Merawat Toleransi Bersama Stube-HEMAT Bengkulu

pada hari Senin, 24 Agustus 2020
oleh Marta Sihotang

Sabtu, 22 Agustus 2020, program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu menyelenggarakan diskusi sehari dalam dua sesi menghadirkan narasumber Pemuda Katholik, Hendra P. Luat Sihombing di sesi pertama dan Arnold Hok, seorang aktivis Angkatan Muda Vihara Budhayana Bengkulu. Diskusi berlangsung dengan menarik di Hotel Adeeva, Pantai Panjang, Kota Bengkulu. Setiap peserta diminta menulis pengalamannya mengikuti setiap program Stube HEMAT. Catatan berikut ini ditulis oleh Marta Sihotang peserta program multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu, usai mengikuti rangkaian program diskusi tersebut. 

 

Kebhinekaan atau keberagaman merupakan hal sensitif dalam kerukunan bangsa. Sikap toleransi dibutuhkan dalam menjaga benteng kerukunan. Toleransi memerlukan sarana edukasi dan pembinaan kepribadian bangsa Indonesia harus konsisten ditanamkan. Pribadi yang toleran pada generasi muda menjadi salah satu jaminan untuk persatuan negeri dan bangsanya. Saya mengapresiasi kegiatan yang diadakan program multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu karena ini menjadi sarana edukasi bagi kaum muda dan masyarakat. Kegiatan ini menarik terlebih mengangkat tema “Multikultural dan Dialog Lintas Iman”. Di Indonesia, konflik agama masih sering terjadi, sehingga diskusi ini memberi kesempatan bagi peserta untuk lebih mengenal bagaimana keadaan atau kebiasaan dari agama yang berbeda.

 

 

Diskusi ini dimulai bersama Pemuda Katolik, Hendra Luat Sihombing dan Rikkot Malau. Diskusi dan percakapan yang terjadi sungguh luar biasa karena menambah pengalaman peserta terkhusus peserta yang bukan beragama Katolik. Jumlah masyarakat yang beragama Katolik Provinsi Bengkulu berkisar 12.000 jiwa dan gereja Katolik menilai bahwa masyarakat Bengkulu merupakan orang-orang yang cukup toleran. Bukan hanya masyarakat tetapi juga pemerintah setempat yang cukup memberi perhatian terhadap gereja dan umat. 

 

Pada sesi kedua disampaikan bahwa umat Buddha juga merasakan perhatian dan sikap toleran dari masyarakat juga pemerintah di Bengkulu. Hal yang menarik adalah kunjungan ke Vihara yang menjadi pengalaman baru dan pertama bagi peserta. Ketika peserta diajak memasuki ruang ibadah agama Buddha (Vihara Buddahaya), kesan pertama adalah ruangannya sangat rapi. Seorang aktivis muda Buddhayana, Arnold Hok, menyampaikan banyak hal tentang agama Buddha serta perkembangannya di kota Bengkulu. Bagi saya, salah satu ajaran yang menarik dari agama Buddha adalah ‘Sabbe Satta Bhavantu Sukhitata’ yang artinya Semoga Semua Mahkluk Bahagia, sebuah harapan kebaikan untuk seluruh ciptaan Tuhan.

Kegiatan ini perlu dilakukan berkala guna menambah wawasan dan memupuk sikap toleransi bagi pemuda pemudi di Bengkulu, sebuah usaha untuk merawat toleransi yang sama sekali tidak bisa diabaikan. Terima kasih Stube HEMAT. ***


  Bagikan artikel ini

Arsip Blog

 2023 (11)
 2022 (20)
 2021 (21)
 2020 (19)
 2019 (8)
 2018 (9)
 2017 (17)

Total: 105