pada hari Minggu, 12 April 2015
oleh Stube HEMAT
Mengurangi Kekerasan

 

terhadap Lingkungan

 

oleh PMK Institut Teknologi Yogyakarta

 


 

  

 

 

 

Setelah mengikuti pelatihan manajemen konflik “Cerdas Kelola Konflik” dari Stube HEMAT Yogyakarta, beberapa peserta dari Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) Institut Teknologi Yogyakarta yang dulu bernama Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) tertarik melakukan follow up “unik” yaitu pengurangan kekerasan terhadap lingkungan. Mengapa demikian? Menurut mereka, kekerasan tidak hanya dilakukan manusia kepada sesamanya, tetapi juga dilakukan manusia terhadap lingkungan, seperti buang sampah sembarangan bahkan tidak memilahnya. Seperti apa kegiatannya? Pilihan jatuh pada kegiatan edukasi lingkungan untuk anak usia Sekolah Dasar. Edukasi lingkungan sangat penting karena menjadi bekal pengetahuan dasar untuk memahami pentingnya alam bagi manusia.  Aksi insidental selama ini seperti bersih sungai tidak membuahkan hasil, seperti yang diungkapkan David, Sekretaris PMK ITY, “Saya kaget saat melihat sungai kotor lagi setelah kami bersihkan sehari sebelumnya”. Kebiasaan buang sampah di sungai ternyata tetap dilakukan bahkan sehari setelah aksi bersih sungai Gajah Wong menyambut hari bumi.

 

 

 

Keluguan Anak Menegur Orang Dewasa. Secara psokologis orang dewasa cenderung menurut jika ditegur anak kecil, contohnya seorang suami atau ayah belum tentu segera mematikan rokoknya jika ditegur istri, tetapi jika anaknya yang menegur pasti dia akan langsung mematikannya. Konsep seperti inilah yang diharapkan tumbuh di kalangan anak-anak, mereka melakukan dan berupaya menegur siapa saja yang melakukan kekerasan terhadap lingkungan.

 

 

 

Membuktikan Realita.  Pergerakan itu mesti didahului alasan filosofis mendasar maupun pembuktian bahwa anak kecil bisa menjaga lingkungan bukan isapan jempol. Maka siang itu Jumat (10/4/2015) dengan didampingi Tim Stube-HEMAT Yogyakarta, rombongan PMK ITY bersama beberapa mahasiswa dari FKIP UST juga mahasiswa APMD mengunjungi Sanggar Anak Alam (Salam), sebuah sekolah alternatif yang menitikberatkan pendidikan melalui media lingkungan. Anak-anak benar-benar diajari bagaimana menjaga lingkungan terbukti dengan adanya Bank Sampah dan biogas di sekolah tersebut. Teriknya matahari tidak menjadi halangan bagi para mahasiswa untuk berdiskusi dengan Ibu Wahya (Pengurus Salam). Para mahasiswa diperlihatkan sebuah film dokumenter yang menceritakan seorang anak kecil mengurangi timbunan sampah di sekitar SALAM, bahkan mereka juga melarang orang dewasa membuang sampah di situ dengan memasang  “hantu-hantuan” penjaga.

 

 

 

Kejadian itu menunjukkan sebuah unjuk rasa dibalut keluguan seorang anak, namun efektif membuat orang dewasa malu akan tindakan yang tidak ramah lingkungan. Materi diskusi siang itu cukup membakar semangat peserta, mereka menemukan kemenangan kecil, yang menjadi landasan mereka untuk memulai edukasi lingkungan ke sekolah-sekolah dasar yang direncanakan akan berlangsung mulai bulan ini. Martius selaku ketua gerakan ini mengatakan, “Ternyata anak kecil saja sudah berani menjaga lingkungan, mengapa kita orang dewasa bisa kalah dengan mereka”. Keakraban siang itu ditutup dengan foto bersama, sambil berkomitmen masing-masing dalam hati akan terus berjuang menolak kekerasan terhadap lingkungan. (SRB)

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook