Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi Refleksi peserta Communication SkillsTahun 2020 gelombang 3

pada hari Rabu, 20 Mei 2020
oleh adminstube
Jiwa Dan Komunikasi:
Sebuah Refleksi Kontemplasi

 

Refleksi peserta Communication Skills

 

Tahun 2020 gelombang 3

 

 

 

 

 

 

Pada bulan Februari 2018, untuk pertama kalinya saya pergi ke psikolog setelah mencoba mengumpulkan keberanian dalam diri saya. Singkatnya setelah saya mendapat beberapa kali konsultasi, saya didiagnosa mempunyai gejala psikosomatis. Saya bahkan tidak hafal ejaan yang benar, tidak mengerti dengan segala artikel dokter tentang gejala tersebut yang terpampang pada laman browser saya. Yang saya pahami, apa yang menjadi beban pikiran saya, akan berimplikasi pada reaksi tubuh. Saya mengalami seperti pusing, mual, keringat dingin, panas hingga (maaf) muntah. Sebagai manusia biasa, berbagai reaksi penolakan bermunculan pada saat itu. Saya mulai menghubung-hubungkan hal-hal regresif selama ini akibat dari stress saya tersebut, termasuk di antaranya kebutuhan yang paling mendasar; berkomunikasi.

 

“Pantas selama ini cara ngomong saya jelek, banyak missing, ae...,ae..., nya.”

 

“Dalam kepala saya ngomongnya A, keluarnya Z. Jauh banget!”

 


 

Hampir setiap hari perkuliahan ada presentasi, berbicara di depan kelas, namun tidak sejalan dengan kondisi saya pada saat itu. Berbicara tinggal berbicara, tapi tidak bagi saya. Harus beberapa jam sebelumnya menyiapkan kondisi untuk benar-benar siap penuh. Satu hal yang saya sadari, bahwa berkomunikasi secara ‘asal berbicara’ dengan berkomunikasi sebagai keahlian adalah hal yang berbeda. Siapapun bisa saja ‘asal berbicara’ untuk memenuhi kebutuhan komunikasinya. Gossipmongers, salah satunya. Namun keahlian untuk berkomunikasi yang didasari atas tujuan tertentu, prosesnya tidak instan. Namun siapapun dapat mempelajarinya. Kalau mau!

 


 

Keahlian komunikasi untuk tujuan tertentu seperti public speaking yang memenuhi kebutuhan berelasi secara profesional, sudah harus menjadi kesadaran bersama. Situs laman pengembangan diri profesional muda, Glints Indonesia, menempatkan nomor dua kemampuan komunikasi yang baik dan nomor tujuh kemampuan public speaking dalam sepuluh kemampuan yang harus dimiliki oleh profesional muda. Melihat pentingnya kemampuan tersebut, membangun kesadaran untuk mau belajar, ditempa melalui berbagai platform yang aksesibel, sudah seharusnya bukan jadi alasan untuk nggak bisa ‘pinter ngomong’, ya.

 


 

Berbicara mengenai platfom, selama pandemi ini beragam platform belajar secara digital yang aksesibel. Saya mengikuti beberapa di antaranya untuk mengisi waktu luang termasuk pelatihan Communication Skills dari Stube-HEMAT Yogyakarta. Sebuah kesempatan yang baik dimana pada saat pandemi, intensitas berkomunikasi secara langsung sangat terbatas. Tak ayal, secara tidak sadar kemampuan kita berkomunikasi pun mengalami downgrade. Saya bersyukur mengikuti mentoring ini. Materi yang diberikan pun dengan metode diskusi dua arah. Kami bisa saling berpendapat, saling bertukar masukan bersama mentor. Bahkan dalam kesempatan ini, saya bisa memberi ide saya terkait kesehatan jiwa berangkat dari isu yang saya alami sendiri, terlebih saat pandemi seperti ini. Bagaimana pun, saya menjadi belajar menghargai saat isu yang sangat dekat dalam kehidupan saya boleh dipakai untuk disebarluaskan, yang bisa disaksikan di link
https://youtu.be/ltJH9EnJTYc

 

 

 

Lantas, selain sebagai mental health survivor sekaligus pembelajar komunikasi, dalam mentoring ini menyampaikan pesan secara tersirat bahwa belajar komunikasi itu tidak terbatas hanya secara keilmuan formal saja. Merespon kebutuhan pengembangan diri yang ‘menuntut’ setiap individu harus berjalan dinamis diperlengkapi, terlatih dengan keahlian yang menunjang. Sudah tidak dalam lingkup formal saja, bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan akar rumput seperti komunitas pun merespon kepentingan ini sehingga mewadahinya sebagai tempat belajar. Sebuah apresiasi untuk Stube-HEMAT Yogyakarta karena menumbuhkan kesadaran ini. Apresiasi yang sama untuk segala wadah pesan-pesan kebaikan boleh mudah diakses termasuk kesempatan untuk saling menguatkan pesan kesehatan jiwa yang menjadi perhatian saya. Mengelevasi pengetahuan tentang komunikasi yang dapat diaplikasikan untuk dan oleh segala lini.

 

 

 

Sudah saatnya, kesadaran berkomunikasi tidak dihitung secara kuantitas saintifik saja. Komunikasi di dalamnya memuat sebagai keahlian dalam bernegosiasi, berbicara di depan publik, berdiskusi, berdinamika seharusnya menjadi budaya yang senantiasa dinamis. Bahkan melalui komunikasi individu bisa dapat berkembang citranya. Semua memiliki akses untuk belajar. (Gilang Herdyan S)

 

 

*) Gilang Herdyan Prastomo Suseno, adalah mahasiswa Public Relation UPN Veteran Yogyakarta, berasal dari Boyolali Jawa Tengah, selain di Stube-HEMAT, Gilang aktif di Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC).


  Bagikan artikel ini

Melawan Keterbatasan demi Kemajuan Refleksi peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 3

pada hari Selasa, 19 Mei 2020
oleh adminstube
 

 

 

 

 

 

 

Saya Apronia Dai Duka, dari desa Praibokul kecamatan Matawai La Pawu kabupaten Sumba Timur. Saat ini sedang menempuh pendidikan D3 Keperawatan di Waingapu Sumba Timur. Bisa kuliah adalah kesempatan yang sangat berharga dan berkat Tuhan karena ketika masih SMA saya tidak pernah berpikir untuk bisa melanjutkan di keperawatan, di tengah kekuatiran saya tidak mungkin lolos di antara calon mahasiswa yang ikut tes pasti pintar-pintar, sedangkan kemampuan saya terbatas. Selain itu, orang tua saya tidak mampu secara ekonomi karena untuk kebutuhan sehari-hari pun terbatas. Kenyataannya dengan kesungguhan hati, kemauan belajar dan dukungan orang tua akhirnya bisa kuliah sampai ke jenjang akhir saat ini.

 

 

 

 

 

 

 

Perjuangan belum selesai, bahkan akhir-akhir ini bersamaan dengan merebaknya Covid-19 di belahan wilayah dunia termasuk di Sumba Timur, memunculkan berbagai situasi baru, seperti sosial (social distancing), pembatasan fisik (physical distancing) dan beraktivitas dari rumah (work/study from home). Bagi sebagian orang peraturan yang mengharuskan kerja dan belajar dari rumah itu tidak menjadi masalah bagi mereka yang suka di rumah, tetapi sebagian orang lainnya menganggap itu hal yang membosankan apalagi kalau terjadi dalam waktu lama. Kegiatan perkuliahan pun dilakukan secara online, jadi saya memilih kembali ke kampung halaman meskipun saya menyadari ada tantangan besar dengan kuliah online ini. Betapa tidak, di kampung saya belum ada listrik jadi saya harus berjalan kaki kira-kira 4 km pulang pergi untuk ‘charge’ HP saya, memang capek juga setiap hari. Belum lagi saya harus naik bukit, berpanas-panas di terik matahari demi tersambung jaringan internet tetapi setidaknya saya bisa membantu orang tua bekerja di kebun, namun ternyata aturan di kampung sama seperti di kota, dihimbau untuk di rumah saja.

 

 

Akhirnya saya membaca informasi kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan secara online, jadi saya tertarik untuk mendaftar mengikuti pelatihan Communication Skills dan akhirnya saya terpilih dan senangnya luar biasa. Sulitnya naik bukit untuk mendapat sinyal internet malah menjadi ide dalam video saya di pelatihan ini. Saya beberapa kali mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Sumba, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, yaitu dilakukan secara online, melihat masalah sosial yang ada di sekitar saya dan membuat video. Hasil video saya bisa ditonton melalui link https://youtu.be/r-d2VrnDGIQ

 

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan ini benar-benar menantang karena harus menyesuaikan perbedaan waktu di Sumba dan Jawa (karena ada peserta di satu kelompok yang tinggal di Malang, Jawa Timur), pagi sampai siang pergi ke kecamatan untuk charge hp dan siang sampai sore naik ke bukit panas-panas untuk videocall online, tapi saya senang menjalaninya. Stube Hemat membuka kesempatan saya bertemu dengan orang-orang yang memotivasi dan mendapat pengalaman pengetahuan sekaligus berbagi cerita tentang daerah masing-masing, awalnya saya belum percaya diri ketika berbicara, berubah menjadi berani untuk berbicara dan tidak ragu mengungkapkan masalah kesenjangan yang ada di sekitar kampung halaman saya, seperti kondisi jalan yang rusak, kesulitan mendapat air bersih, belum ada listrik dan tidak terjangkau jaringan komunikasi. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan masyarakat Sumba Timur untuk meningkatkan kemajuan daerah.

 

 

 

 

 

 


Menjadi sukses adalah impian setiap orang namun tak sedikit orang ingin sukses dengan cara yang mudah dan instan. Saya setuju dengan pernyataan bahwa sukses itu butuh proses bukan banyak protes. Ya, untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan memang butuh perjuangan dan perjuangan itu tidak mudah. Bagi saya, sukses itu tidak mengenal tempat dan waktu. Kapan dan di mana saja saya berada ketika saya punya niat untuk belajar dan terus belajar pasti saya bisa. Terima kasih Stube Hemat. (Apronia Dai Duka).


  Bagikan artikel ini

Menjadi Lebih Dari Yang Saat Ini  Refleksi peserta pelatihan Communication Skills

pada hari Senin, 18 Mei 2020
oleh adminstube
 

 

 

 

Awalnya saya belum mengenal apa itu Stube-HEMAT Yogyakarta ketika Kristiani Pedi, penggerak komunitas Ana Tana di mana saya aktif di dalamnya, bercerita tentang pengalamannya mengikuti kegiatan di Stube-HEMAT Yogyakarta. Kemudian ia menginformasikan kepada saya pelatihan Communication Skills yang diadakan Stube-HEMAT Yogyakarta. Saya langsung ok, karena saya sedang mencari kegiatan positif yang dapat mengisi waktu luang saya, selain kuliah online, selama karantina mandiri untuk mengurangi penyebaran Covid-19, daripada rebahan, lebih baik mengupayakan sesuatu yang positif, iya kan?

 


 

 

Saya, Rexine Yeralvany Riwu, berasal dari Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur yang sedang belajar Destinasi Wisata di Diploma Kepariwisataan Universitas Merdeka Malang. Dalam benak saya pulau Sumba atau yang sering disebut The Hidden Paradise merupakan pulau yang kaya akan potensi alam dan budayanya, telah berkembang menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang wajib dikunjungi wisatawan baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Keunikan Sumba inilah yang membuat saya tertarik untuk bekerja dalam bidang kepariwisataan. Selain masih minimnya pekerja pariwisata, mengembangkan kesejahteraan masyarakat melalui industri pariwisata menjadi impian saya. Saya memilih Malang, khususnya Universitas Merdeka Malang tempat saya menempuh pendidikan karena memiliki sarana dan prasarana belajar yang memadai, juga suasana kotanya yang asri sehingga terkesan aman bagi seorang perantau seperti saya.



Pelatihan Communication Skills dari Stube HEMAT sudah mengasah kemampuan berbicara, bahkan di akhir pelatihan ini saya ditantang untuk menghasilkan video pendek yang menghibur (parodi) namun tetap mengedukasi berkaitan Covid-19 atau realitas sosial. Ini sesuatu yang baru dan tentunya merupakan tantangan yang sulit bagi saya karena saya sendiri adalah tipe orang yang serius dan “takut kamera”, saya tidak pandai berakting lucu. Setelah melalui pemikiran dan diskusi yang cukup matang, saya berhasil mengkonsepkan video parodi mengenai Covid-19 dan realitas sosial sekaligus dengan mengusung tema “Dampak Covid-19 dalam Industri Pariwisata”, sebuah video parodi edukasi yang modern dengan konsep yang disukai remaja-remaja milenial. Proses pembuatan video merupakan tantangan yang sesungguhnya bagi saya. Sangat sulit, bahkan saya hampir menyerah. Untungnya, saya terus menerima asupan semangat dari pembimbing saya, Trustha Rembaka dan Putri Laoli, ini hal sederhana namun sebenarnya sangat membantu. Akhirnya saya berhasil membuat video pendek dengan empat adegan sekaligus, tidak sempurna memang, namun membawa perubahan yang sangat besar bagi saya. Terkadang musuh terbesar adalah diri sendiri, dan saya semakin bersemangat mengalahkan sesuatu yang saya anggap “saya tidak mampu”. Berkat ide dan masukan pendamping dan modifikasi ide, lahirlah adegan-adegan untuk video tersebut. Setelah melalui proses editing yang cukup melelahkan, video akhirnya selesai dan diupload di YouTube Channel Stube-HEMAT Yogyakarta.
 

 

 

Pengalaman adalah guru terbaik, saya menemukan sesuatu yang berharga dari pengalaman saya sebagai peserta pelatihan Communication Skills: If you only do what you can do, you’ll never be more than you are now  (jika kamu hanya melakukan apa yang dapat kamu lakukan, kamu tidak akan pernah menjadi lebih baik dari kamu saat ini). Sesuatu yang dulunya saya anggap saya tidak mampu, ternyata dapat saya selesaikan dengan baik. Terima kasih, Stube-HEMAT. (Rexine Yeralvany Riwu).


  Bagikan artikel ini

Meninggalkan Zona Nyaman untuk Berkembang   Refleksi peserta Communication Skills Tahun 2020 gelombang 2

pada hari Senin, 4 Mei 2020
oleh adminstube
 

 

 

 

 

 

 

Awalnya saya tidak mengenal apa itu Stube HEMAT Yogyakarta, bahkan ketika teman-teman di kampus banyak bercerita tentang Stube HEMAT dan kegiatannya. Saya abaikan saja dan berpikir, “Ah, buat apa ikut.” Pada akhirnya saya bertemu langsung dengan Trustha Rembaka dan berbincang banyak tentang kuliah dan pengembangan diri termasuk informasi tentang di Stube HEMAT Yogyakarta, namun yang sangat berkesan adalah Trustha bukan dari Sumba tapi begitu mengenal Sumba daerah asal saya, bahkan dari ceritanya beberapa teman saya di Sumba pun telah mengikuti kegiatan di Stube-HEMAT Sumba. Bagi saya, Sumba merupakan pulau yang menyimpan kekayaan alam yang unik, tidak hanya keindahan alamnya tapi memiliki keunikan lain, seperti adat istiadat, bahasa, religi, dan pesona yang menarik perhatian wisatawan untuk mengunjungi Sumba. Namun dalam perbincangan kami ada wawasan baru yang saya temukan dan ini membuat saya berminat mengikuti kegiatan Stube-HEMAT.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Saya Satridurisa Rambu Kahi, desa Lailara, kecamatan Katala Hamu Lingu, Kabupaten Sumba Timur dan saat ini sedang menempuh pendidikan teologi kependetaan di STAK Marturia Yogyakarta. Tinggal di kota Yogyakarta begitu menyenangkan karena kota ini bersejarah dan istimewa. Ya, walaupun jaraknya sangat jauh dari Sumba, tapi saya belajar untuk menyesuaikan diri, jauh dari orang tua dan sanak saudara, dari situlah saya memotivasi diri semangat belajar. Seorang yang berasal dari daerah yang jauh sangat tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, apalagi perbedaan bahasa, logatnya, bahkan menyapa orang lain. Itu membutuhkan keterampilan dalam menyesuaikan diri .

 

 

Pelatihan Communication Skills ini kegiatan kedua dari Stube Hemat Yogyakarta yang saya ikuti setelah diskusi Multikultur. Pelatihan ini memotivasi dan membentuk diri saya memiliki cara berbicara yang baik bahkan ide kreatif, seperti tujuan pelatihan ini mengasah kemampuan berbicara di depan umum, memiliki teknik public speaking yang baik dan mempelajari syarat public speaking, mampu menggunakan bahasa Verbal (perkataan) dan Non Verbal (gerakan). Di akhir pelatihan saya ditantang untuk membuat video pendek yang menghibur serta berhubungan dengan Pandemi Covid-19. Awalnya saya merasa gelisah dan merasa tidak bisa, membuat dan mengedit video. Saya merasa diri saya sangat terbatas, khawatir dan grogi karena ini pertama kalinya saya membuat video, tetapi saya berpikir kapan lagi ada kesempatan ini dan ide pun ditemukan dengan bimbingan dan motivasi dari pendamping, Erik Poae dan Thomas Yulianto. Akhirnya, saya berhasil membuat video pendek “Jaga Jarak, Bukan Berarti Menjauh”, yang berisi mengenai perubahan-perubahan yang ditemui ketika pandemi covid-19. Video tersebut bisa dilihat di YouTube Channel Stube HEMAT Yogyakarta dengan link https://youtu.be/tcfrLKAMmeQ

 

 

 

 

 

 

Proses ini tidaklah mudah bagi saya, namun dengan adanya pendampingan Communication Skills, dan dukungan teman-teman di asrama, saya belajar bahwa untuk mulai mengembangkan diri itu harus keluar dari ‘zona nyaman’ seperti menghilangkan rasa tidak percaya diri, mengalahkan rasa malas dan selalu belajar dari pengalaman. Ini benar-benar membentuk diri saya bahwa sesuatu diperoleh dari kemauan untuk belajar dan berusaha, nanti ketika pulang di Sumba saya berharap bisa menjadi orang yang lebih baik. Lakukanlah semuanya dengan sukacita, maka kamu akan memperolehnya. Terima kasih Stube HEMAT. (Satridurisa Rambu Kahi)

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook