Bersama Merangkai Indonesia  Satu nusa satu bangsa satu bahasa kita, tanah air pasti jaya untuk slama lamanya Indonesia pusaka, Indonesia tercinta, nusa bangsa dan bahasa kita bela bersama

pada hari Sabtu, 25 Januari 2020
oleh Stube HEMAT

Lantunan lagu Satu Nusa Satu Bangsa, ciptaan L. Manik membuka diskusi mahasiswa Bersama Merangkai Indonesia oleh Stube-HEMAT Yogyakarta di resto Den Nanny, Yogyakarta (23/01/2020). Lagu yang dinyanyikan oleh tigapuluh empat mahasiswa dari berbagai kampus ini mengingatkan kembali para mahasiswa tentang komitmen kesatuan Indonesia di tengah keberagaman budaya, bahasa dan agama. Dalam pembukaannya, Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT menyampaikan bahwa setiap kita saat ini bersama merangkai Indonesia dengan aneka ragam latar belakang yang dimiliki. Keberagaman Indonesia membuat iri negara lain karena keberagaman seperti aksesori yang indah, karenanya ada pihak-pihak yang berusaha memecah belah bangsa ini dengan berbagai cara sehingga rasa kesatuan dan persatuan memudar. Kegiatan ini menjadi wadah anak muda bertemu, berbagi pengalaman dan menjadi agen dalam merangkai Indonesia. Stube-HEMAT sendiri, sebagai lembaga pendampingan mahasiswa, terbuka untuk melayani mahasiswa menemukan jati diri masing-masing, siap berkontribusi di daerah.

 

 

 

 

 

Beberapa praktisi lintas iman memfasilitasi diskusi ini, seperti Totok Tejamano, S.Ag, (pimpinan vihara Buddha Karangjati, Yogyakarta) berterimakasih kepada Stube atas dialog mahasiswa ini dan mengungkap bahwa hidup tidak lurus-lurus saja, dunia kerja terkadang berbeda dengan yang dipelajari di kampus, cumlaude penting tetapi lengkapi dengan pengalaman sosial bersama masyarakat. Saat ini isu agama menjadi seksi karena pembicaraan tentangnya terkadang tidak menghadirkan kedamaian tetapi meresahkan. Ini salah satu upaya memecah belah Indonesia karena kekayaan sumber daya alam dan energi menggoda siapa pun untuk menguasainya. Dengan propaganda suku tertentu yang paling kuat, truth-claim dalam agama dan kepentingan ekonomi dan politik menjadi alat memecah belah bangsa. Kita sebagai mahasiswa mestinya bisa mengembalikan fungsi awal agama, yang mendorong setiap orang peduli dan memiliki rasa kebersamaan dan bergerak untuk kemanusiaan.

 

 

 

 

 

 

“Apakah para mahasiswa bertemu dengan orang yang berbeda agama ketika masih di daerah? Bagaimana pengalaman Anda ketika itu?” ini pertanyaan awal Pdt. Dr. Wahyu Nugroho M.A kepada peserta yang ternyata sebagian besar peserta telah berada di Yogyakarta lebih dari dua tahun. Ina, salah satu peserta mahasiswa dari Manggarai mengungkapkan bahwa di daerahnya ada beragam agama, Islam, Kristen dan Katolik yang sangat akrab. Ketika Natal dan Paskah pemeluk Islam ikut merayakannya dan sebaliknya ketika Idul Fitri dan Idul Adha pemeluk Kristen dan Katholik pun ikut merayakannya, tidak ada gejolak di masyarakat. Ada pengakuan mahasiswa yang kesepian ketika Paskah dan Natal di Yogya karena tidak semeriah dibanding daerah asalnya di kawasan timur Indonesia, dekorasi dan asesoris perayaan natal mudah ditemui di sepanjang jalan. Dalam paparannya, Pdt. Wahyu Nugroho menjelaskan bahwa ada pemahaman co-eksistensi dan pro-eksistensi dalam kehidupan bersama dalam keragaman. Co-eksistensi memiliki makna hidup berdampingan secara damai, tidak saling mengganggu, tetapi tidak ada interaksi bersama, sementara pro-eksistensi dimaknai sebagai hidup berdampingan secara damai dan masing-masing pihak saling mendekat untuk menumbuhkembangkan kebersamaan dan terjalinnya kerjasama.

 

 

 

Pengalaman perubahan hidup dalam interaksi keberagaman diungkapkan oleh Eko Prasetyo, SH dari Social Movement Institute (SMI). Di masa kecilnya ia belajar di sekolah Katholik dan melanjutkan ke pondok pesantren dan melanjutkan kuliah di Yogyakarta. Di kota ini ia menghadapi lingkungan yang sama sekali berbeda, bahkan seperti kontradiksi apa yang ia jumpai di pesantren dengan ketika kuliah, ia bertemu dengan mahasiswa berbagai daerah, kalangan dan latar belakang ilmu, suku dan agama yang akhirnya menjadi titik baliknya untuk berinteraksi dengan semua orang sekaligus bergerak melawan masalah sosial dan ketidakadilan di masyarakat.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalam simpulan diskusi disampaikan bahwa meskipun dalam agama dan budaya yang sama, tetap ada realita perbedaan pemahaman di masyarakat. Ini yang menjadi tantangan bagi setiap orang bagaimana menyikapi perbedaan sebagai keragaman. Mahasiswa sebagai anak bangsa dituntut cerdas dalam bersikap di tengah keberagaman yang ada, mengikis prasangka satu sama lain dan waspada terhadap radikalisme, dan bergerak bersama dalam interaksi lintas agama dan lintas budaya. Jadi penting adanya pengalaman perjumpaan antar umat beragama untuk membentuk pemahaman saling menghargai yang kemudian disimpan dalam pikiran masing-masing dan pentingnya penekanan pada ajaran agama yang menjunjung tinggi dan mengakui adanya perbedaan diluar doktrin agamanya sendiri. Tantangan generasi muda saat ini adalah bagaimana menjadi penggerak sekaligus agent of change dengan membuka diri dan memperkaya pemahaman dengan berbagai pengalaman baru dalam mengkampanyekan keberagaman dan toleransi dalam masyarakat Indonesia. (TRU)

 

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook