Peduli Lingkungan, Waspada Global Warming

pada hari Senin, 4 April 2022
oleh Peemi Guswita Zaluchu

Oleh: Peemi Guswita Zaluchu    

 

Mahasiswa  Semester VI, Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu         

 

 

Kegiatan Stube HEMAT Bengkulu bertema “Iklim dan Lingkungan” dengan sub tema, “iklim dan dampaknya bagi lingkungan Bengkulu” dilaksanakan di Aula Akademik STTAB dengan narasumber Andreas Wahyu Permadi, S.Tr., MP (Sabtu 02/04/2022). Ada beberapa catatan dalam kegiatan ini, yaitu.

 

 

Peserta memahami tentang cuaca yang merupakan keadaan fisik atmosfer yang dapat berubah dalam jangka waktu pendek, sementara iklim adalah keadaan cuaca rata-rata dalam suatu daerah dengan kurun waktu panjang. Sebagai contoh, hari ini Bengkulu sangat cerah sedangkan kemarin turun hujan (cuaca), contoh iklim “pada tahun ini kemarau cukup panjang”. Perubahan iklim merupakan perubahan kondisi fisik atmosfer antara lain perubahan suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas bagi kehidupan manusia seperti kemarau yang berkepanjangan, hujan yang tak henti-henti, longsor dan lain sebagainya. Suka atau tidak perubahan iklim pasti akan terjadi. Dampak dari perubahan iklim yaitu, para petani gagal panen, kebakaran hutan, curah hujan yang lebat mengakibatkan banjir, dan dampaknya pada kesehatan seperti infeksi saluran pernapasan dsb. Hal ini juga terlihat di Bengkulu saat ini, seperti petani gagal panen, naiknya suhu udara di daerah Kepahiang yang terkenal paling sejuk di Bengkulu, atau fenomena hujan es di Bengkulu Utara.

 

 

Tindakan apa yang harus dilakukan sebagai upaya mengurangi dampak negatif ketika bencana datang? Kemampuan adaptasi diperlukan untuk mengurangi dampak negatif, juga pemanfaatan informasi iklim dan cuaca sebagai usaha-usaha optimalisasi pengurangan resiko bencana, meningkatkan ketahanan tubuh dengan olah raga, makan makanan sehat, membangun infrastruktur dengan menyesuaikan resiko dampak perubahan iklim, atau memperbaiki pengelolaaan air. Usaha mitigasi merupakan upaya-upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari bencana dan hal ini dapat dikelola, sehingga apabila bencana terjadi maka sudah siap. Usaha mitigasi bisa berupa menanam pohon, hemat air, hemat energi, menggunakan sumber energi ramah lingkungan, mengelola sampah, dan penanaman di halaman rumah.

 

 

Setelah pemateri menyampaikan pembahasan, ada pertanyaan dari dosen pendamping,  Made Nopen yang menyoal mengapa Bengkulu kota kekurangan angin sedangkan di kampung tidak demikian. Narasumber menjawab bahwa kurangnya angin sejuk di kota Bengkulu karena beberapa faktor seperti sedikitnya jumlah pohon dibandingkan rumah, dekat pesisir pantai karena panas yang dihasilkan akan terpantul, hingga di permukaan laut, sehingga suhunya jauh lebih tingi atau panas. Hal penting yang harus dilakukan adalah mengurangi mobil pribadi, dan meminimalisir polusi, walau dipandang remeh namun membawa dampak baik bagi semuanya.

 

 

Pada akhir penyampaian materi, narasumber memberi penegasan bahwa perubahan iklim tidak dapat dihindari namun bisa diminimalisir dampak negatifnya. Sebenarnya dunia tidak kekurangan orang-orang pintar, tetapi kekurangan orang-orang yang peduli lingkungan. Jadi bagi yang telah mengetahui bahaya dampak perubahan iklim, mari jaga lingkungan dan alam agar tetap bersih dan seimbang dengan membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan kembali barang daur ulang, menanam pohon di pekarangan rumah dan tetap peduli lingkungan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Arsip Blog

 2023 (11)
 2022 (20)
 2021 (21)
 2020 (19)
 2019 (8)
 2018 (9)
 2017 (17)

Total: 105