pada hari Jumat, 18 Juli 2014
oleh adminstube
Logistik, Logika dan Hati

 

Refleksi Exploring Sumba

 

 

 

 

 

 

Spread your little wings and fly away, fly away, far away, pull yourself together, cos you know you can do better that’s because you‘re a free man.

 

 

 

Penggalan lirik lagu Queen di atas merupakan salah satu pemicu yang memotivasi saya mengikuti program eksploring Sumba.

 

 

 

 

Logistik. Minggu pertama dan kedua, saya mencoba berbagi dengan kelompok ibu-ibu yang konsen pada pertanian organik yang bernama Rinjung Pahamu, yang berarti Ingin Baik. Kelompok ini terbentuk dari kegelisahan ibu-ibu akan melonjaknya harga komoditas hortikultura impor di pasaran. Mereka memiliki lahan pertanian seluas 25 are (2.500 m2) yang terletak di desa Wangga. Kelompok ini mengajar saya akan arti berbagi, karena meskipun pendapatan masing-masing anggota yang berjumlah 25 orang tersebut masih di bawah garis kemiskinan, namun rasa senasib sepenanggungan mengalahkan ego setiap individu, di tengah bangsa yang pejabatnya menonjolkan ego pribadi, sementara pemuda-mahasiswanya  hanya pintar text-book yang berpihak pada para pemilik modal. Semoga mereka belajar pada ketulusan ibu-ibu sederhana nan lugu ini.

 

 

 

 

 

 

Logika. Minggu ketiga saya fokus untuk berbagi ilmu peternakan babi dan lingkungan. Mereka menanggapi topik ini dengan cukup antusias, sebab Sumba tak bisa lepas dengan peternakan, terlebih untuk kebutuhan adat. Topik lingkungan yang terkait dengan tambang, menimbulkan perdebatan alot dikalangan mahasiswa, ada pro dan kontra. Sebagian besar menolak tambang dengan berbagai argumentasi demikian halnya sekelompok kecil yang bisa menerima proyek itu. Namun diakhir diskusi semua bersama-sama menyamakan visi, yakni pada dasarnya diterima atau ditolaknya usaha tambang tersebut tak lepas dari daya dukung lingkungan dan masyarakat.

 

 

 

Hati. Hari-hari terakhir di Sumba diisi dengan mengunjungi beberapa tempat di wilayah Sumba selatan. Tanggal 15 Juli 2014, kami mengikuti pembukaan sidang Sinode GKS (Gereja-Gereja Kristen di Sumba) yang diselenggarakan di Ramuk, sebuah desa kecil bahkan mungkin terpencil di lereng Gunung Wanggameti. Kondisi jalan yang rusak tak menyurutkan niat kami untuk sampai ke tujuan. Kekesalan akan beratnya medan terhapus oleh indahnya alam Sumba dengan untaian bukit dan lembah yang terjalin memanjang seakan membentuk lukisan alam. Sungguh merupakan pemandangan yang eksotis. Saat saya di daerah Tana Rara, tempat ini memiliki tanah merah yang menawan, warnanya pink dan jarang ditemukan di daerah lain. Selanjutnya daerah Tarimbang memiliki potensi wisata pantai yang luar biasa, sayang PEMDA setempat belum optimal mengelolanya, sehingga salah satu warga Jerman yang bernama Peter mencoba memanfaatkan potensi tersebut dengan membangun cottage di puncak bukit yang menawarkan pemandangan indah lepas pantai Tarimbang.

 

 

 




Satu bulan di Sumba memberi saya pemahaman teologis bahwa “saya bukan dari dunia, jangan mengejar harta dunia, persiapkanlah hartamu di langit dan bumi baru nanti, kerjakanlah untuk Allah lewat sesamamu manusia, dimanapun mereka berada termasuk di Sumba”. Akhirnya, terima kasih Keluarga Ka Lius, Ka Yanto, Pdt Domi, Abner, Yoga, Anton, Pak Daniel kelompok tani Rinjung Pahamu, teman-teman GMNI, GMKI cabang Sumba Timur terkhusus Stube HEMAT yang telah memberi pelajaran berharga bagi kami, semoga program ini adalah halaman awal dari buku interaksi dengan pulau Sumba. (SRB)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook