Menggali Manfaat Sabut Kelapa

pada hari Kamis, 22 Desember 2022
oleh Tommy H Sakoikoi

Oleh: Tommy H Sakoikoi.          

 

 

Kabupaten kepulauan Mentawai terletak di pesisir pantai barat pulau Sumatera yang termasuk wilayah provinsi Sumatera BaratKepulauan Mentawai yang dibentuk menjadi kabupaten berdasarkan UU RI No. 49 Tahun 1999 memiliki luas wilayah sekitar 6.011,35 km2 dan terdiri atas empat pulau utama, yaitu pulau Siberut, pulau Sipora, pulau Pagai Utara dan pulau Pagai Selatan.

 

 

 

 

 

Mayoritas penduduk kepulauan Mentawai adalah suku asli Mentawai dan sebagian besar penduduknya bekerja sebagai petani, baik petani sawah maupun petani buah-buahan (kelapa, durian, mangga, manggis, rambutan, dan sebagainya). Saya berasal dari desa Matobesalah satu penghasil buah terbaik di Kabupaten Kepulauan Mentawai, bahkan desa Matobe dijuluki sebagai desa raja buah karena setiap tahunnya menghasilkan berbagai macam buah, yaitu durian, manggis dan rambutan.

 

 

Ada satu tanaman yang hasilnya tidak pernah habis untuk dipanen, yaitu kelapa. Kelapa menjadi salah satu penghasilan masyarakat untuk meningkatkan taraf hidup mereka. Namun pemanfaatan kelapa baru pada daging kelapa dan tempurungnya untuk dijual, sedangkan sabut kelapa hanya dibakar dan dibuang. Masyarakat setempat belum tahu bahwa sabut kelapa juga bisa menjadi income bagi mereka.

 

Sabut kelapa punya keunggulan, yaitu seratnya memiliki struktur yang kuat sehingga awet dan tahan lama jika dijadikan sebuah kerajinan dan warnanya yang cokelat memberikan kesan natural bahkan sabut kelapa ini tahan dari pengaruh air laut. Sabut kelapa bisa diolah menjadi kerajinan tangan keset kaki, sapu lantai, pot tanaman dan dekorasi. Kerajinan tangan dari sabut kelapa bisa menghasilkan uang untuk membantu ekonomi masyarakat.

 

 

Mengetahui bahwa sabut kelapa itu sangat bermanfaat menjadi kerajinan tangan yang menarikpenulis ingin mengajak masyarakat di desa untuk mengolah sabut kelapa menjadi beragam kerajinan dan harapannya bisa dijual dan menghasilkan uang. Tantangannya adalah bagaimana meyakinkan masyarakat untuk menekuni kerajinan ini dan bagaimana pemasaran produknya. Bahkan, bisa jadi hasil pengolahan kelapa bisa lebih dari itu dan tidak pernah terpikirkan. Ini menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk semakin mengenal kelebihan suatu daerah dan mengolah menjadi hasil yang bermanfaat untuk masyarakat setempat. ***

 


  Bagikan artikel ini

Menemukan Ide-ide Kreatif di Yogyakarta

pada hari Selasa, 20 Desember 2022
oleh Menemukan Ide-ide Kreatif di Yogyakarta

Oleh Tommy H Sakoikoi.          

 

 

 

Rangkaian pengalaman berada di Yogyakarta yang saya alami bersama Stube HEMAT Yogyakarta membuat saya berubah karena saya menemukan beragam pengetahuan baru dan semangat ketika bertemu dan belajar dengan orang-orang baru. Saya Tommy Helfiger Sakoikoi, dari Stube HEMAT Bengkulu yang mendapat kesempatan untuk belajar di Yogyakarta. Saya bersyukur karena semua ini karena anugerah Tuhan. Selama beberapa hari di Daerah Istimewa Yogyakarta, saya belajar bersama tim Stube HEMAT Yogyakarta untuk menjadi pemuda yang kreatif dan mampu mandiri. Ini pertama kalinya saya menimba ilmu bersama Stube HEMAT Yogyakarta di kota Yogyakarta

 

 

Saya belajar beberapa hal, yaitu, (1) pentingnya menjaga lingkungan dari limbah atau sampah, karena jika sampah dibiarkan akan menjadi masalah sosial dan merugikan masyarakat sendiri. Kita sebagai masyarakat harus peduli pada lingkungan dengan menjaga dan merawat alam. Salah satu cara adalah memilah sampah non organik dan menjualnya atau mengolah menjadi kerajinan yang menarik dan dapat menghasilkan uang. (2) seorang mahasiswa untuk membayar uang kuliah tidak perlu lagi meminta kepada orang tua, yaitu dengan merintis usaha sendiri yang menghasilkan uang. Ini  dapat dicapai jika kita memiliki ide kreatif, skills dan tidak mudah putus asa untuk mengerjakannya. (3) pentingnya mahasiswa untuk menulis, karena mahasiswa harus menyusun karya ilmiah berupa skripsi, tesis, disertasi. Menulis adalah sebuah kerja keabadian yang tidak pernah dilupakan karena tulisan akan terus ada.

 

 

 

 

 

Salah satu topik lainnya adalah Social Entrepreneurship dimana saya mendapatkan hal baru yang membuka wawasan saya, khususnya tentang daerah asal saya, Mentawai. Topik ini dipaparkan oleh Trustha Rembaka, S.Th dimana Sosial Entrepreneurship melatih anak muda dan mahasiswa mampu melihat masalah sosial yang terjadi sekaligus menemukan potensi-potensi di wilayahnya yang menghasilkan keuntungan untuk mengatasi permasalahan sosial. Proses mendapatkan solusi yang inovatif atas permasalahan sosial yang ada harus melibatkan masyarakat setempat. Bahkan, pelaku Social Entrepreneurship mengadopsi misi menciptakan dan melestarikan nilai-nilai yang ada dalam kehidupan sosial masyarakat setempat. Dalam diskusi Trustha membantu peserta memetakan permasalahan sosial di daerah dan mendorong mereka mengusulkan ide-ide kreatif dan inovatif untuk mengatasi masalah sosial dan anak muda tidak gengsi ketika melakukannya.

 

 

Pembelajaran Social Entrepreneurship semakin lengkap dengan kunjungan belajar di kawasan Gunung Api Purba Nglanggeran dan embung Nglanggeran (Kamis, 15/12/2022). Saya bersama dua peserta lainnya mendalami awal mula kawasan Gunung Api Purba dan Embung Nglanggeran. Trustha Rembaka menceritakan awal proses tempat ini dari keterbatasan lapangan pekerjaan, pengangguran, penebangan pohon dan kekeringan. Saat itu Sugeng Handoko, S.T., bersama organisasi kepemudaan setempat mulai bergerak untuk mengelola kawasan sebagai tempat camping, menggerakkan penanaman pohon buah dan bertahap melibatkan kelompok masyarakat sesuai potensi, dari pemandu wisata, penyedia makanan, homestay, budidaya dan pengolahan coklat, peternakan kambing dan pengolahan susu, dan sampai pada aktivitas kesenian. Pemerintah maupun swasta akhirnya membantu pengembangan kawasan menjadi unggulan di tingkat internasional.

 

 

 

Terima kasih Stube HEMAT Yogyakarta yang telah menjadi wadah dalam mengembangkan sekaligus mengeksplor pengetahuan dan keterampilan saya sebagai mahasiswa. Semoga ke depan saya mampu berproses bersama damemberdayakan diri agar berguna bagi masyarakat.***


  Bagikan artikel ini

Perlu Kerja Keras Dan Kesadaran Mengelola Sumber Daya Alam di Bengkulu

pada hari Senin, 21 November 2022
oleh Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu

Prog. Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu          

 

Sebagaimana keprihatinan bersama atas pemanasan global yang terjadi dengan kenaikan suhu bumi sekitar 1,150 di tahun 2022, sangat tepatlah diskusi dan sharing kali ini bertopik Energi dan Lingkungan: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (Minggu, 20/11/2022) dengan mahasiswa/i yang bergabung di Stube HEMAT di Bengkulu. Berpusat dengan permasalahan di Bengkulu maka sub-tema yang diangkat adalah ‘Pengelolaan Sumber Daya Alam yang efisien di kota Bengkulu’ dengan narasumber Iman Kristina Halawa, M.Th, salah seorang pengajar di Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB).

 

 

 

 

Dimulai dari mengumpulkan berbagai pertanyaan yang ada dalam benak peserta berkaitan dengan topik dan sub-tema di atas, narasumber menggali keingintahuan peserta atas topik diskusi. Pertanyaan-pertanyaan peserta mencakup: 1) Sejauh mana peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam yang efisien; 2) Apa faktor penyebab longsor dan banjir yang sering terjadi di Bengkulu; 3) Mengapa setiap ada kerugian karena bencana yang disalahkan pemerintah-apakah semuanya salah pemerintah; 4) Bagaimana mengatasi banjir yang sering terjadi di Bengkulu; 6) Meski hujan dalam intesitas rendah, sebagian jalan-jalan tergenang air, dan situasi ini merugikan masyarakat, termasuk salah pemerintah atau warga.

 

Berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, narasumber mencoba mengurai permasalahan yang ada. Mengelola sumber daya alam dengan baik akan memberikan dampak yang baik bagi keberlangsungan kehidupan pertumbahan ekonomi masyarakat. Upaya yang bisa dilakukan adalah mengelola sumber daya alam dengan tetap menjaga kelestarian hutan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara reboisasi hutan yang gundul akibat perbuatan yang tidak bertanggung jawab. Masalah lingkungan timbul sebagai akibat dari ulah manusia itu sendiri. Pemanfaatan sumber daya alam mau tidak mau akan menimbulkan perubahan ekosistem, dan itu akan mempengaruhi kelestarian sumber daya alam itu sendiri.

 

 

Pemanfaatan sumber daya alam yang melebihi ambang batas daya dukung lahan dan tanpa memperhatikan aspek kelestarian lingkungan akan mendorong terjadinya erosi dan longsor, seperti yang banyak terjadi saat ini yang menyebabkan pendangkalan sungai dan terganggunya sistem hidrologi Daerah Aliran Sungai (DAS). Pembakaran hutan yang terjadi menyebabkan degradasi lahan, membumihanguskan habitat satwa, mengurangi keragaman hayati dan menghilangkan kesuburan tanah, rusaknya siklus hidrologi serta menimbulkan pemanasan global. Praktek ladang berpindah akan meningkatkan ancaman kerusakan hutan, karena umumnya masyarakat tidak memperhatikan aturan-aturan yang benar untuk menjaga kelestarian hutan dan melakukan aktivitas di ladang (Marison Guciano, 2009).

 

Pemaparan di atas berlanjut dalam diskusi peserta mengenai kondisi hutan yang mulai rusak, khususnya di Bengkulu. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan karena jelas mempengaruhi perubahan iklim. Salah satu akibat dari perubahan iklim saat ini adalah Bengkulu lebih sering diguyur hujan yang berakibat longsor, sementara banjir yang terjadi merusak fasilitas umum, rumah-rumah warga dan pasti mengganggu pertumbuhan ekonomi. Perlu kerja keras pemerintah dan tuntutan kesadaran setiap warga dalam pengelolaan sumber daya alam secara efisien untuk keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. ***

 


  Bagikan artikel ini

Bertambah Smart Dengan Smartphone

pada hari Senin, 24 Oktober 2022
oleh Reginiana Dosvia
Oleh: Reginiana Dosvia.          

 

Mendengar kata teknologi, tentu yang terbersit dalam pikiran kita adalah perangkat teknologi yang kita gunakan seperti handphone, televisi, komputer, tab, dan alat lainnya. Sesungguhnya teknologi memiliki defenisi luas, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teknologi mengandung arti metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis, ilmu pengetahuan terapan atau keseluruhan sarana untuk menyediakan barang-barang yang diperlukan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia. Dari definisi tersebut secara sederhana teknologi adalah alat yang digunakan manusia untuk memudahkan kegiatannya.

 

 

Karena kehidupan manusia tidak terlepas dari teknologi maka kegiatan stube HEMAT di Bengkulu mengusung tema “Pendidikan di Era Teknologi Maju: Jangan biarkan seorang pun Tertinggal” untuk periode Oktober-Desember 2022. Kegiatan Stube HEMAT yang berlangsung di desa Arga Indah II, Bengkulu Tengah (23/10/2022), fasilitator yang dihadirkan adalah Huanius, seorang trainer yang bekerja di perusahaan smartphone yang cukup besar di Indonesia. Sebagai trainer di perusahaannya, narasumber memiliki pengalaman cukup banyak mengenai peran teknologi, dampak positif dan negatif dari teknologi serta mengajarkan bagaimana memanfaatkan smartphone sebagai media pendidikan.

 

Sebagai pembukaan Huanius memberitahukan angka penjualan smartphone di provinsi Bengkulu yang cukup fantastik yang menunjukkan bahwa peminat smartphone sangat besar. Smartphone dipandang sebagai alat teknologi dan informasi yang sangat dibutuhkan masyarakat di era ini karena kegitan yang dilakukan tidak bisa lepas dari smartphone. Smartphone memberi dampak positif dengan memudahkan pengguna melakukan  komunikasi melalui media sosial, menunjukkan bakat, berbagi ilmu, mengutarakan pendapat, menambah pengetahuan, mengerjakan tugas dan dampak positif lainnya. Akan tetapi bisa menjadi dampak negatif ketika disalahgunakan, seperti mengutarakan pendapat yang membully, demokrasi yang tidak sehat, tidak bisa membuat prioritas (lupa waktu), menyaksikan vidio kekerasan yang merusak mental, transaksi obat-obatan terlarang, dan lain sebagainya. Narasumber menegaskan kepada yang hadir menjadi pemuda yang bijaksana dengan mengambil komitmen tidak menyalahgunakan smartphone yang dimiliki, sebab dampak buruk dari hal tersebut dapat merusak karakter dan masa depan.

 

 

Pada sesi selanjutnya, narasumber menjelaskan manfaat aplikasi di smartphone sebagai media pendidikan dan itu menjadi pengalaman baru karena peserta diajak bermain game dalam smartphone dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan umum, kesenian daerah Bengkulu, pengetahuan geografis, biologi, matematika, bahasa Inggris, tokoh-tokoh penemu, teka teki dan pelajaran sekolah lainnya. Narasumber berperan sebagai host dalam game ini dan peserta harus menjawab 20 pertanyaan yang tersedia. Kegiatan ini sangat menyenangkan, peserta berlomba memecahkan pertanyaan dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Suasana dipenuhi dengan tawa dan keceriaan, tetapi menjadi gaduh ketika beberapa dari peserta tidak bisa menjawab pertanyaan karena faktor signal yang tidak baik, sebab kami tinggal di pedesaan yang minim signal. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa senang mengikuti kegiatan ini.

 

Kiranya kegiatan diskusi berikutnya dapat semakin menarik dan berkaitan langsung dengan kondisi kabupaten Bengkulu Tengah. Anak muda, semakin maju dan bijaksana dengan teknologi. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Jangan Biarkan Seorang pun Tertinggal!

pada hari Selasa, 6 September 2022
oleh Program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu
Program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu          


Lembaga Stube-HEMAT merupakan program pendampingan pemuda mahasiswa untuk membangun kesadaran pada masalah di sekitarnya, intelektualitas, dan skill agar mau membangun daerahnya masing-masing.

 

 

Yedija Manullang, aktivis Stube HEMAT Bengkulu, berbicara di hadapan Mahasiswa dan Mahasiswi baru Sekolah Tinggi Kesehatan Baru (Stikes KB) Doloksanggul sebanyak 60 orang dalam acara Pekan Penerimaan Mahasiswa Baru (PPKMB) 2022 (Senin, 05/09/2022). Yedija membawakan materi “Program Kreativitas dan Inovasi Mahasiswa”. Dalam paparanya Yedija menegaskan bahwa mahasiswa mutlak harus memiliki Kreativitas dan Inovasi. Hal ini dikarenakan mahasiswa memiliki peran yang sangat besar baik di masa lalu, sekarang dan masa yang akan datang. “Dalam catatan historis, mahasiswa dan pemuda memiliki peran yang tidak boleh dilupakan mulai dari tahun 1908 pembentukan Boedi Oetomo dan setiap tahun kita peringati dalam Hari Kebangkitan Nasional hingga tahun 1998 masa reformasi, dimana mahasiswa pun memiliki andil yang besar untuk menumbangkan orde baru,” papar Yedija.

 

Lebih lanjut Yedija menjelaskan atas peran mahasiswa di masa lalu yang tidak boleh dipandang sebelah mata, dan sebagai bukti bahwa mahasiswa berperan sebagai agent of change dan agent of control terlebih menghadapi revolusi industri, bonus demografi dan menuju Indonesia Emas 2045.

 

 

“Revolusi Industri sudah kita jajaki, kedepan bonus demografi dan Indonesia Emas 2045 dengan banyaknya tantangan persoalan yang lebih kompleks, bayangkan jika mahasiswa sebagai agen perubahan dan kontrol tidak memiliki kreativitas dan inovasi, mampukah kita menjawab tantangan itu? Lebih-lebih kita tidak lagi bersaing dengan sesama anak bangsa atau orang-orang dari luar negeri tetapi dengan robotic dan Artificial Intelligence (AI),” jelas Yedija.

 

Sebagai solusi, Yedija mengatakan bahwa kita harus bersiap dan terus mengasah kreativitas dan inovasi dengan meningkatkan literasi dan mengikuti organisasi. Dunia sudah banyak berubah, ilmu pengetahuan semakin maju, teknologi berkembang. Kitalah yang bertanggungjawab atas pengembangan diri dan intelektualitas. Jangan mau tertinggal di era teknologi maju!

 

“Meningkatkan literasi menjadi salah satu langkah sederhana yang dapat dimulai dari kita semua, saat ini kita harus menumbuhkan budaya membaca, menulis dan berdiskusi. Tidak hanya cukup disana, kita pun harus mengikuti organisasi yang menunjang kreativitas dan inovasi karena dalam organisasi kita dibekali soal kepemimpinan, kecakapan sosial, networking, kolaborasi dan banyak lagi,” tambah Yedija.

 

 

Untuk menumbuhkan Kreativitas dan Inovasi Mahasiswa, Yedija memperkenalkan Lembaga Stube Hemat, sebuah Lembaga yang berdiri semenjak tahun 1993 di Yogyakarta dan memiliki 8 titik sebaran multiplikasi alumni di Indonesia mencakup Yogyakarta, Sumba, Bengkulu, Alor, Raja Ampat dan Lampung.

 

“Stube Hemat merupakan sebuah lembaga yang terinspirasi dari pelayanan Diakonia Gereja Lutheran di Jerman untuk mahasiswa asing yang sedang yang belajar di negara tersebut. Program ini dibawa ke Indonesia dengan harapan pemuda dan mahasiswa dapat memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun untuk meraih masa depan yang dicita-citakan,”jelas Yedija.

 

Yedija juga menjelaskan bahwa makna dari Logo Stube-HEMAT diambil dari cerita di Alkitab mengenai penjunan (pembuat gerabah) yang bekerja membentuk bermacam wadah: tempayan, kuali, dan sebagainya.

 

“Ada banyak manfaat ketika mengikuti program-program dari Stube-HEMAT yang menunjang kreativitas, inovasi hingga kepedulian dan kesadaran terhadap masalah di sekitar mahasiswa dan pemuda,” jelas Yedija. Program-program Stube HEMAT sudah terlaksana di Doloksanggul seperti: Diskusi Reformasi Gereja, Dialog Lintas Iman yang diimplementasikan dengan berkunjung Gereja Khatolik dan Masjid di Doloksanggul, Pemuda dan Tantangan Kesehatan, Desa Berkelanjutan, Demokrasi dari Masa ke Masa, dan Perlindungan Anak dan Perempuan, serta Pendidikan di Era Teknologi Maju.

 

 

Acara ditutup dengan pemberian buku kepada mahasiswa baru yang aktif selama pemaparan materi, hal ini juga sebagai dukungan dan komitmen Stube untuk terus meningkatkan literasi di kalangan mahasiswa. ***


  Bagikan artikel ini

Makna Stube HEMAT Untuk Para Peserta

pada hari Minggu, 31 Juli 2022
oleh Stube HEMAT Bengkulu
Stube HEMAT Bengkulu.          

 

Diskusi mingguan untuk persiapan program dan review dilakukan di Stube HEMAT Bengkulu, bertempat di Polindes Bengkulu Tengah (Minggu, 31/07/2022). Reginiana Dosvia, aktifis Stube HEMAT Bengkulu memimpin diskusi dan menjaring kesan-kesan, pengalaman dan manfaat apa yang dirasakan para peserta mengikuti program terakhir dari multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu yakni perubahan iklim. Beberapa peserta memberi pernyataan sebagai berikut di bawah ini.

 

 

Jethah Hafizzah Alzahra, Saya berasal dari Bengkulu Tengah. Saya sudah mengikuti kegiatan Stube-HEMAT Bengkuluini sejak tahun 2021 bersama kak Regi sebagai pendamping. Banyak sekali pengetahuan yang saya peroleh, bahkan sudah ada beberapa yang dipraktekan di masyarakat, seperti melakukan pembinaan dan diskusi bersama adik-adik dan kaum perempuan tentang kekerasan anak, membuat team volly untuk desa yang berkelanjutkan dan mengusulkan P3K di desa saya.” Jethah menambahkan, “Pengalaman yang luar biasa saya rasakan ketika mendapatkan kesempatan belajar dari beberapa narasumber Stube HEMAT di Bengkulu. Khususnya untuk tiga bulanterakhir ini belajar perubahan iklim. Dari tema ini saya belajar beberapa hal, mengenai definisi iklim, dampak perubahan iklim, sikap yang seharusnya dalam merespon perubahan iklim dan antisipasinya, melatih renang dan yang terakhir mengamati perkebunan strawberi dan berbincang dengan pengelola danmasyarakat, untuk mengetahui dampak dari perubahan iklim di area perkebunan.

 

Yupita Anggarani, “Perubahan iklim dapat menyebabkan bencana alam, salah satu contohnya bencana banjir atau air bandang. Saya dibekali untuk bisa menolong diri sendiri dan orang lain ketika bencana itu terjadi.”

 

Frentia Embang Sari, “Perubahan iklim bisa menyebabkan cuaca yang ekstrim. Bisa menyebabkan hujan yang deras atau kemarau yang panjang. Dari kegiatan Stube ini bisa mengetahui tentang perubahan cuaca tersebut dan edukasiyang bisa diberikan masyarakat yaitu untuk tidak menebang pohon secara sembarangan.

 

Mosa Inderiani, “Dengan pembelajaran ini saya diberikan pemahaman untuk bijasana dalam mengelola alam. Terimakasih kepada Stube Hemat karena memberikan materi dengan tema-tema menarik sehingga membuat saya bertambah wawasan. Harapannya bahwa kegiatan baik ini terus berlanjut.”     

 

Wini Prakusya, “Materi yang paling menarik yang saya pelajari, yaitu ketika berangkat ke perkebunan strawberry. Disana saya mendapatkan banyak pengetahuan cara menanam, melihat proses penanaman, serta memperoleh informasi penting bahwa musim panas juga dapat menghasilkan buah strawberi yang berkualitas apabila ditangani dengan baik sesuai dengan takaran air dan pupuk yang diperlukan.

 

Lela Susanti, “Perubahan iklim menyebabkan banyak bencana alam. Contohnya banjir. Dari pertemuan Stube ini saya memperoleh banyak wawasan dalam menyikapi perubahan iklim serta mengetahui dampak positif dan negatifnya. Saya pun tertarik untuk membudidayakan stoberi berdasarkan ilmu yang pengetahuan yang saya peroleh di sana.

 

Frengki Kurniawan, “Sebagai orang yang lahir di pedesaan yang kondisi alamnyadialiri banyak anak sungaimembuat saya secara otomatis bisa berenang. Saya sangat beruntung bisa ikut program perubahan iklim karena dalam kegiatan ini saya dibekali ilmu berenang yang benar, mendapat kesempatan praktek menyelamatkan orang tenggelam dalam simulasi. Dilatih oleh penyelam dan pelatih profesional yang disediakan oleh Stube Hemat di Bengkulu. 

 

Program-program selanjutnya adalah berkaitan dengan Pendidikan dan Energi yang bisa diikuti dalam periode Juli-Desember 2022. Selamat berproses.***


  Bagikan artikel ini

Perkebunan Strawberry Bersiap Menghadapi Perubahan Iklim

pada hari Senin, 6 Juni 2022
oleh adminstube

Perubahan Iklim mengacu pada perubahan suhu dan pola cuaca dalam jangka panjang. Pergeseran ini bersifat alami tetapi sudah berlangsung sejak periode 1800-an. Aktivitas menusia telah menjadi pendorong utama perubahan iklim terjadi, terutama dengan pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas, yang menghasilkan gas yang memerangkap panas.

 

 

Mendengar perubahan iklim menyebabkan cuaca ekstrim di suatu daerah, membuat kami dari Stube-HEMAT di Bengkulu Tengah tertarik mempelajari dampak perubahan iklim bagi daerah pertanian. Pada Minggu, 5 Juni 2022, kami melakukan perjalanan ke perkebunan strawberry di Family Garden Strawberry yang berada di Kelurahan Simpang Nangka Karang Jaya, Kec. Selupu Rejang, Kabupaten Rejang Lebong. Perjalanan ditempuh selama 4 jam dari titik keberangkatan, Arga Indah 2 kecamatan Merigi Sakti, Bengkulu Tengah. Selama perjalanan bisa pemandangan perbukitan, hutan lindung dan rumah penduduk asli Bengkulu yang khas yakni rumah panggung.

Tiba di tempat, wawancara dengan petani lokal dan pemilik usaha perkebunan tersebut menjadi kegiatan yang menarik. Salah seorang pengelola perkebunan bernama Meli, menuturkan beberapa informasi penting, seperti tanaman strawberry membutuhkan cuaca sejuk, suhu udara berkisar 22-250 C. Perkebunan strawberry memerlukan kelembapan untuk proses pembuahannya.

Sesuai topik perubahan iklim, kami bertanya jika perubahan iklim terjadi, apa yang harus  dilakukan petani untuk menjaga perkembangan strawberry mereka? Pada dasarnya tanaman strawberry memang memerlukan kelembaban dari suhu udara sekitar tetapi jika terjadi perubahan iklim dengan suhu yang panas maka tanaman strawberry harus terus dilakukan penyiraman. Namun, dengan catatan media tanah tidak boleh telalu basah (becek), karena jika terlalu basah maka akan memperlambat proses pertumbuhan dan juga menyebabkan buahnya membusuk. Setelah disiram letakkan di tempat yang teduh agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung ketika cuaca panas.

 

 

Dampak merugi pernah dialami oleh pemilik perkebunan ketika cuaca panas, yakni daun  tumbuhan strawberi mengering dan tidak menghasilkan buah secara maksimal. Namun dengan penyiraman yang baik, maka tanaman ini dapat terselamatkan. Artinya, pada musim panas sekalipun tanaman ini dapat menghasilkan asalkan cara penyiraman dan kelembaban tanah dijaga dengan benar. Bahkan di musim panas buah dari strawberry ini dapat menghasilkan buah yang lebih besar dan manis dari pada ketika musim hujan yang biasanya menyebabkan buah membusuk dan berukuran kecil.

Dari eksposur ini, beberapa pemahaman bisa diperoleh yakni; perubahan iklim bisa terjadi dimanapun dan dapat menimbulkan kerugian bagi manusia, namun, dengan edukasi yang benar serta belajar dari pengalaman, manusia dapat mengantisipasi perubahan tersebut. Manusia bisa mengurangi resiko kerugian dari usaha yang dikerjakan. Hal ini juga berguna untuk mendorong kreatifitas para petani dalam beradaptasi seperti di atas.

 

 

 

Perubahan iklim tidak bisa dihindari dan kita semua harus siap atas perubahan tersebut. Kesiapan dapat diperoleh dengan memperbanyak informasi mengenai usaha-usaha mencegah dampak negatif dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, seperti mengurangi emisi karbon dioksida dengan mengurangi pemakaian kendaraan pribadi, tidak melakukan pembakaran, melakukan penghijauan, menghemat energi listrik, memakai barang dengan bahan yang bisa didaur ulang, dsb. Mari kita bersama berusaha meminimalisir dampak negatif dari perubahan iklim. (RD) ***

 

 


 


  Bagikan artikel ini

Pentingnya Mengenal Informasi Perubahan Iklim

pada hari Senin, 16 Mei 2022
oleh Reginiana Dosvia Khalista S.Pd.K
Oleh: Reginiana Dosvia Khalista S.Pd.K

 

Kegiatan Stube HEMAT di Bengkulu menjadi sarana pemberi informasi bagi para pemuda di wilayah Bengkulu Tengah. Tema yang dipelajari pada 15 Mei 2022 di desa Arga Indah 2 kecamatan Merigi Sakti, kabupaten Bengkulu Tengah adalah mengenai perubahan iklim. Suatu tema yang menarik namun terkadang terabaikan, Padahal tema ini merupakan pembelajaran yang sangat baik untuk diketahui.

 

 

Iklim adalah kebiasaan dan karakter cuaca yang terjadi di suatu tempat atau daerah. Kurun waktu yang menjadi acuan penentuan iklim rata-rata berdurasi 30 tahun. Unsur penyusun iklim sama dengan cuaca. Pembentukan iklim di suatu tempat dipengaruhi oleh letak garis lintang, lereng, ketinggian, jarak dari perairan, serta kondisi arus air laut. Setiap daerah memiliki iklim yang berbeda. Hampir semua wilayah daratan mengalami lebih banyak hari terik dan gelombang panas. Tahun 2020 adalah salah satu tahun terpanas yang pernah tercatat. Suhu yang lebih tinggi dapat meningkatkan penyakit yang berhubungan dengan panas dan dapat membuat orang lebih sulit bekerja dan beraktivitas. Kebakaran hutan lebih mudah terjadi dan lebih cepat menyebar ketika kondisi lebih panas.

 

 

Perubahan iklim yang terjadi menghasilkan dampak yang merugikan seperti pemanasan suhu bumi. Dari pemaparan tersebut diskusi-diskusi berkaitan dengan global warming dan cara mengantisipasi perubahan iklim sangat penting dilakukan di kalangan mahasiswa dan anak muda. Dari hasil diskusi tersebut kami mengambil kesimpulan bahwa pemanasan global yang disebabkan oleh perubahan iklim dapat diantisipasi dengan cara menghentikan perusakan hutan, menanam pohon, menggunakan produk ramah lingkungan dalam kehidupan sehari, dan mengurangi aktivitas yang menyebabkan efek rumah kaca.

 

 

Pemerintah juga semestinya mengambil peran dengan mengeluarkan kebijakan seperti penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari. Energi alternatif ini dinilai aman terhadap atmosfer, dan tidak menimbulkan polusi yang berlebihan. Contohnya penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. Saat ini sudah banyak kendaraan transportasi umum yang menggunakan bahan bakar gas.

 

 

Pembahasan ini memberikan pengalaman baru bagi anak-anak muda di Bengkulu Tengah. Sehingga ke depan Bengkulu Tengah dapat lebih mengambil peran dalam mengantisipasi perubahan iklim. Contoh sederhana yang bisa dilakukan saat ini adalah menjaga hutan yang kami miliki, tidak menebang pohon sembarangan dan memperhijau wilayah.***


  Bagikan artikel ini

Sadar Bencana Alam & Bencana Sosial

pada hari Kamis, 21 April 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh: Kresensia Risna Efrieno          

 

Selain untuk mendapatkan pengetahuan, belajar juga untuk mencari nilai-nilai kebaikan dari setiap ilmu yang digeluti. Hakekat belajar adalah proses mengubah pola pikir. Namun apakah proses itu hanya sampai disitu? Proses belajar dengan mengalami dan merasakan langsung akan memberi dampak lebih dalam, karena selain mempelajari teori secara kognitif, seseorang sekaligus merasakan apa yang menjadi bagian dari proses pembelajaran tersebut. Ibarat seorang pilottidak hanya mengetahui teori penerbangan, tetapi juga masuk ke dalam pesawat dan menerbangkannya.

 

 

Proses belajar seperti ini, saya temukan di Stube HEMAT Yogyakarta, sebuah lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya mahasiswa di Yogyakarta, bahkan tidak saya temukan di kampus atau di kuliah saya. Stube HEMAT menyediakan ruang bagi mahasiswa untuk menemukan pengetahuan serta pengalaman baru, misalnya mahasiswa Teologi mendapatkan kesempatan belajar kesehatan atau mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan mendapatkan bekal tambahan tentang bagaimana mengelola lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia.

 

 

Saya mahasiswa Ilmu Komunikasi asal Manggarai, NTT mendapat kesempatan berharga untuk membagikan materi tentang mapping dan manajemen bencana bagi para mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu dalam pelatihan Stube HEMAT di Bengkulu tentang Perubahan Iklim dan Kelangsungan Hidup (Sabtu, 9/4/2022). Di satu sisi, saya membagikan apa yang telah saya pelajari di Stube HEMAT Yogyakarta, di sisi lain saya mempraktekkan ilmu komunikasi. Bagi mahasiswa Teologi, topik kebencanaan adalah hal baru, tetapi penting untuk mengenal dan memetakan potensi-potensi bencana yang bisa terjadi. Terlebih nantinya para mahasiswa ini akan menjadi pelayan umat. Sebagian besar mengatakan bahwa diri sendiri harus menjadi teladan bagi orang lain. Saya juga menyaksikan kedisiplinan mahasiswa STTAB menjaga kebersihan asrama mereka, bahkan mereka saling akrab dan harmonis menjalin kehidupan meskipun berasal dari daerah berbeda.

 

 

Saya juga belajar tentang Bengkulu, kota bersejarah yang dikenal sebagai kota pengasingan Bung Karno (presiden pertama Republik Indonesia) dan memiliki destinasi wisata benteng Marlborough dan pantai Panjang dengan hamparan pasir hitamnya. Meski cuaca panas dan kering, pantai ini memiliki sunset yang indah. Bengkulu tak lepas dari isu sosial yang marak terjadi. Hal ini terungkap dalam dialog bersama beberapa mahasiswa Universitas Negeri Bengkulu adanya nikah muda, hamil di luar nikah, bahkan korban selingkuh terjadi di desa mereka. Fenomena ini sering terjadi dan mulai dianggap biasa oleh masyarakat. Perbincangan ini menghasilkan gagasan bagaimana seharusnya masyarakat dan pemangku kepentingan bertindak dan apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa menyikapi realita tersebut, meskipun diakui bahwa tidak mudah menyadarkan masyarakat setempat.

 

 

Harapannya dengan hadirnya program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu, anak muda dan mahasiswa di Bengkulu menemukan pencerahan dan terobosan untuk menyadari realita yang terjadi di sekitar mereka dan mampu merumuskan apa yang harus mereka lakukan untuk membawa perubahan baik.

Ya, perjalanan ini adalah bagian dari belajar, yang mana belajar adalah proses menemukan sesuatu yang baru dan menjadi pengalaman. Sama halnya perjalanan ke Bengkulu, ini menjadi proses saling belajar, saya membagikan apa yang telah dipelajari, sekaligus menemukan hal-hal baru tentang Bengkulu yang memperkaya wawasan dan mendewasakan.***


  Bagikan artikel ini

Waspada Bencana dan Bertahan Hidup

pada hari Senin, 18 April 2022
oleh Reginia
Oleh Reginia.          

 

Masih segar di ingatan kita tentang bencana banjir dan tanah longsor yang terjadi di wilayah Bengkulu pada tahun 2019. Salah satu faktor pemicunya adalah perubahan iklim yang ekstrim.  Bencana alam memang merugikan banyak pihak. Dari data per 29/04/2019 yang diperoleh, korban bencana tercatat 29 orang meninggal dunia, 13 orang hilang, 2 orang luka berat, dan 2 orang luka ringan terang Sutopo Purwo Nugroho yang saat itu menjabat kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Lebih rinci Sutopo mengatakan bahwa korban terbanyak terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah yaitu 22 orang meninggal. Korban meninggal akibat tanah longsor yang terjadi di kaki Gunung Bungkuk Kabupaten Bengkulu Tengah. Sementara korban meninggal lainnya terdapat di Kabupaten Kepahiang sebanyak 3 orang, Kabupaten Lebong 1 orang dan Kota Bengkulu 3 orang.

 

 

Bengkulu Tengah menjadi daerah yang paling terdampak bencana alam ini. Hal ini terjadi karena letak geografis dan struktur tanah yang rentan longsor serta banyaknya anak sungai yang dimiliki daerah ini. Melihat permasalahan tersebut Stube HEMAT di Bengkulu menghadirkan seorang pelatih selam dan perenang profesional yaitu, Huanius Jastino tresavaldo, alumni Universitas Bengkulu jurusan kelautan (17/04/2022).

 

 

Pelatihan ini penting sebagai usaha membekali mahasiswa peserta memberikan pertolongan korban tenggelam. Narasumber memberikan materi terlebih dahulu sebelum para peserta diajak praktek di salah satu kolam renang di daerah Bengkulu kota. Dalam pemaparannya narasumber memberikan penjelasan bahwa perairan terbagi atas tiga yaitu laut, sungai dan danau/kolam. Masing-masing perairan ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam proses penyelamatan korban tenggelam.

 

 

Saat dalam posisi menjadi korban hampir tenggelam maka yang harus dilakukan adalah tetap tenang dan tidak panik,  karena kepanikan akan membuat tubuh semakin tenggelam. Jika tidak bisa berenang maka biarkan kaki menginjak dasar dan melompat kepermukaan dengan tumpuan kaki. Hal ini dilakukan terus menerus, namun jika itupun masih terasa sulit, narasumber menyarankan peserta untuk berusaha mengambang di air dan membuat pelampung dari celana atau baju yang dikenakan.

Hal yang harus digarisbawahi ketika menolong orang tenggelam adalah menyelamatkan nyawa, jadi jika tidak mahir berenang maka lebih baik mencari pertolongan, jangan membahayakan nyawa sendiri. Selanjutnya pastikan bahwa orang yang tenggelam tersebut tidak dalam keadaan panik, karena ketika panik korban secara reflek menendang yang akan menenggelamkan si penolong. Beritahu korban untuk tetap tenang dan percaya kepada si penolong. Bawa korban dengan posisi mengkalungkan tangan ke leher korban dari belakang. Hindari menarik korban dengan berhadapan muka karena korban bisa menyulitkan si penolong  berenang. Bawa korban ke tepi. Jika korban minum banyak air maka perlu diingat jangan menyuruh korban duduk atau memposisikan kaki lebih tinggi dari kepala, namun baringkan korban, letakkan satu tangan korban di dada dan miringkan tubuhnya, maka dengan sendirinya air akan keluar dari mulut.

Kegiatan ini berjalan sangat menyenangkan karena peserta mendapatkan banyak hal baru, dan pelatih mengajarkan berbagai gaya renang. Informasi dan pengetahuan ini sangat bermanfaat saat kondisi banjir atau tenggelam. Salam dan semangat bertahan hidup. (RGA) ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Perilaku Kita dan Perubahan Iklim

pada hari Minggu, 10 April 2022
oleh Efrasya Brigita Tasilipet
Oleh: Efrasya Brigita Tasilipet

 

Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu.         

 

 

Apabila kita rasakan dan cermati, bumi ini semakin panas bukan? Hal ini dikarenakan iklim yang sudah berubah. Perubahan iklim ialah perubahan biologis dan fisik yang mengakibatkan suatu fenomena alam. Suhu bumi yang semakin meningkat diakibatkan faktor seperti efek rumah kaca, karena emisi yang dilepaskan dari bumi tertahan di atmosfer sehingga panas bumi naik. Hal ini mengakibatkan kemarau panjang, mencairnya gunung es di kutub, dan akan menimbulkan banyak permasalahan bagi manusia, khususnya di bidang pekerjaan petani berkaitan dengan penyediaan air untuk lahan pertanian, yang pada akhirnya mengancam sumber pangan manusia.

 

 

Pentingnya pemahaman akan permasalahan ini, Program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu membuat forum diskusi dengan tema, Perubahan iklim dan kelangsungan hidup di Bengkulu”dengan sub tema “Perilaku kita dan perubahan iklim” (09/04/2022). Pada diskusi kali ini, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT di Indonesia berkesempatan datang dari Yogyakarta, sebagai narasumber. Ada 22 mahasiswa  Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB) mengikuti diskusi ini dengan antusias.

 

 

Perilaku manusia menjadi faktor yang berkontribusi besar atas perubahan iklim. Pemakaian alat transportasi yang masif, pendingin ruangan (AC), emisi dari industri, penebangan hutan tanpa diikuti penanaman pohon kembali secara memadai, memicu peningkatan suhu panas bumi. Pada intinya, karena pelepasan CO2 dan gas-gas lain secara besar-besaran ke atmosfer, membuat suhu bumi naik secara signifikan. Selanjutnya narasumber menjelaskan ozon sebagai lapisan pelindung bumi dari radiasi sinar Ultraviolet (UV) dari matahari, sehingga bumi tidak menerima panas berlebihan dari sinar UV matahari. Untuk itu perlu menjaga lapisan ozon, seperti dengan banyak menanam pepohonan yang membantu menyerap CO2 dan melepas O2, bersepeda untuk jarak-jarak yang terjangkau, rekonstruksi bangunan rumah sehingga tidak perlu pendingin ruangan. Disadari atau tidak, perilaku manusia akan mempengaruhi pemanasan bumi dan perubahan iklim.

 

 

Saya mendapatkan pengetahuan baru tentang perubahan iklim dalam diskusi ini. Sebagai mahasiswa teologi saya tergerak melakukan kegiatan untuk mencerahkan orang-orang di sekitar saya, supaya mereka juga bisa belajar untuk mencintai alam sekitar dan melindunginya dengan baik. Terimakasih Tim Stube HEMAT atas pencerahannya. Mahasiswa dicerahkan untuk mencerahkan. ***

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Bercakap Bersama Stube HEMAT Yogyakarta

pada hari Sabtu, 9 April 2022
oleh Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu
Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu          

 

Kesempatan  baik  bagi rekan-rekan di wilayah Bengkulu Tengah, karena dapat berjumpa dengan Tim dari stube Hemat Yogyakarta (Sabtu, 8/04/2022) yakni Ariani Narwastujati (direktur eksekutif)Pdt. Bambang Sumbodo (pengurus) dan Isna (mahasiswa-tim kerja).

 

 

Beberapa topik yang dibicarakan diantaranya berkaitan dengan tema-tema pertemuan Stube beberapa bulan terakhir, khususnya mengenai Kekerasan Seksual’ terhadap perempuan dan anak.  Pertemuan ini membuka wawasan karena terjadi diskusi mendalam dan saling berbagi pengalaman dan informasi mengenai kasus kekerasan dan pelecehan khususnya yang terjadi di wilayah BengkuluSangat memprihatinkan bahwa kasus kekerasan dan pelecehan masih marak terjadi. Dari diskusi ini terobosan-terobosan baru diperoleh baik itu metode, antisipasi, visi dan komitmen untuk meminimalisir kasus dan permasalahan.

 

 

Empat mahasiswa Bengkulu Tengah yang hadir memberikan pendapat atas pengalaman mereka mengikuti program Stube HEMAT. Tenti mengatakan, “Menurut saya, Stube HEMAT bagus dikembangkan di Bengkulu karena kegiatan ini bermanfaat untuk masyarakat, khususnya kalangan mudaSetelah saya mengikuti kegiatannya, banyak pengalaman yang saya dapatkan seperti materi tentang desa berkelanjutan atau pun kekerasan seksual. Semoga Stube HEMATt bisa lebih dikenal di Bengkulu agar banyak anak muda belajar isu-isu sosial yang terjadi di sekitar”.

 

 

Fenti, mahasiswa jurusan ekonomi menyampaikan, ”Bersama pengurus Stube dari Yogyakarta, banyak hal menarik yang dibicarakan seperti perbandingan kehidupan dan masalah-masalah yang menjadi perhatian dalam masyarakat. Percakapan ini mengajarkan kepada saya bahwa peduli terhadap masyarakat di lingkungan sendiri merupakan hal yang sangat penting. Kembali ke daerah asal adalah hal yang penting untuk bisa membagikan ilmu yang didapat dari bangku perkuliahan. Semoga ada kesempatan lain lagi untuk bisa berdiskusi dengan tim dari Yogyakarta.”

Sintia, mahasiswa Universitas Negri Bengkulu berkomentar, “Pertemuan meskipun singkat dengan tim Stube hemat dari Yogyakarta memberi wawasan baru yang dapat diterapkan di Bengkulu, khususnya  Bengkulu Tengah. Daerah ini perlu perhatian dari segala aspek dan membutuhkan kehadiran orang-orang muda yang ingin bergerak memalui sebuah wadah dan Stube HEMAT merupakan wadah yang bagus untuk melakukan pergerakan.

Selain itu topik tentang anak dan perkembangannya menjadi topik yang sesuai kebutuhan di Bengkulu karena kenakalan remaja, kekerasan kepada anak dan perempuan tergolong sering terjadi, dan Stube HEMAT memiliki topik ini untuk memberi pemahaman dan wawasan yang benar. Rangga, mahasiswa jurusan kesehatan menyatakan, “Mengikuti diskusi kecil dengan Stube HEMAT memantik dan memotivasi saya untuk bergerak menyampaikan hal-hal baik kepada masyarakat.”

Dari Bengkulu Tengah ada harapan bahwa komunikasi yang sudah berjalan dan terjalin boleh terus terpelihara dan program Stube HEMAT terus memberikan kesempatan anak muda memperoleh ilmu dan wawasan yang selanjutnya bisa dikembalikan dan dikembangkan untuk masyarakat. (RGA).

 

 


  Bagikan artikel ini

Peduli Lingkungan, Waspada Global Warming

pada hari Senin, 4 April 2022
oleh Peemi Guswita Zaluchu

Oleh: Peemi Guswita Zaluchu    

 

Mahasiswa  Semester VI, Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu         

 

 

Kegiatan Stube HEMAT Bengkulu bertema “Iklim dan Lingkungan” dengan sub tema, “iklim dan dampaknya bagi lingkungan Bengkulu” dilaksanakan di Aula Akademik STTAB dengan narasumber Andreas Wahyu Permadi, S.Tr., MP (Sabtu 02/04/2022). Ada beberapa catatan dalam kegiatan ini, yaitu.

 

 

Peserta memahami tentang cuaca yang merupakan keadaan fisik atmosfer yang dapat berubah dalam jangka waktu pendek, sementara iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam suatu daerah dengan kurun waktu panjang. Sebagai contoh, hari ini Bengkulu sangat cerah sedangkan kemarin turun hujan (cuaca), contoh iklim “pada tahun ini kemarau cukup panjang”. Perubahan iklim merupakan perubahan kondisi fisik atmosfer antara lain perubahan suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas bagi kehidupan manusia seperti kemarau yang berkepanjangan, hujan yang tak henti-henti, longsor dan lain sebagainya. Suka atau tidak perubahan iklim pasti akan terjadi. Dampak dari perubahan iklim yaitu, para petani gagal panen, kebakaran hutan, curah hujan yang lebat mengakibatkan banjir, dan dampaknya pada kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan dsb. Hal ini juga terlihat di Bengkulu saat ini, seperti petani gagal panen, naiknya suhu udara di daerah Kepahiang yang terkenal paling sejuk di Bengkulu, atau fenomena hujan es di Bengkulu Utara.

 

 

Tindakan apa yang harus dilakukan sebagai upaya mengurangi dampak negatif ketika bencana datang? Kemampuan adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif, juga pemanfaatan informasi iklim dan cuaca sebagai usaha-usaha optimalisasi pengurangan resiko bencana, meningkatkan ketahanan tubuh dengan olah raga, makan makanan sehat, membangun infrastruktur dengan menyesuaikan resiko dampak perubahan iklim, atau memperbaiki pengelolaaan air. Usaha mitigasi merupakan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari bencana dan hal ini dapat dikelola, sehingga apabila bencana terjadi maka sudah siap. Usaha mitigasi bisa berupa menanam pohon, hemat air, hemat energi, menggunakan sumber energi ramah lingkungan, mengelola sampah, dan penanaman di halaman rumah.

 

 

Setelah pemateri menyampaikan pembahasan, ada pertanyaan dari dosen pendamping,  Made Nopen yang menyoal mengapa Bengkulu kota kekurangan angin sedangkan di kampung tidak demikian. Narasumber menjawab bahwa kurangnya angin sejuk di kota Bengkulu karena beberapa faktor seperti sedikitnya jumlah pohon dibandingkan rumah, dekat pesisir pantai karena panas yang dihasilkan akan terpantul, hingga di permukaan laut, sehingga suhunya jauh lebih tingi atau panas. Hal penting yang harus dilakukan adalah mengurangi mobil pribadi, dan meminimalisir polusi, walau dipandang remeh namun membawa dampak baik bagi semuanya.

 

 

Pada akhir penyampaian materi, narasumber memberi penegasan bahwa perubahan iklim tidak dapat dihindari namun bisa diminimalisir dampak negatifnya. Sebenarnya dunia tidak kekurangan orang-orang pintar, tetapi kekurangan orang-orang yang peduli lingkungan. Jadi bagi yang telah mengetahui bahaya dampak perubahan iklim, mari jaga lingkungan dan alam agar tetap bersih dan seimbang dengan membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan kembali barang daur ulang, menanam pohon di pekarangan rumah dan tetap peduli lingkungan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Mengikuti Diskusi Hak Anak Internasional & Nasional

pada hari Senin, 21 Maret 2022
oleh Samueli Hia
Oleh: Samueli Hia

 

Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu.          

Halo Sobat Stube-HEMAT di seluruh Indonesia! Salam kenal saya Samueli Hia dari komunitas Stube-HEMAT di Bengkulu. Saya mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu, semester II (dua). Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti Stube-HEMAT Bengkulu. Saya mendapatkan kesempatan ini atas rekomendasi dari dosen saya, Made Nopen Supriadi, S.Th. (Sabtu, 19/03/2022), pukul 15.00 s.d. 17.00 WIB. Diskusi ini memiliki tema utama, ‘Perlindungan Perempuan dan Anak dengan sub tema, Hak Asasi Anak Menurut Konvensi Internasional dan Indonesia”, dengan narasumber Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT. Karena kasus Covid-19 varian Omicron sedang melonjak secara nasional, maka diskusi diselenggarakan secara online, Yogya-Bengkulu.

 

 

Berikut saya merangkum apa yang saya dapat dalam diskusi tersebut. Narasumber berbicara mengenai hak anak maka pembahasannya bertujuan memberitahukan apa yang harus dimiliki oleh anak dalam keluarga dan di dalam masyarakat. Selain definisi anak dengan batasan usia 0-18 tahun, nara sumber memberikan informasi tentang convention on the rights of the Child pada tahun 1989 oleh UNICEF, yang menghasilkan 54 pasal hak anak. Diantaranya, anak tidak boleh didiskriminasi, mendapat perhatian yang terbaik, perlindungan, bimbingan, hak hidup, mendapatkan nama, identitas, bersama keluarga, komunikasi dengan keluarga yang berbeda negara, melindungi anak dari penculikkan, menghormati cara pandang anak, berbagi pemikiran dengan bebas, bebas berpikir dan beragama, memiliki komunitas (group), melindungi privasi anak, mendapatkan akses untuk infomasi, mendapatkan tanggung jawab dari orang tua, melindungi dari kekerasan, melindungi anak yang tanpa orang tuaadopsi dan lain sebagainya.

Karena konvensi tersebut ditetapkan pada tanggal 20 November, maka hari tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Anak Internasional. Dari banyak pasal konvensi hak anak internasional tersebut, Indonesia mengadopsi dan menyarikannya menjadi 10 hak anak,  yang meliputi:

  1. Hak untuk Bermain
  2. Hak untuk mendapatkan Pendidikan
  3. Hak untuk mendapatkan Perlindungan
  4. Hak untuk mendapatkan Nama (Identitas)
  5. Hak untuk mendapatkan Status Kebangsaan
  6. Hak untuk mendapatkan Makanan
  7. Hak untuk mendapatkan Akses Kesehatan
  8. Hak untuk mendapatkan Rekreasi
  9. Hak untuk mendapatkan Kesamaan
  10. Hak untuk memiliki Peran Dalam Pembangunan 

 

 

Diskusi tersebut memberi saya wawasan baru, bagaimana memahami bahwa anak-anak memiliki hak yang perlu dipenuhi baik oleh orang dewasa, orang tua atau pun lembaga-lembaga terkait. Wawasan ini menjadi bekal bagi saya untuk terlibat aktif memperhatikan perlindungan bagi anak dengan memperhatikan hak mereka. (SH) ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Peran LK3 Atas Kasus Kekerasan Seksual Di Lingkungan Masyarakat

pada hari Senin, 21 Maret 2022
oleh Huanius Jastino Tresavaldo Quiko
Oleh : Huanius Jastino Tresavaldo Quiko.          

 

 

 

Kali ini saya berkesempatan untuk mengikuti kegiatan yang dilaksanakan oleh Stube-HEMAT Bengkulu di desa Taba Gemantung, kecamatan Merigi Sakti, kabupaten Bengkulu Tengah (20/03/2022)Materi disampaikan penasihat LK3 Bengkulu Tengah, Alfredo Qoeiko. Saya mendapatkan wawasan baru berkaitan peran Lembaga Konsultasi Kesejahteraan Keluarga (LK3) pada kasus kekerasan seksual di masyarakat.

 

 

LK3 sendiri merupakan lembaga atau organisasi yang memberikan pelayanan konseling, konsultasi, pemberian dan penyebarluasan informasi, penjangkauan, perlindungan, pendampingan dan pemberdayaan keluarga secara profesional, termasuk merujuk sasaran ke lembaga pelayanan lain yang mampu memecahkan masalah yang diperlukanLembaga ini memiliki peran menangani masalah-masalah yang kerap ditemui di lingkungan masyarakat seperti masalah kekerasan seksual. Pada dasarnya fungsi atau tujuan dari lembaga ini adalah untuk menjamin kesejahteraan keluarga. LK3 sendiri berada di bawah naungan Kementerian Sosial yang berperan aktif dalam segala aspek yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

 

Dasar dari pemikiran pelaksana lembaga ini adalah adanya berbagai perubahan dalam masyarakat pasti menyebabkan permasalahan yang dihadapi oleh keluarga semakin kompleks, seperti kemiskinan, ketelantaran anak, kekerasan dalam rumah tangga, trafficking, penyalahgunaan narkoba. Pada kasus kekerasan seksual, LK3 berperan melakukan perlindungan sosial dan memberikan pendampingan sampai kasus diselesaikan secara pidana atau kekeluargaan. Apabila korban mendapatkan traumatik karena perlakuan yang dialaminya maka petugas LK3 akan mendampingi dengan dukungan moral ataupun dukungan lain tergantung kebutuhan. Karena pada dasarnya LK3 memiliki beberapa fokus yakni Ekonomi, Kesehatan, Pendidikan, Sosial, hingga Hukum seperti kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Dalam praktiknya apabila seseorang mengalami kasus (KDRT) atau kasus kekerasan seksual maka Pekerja Sosial (Pendamping) LK3 akan memberikan dukungan atau perlindungan kepada korban selama proses hukum berlangsung hingga selesai. Pekerja Sosial berasal dari warga desa berdasar keputusan yang dikeluarkan Dinas Sosialsehingga seorang Peksos memiliki perlindungan hukum. Minimal terdapat 5 orang Peksos di satu desa agar dapat menjangkau dan melayani lebih baik.

 

 

Peran LK3 sangat penting untuk mendukung kesejahteraan kelompok masyarakat. Sayangnya lembaga ini belum menyeluruh dimiliki tiap desa, termasuk Desa Taba Gemantung. Setelah pengenalan LK3 ini, akan terbentuk LK3 Taba Gemantung. Usaha berbagai pihak sangat dibutuhkan agar lembaga ini dapat terbentuk sehingga dengan adanya LK3, kesejahteraan masyarakat desa dapat lebih diperhatikan mengingat tindak kekerasan atau kasus-kasus lain bisa terjadi pada siapa saja.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Serba-Serbi Hak Anak Internasional

pada hari Minggu, 20 Maret 2022
oleh Yohanes Dian Alpasa

Oleh Yohanes Dian Alpasa.         

 

 

Diskusi kali ini membahas topik konvensi hak anak internasional dengan narasumber, Ariani Narwastujati, direktur eksekutif Stube HEMAT, lewat media zoom (19/03/2022) yang berlangsung dari jam 15.00 WIB s.d. 17:15 WIB. Diskusi dibuka oleh multiplikator Stube-HEMAT BengkuluYohanes Dian Alpasa, dilanjutkan Made Nopen Supriadi, dosen Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB), sekaligus relawan program ini sebagai moderator.

 

 

Di awal diskusi, Ariani memperkenalkan 42 hak anak yang ada dalam konvensi internasional 1990 yang selanjutnya diadopsi pemerintah Indonesia, tertuang dalam 10 hak anak  (UU No. 23 thn 2002)Pemahaman kategori anak menjadi percakapan pembuka diskusi,  yakni manusia terhitung dari pra-natal (masih dalam kandungan) hingga usia 18 tahun. Ternyata peserta mahasiswa ada yang masih berumur 17 tahun, sehingga masih bisa dikategorikan anak. Beberapa peserta diminta berbagi cerita pengalaman masa kecil mereka, apakah mengalami hal-hal menyenangkanmengecewakan, kepahitan, apakah asupan gizi makanan terjamin, punya hak bicara dalam keluarga, dan apakah bicara mereka didengarkan, dan lain-lain.

 

 

Jawaban peserta sangat beragam. Salah seorang peserta diskusi, menjawab bahwa ia pernah kecewa dalam masa kecilnya, karena ucapan dan perlakuan orang tuanyamengalami kekurangan, kebutuhannya tidak tercukupi pada waktu-waktu tertentu. Peserta lain menyampaikan bahwa dirinya merasa tercukupi oleh orang tuanya, bahagia, dan tidak kekurangan. Narasumber menyampaikan bahwa kekurangan bisa mencakup fasilitas, makanan, kesehatan, pendidikan, rekreasi dllBeberapa anak hidup dalam kelimpahan kasih sayang, fasilitas, juga makanan, tetapi di lain pihak masih banyak bahkan jutaan anak yang tidak bisa menikmati fasilitas dan kecukupan dasar hidupnya. Rumusan  hak-hak anak bukanlah suatu produk instan. Rumusan perlindungan anak internasional ini sudah digagas sejak 1979 dan ditetapkan 10 tahun kemudian, baru 2 tahun setelahnya, konvensi ini diratifikasi pada tanggal 20 November, yang selanjutnya diperingati sebagai hari anak internasional.

Pada bagian pertama narasumber memaparkan konvensi hak anak internasional mulai dari nomor 1 sampai nomor 20. “Dari sekian banyak hak anak internasional apakah semua sudah terpenuhi? Manakah yang belum terpenuhi?” tanya narasumber di sela jeda pemaparannya. Lita, salah seorang peserta menjawab bahwa nomor 15 yang berkaitan memberi kebebasan anak untuk bergabung dalam suatu kelompok aktivitas belum terpenuhi. Kadang orang tua terlalu kuatir dan mempertanyakan kelompok/komunitas yang akan diikuti itu baik atau tidak. Jawaban senada juga diungkapkan seorang peserta bernama Ponsius yang menyatakan bahwa orang tuanya tidak mengijinkan dia mengikuti kegiatan luar. Maka, narasumber menyatakan kepada para peserta bahwa konsekuensi menjadi orang tua adalah bisa menjamin anaknya mendapatkan hak-haknya.

 

 

Bagian selanjutnya nara sumber memaparkan hak-hak anak nomor 21 sampai dengan 42, seperti jaminan perlindungan saat mengungsi, tidak ada diskriminasi untuk anak-anak disabilitas, hak mengakses air bersih, makanan, dan lingkungan yang sehat. Ada kasus bahwa anak-anak kurang diperhatikan kecukupan gizi dan sering makan hanya nasi polos, tetapi ketika ada tamu datang maka dengan sekejap tersedia aneka makanan bergizi.  Apakah hanya orang kaya saja yang mampu memenuhi hak anak? Tidak, kelompok menengah ke bawah pun mampu untuk memenuhinya. Makanan sehat tidak harus mahal karena sayuran dan buah dapat ditanam sendiri, seperti di Bengkulu ini masih cukup areal tanah yang bisa dimanfaatkan. Memelihara ayam dan itik juga bukan hal sulit.

Made Nopen selaku moderator menanggapi paparan ini dengan mengakui bahwa dia pun belum bisa sepenuhnya memenuhi hak-hak tersebutDiskusi semakin menarik dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul, seperti bagaimana dengan pembatasan informasi yang dilakukan orang tua mencegah pengaruh negatif informasi dari internetfoto akun media sosial yang menggunakan gambar anak,  bagaimana hak-hak anak yang lahir di luar nikah bagaimana program pemerintah mengimplementasikan undang-undang perlindungan anak, serta komunitas anak internasional. Nara sumber menjawab dan mendiskusikan semua itu dengan para peserta sehingga menambah wawasan dan pemahaman atas materi yang diberikan.

Di akhir diskusi Made Nopen meminta nara sumber memberi closing statement dan menutup kegiatan dengan menyampaikan harapan bahwa hak-hak anak semakin bisa dipahami dan bagi orang dewasa yang sudah mengetahui hak-hak anak ini wajib menyebarluaskannya sehingga kualitas hidup anak-anak Indonesia semakin meningkat. 


  Bagikan artikel ini

Agama Dan Perlindungan Terhadap Perempuan Dan Anak Di Kota Bengkulu

pada hari Minggu, 27 Februari 2022
oleh Peemi Guswita Zaluchu

Oleh: Peemi Guswita Zaluchu

 

Mahasiswa Sem.VI Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

Saya Peemi Guswita Zaluchu, berikut adalah tulisan hasil kegiatan yang saya ikuti dari komunitas Stube–HEMAT Bengkulu di STTAB (Sabtu, 26/02/2022). Kegiatan dilaksanakan pukul 20.00 s.d. 21.30 WIB, dengan narasumber Dr (c). Samuel Purdaryanto, M.Pd.K., M.Th.

Perempuan dan anak kerap menjadi pusat perhatian karena sering mengalami kekerasan dari kaum laki-laki. Pemerintah Indonesia memiliki undang-undang yang dibuat untuk melindungi anak dan perempuan, juga untuk mengatasi banyaknya kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan ini. Bahkan setiap tahunnya bukan semakin berkurang, justru semakin bertambah, dan terjadi di mana-mana. Kasus yang sedang viral yaitu kasus Heri Wiran seorang ustad yang memperkosa santriwatinya sejumlah 12 orang di Bandung. Pesantren, tempat pendidikan agama yang mestinya menjadi tempat aman justru menjadi tempat terjadinya kekerasan. Kasus-kasus lain terjadi juga di banyak tempat keagamaan yang tersebar di Indonesia.

 

 

Bengkulu memiliki 10 kabupaten dan ada 1.054 kasus kekerasan terjadi pada kurun waktu 2019-2021 (sumber: Yayasan PUPA Bengkulu). Tahun 2020 ada 52 kasus menimpa perempuan dan anak-anak usia 0-12 tahun, 13-17 ada 64 kasus, usia 60 ke atas ada 6 kasus. Dari data yang ada bisa disimpulkan bahwa tingkat kekerasan paling tinggi terjadi pada anak-anak dan remaja dan hal ini kurang mendapat perhatian masyarakat. Ada 2 macam kasus kekerasan yang terjadi1) dalam keluarga, suami sering beranggapan bahwa istri dan anak adalah milik pribadi sehingga ia bebas melakukan apa saja2) dalam dunia pendidikan, kasusnya beragam dan korban rata-rata kelas 6 SD, 3 SMP dan tamat SMA. Awal tahun 2021, seorang wanita sedang hamil di Tanjung Anum, dibunuh suaminya karena tuduhan perselingkuhan istri. LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Konsumen) menyatakan bahwa pada Juni 2021, ada 18 kasus kekerasan dalam rumah tangga, terlebih di masa pandemi yang mempengaruhi keadaan ekonomi keluarga. Hilda Niwati, dari Dinas Sosial Bengkulu menyampaikan bahwa kekerasan seksual sampai November 2021 meningkat dan pelakunya adalah orang terdekat korban, seperti ayah, paman, kakek atau kerabat lain.

 

 

Sebagai penutup diskusi terkait lembaga agama dan perlindungan perempuan dan anak, nara sumber menyatakan bahwa agama di Indonesia sebenarnya untuk mencegah kekacauan namun realitanya, masih banyak lembaga keagamaan belum efektif memberikan perlindungan terhadap perempuan dan anak. Meskipun begitu pendidikan agama sangat penting, karena nilai-nilai kebaikan yang diajarkanseperti sikap saling mengasihi sesama manusia. Peserta diskusi yang merupakan calon-calon pemuka agama harus belajar dari berbagai kasus yang ada untuk mencegah terjadinya pelanggaran terhadap perlindungan perempuan dan anak. (PGZ)      


  Bagikan artikel ini

Diskusi Perlindungan Ibu & Anak di Bengkulu Tengah

pada hari Senin, 31 Januari 2022
oleh Reginiana DK

Oleh: Reginiana DK          

 

Kekerasan terhadap anak, perdagangan manusia dan kekerasan seksual kerap terjadi dmasyarakatBanyak faktor yang mendukung terjadinya kasus tersebut. Masalah ini dirasa baik untuk dibahas dan diketahui banyak pihak, maka Stube Bengkulu membahasnya dalam diskusi yang dilaksanakan di desa Taba Gemantung, kecamatan Merigi Sakti, Kabupaten Bengkulu Tengah (30/01/2022).

 

 

 

 

Diikuti 10 pemuda desa dengan narasumber Reginiana Dosvia Khalista S.Pd.K, volunteer program multiplikasi Stube-HEMAT Bengkulu yang berprofesi sebagi guru dan pembina pemuda. Diskusi mengungkap data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada tahun 2015 saja telah terdapat 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak, bahkan 58% diantaranya masuk kategori kasus kekerasan seksual terhadap anak yang berujung pada pembunuhan.

Mengapa kekerasan seksual bisa terjadi pada anak? Beberapa faktor yang mempengaruhi adalah: 1) Faktor pertama adalah peranan orang tua. Orang tua memiliki peran besar untuk pencegahan kasus tersebut dengan meningkatkan pengawasan serta memberikan pendidikan sekspelanggaran dan konsekuensinya. Sayangnya, hal ini kerap kali masih dipandang tabu bagi beberapa orang tua sehingga anak tidak memiliki pemahaman yang benar tentang seks. Oleh sebab itu, orang tua harus lebih aktif menjalin komunikasi terhadap anak terkait permasalahan tersebut. Anak akhirnya akan tahu bagaimana menggunakan gadget dengan bijaksana. 2) Faktor kedua adalah lingkungan dimana pergaulan dan tempat anak beradaMasyarakat sekitar juga harus memiliki karakter hidup yang sehat, karena anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan itu akibat dari meniru. Lingkungan yang tidak sehat seperti adanya pengaruh miras, narkotika, ataupun pornografi yang terjadi, maka lambat laun akan mempengaruhi. 3) Faktor ketiga adalah adanya pencetus. Korban dan pelaku biasanya anak yang pendiam dan tahunya tidak benar menolak ketika disentuh, dan karena takut maka sangat mudah menjadi korban. Sedangkan untuk pelaku, pencetusnya biasanya karena dorongan seksual yang tidak tersalurkan dengan wajar.

 

Dari penjelasan tersebut peserta menyatakan pemikirannya yaitu: 1) Pemuda desa Taba Gemantung harus memiliki pemahaman yang benar mengenai pelanggaran seksual dan membagikan informasi tersebut kepada masyarakat; 20) Pemuda desa Taba Gemantung harus menjadi teladan bagi masyarakat di desanya dengan gaya hidup yang benar; 3) Pemuda Desa Taba Gemantung akan menjadi pemerhati masyarakat untuk menghindari adanya kekerasan seksual, dan memberikan edukasi kepada anak muda di desanya untuk memiliki sikap berani menolak ketika akan dilecehkan.

Diskusi yang telah terlaksana diharapkan menjadi sumber informasi yang baik dan membantu para pemuda untuk mencegah terjadinya tindakan kekerasan seksual yang terjadi pada perempuan dan anak-anak di Provinsi Bengkulu pada umumnya.


  Bagikan artikel ini

Perlindungan Anak dan Perempuan di Humbang Hasundutan

pada hari Senin, 31 Januari 2022
oleh Yedija Manullang

Oleh: Yedija Manullang.          

 

Perlindungan terhadap anak dan perempuan merupakan tanggung jawab orang tua, keluarga, maupun masyarakat sekitarnya. Perlindungan yang diberikan pada anak merupakan jaminan agar anak dapat hidup, tumbuh, berkembang dan juga dapat bersosialisasi di lingkungan sekitarnya. Masih banyak kasus dan pelanggaran dengan korban anak dan perempuan, baik perdagangan, kekerasan, pelecehan seksual dan berbagai kasus pelanggaran lainnya. Lebih buruk lagi, banyak kasus dilakukan orang dekat korban bahkan anggota keluarga sendiri.

 

 

Oleh karena itu Multiplikasi Stube HEMAT Bengkulu melalui aktivisnya yang ada di Doloksanggul, Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara melakukan kunjungan ke Sopo Baca Haminjon di Desa Pandumaan, Humbahas untuk membicarakan pentingnya perlindungan anak dan perempuan di Humbahas, sekaligus menilik literasi anak-anak di desa tersebut (Minggu, 30/01/2021). Sopo artinya rumah kecil sementara itu Haminjon merupakan tanaman endemik tanah Batak yang berusia ratusan tahun dan turun temurun diwariskan kepada keluarga untuk dikelola untuk diambil getahnya dengan cara disadap menjadi bahan bakar karet.

 

 

Agustina Pandiangan, seorang aktivis perempuan dan anak sekaligus pendiri Sopo Baca Haminjonmenjelaskan bahwa percakapan atau diskusi mengenai perlindungan perempuan dan anak sangat penting dan urgen. Sopo didirikan untuk membuktikan bahwa anak-anak desa mampu membaca, peduli lingkungan dan merdeka belajar. “Diskusi menyoal perlindungan perempuan dan anak sangat penting mengingat dari tahun ke tahun kasus pelanggaran terhadap perempuan dan anak terus mengalami peningkatan. Apalagi diskusi  semacam ini belum banyak dilakukan di daerah-daerah,” ujar Agustina. “Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan terbilang sedikit dibandingkan daerah yang lain dan kita berharap agar tidak ada lagi di Humbang Hasundutan. Namun itu yang masuk dalam pemberitaan, bagiamana yang luput dari media ?” tanya Agus.

 

 

Oleh karena itu diskusi menyoal perlindungan perempuan dan anak menjadi sangat penting, sebagai proteksi dini agar kasus-kasus demikian tidak terjadi, serta menjadi edukasi bagi masyarakat secara khusus anak dan perempuan dalam mengantisipasi kekerasan terhadap diri mereka.

 

 

Di akhir pertemuan, dibagikan alat-alat tulis berupa buku tulis, pensil, pena, penghapus, rautan serta buku bacaan untuk menambah koleksi dan bacaan di Sopo Baca Haminjon. 


  Bagikan artikel ini

Kehidupan Perempuan dan Anak Suku Nias dan Mentawai (Memahami Problem Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Bengkulu)

pada hari Senin, 31 Januari 2022
oleh Arisman Laia
Oleh: Arisman Laia.          

 

Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu

 

Saya telah mengikuti Kegiatan Stube-HEMAT Bengkulu sejak Oktober 2021, banyak manfaat yang saya dapatkan terutama topik-topik sosial yang tidak kami pelajari di kampus. Bulan Januari ini bersama teman-teman Stube-HEMAT Bengkulu di Kampus STTAB membuat diskusi dengan Tema Perlindungan Perempuan & Anak di Bengkulu. Dengan sub tema: Perspektif Kehidupan Perempuan dan Anak Suku Nias dan Mentawai Sebagai Upaya Memahami Problem Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak di Bengkulu (31/1/2022).

 

 

Pertemuan Stube HEMAT Bengkulu di STTAB menerapkan model dialog. Diskusi dimulai dengan mendengarkan  paparan salah seorang teman Nias tentang kehidupan perempuan dan anak. Salah satunya Elboy Gulo yang mengatakan,Perempuan di Nias sangat dijaga dalam keluarga. Saat seorang perempuan beranjak dewasa dan akan menikah, maka ada ”jujuran” (mas kawin) yang wajib diberikan pihak laki-laki. Semakin berpendidikan seorang perempuan, maka nilai jujurannya semakin tinggi. Perempuan Nias zaman dulu dilarang sekolah, juga karena faktor orang tua tidak mampu membiayai. Jujuran yang tinggi memberikan dampak, banyak perempuan Nias sulit mendapat seorang suami. Banyak kasus ketika sudah menikah lebih fokus melunasi jujuran, akibatnya anak-anak kurang perhatian dan kesulitan ekonomi yang mengakibatkan hambatan untuk menempuh pendidikan tinggiNamun, saat ini perempuan sudah mendapat posisi yang hampir sama dengan laki-laki.”

 

 

Selanjutnya Ajupendi Sakerebau dari Mentawai menjelaskan,”Perempuan di suku Mentawai sangat dihargai. Dahulu perempuan tidak dibebaskan berpendidikan, karena perempuan hanya fokus pada keluarga. Saat ini perempuan sudah diberi kesempatan mendapatkan pendidikan. Perempuan suku ini tidak mendapat warisan dari orangtua, karena ketika menikah mendapat warisan dari suami. Ketika akan menikah pihak laki-laki terlebih dahulu bertanya kepada paman dari pihak perempuan, sementara orang tua tidak membebankan mas kawin yang tinggi. Perempuan diijinkan menempuh pendidikan, namun orang tua menekankan harus tinggal di asrama, dan tidak dibebaskan kos. Anak-anak perlu dijaga karena mereka harta istimewa keluarga. Anak-anak perlu disekolahkan. Namun saat ini masih ada orang tua yang tidak mendukung.”

Kristin Oktaviani, seorang pembina anak asrama di salah satu panti asuhan di Bengkulu, menceritakan pengalamannya, ”Ada anak kelas 3 SD yang mendapatkan perlakukan asusila dari tetangganya, karena orang tuanya sering meninggalkan sendiri di rumah karena kerja. Ketika orang tua melapor kpihak kepolisan, pelaku memutarbalikkan fakta dan hal ini membuat anak itu sangat trauma. Juga ada kasus anak-anak dimanfaatkan menjadi perantara perdagangan narkoba.”

Data terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak disampaikan Linistiasi Gea. Ia membeberkan, ”Di Bengkulu tahun 2016 terjadi kasus kekerasan dan pemerkosaan serta pembunuhan terhadap remaja perempuan bernama Yuyun oleh 14 laki-laki. Selanjutnya 7 November 2017 di Desa Kota Lekat, Kec. Ulu Palik, Bengkulu Utara, seorang gadis remaja usia 14 tahun diperkosa 20 orang pria. Dan data terakhir 16 November 2021 terjadi kasus pemerkosaan terhadap 4 orang remaja putri oleh 7 pria yang salah satu pelakunya berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN).”

Dari tiga paparan tersebut, diskusi dimulai untuk mengintegrasikan konteks pemikiran budaya Nias, Mentawai dan kasus di Bengkulu untuk menemukan solusi atau ide-ide positif. Peemi Guswita Zalukhu menyatakan,Nilai positif suku Nias dan Mentawai adalah menghargai perempuan dan bertanggung jawab terhadap anak-anak, maka hendaknya memberikan edukasi bagi rekan-rekan di Bengkulu untuk bersikap positif menghargai perempuan dan melindungi anak-anak.”

Sementara Aprima Heppy Halawa menyatakan, ”Sama seperti budaya di Nias dan Mentawai yang telah terbuka memberikan kesempatan perempuan dan anak-anak untuk sekolah, maka hendaknya terus mendorong kehidupan perempuan dan anak-anak serta orang tua untuk memajukan pendidikan bagi perempuan dan anak-anak agar memiliki wawasan dan hikmat dalam menjaga kehidupan.”

Terakhir saya sendiri menyampaikan bahwa: ”perlunya memperlengkapi diri dengan pengetahuan tentang hukum perlindungan perempuan dan anak, sehingga jika para mahasiswa teologi melihat kasus kekerasan dapat melakukan tindakan dengan bijaksana yaitu melaporkan ke pihak yang berwajib.”

Pertemuan Stube HEMAT Bengkulu ditutup oleh Made Nopen Supriadi, dosen STTAB, dengan kesimpulan bahwa mahasiswa teologi perlu menunjukkan kepekaan terhadap para perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan dengan siap sedia menjadi konselor bagi merekaberani bertindak melapor ke pihak yang berwajib jika mengetahui kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Made juga mengajak agar mengintegrasikan pengetahuan budaya baik Nias dan Mentawai yang menghargai perempuan dan melindungi anak-anak juga dilakukan di Bengkulu. Ia juga menekankan agar mahasiswa teologi memberi teladan kehidupan yang bermoral dan bermartabattidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk sesama manusia secara khusus perlindungan perempuan dan anak. ***


  Bagikan artikel ini

Arsip Blog

 2023 (11)
 2022 (20)
 2021 (21)
 2020 (19)
 2019 (8)
 2018 (9)
 2017 (17)

Total: 105