pada hari Senin, 28 April 2014
oleh adminstube
Pelatihan Pertanian Organik dan
Keragaman Pangan
Eksposur Joglo Tani
Sabtu, 26 April 2014
 
 
Sabtu 26 April 2014 Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak mahasiswa melakukan eksposur untuk belajar langsung di lokasi pertanian Joglo Tani, dengan harapan bahwa mahasiswa yang notabene tidak belajar pertanian mengalami pencerahan. Pencerahan yang terjadi diharapkan bisa memantik dan menumbuhkan minat pada pertanian untuk memiliki keberpihakan atas persoalan yang ada di dunia pertanian sekaligus bisa mengembangkan daerah asalnya.
 

 

Joglo Tani merupakan komunitas tani yang dirintis oleh TO Suprapto dengan membangun sistem pertanian terpadu yang melibatkan masyarakat, sehingga mereka merasa menjadi bagian di dalamnya. Joglo Tani memiliki semangat desa berdaulat pangan, membentuk sistem pertanian terpadu dari hulu hingga hilir sebagai sistem mandiri pangan serta mendorong terbentuknya pola konsumsi masyarakat yang bersumber pangan lokal.
 

 

Eksposur diawali dengan masing-masing peserta mengungkapkan apa yang menjadi makanan favoritnya, juga menghitung rata-rata biaya makan per hari, selama satu bulan. Jawaban peserta yang bervariasi mulai dari sayuran, nasi goreng, ikan, dan nasi kucing, menghasilkan kalkulasi pengeluaran sekitar 300 ribu – 900 ribu per bulan. Hal ini menunjukan bahwa kebutuhan konsumsi pangan per orang itu sangat tinggi dan perlu disikapi secara serius supaya tidak terjadi bencana kekurangan pangan di masa depan. TO Suprapto juga mengajukan beberapa pertanyaan yang menggugah peserta seperti; apa tujuan belajar di Yogyakarta dan sudahkah peserta mampu mandiri selama berada di Yogyakarta? Ia mengajak peserta yang sebagian besar berasal dari luar Jawa, melihat dan mengembangkan potensi dirinya selama berada di Yogyakarta dan jeli melihat peluang pengembangan di daerah asal mereka. Khusus di bidang pertanian, TO Suprapto menekankan bahwa petani menjadi pihak yang kurang beruntung, karena sejak penyediaan bibit, pupuk dan distribusi produk sudah membutuhkan biaya tinggi, namun ironisnya mereka tidak bisa menentukan harga jual produk panen mereka sendiri.
 
 
Selanjutnya peserta diajak berkeliling di kawasan Joglo Tani dimana kolam ikan diisi ikan nila, mujair dan gurami. Air dari selokan dialirkan ke kolam ikan, kemudian ke kandang anak itik, selanjutnya dialirkan ke kandang itik besar dan akhirnya kembali ke selokan. Di sekeliling kolam dimanfaatkan untuk menanam kangkung dan sayuran lainnya seperti terong, tomat, serai dan seledri. Kotoran sapi sebagai biogas untuk menghasilkan listrik dan botol bekas untuk menanam sawi dan seledri.
 

 

Yulius Lero, mahasiswa APMD dari Sumba bertanya, “Pertanian di sini sangat istimewa, dibanding Sumba, masyarakat belum kreatif, sulit membentuk kelompok dan lahan kosong belum dimanfaatkan dengan baik. Bagaimana cara memulainya?” TO menjawab, “Jika pulang nanti, teman-teman harus memulai dulu, memberi contoh, melakukan perubahan dari diri sendiri.” Pascah, mahasiswa STAK Marturia dari OKU Timur Palembang menanyakan bagaimana supaya pertanian berhasil dan tidak dijauhi masyarakat, karena pernah terjadi ketika ada seseorang yang perikanannya berhasil, kolamnya dilempar obat sehingga ikannya banyak yang mati. Bagaimana mengatasinya? TO Suprapto menyarankan bahwa sebaiknya kita jangan bergerak sendiri, bentuk kelompok sehingga menjadi sebuah gerakan bersama, karena itu sosialisasi itu penting. Mulailah dengan mengganti ‘AKU’ dengan ‘KITA,’ intinya adalah kumpulkan masyarakat, motivasi dan gerakkan. (TRU)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook