Ubi Adalah Ibu

pada hari Minggu, 18 September 2022
oleh Yuel Yoga Dwianto
Oleh Yuel Yoga Dwianto.           

 

Makan bukan hanya soal mengenyangkan perut. Makan juga bukan hanya sekedar memasukkan makanan ke dalam mulut, dikunyah, dirasakan lalu ditelan. Kini, banyak manusia tak lagi makan apa yang ditanam sendiri, namun makan dari hasil tanaman pihak lain. Bisa jadi di masa depan manusia tidak lagi makan dari yang ditanam di tanah, melainkan dari cetakan mesin serta robot canggih, sehingga pangan lokal yang tradisional dianggap ketinggalan jaman. Itulah kegelisahan bersama  bagi orang yang hidup di negeri subur yang melimpah susu dan madunya.

Harusnya, tanah yang mengubah tongkat kayu jadi tanaman ini mampu menghidupkan dan menghidupi manusia yang tinggal di atasnya tanpa kekurangan. Pangan adalah hal sensitif yang tidak bisa tak terpenuhi. Peristiwa sejarah mencatat, penjajah datang ke bumi Nusantara untuk mencari rempah-rempah dan sumber pangan lainnya. Namun, kini semua telah berubah. Kita dengan bangga mengakui kemerdekaan, tetapi menjadi ironis karena dibarengi dengan kebanggaan bahwa makanan yang berkelas adalah makanan dari luar negeri. Celakanya, tanpa kita sadari, bahan baku makanan tersebut dari negeri kita dan kita terjebak dengan budaya konsumerisme produk luar. Jika demikian, sudahkah kita benar-benar merdeka? Ya, kita sedang dijajah oleh makanan-makanan dan produk-produk impor.

 

 

Sekarang, yang perlu dipikirkan adalah bukan bagaimana menyaingi kekuatan perang negara lain, tetapi  bagaimana negara ini memberi makan rakyatnya dengan pangan yang bibitnya dimiliki rakyat lokal, ditanam di tanah rakyat, dipanen oleh rakyat, dijual dengan harga merakyat, dan dikonsumsi rakyat supaya sehat. Jika itu disadari dan dilakukan, maka kedaulatan tidak hanya pemikiran, melainkan juga kebutuhan pangan.

 

 

 

 

Penulis berasal dari Kotabumi, Lampung Utara di mana Ubi adalah ibarat Ibu yang menyokong kehidupan, karena ribuan hektar ubi dibudidayakan di wilayah ini. Meskipun mengandung sumber karbohidrat tinggi, akar kemakmuran ini tidak begitu diminati sebagai bahan pokok makanan karena dianggap kampungan. Ada beragam jenis ubi-ubian yang tumbuh, namun hanya sedikit orang yangmengolah. Menjadi perenungan bersama saat menggemari makanan impor,  dengan bertanya pada diri sendiri, bagaimana nasib pangan lokal ke depannya? Relakah jika harta kita berupa pangan lokal hilang dan terlupakan?  

Sebagai pemuda lokal, penulis memiliki harapan tumbuhnya kesadaran untuk mencintai pangan lokal dari hasil tanah sendiri karena salah satu kekuatan perang terbaik adalah perut kenyang dan salah satu bentuk kemakmuran adalah lumbung yang tidak pernah habis. Lumbung itu adalah tanah kita, maka janganlah kita bergantung pada lumbung orang lain. ***

 


  Bagikan artikel ini

Pohon Sagu: Rumahku dan Makananku

pada hari Jumat, 16 September 2022
oleh Sarlota Wantaar
Oleh: Sarlota Wantaar          

 

Setiap daerah mempunyai makanan khas masing-masing dan belum tentu makanan tersebut ada di setiap tempat. Salah satunya di tempat saya berasal adapangan lokal yang unik yang menjadi salah satu makanan khas orang Maluku. Tidak semua orang mengetahuinya dan tidak semua tempat ada, hanya ada di daerah-daerah tertentu. Saya, Sarlota Wantaar dari Maluku, sebuah daerah kepulauan yang dikelilingi laut sehingga wajar apabila sebagian besar penduduknya tinggal di pesisir pantai. Tempat saya ini memiliki salah satu makanan khas yang menjadi sumber karbohidrat, yaitu sagu.

 

 

 

 

Sagu atau Metroxylon spadalah tanaman yang tumbuh di daerah rawa-rawa air tawar atau daerah rawa bergambut, daerah aliran sungai, dekat dengan sumber air dan hutan-hutan rawa. Sagu memilki akar serabut yang sangat kuat dan menebal seiring dengan bertumbuh dan berkembangnya pohon ini. Batangnya membesar sesuai dengan pertumbuhan, mencapai tinggi 30 meter, berdiameter rata-rata 35-50 cm, bahkan ada yang berdiameter 80-90 cm, daunnya menjari memanjang mencapai 6-7 meter dan melebar 5 cm dengan berinduk tulang daun di tengah, serta memiliki buah setelah berusia dua tahun dan berbunga ketika usia 10-15 tahun. Kemunculan bunga menjadi tanda bahwa pohon sagu siap untuk dipanen.

 

 

 

 

Dari data Kementerian Pertanian Indonesia, areal sagu nasional seluas 206.150 hektar (2021) yang sebagian besar berupa perkebunan rakyat. Pohon sagu dominan tumbuh di kawasan Timur Indonesia, seperti Papua, Papua Barat, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan SelatanNamun berdasar propinsi, Riau merupakan propinsi yang memiliki kapasitas produksi tertinggi, yaitu 261,7 ribu ton (2020) dibanding Papua 67,9 ribu ton, dan Maluku 10,04 ribu ton. Mengenai potensi lahan,Indonesia memiliki 5,5 juta hektar namun baru dimanfaatkan 5% saja, jadi sebenarnya masih bisa dikembangkan ke depan.

 

 

Ada dua proses mengolah sagu menjadi bahan makanan, yakni secara manual dan menggunakan mesin. Secara manual yaitu pohon sagu yang sudah tua ditebang menggunakan kapak karena pohon sagu sangat besar dan keras, sehingga tidak bisa menggunakan parang. Kemudian, batang sagu dikupas kulitnya, batang sagu ditetak menggunakan pangkur atau pahat secara bertahap dan dikumpulkan. Selanjutnya, proses peremasan menggunakan dua wadah untuk memulai peremasan serut-serut sagu. Setelah wadah disiapkan, kemudian menyiapkan penyaringan yang terbuat dari kain yang halus, setelah semua peralatan siap maka dilanjutkan dengan proses peremasan menggunakan air mengalir. Setelah diremas, dibiarkan atau diendapkan. Hasil saringan atau pati dipindahkan ke wadah, biasanya memanfaatkan daun sagu yang dibuatKetika sudah jadi, maka sagu siap diolah dengan bergai macam seperti membuat papeda yang langsung dimakan sebagai pengganti nasi, digoreng, cemilan, membuat kue, dan pom-pom.

 

 

Pohon sagu, selain untuk bahan makanan,bagian-bagian pohon sagu bisa digunakan untuk bahan bangunanseperti daunnya untuk atap rumah, disebut rumbia. Kemudian pelepah bisa digunakan untuk tembok rumah, seperti rumah adat Maluku yang unik dengan atapnya dari daun sagu.Pemanfaatannya pun semakin berkembang dengan desain yang kreatif. Rumah yang terbuat dari kayu pohon sagu tetap eksis di masyarakat walaupun zaman sudah modern, karena budaya dan semangat untuk melestarikan terus terjaga. Mari cintai dan lestarikan potensi lokal daerah! ***


  Bagikan artikel ini

Menggagas Tour Kopi di Waerebo

pada hari Rabu, 14 September 2022
oleh Eufemia Sarina
Oleh Eufemia Sarina.          

 

Pangan lokal menjadi isu aktual, baik yang terkait budidaya atau pun pengolahannya. Sayang, masyarakat khususnya di desa masih banyak yang belum tercerahkan tentang kekayaan pangan lokal yang dimiliki, bahkan merasa bahwa pangan lokal mereka tidak prospektif. Ini terjadi karena keterbatasan pengetahuan, lemahnya inovasi, rasa ingin tahu yang rendah, malas mengerjakan dan cenderung lebih suka menjadi penikmat saja. Generasi milenial sangat dibutuhkan karena dianggap mampu berinovasi, mengeksekusi, dan mempublikasikan inovasi lewat teknologi.

 

 

Dalam program Keanekaragaman Hayati bersama Stube HEMAT Yogyakarta, anak muda menjadi harapan untuk membangun daerah dengan memanfaatkan potensi pangan lokal. Stube HEMAT Yogyakarta mengantarkan saya dan peserta mahasiswa lainnya yang berlatar belakang asal dan kampus berbeda, melakukan pelatihan dan eksposur di beberapa tempat di kabupaten Gunungkidul untuk membuka pikiran dan wawasan baru mengenai pangan lokal dan prospeknya. Kegiatan ini menjembatani ketimpangan antara teori dan praktek yang dimiliki mahasiswa untuk melihat peluang dan realita kebutuhan di dalam masyarakat.

 

 

 

Saya, Eufemia Sarina mahasiswa STIPRAM asal Manggarai Nusa Tenggara Timur, mengutip perkataan salah satu narasumber, Alan Efendi sebagai salah satu inisiator industri rumah tangga Aloe Vera di desa Katongan, Nglipar, Kabupaten Gunungkidul, yang mengatakan bahwa usaha membutuhkan ilmu dan motivasi, jika gagal harus dicoba lagi. Melalui pelatihan ini saya menemukan pengalaman dan gagasan baru khususnya bagaimana mengolah pangan lokal di daerah saya, khususnya kopi.

 

 

 

Saya ingin melakukan hal yang berbeda untuk desa saya, Waerebo, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang kini menjadi salah satu desa wisata yang mendunia. Saya tertantang melakukan inovasi dengan mengangkat kopi sebagai alternatif tujuan wisata. Mengapa saya memilih kopi sebagai alternatif wisata baru di Waerebo? Jawabannya karena Waerebo merupakan salah satu kampung penghasil kopi terbesar di Manggarai dan memiliki aneka jenis kopi seperti Arabika, Kolombia dan Robusta. Dari pengamatan saya selama ini, wisatawan selalu menanyakan kopi yang disuguhkan kepada mereka, dan masyarakat hanya memberi tahu nama kopi tanpa menunjukkan seperti apa bentuk dan warna kopi yang dimaksud. Dengan menyediakan wahana tour kopi, wisatawan tidak hanya menikmati keunikan Rumah Adat Waerebo dan menyeduh secangkir kopi yang dihidangkan, tapi juga bisa mengalami langsung mulai dari proses pembibitan, penanaman, perawatan, petik kopi dan mengolah kopi yang memiliki proses memilah, menjemur, menggiling sampai menghasilkan bubuk kopi. Sehingga, ketika wisatawan berkunjung ke Waerebo, mereka memperoleh pengetahuan serta pengalaman tentang kopi Waerebo.

 

 

 

Mungkin bagi masyarakat hal ini adalah hal biasanamun kalau dikembangkan, siapa tahu ide ini menjadi daya tarik untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan menjadikan Waerebo sebagai desa wisata kopi impian. Siapa lagi yang akan memulai kalau bukan anak muda Waerebo sendiri? Janganlah ketika selesai kuliah, hanya membawa kertas berisikan nilai tetapi tidak bisa berkontribusi untuk desanya. Selagi masih di Jogja, perluas jaringan, perbanyak wawasan, berorganisasi dan mengenal peluang-peluang untuk dikembangkan di desa. Waerebo, tunggu saya pulang.***

 


  Bagikan artikel ini

Membidik Peluang Peternakan Kambing Perah

pada hari Senin, 12 September 2022
oleh Daniel
Oleh: Daniel.          

 

Sebagai agen penggerak perubahan, pemuda memiliki peran penting dan posisi strategis dalam mempelopori pembangunan desa, salah satunya di sektor peternakan kambing perah. Di Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan tren positif adanya inisiatif melihat potensi lokal melalui pengembangan kambing perah dari hulu ke hilir. Peningkatan usaha kambing perah tidak lepas dari sambutan positif pasar susu kambing walaupun populasinya masih fluktuatif dari waktu ke waktu.

 

 

 

 

Pemikiran di atas terungkap dalam sesi kunjungan belajar di peternakan kambing perah di desa wisata Nglanggeran Wetan, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Ini bagian dari  pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta (Minggu 28/8/2022) di sebagian sesi pelatihan dari ‘Keanekaragaman Hayati: inisiatif pangan lokal’. Di peternakan ini terdapat beberapa jenis kambing perah, antara lain peranakan Etawa (PE), kambing Saanen,dan kambing Sapera, hasil persilangan kambing Saanen jantan dan kambing PE betina, yang merupakan kambing penghasil susu, dengan harga jual susu berkisar Rp. 20.000-Rp.30.000 per liter. 

Jumlah populasi kambing di peternakan tersebut sekitar 15 -20 ekor, dan sedang masa perah dengan hasil susu segar rata-rata 1-2 liter/hari. Selain susu segar, produk susu kambing diolah menjadi beragam olahan susu dengan beberapa varian rasa, permen susu, sabun susu dan lain lain. Pengolahan susu segar menjadi produk turunan akan meningkatkan varian produk dan memperpanjang masa penyimpanannya juga mengangkat harga jual tetap tinggi dengan membuat tampilan lebih menarik.

 

 

Berdasar penelitian United State Departement of Agriculture (USDA), gizi susu kambing Etawa mendekati komposisi sempurna Air Susu Ibu (ASI). Di setiap 100 gram susu kambing mengandung komposisi 4-7% lemak, 3-4% protein, 134, gram kalsium, 4,5% karbohidrat, dan 111 g fosfor. Komposisi kimiawi susu kambing Etawa mengandung protein, karbohidrat, kalori, kalsium, fosfor, besi, lemak, natrium, magnesium, kalium, vitamin A,B1 (IU), B2 (mg), B6, B12, C, D, E, Niacin, V, Asam Pantotenant, Kolin dan Inositol. Kandungan lemak susunya  lebih rendah daripada susu sapi.

 

 

Peternakan kambing perah menjadi peluang usaha yang menggiurkan, karena kandungan susu kambing lebih unggul dibandingkan dengan susu sapi, terlebih gaya hidup masyarakat saat ini yang semakin ‘melek’ kesehatan, sehingga pengembangan peternakan kambing perah dapat menjadi bisnis yang potensial, bahkan, ke depan, pasar susu kambing bisa menyaingi pasar susu sapi.

Anak anak muda di berbagai daerah bisa mengembangkan peternakan kambing perah sebagai alternatif yang menghasilkan yang tidak kalah dengan penghasilan dari pekerjaan kantoran bila ditekuni. Bahkan manfaat akan berlipat jika pengelolaan usaha meliputi hulu ke hilir dan dengan sentuhan teknologi untuk meningkatkan produktivitas susu kambing dan pengolahannya. Capaian lebih jauh adalah terwujudnya swasembada susu kambing.

Kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta berhasil membuat keterhubungan antara anak muda dengan potensi lokal di daerah asalnya dan anak muda menemukan pencerahan untuk mulai memberikan perhatian terhadap potensi pangan lokal dan mengembangkannya. Sukses selalu Stube HEMAT Yogyakarta. ***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook