pada hari Selasa, 16 April 2013
oleh adminstube

Pelatihan Ekonomi Kelautan

 

Masihkan Kita Berjaya di Laut?
 
 
Dua pertiga luas  dari negara Indonesia merupakan lautan yang memiliki banyak kekayaan didalamnya  dan  apabila diolah dengan baik, dapat menjadi modal penting dalam sektor ekonomi. Ekonomi kelautan penting dipelajari demi tujuan untuk mengembangkan potensi ekonomi masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat pesisir pantai khususnya.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani, memandang permasalahan ekonomi kelautan penting untuk dipahami mahasiswa. Untuk itu Stube-HEMAT mengadakan Pelatihan Ekonomi Kelautan, yang diadakan pada 12-14 April 2013 di Hotel Adinda Parangtritis dengan Tema “Masihkah Kita Berjaya di Laut?”.
 
Seperti biasanya, acara diawali dengan Ibadah pembuka. Dalam Ibadah ini ada yang berbeda, karena ada drama yang menceritakan tentang seorang nelayan yang melarang anaknya menjadi seperti dirinya dan menginginkan dia menjadi PNS. Trustha Rembaka, S.Th, pengantar ibadah mengungkapakan bahwa disadari atau tidak, Tuhan Yesus memanggil nelayan sebagai muridnya, karena banyak orang tidak menganggap dan memperhitungkan posisi nelayan. Sekarang kita lihat tentang potensi kelautan Indonesia. Banyak sekali tantangan kelautan di Indonesia seperti pemerintah yang kurang peduli, masalah konservasi kelautan dan pencemaran, juga nelayan yang susah melaut.
 
 
Selanjutnya Bapak Geny Fitriadi Fendy memfasilitasi peserta dengan Pemetaan potensi kelautan Indonesia yang dimulai dengan fenomena bahwa negara kita kurang peduli dengan masalah kelautan. Indonesia adalah negara kepulauan yang dipisahkan oleh laut. Akan menjadi sangat rugi apabila kita sebagai orang Indonesia tidak mengetahui potensi laut yang dimiliki negara kita. Laut yang Negara kita miliki ini memiliki potensi yang besar apabila dapat kita kelola dengan baik, dan akan menjadi aneh apabila kita mengimpor dari negara lain. Apabila Indonesia memiliki pikiran laut yang hebat, kita akan kembali maju.
 

Sesi Pendekatan sosial budaya masyarakat kawasan pesisir pantai oleh Anselmus kaba, mengajak peserta untuk mengenal kembali potensi kelautan Indonesia, memetakkan dan menganalisis permasalahan kelautan Indonesia, serta mengetahui pengolahan Ekonomi Kelautan. Peserta diajak belajar menghidupkan kelima indra untuk dapat mengetahui dan merasakan keadaan lingkungan sekitar.
 
Bapak Ponijo, Ketua Paguyuban Nelayan Pantai Kuwaru Bantul mengungkapkan bahwa Pantai Kuwaru dulunya gersang, tetapi karena semangat nelayan pada tahun1992, mereka bisa merubah keadaan seperti saat ini yang hijau karena ditanami cemara udang. Tetapi pada tahun 1997 banyak pohon yang tidak dapat tumbuh karena terjadinya pasang air laut, dan mulai tahun 2000 Pantai Kuwaru banyak dikunjungi wisatawan sampai sekarang, bahkan pada tahun 2009 pengunjung meningkat sampai pendapatan karena wisatanya mencapai 20 juta per hari.
 
Potensi dan masalah kelautan Indonesia disampaikan oleh Prof. Sahala Hutabarat yang menjelaskan bahwa NKRI berbentuk kepulauan, maka kita harus kembali ke masa dimana kita adalah negara kepulauan. Tetapi faktanya pemerintah tidak konsisten sehingga perlu ditumbuh kembangkan nasionalisme agar dapat menyatukan  NKRI kembali seperti dulu lagi. Prof. Sahala menambahkan bahwa tujuan Nasional adalah memajukan dan menyejahterakan bangsa, sementara tujuan pembangunan Milenium Indonesia adalah memberikan kesadaran akan manfaat konsumsi ikan. Potensi laut Indonesia terkandung didalam Terumbu Karang, lamun, dan manggrove. Transportasipun dapat dikembangkan di laut. Hukum, perbankan, birokrasi, dan sinergi dengan sektor lain sampai saat ini belum sepenuhnya mendukung. Disini perlu diperhatikan bahwa kelautan dapat dikembangkan melalui bioteknologi, biofarmasi dan pengembangan wisata bahari.
 
Sesi Pemetaan Keamanan, Pelanggaran dan Penegakan Hukum di Wilayah Perairan disampaikan oleh Kompol Sugiarta dari Polisi Perairan dan Laut DIY. Beliau mengungkapkan bahwa Polairut memiliki tugas menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat dibidang perairan, dengan melakukan penindakan terhadap pelanggaran dalam radius 100 m dari bibir pantai. Beberapa contoh penindakan dibidang kelautan seperti pencurian pasir, pencurian ikan, penindakan terhadap kapal daerah lain masuk ke wilayah DIY, serta pemboman yang sering dilakukan nelayan akan merugikan induk ikan dan potensi lain yang ada dilaut.***

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook