pada hari Senin, 15 Juni 2015
oleh adminstube
Mahasiswa Tangguh Bencana, Akankah?

 

PELATIHAN BENCANA ALAM DAN PELESTARIAN ALAM

 

Omah Petruk, Pakem, 12 – 14 Juni 2015

 

 

Bencana alam sudah menjadi peristiwa yang akrab di telinga masyarakat saat ini, karena sering terjadi akhir-akhir ini. Mulai dari meletusnya gunung merapi, banjir, tanah longsor dan berbagai bencana alam lainnya, dan yang masih hangat adalah gempa bumi di Nepal. Pertanyaannya? Apakah disetiap bencana ada masyarakat yang dapat langsung sigap membantu korban? Apakah mereka secara mandiri dan sadar memiliki tanggung jawab? Tidak semua masyarakat, bukan?

 

 

 

Mengapa? Karena mereka belum memperoleh pengetahuan yang memadai tentang mitigasi bencana. Mitigasi bencana yang dimaksud disini adalah menyiapkan masyarakat atau pemuda setempat untuk memiliki kesigapan menghadapai bencana yang tiba-tiba terjadi, atau sering disebut tanggap bencana.

 

 

 

 
Judul di atas merupakan topik pelatihan Stube_HEMAT yang berkaitan dengan Bencana dan Pelestarian Alam. Selama tiga hari dua malam, para peserta (22 mahasiswa, 4 relawan dan 6 tim kerja) melakukan pelatihan di Omah Petruk, Wonorejo, Pakem, dari tanggal 12-14 Juni 2015. Hawa dingin yang menusuk selama pelatihan tidak mampu membekukan semangat para peserta ini. Nara sumber yang dihadirkan adalah:

 

 

 

 

 

  • Johan Dwi Bowo, dari Perkumpulan Lingkar, dengan materi “Pengertian Bencana dan Mitigasi Bencana”
  • Waluyo Raharjo kepala BASARNAS Yogyakarta, dengan materi “Apa itu BASARNAS dan sharing pengalaman”
  • Endro Sambodo, anggota TIM SAR MERAPI, membawakan materi “Partisipasi Mahasiswa dalam Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana”

 

Masing-masing nara sumber memiliki kemampuan dan pengalaman yang berbeda-beda. Sebagai pengalaman praksis, para peserta diajak ke beberapa tempat ekposur seperti, Yakkum Emergensi Unit (YEU), Museum Gunung Merapi (MGM), dan Desa Hargobinangun sebagai desa tangguh bencana.


  
Museum Gunung Merapi mendokumentasikan semua aktivitas Gunung Merapi dari awal meletus sampai sekarang, sehingga peserta mendapatkan gambaran utuh bagaimana aktivitas vulkanik gunung berapi dan bencana yang ditimbulkan.


 
 
   
Lembaga YEU memiliki teknologi dan beberapa alat peraga yang dipakai dalam kondisi tanggap darurat, sehingga peserta bisa belajar dan menyikapi hal-hal yang harus dilakukan dalam kondisi tersebut.

Sementara Desa Hargobinangun sebagai desa tangguh bencana memiliki masyarakat yang sigap dan tangguh serta mampu untuk mengkordinir diri mereka serta keluarga untuk menghindari bencana.

 

 

 

Menurut Sarloce Apang selaku koordinator lapangan pada pelatihan ini, antusias peserta sangat besar meskipun harus melawan hawa dingin dan berharap, “Teman-teman peserta yang telah mengikuti pelatihan ini diharapkan dapat memahami apa tindakan yang dapat mereka ambil ketika berada dalam siatuasi darurat, dan mereka juga diharapkan terus memperkuat jejaring yang sudah ada. Selanjutnya akan lebih baik apabila mereka lebih mendalami mengenai Bencana dan Mitigasi bencana sebagai bekal untuk dibawa ketika pulang ke daerah asal mereka”.

 


 

Pelatihan ditutup dengan sesi terakhir follow up atau merencanakan tindak lanjut. Para peserta berniat mengambil bagian melanjutkan apa yang sudah mereka dapatkan, mulai dari sharing ke teman-teman komunitas, menindak lanjuti belajar ke YEU, memanfaatkan lahan untuk reboisasi, dan membuat video pendek mengenai bencana.***SAP

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook