakan jas laboratorium dan sepatu kain sebagai pelapis alas kaki. Reaktor ini dipakai sebagai tempat penelitian dan beroperasi saat ada permintaan dari pihak luar untuk melakukan berbagai pengujian nuklir. Reaktor berbentuk tampungan air ini berprinsip kerja memanaskan air melalui reaksi fusi berantai uranium dan uap air dipakai untuk memutar turbin sebagai pembangkit listrik.

 

 

 

Dr. Ferhat mengatakan bahwa para ahli nuklir Indonesia siap menjalankan PLTN, karena memiliki kemampuan dan kompetensi, bahkan Indonesia adalah salah satu negara pengekspor komponen PLTN ke Eropa salah satunya ke Finlandia.

 

 

Hari itu merupakan pembelajaran berharga untuk memahami bahwa nuklir tidak selalu merusak. Marilah kaum muda belajar menyiapkan diri, dimulai dari energi terbarukan sederhana, sebab negara dengan rasio elektrifikasi tinggi mengindikasikan negara maju. Sudah siapkah kita menciptakan kemajuan bangsa? (SRB).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook