Mengungkap Pengalaman Melalui Tulisan

pada hari Rabu, 30 Juni 2021
oleh Daniel Prasdika

(Pendampingan Menulis Anak Muda Pondok Diakonia)

 

Oleh: Daniel Prasdika

 

 

 

Kiprah Program Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung sudah berjalan selama satu tahun. Dalam kurun waktu itu beragam kegiatan telah dilakukan untuk memperlengkapi anak muda khususnya di Pondok Diakonia, GKSBS Batanghari, Lampung Timur di bawah pendampingan Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th, sebagai multiplikator. Berawal dari topik Piil Pesenggiri, keberagaman agama, dan kerentanan di Lampung dan potensi-potensi yang bisa dikembangkan, perjalanan satu tahun ini menarik untuk digali bagaimana pengalaman-pengalaman yang ada yang dirasakan oleh multiplikator maupun anak muda yang didampingi.

 

Proses mengungkapkan pengalaman khususnya melalui tulisan membutuhkan keterampilan khusus, agar tulisan menjadi menarik untuk dibaca dan mudah dipahami sehingga penting adanya pendampingan penulisan kepada anak muda di lingkup pelayanan Pondok Diakonia. Dengan inisiatif Daniel Prasdika dan Thomas Yulianto aktivis Stube HEMAT Yogyakarta dan pernah tinggal di Pondok Diakonia maka mereka mengadakan sharing dan bincang-bincang secara virtual bersama multiplikator Stube HEMAT di Lampung, Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th beserta anak muda Pondok Diakonia dan anak muda sekitarnya pada hari Selasa, 29 Juni 2021 sebagai dorongan motivasi menulis.

 

Bincang-bincang yang diikuti dua belas orang ini bertujuan memberikan motivasi belajar dan menulis untuk anak muda di Lampung dan bisa menghasilkan karya tulisan yang mengungkapkan pengalaman dan refleksi dari kegiatan yang diikuti di Stube HEMAT. Dika dan Thomas memulai sharing dengan memperkenalkan diri pernah tinggal di Pondok Diakonia dan saat kuliah di Yogyakarta aktif di Stube HEMAT Yogyakarta. Menulis bisa jadi dianggap "sepele" namun dampaknya luar biasa. Karya tulisan menyampaikan informasi, ilmu pengetahuan, bahkan motivasi kepada orang banyak serta secara tidak langsung menyimpan memori. Menulis sebenarnya hal yang mudah jika ada kemauan, mau belajar dan sudah terbiasa. Selanjutnya beberapa peserta dari Lampung mengungkapkan pengalaman menarik ketika mengikuti  program  Stube HEMAT di Lampung, seperti mendapat hal baru tentang pesan-pesan  moral dari Piil Pesenggiri, berkunjung ke rumah adat Lampung, pertama kali berdialog dengan pemuka agama lain, dan baru menyadari tentang potensi konflik dan potensi alam yang melimpah untuk mendukung perekonomian di Lampung.

 

Trustha Rembaka, S.Th. koordinator Stube HEMAT Yogyakarta sebagai pemateri menyampaikan dasar menulis sebagai kombinasi antara pengetahuan, keterampilan, dan kemauan. Tiga hal ini mendasari seseorang untuk menulis. Menulis sendiri merupakan ekspresi nyata apa yang dilihat, didengar dan dirasakan ke dalam bentuk tulisan. Struktur teks yang bisa digunakan adalah rumus 5W+1H, yaitu when, where, what, who, why, how. Dengan bantuan rumus tersebut tulisan sederhana bisa dibangun dari merangkai kata-kata dalam setiap paragraf nantinya. Bergerak dari ini harapannya anak muda di Lampung mampu mengasilkan sebuah karya dalam bentuk tulisan.

Di akhir perbincangan, para peserta menentukan kesan pesan masing-masing dari kegiatan Stube HEMAT Lampung yang diikuti, untuk diwujudkan ke dalam tulisan. Tulisan-tulisan yang merupakan ungkapan pengalaman itu membantu orang lain belajar, membuka wawasan, mendapatkan inspirasi atau bahkan membangkitkan kekuatan. Jadi, masihkah menunda waktu untuk menulis dan mengungkapkan pengalaman? ***


  Bagikan artikel ini

Tetap Berdisiplin Prokes dan Bersolidaritas

pada hari Sabtu, 26 Juni 2021
oleh Thomas Yulianto

(Seminar PGIW DIY tentang  Manajemen Penanganan Covid 19)

 

Oleh: Thomas Yulianto

 

 

 

Sejak awal tahun 2020, Covid-19 belum berakhir hingga saat ini tahun 2021, justru di Indonesia ada varian Covid-19 jenis baru yaitu jenis Alpha dan Delta dan sudah merebak di Daerah Istimewa Yogyakarta. Varian virus jenis baru ini memiliki gejala yang lebih parah dibandingkan dengan virus sebelumnya. Bagi orang yang terpapar virus jenis baru tersebut akan mengalami demam, sesak napas, batuk kering sampai pada hal buruk yakni kematian apabila tidak tertangani. Mengingat virus Covid-19 ini merupakan jenis penyakit menular, maka diperlukan penanganan penyebaran virus tersebut secara cepat dan tidak bisa ditunda. Sangat disayangkan ketika virus varian baru sudah menginfeksi banyak orang, masyarakat justru enggan untuk bekerja sama memerangi penyebaran virus tersebut. Hal itu disebabkan oleh kejenuhan masyarakat dalam menaati protokol kesehatan demi memutus penyebaran Covid-19 varian baru.

 

 

Dari data kasus Covid-19 meningkat, tercatat di minggu terakhir Juni 2021 mencapai lebih dari 20.000 orang yang terpapar dalam sehari (24 Juni 2021 ada 20.574 kasus), sehingga perlu mendapat perhatian serius. Sebagai bagian dari upaya penguatan masyarakat dalam menghadapi pandemi, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Wilayah (PGIW) Daerah Istimewa Yogyakarta menginisiasi Seminar dan Pelatihan Manajemen Penanganan Covid-19 dan Masalah Kebencanaan Alam di Wisma Immanuel, Samirono, kecamatan Depok, Sleman pada hari Jumat, 25 Juni 2021 dengan mengundang perwakilan gereja-gereja di DIY dan lembaga masyarakat termasuk organisasi mahasiswa.

 

 

Berkaitan dengan topik ini PGIW DIY menyediakan narasumber yang berhubungan dengan penanganan Covid-19 dan Kebencanaan Alam, antara lain Satgas penanganan Covid kecamatan Depok, yang juga sebagai Sekretaris Kecamatan Depok, Wakhid Basroni, S.IP. M.Si., yang mengungkapkan bahwa penanganan pandemi khususnya di kecamatan Depok memang tidak bisa mengakomodir semua karena keterbatasan personil yang ada di kecamatan Depok, sehingga membutuhkan kerjasama berbagai pihak, baik perangkat pemerintah, tenaga kesehatan dan masyarakat sendiri untuk disiplin prokes. Wakhid Basroni mengingatkan bahwa kesadaran diri menjadi kunci. Kepala bagian Promosi Kesehatan Puskesmas Kecamatan Depok, Aditya Sejati S.K.M, M.K.M., memaparkan bahwa virus akan terus bermutasi sehingga untuk mengantisipasi paparan varian baru, tetap pada prosedur kesehatan yang ada termasuk memeriksa ketersediaan air bersih, disinfektan secara berkala, kualitas masker dan alat periksa suhu. Berkaitan dengan kebencanaan, Suparlan dari Yayasan Sheep Indonesia mengungkapkan bahwa Covid termasuk bencana dan diklasifikasikan sebagai bencana non alam, yaitu wabah penyakit. Ada dua sisi yang bisa dilakukan, yaitu penanggulangan bencana untuk menangani virusnya dan pengurangan resiko bencana dengan disiplin prokes dan vaksinasi. Vaksinasi merupakan tanggung jawab pemerintah dan selayaknya didukung. Kenyataannya program vaksinasi disambut baik oleh masyarakat, ada yang masih ragu ada yang menolak tetapi ada juga ingin vaksin tetapi kesulitan mengakses informasinya.

 

Dari seminar ini muncul bahasan tentang anak kost yang terpapar Covid-19 dan diminta pindah oleh pengelola kost, agar penghuni kost yang lainnya tidak tertular. Namun tidak serta merta mudah bagi anak kos untuk pindah secara mendadak dan ini mesti mendapat perhatian apakah tindakan pemilik kost sudah tepat dan bagaimana seharusnya? Pemerintah sudah memberikan fasilitas bagi orang yang terpapar Covid-19 berupa tempat tinggal untuk isolasi mandiri atau memenuhi kebutuhan makan 3 kali dalam sehari, serta vitamin. Akan tetapi informasi tersebut belum tersampaikan secara luas. Perlu sosialisasi lebih terkait fasilitas yang diberikan kepada orang yang terpapar Covid-19 dan masyarakat sekitar, sehingga tidak ada disinformasi antara masyarakat dan pemerintah.

 

 

Pada penghujung seminar, Ketua PGIW DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min., menyampaikan bahwa gereja dan lembaga pemberdayaan masyarakat tidak bisa tinggal diam tetapi memberikan sosialisasi. Selain itu gereja perlu bersikap tenang dalam menangani penyebaran Covid-19 tetapi juga bertindak, karena dalam situasi ini pandemi tidak hanya menyerang fisik tetapi juga psikis, disinilah gereja  hadir untuk menyapa, mendampingi dan hadir meskipun secara virtual atau videocall. Gereja harus bergerak dan gereja harus ‘wani repot’ atau berani bersusah payah. 

Sekarang ini kita perlu melangkah dengan semangat baru untuk saling membantu dan memperhatikan sesama yang mengalami sakit, terpapar maupun isolasi, selain pada kesadaran diri untuk menerapkan protokol kesehatan (prokes). Mari bergerak untuk melindungi diri dan sesama, sekaligus menanggapi panggilan solidaritas kemanusiaan.***


  Bagikan artikel ini

Guyub Rukun Merawat Sumber Kehidupan

pada hari Sabtu, 19 Juni 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

(Wujud Demokrasi Ekonomi Masyarakat Sekitar Gua Maria Tritis)

Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

Di bagian selatan Daerah Istimewa Yogyakarta ada desa yang memiliki tempat wisata religi umat Katolik yang bernama Gua Maria Tritis, tepatnya di dusun Bulu, desa Giring, kecamatan Paliyan, kabupaten Gunungkidul.  Gua Maria Tritis  sebagai salah satu wisata yang dipakai sebagai tempat ziarah umat Katholik  berkaitan erat dengan seorang tokoh sejarah, Ki Ageng Giring,  seorang tokoh yang terkenal pada zaman antara runtuhnya kerajaan Pajang dan berdirinya Kerajaan Mataram yang konon pernah bertapa di gua tersebut.

Dengan adanya tempat wisata tersebut membuka peluang kerja maupun usaha bagi warga sekitar. Hal ini ditunjukkan dari beberapa orang yang bekerja dan bertugas di Gua Maria Tritis yang tidak lain adalah dari warga lokal itu sendiri. Di sisi lain dalam penetapan siapa yang bertugas dan bekerja di kawasan gua, sebelumnya dusun mengadakan pertemuan di balai dusun atau bisa dikatakan musyawarah. Pertemuan itu dihadiri dari perwakilan Kepala Keluarga dan bersama juga Kepala Dusun dan pihak dari Paroki Wonosari. Sebagai contoh dari beberapa pekerjaan, seperti tempat parkir, petugas kebersihan, dan penjual makanan dan pakaian. Sementara untuk orang yang menjaga loket itu dari pihak gereja Paroki Santo Petrus Kanisius Wonosari karena di kawasan gua adalah yang memiliki tempat Paroki Wonosari.

Demokrasi tidak hanya berhubungan dengan politik saja melainkan ada demokrasi sosial budaya dan ekonomi. Politik tidak jauh dari hak milik suara setiap individu dalam memberikan suaranya terhadap aktivis politik yang ada di daerah masing-masing. Dalam sosial budaya, demokrasi ditujukan untuk kesejahteraan sosial dan keadilan. Seperti dalam ekonomi setiap individu juga memiliki hak dalam hal mendapat kesempatan kerja untuk mencapai taraf hidup yang sejahtera. Demokrasi  dalam semua bidang ini saling berhubungan satu dengan yang lain, tidak bisa hanya politik saja yang berjalan, sosial dan ekonomi pun harus ada dalam penerapannya di dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Begitu juga dengan masyarakat sekitar Gua Maria Tritis dimana setiap warga yang ada di desa mendapat haknya untuk memperoleh pekerjaan dan menciptakan usaha mandiri, baik itu dari hasil alam sekitar kawasan gua maupun kreativitas warga itu sendiri.

Keberagaman juga terlihat di tengah masyarakat sebagai bentuk toleransi. Setiap warga yang bekerja di kawasan tempat wisata terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari daerah asal, agama, kebudayaan, dan gender. Semua warga boleh dan berhak ikut bekerja di tempat wisata yang awalnya sebagai tempat ziarah umat Katholik. Tidak hanya itu, warga juga menjaga tradisi dengan gotong royong di kawasan gua atau biasa disebut kerja bakti untuk menjaga keasrian tempat wisata.

Jadi, apakah demokrasi sangat penting untuk diterapkan di masyarakat? Tentu, tanpa adanya demokrasi kita tidak bisa melakukan kewajiban dan mendapat hak kita sebagai masyarakat untuk mendapat keadilan baik itu politik, sosial budaya, dan ekonomi. Masyarakat dapat memerankan dirinya untuk berada di tengah pergumulan dalam aspek politik, sosial, dan ekonomi. Hal ini juga didapat dari peranan demokrasi di masyarakat sekitar Gua Maria Tritis, bahwa demokrasi yang ada tidak memihak kepada satu pihak yang memiliki kekuasaan, melainkan semua warga mendapatkan keadilan dan kebebasan yang tentu berdampak positif bagi setiap individu dan kelompok. Toleransi dalam keberagaman juga harus ditegakkan sebagai nilai kesatuan dan persatuan dalam masyarakat dan Negara. ***


  Bagikan artikel ini

Muku Ca Puu Neka Woleng Curup, Ipung Ca Tiwu Neka Woleng Impung (Bersaudara dalam satu kata dan tekad)

pada hari Jumat, 18 Juni 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Nilai kearifan lokal di Satar Lenda, Manggarai

Oleh Kresensia Risna Efrieno

Melihat realita demokrasi di daerah menjadi kesempatan bagi anak-anak muda menggali lebih dalam mengenai demokrasi yang sesungguhnya. Atau hal ini justru memunculkan pertanyaan, bagaimana idealnya berdemokrasi? Demokrasi sebenarnya sangat luas, mulai dari demokrasi politik, sosial dan ekonomi. Bahkan dari kehidupan kita sehari-hari saja, bisa mencerminkan apakah kita berdemokrasi atau tidak.

 

Idealnya demokrasi adalah menuju kebaikan, kesejahteraan dan kemakmuran bersama di mana pun kita berada tanpa ada pihak lain yang terbebani atau merasa kesulitan. Praktik-praktik demokrasi di setiap daerah pasti berbeda dan memiliki keunikan masing-masing. Di Propinsi Nusa Tenggara Timur, Kabupaten Manggarai, Desa Satar Lenda, praktik berdemokrasi terlihat dalam kehidupan sosial bermasyarakat sehari-hari. Masyarakat Manggarai mengenal istilahMuku Ca Pu’u Neka Woleng Curup, Ipung Ca Tiwu Neka Woleng impung” yang berarti bahwa masyarakat Manggarai sebagai satu keluarga, satu keturunan harus tetap bersatu menjalin sebuah kebersamaan dalam segala perbedaan. Kearifan lokal inilah yang menjadi semboyan masyarakat Manggarai menunjukan sikap berdemokrasi sejak dulu, khususnya demokrasi sosial.

Demokrasi Sosial masyarakat di Desa Satar Lenda yang menurut saya unik adalah Sistem Barter Kerja, atau dalam bahasa daerah adalah ‘Dodo’. Ini adalah sistem kerja yang digunakan oleh masyarakat di desa untuk meringankan beban pengeluaran uang saat sewa kerja. Sistem kerja ini dilakukan dengan prinsip membayar tenaga kerja dengan tenaga juga. Sehingga selain bisa meringankan beban, masyarakat juga menciptakan kehidupan sosial baik dan harmonis. Kebiasaan ini telah dilakukan oleh masyarakat sejak zaman nenek moyang di sana. Kebiasaan ini juga bukan hanya diterapkan dalam sistem kerja tetapi, juga dalam konsep arisan. Jika arisan yang sering dibuat adalah arisan uang, maka di desa saya agak sedikit unik dan berbeda. Ibu-ibu di sana sepakat untuk membuat kelompok Arisan Babi. Setiap tiga bulan sekali satu orang boleh sembelih babi peliharaannya untuk diberikan kepada anggota kelompok lain dengan imbalan uang sebagai gantinya. Kebiasaan ini dilakukan untuk membantu masyarakat yang membutuhkan dan juga untuk menjalin kerjasama dan sosialisasi yang baik antar masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan ini lestari hingga sekarang dan sangat membantu masyarakat di desa yang ekonominya kurang mampu.

 

Manusia tanpa bantuan manusia lain adalah sebuah kemustahilan, itulah mengapa manusia disebut sebagai makhluk sosial, karena manusia satu dengan yang lain saling membutuhkan. Oleh karena itu kebiasaan ini harus terus dilakukan untuk menunjang kesejahteraan manusia dalam lingkungan bermasyarakat. Pemuda di Desa Satar Lenda sebagai penerus generasi mempunyai tanggung jawab untuk meneruskan kebiasaan ini. Salah satu solusinya adalah anak muda harus tetap menjalin hubungan baik dengan sesama pemuda lain, membuat komunitas anak muda, mendiskusikan hal-hal yang berkaitan kebiasaan baik yang ada di desa.  Saling berbagi pergumulan dan mengadakan diskusi rutin, anak-anak muda akan dengan mudah berkerjasama dalam segala hal, baik itu berkaitan dengan kebutuhan ekonomi maupun sosial. Mari lestarikan budaya lokal yang mendatangkan kebaikan dalam kebersamaan dan berdemokrasi dari hal-hal yang kita lakukan sehari-hari.***


  Bagikan artikel ini

Pemilihan Kepala Desa Berdasar Marga

pada hari Kamis, 17 Juni 2021
oleh Sarlota Wantaar

Wujud Demokrasi Lokal di Ohoirenan

Oleh : Sarlota Wantaar

 

 

 

Indonesia memiliki beragam budaya dan banyak pulau yang tersebar di penjuru Nusantara, salah satunya adalah pulau Kei Besar di selatan kabupaten Maluku Tenggara.  Di pulau tersebut ada sebuah desa yang bernama Ohoirenan yang memiliki penduduk lebih dari lima ratus kepala keluarga. Masyarakat yang ada di desa ini memiliki kebiasaan dan budaya yang ada sejak zaman leluhur mereka. Desa ini unik karena Ohoirenan mempertahankan budaya yang dimiliki, karena bagi mereka hal itu sangat penting untuk dilakukan. Salah satu budaya yang unik di desa Ohoirenan yaitu pada saat proses pemilihan kepala desa.  

 

Desa Ohoirenan memilih kepala desa mereka dengan menggunakan sistem demokrasi yang unik karena memiliki adat tersendiri yang berbeda dengan yang dilakukan pemerintah. Mereka menggunakan demokrasi local wisdom’ yang sudah ada sejak jaman leluhur mereka. Kepala desa di desa Ohoirenan dipilih berdasar orang-orang yang memiliki garis keturunan menjadi kepala desa atau pemimpin, jadi bukan sembarang orang bisa mencalonkan diri. Orang tersebut berasal dari salah satu marga yang ada di desa Ohoirenan yaitu marga Rahallus, dan itu pun bukan semua marga Rahallus, tetapi dari kelurga tertentu. Apabila sudah ada calon kepala desa, maka yang menentukan kepala desa itu ada empat marga yang ada di Ohoirenan yaitu marga Rahangmetan, Rahasomar, Wantaar, dan Rahangiar. Empat marga ini diwakili oleh masing-masing kepala marga untuk menentukan siapa yang berhak menjadi kepala desa, praktek demokrasi semacam ini sudah terjadi turun temurun dari dulu sampai sekarang.

 

Pemilihan kepala desa tahun 2019 di desa Ohoirenan, menggunakan proses seperti yang dilakukan leluhur sebagai wujud demokrasi lokal yang ada di desa Ohoirenan. Pada tahun tersebut yang mencalonkan diri hanya satu orang, yaitu Julius Rahallus, sehingga empat marga memutuskan untuk menetapkannya sebagai kepala desa dan dilantik pada tanggal 17 Oktober 2019 melalui proses adat dan pemerintah, yang dihadiri oleh bupati Maluku Tenggara, Drs. Muhamad Taher Hanubun. Dalam sambutannya beliau mengatakan bahwa desa Ohoirenan bisa menjadi contoh bagi desa-desa yang ada di Kei Besar, Maluku Tenggara dalam proses pemilihan kepala desa.

Di Indonesia setiap budaya daerah itu sangat unik karena setiap daerah memiliki adat-istiadat dan praktek demokrasi masing-masing dan tetap dipertahankan. Ini menjadi alasan mengapa pemilihan kepala desa dilakukan dengan cara demokrasi lokal sebagai wujud mempertahankan dan melestarikan adat istiadat yang sudah ada dari leluhur desa Ohoirenan. Sekali lagi, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia beragam dan keberagaman itu indah. ***


  Bagikan artikel ini

Mengasah Tulisan, Mengungkap Praktek Demokrasi Lokal

pada hari Rabu, 16 Juni 2021
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho

Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

Aktivitas menulis sudah jamak dilakukan dari anak-anak sampai dewasa, dengan perspektif dan pemikiran masing-masing dan menulis tidak sekedar membuat tulisan yang sesuai dengan apa yang diinginkan, melainkan berdasar fakta dan diwujudkan menjadi tulisan. Apa yang membuat seseorang kurang berminat dalam menulis? Ada banyak faktor penghambat, salah satunya adalah menemukan ide, seseorang mengalami kebingungan dalam menemukan ide. Penulis yang berhasil adalah mereka yang bisa menemukan ide tanpa menunggu, tetapi ‘mengejar’ ide. Permasalahan yang muncul dari diri sendiri dan lingkungan sekitar dapat menjadi ide dalam penulisan. Berkaitan dengan peningkatan skill menulis Stube HEMAT Yogyakarta mengadakan pelatihan pada hari Selasa, 15 Juni 2021 dan mengundang Endah Nursinta Setyaningsih, M.Pd., praktisi bahasa dan sastra Indonesia dengan pengalaman Manajemen Pendidikan dan sertifikasi guru bahasa Indonesia.

 

Sebagai bagian dari program Demokrasi dari Zaman ke Zaman, Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak mahasiswa untuk membuat karya tulis yang bertema praktek demokrasi di daerahnya. Sepuluh peserta dengan beragam latar belakang studi dan daerah asalnya dari Lampung, Nias, Maluku, Jawa, Manggarai, dan Papua mengamati praktek-praktek demokrasi di kampung halaman dan mengangkatnya menjadi tulisan. Dengan metode ini peserta belajar demokrasi sekaligus ‘mengasah dirinya peka dengan realita praktek-praktek demokrasi di daerah masing-masing. Beragam peristiwa yang menarik dari praktek demokrasi di daerah di Indonesia terungkap dalam tulisan mereka. Pengalaman yang pernah dialami dan kebudayaan dari masing-masing daerah menjadi isi dari tulisan peserta itu sendiri, antara lain bagaimana bermusyawarah untuk mufakat, pemilihan umum, politik uang, otonomi daerah, dan kebersamaan dan keadilan dalam memanfaatkan potensi di daerah.

 

 

Selain mendalami praktek demokrasi, para mahasiswa juga mengenal jenis-jenis tulisan, seperti esai, sebagai tulisan yang membahas suatu masalah, baik yang dialami maupun informasi dari orang lain melalui sudut pandang penulis. Penulisan esai harus didukung  fakta dan opini logis dari penulis sehingga bisa diterima pembaca dengan jelas atau bahkan mengajak pembaca berpikir dan selanjutnya mengajak apa yang harus dilakukan. Jenis berikutnya adalah artikel, dimana tulisan ini bersifat aktual dan mengikuti informasi terbaru dan harus obyektif dengan fakta dan data-data valid atau pendapat ahli. Melengkapi pelatihan menulis ini, peserta diingatkan tentang kode etik penulisan, yaitu hindari plagiarisme, yakni mengambil pendapat atau karya orang lain dan menjadikan seolah karyanya sendiri. Plagiarisme merugikan penulis itu sendiri karena ia tidak tahu apa-apa dengan tulisan tersebut. Lebih baik menulis dengan ide dan pikiran sendiri dan jika mengutip pendapat orang lain harus mencantumkan sumbernya.

 

Dari tulisan-tulisan peserta yang sudah dikumpulkan, narasumber mengatakan bahwa peserta sudah bisa mengemukakan pendapat dari suatu peristiwa dan menganalisis menjadi sebuah tulisan. Secara umum gaya penulisan peserta cenderung ke feature, dengan memadukan berita dan opini dari peristiwa yang terjadi dengan sudut pandang penulis. Tulisan dikategorikan dalam esai deskriptif yaitu mendeskripsikan hal yang terjadi dalam suatu peristiwa dengan fakta yang jelas.

 

Dari kegiatan ini peserta menemukan permasalahan dan keunikan praktek-praktek demokrasi lokal yang ada di daerah asalnya yang sebelumnya tidak diperhatikan, mengajak mereka berpikir, mengasah kepekaan sosial dan emosi terhadap lingkungan sekitar dan menghubungkan praktek demokrasi tersebut dengan kebijakan daerah maupun budaya setempat. Selain itu, peserta mendapat ‘jalan baru’ tentang bagaimana menulis untuk mengungkapkan realita yang telah ditemukan menjadi tulisan yang enak dibaca. Anak muda, lihatlah sekeliling, jemputlah ide dan wujudkan ke dalam tulisan-tulisan.***


  Bagikan artikel ini

Berbagi Kabar Kebenaran di Hari Lahir Pancasila

pada hari Rabu, 2 Juni 2021
oleh Kresensia Risna Efrieno

Oleh Kresensia Risna Efrieno

 

 

 

Pandemi menjadi tantangan masyarakat yang harus dihadapi. Berbagai berita yang beredar menyebabkan kepanikan yang memicu setiap orang mengubah pola hidup, saling waspada, penjagaan keamanan merebak, aktivitas dibatasi dalam lingkaran ketakutan, orang kehilangan pekerjaan, ancaman kemiskinan melanda rakyat. Berita pembagian vaksin menjadi harapan bagi masyarakat, tapi ada pergolakan dan tanda tanya: akankah Corona menghilang dari kehidupan manusia atau kita justru akan hidup bersamanya?

 

Situasi ini membuat kita bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi? Ini tanggung jawab siapa? Di masa pandemi, ruang diskusi menjadi ketakutan bagi setiap masyarakat seluruh pelosok negeri di Indonesia. Oleh karena itu, anak-anak muda didorong untuk berpikir kritis meski pandemi. Stube HEMAT Yogyakarta bersama mahasiswa mengupas dalam Bedah Buku dan Diskusi pada Selasa (01/06/2021) tentang buku ‘Zaman Otoriter: Corona, Oligarkhi, dan Orang Miskin karya Eko Prasetyo, dengan menghadirkan sang penulis sebagai narasumber bersama Pdt. Bambang Sumbodo, S.Th. M.Min, Board Stube HEMAT untuk mengupas buku. Diskusi ini juga sebagai peringatan hari lahir Pancasila ke-76, dimana biasanya peringatan hari lahir Pancasila identik dengan kegiatan seremonial, upacara di lapangan untuk sekolah, mengumandangkan lagu Garuda Pancasila dan baris-berbaris.  Stube HEMAT Yogyakarta melakukan dengan cara berbeda, yaitu bedah buku bersama mahasiswa untuk menambah wawasan dan melek terhadap fenomena di sekitar.

 

Pembukaan diskusi oleh Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube HEMAT, memantik peserta untuk melihat sekitar, mengkritisi dan bertanya pada sumber yang benar, terkhusus di masa pandemi yang mengancam ekonomi dan ancaman disintegrasi bangsa karena paham radikal. Selanjutnya peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Garuda Pancasila untuk membangun kembali kebersamaan sebagai satu bangsa. Sebagai ruang belajar mahasiswa, Stube-HEMAT menyajikan cara diskusi buku yang berbeda, dengan memberi kesempatan mahasiswa menyampaikan isi buku per bagian, serta memberikan beberapa masukan dan juga pertanyaan mengenai isi buku. Bagian prolog, muncul pertanyaan ‘Pandemi atau Kenapa Orang Miskin Cuma Boleh Mati’, menyampaikan awal respon pemerintah terhadap corona di Indonesia, sampai akhirnya kepanikan terjadi di masyarakat. Bagian pertama, Zaman New Orba mengungkap kepanikan di masa corona yang terjadi sekarang identik dengan kepanikan masa Rezim Orde Baru. Bagian kedua, ‘Kekuasaan Otoriter Oligarkhi’ membahas kekuatan yang dimiliki sekelompok kecil yang berpengaruh dalam pengambilan keputusan kebijakan, seolah-olah untuk rakyat namun sebenarnya hanya menguntungkan kelompoknya. Bagian ketiga, ‘Kemiskinan yang diciptakan’ sebagai akibat ketamakan kaum oligarkhi dimana distribusi kesejahteraan tidak merata dan hanya menguntungkan suatu kelompok sehingga terciptalah kemiskinan. Dan bagian refleksi, Otoritarianisme sehari-hari yang merangkum bahwa keberpihakan kepada rakyat belum terwujud dan kebohongan kepada rakyat masih terjadi di negeri ini.

 

 

Sebagai respon bedah buku, Eko Prasetyo sangat mengapresiasi konsep Diskusi Buku  ala Stube HEMAT, dimana mahasiswa yang datang sudah membaca buku sebelumnya dan bahkan memberikan kritikan terhadap bukunya. Ini sebuah dialog yang hidup antara penulis buku dan pembacanya. Eko mengakui isi buku adalah ungkapan pengalaman pribadinya dalam melihat kasus pandemi dan sebenarnya buku ini ditujukan kepada mahasiswa. Menurutnya, masa-masa mahasiswa adalah masa yang paling pas dan tepat untuk menyuarakan tentang idealnya berdemokrasi. Bagaimana mahasiswa sebagai pemuda bangsa yang mempunyai tanggung jawab membela kebenaran, menyuarakan keadilan demi kebaikan, dan kebenaran harus menjadi tonggak kebaikan bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.

 

Lalu, kebenaran seperti apakah yang diharapkan? Mulailah mencoba memfilter dan membongkar kebohongan dari hal-hal yang kecil dan sederhana, berlanjut dengan menyuarakan kebenaran dengan tetap peka dan terus berpikir kritis tentang fenomena-fenomena yang terjadi di sekitar. Pertanyaan reflektif buat peserta dan anak muda pada umumnya: Beranikah anak muda membongkar kebohongan dan menyuarakan kebenaran? Mari buktikan.***

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook