Memahami Ekumenisme Dalam Kemajemukan

pada hari Kamis, 2 Juni 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho
Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

 

Bicara mengenai keberagaman, Indonesia menjadi rumah berbagai keberagaman yang mencakup agama, suku, bahasa, ras, budaya daerah dan kehidupan sosial lainnya. Masyarakat dengan banyak perbedaan dituntut memiliki kemampuan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut, terutama toleransi atas keragaman pemahaman keagamaan. Dalam rangka membekali pemahaman mengenai keberagaman, Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia khususnya mahasiswa, mengutus Yonatan Pristiaji Nugroho, Thomas Yulianto dan Yoel Yoga Dwianto, S.Th untuk mengikuti kegiatan dialog lintas iman tentang “Membicarakan Ekumenisme Kristiani dan Islam: Apakah Semua Sama?” yang diselenggarakan oleh YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) Yogyakarta dan Komunitas Skolastikat SCJ di Aula Skolastika SCJ (Rabu,1/6/2022).

 

 

Dialog ini menghadirkan narasumber yang berlatar belakang berbeda, yaitu Romo Sigit Pranoto SCJ (Komunitas Skolastikat SCJ), Riston Batubara (Protestan), Ahmad Shalahuddin (Islam) dan Sr. Fernanda CB (Katolik) sebagai moderator. Bertitiktolak dari topik kemajemukan, maka muncullah Ekumenismeyang diartikan sebagai gerakan untuk berjuang dan mendukung persatuan khususnya pada keragaman umat beragama. Para mahasiswa di Yogyakarta dan komunitas keagamaan mengikuti diskusi dengan metode Scriptural Reasoning di mana peserta membaca, memahami kitab suci kepercayaan lain (Yahudi, Kristen, Islam) dan belajar menafsirkannya, sebagai sebuah pembelajaran pemahaman, cara membaca dan mempererat hubungan antar orang dari agama yang berbeda.

 

 

Selanjutnya, Romo Sigit Pranoto SCJ memaparkan pemahaman ekumenisme menggapai tujuan yang sama, yaitu menyatukan, tentu dengan ajaran dan kitab suci masing-masing. Ahmad Shalahuddin, dari YIPC Yogyakarta mengungkapkan bahwa ekumenisme terasa asing bagi umat Islam. Pembelajaran terbaik ekumenisme adalah dari pengalaman nyata kehidupan sehari-hari karena memahamimya tidak cukup melalui teori maupun metode yang ada. Dalam konteks ini, meskipun terdapat perbedaan agama, jika kita membuka identitas sebagai manusia ciptaan Tuhan, maka tidak terpisah oleh apapun karena memiliki kesamaan pikiran dan perasaan sama maka sebagai orang beriman harus menjaga keutuhan ciptaan ini.

 

 

 

 

Beberapa peserta menanggapi tentang ekumenisme, salah satunya adalah Yoel mahasiswa S2, STAK Marturia, yang mengatakan bahwa ekumenisme itu ibarat berolahraga saat sekolah, dimana siswa belajar dan mempraktekkan semua jenis olahraga sebagai keberagaman, tantangan yang timbul bagaimana jika sekolah itu bocor, apa peran ekumenisme akan hal ini? Narasumber merespon pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa ekumenisme harus menjadi rumah yang nyaman, yang menaungi berbagai pergumulan keagamaan. Ekumenisme mencerminkan pribadi yang beriman dan terbuka bagi sesama dan masyarakat yang majemuk.

Kegiatan dialog ini membawa pengalaman baru untuk Brian, mahasiswa kampus UII, yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini membantu memahami konsep teori ekumenisme menyikapi keberagaman agama, dan bahwa agama lain memiliki hal yang sama seperti yang diajarkan di Islam. Hal ini menjadi capaian diskusi agar peserta bisa memahami makna ekumenisme meski berlatar belakang kepercayaan yang berbeda.

Kenyataan keragaman pemahaman dari masing-masing agama harus diterima sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Kemauan berinteraksi dan menghargai menjadi dasar untuk mewujudkan persaudaraan dan persatuan demi menjaga rumah, agar keragaman tetap aman, nyaman dan saling merangkul dalam keselarasan.***

 


 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook