Merawat Toleransi di Sumba Timur Refleksi Exploring Sumba oleh Mutiara Srikandi

pada hari Jumat, 1 November 2019
oleh adminstube
 
 
 
Namaku Mutiara Srikandi, dari Bandung Jawa Barat, kuliah di jurusan Desain Interior, Institut Seni Indonesia  di Yogya. Aku mendapat kesempatan ke Sumba sebagai peserta program Exploring Sumba yang dilaksanakan Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini pertama kali seorang peserta Muslim mengikuti seleksi dan dikirim oleh Stube ke Sumba. Tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta selalu ‘make sure, apakah aku yakin berangkat ke tempat dimana banyak babi dan anjing berkeliaran. Aku selalu memantapkan diri lagi “iya gapapa, aku yakin”. Lahaula, akan selalu ada jalan bagi kamu yang berusaha untuk kebaikan.
 
Sebelum menginjakkan kaki di Sumba banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan. Dari lingkungan, pola hidup, dan agama yang totally berbeda dengan budaya Jawa pada umumnya. Setelah mendapat informasi tentang tempat tinggal dan lingkungan yang akan aku tinggali nanti, aku menyiapkan mental dan fisik jauh-jauh hari sebelumya untuk memantapkan diri agar bisa menjalani program dengan baik.

Hari itu pun tiba. Dari jendela pesawat hamparan savanna yang terlihat dari ketinggian menyita perhatianku. Tak sabar rasanya aku untuk menjejakan kaki langsung di sana. Aku merasakan manuver pesawat yang berbeda ketika akan mendarat di bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, yang mungkin karena bandara berada di antara bukit-bukit. Petualangan di Sumba pun dimulai.

Di Sumba aku tinggal di rumah Elisabeth Uru Ndaya, salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang sudah kembali ke kampung halamannya, di desa Karunggu, kecamatan Nggaha Ori Angu (Nggoa), Sumba Timur. Tinggal di rumah tradisional Sumba menjadi pengalaman yang berkesan karena saat aku datang suhu udara sangat dingin, jadi kami harus menggunakan selimut empat lapis, namun aku menyukainya. Seorang ibu yang akrab dipanggil ‘mama Domi’ selalu telaten menanyakan menu makanan yang cocok denganku. Ia sempat ragu-ragu menyiapkan nasi jagung karena ia kuatir aku tidak mau. Ia mengatakan padaku kalau memasak ia memisahkan alat masak dari jangkauan hewan, karena anjing dan babi berkeliaran di sekitar rumah, bahkan ia menjelaskan dengan detil untuk meyakinkanku kalau makanan yang disajikan terjaga sesuai syariat Islam.

Sebagai orang baru di desa ini, tentu saja kehadiranku mengundang banyak perhatian orang sekitar karena tingkah lakuku yang lugu dan banyak bertanya membuat mereka tertawa dan menceritakan ke keluarga mereka yang lain. Meski aku muslim, aku tidak merasa terkucil malah mereka menerima dengan baik dan terbuka. Bahkan saat aku akan sholat mereka tulus mengambilkan air untukku meskipun daerah di situ kekurangan air. Aku juga datang ke gereja untuk memperkenalkan diri dan program kegiatan selama di Sumba. Berkenalan dengan warga secara resmi di gereja menjadi bagian penting karena gereja berperan di lingkungan sekitar dalam kehidupan masyarakat dan gereja bisa menjamah hidup masyarakat secara menyeluruh.

Beberapa kali aku mengikuti acara adat Sidi, Belis dan acara keluarga lainnya, ada yang unik ketika cium hidung, dengan menempelkan hidung di hidung sebagai ungkapan selamat datang dan kekerabatan. Tak kurang lima kali aku potong ayam secara syariat Islam, karena mereka menghargaiku sebagai muslim di acara tersebut. Makan dan bercengkerama satu sama lain dalam satu jamuan makan terlihat kontras saat aku makan ayam seorang diri di tengah-tengah orang yang menyantap hidangan daging babi. Awalnya orang-orang ragu, “Tidak apa-apa nona kami makan babi?” tanya salah seorang bapak yang ragu-ragu menyantap kudapannya. “Tidak apa-apa, ayo silahkan makan”, jawabku, sambil tersenyum padanya. Kami makan bersama dengan nikmat, menerima segala perbedaan dan menghargai satu sama lain. Mereka menghargaiku yang makan daging ayam seorang diri bahkan mereka tidak membiarkan satu tetes kuah daging babi mengenai piringku. Mereka menjaga dengan baik dan aku menghargainya, ada timbal balik yang indah yang aku lihat nyata.

Setiap hari minggu, aku di rumah menunggu keluarga pulang gereja, mendengar bunyi lonceng gereja dan merasakan atmosfer pagi hari yang begitu hangat. Setiap orang anak yang lewat mengucapkan salam “selamat pagi” sebagai sambutan pagi dan ini berulang ketika orang-orang lewat. Mereka ramah sekali, sembari melirikku sebagai tamu di desa itu. Aku senang berada di antara masyarakat setempat yang sukacita meski hidup sederhana. Kehangatan keluarga yang begitu terasa, membuatku iri karena aku tinggal di kota besar yang sudah individualistis. Di sini sanak saudara gotong royong menyekolahkan saudaranya, selain itu tidak ada rasa kuatir kekurangan makanan karena bisa singgah makan di rumah keluarga lainnya. Kebersamaan lain aku temukan ketika masyarakat berdendang bersama dengan tarian serempak yang biasa orang timur lakukan, masing-masing berusaha menyelaraskan gerakannya menjadi gerakan yang indah.

Perpisahan memang menguras air mata dan keluarga baruku di Sumba mengucapkan terimakasih karena aku mau menerima keadaan yang sederhana. Aku belajar banyak hal, dalam keberbedaan aku tidak merasa terasing atau sendiri, malah aku merasakan sambutan dan perhatian yang tulus. Budaya dan agama yang berbeda tidak menjadi pemisah malah menjadi sarana belajar dan membangun toleransi yang memperkaya pengalaman hidup. Semoga Tuhan menjaga kita selalu dalam kedamaian.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook