Yogyakarta dan Perubahaan

pada hari Rabu, 21 Februari 2018
oleh adminstube
 
 

Berkurangnya ruang publik di Yogyakarta, cepat atau lambat, akan mengubah manusia tidak lagi sebagai makhluk sosial, tetapi menjadi makhluk individualis. Minimnya ruang yang bisa dijadikan tempat bertukar pikiran, berkomunikasi atau sekedar merasakan kebersamaan tanpa ada batas-batas sosial yang terstruktur menggiring orang masuk pada dunianya masing-masing.

Banyak tempat sudah disulap menjadi tempat-tempat komersial, bahkan dijadikan indikator dari kelas mana seseorang berasal. Hal ini menjadi kekuatiran bersama beberapa komunitas yang ada. Komunitas Social Movement Indonesia (SMI), Stube-HEMAT, Tribunjogja, dan Toga Mas Affandi, mengadakan kegiatan diskusi buku untuk membuka ruang bagi anak muda dan mahasiswa bisa bertemu, berkomunkiasi dan bertukar ide.
 
Pada kesempatan ini buku yaang dibedah milik Selo Soemardjan berjudul “Perubahan Sosial di Yogyakarta”. Diadakan pada tanggal 19 Febuari 2018, bertempat di Toko Buku Toga Mas, Gejayan, Yogyakarta, bedah buku ini menghadirkan pembicara Eko Prasetyo (Ketua SMI), Elanto Wijoyono (Warga Berdaya Yogyakarta), Anna Marsiana (Konsultan Developer NGO di Indonesia), dan dipandu oleh Hening Wikan (Mahasiswa Fisipol UGM) sebagai moderator.

Elanto menjelasakan bahwa perubahan di Yogyakarta bisa dilihat dari berbagai sudut pandang, dan saat ini masih menjadi pertanyaan apakah sudah terjadi lagi perubahan di Yogyakarta setelah era revolusi seperti yang tertulis di buku. Sampai sekarang belum menemukan kepastian jawabannya.
 
Menurut Anna Marsiana, Yogyakarta bukan hanya sebuah kota, tetapi sebuah proses dinamis, tempat bertemunya banyak aspek, elemen-elemen masyarakat yang berbeda. Ada 3 aspek yang harus diperhatikan dalam melihat perubahaan yang terjadi, yakni (1) aspek sejarah, (2) Peta pergerakan masyarakat merespon dinamika yang lebih cepat, dan (3) peranan masing-masing individu.  
 
Dalam kesempatan bedah buku ini, Eko Prasetyo mengambarkan proses perubahan sosial pasca kolonialisme dan tentang aliran kiri. Bahwa pada masa itu keberhasilan ide-ide revolusi sosial sangat diminati, saat itu muncul tiga besar partai politik yang dipegang oleh kelompok kiri. Di bagian akhir buku Selo Soemardjan ini terdapat petuah-petuah yang sangat teoritis. Petuah tersebut menyatakan bahwa proses perubahan sosial terjadi karena bermula dari perubahan-perubahaan dari luar. Ketika kaum kapitalis masuk dan tidak mau mengikuti sistem yang berlaku, kelompok ini yang mewakili perubahaan sosial di Yogyakarta. Terjadilah kesenjangan sosial yang sangat terlihat tajam di Yogyakarta.
 
Pada sesi tanya jawab, Rintar warga Jogja bertanya, “Apakah keistimewaan yang ada saat ini masih mendukung sistem tradisonal atau harus dimodifikasi?” Penanya yang lain, Rafit warga Jogja, “Apakah perubahaan itu terjadi begitu saja atau ada yang merubahnya, dan siapa yang memegang kedaulatan?”
 
Menanggapi pertanyaan itu Elanto mengatakan bahwa pemerintahan desa saat ini bukan lagi tradisional tapi sudah rasional dan perubahanaan ada yang terencana dan ada yang tidak terencana. Sedangkan Ana menanggapi pertanyaan tersebut dengan menyatakan bahwa sistem tradisonal tidak lagi menjadi acuan utama karena undang-undang desa merupakan peluang bagi semua masyarakat untuk menyuarakan ide dan gagasannya sementara perubahaan itu bisa dikendalikan dan direncanakan.
 
Di akhir statement Eko Prasetyo mengutip tulisan Selo Soemardjan, “ketika rakyat tidak mampu memuaskan sosialnya maka dia akan  menjadi rakyat yang komersial dan kompetitif”. Maka dari itu kita butuh individu-individu yang mau bergerak dalam permasalahan ini. Mari kita kembalikan kota ini menjadi kota pelajar yang berciri khas kritis, berani, dan progresif. 
 
Sementara Elanto mengajak setiap anak muda yang ada di Yogyakarta ini untuk saling bertukar ide untuk permasalahan-permasalahan yang terjadi. Selanjutnya, Ana mengakhiri dengan pengakuan bahwa perbedaan dan keanekaragaman merupakan pondasi di Yogyakarta sejak awal dan situasi ini diakomodir oleh banyak pihak, sehingga semua anak muda yang hadir di acara  bedah buku tersebut diajak untuk terjun langsung ke lapangan, melihat realita dan memperbaikinya. Jangan merasa ketika meluncurkan ‘statement’ di sosial media, sudah cukup melakukan pergerakan. (ITM)

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook