Dinamika Anggaran Pemerintah & Aksesnya

pada hari Senin, 31 Januari 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Oleh Yonatan Pristiaji Nugroho.          

 

 

Suatu daerah tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah setempat atau pusat, baik berupa sarana dan prasarana maupun anggaran untuk mewujudkan tujuan pembangunan daerah. Bicara mengenai anggaran, tentu istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) akan sering dijumpai. APBD merupakan gambaran rencana kerja pemerintah daerah dalam bidang keuangan di periode tertentu. Berbicara anggaran, anggaran berperan besar bagi suatu daerah maupun organisasi karena anggaran berperan dalam pengembangan potensi ekonomi, kegiatan kewirausahaan untuk mewujudkan kesejahteraan. Apakah realisasi dari APBD sudah terpenuhi oleh masing-masing daerah?

 

 

Pengenalan mengenai anggaran daerah perlu dimiliki oleh mahasiswa, karena pengenalan ini akan membekali mereka untuk mengambil langkah ketika kembali ke daerah asal. Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan diskusi tentang Memetakan Potensi Daerah dan Membidik Dukungan Anggaran Pemerintah Daerah bersama George B.L Panggabean, praktisi dan memiliki pengalaman sebagai anggota dewan (31/01/2022). Belasan mahasiswa dengan beragam latar belakang studi antusias mengikuti diskusi ini, karena mereka tidak mengetahui secara detil pengelolaan anggaran di daerahnya, kesempatan ini menjadi ajang bertanya. Dari titik ini mahasiswa mengungkapkan pengamatan mereka tentang daerah dan kegiatan yang berkaitan dengan anggaran pemerintah.

 

 

Narasumber memaparkan bahwa sistem pengelolaan anggaran pemerintah baik dari pusat sampai daerah itu sudah ada pedoman yang dikeluarkan oleh menteri keuangan. Panduan mengalami perubahan dan perkembangan dari tahun ke tahun, sehingga dinamika anggaran pemerintah itu juga mengacu pada pedoman terbaru atau tahun berjalan. Pemanfaatan APBD ada beberapa jenis, misalnya penerimaan daerah dari Pendapatan Asli Daerah, dari pusat dan pendapatan lain yang sah, sedangkan belanja terdiri dari belanja rutin, barang dan jasa, modal dan belanja lainnya. Kemudian, bagaimana masyarakat bisa mengakses anggaran ini untuk pembangunan di wilayahnya? Pada hakekatnya masyarakat ataupun organisasi/lembaga kemasyarakatan bisa mengakses anggaran tersebut karena pembangunan juga untuk masyarakat. Memang tidak setiap orang tahu tahapan pengajuan, tetapi program itu sudah diusulkan melalui proses usulan, perencanaan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) mulai dari tingkat RT, RW, Kelurahan, Kecamatan dan seterusnya, setelah itu masuk proses  penetapan anggaran. Jadi tidak serta merta mengajukan anggaran suatu kegiatan akan langsung disetujui. Selain itu, rencana APBD dapat diusulkan sesuai prosedur yang ada sesuai tujuan pembangunan daerah, melalui alokasi dana legislatif dan eksekutif.

 

 

Musrenbang dan public hearing atau dengar pendapat menjadi ajang masyarakat memperjuangkan aspirasi program. Public hearing ini bisa dilakukan dengan pimpinan organisasi, lembaga, anggota dewan maupun eksekutif dan jika disetujui akan masuk dalam Rencana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD). Pengajuan program ini akan lebih baik jika sudah dalam bentuk proposal kegiatan. Contoh program yang biasa diajukan masyarakat seperti peningkatan kualitas jalan di desa, sarana penunjang pertanian dan program-program lainnya untuk kepentingan masyarakat lainnya.

 

 

 

Dalam diskusi ini mahasiswa menemukan hal baru berkaitan anggaran dan langkah untuk mengakses anggaran daerah demi ikut ambil bagian dalam pembangunan di daerahnya. Sebagai orang muda dan pelopor untuk masa depan bangsa, harus memulai proaktif melalui beragam organisasi dan keterlibatan untuk pengembangan diri baik dalam forum kecil maupun besar dan semua ini mengarah pada pembangungan daerah masing-masing.


  Bagikan artikel ini

Memperkuat Penghayatan Mahasiswa atas PanggilanNya

pada hari Sabtu, 29 Januari 2022
oleh Daniel
Sosialisasi Stube HEMAT Yogyakarta di Ikatan Kebersamaan Teologi PAK (IKTP) STAK Marturia

 

Oleh Daniel          

 

Mahasiswa punya mimpi untuk berhasil, dan keberhasilan membutuhkan pendukung, seperti pengetahuan, yang dapat menambah kapasitas dirijejaring yang dimiliki mahasiswa untuk meningkatkan keterampilan atau softskills-nya. Bekal untuk menjawab tantangan-tantangan di masa depan bisa didapatkan baik di dalam kampus melalui kegiatan perkuliahan, praktek, organisasi kampus atau perkumpulan kelompok mahasiswa, maupun di luar kampus seperti terlibat di organsisasi kemasyarakatan, dan lembaga peningkatan SDM.

 

 

Sebagai lembaga pendampingan dan pengembangan sumber daya manusia, Stube HEMAT Yogyakarta konsen terhadap mahasiswa, yang diharapkan dapat menjadi pionir-pionir pengembangan sumber daya di daerahnya. Stube HEMAT terus memperluas jejaring kepada mahasiswa dengan mengadakan sosialisasi program Stube HEMAT Yogyakarta bekerjasama dengan Ikatan Kebersamaan Teologi dan PAK (IKTP) STAK Marturia Yogyakarta (28/01/2022) dan diwakili oleh Yuel Yoga Dwianto dan Daniel.

 

 

Beberapa mahasiswa dari STAK Marturia Yogyakarta yang tergabung dalam wadah Ikatan Kebersamaan Teologi dan PAK mengadakan ibadah rutin dan diskusi tentang kegelisahan organisasi di GKSBS. Eri Kristian menyampaikan topik Menghidupkan dan Menghidupi kegelisahan Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS). Dalam diskusi ini, Eri mengawali dengan sebuah pertanyaan, apa yang harus dihidupkan? Dan apakah selama ini belum hidup? Selanjuntya Eri memaparkan Nilai-nilai GKSBS, yang terdiri dari 11 poin: Asketisme untuk BerbagiKeadilan yang BerpihakKeadilan GenderDialog untuk PartisipasiMenguatkan OrganisasiMenguatkan Lembaga Keuangan LokalPendidikan untuk Kecakapan HidupSensitif EthnisAkuntabilitasPerbaikan Ekologi, dan Spiritualitas. Nilai-nilai ini berasal dari GKSBS yang menghayati dirinya sebagai bagian dari konteks Sumbagsel. Kehadiran GKSBS berusaha untuk melayani konteks dengan memproklamasikan diri sebagai gereja daerah. Dari kesadaran akan konteks, GKSBS mengupayakan untuk menghadirkan nilai-nilai yang menjadi pedoman dan arah strategis dari tindakan dan pelayanannya.

Masing-masing peserta mendalami nilai-nilai GKSBS dan memberikan tanggapan, Daniel Prasdika, salah satu peserta yang berasal dari GKSBS Seputih Rahman mendapat nilai Akuntabilitas (pengelolaan atau pemberdayaan yang stabil). Ia menyampaikan beberapa poin penjelasan dalam Akuntabilas, yaitu, pertama, selalu melibatkan sebanyak mungkin para pihak untuk memutuskan arah dan tujuan organisasi atau gereja, dan, kedua, sejarah dan berbagai pekerjaan kita terdokumentasi dengan baik dan semakin banyak para pihak yang tahu dan mau berpartisipasi. Selain itu, pemahaman mahasiswa mengenai nilai-nilai GKSBS akan memperkuat mahasiswa Teologi dan PAK menghayati panggilanNya dalam studi dan pelayanan.

 

 

Setelah diskusiYuel Yoga Dwianto, memperkenalkan Stube HEMAT Yogyakarta kepada para peserta diskusi dengan memaparkan program-program baru di semester ini, antara lain Energi dan Lingkungan: Bertanggungjawab dalam produksi dan konsumsi, dan Pendidikan di Zaman Teknologi Maju. Program lainnya adalah Eksposur Lokal ke Lampung yang membuka kesempatan kepada mahasiswa dari luar daerah untuk mengunjungi Lampung dan mempelajarinya. Ia juga menceritakan pengalaman berpartisipasi di kegiatan di Stube yang bermanfaat bagi dirinya.

Terus bersinergi dan aktif terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa, membentuk mahasiswa menjadi manusia berpengalaman yang siap menjawab tantangan hidup. ***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook