Pemuda: Pemilu Damai dan Elegan

pada hari Sabtu, 19 November 2022
oleh Yuel Yoga Dwianto, S.Th, M.Pd.
Oleh Yuel Yoga Dwianto, S.Th, M.Pd.          

 

Bangsa Indonesia akan menyambut pesta demokrasi (Pemilu) dan generasi muda sebagai bagian masyarakat Indonesia perlu mempersiapkan diri untuk ikut ambil bagian di pemilu 2024, terlebih para pemilih pemula. Kaum muda perlu memperkaya diri dengan literasi politik, khususnya berkaitan dengan Pemilu karena Pemilu sendiri melibatkan banyak pihak, dari penyelenggara - KPU, kontestan – calon legislatif dan calon presiden, calon pemilih, lembaga survey, dan pemerintah.

 

 

Dari kenyataan ini, Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dan pemuda, mendorong para aktivisnya untuk melek politik secara nasional maupun global dan memfasilitasi aktivisnya mengikuti seminar “KEBHINEKAAN DAN PEMILU DAMAI 2024”. Acara ini diselenggarakan oleh Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (PGIW-DIY) di Gereja Kristen Jawa Mergangsan, Yogyakarta (Jumat, 18/11/2022). Mahasiswa utusan terdiri 3 orang dari Lampung, 3 orang dari Yogyakarta, 1 orang dari Nias, 2 orang dari Sumba, dan 1 orang dari Maluku. Seminar ini mendiskusikan Pemilu prespektif Bisnis Politik, Komisi Pemilihan Umum (KPU), dan perspektif teologi gereja.

 

 

Prof. Dr. Nindyo Pramono, SH, MS mengatakan jika generasi muda tidak memahami peta politik bangsa Indonesia ke depan dan apatis terhadap situasi politik, maka dapat dipastikan jika 104 juta suara kaum muda akan diperebutkan oleh partai-partai yang membawa bangsa ini ke arah politik identitas, yang mana berbahaya dan penuh konflik, terlebih pada tahun 2023 diprediksi sebagai resesi keuangan global yang mempengaruhi Pemilu 2024. Dalam kondisi Indonesia sedang dalam situasi tidak nyaman suara dari grass roots bisa mudah ‘dimanfaatkan’ dengan iming-iming tertentu untuk melakukan sesuatu.

 

 

Berkaitan Pemilu, menurut ketua KPU DIY, Hamdan Kurniawan, SIP., MA, aturan perundangan harus menjadi pedoman untuk mewujudkan pemilu damai sebagai tujuan penting demi kondusivitas di tengah masyarakat plural. Menurutnya, perbedaan pilihan politik jangan sampai menimbulkan konflik dalam keluarga dan masyarakat, termasuk gereja. Ruang publik baik darat maupun udara, harus bersih dari berbagai sikap yang tidak menghormati perbedaan. Kampanye oleh partai politik maupun tim sukses calon presiden dan wakilnya harus sarat nilai edukasi, yang mana di dunia nyata harus saling menghormati, demikian juga di dunia maya.  Kampanye harus disertai nilai pendidikan politik bagi masyarakat luas.

 

 

Sementara itu, ketua PGIW-DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th, M.Min menekankan agar peserta Pemilu menghindari kampanye hitam dan tidak menyebar hoax. Senada dengan Hamdan Kurniawan, Pdt. Bambang pun mengharapkan bahwa gereja harus ikut ambil bagian pada pesta demokrasi dan tetap menjaga kondusivitas dalam masyarakat. Pertama, gereja tidak boleh melancarkan kampanye hitam dan politik identitas. Kemudian, gereja harus mendidik setiap tim sukses dari peserta Pemilu dalam kampanye yang mendidik. Waktu kampanye yang panjang ini menurutnya, menyediakan ruang bagi peserta Pemilu untuk beradu gagasan. Visi, misi dan program harus menjadi konten dan materi unggulan yang disebarluaskan, artinya, seluruh peserta Pemilu harus fokus pada penyebaran konten-konten positif.

 

 

Pemilu damai adalah pemilu yang elegan dan tidak menghadirkan konflik. Lantas, bagaimana kaum muda bersikap untuk menyambut pesta demokrasi? Harapan kita hari ini adalah Pemilu 2024 berlangsung dengan baik dan setiap tahapan kampanye berjalan lancar, jadi para generasi milineal dan zillenial harus berhati-hati agar kita tidak tersapu dengan situasi yang sedang terjadi. Mari persiapkan diri dengan memperkaya literasi dan edukasi tentang Pemilu. Mari berpesta secara bertanggungjawab agar bisa bergembira dan bersukacita, Pemilu 2024 menjadi pesta demokrasi yang humanis dan demokratis.***

 


  Bagikan artikel ini

‘Melek Financial’ bersama CU Cindelaras Tumangkar

pada hari Jumat, 18 November 2022
oleh Trustha Rembaka
Oleh Trustha Rembaka.          

 

Pembelajaran otentik (authentic learning) adalah sebuah pendekatan pembelajaran otentik (asli) yang memberi ruang kepada peserta didik menemukan dan mendiskusikan masalah nyata, kemudian membangun pemahaman baru sebagai respon untuk menyikapi masalah yang ada, bahkan dalam proses ini peserta didik juga ‘berinteraksi’ dengan masalah yang ada maupun berdialog dengan orang yang terlibat di dalamnya. Konsep pembelajaran ini menjadi salah satu model kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta dimana peserta  mahasiswa berinteraksi secara langsung dengan pihak-pihak yang berkaitan dengn topik. Dalam pelatihan Social Entrepreneurship saat ini Stube HEMAT Yogyakarta melakukan kunjungan belajar ke Credit Union Cindelaras Tumangkar (CUCT) di Condongcatur, Sleman untuk mendalami problematika masyarakat tentang keuangan atau finansial dan bagaimana masyarakat berjuang untuk mandiri (12/11/2022).

 

 

Di kantor CUCT para peserta bertemu dengan Sudarwanto, S.Pd., salah satu perintis dan pernah menjabat manajer CUCT dua periode. Ia mengungkapkan latar belakang CUCT karena problematika masyarakat yang mayoritas petani dan buruh tani. Mereka mengalami kesulitan finansial karena terjerat pinjaman yang mencekik dan memaksa mereka meminjam untuk menutup pinjaman lainnya guna memenuhi kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan. Di sisi lain, kecenderungan gaya hidup instan dan konsumtif menjadi lingkaran setan yang menghambat kesejahteraan hidup mereka.

 

 

Beruntungnya, kesadaran muncul pascadiskusi di dusun Puluhan, Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta tentang bagaimana seharusnya anak bangsa mengelola bangsa ini di tengah arus globalisasi dan kapitalisme. Kenyataan yang terjadi masyarakat dengan keuangan terbatas ketika menabung di bank, uangnya tidak bertambah tetapi malah semakin berkurang karena beragam potongan, dan laba bank tidak dibagikan ke nasabah, artinya uang akan mengalir ke pemilik modal atau pemegang saham, sehingga larinya aset kepada pemilik modal berkontribusi pada kehancuran keuangan masyarakat dengan keuangan terbatas. Ketika masyarakat akan mengembangkan diri malah terhambat dengan ketidakmampuan mengakses modal karena beragam persyaratan dan pengembalian kredit pun menjadi beban tersendiri.

 

 

Para peserta mencoba mencerna paparan tadi, mereka baru menyadari tentang ‘melek finansial’ dan supaya tabungan bank bisa memberikan laba, artinya mereka harus memiliki simpanan dengan jumlah besar, di luar kemampuan seorang mahasiswa. CUCT menawarkan alternatif dimana nilai tabungan bisa tumbuh sejalan dengan akses modal untuk usaha. Di saat bersamaan anggota bisa memiliki tabungan dan mengakses modal sehingga anggota mendapat pendapatan dari balas jasa pinjaman dan laba usaha. Bahkan pendapatan CUCT akan kembali ke anggota. Menariknya, di samping layanan keuangan CUCT juga melakukan pendidikan literasi keuangan sehingga masyarakat sadar tentang pengelolaan keuangan dan adanya prinsip jangan sampai orang mati meninggalkan beban ke ahli warisnya. Di awal berdiri di 16 Juni 2006 CUCT memiliki 11 anggota dengan aset 16 juta, saat ini 2022 anggotanya lebih dari 5.000 orang dengan aset 64 milyar.

 

 

Di eksposur terungkap bahwa sebenarnya koperasi menjadi alternatif yang sudah ada di bangsa ini, namun pengelola dan pengelolaannya harus lebih diperhatikan dengan keberpihakan pada anggotanya. Para peserta termotivasi untuk mendalami suatu masalah sosial di masyarakat dan upaya masyarakat untuk lepas dari permasalahan, misalnya persoalan petani peternak, petani perkebunan singkong dan jerat rentenir.

 

Melalui pelatihan Social Entrepreneur, mahasiswa perlu melek keuangan, bagaimana mengelola pendapatan, merancang pengeluaran dan membidik usaha yang potensial sehingga mereka bisa mengembangkan diri mereka dan menjadi aktor perubahan di daerah. Ayo anak muda, melek keuangan dan kembangkan usaha untuk kesejahteraan masyarakat.***

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berdaya Ala Agradaya (Agraria Berdaya)

pada hari Kamis, 17 November 2022
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.
Oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.,          

 

Apakah setiap orang tertarik untuk menyelesaikan masalah orang lain? Belum tentu. Jangankan menyelesaikan masalah orang lain, masalah yang dialami diri sendiri belum tentu bisa diatasi. Ini bisa jadi penyebab minimnya wirausaha sosial. Jiwa wirausaha sosial harus ditumbuhkan dan dibentuk, khususnya di antara mahasiswa dan anak muda. Stube HEMAT Yogyakarta memantik mahasiswa belajar Social Entrepreneurship, agar mampu memetakan permasalahan sosial yang terjadi di daerah mereka yang sering terabaikan. Proses pelatihan memberi para mahasiswa tak hanya teori tetapi kunjungan langsung untuk belajar lebih mendalam dari pengalaman orang lain.

 

 

Salah satu rangkaian pelatihan Social Entrepreneur, sekelompok peserta berkunjung ke Agradaya (Agraria Berdaya), sebuah usaha bisnis pertanian yang berpusat di desa Sendangrejo Minggir, Sleman, kurang lebih 15 kilometer Barat Laut kota Yogyakarta (12/11/2022). Mahasiswa berdiskusi bersama Andika Mahardikainisiator Agradaya, seputar bagaimana kondisi awal munculnya Agradaya. Menurut Andika,  Agradaya muncul dari realitas sosial berupa anjloknya harga empon-empon ketika petani empon-empon panen raya. Ini menyebabkan petani tidak mendapat keuntungan dan tidak bisa meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Melihat kondisi ini akhirnya Andika Mahardika dan Asri Saraswati mendirikan Agradaya di tahun 2016.

 

 

Agradaya bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) di kawasan bukit Menoreh, kabupaten Kulonprogo yang menanam empon-empon dan panennya melimpah. Kaum wanita petani mendapat bekal bagaimana memelihara empon-empon dengan baik, memanen dan memulai proses produksi dengan menjemur empon-empon yang masih basahNarasumber mengajak mahasiswa berkeliling melihat rumah surya dan area produksi di Agradaya sambil menjelaskan proses dan kegiatan yang dilakukan.

 

 

Saat berkeliling muncullah pertanyaan mahasiswa tentang bagaimana mengemas produk yang biasa menjadi sesuatu yang memilki nilai ekonomis tinggi? Andika menjelaskan bahwa pemasaran produk Agradaya juga memikirkan desain produk, dengan mendesain kemasan produk secara cantik dan menarik dengan label AgradayaProduksi dengan inovasi baru bisa menghasilkan lebih dari seratus kemasan produk per hari. Promosi produk memanfaatkan media sosial dan jaringan, termasuk menyertakan narasi yang memperkuat produk sehingga penjualan meningkat. Kemudian pertanyaan berikutnya berkaitan dengan aneka produk Agradaya. Ada berbagai produk dihasilkan yang dimulai dari proses penjemuran di rumah surya, empon-empon kering selanjutnya diolah menjadi produk dengan berbagai varian rasa, seperti Red Ginger Powder (Jahe Merah Bubuk), Choco Ginger(Jahe Coklat), Turmeric Latte (Kunyit Latte) dan beberapa varian rasa lainnya, termasuk bahan mentah kering.

 

 

Kunjungan ke Agradaya membuka mata mahasiswa bahwa hasil kekayaan alam Indonesia begitu banyak namun kurang sentuhan sehingga cenderung diabaikan. Bisa jadi tanaman yang ada di sekitar kita dianggap biasa saja tetapi di lain tempat ternyata mempunyai nilai ekonomi tinggi. Ini bisa diketahui jika memiliki pengetahuan dan jejaring yang luas.

 

Mahasiswa, mulailah lihat sekeliling dan temukan permasalahan sosial. Itu menjadi titik pijak untuk memulai langkah pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan kelebihan yang ada di sekitar. Jangan pernah takut untuk mencoba, kegagalan menjadi bagian dari proses belajar untuk membawa perubahan bagi daerah menjadi lebih baik. ***

 


 


  Bagikan artikel ini

‘Biarlah Bumi Bernafas’

pada hari Rabu, 16 November 2022
oleh Daniel
Diskusi bersama komunitas Akar Napas

 

Oleh Daniel                         

Masalah sosial merupakan fenomena yang selalu ada di masyarakat di belahan bumi mana pun. Selama masyarakat terus berubah masalah sosial terus bermunculan tanpa bisa dihindari. Orang-orang yang bergerak di bidang Social Entrepreneurs harus memahami masalah sosial, karena dengan memahami keluasan serta kedalaman masalah, akan lebih mudah menemukan peluang-peluang melakukan aksi penanganan baik yang bersifat mencegah, menyelesaikan atau membangun. Bahkan berpotensi memunculkan ide kreatif menjawab masalah-masalah yang selama ini dianggap sulit dipecahkan.

 

 

Social Entrepreneurship: Anak Muda Bisa Apa? menjadi topik pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta untuk memperkaya pemahaman mahasiswa dan menggagas ide rintisan wirausaha sosial. Salah satu rangkaian pelatihan berupa kunjungan belajar secara berkelompok dengan jumlah delapan mahasiswa memilih salah satu tempat tujuan yaitu Komunitas Akar Napas di kawasan hutan konservasi mangrove di Baros, kabupaten Bantul, Yogyakarta (12/11/2022).

 

 

Komunitas Akar Napas merupakan salah satu contoh Social Entrepreneurship non-profit yang bergerak pada konservasi mangrove, pemberdayaan dan pendampingan komunitas lokal. Para peserta berdiskusi dengan Shanty Ardha Candra dan Momox, keduanya merupakan suami isteri yang merintis komunitas ini pada tanggal 4 November 2021. Dengan latar belakang anggotanya mahasiswa pecinta alam dan aktivis lingkungan, komunitas ini berangkat dari permasalahan hilangnya sebagian hutan mangrove di pantai Baros karena zonasi penanaman yang kurang tepat dan sulitnya budidaya salah satu jenis vegetasi mangrove, yaitu Sonneratia Caseolaria sebagai benteng utama dalam zonasi lahan. Padahal kawasan mangrove merupakan kawasan penting penangkap CO2 dan mengeluarkan O2 bagi pernafasan mahluk di bumi. Saat ini komunitas Akar Napas juga mengembangkan potensi lain hutan mangrove yang bisa dikelola masyarakat tanpa merusak ekosistem, seperti batik eco-print dan tinta pewarna alami untuk batik tulis yang diolah dari limbah biji mangrove yang sudah tumbuh.

 

 

Melengkapi pembelajaran di kawasan mangrove Baros, para peserta melakukan observasi langsung di lahan terkait pembibitan vegetasi mangrove dipandu oleh Momox. Peserta mengenal beberapa jenis mangrove yang dibudidayakan di situ, antara lain Sonneratia, Avicenniaceae, Rhizophora. Dalam zonasi penanaman, kawasan mangrove dibagi menjadi tiga zona yaitu: 1) zona satu atau zona terdepan dengan laut, yang ditanami Sonneratia atau biasa disebut Mangrove Apel; 2) zona dua atau zona tengah yang ditanami jenis Avicenniaceae; dan 3) zona tiga, paling belakang ditanami Rhizophora atau bisa disebut Bakau. Kegiatan konservasi memberi pengaruh sosial yang positif bagi lingkungan sekitar hutan mangrove yang sekarang bisa dijadikan lahan pertanian dan memberikan penyadaran langsung kepada masyarakat, terutama anak muda di desa Baros tentang pentingnya keberadaan hutan mangrove tersebut. Kunjungan belajar ini juga melihat ancaman nyata sampah yang sangat buruk, karena sampah-sampah yang dibuang di sungai yang mengalir membelah kota Yogyakarta semua berakhir di kawasan ini.

 

 

Melalui kunjungan langsung, para mahasiswa menangkap pemahaman baru tentang jenis social entrepreneurship dan peluang pengembangannya sehingga masing-masing peserta memiliki cita-cita dan tergerak untuk mengembangkan potensi masyarakat untuk menjawab permasalahan sosial khususnya yang berkaitan lingkungan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Menjawab Masalah Sosial dengan Wirausaha Sosial

pada hari Senin, 14 November 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

 

“Bagi sebagian orang, masalah sosial adalah tragedi yang menimpa manusia. Bagi seorang wirausaha sosial, itu adalah peluang untuk melakukan perubahan”(Rhenald Kasali)

 

Apa yang muncul di benak kita ketika mendengar kata masalah? Apa perbedaan antara masalah dan masalah sosial? Belum tentu setiap orang paham masalah sosial. Ketika terjadi masalah sosial, apa yang anak muda bisa lakukan? Stube HEMAT Yogyakarta memfasilitasi mahasiswa melalui pelatihan Social Entrepreneurship (11-13/11/2022 di Wisma Pojok Indahuntuk memahami masalah sosial di sekitarnya dan bagaimana menjadi seorang wirausaha sosial sebagai jawaban atas masalah sosial.

 

 

Dalam pembukaan, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd, Direktur Eksekutif Stube HEMAT mengenalkan apa itu masalah sosial. Masalah sosial adalah masalah yang terjadi secara terus menerus dan berdampak bagi banyak orang. Ternyata beragam masalah sosial melanda di masyarakatseperti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, dan lainnya. Lalu, mahasiswa sebagai anak muda bisa melakukan apa? Bagaimana seorang anak muda bisa menjadi agen perubahan terhadap masalah sosial yang ada dengan melakukan Social Entrepreneurship. Ada 4 hal dalam Social Entrepreneurship yakni meliputi; 1) Terdapat unsur pemberdayaan masayarakat, 2) Usaha yang dilakukan bertujuan menghasikan profit yang dipakai untuk menjawab masalah sosial, 3) Target perubahan sosial berjangka Panjang dan dilakukan terus menerus, dan 4) Dilakukan dengan pendekatan bisnis dan pendekatan sosial untuk mengatasi masalah.

 

 

Mendalami problem solving ini, tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta mengenal beberapa tokoh wirausaha sosial, yaitu Sugeng Handoko, yang mengembangkan anak muda di Nglanggeran (Gunungkidul), Goris Mustaqim yang membangkitkan semangat kerja anak muda di Garut, Gamal Albinsaid, menginisiasi layanan kesehatan masyarakat miskin melalui bank sampah di Malang dan Alan Efendhi yang memberdayakan masyarakat desa di kawasan gersang di Gunungkidul melalui budidaya dan bisnis aloe vera. Tak ketinggalan ditayangkan kiprah aktivis Stube HEMAT yang kembali ke daerahnya dan menjawab masalah sosial yang ada, seperti: 1) Elisabeth Uru Ndaya, S.Pd, di Sumba Timur melihat kaum perempuan perlu memiliki kekuatan untuk mandiri dan produktif, sehingga ia menginisasi belajar menenun, 2) Frans Fredi, Lambanapu, Sumba Timur yang mengalami tantangan pengangguran, anak muda menganggap pertanian tidak prospektif dan permainan harga, sehingga ia menyuarakan gerakan petani muda, dan 3) Di Alor, Petrus Maure menggagas pemanfaatan potensi lokal Alor dari kelapa, kemiri untuk menjawab pengangguran anak muda dan hasil kebun setempat yang belum diolah optimal.

 

 

Eksposur lapangan menjadi cara belajar komprehensif melengkapi pemahaman kognitif yang diperoleh. Kelompok satu berkunjung ke Bank Sampah Lintas Winongo di Jetis, Kota Yogyakarta, yang menggerakan penduduk setempat memilah sampah dan menjualnya di bank sampah sehingga mendapat uang tambahan. Kelompok dua menuju Baros, Bantul untuk berdialog dengan Komunitas Akar Napas yang melihat kawasan mangrove yang terancam sampah, luasan kawasan semakin menyempit, sehingga perlu penguatan anak muda peduli lingkungan termasuk manfaat untuk masyarakat di sekitar kawasan mangrove. Kelompok tiga belajar ke Agradaya (Agararia Berdaya) di Minggir, Slemanyang bergerak membantu petani empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak mendapatkan kesejahteraan dengan mengolah hasil panen menjadi bahan siap olah dan produk jadi untuk dipasarkan lebih luas. Kelompok empat mengunjungi Credit Union Cindelaras Tumangkar di Condongcatur, Sleman sebagai alat perjuangan anggota Credit Union dan keberpihakan masyarakat miskin untuk mandiri dan meraih kesejahteraan melalui edukasi keuangan dan pengelolaan keuangan yang baik. Selanjutnya masing-masing kelompok mempresentasikan pengalaman kunjungan belajar dan menemukan inspirasi usaha yang bisa mereka lakukan untuk menjawab masalah sosial di daerah.

 

 

Pada sesi akhir Pdt. Sundoyo, S.Si., MBA memandu peserta memetakan masalah sosial dan wirausaha sosial menggunakan Kanvas Model Bisnis (KMB) yang dikenalkan oleh Osterwalder dan Oigneur (2012). Dalam pemetaan permasalahan, peserta membidik daerah masing-masing dan menemukan masalahsolusi dan aksi dengan konsep kewirausahaan sosial. Hasil ini menjadi panduan peserta menindaklanjuti pelatihan dalam aksi nyata.

 

 

Ketika mahasiswa mendapat kesempatan dan pendampingan, mereka bisa menjadi generasi penerus daerah yang membawa perubahan daerah menjadi lebih baik, karena kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi. Mahasiswa berwirausaha sosial, bisa! ***

 


 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook