Subur, Mandiri, Saingi Urea!

pada hari Sabtu, 25 November 2023
oleh Multiplikasi Stube HEMAT Bengkulu

    

 

Peserta Stube-HEMAT telah dilatih membuat pupuk sendiri dengan berbagai bahan yang mudah didapat di alam sekitar dengan tujuan menekan biaya produksi. Karena Indonesia kaya akan bahan-bahan alam, maka pembuatan pupuk sangat mungkin dilakukan dengan biaya murah. Hasilnya bisa macam-macam pupuk, bergantung pada bahan dasarnya dan metode produksinya juga berbeda-beda. Beberapa alumni sudah cakap melakukan fermentasi, ada yang mengolah bahan dengan cara dan alat sederhana. Namun secara prinsip, kami ingin merawat kesuburan, menjadi kemandirian, dan bersaing dengan dominasi pupuk buatan pabrik yang semakin sulit dan semakin mahal saat ini.

Kesuburan harus dirawat dan kesuburan tanah dipengaruhi oleh petaninya. Suku-suku asli Bengkulu masih melakukan ladang berpindah dan tidak menjadi masalah. Mereka berpindah-pindah mencari lahan yang subur. Awalnya mereka harus menebang pohon, namun kadangkala pohon yang ditebang masuk kawasan hutan lindung. Setelah ditebangi, lahan ini ditanami kopi dan jenis biji-bijian yang lain. Ketika kopi sudah tinggi dan tidak menghasilkan banyak buah, maka pemilik lahan akan mencari hutan baru untuk ditebang. Sementara itu kebun kopi tadi menjadi semak belukar dan perlahan menjadi hutan kembali. Kesuburan adalah kehidupan, oleh karenanya harus dijaga sebaik-baiknya demi kebaikan anak-cucu.

Sekali lagi, kesuburan tanah dipengaruhi petaninya. Mayoritas pertanian kita saat ini, dan yang terjadi di Bengkulu, adalah pertanian sedenter. Orang tidak lagi mudah berpindah-pindah lahan, sehingga mau-tidak mau di situlah orang harus bercocok-tanam. Demi menjaga produksi, petani-petani terpesona melihat tawaran produk benih dan pupuk korporasi. Tidak lupa pestisida, insektisida, dan fungisida diperkenalkan. Tawaran itu menggiurkan karena menawarkan produksi yang lebih cepat, lebih banyak, dan mampu mematikan hewan-hewan yang dianggap hama. Efek sampingnya adalah kandungan bahan-bahan pupuk tadi menurunkan kualitas tanah (bukan memperbaikinya), petani tidak bisa menghasilkan benih lagi, serta hama yang resisten terhadap racun dari hari ke hari.

 

 

Menyikapi fenomena ini, Multiplikator Stube-HEMAT Bengkulu menyatakan berhenti menggunakan pupuk kimia, mulai menggunakan bahan-bahan lokal sebagai pupuk, dan aktif mencari benih-benih, biji, batang, dan umbi-umbian yang cocok untuk  tanah Bengkulu. Bagaimanapun juga ketergantungan harus diakhiri dan kemandirian benih dan pupuk harus segera dimulai. Komitmen itu dimulai dengan membuat pupuk kompos sendiri, tidak menggunakan pestisida, serta mulai menanam benih-benih yang dianggap “benih lokal”. Salah satu upaya untuk membuat pupuk sendiri yakni dengan pengadaan kambing bagi Stube-HEMAT Bengkulu. Stube-HEMAT Bengkulu pada bulan November 2023 mengusahakan dua ekor kambing dengan target dalam satu bulan mampu menghasilkan satu karung pupuk kandang (srinthil) senilai Rp. 30.000,-. Dengan keuntungan mendapatkan pupuk kandang dan peliharaan ternak kambing, maka kebutuhan pupuk pabrikan bisa dikurangi, bahkan mampu menghasilkan pupuk sendiri. ***

 


  Bagikan artikel ini

Kobarkan Semangat Moderasi Di Bengkulu

pada hari Sabtu, 18 November 2023
oleh Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu.

      

 

Moderasi menjadi program pemerintah dan menjadi program prioritas saat ini. Semangat untuk saling memahami dan mengerti senantiasa harus dipupuk. Keberadaan semangat itu juga perlu untuk disuburkan. Kadangkala semangat moderasi perlu untuk diunggah kembali ketika terjadi perselisihan yang berlatar religi. Stube-HEMAT Bengkulu menggelar diskusi bertajuk “Mengingat Semangat Moderasi”. Diskusi ini ditujukan untuk “menjaga api” diskusi dan menunjukkan geliat aktivitas Stube-HEMAT Bengkulu.

 

 

Diskusi kecil ini digelar di STTAB pada 17 November 2023. Iman Kristina Halawa memimpin diskusi dengan membagikan materi tentang moderasi dalam tubuh gereja-gereja injili. Ada saja orang-orang percaya yang meyakini dirinya paling benar, merasa benar, ataupun lebih benar dari yang lain. Namun, kita bersyukur, warga gereja yang menerima perbedaan semakin banyak. Gereja-gereja tidak lagi hanya membenarkan diri dan menyalahkan keyakinan orang lain. Sekarang gereja semakin mampu percaya kepada Kristus tanpa harus memandang orang yang berbeda agama sebagai orang yang salah.

Pemahaman seperti ini terkesan sederhana, namun kadangkala terlupakan akibat banyaknya gagasan yang beredar dan kita renungkan setiap harinya. Kali ini peserta Stube-HEMAT diajak untuk mengingat kembali semangat untuk saling menerima satu sama lain, bergaul dengan menjunjung tinggi kesetaraan, dan perasaan saling menghormati.

Pada kesempatan kali ini, peserta juga berkesempatan untuk menunjukkan pendapatnya. Menurut pendapat Tommy Helfiger Sakoikoi, moderasi beragama yaitu cara pandang, sikap dan perilaku seseorang yang harus dipraktekkan dalam kehidupannya sehari-hari sesuai dengan kepercayaannya. Sebagai contoh moderasi beragama dalam indikator toleransi, kita bisa melihat bagaimana masyarakat Indonesia menjalani kehidupan sehari-hari dengan saling menghargai dan menghormati perayaan agama yang berbeda. Mengapa harus ada Moderasi beragama? Ada tiga alasan pentingnya memahami moderasi beragama. Pertama, sering muncul konflik sosial bernuansa agama. Kedua, adanya potensi yang mengakibatkan pembelahan sosial. Ketiga, adanya potensi yang mengakibatkan tindak kekerasan dan korban. Alasan ketiga inilah yang pernah Tommy rasakan, dimana pada saat melakukan perayaan hari besar kami (Natal), dibubarkan oleh ketua RT dan akhirnya merayakan Natal di rumah masing-masing.

Ponzi menambahkan, seorang teolog harus memiliki kesadaran yang kuat mengenai moderasi beragama, karena moderasi ini adalah salah satu tolok ukur yang harus diciptakan oleh orang Kristen supaya etika pola hidup terlihat jelas  sebagai pengikut Kristus yang sejati. Di Indonesia ada berbagai macam suku, agama dan budaya, sehingga untuk mempersatukan ini dengan baik perlu menciptakan moderasi yang baik dan benar dengan tujuan hidup damai dan rukun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menurut Ponzi, kendala dalam menciptakan moderasi beragama adalah tidak menerima ajaran yang satu dengan yang lain. Mereka menganggap diri paling benar, sedangkan ajaran yang lain tidak. Perspektif ini tidak baik untuk dikembangkan karena dampaknya dirasakan Masyarakat. Seorang teolog berperan di dalamnya dan menjadi teladan menciptakan kedamaian dalam berbangsa dan bernegara.

Moderasi diciptakan melalui komunikasi, sosialisasi, dan kerja sama antara satu dengan yang lain. Salah satu dasar yang harus diciptakan dalam moderasi adalah tempat pendidikan anak, supaya melalui lembaga pendidikan dapat diciptakan suasana yang baik. Jadi, yang menjadi dasarnya adalah sosialisasi dan komunikasi yang baik untuk menciptakan keharmonisan.

Diskusi ini membekali peserta untuk semakin dimampukan untuk menghargai perbedaan. Hal ini penting, karena peserta program multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu ini akan menjadi pemimpin umat dan memberikan pengajaran luhur dimanapun nanti akan melayani Kristus. ***


  Bagikan artikel ini

Yuk, Wisata ke Bengkulu Tengah

pada hari Selasa, 4 Juli 2023
oleh Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu

        

 

Kabupaten Bengkulu Tengah merupakan kabupaten termuda yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2008 dan merupakan pemekaran dari Kabupaten Bengkulu Utara. Wilayah Bengkulu Tengah terdiri dari dataran rendah, perbukitan, serta pesisir pantai yang menjadikan Bengkulu Tengah memiliki wisata alam yang beragam, ada yang pegunungan, pantai, sungai, dan air terjun. Keindahan ini memberikan ide bagi para peserta Stube Hemat di Bengkulu Tengah untuk bisa mengajak orang-orang berkunjung ke Bengkulu Tengah dan menikmati keindahan alamnya. Oleh sebab itu kegiatan yang dilakukan pada bulan Juli 2023 ini mengambil tema wisata Bengkulu Tengah yang diselenggarakan di tempat wisata Kampung Durian, Taba Penanjung, Bengkulu Tengah. Masing-masing peserta yang berjumlah 10 orang menceritakan pengalaman berkunjung ke tempat wisata di Bengkulu Tengah. Berikut adalah tempat wisata di Bengkulu Tengah yang pernah kami kunjungi dilengkapi foto dokumentasi yang kami miliki sendiri.

 

 

1.   Air terjun Datar Lebar

Terletak di desa Datar Lebar, Taba Penanjung, Bengkulu Tengah, tempat wisata ini menyajikan keindahan air terjun yang seakan terbelah dua belah batu besar. Airnya cukup deras dengan pemandangan alam yang asri nan sejuk. Menuju lokasi ini pengunjung harus menitipkan kendaraannya di area parkir wisata kemudian berjalan kaki dengan suguhan hutan lebat di kanan kiri yang menyejukkan. Sangat cocok untuk para pecinta alam yang senang berpetualang.

 

 

 

2.   Air terjun  Curug Pesuk

Berada di desa Penembang, kecamatan Meriaiair terjun ini tidak terlalu tinggi, airnya jernih, dan terlihat bertingkat dengan tempat pemandian yang cukup luas sehingga cocok untuk berlibur bersama keluarga dan anak anak.

 

 

 

3.   Bukit Kandis

Terletak di desa Durian Demang, kecamatan Karang Tinggi, kabupaten Bengkulu Tengah, tempat wisata ini sangat dikagumi para pemanjat tebing. Bukit Kandis ini sebenarnya adalah lokasi penambangan yang ditinggalkan. Disebut bukit Kandis karena di area ini terdapat banyak pohon asam kandis. Ketika para pendaki/pemanjat tebing berada di puncak, maka akan disuguhkan pemandangan mengarah ke pantai kota Bengkulu dan gunung Bungkuk yang ada di Bengkulu Tengah. Karena keindahannya, bukit Kandis dinobatkan sebagai objek wisata terpopuler, menempati posisi ke-3 untuk kategori wisata olah raga dan petualangan Indonesia dalam ajang penghargaan tahunan Anugerah Pesona Indonesia (API), yang diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata RI.

 

 

 

4.   Kampung Durian

Kampung Durian, tempat kami melakukan kegiatan (02/07/2023), terletak di Taba Penanjung, Bengkulu Tengah. Wisata ini populer belakangan ini dengan sajian keindahan pemandangan perbukitan, sungai dan kolam renang luas untuk semua kalangan. Para pengunjung yang hendak menginap tersedia villa dan satu coffee shop. Karena tempatnya indah dan nyaman, maka diminati wisatawan dengan membawa keluarga dari berbagai generasi. Jika tidak mau berenang di kolam, maka bisa juga berenang di sungai. Petugas keamanan cukup memadai jumlahnya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pengunjung.

 

Promosi potensi daerah perlu dilakukan untuk meningkatkan arus wisatawan ke Bengkulu Tengah yang berarti peningkatan pendapatan daerah untuk pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Mari cintai daerah sendiri. ***  

 


  Bagikan artikel ini

Kreatif, Inovatif Dan Bermanfaat Melalui Kewirausahaan Sosial

pada hari Selasa, 13 Juni 2023
oleh Multiplikasi Stube HEMAT Di Bengkulu

          

 

Kewirausahaan sosial, istilah yang belum banyak dipahami publik, menjadi topik menarik untuk didiskusikan, maka komunitas Stube-HEMAT di Bengkulu menggelar acara diskusi dan sharing dengan tema tersebut (Senin, 12/06/2023), Start Social Entrepreneurship dengan Sub Tema: Membangun wirausaha dengan membaca peluang untuk menciptakan inovasi kreatif yang berdampak positif bagi masyakarat. Bersama Yosafat Gratia Prasetyo, diskusi diikuti mahasiswa dari Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB).

 

 

Kegiatan bertujuan agar mahasiswa menjadi pelopor dalam menciptakan dan memulai usaha kreatif dan berinovasi serta berdampak positif di lingkungan sekitarnya. Social Entreprenur memiliki definisi seseorang yang dapat memanfaatkan ide, inovasi dari berbagai macam permasalahan yang dihadapi dalam bisnis sebagai peluang untuk menciptakan usaha baru yang bermanfaat dalam rangka pemberdayaan masyarakat. Tujuan utama social entrepreneur bukan memperoleh keuntungan ataupun kepuasan pelanggan, namun lebih mengarah pada hasil yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat. Seperti yang diungkapkan Ashoka Foundation, ‘Tidak seperti para entrepreneur bisnis tradisional, para social entrepreneur terutama berusaha menghasilkan “nilai sosial” daripada keuntungan. Dan tidak seperti kebanyakan organisasi nirlaba, pekerjaan mereka tidak hanya ditargetkan untuk dampak langsung yang berskala kecil, tetapi juga untuk perubahan atau dampak jangka panjang’.

Jika mengarah pada definisi social entrepreneur di atas, ada beberapa aspek yang membuat seseorang atau sebuah wirausaha tersebut masuk ke dalam kategori dan disebut sebagai social entrepreneur yang mencakup; tujuan usaha (solusi dari isu sosial) dan pengelolaan hasil usaha (diberikan untuk kegiatan sosial).

 

 

Di lingkungan STTAB telah dilakukan kegiatan pengelolaan sampah, dengan mengolah sampah basah menjadi kompos dan untuk sampah kering didaur ulang. Untuk cakupan yang lebih besar adalah masalah sampah di kota Bengkulu, karena tidak adanya tempat pembuangan sampah sementara yang disediakan oleh pemerintah dan harus langsung ke TPA, dengan jarak cukup jauh dari kota Bengkulu. Dampaknya masyarakat membuang sampah sembarangan, meskipun ada warga yang berinisiatif mengumpulkan sampah warga dengan tarif minimal Rp. 30.000/keluarga. Bagi yang perekonomian cukup, maka hal itu tidak menjadi malasah, bagi yang perekonomian rendah, itu menjadi masalah besar, maka akhirnya terjadilah pembuangan sampah sembarangan di berbagai tempat, khususnya sering ditemukan tumpukan sampah rumah tangga di pinggir jalan, dan sangat mengganggu kenyamanan warga.

Permasalahan sosial yang berkaitan sampah ini sebenarnya membuka peluang usaha pengelolaan, daur ulang, transportasi dan masih banyak lagi. Dengan melibatkan masyarakat dan pihak terkait, maka wirausaha sosial ini akan membantu masyarakat menjawab permasalahan sampah di Bengkulu. (IKH) ***


  Bagikan artikel ini

Limbah-Limbah Yang Bermanfaat

pada hari Rabu, 31 Mei 2023
oleh Program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu
 

Dalam catatan ‘The Story Of Coffee’, Indonesia adalah salah satu negara terbesar di dunia, terdiri dari ribuan pulau. Beberapa pulau besar seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi, dikenal di seluruh dunia untuk kopi berkualitas tinggi.

 

 

 

 

Dari pulau Sumatra, ada provinsi Bengkulu yang telah menghasilkan 80 ton kopi per-tahun. Dengan produksi yang banyak ini maka Bengkulu merupakan provinsi ke-tiga terbesar penghasil kopi di Indonesia. Dengan produksi yang banyak ini maka hampir keseluruhan dataran Bengkulu dihiasi tanaman kopi. Perkebunan kopi cukup terlihat luas di wilayah Bengkulu Tengah. Setiap warga masyarakat hampir memiliki sendiri perkebunan kopi Robusta. Itu sebabnya pecinta kopi sangat banyak di Bengkulu Tengah. Kopi telah dijadikan sebagai minuman sehari-hari oleh masyarakat.

Dengan produksi kopi yang banyak, menyebabkan penumpukan limbah kulit kopi di pabrik penggilingan kopi. Pada kesempatan kali ini Stube mengadakan pertemuan untuk menjadikan limbah kulit kopi ini menjadi sesuatu yang berarti dan diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan produk lain. Kami pergi ke area penggilingan kopi untuk mengambil limbah kulit kopi untuk dijadikan pupuk (Sabtu, 30/05/2023).

 

 

 

Bahan yang dibutuhkan yaitu kulit kopi, sampah organik dan pupuk kandang. Pertama, masukkan kulit kopi ke di suatu tempat, kemudian masukkan pula pupuk kandang dan sampah organik ke dalamnya. Ulangi sampai ketinggian tumpukan mencapai 1 meter. Kemudian ditutup dengan plastik agar terhindar dari hujan dan terik matahari. Untuk pupuk ini harus menunggu waktu 1-2 bulan hingga semua bahan yang telah disatukan siap untuk dijadikan pupuk dan diberikan pada tanaman.

 

 

Sesungguhnya menjadikan kulit kopi sebagai pupuk bukan hal baru bagi penduduk Bengkulu Tengah. Namun biasanya mereka hanya menggunakan kulit kopi yang telah didiamkan selama 1 bulan kemudian dicampurkan pada tanah merah setelah ini diberikan kepada tanaman bunga. Pada kesempatan ini kami menambahkan pupuk kandang dan sampah organik untuk tambahannya.

 

 

Selain kegiatan pembuatan pupuk, kami berdiskusi bagaimana cara mengubah limbah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Selain limbah kulit kopi yang telah kami manfaatkan menjadi pupuk, ide-ide lain yang ada yakni bagaimana memanfaatkan limbah singkong, kulit buah ketupak, daun kering, bunga kering, plastik sachet dan limbah-limbah lain yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari, bahkan bagaimana bisa menjadi bahan produksi yang menghasilkan.

 

 

Adapun pupuk yang dibuat saat ini, bulan depan bisa menjadi pupuk yang baik untuk tanaman. Terimakasih banyak untuk Stube HEMAT yang telah menfasilitasi kami untuk bisa melakukan kegiatan ini, banyak manfaat baik yang diperoleh dalam setiap pertemuan dan menambah wawasan, serta ide lapangan pekerjaan.***


  Bagikan artikel ini

Membangun Wirausaha Sosial

pada hari Rabu, 31 Mei 2023
oleh Multiplikasi Stube HEMAT Di Bengkulu

       

 

Komunitas Stube-HEMAT di Bengkulu menggelar diskusi dan sharing dengan topik membangun wirausaha dari masalah sosial, menghasilkan dan memenuhi kebutuhan dan mengatasi kesenjangan perekonomian masyakarat di Bengkulu (Rabu, 31 Mei 2023).  Dengan narasumber Iman Kristina Halawa, M,Th, diskusi diikuti peserta dari mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB). Tujuan dari kegiatan ini adalah mahasiswa mengetahui SDGs terkait dengan kewirausaan yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi kesenjangan perekonomian di masyakarat Bengkulu.

Memahami masalah sosial sangat penting bagi mereka yang bergerak di bidang social entrepreneurs, karena dengan memahami keluasan serta kedalaman masalah, maka akan menemukan peluang-peluang untuk aksi penanganan baik yang sifatnya pencegahan, penyelesaian, atau pengembangan. Penyebab masalah sosial sangatlah kompleks mencakup dimensi yang terkait dengan pola tingkah laku, pola interaksi, perubahan dan konflik nilai, sampai yang diakibatkan oleh situasi ketidakadilan, pengabaian terhadap hak-hak asasi manusia, serta kerusakan ekologis.

 

 

Permasalahan sosial yang terjadi semakin kompleks baik dari penyebab maupun akibatnya. Para wirausahawan sosial diharapkan mampu menyumbangkan ide dan aksi yang menyentuh masalah-masalah yang selama ini dianggap tidak terpecahkan yang seharusnya dilihat sebagai peluang untuk menyelesaikan masalah. Saat ini banyak masalah sosial di Indonesia yang perlu mendapat perhatian baik yang dikarenakan disfungsi sosial individu, keluarga, atau disfungsi kelembagaan dan organisasi termasuk lembaga-lembaga pelayanan sosial dan publik.

 

 

Di kota Bengkulu masalah yang terus menjadi polemik adalah anak-anak jalanan yang tidak terawasi, tertekan dan diperalat oleh beberapa oknum yang mengambil keuntungan atas ketidakberdayaan mereka. Menjawab masalah sosial ini dengan melihatnya sebagai peluang bagi para wirausaha sosial dengan melatih dan melengkapai anak-anak jalanan melalui kegiatan-kegiatan yang mengembangkan kreatifitas yang mereka miliki sehingga bisa mengurangi masalah sosial. Kreativitas yang dimiliki dipakai untuk menghasilkan income yang bisa digunakan untuk menggapai cita-cita yang ingin diraih.

Peluang usaha dengan menjawab permasalahan sosial menjadi tantangan bagi setiap orang yang berkecimpung dalam social entrepreneurship yang ternyata ada banyak peluang yang ditemukan dengan mendalami permasalahan-permasalahan sosial yang ada. (IKH)*

 


  Bagikan artikel ini

Mengolah Sumber Pangan di Bengkulu Tengah

pada hari Minggu, 30 April 2023
oleh Nova Krisnanto
       

Indonesia diakui sebagai negara yang subur, banyak tanaman yang tumbuh dan bisa diolah sebagai bahan makanan. Dalam kegiatan Stube (Minggu, 30/04/2023), kami pergi ke sebuah desa di Rena Kandis, kabupaten Bengkulu Tengah. Ada satu desa terakhir yang ditempati oleh warga transmigran, yakni daerah pedalaman asri dengan akses jalan masih ada yang rusak, yang bisa ditempuh sekitar 2 setengah jam dari pusat kota Bengkulu. Di sana kami bertemu dengan Anik Pananti yang membuat beberapa makanan dari hasil bumi di sekitar tempat tinggal mereka, seperti kerupuk, selai pisang, keripik pisang, keripik ubi, dodol pisang dan peyek kacang.

 

 

Kisah perjuangan Anik memulai usaha sangat mengispirasi. Sebagai sarjana biologi, ia berani banting stir dari seorang guru menjadi pebisnis karena melihat peluang bisnis yang cukup baik dengan mengelola bahan makanan hasil perkebunan. Bermula pada tahun 2010, produksi dijalankan karena melihat melimpahnya singkong dan pisang di daerah tempat tinggalnya yang belum dikelola secara maksimal. Sebagai warga pendatang dari Jawa, Anik dapat dikatakan jeli melihat peluang bisnis. Hasil olahannya dijual di warung-warung di daerah Bengkulu Tengah bahkan saat ini pesanan datang dari Bengkulu kota. 

 

Produk makanannya terpilih mengikuti pameran kuliner sebagai perwakilan Bengkulu Tengah, seperti pameran kuliner PKK di rumah dinas Bupati tahun 2022, pameran UMKM 2023 memperingati HUT kota Bengkulu di Balai Buntar, dan pameran kuliner lainnya. Produk-produk makanan yang dipamerkan cukup diminati para pengunjung.

 

Ketika kami bertanya mengapa memilih memproduksi makanan-makanan ini, Anik menjelaskan bahwa, makanan yang diproduksi berasal dari hasil bumi yang banyak ditemukan di Bengkulu Tengah, bahan pokoknya tidak sulit dan tidak mahal. Selanjutnya, selai pisang, peyek, keripik ubi, dan keripik pisang tidak mudah rusak dan cukup awet disimpan. Yang terakhir, peminat produk makanan ini cukup banyak di kalangan umum/masyarakat.

 

 

 

Saya pun mengajukan satu pertanyaan, ”Apabila tidak ada nasi, apakah makanan yang ibu kelola bisa menjadi pengganti nasi?” “Tentu saja bisa, sebab seperti yang kita ketahui ubi, singkong dan pisang dapat menjadi pilihan yang paling tepat untuk mengganti nasi. Lebih-lebih bahan makanan ini cukup banyak ditanam di Bengkulu Tengah, jadi tidak sulit untuk menemukannya,” jawabnya mantap. “Jika dilihat bahwa keripik dan peyek kurang  mengenyangkan, maka bahan tersebut dapat dibuat menjadi getuk, combro, misro atau bolu pisang. Jadi jawabannya sangat bisa,” tambahnya.

 

Kami yang datang mendapat kesempatan melihat tempat produksi di kediamannya. Tempatnya memang tidak terlalu luas, karena mereka merupakan warga transmigran, namun dari tempat prosuksi ini kami bisa menyaksikan proses pembuatan dan bahan-bahan yang dikelola.

 

Di akhir pertemuan Anik memberikan pesan dan motivasi bagi yang ikut dalam kegiatan ini, terutama mahasiswa, “Jangan malu berjualan makanan lokal atau hasil bumi meskipun sudah menjadi seorang sarjana. Apapun yang ada di sekitar kita, bisa menjadi bahan untuk berbisnis asalkan ada tekad. Jangan takut rugi atau gagal karena dalam bisnis, rugi itu pasti ada, namun itu seperti roda, ketika rugi tunggu waktunya nanti akan untung juga.  Kerugian dan kegagalan itulah sebenarnya sedang melatih kita berpikir dan menemukan solusi sehingga menemukan inovasi baru.” ***


  Bagikan artikel ini

Ide-Ide Pengembangan Pangan Lokal di Bengkulu

pada hari Selasa, 4 April 2023
oleh Program Multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu
 

Pada pertengahan Februari 2023, Multiplikator Stube-HEMAT Bengkulu bertemu dengan Romo Dwijoko, imam gereja Katolik Santo Yohanes, Bengkulu. Pertemuan ini berlangsung beberapa kali dan salah satu pertemuan itu terekam dan terunggah pada link video1 pada channel youtube “Sang Petani”. Pertemuan berlanjut dengan diskusi “berbagi keresahan” membahas ketergantungan masyarakat pada pangan yang tidak diproduksi sendiri. Diskusi Bersama mahasiswa yang tergabung di Stube-HEMAT Bengkulu diselenggarakan di Aula Bhadrika, Kota Bengkulu (03/04/2023). Hadir dalam pertemuan ini Multiplikator Bengkulu, volunteer, dan 12 peserta. Masing-masing menyimak pembicaraan dengan Romo Joko yang dikenal memiliki perhatian pada pangan lokal ini.

 

 

 

Romo Joko mengawali paparan tentang kecintaannya pada benih dan tanaman padi. Pada masa awal pelayanan ia mampu memahami pola tanam, bibit, hama, hingga pengolahan pasca panen. Semangat bertaninya tumbuh karena memang lahir dan besar sebagai anak seorang petani. Pada suatu perjalanan bersama para imam di daerah Gunung Kidul, Yogyakarta, ia menjumpai daerah batu yang memiliki sedikit tanah. Lahannya subur sekali. Orang mengenalnya sekarang sebagai Gua Pindul, Bejiharjo. Aneh sekali melihat tanaman ubi yang kecil-kecil tetapi begitu dipanen hasilnya besar. Ubi inilah yang menjadi makanan pokok pengganti nasi ketika suplai beras terhambat.

 

 

Setelah dari Gunung Kidul, pengamatan Romo bergerak ke tanaman sorgum, cantel, garut, jewawut, gadung, dan gembili. Talas juga menjadi perhatiannya mengingat ini adalah umbi asli Indonesia. Romo memberi pemahaman kepada peserta bahwa kita harus bisa makan dari alam di sekitar kita, kita makan dari yang disediakan oleh alam kita. Kita ambil dari yang tumbuh di situ. Talas  ada banyak di daerah Mentawai, ubi tiwul di Jawa, Jagung di NTT, sagu di Ambon dan Papua, dan ketela untuk daerah Papua pegunungan. Tuhan memberi berkat melalui tanaman yang tumbuh di sekitar kita dan menikmati umbi-umbian adalah bentuk syukur. Makanan lokal adalah makanan terbaik yang kita konsumsi dan tidak akan menurunkan derajat hidup kita.

 

 

Saat ini, Romo Joko sedang mengkampanyekan gembili sebagai sumber karbohidrat. Gembili adalah nasi dan itulah yang didengungkannya melalui channel youtube Sang Petani. Gembili boleh ditanam di daerah yang sedikit air, tidak perlu irigasi, dan menjadi produk unggulan karena tahan hama, relatif mudah ditanam, dan enak dari segi rasa. Saat ini Romo sudah menanam di pekarangan gereja Santo Yohanes dan Kapel Theresia, Sidomulyo, Bengkulu.

 

 

Pertanyaan muncul dari teman-teman peserta, seperti dari volunteer Iman Kristina, bagaimana pengolahannya, apakah sama dengan ubi? Yosafat bertanya berapa lama gembili ditanam hingga panen dan apakah produksinya bisa lebih murah dari beras? Pertanyaan ini dijawab Romo dengan pengolahan cukup mudah dengan direbus dan masa panen adalah setahun – menunggu seluruh daun dan batangnya mengering.

 

 

Tak kalah menarik pertanyaan dari Hendy bagaimana jika beras habis, juga Titus yang bertanya bagaimana menumbuhkan minat masyarakat agar mengonsumsi pengganti beras? Romo dengan tegas menjawab tentu saja apabila beras habis, maka manusia pasti mencari pengganti dan akan bergantung pada pangan pengganti tersebut. Jadilah seperti Nuh yang tetap membuat bahtera meskipun ditertawakan. Kita perlu melakukan hal-hal kecil dari yang kita bisa. Kerjakan yang bisa dilakukan untuk mendapatkan kemungkinan baru yang lebih kreatif. Romo Joko pun mengaku bahwa usahanya bisa dibilang belum berdampak luas.

Namun, apabila terus-menerus dibicarakan dengan bahasa yang sederhana maka orang akan mau memahami ide yang kita tawarkan. Semoga peserta diskusi ini mampu mengawalinya ketika pulang kampung dan menjadi pelopor terbentuknya kreasi pangan lokal.***

 

 
 


https://www.youtube.com/watch?v=TS_q2dREgG8

 


  Bagikan artikel ini

Cinta Cita Rasa Lokal Menghadapi Persaingan Global

pada hari Senin, 27 Maret 2023
oleh Reginiana Dosvia

Bengkulu memiliki keanekaragaman kuliner dengan bahan lokal yang saat ini terus bersaing dengan berbagai gempuran makanan modern cepat saji yang disukai anak-anak millennial. Program multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu bersama mahasiswa dan pelajar mencoba mengenal, belajar dan mempraktekan pembuatan makanan lokal Bengkulu di desa Kroya kecamatan Pagar Jati, kabupaten Bengkulu Tengah (26/03/2023).

 

Di desa ini kue Bay Tat (juadah Bengkulu) menjadi salah satu makanan khas lokal. Sajian kuliner tradisional berjenis kue ini ada yang berbentuk segi empat dan berbentuk bundar, layaknya kue tart yang diakulturasi dengan tampilan kue pie dengan topping nanas atau keju. Dahulu Bay Tat dikenal sebagai sajian kuliner khusus bagi raja-raja di Bengkulu. Seiring perubahan zaman, saat ini  masyarakat dari semua lapisan dapat menyantap kue ini dalam pesta, hari raya, dan menjadi oleh-oleh sehari-hari. Bentuk kue Bay Tat bisa menunjukkan asal daerahnya karena kue Bay Tat berbentuk bundar menjadi ciri khas Bengkulu Selatan, sedangkan bentuk persegi empat menjadi ciri Bay Tat kota Bengkulu dan Bengkulu Tengah. Namun meski berbeda bentuk, rasa dan proses pembuatannya sama. Bay Tat terbuat dari tepung terigu, gula pasir, santan murni, soda, vanili, mentega. Setelah kue Bay Tat jadi, barulah diolesi selai nanas yang diolah secara tradisonal. Mengapa selain nanas? Nanas menjadi buah potensi Bengkulu karena hampir di rumah penduduk dan ladang dijumpai tanaman ini. Dari buah inilah selai nanas topping Bay Tat dibuat, yakni dengan memasak buah ini sampai hancur, diaduk berjam-jam hingga menjadi sebuah selai nanas yang manis, segar dan lezat.

 

Nur Baiti, seorang pengusaha pembuat sekaligus pedagang kue Bay Tat memberi kesempatan kepada teman-teman mahasiswa melakukan wawancara sekaligus praktek membuat kue di tempat produksinya. Nur Baiti memproduksi kue ini sejak tahun 2017 dengan memiliki pasar yang potensial. “Kue ini adalah makanan khas Bengkulu, budaya turun temurun dari leluhur, ditambah lagi penduduk di daerah tempat tinggal kami mayoritas penduduk asli Bengkulu (suku Rejang) sehingga makanan ini menjadi tidak asing bagi mereka,” tutur Nur Baiti, ketika diwawancarai. “Bay” berarti ibu dalam Bahasa Rejang, dan “Tat” berarti kue tart.

 

Setiap kali produksi, Nur Baiti bisa menghabiskan 5 kg tepung terigu dan terjual habis setiap harinya, terlebih ketika ada pesanan untuk pesta dan acara adat lain. Pesanan tidak hanya  datang dari warga yang tinggal sekampung tetapi juga dari kampung lain. Nur juga menceritakan bahwa produksi pernah gagal karena salah tepung yang berakibat kue menjadi keras untuk dimakan.

Para peserta mahasiswa senang praktek membuat kue bersama Nur Baiti karena sabar dan mengajari peserta dengan sukacita. Sekilas pembuatannya sederhana namun cukup rumit bagi para peserta mengerjakannya, namun kue hasil produksi peserta lumayan memuaskan. Dengan tekstur padat manis, kue ini cukup mengenyangkan dan karena cita rasanya yang enak, kue ini diminati banyak orang. Potensi-potensi lokal dalam bidang kuliner seperti ini menjadi peluang bagi anak-anak muda untuk terus menemukan dan mengembangkan. Anak muda harus terus berinovasi dengan potensi lokal untuk persaingan global. ***

 


  Bagikan artikel ini

Menginisiasi Pangan Lokal di Bengkulu

pada hari Minggu, 26 Februari 2023
oleh Iman Kristina Halawa

Oleh: Iman Kristina Halawa.          

 

Keanekaragaman hayati sangat penting dalam membangun keberlanjutan dan kesejahteraan manusia, termasuk di kota Bengkulu. Ini menjadi topik diskusi Stube-HEMAT bersama mahasiswa STTAB agar mahasiswa mengetahui Sustainable Development Goals terkait dengan pangan lokal yang bisa diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pokok masyarakat Bengkulu. (Sabtu, 25/2/2023).

 

 

Indonesia kaya ragam pangan lokal di berbagai daerah, termasuk di Bengkulu. Masyarakat mendapat manfaat jika mengkonsumsi pangan lokal, namun masyarakat belum memanfaatkannya secara optimal, termasuk pengelolaannya. Seperti pengalaman salah satu peserta yang menceritakan pemanfaatan panganan lokal di Nias, kampung halamannya. Beberapa umbi-umbian dijual mentah dan ditukar dengan makanan instan seperti mi instan dan ikan kaleng. Iman Kristina menjumpai penjualan pisang segar dari pulau Nias ke pesisir barat Sumatera. Namun, komoditas itu kembali lagi ke Nias dalam bentuk makanan olahan sebagai oleh-oleh.

 

 

Setiap daerah memiliki pangan lokal tapi belum optimal baik dari ketersediaan maupun pemanfaatan untuk dikonsumsi, padahal penting untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menopang ekonomi petani. Pengolahan pangan yang terbatas menyebabkan rendahnya pemanfataan pangan lokal, contohnya umbi-umbian, hanya diproses secara tradisional dengan rebus, bakar atau goreng untuk dikonsumsi. Tantangannya adalah bagaimana mendongkrak pemanfaatan pangan lokal secara kreatif. Dengan pengolahan secara kreatif masyarakat menjadi tertarik dan meningkatkan nilai jual produk sehingga pada akhirnya perekonomian masyarakat meningkat.

Kelompok diskusi juga akan mengolah bahan pangan lokal seperti ubi dan kelapa untuk mempraktekkan beberapa olahan pangan lokal kepada mahasiswa, sehingga mereka bisa mengolahnya, bahkan bisa menjadi alternatif pengganti beras. Seandainya di daerah pelosok terjadi gangguan suplai beras, maka mahasiswa yang bertugas di daerah pelosok bisa bertindak memanfaatkan pangan alternatif untuk masyarakat. Di era milenial saat ini, masyarakat khususnya generasi muda cenderung mengkonsumsi makanan yang menarik dan instan, jadi kita mesti kreatif dalam mengelola pangan lokal menjadi makanan yang ‘up to date’ dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat sehingga pangan lokal ‘dilirik’ oleh masyarakat.

 

 

Yohanes Dian Alpasa, Multiplikator Stube HEMAT di Bengkulu mendorong mahasiswa untuk merancang produk pangan lokal tertentu, dari persiapan bahan sampai pemasaran secara detil. Beberapa bahan dan alat yang dibutuhkan bisa didapatkan dengan mudah, sebagian lain yang tidak tersedia di pasar akan didatangkan dari tempat lain di Bengkulu.

Upaya sekecil apa pun untuk menemukan pangan alternatif selain beras mendesak untuk dilakukan, dan anak muda mahasiswa di Bengkulu harus berani mengambil inisiatif untuk memulai, dari menemukan pangan lokal potensial di Bengkulu, mengolah dan memproduksi dari sekarang. ***

 


  Bagikan artikel ini

Mengasah Bakat dan Menggali Potensi Pangan Lokal Bengkulu

pada hari Minggu, 29 Januari 2023
oleh Iman Kristina Halawa

 

Setiap manusia memiliki bakat masing-masing yang bisa dikembangkan dengan cara menekuninya dengan sungguh-sungguh. Bakat dimiliki oleh seseorang secara alami dan bisa dikembangkan dengan lebih cepat dan lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Artinya bakat adalah kemampuan dalam diri seseorang sejak lahir yang dapat digunakan untuk mempelajari sesuatu dengan cepat dan berhasil baik.

Pemikiran di atas menjadi inspirasi dalam diskusi tentang Pengembangan Bakat: Setiap mahasiswa memiliki bakat yang berbeda-beda, di Multiplikasi Stube-HEMAT di Bengkulu bersama mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu (STTAB) dan Iman Kristina Halawa, M.Th., berperan sebagai narasumber (Sabtu, 28/1/2023). Diskusi ini juga sebagai ruang sharing pengalaman tiga mahasiswa STTAB yang belajar di Stube HEMAT Yogyakarta beberapa waktu lalu dan persiapan kegiatan Stube HEMAT Bengkulu semester ini. Beberapa hasil pengamatan dan belajar akan diujicobakan di Bengkulu sebagai tindak lanjut.

 

 

Tentang istilah ‘bakat’, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menulis bahwa bakat adalah kepandaian, sifat pembawaan yang dibawa sejak lahir. Ahli pendidikan, Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja menjelaskan bahwa bakat adalah sebuah bibit yang akan terlihat ketika orang tersebut mendapat sebuah kesempatan dan kemungkinan untuk mengembangkannya, (Soegarda, Ensiklopedi Pendidikan). Jadi, bisa dikatakan bahwa bakat adalah kemampuan terhadap suatu yang menunjukkan kemampuan rata-rata seseorang secara ilmiah dan perlu dilatih untuk mencapai hasil maksimal.

Bakat orang berbeda-beda dan perkembangan bakat dipengaruhi berbagai faktor, seperti 1) Unsur Genetik, yang berkaitan dengan fungsi otak. Otak kiri berhubungan dengan verbal, intelektual, keteraturan, dan logis. Sedangkan otak kanan berkaitan dengan spasial, nonverbal, estetik, artistik, dan atletis. 2) Proses Latihan. Bakat adalah sesuatu yang sudah dimiliki secara alamiah, namun memerlukan latihan teratur untuk mengembangkannya. 3) Struktur tubuh, mempengaruhi bakat seseorang. Seorang yang bertubuh atletis akan lebih mudah menekuni bidang olahraga atletik atau aktifitas yang membutuhkan gerak tubuh.

Diskusi ini menghasilkan komitmen bersama, antara lain: 1) Komunitas harus ada komitmen bersama untuk mencapai tujuan komunitas, komitmen pribadi untuk mengembangkan diri dan komitmen bersama untuk saling mendukung anggota komunitas; 2) masing-masing berkomitmen mengembangkan bakat mereka, termasuk mahasiswa STTAB yang belajar di Yogyakarta; 3) Setiap mahasiswa memiliki bakat yang berbeda-beda, jadi temukan dan asah kemampuan yang dimiliki; 4) Terus mengembangkan bakat yang ada sampai optimal agar mendapatkan manfaat dari bakatnya.

Dikaitkan dengan program Stube-HEMAT Bengkulu tentang Inisiatif Pangan Lokal, para mahasiswa diajak untuk mengidentifikasi pangan lokal di Bengkulu dan mempromosikan keanekaragaman hayati yang ada, dan sambil mengasah bakat, mahasiswa akan mendalami keanekaragaman hayati di Bengkulu, mengumpulkan aneka pangan lokal setempat dan mengolah bahan-bahan pangan lokal menjadi produk yang layak jual sehingga menjadi alternatif peningkatan ekonomi melalui wirausaha pangan lokal.

 

Diharapkan bahwa dengan apa yang sudah dipelajari bersama, bakat yang terus dikembangkan bisa bermanfaat untuk diri dan orang-orang di sekitar dan ini bisa dimulai dari hal sederhana, seperti mengolah bahan pangan lokal Bengkulu, sudah siapkah kita? ***


  Bagikan artikel ini

Arsip Blog

 2023 (11)
 2022 (20)
 2021 (21)
 2020 (19)
 2019 (8)
 2018 (9)
 2017 (17)

Total: 105