Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi   Refleksi peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 3

pada hari Senin, 20 April 2020
oleh adminstube
Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi

 

Refleksi peserta Communication Skills

 

Tahun 2020 gelombang 3

 

 

 

 

 

 

Pada bulan Februari 2018, untuk pertama kalinya saya pergi ke psikolog setelah mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri saya. Singkatnya setelah saya mendapat beberapa kali konsultasi, saya didiagnosa mempunyai gejala psikosomatis. Saya bahkan tidak hafal ejaan yang benar, tidak mengerti dengan segala artikel dokter tentang gejala tersebut yang terpampang pada laman browser saya. Yang saya pahami, apa yang menjadi beban pikiran saya, akan berimplikasi pada reaksi tubuh. Saya mengalami seperti pusing, mual, keringat dingin, panas hingga (maaf) muntah. Sebagai manusia biasa, berbagai reaksi penolakan bermunculan pada saat itu. Saya mulai menghubung-hubungkan hal-hal regresif selama ini akibat dari stress saya tersebut, termasuk di antaranya kebutuhan yang paling mendasar; berkomunikasi.

 

“Pantas selama ini cara ngomong saya jelek, banyak missing, ae...,ae..., nya.”

 

“Dalam kepala saya ngomongnya A, keluarnya Z. Jauh banget!”

 


 

Hampir setiap hari perkuliahan ada presentasi, berbicara di depan kelas, namun tidak sejalan dengan kondisi saya pada saat itu. Berbicara tinggal berbicara, tapi tidak bagi saya. Harus beberapa jam sebelumnya menyiapkan kondisi untuk benar-benar siap penuh. Satu hal yang saya sadari, bahwa berkomunikasi secara ‘asal berbicara’ dengan berkomunikasi sebagai keahlian adalah hal yang berbeda. Siapapun bisa saja ‘asal berbicara’ untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya. Gossipmongers, salah satunya. Namun keahlian untuk berkomunikasi yang didasari atas tujuan tertentu, prosesnya tidak instan. Namun siapapun dapat mempelajarinya. Kalau mau!

 


 

Keahlian komunikasi untuk tujuan tertentu seperti public speaking yang memenuhi kebutuhan berelasi secara profesional, sudah harus menjadi kesadaran bersama. Situs laman pengembangan diri profesional muda, Glints Indonesia, menempatkan nomor dua kemampuan komunikasi yang baik dan nomor tujuh kemampuan public speaking dalam sepuluh kemampuan yang harus dimiliki oleh profesional muda. Melihat pentingnya kemampuan tersebut, membangun kesadaran untuk mau belajar, ditempa melalui berbagai platform yang aksesibel, sudah seharusnya bukan jadi alasan untuk nggak bisa ‘pinter ngomong’, ya.

 


 

Berbicara mengenai platfom, selama pandemi ini beragam platform belajar secara digital yang aksesibel. Saya mengikuti beberapa di antaranya untuk mengisi waktu luang termasuk pelatihan Communication Skills dari Stube-HEMAT Yogyakarta. Sebuah kesempatan yang baik dimana pada saat pandemi, intensitas berkomunikasi secara langsung sangat terbatas. Tak ayal, secara tidak sadar kemampuan kita berkomunikasi pun mengalami downgrade. Saya bersyukur mengikuti mentoring ini. Materi yang diberikan pun dengan metode diskusi dua arah. Kami bisa saling berpendapat, saling bertukar masukan bersama mentor. Bahkan dalam kesempatan ini, saya bisa memberi ide saya terkait kesehatan jiwa berangkat dari isu yang saya alami sendiri, terlebih saat pandemi seperti ini. Bagaimana pun, saya menjadi belajar menghargai saat isu yang sangat dekat dalam kehidupan saya boleh dipakai untuk disebarluaskan, yang bisa disaksikan di link
https://youtu.be/ltJH9EnJTYc

 

 

 

Lantas, selain sebagai mental health survivor sekaligus pembelajar komunikasi, dalam mentoring ini menyampaikan pesan secara tersirat bahwa belajar komunikasi itu tidak terbatas hanya secara keilmuan formal saja. Merespon kebutuhan pengembangan diri yang ‘menuntut’ setiap individu harus berjalan dinamis diperlengkapi, terlatih dengan keahlian yang menunjang. Sudah tidak dalam lingkup formal saja, bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan akar rumput seperti komunitas pun merespon kepentingan ini sehingga mewadahinya sebagai tempat belajar. Sebuah apresiasi untuk Stube-HEMAT Yogyakarta karena menumbuhkan kesadaran ini. Apresiasi yang sama untuk segala wadah pesan-pesan kebaikan boleh mudah diakses termasuk kesempatan untuk saling menguatkan pesan kesehatan jiwa yang menjadi perhatian saya. Mengelevasi pengetahuan tentang komunikasi yang dapat diaplikasikan untuk dan oleh segala lini.

 

 

 

Sudah saatnya, kesadaran berkomunikasi tidak dihitung secara kuantitas saintifik saja. Komunikasi di dalamnya memuat sebagai keahlian dalam bernegosiasi, berbicara di depan publik, berdiskusi, berdinamika seharusnya menjadi budaya yang senantiasa dinamis. Bahkan melalui komunikasi individu bisa dapat berkembang citranya. Semua memiliki akses untuk belajar. (Gilang Herdyan S)

 

 

*) Gilang Herdyan Prastomo Suseno, adalah mahasiswa Public Relation UPN Veteran Yogyakarta, berasal dari Boyolali Jawa Tengah, selain di Stube-HEMAT, Gilang aktif di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook