pada hari Sabtu, 18 Februari 2012
oleh adminstube
 
 
PROGRAM CAPACITY BUILDING
Eksposur Kiat Esemka
Ajang Peningkatan Kapasitas Mahasiswa
Stube-HEMAT Yogyakarta

Bukan latah dalam eforia mobil nasional apabila mahasiswa yang tergabung dalam lembaga Stube-HEMAT, sebuah wadah yang memfasilitasi mahasiswa dengan program-program pendampingan mahasiswa yang berorientasi untuk memahami dan memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun, bersemangat berkunjung ke Solo dan belajar mengenai perintisan mobil nasional ini. Di tengah kehausan akan keberpihakan pada potensi lokal yang dimiliki serta tuntutan bagi semua orang untuk terus menerus meningkatkan potensi diri, sebanyak 20 mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia ini mencoba menggali informasi dari para aktor pelaku yang terlibat langsung.
 
Proses belajar diawali dari kantor Walikota Surakarta dan berlanjut di Kiat Motor Klaten pada 16 Februari 2012. Meskipun sayang sekali tidak berhasil bertemu dengan branding-icon mobnas, Joko Widodo, mahasiswa terpaksa puas berdialog dengan asisten administrasi Joko Pangarso bersama beberapa anggota Komisi 3 DPRD Lampung Tengah mengenai perkembangan Kota Solo, strategi pembangunan, pemberantasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemasukan asli daerah dan sedikit tentang mobnas.
 
“Ada TPKD, yakni tim pengendali kemiskinan daerah yang membidangi permasalahan kemiskinan di kota ini. Tim tersebut diantaranya Bidang Kesehatan dan Pendidikan dalam bentuk bantuan kesehatan dan pendidikan masyarakat Surakarta. Dinas-dinas teknis dalam melakukan pengentasan kemiskinan adalah penataan lingkungan kumuh dan pemberdayaan masyarakat kecil,” jelas Joko Pangarso menjawab pertanyaan mahasiswa. “Satpol PP kami tidak dilengkapi dengan penthung dan benda-benda yang menyulut kekerasan, tetapi dengan kalimat-kalimat halus untuk merelokasi PKL, komunikasi dan dialog karena pasar tradisional merupakan aset penting kota Surakarta.” Joko Pangarso mengakui bahwa mobnas saat ini dalam tahap branding yang masih perlu ditunjang dengan manajemen produk dan konsumen salah satunya dengan menetapkan mobil ini sebagai mobil dinas.
 
Pertemuan dengan Bachruddin Sukiat dikenal dengan Pak Kiat, di Kiat Motor Klaten menjadi pelengkap proses belajar memahami bagaimana seseorang mengembangkan potensi diri. Pembawaannya yang sederhana, ramah dan komunikatif, membuat para mahasiswa Stube tercengang-cengang dengan kisahnya yang sungguh inspiratif untuk selalu haus berbuat baik bagi bangsa, “Saya hanya sebagai pembuka ‘pintu’ dan nanti generasi mudalah yang diharapkan meneruskan dan terus menyempurnakan,” paparnya dengan berfilosofi niteni, artinya mengamati, nirokke yang berarti menduplikasi secara lebih kreatif dan inovatif menurut ilmunya masing-masing, dan nambahi artinya modifikasi.
 
 
Belajar dari perjalanan kehidupan Pak Kiat dan bagaimana strategi pembangunan Kota Surakarta, membuat mahasiswa Stube lebih bersemangat meningkatkan kapasitas diri di tengah era globalisasi yang menuntut mahasiswa meng-upgrade diri terus-menerus dan berusaha jangan sampai menjadi budak di negeri sendiri. (KUN)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook