pada hari Senin, 31 Agustus 2015
oleh adminstube
Eksposur Pelabuhan Sadeng dan

 

Pantai di Gunungkidul

 

Jumat – Minggu, 28 – 30 Agustus 2015

 

 

 

 

 

 

 

Jumat, 28 Agustus 2015 merupakan hari yang dinanti oleh peserta program ekonomi Kelautan, mengapa? Karena hari itu mereka akan berangkat eksposur  ke Sadeng Gunungkidul. Mereka adalah Yohana Kahi Leba, Dhany AA Umbu Tunggu, Abisag Ndapatara dan Fransisca Evawati, didampingi oleh Trustha Rembaka dan Stenly R. Bontinge.

 


 

Perjalanan menuju Sadeng ditempuh sekitar dua jam dari Yogyakarta ke arah tenggara membelah bumi Gunungkidul. Jalan yang berkelok mengikuti kontur geografis Gunungkidul yang berbukit-bukit menjadi daya tarik eksotisme daerah ini. Bulan Agustus ini alam Gunungkidul didominasi warna coklat karena tanah yang mengering dan tanaman yang meranggas. Di beberapa tempat bisa ditemukan bukit-bukit kapur yang tergali, terpotong, terbelah, dan membekas menjadi bopeng wajah bumi Gunungkidul. Perjalanan berakhir setelah memasuki turunan curam yang ternyata tebing sungai Bengawan Solo purba. Lambaian daun hijau puluhan pohon kelapa menyambut kedatangan kami di kawasan pelabuhan Sadeng.

 


 

Setibanya di kantor UPTD pelabuhan Sadeng, kami disambut hangat oleh Pak Soleman dan Pak Sunardi. Setelah saling berkenalan dan menjelaskan tujuan kegiatan, kami didampingi oleh Pak Sunardi berjalan berkeliling pelabuhan Sadeng. Beliau menceritakan bangunan-bangunan yang ada di kawasan pelabuhan, seperti perkantoran, dermaga, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), mess karyawan dan tamu, gudang dan dok bengkel kapal serta menunjukkan aktivitas yang terjadi di pelabuhan, antara lain proses bongkar muat  ikan, lelang ikan, jual beli ikan, menyiapkan kapal melaut dan rekreasi. Beliau juga menceritakan siapa saja yang tinggal di pelabuhan Sadeng.

 

 

 

Peserta eksposur beraktivitas sesuai minat masing-masing untuk mengenal dan mendalami ‘kehidupan’ pelabuhan Sadeng. Aktivitas pelabuhan dimulai sejak pagi, mempersiapkan logistik kapal untuk melaut, membersihkan lantai tempat pelelangan ikan, dan anak buah kapal yang bertugas menyiapkan jaring dan berbagai tali-temali. Di kawasan yang berbeda, para pedagang menyiapkan lapak-lapak ikan untuk jualan sementara pedagang yang lain bersiap dengan kios nasi rames mereka. Puluhan kapal berbagai ukuran tertambat di kolam pelabuhan. Beberapa diantaranya adalah kapal patroli milik Polairud, TNI AL  dan kapal nelayan. Tak ketinggalan ada pemandangan bangkai kapal yang terendam di salah satu sudut kolam pelabuhan.

 

  

 

Kehidupan nelayan merupakan kombinasi kehidupan yang keras penuh resiko dan kebersamaan. Mereka harus menembus ganasnya gulungan ombak dan meniti tepian karang tajam beberapa hari di tengah laut, di bawah terik sinar matahari dan berselimut dingin udara laut. Namun di balik itu, kehidupan nelayan menggambarkan kekuatan kebersamaan sesama nelayan dan pekerja pelabuhan. Menyiapkan jaring, menggulung tali dan menyiapkan logistik untuk melaut dikerjakan bersama-sama. Saat berlabuh, membongkar muatan ikan dan memperbaiki kapal pun tak bisa lepas dari kerjasama antar mereka.

Sabtu siang peserta eksposur meninggalkan Sadeng menuju Joglo Karangjati dengan kumpulan rasa penasaran yang belum terjawab. Joglo Karangjati menjadi ‘home-base’ untuk beristirahat dan menyusun catatan kegiatan.
  

 


 

Eksposur dilanjutkan Minggu pagi dengan susur pantai dan tebing dari pantai Trenggole – Watulawang – Pok Tunggal yang menjadi primadona wisata pantai Gunung Kidul. Ketiga pantai ini dulunya saling terpisah, namun kini bisa ditempuh dengan jalan kaki menyusuri pantai dan tebing karang.


 
Sayangnya, beberapa bagian tebing karang dipotong dan tanaman pandan laut ditebang demi pembuatan jalan setapak dan pengembangan wisata. Di beberapa bagian tebing pun bisa ditemukan jejak corat-coret vandalisme pengunjung. Sebuah ironi saat menikmati keindahan alam dan merusak alam.

 

 
 

 

Pantai Sundak, Ngandong dan Sadranan menjadi bidikan kami selanjutnya. Snorkling menjadi primadona di Sadranan. Belasan lapak menyediakan kacamata selam yang bisa disewa oleh pengunjung menjadi pemasukan tambahan bagi penduduk setempat. Namun di sisi lain, tingginya aktivitas para penikmat snorkling bisa mempengaruhi kelestarian alam bawah laut di pantai Sadranan.

 

 

Perjalanan kembali ke Yogyakarta melewati Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), yang di beberapa bagian sedang dibangunan. JJLS ini diharapkan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat di kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook