pada hari Selasa, 27 September 2011
oleh Stube HEMAT
PROGRAM PENDIDIKAN ALTERNATIF
Eksposur Bandung: Sekolah Alam Bandung (SAB)
Ruang Kreatif ‘Taboo’ dan Saung Angklung Udjo
Bandung, 23 - 25 September 2011
 
 
Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan program pelatihan Pendidikan Alternatif. Program ini dilatarbelakangi bahwa pendidikan merupakan hak setiap orang di Indonesia, tetapi pada kenyataannya pendidikan masih merupakan kesempatan yang mewah. Dengan GNP (Gross National Product) $ 174, ini berarti $ 0.8 per kapita, Indonesia masih harus berjuang keras untuk memperoleh tingkat pendidikan yang layak.
 
Ribuan pulau yang tersebar di Indonesia menimbulkan kesulitan tersendiri dalam memberikan standar dan fasilitas yang sama untuk pendidikan. Ada banyak daerah tertinggal terutama yang berada di kawasan sulit seperti pegunungan dan terpencil, misalnya di kawasan Indonesia bagian Timur. Walaupun pendidikan membutuhkan fasilitas untuk mencapai kualitas, demi mendapatkan esensi pendidikan, seseorang dituntut mencari pendidikan alternatif. Munculnya pendidikan alternatif terbentuk karena keprihatinan atas pendidikan di Indonesia.
 
Tujuan Program Pendidikan Alternatif ini adalah 1) Menemukan model-model pendidikan alternatif yang memberi inspirasi kepada peserta untuk melaksanakan pendidikan alternatif di daerah terpencil dengan mengangkat muatan lokal. 2) Inspirasi tersebut diharapkan dapat melahirkan aktivis untuk pendidikan non formal. 3) Mampu memetakan potensi-potensi dan hambatan pendidikan di daerah asalnya. Demi mewujudkan tujuan tersebut, peserta pelatihan melakukan eksposur (kunjungan) di Sekolah Alam Bandung (SAB), Ruang Kreatif Taboo, Dago Pojok, Bandung dan Saung Angklung Udjo.


Perjalanan menuju Sekolah Alam Bandung (SAB) berawal dari teminal Dago Atas berjalan kaki ke arah barat dan kemudian menyusuri jalan setapak menuju kawasan SAB. Di SAB kami bertemu dengan Eko Kurnianto sebagai perintis dan pengelola SAB. Ia berasal dari Kutoarjo, Jawa Tengah dan sejak tahun 1998 mulai belajar mengenai sekolah alam. Tahun 2007 mulai mencari pengalaman akademik mengenai sekolah alam dengan mengambil Strata 2.
 
Memang sekolah ini memberi batasan jumlah siswa sebagai konsekuensi supaya pendidikan dapat berjalan optimal, semacam kuota. Mengenai pendampingan anak didik tidak dibatasi kekritisan mereka, dan bahkan anak-anak dilatih untuk kritis terhadap suatu permasalahan. SAB didirikan sebagai bentuk perlawanan dari pendidikan konvensional, di mana mayoritas pendidikan yang konvensional di Indonesia telah membuat daya kritis dan kreativitas generasi bangsa terbungkam. Sejak TK hingga perguruan tinggi, siswa dididik untuk tidak boleh kritis dan kreatif. Sebagai contoh, mahasiswa yang kritis terhadap kebijakan rektor akan diancam di-DO, atau siswa SD yang kritis dan kreatif dianggap anak nakal dan pembuat onar hanya karena mereka ingin menyatakan sesuatu yang berbeda. Siswa yang sering bertanya dianggap mengganggu ketenangan kelas.
 
Mengenai kurikulum di SAB, memang menekankan proses pembelajaran yang disampaikan secara active dan fun, karena secara umum anak-anak akan lebih suka berada dalam ruangan yang informal, terbuka dan bebas dibandingkan dengan suasana yang formal, tertutup dengan lingkungan yang terbatas. Sumber belajar bisa bersumber dari obyek alam, dari alam itu sendiri karena inspirasi-inspirasi di dunia pendidikan selalu melalui alam, munculnya dari alam. Kurikulum disini hanya ada dua yaitu, yang dibuat oleh guru, dan oleh anak-anak itu sendiri.
 
Dalam berkreasi di lingkungan sekolah yang terbuka dan bebas, anak dapat menikmati waktu sekolah mereka, sehingga pengembangan nilai kreativitas dan kemampuan dirinya menjadi lebih efektif. Proses ini bisa dilakukan di bawah pohon, seperti sekolah pada jaman dulu, atau di pinggir kolam, tapi jangan sampai nyemplung. Sebenarnya dalam proses ini guru lebih tepat disebut sebagai fasilitator pendidikan.

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 7 Agustus 2011
oleh Stube HEMAT

Program Hak Asasi Manusia

 

 

 
Perkenalan dan keakraban peserta dalam Program Pelatihan Hak Asasi Manusia Stube-HEMAT Yogyakarta. Pelatihan ini diadakan di Wisma PU Yogyakarta, 5-6 Agustus 2011.
 
Rm Prof. Dr. Martino Sardi, OFM, menjadi fasilitator pelatihan Hak Asasi Manusia.
Hak asasi merupakan hak yang mendasar (sesuatu yang dasariah). Karena setiap orang memiliki martabat atau harga diri. Oleh karena itu, hak itu tidak boleh dihina dan diabaikan. Hak bukan diperoleh atau diberikan pemerintah, tetapi dimiliki manusia karena bermartabat manusiawi. Hak yang fundamental itu tidak dapat diceraikan dari dirinya, jika dipisahkan dari manusia itu maka nilai kemanusiaannya atau martabatnya akan merosot, direndahkan, dihina dan dirongrong dan tidak dihargai keberadaannya sebagai manusia.
 
 
 
 



 
 
 
 

 
 
 


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 30 Mei 2011
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Pertanian Organik

 

 




 
 
 
 
 
 
 
 

Tambah Gambar


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 19 April 2011
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Human Resources and Investment: STUDENTS, GLOBALIZATION & SELF MARKETING 29 April - 1 Mei 2011

 
Halooo semuaaa,, apa kabar? Selamat Paskah yaa.


Eh, Stube-HEMAT adakan pelatihan seru lagi nih.

Pelatihan Human Resources and Investment:
STUDENTS, GLOBALIZATION & SELF MARKETING


Denah lokasi pelatihan:


Peserta berangkat bersama dari Wisma Immanuel, Samironobaru 54, Yk pada hari Jumat, 29 April 2011 pukul 13.00.

Contact person:
Kunthi (0813 2801 5635), Trustha (0856 2950 641), Orie (0852 9263 7520)

Ayoo ikutaaan :b
Kami tunggu kedatanganmu,,

Salam,
Humas Stube-HEMAT

  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 23 Maret 2011
oleh Stube HEMAT

Orientasi Program

 

 

 

 



Program Orientasi dilakukan dalam rangka mengenalkan Stube HEMAT pada berbagai lembaga kemahasiswaan dan pemuda gereja di Yogyakarta.

 

Untuk Orientasi Program semester I (periode program 2011-2013), Stube HEMAT melakukan perkunjungan/silahturahmi ke pendeta-pendeta jemaat di beberapa gereja, diantaranya: GKJ Gondokusuman (Pdt Retno Dwi Hastuti), GKJ Sarimulyo (Pdt Dwi Edy N), GKJ Jatimulyo (Pdt Murtini), GPIB Marga Mulya (Pdt. Murwanto), GKJ Medari (Pdt. Firdaus), GKJ Wirobrajan (Pdt. Eddy Krisbudiarto), GKJ Kotagede (Pdt. Budi Rahardjo), GKJ Jodhog (Pdt. Harjono), GKJ Brayat Kinasih (Pdt. Sundoyo), GKJ Minomartani (Pdt. Kriswoyo), GKJ Canden (Pdt. Setiono), GKJ Kebonagung (Pdt. Agung Budiarta), GKJ Wonocatur (Vic. Setyo Wahono), GKJ Tanjungtirto (Pdt. Bambang Sulistyo).




  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 19 Maret 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 15 Maret 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 11 Maret 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 7 Maret 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 31 Januari 2011
oleh Stube HEMAT

Pelatihan Capacity Building, Jumat-Minggu, 28-30 Januari 2011 di Asrama UKDW Seturan

 























 
 
Salah satu program yang ditawarkan oleh Stube HEMAT kepada Mahasiswa Kristiani dan Pemuda Gereja di Yogyakarta dan sekitarnya adalah Program Capacity Building. Program ini diadakan dengan maksud untuk meningkatkan kapasitas individu dan organisasi sehingga dapat mencapai visi dan misi organisasi tersebut.
 
Kita bahwa sebuah organisasi memiliki tujuan-tujuan yang hendak dicapai melalui program-program yang ditetapkan. Namun dalam kenyataannya tidak semua organisasi mampu mencapai tujuan yang ditetapkan itu karena ada masalah seperti kemampuan individu, pengorganisasian, kepemimpinan, adanya konflik, dan sebagainya.

Kelesuan, kefakuman, tidak adanya dinamika dalam berorganisasi yang terjadi dalam organisasi mahasiswa Kristen dan pemuda gereja menjadi keprihatinan tersendiri. Organisasi-organisasi yang diharapkan dapat menjadi ruang peningkatan kapasitas individu, membangun kerjasama, belajar berorganisasi, justru mengalami penurunan daya berorganisasi dan berkreatifitas. Kurangnya kemampuan membaca dan menganalisis perkembangan jaman, disertai tidak adanya transparansi dalam pengelolaannya telah menjadi permasalahan yang menyebabkan kelesuan dalam berorganisasi.

Di sisi lain semangat berorganisasi, semangat untuk meningkatkan kapasitas diri melalui organisasi juga semakin menurun. Perkembangan globalisasi dengan berbagai kemajuan telah memberikan alternative yang lebih mudah, murah, efisien dalam hal waktu, sehingga lebih banyak orang memilih belajar secara mandiri melalui berbagai media yang ada daripada menghabiskan waktu untuk berorganisasi. Berbagai alasan di atas itulah yang mendorong Stube HEMAT Yogyakarta sebagai sebuah lembaga pembinaan mahasiswa Kristiani untuk melakukan pelatihan Peningkatan Kapasitas ini. Pelatihan Peningkatan Kapasitas ini adalah usaha untuk meningkatkan kinerja organisasi dan sebuah proses menata diri sendiri menuju tujuan yang telah ditetapkan. Pelatihan ini dilaksanakan di Asrama UKDW Seturan pada tanggal 28 s/d 30 Januari 2011dengan jumlah peserta dan panitia 40 orang. Pelatihan ini menghadirkan para fasilitator dari berbagai organisasi (NGO dan Organisasi Mahasiswa) dan akademisi, yaitu : Bpk. Yohanes Winarso (LPH YAPHI Solo), Pdt. Jozef M.N. Hehanussa, Ph.D (Wakil Rektor III UKDW), Anna Marsiana (Direktur AWRC), Drs. Bambang Hediono, MBA (Fak. Ekonomi UKDW- Board Stube HEMAT), Dra. Krisni Noor Patrianti, M.Hum (Ketua PSPP UKDW), Dra. Endah Setyowati, M.Si, (PSPP UKDW), Pengurus Organisasi (Ketua Cabang GMKI Yogyakarta (Elias Idie), Ketua HMI Bulak Sumur (Bayu), Ketua PMKRI (Lusiana Bintang Siregar), Pengurus Komisi Pemuda GKI Ngupasan (Yose Emeraldo Theofilus), Komunitas NATRIX (Roy, Yaya, Deni) dan Pdt. Mathelda Yeanne Tadu ( Stube HEMAT).



Sesi PENTINGNYA BERORGANISASI (MENGENAL DAN MENGASAH POTENSI DIRI DENGAN BERORGANISASI) ( Yohanes Winarso (LPH YAPHI Solo)
Potret Kaum muda saat ini: Mall (ngrumpi, nggosip, sampai transaksi narkoba, transaksional seksualitas), gerombolan/gank hanya untuk kumpul bersama tanpa ada tujuan yang jelas, diskotik (mabuk dan minuman-minuman keras), face book (penyalahgunaan fasilitas internet), kaum muda lupa kemiskinan yang merata dan kelaparan yang terjadi di mana-mana, kasus mafia pajak/hukum. Kinerja pemerintahan: Kerja Legislatif: Kalau rapat tidak ada duitnya tidak pernah datang tapi kalau datang cuma tidur. Kerja Eksekutif: (18 kebohongan Presiden). Bagaimana generasi muda melakukan perlawanan terhadap fenomena yang ada tersebut yaitu dengan organisasi. Mengapa harus berorganisasi? Organisasi alat perjuangan bersama untuk mencapai tujuan bersama. Sapu lidi kalau di gunakan untuk menyapu bisa, tapi kalau hanya satu batang tidak bisa membersihkan lantai. Organisasi adalah sebuah ikatan bersama anggota-anggota di dalamnya untuk mencapai tujuan yang telah disepakati bersama. Management Organisasi: penting bagaimana organisasi akan berjalan, organisasi perlu ada pelatihan sehingga pengelolaan organisasi berjalan baik. Bagaimana tiap anggota bisa memiliki pemikiran yang disepakati bersama untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan: Penting karena organisasi membutuhkan orang yang mampu dan mau menjalankan jalannya roda organisasi. Kepemimpinan penting, namun pemimpin tidak harus ditaktor. Keputusan ditangan anggota bukan keputusan ditangan pemimpin. Program: Organisasi dapat berjalan dengan baik jika program yang dijalankan berjalan sesuai dengan tujuan organisasi. Partai Kerakyatan Demokratis, pengurus harus ada plan B ( tidak fokus pada plan A jika plan A tidak berjalan), pengurus organisasi senantiasa menciptakan program yang meningkatkan kualitas organisasi. Dana: Organisasi yang baik ketika dana berasal dari anggotanya sendiri. Iuran anggota menjadi satu wadah agar anggota memiliki rasa memiliki organisasi tersebut. Bangsa Indonesia membutuhkan kaum muda untuk mengubah bangsa menjadi lebih baik, memulai dengan berorganisasi untuk mencapai tujuan yang positif bagi bangsa. Jadi kaum muda sebaiknya belajarlah dengan berorganisasi. Sesi ORGANISASI MAHASISWA KRISTIANI DAN PEMUDA GEREJA MENJAWAB TANTANGAN GLOBALISASI (Pdt. Jozef M.N. Hehanussa, Ph.D (Dosen Fak. Theologi UKDW) Tujuan mengapa selama ini berorganisasi (peserta ditanya) apa yang membuat tertarik untuk berorganisasi: - menjalin relasi dalam berorganisasi - belajar berkomunikasi - melatih tanggungjawab - ekpresi atau aktualisasi diri - asah diri ‘jika kita punya sebuah kemampuan atau talenta dikembangkan sesuai kebutuhan organisasi - manajemen waktu - mengisi waktu dengan kegiatan berkualitas. Dalam berorganisasi kita harus menetapkan motivasi atau dasar masuk dalam berorganisasi, supaya kita bisa menjawab tantangan dalam berorganisasi secara riil. Sebagian besar dari kita, kerap memiliki motivasi berorganisasi hanya sebatas cari pengalaman atau sekedar ambil bagian. Kalau semua orangg punya motivasi sesempit itu, akan sangat sulit kita mengembangkan organisasi yang berperan sebagai agen perubahan atau yang mampu menjawab tantangan globasisasi. Organisasi bukan hanya sekedar kumpul-kumpul atau senang-senang. Banyak organisasi di jaman sekarang, dan kita cenderung untuk membuat pemisah atau batas tentang cakupan yang dihandel oleh masing-masing organisasi. Misalnya mana organisasi yang terkait kerohanian dan tidak, dan mereka cenderung untuk terlalu fanatik pada cakupan yang dihandel. Misal organisasi kerohanian hanya terfokus pada kegiatan rohani, sebaiknya diimbangi dengan tindakan aplikatif. Contoh: sebaiknya PMK tidak cuma menyanyi dan renungan, tetapi lebih dari itu menjawab tantangan yang terjadi di sekitar kita. Tema tidak melulu mengenai Allah yang hidup, tetapi diharapkan lebih aplikatif seperti ‘mencintai lingkungan hidup, etc. Bukan berarti hal-hal rohani tidak penting, tetapi kadang organisasi-organisasi tertentu mengklaim identitasnya melulu di cakupan itu. Sebaiknya harus seimbang dan tanggap terhadap isu-isu yang terjadi di sekitar dan terlebih bisa berperan menjadi agen perubahan. Ada banyak definisi tentang globalisasi, tetapi prinsipnya adalah ‘kita berada di dalam ‘ruang’ tanpa sekat sehingga kita bisa berinteraksi tanpa batas (unlimited). Contoh. Google, Televisi ‘kita bisa langsung mengakses informasi secara bebas dn cepat. Dan perolehan informasi yang kita peroleh secara cepat itu cepat memberikan impact baik positif maupun negatif. Globalisasi tidak melulu identik dengan pasar bebas atau teknologi informatika, tetapi lebih luas dan global daripada itu. Tantangan globalisasi : - bagaimana pembagunan tidak mempengaruhi perubahan iklim : perubahan iklim memberikan pengaruh yang holistik bagi kehidupan manusia Contoh. Harusnya Agustus di Eropa sudah musim panas, tetapi perubahan iklim menyebabkan cuaca masih dingin (1 derajat) dan itu memengaruhi aktivitas mereka (efek domino/efek berantai) - Bgm setiap orang bisa memperoleh air bersih tanpa terjadi konflik. Persoalan seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi global. Bagaimana segarnya air di era 80an, sekarang sumber air banyak yang mengalami pencemaran. - Bagaimana TI dapat dirasakan oleh semua orang, tidak melulu dinikmati oleh segelintir orang. Contoh: Internet, handphone. Misal bisa akses internet lewat komputer, tapi ga semua orang bz akses di rumah. - Bagaimana etika pasar dapat didorong supaya mengurangi kesenjangan sosial. Contoh. Neoliberalisme akan membuat semakin baik atau terpuruk. Ahli mengatakan neoliberalisme lebih banyak menciptakan kolonialisme baru, karena yang berkuasa adalah yang memiliki kapital besar. Kita hanya bisa mengurangi kesenjangan itu, karena kita tidak mungkin meniadakan kaya dan miskin. Contoh. Di Jerman sulit dibedakan mana kaya dan miskin, karena gaya berpakaian dan shop yang dimasuki cenderung sama, yang membedakan ternyata adalah cara berinteraksi mereka. Tapi di Indonesia penampilan luar bisa membedakan strata sosial. - Bagaimana ancaman muncul penyakit lama atau baru dapat menganggu aktivitas hubungan dengan negara luar. Contoh. Ketika terjadi flu babi atau burung, beberapa orang Indonesia dicekal ketika akan pergi ke Luar Negeri - Bagaimana kapasitas pengambilan keputusan dapat mendorong perilaku kerja yang produktif. - bagaimana status perubahan perempuan (emansipasi) dapat berdampak pada perbaikan hidup. Contoh. Di Jakarta, ada supir Busway perempuan. Di Luar Negeri, ada masinis perempuan dan petugas pemadam kebakaran. Berkaitan dengan tantangan di atas, bagaimana organisasi Kristiani dapat menjadi agen perubahan? Kita harus melakukan perbaikan mulai dari diri sendiri. Contoh membuang sampah di tempatnya. Hal ini adalah contoh kecil yang berdampak besar bagi pelestarian lingkungan. Di Jerman sangat terkenal dengan penataan atau pemilahan sampah (Inggris, Italia tidak menerapkan hal seperti ini). Contoh masalah sosial yang terjadi di sekitar kita: - Pembangunan pola pikir dan kesetaraan gender. Contoh kecil : sekretaris identik dengan wanita. - Pemerataan pendidikan dasar, kita seharusnya bisa membantu anak-anak kurang mampu untuk mengajar mereka belajar. Di sisi lain kita juga berhadapan dengan persoalan-persoalan yang dihadapi kaum muda, seperti kekaburan identitas; media menawarkan kepada kita begitu banyak role model atau figur, kadang kita menjadi bingung sendiri; mahasiswa lebih menyibukkan diri dengan kegiatan perkuliahan, dan kurang mau bersosialiasi atau berorganisasi sehingga kurang bisa berperan sebagai agen perubahan; kurang gaul, pergaulan bebas, konflik antar pemuda dan mahasiswa, persoalan-persoalan lain terkait keorganisasian. Organisasi adalah alat untuk menjawab masalah sosial. Alat itu bisa difungsikan atau tidak tergantung pada kita. Orang-orang yang memiliki kapasitas (yg dibutuhkan) kadang malah tidak mau terlibat dalam organisasi. Berbagai permasalahan dalam organisasi : kesulitan regenerasi dalam organisasi, keterbatasan SDM, sehingga kadang orang-orang yang terekrut adalah seadanya, tidak memiliki motivasi yang jelas, program-program yang kurang jelas sehingga sulit dipahami oleh anggota, ketika kita berorganisasi, kita sudah merasa cukup dan tidak perlu menimba ilmu di tempat lain. Kadang di organisasi pun terjadi penurunan moral (seperti seks bebas, etc yang ditutup-tutupi), ada organisasi yang anggotanya remaja, tetapi ada juga organisasi yang anggotanya mahasiswa atau pekerja sehingga kadang sering terjadi benturan urusan dan kepentingan, ada sosok yang merasa superior dalam organisasi, sering terjadi konflik internal dlm organisasi, sehingga menyebabkan ketidakkompakan Berbagai persoalan dalam organisasi Kristiani: 1. Persoalan rekruitmen Penting membangun relasi secara personal untuk melaksanakan rekruitmen. 2. Visi dan Misi : memiliki visi yang jelas baik visi misi ke dalam (untuk diri kita sendiri) atau visi misi ke luar (lingkungan di luar kita bahkan yang tidak seiman) 3. Persoalan kepemimpinan, tidak melulu bicara tentang jabatan struktural dalam organisasi. Pemimpin tidak harus seorang ketua tetapi bagaimana dia bisa mendorong teman-temannya untuk lebih terlibat – tanpa orang tersebut harus menjadi pengurus. Hal ini berkaitan dengan jiwa kepemimpinan dalam diri seseorang. 4. Ketidaksipilinan managerial, dimana agenda, rencana, dan program disusun secara tidak detail/khusus, ketidaksiplinan waktu mempengaruhi efektivitas organisasi. 5. Persoalan keterbatasan komunikasi 6. Konflik internal / kepentingan, dimana persoalan pribadi dibawa ke organisasi sehingga memengaruhi kinerja organisasi secara tidak langsung. Cara mengefektifkan kembali organisasi : - memiliki dasar yang kokoh bagi masing-masing pribadi - Visi Misi yang jelas. Mau dibawa kemana organisasi yang kita dirikan? - Mendaftarkan ‘talenta’ yang dimiliki supaya kita tahu bagaimana memaksimalkan potensi orang bersangkutan sehingga dapat mencapai tujuan organisasi. Setiap orang memiliki talenta, kita perlu menyadari dan mengetahui talenta kita dan membuahka talenta itu dalam pelayanan kita di organisasi. Talenta tidak selalu sama dengan hobi. - Merumuskan harapan dan target yang jelas dan realistis. Hal ini berkaitan dan harus sesuai dengan talenta atau kecakapan setiap anggota organisasi. - Menegaskan komitmen, terkait dengan komitmen dan perilaku - Updating isu, kita perlu aware terhadap masalah sosial sehingga kita bisa beraksi secara tepat dan berdaya guna. - Thinking globally, acting globally ‘contoh. Pemanasan global merupakan isu global, tetapi kita bisa mulai mengatasi hal tersebut dari diri kita sendiri atau dari organisasi tempat kita berkarya. - mengembangkan karya inovatif ‘kemampuan untuk berubah. - Mekanisme kerja harus jelas (kejelasan struktur dn delegasi) - Mengembangkan komunikasi yang efektif yaitu tepat sasaran. - Mengembangkan jaringan kerja, dibangun atas kesadaran bahwa kita tidak bisa melakukan sesuatu secara mandiri. Jaringan membuat masing-masing dari kita bisa bersinergi (saling melengkapi dari kekurangan dan kelebihan kita). - Mampu berkompetisi, ternyata hal ini perlu. Karena jiwa kompetisi merupakan spirit untuk membuat kita (organisasi) terpacu maju. Kompetisi yang sehat, bukan kompetisi yang menang sendiri dan merugikan pihak lain.

  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 25 Januari 2011
oleh Stube HEMAT

Program Orientasi: Kunjungan ke Persekutuan Pemuda Gereja

 
GKI Gondomanan
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
GKJ Ngento-ngento
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 22 Januari 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 17 Januari 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 10 Januari 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 8 Januari 2011
oleh Stube HEMAT
  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook