Mengunjungi Masjid Doloksanggul

pada hari Jumat, 21 Agustus 2020
oleh Yedija Manullang

Isu-isu kondusif penting dibangun bagi masyarakat. Peringatan 75 tahun kemerdekaan Republik Indonesia menjadi momentum untuk menggalakkan isu positif di tengah kemajemukan dan ke-Bhinneka-an Indonesia. Suatu ironi ketika peringatan 75 tahun kemerdekaan ini, masih ada kabar tokoh agama di Solo dipersekusi oleh sekelompok orang(https://www.google.com/amp/s/jateng.tribunnews.com/amp/2020/08/11/cerita-saat-habib-umar-assegaf-dipukuli-diinjak-kepalanya-oleh-ormas-disolo). Kasus intoleransi ini bukan yang pertama kali. Sederet kasus yang pernah terjadi menambah buram ke-Bhinneka-an.

Momentum Peringatan hari jadi Bangsa Indonesia menarik direfleksikan bersama. Usia 75 tahun bagi manusia, merupakan kategori tua. Sewajarnya bila tiba waktunya menikmati hasil kerja keras dan perjuangan di masa muda. Namun negara ini masih berjuang dengan berbagai hal, salah satunya kasus intoleransi. Republik Indonesia memang lahir pada tahun 1945, tetapi bangsa ini telah ada ribuan tahun. Kearifan lokal warisan leluhur terpatri dalam setiap gugusan kepulauannya. Perbedaan tidak menjadi persoalan bahkan sejarah mencatat kemerdekaan Indonesia adalah hasil persatuan di tengah perbedaaan!

Sebagai usaha terus merajut komunikasi, delapan pemuda Doloksanggul, Humbang Hasundutan, Sumatera Utara mengikuti program follow-up program multiplikasi Stube-HEMAT di Bengkulu untuk mengunjungi masjid Doloksanggul. Peserta terlihat cukup antusias mengikuti kegiatan. Ramli Nababan, seorang pengurus Masjid dan sekaligus wakil ketua bidang prasarana dan pembangunan, menyambut peserta dengan hangat serta menemani para pemuda mengelilingi masjid pada hari itu (Kamis, 20/8/2020).

Ramli menilai hubungan antar umat beragama di Doloksanggul terjaga dengan baik. Mayoritas warga sekitar masjid adalah kristiani. “Silahturahmi antar umat beragama di lingkungan masjid ini sangat kita jaga, misalkan dalam perayaan Idul Adha yang baru saja diperingati bulan lalu, kami tidak membiarkan para tetangga masjid ini hanya mencium bau daging kurban saja, tetapi semua kami bagi merata,” ujar Ramli. Ramli menuturkan bahwa dia baru sekitar 10 tahun terakhir kembali ke Doloksanggul, setelah 30 tahun merantau bersama keluarga. Lahan masjid sekitar 10.000 m2 berasal dari wakaf kakek dan neneknya. Akhirnya Ramli terpanggil mengurus masjid tersebut. Ramli menilai bahwa di masa lampau orang-orang berhubungan erat walaupun berbeda iman, dan momentum perayaan hari besar menjadi ajang mereka mempererat silaturahmi.

“Dulu waktu saya muda dan berada di Doloksanggul, momen malam pergantian tahun baru selalu saya manfaatkan untuk mengunjungi tetangga yang beragama Kristen. Bagi orang Batak Kristen, tradisi tahunan tersebut selalu diawali dengan berdoa dengan tata ibadah gereja masing-masing dan acara “Mandok Hata”, sebuah acara saling memaafkan ala suku Batak. Tidak masalah bagi saya mengikutinya, malahan saya dihargai dan dihormati di sana,” ujar Ramli. “Namun tradisi tersebut sudah mulai hilang pada masa ini,” lanjut Ramli.

Yedija Manullang salah seorang peserta menanggapi pernyataan tersebut serta bertanya kepada Ramli terkait tradisi silahturami yang sudah mulai hilang tadi. “Sewaktu kecil saya orang yang paling rajin untuk mengetuk pintu para tetanga dengan membawa piring berisi kue tahun baru, namun seiring berjalannya waktu, tradisi itu seolah hilang.  Rindu rasanya mengulang waktu-waktu itu. Menurut Pak Ramli kira-kira apa yang membuat tradisi yang sangat baik dalam membangun silahturahmi ini kemudian berangsur menghilang?” ujar Yedija seraya bertanya kepada Ramli.

“Perkembangan teknologi menumbuhkan individualisme dan rasanya sangat sulit untuk mengembalikan masa-masa indah itu. Pemudalah yang perlu berperan membangun silahturahmi supaya tetap terbangun di masa sekarang dan mendatang,” jelas Ramli.

Sambil berjalan berkeliling, Ramli menunjukkan tempat wudhu, batas suci, aula, tempat sholat, arah kiblat serta tempat mengumandangkan adzan. Salah seorang peserta bertanya mengenai kondisi dan hubungan masjid dengan dua gereja yang berdiri di dekatnya. “Bagaimana Pak, komunikasi antara dua gereja yang berdekatan dengan masjid ini, misalkan pada hari Minggu gereja melaksanakan ibadah hingga lewat jam 12 siang padahal tepat pada jam tersebut adzan harus berkumandang untuk memanggil orang Muslim  melaksanakan Sholat,” ujarnya. “Komunikasi kami baik dan tidak merasa terganggu satu akan yang lain berhubung juga suara adzan yang hanya sebentar dan tidak mengganggu jalannya peribadatan di gereja. Itulah perbedaan, apakah kita harus ribut karena hal tersebut? Toh juga sama-sama menjalankan kewajiban dan panggilan iman kita masing-masing. Justru hal itu yang memperindah perbedaan tersebut,” ujar Ramli.

Lebih dari 45 menit berlalu, jam menunjukkan hampir pukul 12 siang, waktu  Ramli dan umat muslim lainnya akan melaksanakan sholat. Para peserta kunjungan mengakhiri percakapan dan undur diri. Laura salah seorang peserta kegiatan merasa beruntung karena belajar hal baru. Dia menyatakan bahwa perbedaan itu ternyata indah dan ini pertama kalinya Laura berkunjung ke masjid, serta berharap dapat berkunjung bersama Stube-HEMAT ke tempat peribadatan lainnya, seperti gereja Katholik di Doloksanggul.***


  Bagikan artikel ini

Arsip Blog

 2023 (11)
 2022 (20)
 2021 (21)
 2020 (19)
 2019 (8)
 2018 (9)
 2017 (17)

Total: 105