pada hari Kamis, 30 Oktober 2014
oleh adminstube
MENJADI SAHABAT

 

BAGI SESAMA

 

 

 

 

 

 

 

 

Seorang laki-laki gila berkeliaran menyambut kedatangan rombongan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Jakarta di Wisma Pojok, Jl. Kubus, Condong Catur Yogyakarta. Sebuah pemandangan yang tidak sedap tentunya. Celana kumal pendek berwarna coklat, kaos kotor sobek dengan kepala bermahkotakan tas plastik kresek, menjadi balutan tubuh orang gila itu.

 

 

 

 

 

Bertemu dengannya, sungguh menjadi sesuatu yang dihindari semua orang. Lebih-lebih tidak diketahui pasti apakah orang gila tersebut aman, atau tiba-tiba bisa mengamuk dan membahayakan orang yang ada di sekitarnya. Semua mata melihat padanya saat lewat gerbang masuk wisma. Ada yang mulai menggoda orang gila itu, ada yang iseng melempar batu, tetapi ada juga yang memberinya roti dan segelas aqua.

 

 

 

Itulah sajian awal kegiatan studi sosial yang dilakukan siswa-siswi SMPK Tirta Marta-BPK Penabur tahun ini yang mengambil tema “Menjadi Sahabat Bagi Sesama”. Bersama mahasiswa-mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta, mereka akan melihat, belajar dan berinteraksi dengan masalah-masalah sosial di Yogyakarta. Kunjungan ke Yayasan Kampung Halaman, Sayap Ibu Anak, Sayap Ibu Difabel, Pamardi Putra, Rumah Dome, Topeng Bobung, Batik Jumput, Wayang Sodo, dan Blangkon menjadi agenda kegiatan mereka selama di Yogyakarta. Masing-masing tempat kunjungan mempunyai kisah dan pergumulannya yang diharapkan mengajarkan sesuatu untuk mengasah kepekaan hati serta mempertajam jiwa anak-anak yang masih muda ini menjadi sahabat dan berdamai dengan sesamanya.

 

 

 

 

 

 

Hiruk pikuk Jakarta dan permasalahan metropolitan sejenak ditinggalkan untuk merasakan ketenangan tinggal bersama keluarga-keluarga di Desa Bejiharjo, Gunung Kidul, Yogyakarta. Melihat hidup keseharian masyarakat di sana dan ikut beraktivitas keluarga yang ditinggali menjadi satu aktivitas menarik buat mereka. Gua pindul yang menjadi satu ikon wisata di desa ini, tak luput dari kunjungan mereka. Betapa anak-anak ini diajak untuk langsung melihat dan bagaimana mereka diajarkan bersyukur atas hidup yang mereka miliki dan kuasa Allah atas ciptaannya. Keramahtamahan Pendeta GKJ Bejiharjo beserta majelis dan seluruh jemaat GKJ Bejiharjo yang bersedia membuka pintu bagi siswa-siswi untuk menjadi bagian kehidupan, meski hanya semalam, sungguh menjadi bukti kesatuan tubuh Kristus dalam jemaatnya yang tersebar di mana-mana.

 

 

 

Kumpulan pengalaman selama studi sosial di Yogyakarta, dibagikan dalam sebuah presentasi sederhana yang menarik oleh anak-anak tersebut. “Meskipun capek, tapi nggak terasa, karena kami senang mengikuti kegiatan ini”, tutur salah satu siswa. Pendeta Sundoyo yang membuka dan menutup ibadah menuturkan, “Apa saja yang ditemui dalam studi sosial ini merupakan cerminan kehidupan bangsa Indonesia yang masih banyak pergumulan dan perjuangan, sehingga jadilah bagian yang berfungsi memperbaiki keadaan tersebut, dengan menjadi sahabat bagi sesama dimanapun berada.”

 

 

Dalam acara penutupan itu, seorang siswa meminta maaf telah melempar batu pada orang gila yang menyambut kedatangan mereka, yang ternyata aktivis Stube HEMAT Yogyakarta yang mencoba memancing kepekaan atas lingkungan dan situasi yang ada. ***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook