pada hari Kamis, 24 Oktober 2013
oleh adminstube

Seri Perenungan Ulang

 

 

 

4. Mengapa Kita Tidak Bangga dengan Pendidikan Di Indonesia?

 

 

 

Yosef Andrian Beo

 

 

 

Saya Yosef Andrian Beo, dari Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Saat ini sedang studi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Kritikan demi kritikan muncul saat masalah pendidikan diangkat ke permukaan, seperti saat pelatihan  Stube HEMAT di Godean, dengan tema Pendidikan Global: Antara Kenyataan dan Harapan. Delapan puluh persen  pembahasan tentang Pendidikan Global memandang negatif sistem pendidikan yang diberlakukan di Indonesia saat ini, sisanya yang dua puluh persen tentang berbagai motivasi untuk sukses. Banyak pendapat menyatakan, kesalahan ada pada sistem pendidikan, manajemen pendidikan pusat, dan bahkan pendidikan dipakai sebagai mainan politik. Lalu, kapan kita bisa bangga dengan pendidikan yang telah membentuk kita sampai saat ini?

 

 

 

Pastilah tidak hanya negara kita saja yang memiliki masalah dengan pendidikan, jadi kita harus bangga dengan pendidikan di Indonesia. Rasa bangga akan membawa dampak positif terhadap pendidikan itu sendiri. Pertama, akan lebih tahu bagaimana mencari solusi atas masalah pendidikan yang diperdebatkan. Misalnya di NTT, angka buta huruf masih tinggi karena fasilitas pendidikan belum memadai dan belum terjangkau rakyat. Dari tahun ke tahun, hal ini belum terselesaikan, bahkan mungkin masalah ini sudah ada sebelum saya lahir. Apakah sekarang sudah ada perubahan? Belum, atau mungkin sedikit, karena sistem dianggap sulit dan rumit.

 

 

 

Saya bangga dengan sistem pendidikan di Indonesia dengan berbagai kenyataan pahitnya. Kurikulum yang terus berubah atau diperbaharui, dianggap sebagai kesalahan sistem, yang membuat masalah bagi masyarakat NTT. Mengapa saya bangga? Pertama, karena seleksi alam akan berfungsi dengan sendirinya. Bagi yang tidak mampu bertahan, bisa mencari alternatif lain, semisal pindah jalur sesuai bakat dan minat diri, seperti seni, teknik mesin, pariwisata, olahraga, tata boga, pertanian dan sebagainya. Kedua, dengan bangga pada pendidikan sendiri, bisa mengembangkan potensi lokal yang unik, apalagi anggaran pendidikan menempati tiga besar dari anggaran negara. Keunikan tersebut akan lebih mudah dilihat oleh dunia.

 

Mengapa kita tidak bangga dengan sekolah-sekolah, perguruan tinggi, atau jutaan pelajar yang kita miliki? Apakah karena standarisasi yang ditetapkan oleh pihak yang tidak mengerti kita? Lupakan standarisasi, ingatlah saja sebuah tempat yang membuat kita bisa bertemu dan berbicara dengan begitu banyak teman. Banyak yang bisa dibanggakan dari pendidikan yang ada di negara kita. Saya juga percaya, para pembaca juga dapat menemukan hal yang membanggakan, kalau mau. Terima Kasih. ***
 

 

 



5. Melahirkan Banyak Ide untuk Beraksi

 

 

 

Efrin Rambu Leki

 

 

 

Saya Efrin Rambu Leki, asal dari Anakalang, Sumba Tengah, Nusa Tenggara Timur. Saat ini studi di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bethesda Yogyakarta.

 

 

 

Dari pemaparan beberapa narasumber dalam pelatihan Global Education ini, wajah dunia pendidikan di Indonesia  masa kini terlihat masih perlu melakukan pembenahan. Eko Prasetyo, salah seorang narasumber membuka mata saya terhadap keadaan pendidikan yang saat ini dianggap sangat ‘mengerikan’. Bagaimana tidak? Pendidikan dijadikan lahan bisnis bagi sebagian orang tanpa peduli apa yang akan terjadi dengan anak-anak bangsa di masa depan. Saya menjadi orang yang kemudian merasa tidak nyaman melihat keadaan pendidikan yang demikian ini. Dari sinilah saya mulai sadar, mulai belajar peduli dengan keadaan pendidikan yang ada di lingkungan yang saya alami sendiri.

 

 

 

Pengalaman sebagai guru sekolah minggu selama kurang lebih hampir 2 tahun ternyata juga tidak membuat saya memahami cara mendidik yang baik dan benar. Saya hanya mengajar tanpa terpikirkan apakah yang saya ajarkan itu membawa dampak positif bagi mereka atau tidak, yang penting mengajar, itu saja! Dari sesi Eko Prasetyo saya juga belajar bahwa kreativitas dalam mengajar sangatlah penting, untuk itulah kedepannya saya akan lebih kreatif dalam mengemas cara mengajar yang menyenangkan bagi anak-anak.

 

 

 

Pengalaman yang saya lihat di daerah asal saya, Sumba, NTT, banyak sekali orang yang menjadi guru padahal tidak sesuai dengan disiplin ilmunya, prinsip mereka yang penting dapat kerja setelah itu dapat gaji. Awalnya saya setuju, toh nantinya juga peserta didiknya juga tetap bisa kuliah dan bekerja, tetapi ternyata itu malah membuat murid-murid di sana mendapat pengetahuan yang dangkal. Apalagi ditambah dengan fasilitas yang sangat minim, akses internet yang susah dan persediaan bahan bacaan yang sangat kurang. Sementara salah satu ukuran keberhasilan pendidikan adalah adanya guru yang berkualitas. Apa yang terjadi jika banyak guru  ‘asal jadi’?

 

Dari pelatihan pendidikan ini saya banyak mempunyai ide, salah satunya  adalah membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Sebenarnya ide ini sudah saya pikirkan sejak lama dan saya sudah mengumpulkan buku-buku tetapi belum begitu yakin, sekarang saya sudah semakin mantap untuk membuka perpustakaan di lingkungan rumah saya. Mohon dukungan teman-teman. ***

 

 


 

 

6. Berpikir Lebih Luas untuk Melihat Sebuah Masalah

 

 

 

Herman Ngkaia

 

 

 

Saya Herman Ngkaia, asal Sulawesi Tengah. Saat ini sedang menempuh studi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) YLH Yogyakarta.

 

 

 

Selama  saya  menempuh  pendidikan dari Taman Kanak-Kanak,  sampai saat ini, saya merasakan betapa pentingnya pendidikan itu. Saya mengalami betapa sulitnya mendapatkan kesempatan untuk menempuh sebuah jenjang pendidikan. Bagi saya ilmu itu didapatkan dari proses hidup yang kita lakukan, baik itu di dalam lingkungan sekolah, kampus maupun di dalam sebuah lembaga atau organisasi yang kita ikuti. Jika ilmu hanya dilihat dari simbol gelar saja, kita sudah banyak melihat dan mengalami, bahwa banyak yang tidak menerapkan ilmu atau pengetahuan mereka secara baik-baik, sebagaimana yang dinyatakan Prof. Dr. T. Jacob bahwa negeri ini belum berhasil menuai nilai-nilai pendidikan yang disemai selama ini.

 

 

 

Menyinggung masalah pendidikan di negeri ini masih banyak kita jumpai kesenjangan antara desa dan kota, lebih-lebih lagi daerah-daerah pelosok. Anak-anak kota mendapatkan fasilitas yang sangat memadai dan tenaga guru yang sangat lengkap dibandingkan dengan anak-anak desa. Anak-anak di desa sudah minim fasilitas, minim juga guru berkualitas. Mungkin keadaan ini bisa diibaratkan seperti kata pepatah “orang lain sudah di bulan kita masih di bumi”, artinya anak-anak  di kota sudah banyak menyerap ilmu dibandingkan anak-anak desa atau pelosok.

 

 

 

Jadi bagi kita semua yang bisa menempuh ilmu di kota Yogyakarta, patut bersyukur kepada Tuhan diberi kesempatan untuk menikmati betapa banyaknya ilmu dan pengalaman yang bisa kita dapatkan di kota Yogyakarta ini, khususnya di lembaga Stube Hemat. Walaupun kita kuliah di universitas yang sangat besar dan fasilitasnya sangat elit, kita tidak pernah mendapatkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan serta rasa persaudaran sebagaimana yang kita rasakan di lembaga ini. Semua pengalaman, pengetahuan dan informasi yang didapatkan dari lembaga ini harus kita terapkan di lingkungan kita masing-masing. Semua permasalahan pasti bisa diatasi karena Tuhan juga bekerja bersama kita.

 

 

 

Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh Tim Stube HEMAT yang sudah banyak membantu saya untuk membuka wawasan dan berpikir lebih luas untuk mengenal sebuah masalah yang terjadi saat ini.

 

 

 

Semoga setiap kegiatan yang akan dilaksanakan ke depan lebih menarik minat teman-teman mahasiswa yang sedang menempuh ilmu di kota pelajar ini. ***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook