Memperkuat Jejaring untuk Pendidikan yang Lebih Baik

pada hari Rabu, 29 Juni 2022
oleh Trustha Rembaka
Oleh Trustha Rembaka          

 

Pendidikan memegang kunci kelangsungan hidup suatu bangsa karena pendidikan yang berkualitas baik menghasilkan generasi penerus yang mumpuni di tengah kompetisi dunia. Di Indonesia, pendidikan juga mendapat perhatian pemerintah meskipun kebijakan pendidikan berganti-ganti, kualitas stakeholder pendidikan perlu ditingkatkan, sarana dan prasarana pendidikan belum merata. Namun demikian kualitas pendidik dan tenaga pendidik di lembaga pendidikan menjadi salah satu kunci untuk menghasilkan proses pendidikan yang baik dan menghasilkan lulusan yang berkualitas baik, sehingga peningkatan sumber daya manusia pendidik dan tenaga pendidik perlu didukung.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia yang memperhatikan masalah pendidikan melakukan pelatihan untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga pendidik SMA BOPKRI Banguntapan khususnya kerjasama tim dan etos kerja. Kegiatan yang diadakan di Joglo Pasinaon, Kalasan, merupakan tindak lanjut dari program Pendidikan di Era Teknologi Maju dan wujud jejaring antar lembaga (28/6/2022).

 

 

Dalam pembukaan sesi, Stube HEMAT Yogyakarta menampilkan fragmen berupa dialog antara mata, kaki, tangan, dan mulut yang mengklaim dirinya paling penting di antara anggota tubuh lainnya. Namun, sebenarnya mereka sebagai anggota tubuh dengan fungsi yang berbeda, mereka tetap membutuhkan satu sama lainnya. Ini berarti bahwa masing-masing bagian di sebuah organisasi, meskipun berbeda fungsi mereka menjadi sebuah sistem terpadu untuk menggerakkan organisasi tersebut.

 

 

Dalam paparan berikutnya, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd., Direktur Eksekutif Stube HEMAT memandu para guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan untuk menjawab kuisioner untuk memetakan kepribadian masing-masing, khususnya berkaitan etos kerja dan kerjasama tim. Hasil ini mengungkap kepribadian peserta tentang bagaimana bersikap ketika menghadapi masalah dan berinteraksi dengan sesama rekan kerja, bagaimana berperilaku ketika berada dalam tekanan kerja dan perubahan hidup, bagaimana mengambil keputusan ketika menghadapi pilihan-pilihan, dan bagaimana mengoptimalkan bakat yang dimiliki.

 

 

Selanjutnya, Trustha Rembaka, S.Th., koordinator Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta memetakan kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan di SMA BOPKRI Banguntapan. Di sini terungkap kekuatan dalam kombinasi antara guru lama dan guru baru menjadi modal untuk keseimbangan mengajar, kelemahan muncul ketika guru datang dan pergi karena mendapat pekerjaan di tempat lain, peluang nampak dari guru dan karyawan sebenarnya memiliki jejaring yang bisa dioptimalkan untuk mengembangkan dan mempromosikan sekolah, dan tantangan terungkap tentang bagaimana mengelola alumnus untuk mendukung sekolah. Temuan-temuan ini membantu guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan memiliki semangat baru dan komitmen untuk meningkatkan etos kerja dan kerjasama, memanfatkan teknologi, media sosial dan media massa untuk mempromosikan sekolah, mengumpulkan data alumnus dan jejaring potensial.

 

 

Merespon kegiatan ini, kepala sekolah SMA BOPKRI Banguntapan, Endah Nursinta S., M.Pd., mengungkapkan, “Stube HEMAT menjadi salah satu lembaga yang mendukung dalam peningkatan Sumber Daya guru dan karyawan sekolah. Saya berharap kerjasama akan berkelanjutan demi peningkatan kompetensi melalui pelatihan-pelatihan untuk guru-guru dan karyawan SMA BOPKRI Banguntapan.”

Pendidikan yang maju merupakan hasil sinergi berbagai pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, dari internal lembaga pendidikan dan menajerialnya, termasuk pendidik dan tenaga pendidik anak didik, orang tua dan pengelola lembaga, pemerintah dengan kebijakan, pengawasan dan evaluasi, jejaring dari lembaga maupun personal yang terpanggil memajukan dunia pendidikan, dan pemanfaatan teknologi yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Peran Teknologi demi Eksistensi Sejarah

pada hari Rabu, 22 Juni 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Eksposur Museum Diorama Arsip DIY

 

Oleh Kresensia Risna Efrieno.         

 

 

Pernahkah kamu mendengar Diorama Arsip Jogja? Ya, Diorama Arsip Jogja adalah gebrakan baru museum sebagai wahana belajar sejarah Yogyakarta selama 400 tahun. Apa bedanya dengan museum lain? Apa yang menarik di sana? Kemajuan teknologi memaksa segala bidang yang dilakukan manusia beradaptasi dan berinteraksi untuk menerapkannya, dari bidang ekonomi, informasi, transportasi, sosial budaya termasuk dunia pendidikan. Diorama Arsip Jogja menanggapi kemajuan teknologi dengan menampilkan sesuatu yang unik dan menarik, yaitu menggabungkan ulasan sejarah yang kredibelkreativitas seni rupa, dan teknologi maju secara terpadu.

 

 

 

 

Adaptasi dunia pendidikan terhadap kemajuan teknologi menjadi perhatian Stube HEMAT Yogyakarta, termasuk bagaimana mengemas konten edukasi memanfaatkan teknologi. Stube HEMAT Yogyakarta memperkaya pengalaman mahasiswa dengan melakukan kunjungan belajar ke Diorama Arsip Jogja yang terletak di kawasan Banguntapan, kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (21/06/2022). Kunjungan belajar ini membantu mahasiswa mempelajari sejarah Yogyakarta dari 400 tahun yang lalu. Tak hanya paparan narasi, namun juga ornamen yang berkisahsejarah Yogyakarta dengan desain ruang, tata cahaya termasuk desain audiovisual membuat pengunjung seolah-olah dibawa kembali ke masa lampau awal terbentuknya Yogyakarta.

 

 

Di dalam museum tersedia 18 ruang diorama dengan bagian sejarah yang dikemas dengan keunikannya masing-masing, seperti ruang yang menceritakan masa Kebangkitan Mataram dengan visual kehidupan masyarakat masa lalu, masa Kesultanan, yang nampak dengan maket kraton Yogyakarta dan beragam ornamen, masa Pergerakan, yang muncul dengan dekorasi jalur kereta api, masa Kemerdekaan melalui narasi-narasi yang menggugah semangat perjuangan, masa Republik dengan dokumentasi pembangunan Indonesia, dan masa Reformasi muncul dengan video gerakan rakyat termasuk testimoni tentang ketangguhan Yogyakarta melewati gempa dan letusan Merapid. Para mahasiswa antusias mempelajari sejarah dari tampilan museum dan paparan pemandu museum. Tak kurang dari empat puluh lima menit untuk melakukan tour dalam 18 ruangan di Diorama Arsip Jogja.

 

 

Pendekatan teknologi terbukti menjadi sarana yang efektif untuk dunia pendidikan. Sering ada anggapan berkunjung ke museum arsip tentu membosankan karena berisi tentang kearsipan sejarah yang dianggap kuno, berat dan ketinggalan zaman. Namun,dengan berpadunya kreativitas danteknologi yang semakin canggih, kebosanan itu ternyata bisa bertransformasi menjadi sebuah proses belajar yang menyenangkan dan menarik.

 

Siap atau tidak, semua dituntut beradaptasi dengan kehadiran teknologi yang semakin berkembang. Terlebih mahasiswa, skills yang dimiliki harus terus diperbaharuhi sesuai perubahan yang cepat ini. Siapkah? ***


  Bagikan artikel ini

Strategi Menghasilkan Foto yang Berkualitas

pada hari Sabtu, 18 Juni 2022
oleh Thomas Yulianto
Oleh Thomas Yulianto.          

 

Setiap orang menginginkan momen spesialnya tersimpan dengan baik, salah satunya yaitu dengan dokumentasi foto. Namun, pengambilan foto dalam sebuah event atau momen tidak bisa sembarangan, tapi perlu teknik tersendiri supaya foto yang dihasilkan lebih menarik, berkualitas dan bermakna. Seringkali ketika seseorang memotret, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman, ia mengabaikan unsur penting dalam fotografi, sehingga hasil kurang bagus.

 

 

Seiring perkembangan teknologi, kebutuhan dokumentasi foto atau selfie menjadi dominan, dan setiap orang penting untuk memiliki pengetahuan tentang teknik dan etika fotografi, terlebih mahasiswa dalam kuliahnya. Stube HEMAT Yogyakarta membekali mahasiswa keterampilan fotografi dengan tema Membidik dengan Cerdik, Membuat Foto Berbicara bersama Wisnu Aji Satria, seorang fotografer profesional (17/6/2022).

Di bagian awal pelatihan, para peserta mengumpulkan foto-foto dan menampilkannya. Asa, nama akrab Wisnu Aji Satria memberikan masukan berkaitan foto-foto yang ada, antara lain, posisi terhadap cahaya, sudut pengambilan gambar (angle), posisi kamera, dan foto blur. Ia mengungkapkan bahwa situasi ini wajar karena  fotografi adalah seni dan praktek, artinya butuh waktu untuk menjadi terlatih.

 

 

Ia melanjutkan, bahwa pada dasarnya dalam fotografi seseorang mesti mengenali kamera yang dipakai, umumnya ada dua jenis kamera yaitu DSLR (Digital Single Lens Reflex) dan mirrorless, mengenali bagian-bagian kamera dan fitur-fitur yang ada. Seorang fotografer mesti mempersiapkan perlengkapan kamera dengan baik, dari baterai, kartu memori, pemasangan lensa, dan kebersihan lensa. Selanjutnya, melakukan setting kamera sesuai foto-foto yang akan dihasilkan, apakah indoor atau outdoor, static atau gerak, iso kamera, diafragma, shutter speed, dan mengatur titik fokus. Bahkan mempertimbangkan asesoris lainnya yang mendukung pemotretan.

 

 

Berkaitan dengan jenis-jenis foto, ada beberapa macam, yaitu (1) Establishing Shot: yang menampakkan keseluruhan subjek atau lingkungannya, menggunakan long shot atau wide lens), (2) People at Work: yang memfokuskan pada satu aktivitas, menggunakan medium shot, (3) Detail: yang menampilakan detil sebagai kekuatan, menggunakan close up, (4) Portrait: menampilkan wajah yang berkarakter dari subjek, (5) Relationship: menampilkan interaksi, sedang bercakap-cakap atau bekerja: negosiasi, berdebat, dan sebaiknya manusia dengan manusia, (6) Closing: sebagai foto penutup yang menjadi simpulan.

 

 

Seorang fotografer perlu cermat dalam mengantisipasi momen, misalnya objek bergerak atau statis, timing mengambil foto dan gerakan yang menguatkan foto. Selain skills, fotografer juga mesti sadar posisi dan sadar lokasi, misalnya meminta izin kepada pihak yang terkait lokasi untuk pemotretan, bergantian dalam mengambil foto, mencermati obyek foto ketika makan, berbicara dan ekspresi lainnya yang kurang tepat. Sebagai tahapan praktek, para peserta memotret lingkungan sekitar dengan menggunakan metode yang sudah diajarkan. Beberapa hasil foto peserta menunjukkan kemajuan dalam pengambilan gambar, sebagian lain masih membutuhkan jam terbang dalam memotret.

Fotografi merupakan seni dan keterampilan, jadi semakin sering memotret dan mempelajarinya, seseorang semakin terasah dalam mengoperasikan kamera dan menghasilkan foto yang berkualitas. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Pendidikan Karakter Di Era Generasi Digital

pada hari Sabtu, 4 Juni 2022
oleh Aginda Yunita Lawa
Oleh Aginda Yunita Lawa.          

 

Pengalaman belajar atau berinteraksi dengan komunitas yang berbedakan menambah pengalaman dan pengetahuan seseorang. Saya pun mengalaminya. Saya Aginda Yunita Lawamahasiswa dari Atambuakuliah jurusan Manajemen di Universitas Mahakarya Asia Yogyakarta menemukan pengalaman baru ketika mengikuti kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Pendidikan Di Era Teknologi Maju (20-22/6/2022)Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT sebagai lembaga yang bergerak dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, khususnya mahasiswa di Yogyakarta.

 

 

 

 

Saya menemukan pencerahan baru tentang pendidikan, yaitu pendidikan sebagai proses perubahan sikap dan tata laku seseorang maupun kelompok dalam upaya mendewasakan manusia melalui sebuah pengajaran maupun pelatihan. Pendidikan karakter sendiri merupakan proses dimana seseorang belajar untuk mengidentifikasi watak, akhlak atau budi pekerti sehingga mempunyai tabiat dan kepribadian yang lebih baik. Pada dasarnya, pendidikan juga sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia supaya bisa memiliki karakter dan dapat hidup mandiri seperti yang disebutkan dalam motto Stube HEMAT.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang, dimana generasi muda harus terus update informasi agar tidak terbelakang. Konsep inilah yang diangkat oleh Stube HEMAT Yogyakarta dengan tagline “Jangan Biarkan Seorang pun Terbelakang”. Melalui pelatihan ini peserta diharapkan bisa menguasai teknologi, dan tetap fokus pada pendidikan yang berkarakter dan berbudi luhur seperti yang saya temui melalui film bertema pendidikanFreedom Writers, Hichkhi dan Flying Colour, yang menceritakan pentingnya pendidikan.

Di era digital saat ini generasi muda perlu tahu bahwa pendidikan karakter sangat penting sehingga setiap orang bisa menerapkan nilai-nilai moral maupun agama melalui ilmu pengetahuan. Tuntutan bagi generasi muda di era revolusi industri 5.0 antara lain kompetensi diri, jeli memanfaatkan peluang dan berani aktualisasi diri. Stube HEMAT juga mendorong peserta menguasai setidaknya satu dari sekian aplikasi sebagai nilai tambah yang menjadi poin kunci dalam kompetisi dunia kerja.

 

 

Melengkapi pemahaman dan pengalaman saya tentang pendidikan holistik, Stube HEMAT Yogyakarta memperkenalkan salah satu metode belajar Ki Hajar Dewantara, yaitu metode Sariswara. Dalam metode ini materi atau pengajaran disampaikan dengan kalimat, nyanyian dan gerakan yang harmonisKeselarasan atau harmoni yang dialami seseorang dalam pendidikan menumbuhkan pendidikan beretika dan berkarakter.

 

 

Siapakah yang memiliki peran untuk memperhatikan pendidikan? Tentu pertanyaan ini harus saya jawab mulai dari diri sendiri, selain orang tua, guru (sekolah) dan lingkungan. Dalam konteks tempat asal saya dari daerah NTT, khususnya Atambua, pendidikan masih perlu diperjuangkan, sehingga pemahaman baru dari Stube HEMAT membuat saya lebih paham untuk memperhatikan pendidikan di daerah saya dan bisa berbuat sesuatu nantinya. ***


  Bagikan artikel ini

Melek Pangan Lokal: Mudah, Murah, Melimpah

pada hari Jumat, 3 Juni 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh: Kresensia Risna Efrieno.          

 

 

 

Dilihat dari segi kekayaan alamnya, Indonesia adalah negara yang kaya sumber daya alam, bahkan terbukti sejak zaman penjajahan dimana negara-negara lain ingin menguasai Indonesia karena kekayaan alamnya. Kita semestinya bersyukur akan hal itu. Sadarkah bangsa Indonesia akan potensi yang luar biasa ini? Apa yang bisa kita lakukan terhadap kekayaan sumber daya alam tersebut? Siapa yang harus berinisiatif mengolahnya atau dibiarkan begitu saja? Pemikiran ini menjadi titik pijak Stube-HEMAT sebagai lembaga yang concern terhadap anak muda supaya terbuka kesadarannya akan kekayaan bangsa ini dan mengupayakannya untuk kesejahteraan.

 

 

 

Inisiatif untuk melihat kembali potensi pangan lokal menjadi topik diskusi mahasiswa Stube HEMAT Yogyakarta (Kamis2/6/2022) sebagai bagian dari program Keanekaragaman Hayati: Inisiatif Pangan Lokal. Para mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia mengidentifikasi potensi-potensi lokal di daerah asal mereka dan memetakan produk yang sudah dihasilkan. Selanjutnya mereka mendiskusikan produk turunan seperti apa yang bisa dihasilkan darinya. FX Mujiyono, seorang praktisi hadir sebagai narasumber yang membagikan pengalaman mengolah potensi lokal agar memiliki nilai tambah. Hadir juga board Stube HEMAT Pdt. Em. Bambang Sumbodo, M.Min dan Direktur Eksekutif Stube HEMAT Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd.

 

 

 

 

Di awal diskusi para mahasiswa memetakan potensi lokal yang unik dari daerah mereka masing-masing. Ini menjadi langkah awal untuk membawa mahasiswa menyadari kekayaan potensi lokal yang ada di daerahnya. Selanjutnya FX Mujiyono mengungkapkan bahwa Indonesia adalah negara tropis yang kaya hayati dan tambang. Tidak ada hasil alam yang tidak bisa kita olah, termasuk di daerah-daerah. Ia membagikan pengalamannya selama berkiprah mengolah potensi lokal, khususnya di provinsi  NTT, seperti pupuk organik dan pengembangan pertanian, kemudian produk fermentasi dari tanaman buah dan rempah, seperti  anggur, salak, kopi, kayu manis dan pisang. Ia memilih bahan-bahan ini karena prinsip 3 M, yaitu Mudah, Murah dan Melimpah, seperti salak. Fermentasi salak sebagai langkah alternatif yang bisa dilakukan saat panen raya sehingga tetap menguntungkan petani. Temuan-temuan baru pengolahan pangan lokal akan muncul dari kesadaran akan kekayaan pangan lokal dan mencari tahu apa yang bisa dihasilkan sebagai produk turunannya. Produk-produk ini pun punya peluang masuk ke pasar global, dari semangat lokal menuju global.

 

 

Para peserta antusias menyimak paparan narasumber dan merespon dengan tanggapan dan pertanyaan, seperti Mensi, mahasiswa dari Sumba, NTT membagikan pengalamannya. “Di tempat saya jambu mete cukup banyak, tapi kami hanya menjual kacangnya karena kami tidak tahu cara mengolah buahnya untuk bisa menghasilkan sesuatu yang baruKami sering membakar kacang mete untuk menghasilkan minyak.” Selvi Lum, peserta lainnya dari Kepulauan Aru menceritakan buah raja dan buah tongki dari mangrove yang mudah ditemui di kawasan pesisir. Ia juga belum tahu bagaimana mengolahnya supaya memiliki nilai tambah.

Wawasan baru ini akan menggerakkan para mahasiswa memanfaatkan potensi pangan lokal yang dimiliki dan menemukan nilai tambah sebagapoin penting untuk eksis dan mandiri. Indonesia memiliki kekayaan alam yang bisa diolah agar memiliki nilai tambah, tetapi apakah setiap kita mau menyadari dan mempelajarinya?  ***

 


  Bagikan artikel ini

Memahami Ekumenisme Dalam Kemajemukan

pada hari Kamis, 2 Juni 2022
oleh Yonatan Pristiaji Nugroho
Oleh: Yonatan Pristiaji Nugroho

 

 

Bicara mengenai keberagaman, Indonesia menjadi rumah berbagai keberagaman yang mencakup agama, suku, bahasa, ras, budaya daerah dan kehidupan sosial lainnya. Masyarakat dengan banyak perbedaan dituntut memiliki kemampuan toleransi terhadap perbedaan-perbedaan tersebut, terutama toleransi atas keragaman pemahaman keagamaan. Dalam rangka membekali pemahaman mengenai keberagaman, Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan Sumber Daya Manusia khususnya mahasiswa, mengutus Yonatan Pristiaji Nugroho, Thomas Yulianto dan Yoel Yoga Dwianto, S.Th untuk mengikuti kegiatan dialog lintas iman tentang “Membicarakan Ekumenisme Kristiani dan Islam: Apakah Semua Sama?” yang diselenggarakan oleh YIPC (Young Interfaith Peacemaker Community) Yogyakarta dan Komunitas Skolastikat SCJ di Aula Skolastika SCJ (Rabu,1/6/2022).

 

 

Dialog ini menghadirkan narasumber yang berlatar belakang berbeda, yaitu Romo Sigit Pranoto SCJ (Komunitas Skolastikat SCJ), Riston Batubara (Protestan), Ahmad Shalahuddin (Islam) dan Sr. Fernanda CB (Katolik) sebagai moderator. Bertitiktolak dari topik kemajemukan, maka muncullah Ekumenismeyang diartikan sebagai gerakan untuk berjuang dan mendukung persatuan khususnya pada keragaman umat beragama. Para mahasiswa di Yogyakarta dan komunitas keagamaan mengikuti diskusi dengan metode Scriptural Reasoning di mana peserta membaca, memahami kitab suci kepercayaan lain (Yahudi, Kristen, Islam) dan belajar menafsirkannya, sebagai sebuah pembelajaran pemahaman, cara membaca dan mempererat hubungan antar orang dari agama yang berbeda.

 

 

Selanjutnya, Romo Sigit Pranoto SCJ memaparkan pemahaman ekumenisme menggapai tujuan yang sama, yaitu menyatukan, tentu dengan ajaran dan kitab suci masing-masing. Ahmad Shalahuddin, dari YIPC Yogyakarta mengungkapkan bahwa ekumenisme terasa asing bagi umat Islam. Pembelajaran terbaik ekumenisme adalah dari pengalaman nyata kehidupan sehari-hari karena memahamimya tidak cukup melalui teori maupun metode yang ada. Dalam konteks ini, meskipun terdapat perbedaan agama, jika kita membuka identitas sebagai manusia ciptaan Tuhan, maka tidak terpisah oleh apapun karena memiliki kesamaan pikiran dan perasaan sama maka sebagai orang beriman harus menjaga keutuhan ciptaan ini.

 

 

 

 

Beberapa peserta menanggapi tentang ekumenisme, salah satunya adalah Yoel mahasiswa S2, STAK Marturia, yang mengatakan bahwa ekumenisme itu ibarat berolahraga saat sekolah, dimana siswa belajar dan mempraktekkan semua jenis olahraga sebagai keberagaman, tantangan yang timbul bagaimana jika sekolah itu bocor, apa peran ekumenisme akan hal ini? Narasumber merespon pertanyaan tersebut dengan menjelaskan bahwa ekumenisme harus menjadi rumah yang nyaman, yang menaungi berbagai pergumulan keagamaan. Ekumenisme mencerminkan pribadi yang beriman dan terbuka bagi sesama dan masyarakat yang majemuk.

Kegiatan dialog ini membawa pengalaman baru untuk Brian, mahasiswa kampus UII, yang mengungkapkan bahwa kegiatan ini membantu memahami konsep teori ekumenisme menyikapi keberagaman agama, dan bahwa agama lain memiliki hal yang sama seperti yang diajarkan di Islam. Hal ini menjadi capaian diskusi agar peserta bisa memahami makna ekumenisme meski berlatar belakang kepercayaan yang berbeda.

Kenyataan keragaman pemahaman dari masing-masing agama harus diterima sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Kemauan berinteraksi dan menghargai menjadi dasar untuk mewujudkan persaudaraan dan persatuan demi menjaga rumah, agar keragaman tetap aman, nyaman dan saling merangkul dalam keselarasan.***

 


 


  Bagikan artikel ini

Meski Pedalaman, Pemikiran tetap berkemajuan

pada hari Kamis, 2 Juni 2022
oleh Sisilia Lepah
Refleksi Pelatihan Pendidikan di Era Teknologi Maju.          

 

Oleh: Sisilia Lepah.          

 

 

Saya Sisilia Lepah, mahasiswi Universitas Mercu Buana Yogyakarta, program studi Akuntansi. Sebelum kuliah di Yogyakarta, saya tinggal di Mandula, sebuah desa di pedalaman provinsi Sulawesi Tengah. Ketika saya melanjutkan studi ke Kota Pelajar, saya merasa sangat antusias sekaligus khawatir jika bertemu mahasiswa lainnya yang memiliki kemampuan lebih dibanding saya. Awal kuliah saya merasa tenang karena sebagian besar mahasiswa di kampus pertama saya berasal dari Sulawesi. Namun, saya merasa tidak akan berkembang jika terus berada di tempat itu. Akhirnya saya memutuskan untuk berpindah kampus dan bertemu beragam mahasiswa meskipun saya harus berjuang dan berkompetisi dengan mahasiswa lainnya.

 

 

Perjuangan kuliah saya tidak mudah dan saya hampir menyerah dan berpasrah pada nasib seakan semua tidak mungkin. Dulu saya sering mengkambinghitamkan keadaan saya dan mengecilkan diri sendiri, tetapi malah semakin sedih dan drop. Sampai akhirnya saya belajar untuk membuka pikiran dan menerima keadaan untuk fokus pada apa yang bisa saya lakukan. Terlebih lagi, setelah saya mengikuti kegiatan Stube HEMAT tentang Pendidikan di Era Teknologi Maju (20-22 Mei 2022) saya sadar bahwa untuk berubah cara berpikir, menghilangkan ‘mental blocking’, dan mengubah kebiasaan-kebiasan sehari-hari tidak bisa terjadi dalam semalam, melainkan dibutuhkan konsistensi menuju lebih baik. Di era revolusi industri 4.0 manusia dituntut untuk, 1) memiliki keterampilan yang mumpuni untuk berpikir kritis dan memecahkan masalah, 2) kreatif dan inovatif, 3) mampu berkomunikasi dan berkolaborasi, 4) trampil menggunakan media informasi dan teknologi, 5) memahami global citizenship, career dan life skills 6) mencari, mengelola, dan menyampaikan informasi. Penguasaan keterampilan di atas bukan hal yang mudah tetapi membutuhkan pengorbanan waktu, tenaga dan pikiran untuk terus belajar dan berlatih.

 

 

 

 

Tuntutan keterampilan kepada anak muda di era teknologi maju menjadi isu menarik untuk diangkat karena erat hubungannya dengan realita pendidikan di bangsa ini. Ketimpangan kualitas pendidikan di desa dan kota, kesenjangan akses internet antar pulau di Indonesia benar terjadi dan menjadi tantangan untuk menghasilkan generasi bangsa yang berkualitas. Ketimpangan kualitas pendidikan merupakan dampak dari fasilitas pendidikan, kualitas SDM pendidikan dan pola pikir masyarakat setempat, misalnya merasa tidak perlu menempuh pendidikan tinggi, selain itu ada realita anak-anak muda menghabiskan masa muda untuk bersenang-senang, menikah muda tanpa bekal parenting skills dan akhirnya kualitas hidup tidak maju. Kualitas pendidikan menjadi kunci bagaimana kualitas manusia, terbukti dari berita dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/12/29/tentang-indeks-pembangunan-manusia-di-indonesia-jakarta-tertinggi-dan-siapa-terendah tentang Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator penting yang mengukur keberhasilan dalam membangun kualitas hidup manusia yang terukur dari umur atau hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Poin pengetahuan bersumber dari pendidikan. Saya yang berasal dari Sulawesi Tengah menemukan data bahwa daerah saya berada di posisi 25 dari 34 propinsi di Indonesia. Ini membutuhkan upaya keras untuk mewujudkan kualitas manusia yang lebih baik khususnya di Sulawesi Tengah.

Apa yang bisa dilakukan untuk perubahan ke depan, khususnya bidang pendidikan? Menurut saya kesadaran akan pentingnya pendidikan demi terbukanya wawasan baru dan membentuk pola berpikir sangat penting. Pola pikir yang baik akan menghasilkan hidup yang baik pula. Meningkatkan literasi di daerah pedalaman seperti kampung saya, Mandula, dengan membuka sanggar baca dan literasi, kegiatan membaca rutin di sekolah, membaca dan permainan, perpustakaan sekolah selalu terbuka, reward berupa buku, membentuk komunitas membaca dan komunitas menulis, dan beberapa alternatif lainnya.

 

 

Langkah awal saya adalah membuktikan diri menyelesaikan studi dengan baik, terlebih dengan teknologi maju bisa memiliki jejaring  untuk meningkatkan kemampuan diri , yang  bisa menjadi bekal untuk berbuat sesuatu di daerah saya, meskipun di pedalaman tetap bisa mengalami kemajuan. ***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook