pada hari Kamis, 23 Mei 2013
oleh adminstube

Workshop Leadership dan Teamwork Pemuda GKJ Kemadang

 
"Wahai Pemuda Bangkitlah...!!"
 

     Apapun bisa dilakukan demi sebuah pelayanan kepada masyarakat dan lingkungan sekitar. Ukuran besar kecilnya pelayanan itu tidak menjadi soal. Banyak sedikit pengabdian yang diberikan tentu akan tetap bermanfaat bagi orang-orang disekitar. Maka, tidak sedikit orang yang berusaha memberikan hidupnya bagi orang lain.
 
     Pada 19-20 Mei 2013, Stube-HEMAT Yogyakarta memberikan pelayanan pendampingan terhadap Remaja Pemuda GKJ Kemadang, Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Workshop tentang leadership dan teamwork ini  diselenggarakan di kawasan Pantai Krakal, Gunung Kidul, yang ditempuh selama 2 jam perjalanan dengan sepeda motor dari sekretariat Stube HEMAT. Dengan suasana yang berbeda, workshop ini tentu saja mendatangkan kesenangan tersendiri bagi teman-teman pemuda yang mengikutinya terlebih Pendeta Kristiono, Suratman selaku majelis, Trustha Rembaka dan Vicky dari Stube HEMAT turut aktif menjadi pembicara dan pemateri dalam acara ini. Suratman, yang akrab dipanggil Pak Ratman mengungkapkan keprihatinannya tentang kehidupan pemuda remaja setempat. Mereka butuh motivasi supaya mampu bersekutu dan melayani Tuhan di gereja dengan penuh semangat. Pemikiran serta gagasan untuk memulihkan kembali semangat kaum muda Kemadang terus-menerus didiskusikan dengan Vicky, salah satu anggota tim Stube-HEMAT yang sedang melakukan praktek kejemaatan di GKJ Kemadang. Bak gayung bersambut, maka dicetuskanlah sebuah kegiatan workshop leadership dan teamwork: Wahai Pemuda Bangkitlah!
 
Empat sesi dalam workshop ini tidak membuat jemu karena materi workshop disalut dalam game-game seru yang menggembirakan. Trustha Rembaka membagikan pemahaman terkait pentingnya kekompakan, koordinasi, dan komunikasi dalam sebuah tim. Dia juga menambahkan, pemimpin dan anggota tim tidak lagi melihat orang lain sebagai lawan tetapi  rekan untuk mencapai cita-cita bersama. Vicky menggambarkan bagaimana nabi dan Tuhan Yesus Kristus memimpin masyarakat menghadapi situasi sulit. Nabi-nabi berinisiatif dan berinovasi membuat terobosan bagi masyarakat. Apa yang mereka lakukan tidak selalu berjalan mulus. Yesus ditolak bangsa-Nya karena idenya tidak dipahami oleh masyarakat waktu itu. Ide-ide nabi-nabi terlalu membahayakan sistem yang telah mapan. Alih-alih melakukan pembaharuan justru mereka dianggap sebagai pengacau stabilitas keamanan. Namun, Tuhan Yesus tetap kreatif dalam membimbing masyarakat. Ia mengayomi. Pelan-pelan Tuhan mengajak masyarakat untuk bebas berkreasi dan berinovasi. Masyarakat disadarkan untuk mau melihat betapa mereka sudah dibodohi oleh kekakuan ritus dan tradisi sehingga menjauhkan mereka dari Allah yang penuh kasih. Selanjutnya dengan bersemangat Pak Ratman menceritakan pengalamannya sebagai ketua pemuda  pada era 2004-2009 yang begitu kompak, getol dan all out menyelenggarakan kebaktian dan pelayanan. Pemuda-remaja yang menjauh didekati dan diberi perhatian. Pemuda saat ini tidak boleh kehilangan semangat untuk guyub dan bersatu. Sementara Pdt. Kristiono di sesi terakhir menegaskan bahwa remaja-pemuda hadir dalam dua lini hidup: pelayanan di gereja “bersaksi, bersekutu, melayani” dan pelayanan di masyarakat seperti kegiatan ekonomi, sosial, dan budaya. Contohnya pengobatan gratis, penyuluhan, atau pertemuan-pertemuan kebudayaan yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Dua aspek hidup inilah yang melekat dalam diri pemuda-remaja sebagai seorang pemimpin.
 
 
     Kata kunci sebagai kesimpulan workshop ini adalah: (1) Pemuda harus bangkit dan melakukan perubahan, (2) Pemuda harus kompak dan pandai-pandai berkoordinasi, cepat, konsisten, dan bekerjasama, (3) Pemuda jangan pernah lupa bahwa pendahulu-pendahulu kita begitu getol menyemarakkan suasana persekutuan, berkreasilah dalam melayani Tuhan, dan (4)  Pemuda tidak hanya melayani Tuhan di gereja, tetapi harus menjadi pelayan-pelayan di masyarakat dan menjadi agen perubahan. ***

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 20 Mei 2013
oleh adminstube

Kunjungan Pendeta Tanah Toraja Mamasa

 

 

 
BELAJAR HAL YANG BERBEDA
 
Pendeta belajar pertanian? Apa tidak salah, atau kurang kerjaan? Ternyata itu kenyataan yang terjadi. Enam orang pendeta dari Tanah Toraja Mamasa menyempatkan diri mampir ke Stube HEMAT Yogyakarta, setelah kurang lebih satu bulan melakukan studi banding di  beberapa GKI di Jawa seperti di Solo, Semarang, Bandung dan Jakarta, mereka berniat belajar dan mengetahui apa itu pertanian organik dan bagaimana membuat pupuk organik sebelum pulang ke kampung halaman di Sulawesi.
 
Dijemput dari penginapan mereka di LPPS Samirono, mereka diantar oleh Direktur Eksekutif Stube HEMAT, Ariani Narwastujati dan salah satu board Stube HEMAT, Pdt. Bambang Sumbodo menuju GKJ Jodhog untuk bertemu dengan beberapa petani di paguyuban petani organik Jodhog. Ketua Majelis GKJ Jodhog, Pendeta Harjono, beberapa petani dan koordinator Stube HEMAT Yogyakarta sudah siap di tempat dan dengan ramah menyambut kedatangan rombongan, dilanjutkan perkenalan, makan pagi bersama dan  share pergumulan dalam mengelola pertanian dengan sistem organik.
 
 
Pendeta Dema Mosu, Pdt. Sakala, Pdt. Piersan, Pdt. Mega, Pdt. Irma, dan Pdt. Murni dari Toraja Mamasa sangat antusias mengikuti sharing berkaitan dengan permasalahan pertanian, karena gereja mereka di Mamasa juga berbasis pertanian dengan jemaat petani. “Wah, bisa-bisa yang saya ingat dari satu bulan kunjungan kami untuk studi banding di Jawa adalah pertemuan hari ini,” kelakar Pendeta Dema Mosu. “Karena kami sangat terkesan bagaimana penanganan pertanian organik di GKJ Jodhog yang sungguh menginspirasi kami yang datang dari pedesaan. Ini adalah hal nyata yang bisa kami terapkan di daerah kami,” lanjutnya saat santap siang bersama mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta.
 

  

Pendeta Piersan berpesan kepada mahasiswa-mahasiswa daerah yang punya kesempatan belajar di Yogyakarta dan mengenal Stube HEMAT, “Kami menjadi pendeta sampai saat ini dengan bekal hanya dari kampus, kami berusaha keras bagaimana menjawab permasalahan di lapangan. Kalian beruntung bisa belajar apa saja selain di kampus dengan dukungan Stube HEMAT. Bekal kalian untuk pulang menjawab permasalahan lapangan  lebih banyak dari kami. Untuk itu jangan sia-siakan kesempatan ini dan kami akan beritahukan ini ke Sinode supaya anak-anak kami yang di Yogyakarta ini bisa mengenal dan aktif di Stube HEMAT.”**
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 5 Mei 2013
oleh adminstube

Program Bahasa Asing (Bahasa Inggris)

 
 
TEST TOEFL? SIAPA TAKUT?
 
Saat ini kebutuhan penguasaan bahasa Inggris di kalangan mahasiswa dan pencari kerja tidak bisa dipungkiri lagi dan bahkan menjadi sebuah kewajiban. Perguruan tinggi maupun perusahaan, baik swasta maupun non swasta mensyaratkan para mahasiswa dan pelamar kerja mempunyai kemampuan berbahasa Inggris dan dibuktikan dengan hasil tes TOEFL, dengan skor minimal 450.
 
 
Melihat kebutuhan ini maka Stube HEMAT  sebagai  lembaga yang bergerak dibidang pengembangan mahasiswa dan pemuda, memberikan kesempatan kepada  para mahasiswa untuk berlatih dan mengasah kemampuan dalam penguasaan bahasa Inggris melalui kelas TOEFL  yang di adakan mulai tanggal 6 Februari 2013 sampai dengan 1 Mei 2013 bertempat di kompleks SMK BOPKRI 2, Bintaran, Yogyakarta. Dengan hanya mengganti biaya fotocopy materi, mahasiswa yang tertarik dan merasa membutuhkan program ini bisa bergabung kelas ini.
 
 
Kegiatan pembelajaran ini mengajak peserta berproses mulai dari perkenalan, tes prediksi awal yang meliputi kemampuan penguasaan tata bahasa, pemahaman bacaan, dan mendengarkan. Selang beberapa waktu proses, peserta mendapat tes akhir untuk mengetahui sejauh mana penguasaan materi TOEFL yang sudah diserap. Selain materi TOEFL, peserta juga mendapat ketrampilan berbahasa Inggris lewat games, role play dan permainan sederhana lainnya seperti permainan tebak-tebakan. Ketrampilan ini memudahkan peserta mengingat dan memahami bahasa Inggris. Didampingi instruktur bahasa Inggris, Kencana Devia Candra kelas TOEFL ini mudah dipahami dan diikuti.
 
Atas (ki - ka): Paulus, Vero, Candra, Sofie, Ina, Trustha
Bawah (ki - ka): Iyot, Yohanes
 
Sebagaimana dicanangkan di awal kegiatan, program ini diharapkan secara langsung membantu persiapan para peserta untuk lebih siap mengikuti ujian tes  TOEFL bersertifikat yang diadakan oleh Pusat Bahasa Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Harapan itu terbukti dari para peserta yang merasa terbantu untuk mengerjakan soal-soal dan mendapat nilai tinggi. Meski beberapa peserta merasa belum puas dengan hasil pencapaiannya, mereka bisa mengukur kemampuan diri dan mengetahui usaha-usaha apa yang harus dilakukan di waktu-waktu mendatang untuk mendapat skor yang memuaskan.
 
Para peserta Kelas Bahasa Inggris Stube-HEMAT Yogyakarta
yang mengikuti TOEFL-Like Test di P4B UGM, 23 Mei 2013
 
Bagi teman-teman mahasiswa yang belum terjangkau program ini harap bersabar untuk bisa gabung di lain kesempatan. Silahkan lihat program-program Stube tahun depan. ***
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook