pada hari Rabu, 22 Juni 2016
oleh adminstube
Manfaatkan Energi Terbarukan:
Kita Bisa Apa?
  
 
Keresahan bersama tentang masa depan energi terjawab sudah, dalam pelatihan energi terbarukan bertema “Manfaatkan Energi Terbarukan: Kita Bisa Apa?”. Walau terbilang singkat, 17-19 Juni 2016, pelatihan yang diadakan di Wisma Salam Magelang ini terbukti memantik rasa ingin tahu dan kesadaran peserta mengenai permasalahan energi. Leni, mahasiswi jurusan akuntansi asal Papua mengatakan bahwa di awal pelatihan ia sama sekali tidak mengerti dan sedikit bingung apa itu energi terbarukan, tapi setelah berproses selama tiga hari dalam pelatihan, ia tahu bahwa energi tak dapat dipisahkan dari kehidupannya dan bahkan menurutnya semua orang harus memahami dan bergerak bersama untuk permasalahan energi ini.

Pentingnya Belajar Energi Terbarukan
Hari pertama peserta diajak untuk mengetahui pentingnya belajar energi terbarukan. Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati memberikan pemahaman konsep dasar mengenai peta penggunaan energi global dan rasio elektrifikasi. Energi terbarukan adalah jawaban bagi pemerataan pembangunan, sebab kebutuhan listrik daerah terpencil dapat dipasok energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya, biogas, tenaga air, angin dsb. Selain rasio elektrifikasi, peserta dikenalkan dengan sumber energi tradisional yang ada di Yogyakarta pengganti LPG yaitu briket yang dibuat dari sampah organik.

 
 
 
  
Menariknya Energi Terbarukan
Hari kedua peserta belajar sejarah ketergantungan energi di Indonesia yang disampaikan oleh Silverio R.L. Aji Santoso, dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma. “Materi ini belum pernah diteliti oleh ahli sejarah Indonesia, tapi memang sejak zaman Sriwijaya Indonesia sudah mengenal minyak bumi, Indonesia juga sempat mengalami kejayaan sebagai negara pengekspor minyak sebelum tahun 1969, ketika Soeharto membuka keran investor asing, pengerukan cadangan energi kita yang tanpa batas ini, disinyalir mempercepat habisnya cadangan minyak dan gas Indonesia”, tuturnya.
 
Energi terbarukan bukan melulu ranah mahasiswa teknik, ujar Irawan dari Pusat Studi Energi (PSE) Universitas Gadjah Mada. “Selama ini terbukti bahwa orang awam di pelosoklah yang jeli melihat potensi energi terbarukan di daerahnya. Semua ilmu mesti bekerja sama dalam PLTMH”, jelasnya lebih lanjut. Ia menambahkan, “Jika ingin membangun sebuah pembangkit energi terbarukan, kita mesti mengenal betul potensi daerah, jangan menilai berdasarkan kunjungan sehari, contoh ada seorang mahasiswa, ia baru sekali berlibur ke pantai tapi sudah menyatakan bahwa potensi angin di lokasi tersebut cocok untuk pembangkit listrik tenaga bayu tanpa memperhitungkan kontinyuitas angin dalam jangka waktu yang panjang”. Sesi ini menarik sebab peserta belajar berbagai macam jenis pembangkit, kegunaannya dan bagaimana merawatnya, terlebih kunjungan ke lokasi yang sudah menerapkan energi terbarukan, seperti Desa Sukunan dan PLTMH Minggir.

Di Sukunan peserta belajar bagaimana membangun biogas dan membuat briket. Harto, narasumber di Sukunan menjelaskan bahwa perlu komitmen bersama di kalangan warga agar tercipta desa mandiri energi, sebab sulit sekali membangun desa mandiri energi di Indonesia, karena kita negara kaya yang dimanja oleh alam.
 
Di PLTMH Minggir peserta diajak memahami kinerja alat dari Jepang. PLTMH ini memanfaatkan kontinyuitas aliran irigasi sebagai pemutar turbin. Hal sederhana ini dapat dilakukan di desa kami namun mahalnya peralatan dan susahnya perawatan menjadi kendala”, ungkap pak Darno pendamping lapangan PLTMH Minggir.
 
Sharing bersama Ricky aktifis Stube HEMAT Yogyakarta  yang sudah bekerja 3 tahun di PLTU Palu, menambah cakrawala peserta tentang realita yang ada mengenai kendala baik dari dalam dan luar perusahaan. Manajemen yang baik berpengaruh positif pada pekerjaan di lapangan. Ia menekankan, “Kita sebagai anak muda harus memiliki etos kerja yang tinggi dan kemampuan problem solver sebab banyak masalah tak terduga muncul sewaktu-waktu, seperti menghadapi warga di sekitar perusahaan bukan hal mudah”.
 
Apa yang Dapat Dilakukan?
Setelah ibadah Minggu, sesi analisa kebijakan energi oleh Ahmad Rahma Wardhana (PSE UGM), membuat peserta mengerti kebijakan energi terbarukan seperti PLN akan membeli listrik yang dihasilkan warga, dengan harga setiap KWH listrik energi terbarukan lebih tinggi dibandingkan sumber listrik dari energi konvensional, juga masalah alat yang sampai saat ini masih diimpor membebani modal awal dan perawatan. Yang bisa anak muda lakukan saat ini adalah mempengaruhi arah kebijakan menjadi lebih pro pada energi terbarukan di masa depan.
 
Sesi follow-up menantang peserta berpikir melakukan sesuatu berkaitan dengan energi. Beberapa peserta akan membagikan ilmu yang didapat selama pelatihan, seperti membuat briket dan kampanye hemat energi dalam kehidupan sehari-hari. Semoga pemantik kecil ini menyalakan hati dan menggerakkan tangan untuk melakukan sesuatu. Selamat berkarya sederhana kawan. (SRB).

 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook