Tantangan Kebersihan & Sampah India-Indonesia

pada hari Kamis, 28 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Standar dan capaian kebersihan setiap kota dan tempat relatif berbeda, demikian juga standar kebersihan satu negara juga berbeda dari negara lain. Singapura yang juga dikenal dengan negeri seribu denda misalnya, menerapkan disiplin kebersihan yang sangat ketat. Berbeda dengan Indonesia atau juga India, tempat South to South Exchange Program ini dilakukan, memiliki standar kebersihan yang berbeda. Standar itu dipengaruhi oleh aturan hukum dan kebiasaan dari warga setempat dalam memandang lingkungannya. Sampah yang berserak tidak selalu dipandang buruk oleh warga tetapi dipandang sangat menjijikkan oleh warga yang lain. Di Indonesia, pemerintah menetapkan standar bagi capaian kebersihan dan pemeliharaan lingkungan suatu kota dengan penganugerahan Adipura atau Kalpataru bagi kota yang berhasil mencapai standar tersebut.
 
Empat kota yang kami kunjungi selama melaksanakan program pertukaran ini adalah Bangalore, Mysore, Ooty dan Hosur memiliki ciri masing-masing dalam kebersihan. Bangalore dan Ooty memiliki tantangan untuk menata dan mengelola sampah yang berserakan. Tantangan ini biasa dihadapi oleh kota-kota besar seperti di Indonesia misalnya, Jakarta atau Surabaya.  Usaha tersebut bisa dilakukan dengan memperbanyak tempat sampah bertutup di tempat-tempat umum dengan dikuras berkala. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta misalnya, harus membentuk unit PPSU (Pekerja Penanganan Sarana dan Prasarana Umum), sementara warga Kota Yogyakarta harus berswadaya membayar pengangkut sampah pagi hari, dan pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara harus mengeluarkan Peraturan Daerah untuk mengatur kebersihan di wilayahnya. Pengelolaan sampah ini juga menjadi masukan bagi teman-teman pemuda Indonesia yang sebagian warganya masih  membuang sampah di sungai.
 
Kotoran hewan baik itu yang berupa kotoran burung, anjing, kuda, ataupun sapi juga menjadi tantangan tambahan bagi empat kota ini. Kotoran kuda beresiko pada kesehatan karena kuda tertentu yang terinfeksi bakteri akan menularkan jenis cacing seperti cacing pita, kotoran burung di sebagian bangunan dan tempat banyak dijumpai di Bangalore, kotoran kuda di Ooty, dan kotoran sapi di Hosur. Memang selama teman-teman di India, belum mendengar cerita soal resiko penyakit akibat kotoran ini namun tidak ada salahnya bila kita mewaspadai hal tersebut.
 
Perbedaan pandangan soal kebersihan tidak menutup kemungkinan untuk bersatu dan berbagi cerita. Di situlah kami belajar tentang bagaimana mengelola lingkungan agar sesuai standar yang ditetapkan oleh otoritas kesehatan.
 
Di Indonesia, kebersihan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Pemerintah senantiasa bergumul untuk mencapai solusi pengelolaan kebersihan yang terbaik. Kaum muda juga diharapkan berpartisipasi untuk mengelola sampah yang dihasilkan sendiri. Di India, orang tidak banyak menggunakan plastik bahkan ada pengawasan khusus berkaitan dengan sampah plastik ini, seperti terlihat di Kebun Binatang Mysore, dimana setiap pengunjung harus menunjukkan botol plastik kemasan yang dibawa dan dipastikan tidak dibuang di area kebun binatang tersebut. Indonesia sepertinya lebih longgar dalam menggunakan aneka kemasan plastik dibanding India. Dari situ terlihat bahwa Indonesia juga punya pekerjaan rumah yang berat untuk soal kebersihan dan sampah plastik.
 
Syukur atas kesempatan yang diberikan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Pengalaman untuk berjumpa dengan teman-teman pemuda dari kebudayaan berbeda tentu menambah pengalaman tersendiri dan membuat kami semakin berani dalam mengembangkan daerah. Hal baru akan membuat semangat baru yang bisa dibagikan pada teman-teman pemuda di Indonesia. (YDA).

  Bagikan artikel ini

Anak Muda India dan Permasalahan Sosial

pada hari Rabu, 27 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
“You are what you read” sebuah ungkapan yang ingin menyatakan bahwa dengan membaca maka seseorang akan berwawasan luas dan tahu berita serta isu-isu terbaru, sebaliknya tanpa membaca maka seseorang akan tidak tahu apa-apa. Di tempat asal saya, Sulawesi Tengah, sangat jarang menemukan anak muda yang mau terlibat dengan kegiatan dan isu-isu sosial yang terjadi di lingkungan mereka. Kalaupun ada, tidak jauh dari aksi demonstrasi menuntut sesuatu tanpa diikuti aksi nyata menjawab permasalahan untuk kebaikan masyarakat.
 
Ketika mendapat kesempatan untuk mengikuti program pertukaran ke Bangalore-India, saya sangat takjub dengan anak mudanya yang bisa dibilang sangat peduli dengan permasalahan sosial dengan melibatkan diri dan tergabung dalam beberapa NGO seperti SCMI(Student Christian Movement of India), YMCA (Young Men’s Christian Association), dan YWCA (Young Women’s Christian Association).
 
Ketika bergabung dengan organisasi, anak muda-anak muda ini tidak hanya belajar mengenai isu-isu sosial dan mengikuti pelatihan, tetapi keterlibatan mereka akan mengembangkan soft-skill yang tidak didapatkan di sekolah maupun universitas. Selain itu, ketika bergabung dengan NGO, ada beberapa program yang dilakukan di luar daerah tergantung dengan level program (regional, nasional maupun internasional). Hal ini menjadi kesempatan bagi mereka untuk mendapat pengalaman berkunjung ke banyak tempat melakukan pelayanan dan menambah relasi.
 
India adalah negara plural seperti Indonesia yang tersusun dari beberapa daerah, suku, bahasa daerah, juga budaya yang berbeda. Kesempatan berpergian ke tempat lain dan bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang yang berbeda adalah hal penting untuk dilakukan, supaya saling mengenal satu sama lain, memperkuat rasa persaudaraan dan memperkecil kecurigaan.
 
Pengetahuan dan kecilnya minat dari mayoritas anak muda Indonesia untuk bergabung dengan organisasi menjadi salah satu faktor mengapa banyak anak muda yang kurang peduli dengan lingkungan sekitar atau pun permasalahan yang sedang terjadi. Manfaat bergabung dengan organisasi juga memberi nilai tambah ketika seseorang memasuki dunia kerja karena saat ini tidak hanya ijazah dan nilai yang dilihat, melainkan juga pengalaman dan aktivitas di luar yang dilakukan. Ada banyak organisasi dengan program yang bisa diikuti sesuai dengan minat, seperti hak asasi manusia, pemberdayaan pemuda, pendampingan terhadap anak berkebutuhan khusus, komunitas lintas agama, peduli lingkungan, dll.
 
Berkaca dari SCMI dan anak muda di India, perlu diakui bahwa kepedulian anak muda di Indonesia tentang permasalahan sosial di sekitar masih perlu ditingkatkan. Untuk itu generasi muda penerus bangsa perlu terus didorong mengikuti pelatihan dan bergabung dengan organisasi yang akan memberi tambahan wawasan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan sosial kemasyarakatan yang ada. (JMNP).

  Bagikan artikel ini

Berlalu-lintas di Bangalore dan Sekitarnya

pada hari Selasa, 26 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Menyusuri jalan seputaran kantor SCMI hingga gedung parlemen India di Bangalore menjadi pengalaman tersendiri bagi kami semua rombongan dari Stube HEMAT Indonesia. Bagi yang baru pertama datang ke kota ini akan merasa was-was baik ketika berjalan atau pun menyeberang karena begitu padatnya kendaraan lalu lalang di sepanjang jalan di kota ini. Bunyi klakson yang riuh terdengar tak kenal berhenti, menambah hiruk pikuk suasana lalu lintas yang padat tersebut. Bunyi klakson mereda ketika kami mengunjungi kota-kota kecil di sekitar Bangalore, India. Memang setiap negara memiliki cara tersendiri dalam mengatur sistem transportasinya. Departemen yang diberi tanggung jawab mengatur transportasi, mengemban tugas yang tidak mudah mulai dari merancang, mengatur, mengawasi, dan mengendalikan. Peraturan lalu lintas menjadi tolak ukur apakah jalur kendaraan berjalan mulus atau tidak.
 
Bangalore memiliki transportasi yang cukup padat dan kurang teratur meskipun pemerintah setempat terus berusaha mengatasi permasalahan ini. Banyak regulasi dikeluarkan untuk memperbaiki sistem transportasi, seperti setiap kendaraan komersial wajib memiliki fitur ABS (Anti-lock Braking System), gelar razia bagi pengemudi yang mabuk, dan memasang mesin pengukur batas kecepatan di berbagai tempat. Transportasi antar kota dan antar provinsi pun menjadi jauh lebih baik dengan dibangunnya jalan-jalan tol sebagai penghubung.
 
Beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa pengguna kendaraan di India mengalami kenaikan dengan seiring kenaikan pendapatan negara dari pajak kendaraan. Pemerintah juga menerapkan kenaikan pajak untuk mobil mewah, mobil besar dan sport utility vehicles(SUV) pada tahun 2017. Peraturan pembelian dan pembayaran pajak kendaraan pun tidaklah sulit. Melalui sistem Registration Card (RC) atau STNK, berlaku untuk 15 tahun, jadi pemilik tidak perlu memperpanjang tiap tahun.
 
Diakui banyak orang bahwa kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai dan Bangalore, memiliki penataan jalan yang lebih baik dibandingkan kota-kota kecil. Sikap peduli terhadap peraturan pun lebih besar ditunjukkan oleh orang-orang di kota seperti berhenti saat lampu lalu lintas menyala merah, meskipun bunyi klakson masih terdengar di sana-sini, sayangnya kesadaran memakai helm saat berkendara masih kurang diperhatikan. 
 
Pengalaman melakukan perjalanan dari Bangalore ke Ooty, sebuah destinasi di daerah pegunungan selatan Bangalore menunjukkan bahwa transportasi publik seperti bus umum banyak tersedia dengan fasilitas bus yang memadai dan nyaman. Kereta api, bajaj, dan taksi online pun cukup banyak tersedia untuk memudahkan masyarakat mendapat fasilitas transport dengan harga terjangkau serta banyak pilihan.
 
Mengamati dan berhati-hati adalah poin utama bagi setiap orang yang sedang mengunjungi negara orang lain terutama saat berlalu-lintas. (ITM).

  Bagikan artikel ini

Menu Sehat Ala India Bangalore – Mysore – Ooty – Hosur

pada hari Senin, 25 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
Kesempatan berkunjung ke India tidak hanya memberi kesempatan belajar program kegiatan mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta dan SCM India, tetapi juga mengetahui kerajinan dan kuliner yang ada di India, khususnya kuliner yang ada selama di Bangalore, Mysore, Ooty dan Hosur. Pengetahuan awal tentang makanan di India adalah makanan yang khas dengan rempah-rempah. Hal ini tidak berbeda dengan kenyataan yang ditemui selama di India, tetapi yang membedakan adalah aroma dan rasa makanan yang cukup asing dengan makanan yang biasa dikonsumsi di Indonesia.
 
Makanan di India pada umumnya vegetarian, tanpa daging dan lebih banyak sayuran dan kacang-kacangan. Bisa jadi ini pengaruh dari tradisi Hindu sebagai budaya dan agama mayoritas India. Awal pengalaman dengan kuliner India adalah Dosai, makanan sejenis serabi tawar yang dibuat dari tepung beras fermentasi, sebagai sumber karbohidrat, dilengkapi dengan Masala, yang terbuat dari kentang yang direbus dan ditambah rempah-rempah.

Nasi seperti di Indonesia memang ada, dimasak dengan cara dikukus ditambah dengan kayu manis, ketumbar, kapulaga dan biji-bijian lain. Olahan lain dari beras yakni dengan cara direbus dengan santan atau dengan kunyit. Makanan lainnya yang mengandung karbohidrat adalah Idli, makanan yang mirip dengan apem atau bakpao yang terbuat dari tepung beras. Nasi di India juga bisa diolah menjadi nasi Briyani dari beras Basmati yang bentuknya panjang dan cenderung kering.

Sumber protein diperoleh dari sayur dan kacang-kacangan yang diolah dengan santan atau dengan rempah. Beberapa jenis kacang yang diolah adalah semacam kacang kedelai, lentil dan kacang panjang. Selain itu ada daun-daunan sejenis ubi yang diolah menjadi sayur seperti rendang. Sebagai penyegar, tersedia yoghurt susu ditambah mentimun, tomat dan bawang merah yang diolah menjadi semacam acar. Ini memang menjadi penyegar saat makan tetapi belum tentu cocok bagi beberapa orang.
 
Minuman Chai tea merupakan minuman sehari-hari di India. Sebenarnya ini bukan teh biasa layaknya di Indonesia, tetapi lebih pas disebut susu direbus dan ditambah teh. Setiap berkunjung ke suatu tempat sajian minumnya adalah teh susu meskipun juga ada minuman lain seperti kopi, susu, air mineral dan lainnya. Ooty merupakan kawasan perkebunan teh di India bagian selatan dan memproduksi teh dengan kualitas eksport. Bakwan Jagung dan Ladu yang terbuat dari tepung, susu dan madu, serta aneka manisan buah bisa ditemui di daerah ini.

Cara penyajian makanan pun menjadi hal yang menarik. Selain sendok garpu jarang digunakan, menikmati makan dengan piring datar untuk masakan kare, piring/mangkok aluminium, bahkan dengan alas daun pisang yang bisa dipakai ulang, memperkaya pengalaman para mahasiswaPenggunaan daun pisang untuk sajian makanan merupakan salah satu konsep untuk kembali ke alam.
 
Selain mengenal dan menikmati makanan dan minuman yang benar-benar baru, ada tambahan pengetahuan tentang komposisi makanan dan minuman dari jenis-jenis bahkan makanan dan rempah-rempah vegetarian yang menyehatkanPerlu diakui bahwa Indonesia yang kaya jenis tanaman dan rempah-rempahnya, belum semuanya termanfaatkan sebagaimana diolah dan disajikan di India. Pengalaman ini menjadi dorongan untuk mencoba menemukan sumber-sumber rempah dan makanan yang sehat bagi masyarakat di Indonesia. (Trustha Rembaka).

  Bagikan artikel ini

Menelusuri Jejak   Nenek Moyang Sumba di India

pada hari Minggu, 24 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 

Buku sejarah “Masyarakat Sumba dan Adat Istiadat”, (1976) tulisan Umbu Hina Kapita mencatat bahwa jaman dulu beberapa orang India tinggal dan menetap di Sumba bahkan hidup berdampingan dengan masyarakat Sumba. Bahkan bisa dikatakan sebagian besar orang Sumba berketurunan India. Sejarah juga mencatat bahwa pohon lontar yang saat ini banyak tumbuh di Sumba berasal dari India. Buku tersebut meyakinkan saya bahwa Sumba memiliki keterhubungan dengan India. Melalui Stube-HEMAT Yogyakarta, saya diberi kesempatan untuk mengikuti program South to South Exchange Program ke India dari tanggal 19 Desember – 28 Desember 2017. Program ini memberi kesempatan saya sebagai orang Sumba untuk menelusuri jejak nenek moyang kami sebagaimana disebutkan dalam buku sejarah tersebut.
 
Semua berawal dari kota Bangalore yang selanjutnya bergerak ke kota-kota kecil lainnya, tempat-tempat peradaban hingga ke pedesaan dan berdialog dengan masyarakat setempat. Banyak pengalaman menarik yang didapatkan, namun ada satu hal unik yang saya lihat dan amati dari kebiasaan dan gaya hidup orang-orang yang ada di sana. Mulai dari bentuk fisik, cara berpakaian, hingga cara berdialog dengan orang lain. Secara fisik, rata-rata orang India berhidung mancung, berkulit gelap kehitaman dan rambut bergelombang sebagaimana pada umumnya ciri fisik orang Sumba. Cara mereka bicara pun mirip dengan orang Sumba, bersuara tegas dan terkesan sedikit galak. Cara berpakaian sama persis dengan yang dilakukan kaum laki-laki di Sumba yakni memakai kemeja sebagai atasan dan memakai sarung atau kain yang dililit di pinggang sebagai bawahan dan ada syal yang diikat di kepala, sementara untuk kaum wanita memiliki perbedaan sedikit, yakni kaum wanita India memakai Sari, di wanita Sumba memakai Sarung. Di bidang pertanian, sebagian masyarakat India memiliki tanaman pohon lontar sama seperti di Sumba. Cara memanfaatkannya pun juga sama yaitu untuk kerajinan, gula lontar, minuman lontar, dan jaman dulu helai daun lontar dijadikan sebagai lembaran untuk menulis. Bahkan ornamen dinding corak kuno memiliki kemiripan dengan memakai simbol-simbol binatang seperti kuda, burung, buaya, dan udang.
 
Bagaimana mereka bisa sampai ke Sumba dan untuk apa? Buku yang berjudul “Atlas Pelabuhan-Pelabuhan Bersejarah di Indonesia” terbitan Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kemendikbud RI, 2013, menuliskan bahwa sebagai Negara maritim, perjalanan sejarah Indonesia di masa lampau terkait erat dengan aktivitas pelayaran dan perdagangan laut yang berkembang sejak awal abadMasehi. Sumber-sumber sejarah mencatat bahwa komoditas perdagangan seperti kapur barus, kayu manis, lada, cengkeh, sangat diminati para pedagang asing sejak lama. Hal ini berakibat bandar-bandar pelabuhan nusantara ramai dikunjungi pedagang asing seperti, Cina, India, Arab, juga pedagang Eropa seperti Portugis, Spanyol, Belanda dan Inggris. Hampir semua daerah di Indonesia dimasuki oleh para pedagang asing dan yang sering masuk ke wilayah Nusa Tenggara yaitu pedagang dari India dan Cina yang dilakukan sejak berdirinya kerajaan Majapahit. Kebutuhan akan kuda-kuda yang berkualitas untuk Majapahit didatangkan dari pulau Sumbawa sejak abad ke 15. Pelayaran dilakukan dengan menyusuri laut Cina Selatan melalui selat Malaka menuju pulau Jawa atau Kalimantan dan kemudian bergerak ke arah Timur menyusuri laut Jawa menuju ke Bali, Lombok dan terus ke Kupang hingga ke Timor termasuk Sumba untuk mencari kayu cendana dan ditukarkan dengan barang-barang dari luar seperti kain Gujarat, barang-barang logam dan manik-manik.
 
Sejarah telah mencatat perjalanan orang India ke Indonesia dan meyakinkan saya bahwa memang benar-benar ada hubungan antara budaya India dan Sumba. Saya termotivasi untuk tetap membina jejaring dengan teman-teman di India. (Elis)

  Bagikan artikel ini

Menuju Satu Bahasa Persatuan India

pada hari Sabtu, 23 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
 
 
Tidak diragukan lagi, India memiliki keragaman yang luar biasa, dengan luas areal terbesar no 7 di dunia dan terbesar kedua berdasarkan populasinya, India memiliki berbagai bahasa yang tersebar di 29 daerah utama di India dengan lebih dari 1600 bahasa lisan dengan bahasa resmi yang berbeda di setiap daerah. Ada total 23 bahasa resmi yakni; Assam, Bengali, Bodo, Dogri, Inggris, Gujarati, Hindi, Kannada, Kashmir, Konkani, Maithili, Malayalam, Marathi, Meitei (Manipuri), Nepali, Odia, Punjabi, Sanskerta, Santali, Sindhi, Tamil, Telugu, dan Urdu.

Sangatlah indah dilihat dari sisi kekayaan bahasa dan budaya dalam satu negara. Dengan adanya pluralitas ini, orang-orang mau tidak mau dilatih untuk lebih toleran pada orang lain. Namun terkadang dengan terlalu banyaknya bahasa hanya di satu negara, muncul segmentasi di satu negara, kurangnya persatuan dan rasa patriotisme, juga ada banyak kesalahpahaman setiap kali percakapan terjadi dalam kehidupan sehari-hari.


Saat ini pemerintah India terus mengkampanyekan penggunaan bahasa Hindi sebagai satu bahasa resmi. Keputusan memilih bahasa Hindi dengan beberapa pertimbangan bahwa bahasa ini mudah dan sederhana, juga memiliki banyak pengguna di India. Di sisi lain, pemerintah juga tidak ingin multibahasa di India menjadi hilang. Dengan menggunakan bahasa Hindi, pemerintah berharap bahwa orang akan mudah mempelajari bahasa itu sendiri, orang-orang akan dapat dengan mudah saling berbicara tanpa kehilangan bahasa mereka sendiri. Keputusan menjadikan bahasa Hindi sebagai bahasa resmi pasti telah dipertimbangkan sisi baik dan buruknya sebelum akhirnya benar-benar dipublikasikan. Dengan adanya bahasa Hindi sebagai bahasa resmi India tidak berarti bahwa mereka harus selalu menggunakan bahasa Hindi. Mereka dapat selalu memiliki kesempatan berbicara dengan bahasa daerah mereka sendiri, sementara untuk percakapan dengan orang-orang dari daerah yang berbeda, mereka bisa saling berbicara dengan bahasa Hindi dengan mudah.
 
Namun, banyak orang di India tidak dapat benar-benar menerima keputusan ini. Ada banyak alasan untuk menolaknya seperti kekuatiran tentang kesulitan dalam belajar bahasa Hindi, kekuatiran tentang kepunahan bahasa mereka sendiri, dan lain-lain. Sebagai contoh, banyak orang di daerah Tamil Nadu menolak menggunakan Bahasa Hindi sebagai bahasa resminya, karena mereka berpikir bahwa bahasa Tamil sebagai bahasa resmi mereka sekarang, sudah jauh lebih tua dibandingkan dengan bahasa Hindi. Mereka sudah menggunakan bahasa Tamil dalam waktu yang sangat lama, dan mereka sama sekali tidak berpikir untuk mengubahnya. Mereka juga berpikir bahwa dengan menggunakan bahasa Hindi, bahasa Tamil akan berada dalam bahaya kepunahan.
 
Sampai saat ini pemerintah India terus mengkampanyekan penggunaan bahasa Hindi sebagai bahasa resminya. Dengan menggunakan satu bahasa resmi, kesalahpahaman akan berkurang, sistem pendidikan akan jauh lebih efisien, rasa persatuan, patriotisme, dan cinta tanah air di kalangan masyarakat India pun akan meningkat, dan banyak manfaat lain. Mungkin kesadaran masyarakat akan meningkat dengan kampanye yang lebih menarik, seperti penggunaan baliho, papan jalan, dan semboyan-semboyan yang menunjukkan bahwa memiliki satu bahasa resmi bisa membawa begitu banyak manfaat, seperti yang kami rasakan di Indonesia. Selamat berproses teman-teman di India menuju satu bahasa persatuan. (Getza).

  Bagikan artikel ini

Teologia Dalit: Wujud Cinta Pada Sesama (South to South Exchange Program to SCM India)  

pada hari Jumat, 22 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
Mengunjungi India dengan segala macam kompleksitasnya mengantar kembali ingatan akan sebuah pemikiran teologis yang berpihak pada kaum terpinggir, tidak diakui dan bahkan tidak dianggap ada. India, dengan latar belakang sejarah yang amat panjang, wilayah yang sangat luas, dan jumlah penduduk yang amat besar mencapai hampir 1,5 milyar, menjadi karakteristik dari negara ini. Mengurus wilayah yang luas dan berpenduduk banyak, sungguh hal yang tak mudah, lebih-lebih jumlah penduduk miskin tercatatmencapai 70%. Kesulitan juga harus dihadapi dengan struktur masyarakat yang kompleks karena adanya pembagian kasta sejak ratusan tahun yang lalu sampai saat ini, yang membagi kelompok masyarakat kedalam kasta Brahma (kaum elit), Ksatria (pegawai), Waisya (pekerja), dan Sudra (kaum jelata dan miskin).

Teologia Dalit merupakan pergumulan gereja di India yang amat panjang setelah melihat kemiskinan yang terstruktur yang amat sulit ditembus karena struktur kemiskinan dimasukkan dalam ajaran keagamaanBanyak yang merasa tidak nyaman dengan lahirnya pemikiranTeologia Dalit karena kuatir pemikian ini akan merobohkan ajaran agama yang sudah menjadi doktrin kaku bahkan doktrin harga mati. Sebagaimana diketahui bersama bahwa budaya dan agama menjadi kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sebagaimana “Hindu adalah India dan India adalah Hindu”Danbagi saya Teologia Dalit adalah Theologia in Locoatau Local Dalit Christian yang revolusioner, yang dilakukan melalui proses penyadaran. Teologia Dalit berbeda dengan Teologia Pembebasan di Amerika Latin yang menggunakan metode frontal, melawan dengan segala macam cara untuk merobohkan penguasa atau sistem yang menciptakan ketidakadilan.
 
Teologia Dalit terilhami dari kedatangan misi Kristen yang datang ke India seperti Portugis, Belanda, khususnya Inggris. Walaupun mereka menjajah, tetapi peranan gereja yang ikut ke India sangat dirasakan, khususnya pelayanan diakonia, seperti sekolah, rumah sakit dan panti asuhan, ditambah hadirnya ibu Theresa di Kalkuta. DasarTeologia Dalit diambil dari Lukas 4:18-19, yang berbunyi “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.”
 
Hasil dan buahTeologia Dalit sangat terasa di India, seperti; demokrasi, peningkatan persamaan  hak, keberhasilan masyarakat kelas bawah dalam dunia pendidikan dan selanjutnya menjadi agen perubahan masyarakat menuju hal yang lebih maju. Salah satu bukti nyata Teologia Dalit adalah SCMI.
 
Di Indonesia, sekitar 40 tahun yang lalu juga muncul theologia yang hampir sama dengan Teologia Dalit yaitu Teologia Keseimbangan yang didasarkan dari 2Korintus 8:11-15 yang berbunyi, ”11 Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. 12 Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. 13 Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. 14 Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. 15 Seperti ada tertulis: "Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan."
 
Salam cinta dan damai untuk India. (Bambang Sumbodo).

  Bagikan artikel ini

Meraup Inspirasi Di India (South to South Exchange Program to India)

pada hari Kamis, 21 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
India merupakan salah satu negara tetangga Indonesia yang memiliki perkembangan teknologi informasi yang pesat yang diperhitungkan dunia. Hubungan kerjasama dan solidaritas antar kaum muda kedua Negara yang terletak di kawasan Asia ini diharapkan bisaterjalin dan memberi kontribusi pada Negara masing-masing demi tercapainya tujuan pembangunan internasional, sebagaimana tertuang dalam SDGs, Sustainable Development Goals. Tentu saja, Negara dengan penduduk terbesar no 2 dunia ini juga memiliki permasalahan sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakatnya.

South to South Exchange Program to India yang didukung sepenuhnya oleh Ecumenical Scholarship Program-Brot-fuer-Die Welt, Jerman,pada 19-27 Desember 2017 dilaksanakan untuk mendukung hal-hal tersebut di atas, khususnya memfasilitasi bertemunya kaum muda dari dua negara tersebut. Delapan peserta dari Indonesia yang terdiri dari,Bambang Sumbodo, Ariani Narwastujati, Trustha Rembaka, Yohanes Dian Alpasa, Indah Theresia, Elisabeth Uru Ndaya, Jimmy Nover Putu dan Anggita Getza Permata mengikuti kegiatan diskusi dan eksposur bersama Student Christian Movement di India(SCMI).
 
Bangalore,
Kota ini menjadi titik awal dari semua kegiatan mulai daripenyambutan, pengenalan satu sama lain, dan sesi Rev. Godson, pendeta Gereja Methodist di India, yang meneliti manfaat pohon palem/lontar (B. Flabellifer).Pohon ini dikenal sebagai tanaman tuak, lontar atau siwalan di Indonesia. Dalam dialog dengan mahasiswa, Stube HEMAT memaparkan kegiatan dan dinamika melayani anak muda Kristen di Indonesia. Selanjutnya aktivis SCM India memaparkan SCMI sebagai organisasi oikumenis pemuda tertua di India karena dibentuk sejak 1912 dan tentu berpengalaman melayani kaum muda di India berdasar kasih Kristus kepada setiap umat manusia. Aktivitas SCMI ada di tiga belas wilayah di India dari tingkat unit lokal di kampus, gereja dan kota, wilayah dan nasional.

 
 
 
Merayakan Natal bersama keluarga besar SCM Indiamenjadi momen yang indah untuk dikenang. Talentaanak-anak, pemuda dan mahasiswa berupa tarian, nyanyian dan drama ditampilkan. Tak ketinggalanmahasiswa Stube-HEMAT Indonesia mempersembahkan senidrama dan nyanyian. Pesan natal disampaikan oleh Prof. Kiran Jeevan dari St. Joseph College, Bangalore, yang mengajak setiap jemaat merenungkan kembali, sudahkah melakukan hal baik untuk orang lain. Natal, 25 Desember 2017, Stube-HEMAT mengikuti kebaktian di gereja St. Mark Church, Bangalore.Gereja ini banyak mendapat pengaruh dari Inggris, baik itu arsitektur dan aliran gereja.


 
Komunitas AhmadiyyaBangalore memberi kesempatan kepada peserta berdialog antar iman. Aliran ini sering mengadakan kegiatan sosial dan kerja sama dengan komunitas multikultur lainnya di kota ini karena mereka ingin menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang penuh cinta kasih untuk umat manusia di dunia, bukan aliran radikal yang identik  dengan terorisme.
 
 
Perlu diakui bahwa kota ini memperhatikan ruang publik dengan banyak taman kota yang ditumbuhi rimbunan pohon meskipun lalu lintas di kota ini simpang-siur dan berisik dengan bunyi klakson kendaraan.

Mysore,
Dalam perjalanan menuju Mysore, masih dalam lingkup Karnataka, peserta Indonesia-India mengunjungi kuil Sri Nimishamba di mana pengunjung wajib melepas alas kaki bahkan saat masih di halaman. Ada satu papan pengumuman yang menarik di sini berkaitan batasan penggunaan plastik di area kuil


Istana musim panas Sultan Tippu menjadi kunjungan berikutnya. Dibangun tahun 1784, istana ini tetap terjaga keasliannya sama halnya dengan Gereja Katholik St. Filomena yang megah dan terawat.

Sri Chamarajendra Zoological Garden merupakan kebun binatang yang luas dan teduh, tempat Sultan Tippu memelihara hasil buruannya. Kebun binatang ini juga melakukan kontrol ketat atas penggunaan botol plastik minuman yang dibawa pengunjung.




 
Akhirnya, Amba Vilasa palace, istana Sultan Tippuyang megah dengan pilar-pilar raksasa, pintu berukir dan lukisan di langit-langit istana menyambut ribuan wisatawan yang dibuat tercengang-cengang oleh keindahan bangunan dan benda-benda peninggalannya.


Ooty,
Kota ini berada di dataran tinggi di negara bagian Tamil NaduIndia bagian selatan. Perjalanan bus dari Bangalore ke Ooty yangbiasanya 7 jammenjadi 12 jam karena kemacetan lalulintas. Jalanan yang ditempuh lurus dan berkelok-kelok melewatikota, pedesaan, ladang dan taman nasional Bandipur dan Mudumalai.



Ooty yang terletak lebih dari 300 km selatan Bangalore menjadi tujuan wisatawan karena memiliki tempat-tempat menarik seperti kebun teh, danau, pembuatan coklat dan penyulingan eukaliptus.Banyaknya pengunjung dengan kendaraan roda empat di jalan sempit dan berkelok dengan kiri tebing kanan jurang di perkebunan teh menyebabkan kemacetantotal. Kawasan ini perlu ditata ulang sarana jalan dan daya dukung kawasannya.


Hosur,
Kehidupan masyarakat pedesaan India menjadi pembelajaran berikutnya dengan mengunjungi Hosur, sebuah kota kecildi negara bagian Tamil Nadu, 45 km timur Bangalore. Rev. Sudhakar Joshua, pendeta CSI (Church of South India) di Hosur menjemput dan memandu peserta Indonesia-India berkunjung ke sebuah gereja desayang dibangun pada tahuin 1908, yang masih masih digunakan sampai sekarang. Beberapa perabotan dan prasasti menunjukkan usia tua gereja ini.

Ada keunikan yang ditemukan ketika mengunjungi sebuah rumah penduduk di desa Edayanallur, mereka menyiram halaman rumah dengan air campuran kotoran sapi agar rumah steril dari serangga. Mereka antusias menyambut dan berdialog meski baru pertama bertemu. Selain itu mereka juga menunjukkan kebun mawar yang menjadi mata pencaharian salah satu keluarga di situ. Meski mereka tinggal dalam keterbatasan, mereka tetap memiliki pengharapanuntuk kehidupan di masa mendatang.

 
 

Sungguh sebuah perjalanan yang menginspirasi untuk terus menjaga kehidupan dalam harmoni. (TRU).




  Bagikan artikel ini

Mengabdikan Ilmu Mencerahkan Masyarakat

pada hari Senin, 18 Desember 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki konsekuensi logis bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, ribuan pulau berarti keberagaman penduduk dan budaya, flora fauna dan sumber alam, di sisi yang lain beresiko kesenjangan pembangunan antar wilayah yang mempengaruhi kehidupan masyarakat dan ekonominya. Banyak anak muda menyadari realita ini dan berusaha meningkatkan kualitas dirinya melalui pendidikan dan melanjutkan studi di kota lain, salah satunya di Yogyakarta.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah yang studi di Yogyakarta memberi kesempatan kepada mereka untuk memikirkan daerah asal mereka melalui program Eksposur Lokal yang berupa pemetaan potensi dan tantangan daerah, membuka jejaring di daerah dan menerapkan ilmu mereka. Ada tiga mahasiswa menjadi peserta tahun ini, siapa saja mereka?
 
Erik Puae,
Mahasiswa Manajemen Informatika dan Komputer di Bina Sarana Informatika, Jakarta Selatan tetapi bersemangat mengikuti pelatihan di Stube-HEMAT di Yogyakarta. Ia berasal dari desa Puao, Wasile Tengah, Halmahera Timur, Maluku Utara. Minatnya untuk ikut ekposur lokal muncul ketika melihat masyarakat desanya mengalami kelambatan pembuatan surat-menyurat dari desa. Ternyata perangkat desa setempat belum terampil menggunakan komputer untuk mengetik surat-menyurat. Ia menawarkan pelatihan komputer kepada perangkat desa supaya keterampilan mereka meningkat. Namun kegiatannya tidak berhasil karena perangkat desa tidak memberikan jadwal pelatihan tersebut.


Akhirnya ia mengubah target peserta pelatihan kepada anak muda di desanya dan siswa-siswa SMK Marhaen. Ada dua puluhan anak muda dan pelajar antusias mengikuti pelatihan komputer dasar, yaitu mengoperasikan komputer dan mengetik. Mereka belajar dalam beberapa kelompok dan menyesuaikan waktu yang mereka miliki, karena di antara mereka harus sekolah dan bekerja. Saat ini ada peserta pelatihan yang telah mempraktekkan keterampilannya sebagai pengetik di sebuah sekolah.
 


 
Angela Saleilei,
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan di STPMD APMD Yogyakartaberasal dari desa Saureinu, Sipora Selatan, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ia memiliki perhatian terhadap lingkungan di desanya karena penduduk masih membuang sampah sembarangan bahkan di sungai. Tak jarang penduduk yang tinggal di dekat sungai mengeluh karena sungai kotor sehinggatidak bisa untuk mandi. Letak kandang ternak yang mayoritas dibangun tepat di belakang rumah penduduk juga perlu penataan ulang, sehingga ia berpikir untuk memberi pencerahan kepada penduduk untuk peduli lingkungan dan kesehatan.


Ketika ia berinteraksi dengan penduduk, iamengalami kesulitan mengajak mereka berpartisipasi dalam sosialisasi kebersihan lingkungan. Ini disebabkan rendahnya kesadaran penduduk terhadap lingkungan, bahkan termasuk mahasiswa setempat yang mestinya memiliki pemikiran lebih maju. Meskipun demikian pemerintah desa Saureinu mendukung kegiatannya dengan memberi kesempatan untuk presentasi. Pemerintah desa akan mengajak masyarakat untuk bekerja sama dan berpartisipasi menciptakan lingkungan desa Saureinu yang lebih bersih di waktu yang akan datang.


 
Nastasya Derman,
Gadis muda dari desa Gardakau, Benjina, Kepulauan Aru, Maluku. Desanya merupakan kawasan kepulauan sehingga fasilitas pendidikan tidak merata, bahkan pulau di mana Tasya tinggal hanya ada Sekolah Dasar, jadi anak-anak harus bersampan melintasi laut untuk melanjutkan sekolah di SMP. Ini mendorong Tasya, seorang mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta memanfaatkan liburan dengan mendampingi belajar anak-anak sekolah di desanya maupun melalui jalan-jalan keliling desa melalui hutan bakau dan pesisir pantai, bercerita dan menulis ulang apa yang dilihat dan membaca buku.
 

 

 

 

Anak-anak antusias mengikuti kegiatan tersebut karena Tasya mengajar dengan cara dan pendekatan yang berbeda, suka memuji, belajar langsung ke alam dan memberi ruang berekspresi melalui tulisan dan gambar. Para orang tua pun merasa senang karena anak-anak bersemangat untuk belajar dan menemukan pengalaman baru tentang pelajaran dan lingkungan sekitar mereka tinggal.

 


Pengalaman yang menarik, bukan? Ini saatnya anak muda mengabdikan ilmu dan mencerahkan masyarakat, meskipun sederhana tetapi kualitas hidup masyarakat meningkat. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Menangkap Makna Kehidupan   dari Kraton Yogyakarta

pada hari Senin, 27 November 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Sabtu, 18 November 2017, hari yang dinantikan oleh mahasiswa dan aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta untuk belajar tentang Kraton Ngayogyakarta, sejarah dan peran dalam perjuangan bangsa, pendidikan,kebudayaan, dan kehidupan. Siti Amirul, salah satu staff wisata kraton memandu peserta menuju Gadri Kasatriyan sambil menjelaskan bagian-bagian kraton yang dilalui seperti bangsal Srimanganti untuk menanti kehadiran Sultan, bangsal Trajumas untuk mendengar pertimbangan dari Sultan, Panitrapura atau administrasi Kraton dan Prabayeksa atau kedhatonsebagai bangunan utama kraton. Meski berusia lebih dari 200 tahun, kraton masih digunakan sebagai kompleks tempat tinggal raja sampai sekarang dan tercatat sebagai bangunan warisan dunia oleh UNESCO di tahun 1995.
 
Rombongan Stube HEMAT Yogyakarta disambut ramah olehKPH Yudohadiningrat dan KRT Rinto Isworo yangmembuka dialog dan mengungkapkan rasa senangnya atas kunjungan ini. Ariani Narwastujati, direktur Stube-HEMAT, menyampaikan rasa terima kasih setinggi-tingginya karena rombongan mahasiswa ini mendapat ijin berkunjung dan belajar tentang Kraton Yogyakarta. Mahasiswa dari berbagai latar belakang studi, suku dan asal daerah merasakan bahwaYogyakarta memiliki toleransi yang sangat baikdengan menerima mereka belajar di kota ini, tentu saja Kraton Yogyakarta menjadi bagian yang menarik untuk dikenal lebih dalam.
 
KPH Yudohadiningrat dengan jelas memaparkan sejarah Kraton Ngayogyakarta yang berawal dari perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang menyatakan bahwa kerajaan Mataram dibagi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dipimpin Susuhunan Paku Buwono dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dipimpin Pangeran Mangkubumi, yangkemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
 
Dalam mengawali pembangunan pusat kerajaan Ngayogyakarta, Pangeran Mangkubumi mendapat ‘bisikan’ tentang sebuah tempat yang suci dan bersihyang berada di antara gunung Merapi dan pantai Parangkusumo, terletak di antara beberapa sungai, yaitu Winongo, Bedog dan Progo di sebelah barat dan Code, Gajahwong dan Opak di sebelah timur. Ketika ditemukan, lokasinya berupa hutan belantara yang bernama hutan Beringan, dengan  desa kecil bernama Pacetokan. Sembilan Oktober 1755 merupakan awalusaha membuka hutan dan membangun pusat kerajaan. Pembangunan selesai pada 7 Oktober 1756 dan mulai ditempati oleh keluarga kerajaan. Tanggal ini dicatat sebagai hari jadi kota Yogyakarta.
 
Bangunan Kraton Ngayogyakarta terdiri dari beberapa bagian, yaitu Kedaton atau Prabayeksa (sedang renovasi), bangsal Kencana, regol Danapratapa, pendhapa Srimanganti, regol Srimanganti, bangsal Ponconiti, regol Brajanala, Siti Hinggil, Tarub Agung, pagelaran, alun-alun lor dengan 64 pohon beringinBagian belakang ada Siti Hinggil Kidul, alun-alun kidul, plengkung Nirbaya dan panggung KrapyakBerbagai tanaman sarat makna ditanam di kraton misalnya, di tengah alun-alun utara ada dua beringin, beringin timur bernama Janadaru (cahaya kemanusiaan) dan beringin barat bernama Dewadaru(cahaya ilahi). Poholainnya ada pakel, kweni, pelem, burahol, tanjung, sawo kecik, gayam, danasem. Keunikan lain adalah sumbu imajiner dari Gunung Merapi, Tugu pal putih, Kraton Yogyakarta, panggung Krapyak dan pantai Parangkusumo. Keunikan ini membuat Yogyakarta masuk daftar the City of Philosophy dari UNESCO.
 
Di lingkungan kraton ada abdi-abdi kraton yang bekerja tulus dan ikhlas untuk kraton. Mereka mengenakan baju khusus, yaitu ‘peranakan’, ikat kepala dan tanpa alas kaki. Ini artinya para abdi kraton adalah bersaudara dan hidup dalam kesederhanaan tanpa membeda-bedakan meskipun memiliki latar belakang pendidikan, agama dan usia yang beragam.
 
Menjawab rasa ingin tahu mahasiswa tentang Yogyakarta dan keistimewaannya, KPH Yudohadiningrat menjelaskan tentang Gubernur dan wakil Gubernur yangadalah Sultan dan Paku Alam yang bertahta. Sejarah Keistimewaan ini berawal di tahun 1945, kesultanan Yogyakarta menyatakan bergabung dalam Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menetapkan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa melaui UU 3/1950 dan diperkuat dengan UU no 13/2012. Konsekuensinya adalah perubahan Yogyakarta dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional, sehingga Sultan sebagai gubernur pun mengikuti periode jabatan per lima tahun dan diangkat kembali untuk lima tahun berikutnya.
 
Berkaitan pertanyaan mahasiswa tentang apakah Sultan harus laki-laki, KPH Yudohadiningrat mengungkapkan bahwa Sultan Hamengkubuwono X ingin menjadi teladanuntuk masyarakat tentang seorang raja atau sultan yang memiliki satu istri, tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, terlebih berdasarkanbuku-buku Kraton tidak pernah ditemukan keharusan ataupun aturan yang menyatakan bahwa raja harus laki-laki, tetapi justru ditemukan tulisan Sultan Hamengkubuwono V yaitu Serat Puji, yang memuat ‘seyogyanya raja kraton itu laki-laki, akan tetapi apabila sultan yang bertahta tidak memiliki anak laki-laki dan hanya ada perempuan maka perempuan itu berhak menjadi raja.’ Jadi, dasar utama adalah siapa sosok yang baik, mampu mengayomi dan membawa kemakmuran untuk masyarakat.
 
Di dalam dialog itu pula terungkap ada falsafah hidup dari Sultan Hamengkubuwono I, yaitu mangasah mingising budi, ambasuh malaning bumi, dan hamemayu hayuning bawono, yang artinya mempertajam kepekaan hati, membersihkan kotoran yang ada di bumi dan melindungi dan memelihara keselamatan dunia. Bahkan lebih mementingkan karya untuk masyarakat daripada ambisi pribadi.
 

 

Kunjungan di Kraton Yogyakarta membawa mahasiswa menemukan tidak hanya bangunan dan simbol-simbol tetapi juga warisan nilai-nilai kehidupan yang terus dihidupi sampai saat ini. Mari anak muda, seiring belajarmu di Yogyakarta, temukan nilai-nilai kehidupan dan wujudnyatakan dalam kehidupan sehari hari yang bermanfaat untuk masyarakat. (TRU).

  Bagikan artikel ini

2 Jam, Lebih Dekat dengan Teman-Teman UJB

pada hari Kamis, 23 November 2017
oleh Stube HEMAT
 

Setiap pelatihan yang dilakukan oleh Stube selalu memiliki kesan yang berbeda bagi setiap pesertanya. Ada yang terkesan dengan materi yang disampaikan pada sesi pelatihan, ada juga yang terkesan dengan fasilitator yang diundang dan ada pula yang terkesan dengan manajeman Stube sendiri. Sama halnya dengan teman-teman dari Universitas Janabadra Yogyakarta yang sangat terkesan dengan pelatihan Survival Competency dan ingin segera berbagi kepada yang lain.

Mereka jujur saat diajak mengikuti pelatihan ada yang terpaksa karena tidak ada teman di kos seperti Estrela, Maria dan Talia, ada yang memang merasa perlu datang seperti Hanis dan Fangges. Mereka bercerita blak-blakan bagaimana mereka mendapatkan pemahaman baru tentang berbisnis dan pentingnya mengetahui UU Desa yang disampaikan pada sesi terakhir pelatihan. Setelah mengikuti alur pelatihan, mulailah mereka paham dan bersyukur berada di sana, bahkan Hanis sudah mencari dan membangun jaringan dengan Rumah Kreatif Jogja untuk menjual tas khas Maybrat ke Jogja dan menjual tas rajut dari Jogja ke Maybrat, Papua.

Karena merasa perlu berbagi, mereka melakukan follow-up dengan mengajak teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa Kristiani (UKMK) dan beberapa teman dari Maybrat Papua untuk berdiskusi bersama. Pada hari Jumat, 17 November 2017 di kampus Universitas Janabadra Yogyakarta ada sekitar tujuh belas orang tertarik dan datang di acara follow-up yang dimulai dengan perkenalan Stube oleh Elisabeth dan dilanjutkansharing dari Hanis, Fangges, Maria, Estrela, Talia dan Lia mengenai materi yang mereka dapatkan. Estrela, “Jujur, saya merasa dipaksa untuk mengajukan pertanyaan dalam sesi pelatihan, tetapi setelah saya pikir-pikir ternyata bermanfaat karena saya orangnya pasif. Stube mengajari saya untuk aktif untuk memunculkan ide”. Maria, “Saya belajar sisi lain dari kota ini, karena ternyata juga adatindak kejahatan dan semua itu mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati.
 
Dari sharing yang dilakukanbeberapa teman yang hadir penasaran dan bertanya-tanya tentang Stube HEMAT, seperti Beny yang datang dari Timor Lesteingin tahu apakah lembaga ini melatih mahasiswamenjadi mediator yang baik. Sarloce, salah satu team kerja Stube menjelaskan bahwa Stube HEMATmemfasilitasi mahasiswa dengan berbagai pelatihan, dan bagaimana menjadi mediator yang baik menjadi salah satu materi pada pelatihan Studi Perdamaian yang sudah diselenggarakan pada bulan September2017, meskipun demikian jika teman-teman mahasiswa memerlukan bahan ataupun diskusi mengenai hal tersebut, maka dipersilahkan menghubungi sekretariatuntuk kemungkinan realisasinya.
 
Elisabeth menambahkan,”Menjadi mediator tidakbisa instan karena ada alur proses yang harus dipelajari. Padapelatihan lalu, ada follow-up bagaimanmenjadi mediator yang baik. Selain teori peserta juga langsung diajak praktek melakukan mediasi sesuai proses”.
 
Masih banyak yang ingin mereka tanyakan tetapi karena kami hanya diberi waktu dua jam dari 16.00 - 18.00 WIB maka acara ditutup dengan berfoto bersama peserta. Dari follow-up ini mereka berharap adadiskusi lanjutan.
 
Tidak ada yang mampu menahan kita untuk belajar jika hati, jiwa dan pikiran kita yang meminta. Jika ingin agar kita didengar maka belajarlah dan bersuaralah dengan cerdas. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

Datang Dengan Asa, Pulang Dengan ...

pada hari Rabu, 22 November 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Datang dengan asa, pulang dengan … (dilengkapi sendiri oleh masing-masing mahasiswa yang merantau untuk studi di Yogyakarta), menjadi judul pelatihan ‘kemampuan bertahan hidup’ yang diselenggarakan oleh Stube HEMAT pada hari Jumat-Minggu (10-12/11/2017) di Wisma Pojok Indah, Sleman yang dihadiri 48 peserta. Pelatihan ini bertujuan agar mahasiswa memiliki sikap hidup baik, pengetahuan dan keterampilan untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta.
 
 
Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan karena ada ratusan perguruan tinggi negeri dan swasta, sehingga wajar menjadi tujuan belajar mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meski Yogyakarta dikenal karena keramahtamahan dan kemudahan, ternyata tidak sedikit mahasiswa belum memiliki persiapan yang baik untuk kuliahmengalami culture shock dan belum mampu memilih kegiatan-kegiatan yang mendukung studinya. Keadaan ekonomi keluarga dan ketidakmampuan mengelola waktu ikut mempengaruhi studi merekabahkan rentan terjerat hal-hal negatif, seperti miras, seks bebas, kriminal dan akhirnya gagal menyelesaikan studi.

Di awal pelatihan Sarloce Apang memperkenalkan Stube-HEMAT sebagai wadah belajar dan pemberdayaan mahasiswa, dilanjutkan multiplikator Stube HEMAT Bengkulu, Yohanes Dian Alpasa yang membagikan pengalaman ketika mengikuti kegiatan Stube-HEMAT yang kemudian mendorongnya merintis Multiplikasi Stube-HEMAT di Bengkulu. Untuk membekali peserta bagaimana bertahan ketika menghadapi perubahan yang tidak bisa ditolak, Robinson P. Aritonang membedah buku berjudul ‘How to Survive Change You Didn’t Ask For’ yang mengungkap tips-tips dalam menghadapinya.

 


Hari berikutnya peserta belajar mengenal Yogyakarta bersama Trustha Rembaka yang memaparkan sejarah Yogyakarta, peran kota ini dalam sejarah Indonesia dan berbagai tempat yang mendukung belajar mahasiswa. Seorang jurnalis Tribunjogja, Sulistiono diundang juga untuk mengungkap ancaman narkoba dan seks bebas di kalangan mahasiswa. Menurut data Polda DIY, dari Januari s.d. Agustus 2017, ada 372 orang terjerat kasus narkoba dan 1.078 remaja putri melahirkan976 di antaranya adalah kehamilan tidak diinginkan. Sulistiono berpesan agar mahasiswa selalu mawas diri terhadap gaya kehidupan kota.


Testimoni beberapa mahasiswa melengkapi pelatihan ini. Arnita Marbun, seorang pekerja sosial memaparkan bagaimana ia mendampingi mahasiswi untuk tetap bangkit dan menyelesaikan studinya meskipun mengalami kekerasan seksual. Retno Puji Astuti, seorang mahasiswi yang bisa menginspirasi peserta karena berhasil menyelesaikan studi kebidanan dengan cum laude, meski kedua orang tuanya tunanetra. Lebih menakjubkan adalah Vindi Dwinantyo, meskipun ia tunanetra, ia tak ingin keterbatasan itu membatasi hidupnya, bahkan saat ini ia sedang kuliah S2. Para fasilitator ini sungguh menggugah peserta untuk lebih giat dan kreatif dengan segala kelebihannya.
 
Stephanus Benny, mahasiswa Magister Psikologi UGM memandu peserta memetakan potensi diri dan kerentanan diri. Ia menjelaskan bahwa setiap studi harus memiliki tujuan jelas, apa yang hendak dicapai. Seorang mahasiswa pun dituntut mandiri, salah satunya bisa melakukan bisnis kreatif. Indah Theresia menawarkan beberapa langkah untuk berbisnis sesuai perkembangan zaman dan peluang pasar, memanfaatkan waktu luangnya dan menggunakan barang yang ada sebagai modal. Sesi inidiperkuat oleh pengalaman dua mahasiswa ketika berada di Yogyakarta, Yohanes Dian Alpasa yang sering menulis di media massa dan berjualan koran dan Yoel Yoga Dwianto dari Lampunyang membuat kebun sayur organik dan mengembangkan musik jimbe sebagai bisnis kreatif dan membuka kursus musik.


Di hari terakhir, Dr. Murti Lestari, M.Si., board Stube-HEMAT mengajak mahasiswa belajar dana desa dan penggunaannya, sehingga ketika kembali ke daerah asalnya, mereka bisa memantau dan memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat. Di akhir acara, peserta merancang kegiatan untuk berbagi pengalaman. Hanis, dkk mengadakan diskusi kecil di kampus Janabadra dan Maritjie dkk mengumpulkan mahasiswa dari kepulauanAru dan berdiskusi tentang kuliah di Yogyakarta.
 
Mahasiswa pasti mampu bertahan hidup sebagai mahasiswa jika ia tahu tujuan hidupnya, mampu beradaptasi, tahu potensi diri, dan selalu merespon perubahan yang terjadi dengan positif. (ELZ).

 


 
 

 


  Bagikan artikel ini

Songsonglah Ide dan Menulislah!

pada hari Jumat, 10 November 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
“Seseorang yang menulis fiksi ibarat menggali sumur dengan sebatang jarum, memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras. Ia harus mendapatkan ilham atau inspirasi, tetapi ia tidak bisa menunggu inspirasi atau ilham melainkan harus mencari dan menyongsong ide-ide”,ungkap Achmad Munjid mengawali Workshop Penulisan Fiksi pada hari Minggu, 5 November 2017 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini merupakan kerjasama antara Stube-HEMAT Yogyakarta dan team S2 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada sebagai pengabdian kepada masyarakat.
 
Dua puluh mahasiswa lintas kampus yang berasal dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta dan pemuda pengurus kampung ramah anak setempat mengikuti Workshop yang difasilitasi oleh Achmad Munjid, M.A. Ph.D, dosen di fakultas Ilmu Budaya UGM bersama Sulistyaningtyas, Muhammad Zaenuddin dan Fardan Rezkiawan Faida, ketiganya adalah mahasiswa S2 Ilmu Sastra UGM.  Fasilitator merasa senang bertemu dengan peserta Stube-HEMAT Yogyakarta dan salut akan gerak cepat Stube karena meski waktu persiapan sangat singkat, tetapi mampu mempersiapkan kegiatan dengan baik, dan terlihat antusiasme mahasiswa untuk belajar penulisan fiksi. Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa menulis itu seperti olah raga dan sedekah. Semua tahu bahwa dua hal itu baik, tetapi belum tentu mereka mau melakukan. Orang tahu bahwa menulis itu baik, tapi seberapa banyak yang benar-benar mau mengerjakannya? Menulis itu seperti naik sepeda, main gitar atau berenang, tidak cukup tahu teori saja tetapi perlu latihan terus-menerus.
 
Selanjutnya, diungkapkan beberapa hal yang mesti dicermati dalam penulisan fiksi, pertama, cerita merupakan suatu peristiwa yang menggelisahkan pikiran, konflik, dilema atau kejanggalan yang terjadi.Kedua, tentang plot atau alur, yaitu cerita memuat konflik, krisis dan penyelesaian, di mana perlu memasukkan 3D, yaitu drama (yang menarik perhatian),desire (adanya hasrat atau antusiasme), danger (sesuatu yang menantang). Di bagian ini penulis perlu ‘memainkan’ jarak antara konflik, krisis dan penyelesaian sehingga pembaca penasaran dengan cerita. Ketiga, berkait penokohan, ada kata kunci ‘seeing is believing’ yaitu penulis harus mampu menghadirkan tokoh dalam cerita fiksi secara jelas sehingga pembaca seolah-olah bertemu langsung dengan tokoh tersebut. Keempat, mengenai sudut pandang cerita dari orang pertama atau orang ketiga. Ini memiliki kelebihan masing-masing.Kelima, Latar dari cerita berkaitan dengan waktu dan tempat kejadian suatu cerita dan tempat. Latar harus spesifik, nyata dan historis sehingga pembaca merasa sesuatu yang nyata dan terlibat dalam cerita meskipun fiksi. Terakhir, pembuka dan penutup, penulis bisa membuat pembukaan dan penutup cerita secara bertahap atau bahkan menyentak demi efektivitas penyampaian pesan cerita. Namun bisa juga penutup cerita yang ‘mengganggu’ yang membuat pembaca terus memikirkan cerita tersebut.
 

 

Sesi berikutnya para peserta berlatih menulis cerita fiksi. Mereka mengawali dengan membayangkan suatu ide atau inspirasi, kemudian menulis pembukaan cerita fiksi. Ada beberapa peserta yang menulis pembukaan cerita yang mampu memancing rasa ingin tahu dari pembaca, seperti tulisan Anggita Getza tentang kejadian yang mistis dan David Pamerean tentang ledakan di luar angkasa.
 

 

 

Di akhir acara, Sulistyaningtyas, seorang penulis muda yang dikenal di dunia penulisan dengan nama Tyas Effendi, yang telah menulis beberapa buku, seperti Tentang Waktu, Catatan Musim, Life After You dan Dance for Two memberi apresiasi berupa buku-buku karyanya kepada beberapa peserta yang beruntung. Ia juga membagikan pengalaman tulisannya bisa terbit karena ketekunannya menulis dan belajar, jeli melihat tema-tema tulisan yang sedang tren di kalangan pembaca dan mempelajari karakteristik suatu penerbit.
 



Kemampuan menulis fiksi merupakan proses belajar, perlu terus menerus dilatih sejak sekarang. Jadi, mulailah tumbuhkan semangat, songsonglah ide dan menulislah. Jadikan tulisan fiksimu inspirasi yang mencerahkan pembaca. (TRU).
 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Budaya dan Modernisasi Silaturahmi ke Gusdurian

pada hari Selasa, 31 Oktober 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
 
Selasa, 31 Oktober 2017, dengan mengangkat tema diskusi “Budaya dan Modernisasi”, Jay Akhmad, pemantik Ngaji Gus Dur #8 sore ini di Griya Gusdurian Jogja, memaparkan catatan Gus Dur dari tahun 80-90an tentang “posisi sistem budaya kita (Indonesia) dan pengaruh modernisasi”.
 
Menurut Gus Dur, ada penelitian LIPI tentang empat belas sistem budaya daerah dari Aceh sampai Nusa Tenggara Timur. Sistem budaya ini masih bisa dipakai di tengah kehadiran modernitas yang tidak bisa diprediksi. Salah satu contoh, budaya Ngada dari Manggarai, dapat menggantikan hukum pengadilan pada zaman itu, sebelum ada pengadilan seperti sekarang ini. Di pondok pesantren, para Kyai berperan sebagai penyortir untuk segala informasi dan budaya yang masuk sebelum disebarluaskan ke masyarakat. Hal ini bertujuan untuk melindungi masyarakat dari hal-hal negatif dengan pertimbangan bahwa tentu masyarakat memiliki reaksi yang bermacam-macam dalam menghadapi modernitas, apalagi dengan berbagai latar belakang budaya dan kehidupan masyarakat di Indonesia.
 
Modernitas sangat dekat dengan teknologi dan informasi dan salah satu produk modernitas adalah kurikulum pendidikan. Pesantren dulu tidak ada kurikulum pelajaran, hanya ada pengajian dan para santri belajar sesuatu bergantung pada Kyai, kelulusan pun bergantung pada Kyai. Ada yang lulus dengan cepat, ada juga yang harus menetap di pesantren dalam jangka waktu yang lama. Dalam perjalanannya, ada pondok pesantren yang masih bertahan dengan model lama tanpa kurikulum dan hanya mengaji, salah satunya adalah aliran Salafiyyah. Ada juga yang semi modern yang menggabungkan mengaji dan kurikulum, tetapi ada juga yang modern hanya memasukan kurikulum seperti sekolah formal.
 
Para lulusan pondok pesantren saat ini bisa lebih leluasa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan Gus Dur menjadi presiden lulusan pondok pesantren. Universitas yang mengakomodir lulusan pondok pesantren yang tidak punya ijasah sekolah formal adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga.
 
Peserta diskusi diminta menceritakan pengaruh modernitas terhadap budaya lokal mereka masing-masing. Elis, peserta diskusi asal Sumba menceritakan bagaimana proses pernikahan di Sumba dengan mahar kuda, “Kami di Sumba kalau mau menikah belis-nya pakai kuda dan jumlahnya pun beragam, jika si pria ingin menikah dengan perempuan keturunan raja, jumlah kudanya bisa sampai 100 ekor, jika dari kalangan menengah 50 ekor dan untuk golongan bawah bisa di-nego 10-15 ekor”.
 
Indah dari Medan menceritakan Sinamot budaya Batak dalam hal pernikahan. Sinamot diberikan pihak pengantin pria untuk meminang wanita pujaan. Dulu Sinamot diberikan dalam bentuk ternak dan hasil tani, tetapi seiring berkembangnya jaman, Sinamot diberikan dalam bentuk uang. Peserta diskusi dari Jawa tak ketinggalan menambahkan bahwa sistem perkawinan di Jawa pun masih ada yang memperhitungkan tanggal weton (hari lahir) yang dipercaya jika weton kedua pasangan tidak sesuai, maka pasangan tidak bisa menikah. Saat ini sebagian besar orang cenderung praktis dan tidak lagi melibatkan perhitungan weton dalam pernikahan.
 
Perwujudan budaya yang ada saat ini adalah warisan dari generasi yang hidup di masa lalu. Jadi sangat mungkin terjadi benturan antara modernitas dengan budaya masyarakat setempat. Kita mesti melihat kembali bahwa perwujudan budaya itu ada karena adanya sistem budaya yang berlaku di masyarakat setempat, kemudian sistem budaya yang berlaku di masyarakat bersumber dari ide atau gagasan dari orang-orang di generasi terdahulu dalam rangka menata kehidupan masyarakat. Jadi, memang tidak mudah bagi kita di zaman ini menelusur sampai ke asal-usul atau latar belakang munculnya suatu budaya tersebut. Tetapi ada pendekatan, jika adanya suatu budaya itu menghargai keberadaan manusia (humanisasi) maka perlu dipertahankan, tetapi jika keberadaan budaya tidak menghargai keberadaan manusia (dehumanisasi), maka budaya itu perlu ditelaah kembali.
 

 

Dari proses diskusi sore itu, satu hal yang perlu digarisbawahi adalah budaya dan modernitas harus membuat manusia lebih manusiawi dan dan bukan sebaliknya membelenggu dan men-dehumanisasi. (ML)

  Bagikan artikel ini

Perempuan Agen Perdamaian

pada hari Jumat, 13 Oktober 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
Isu SARA dan konflik agama sering dimunculkan untuk tujuan tertentu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yang selanjutnya berakibat merusak tatanan kehidupan di dalam masyarakat. Terlebih isu agama yang sangat sensitif yang bisa memecah belah bangsa ini. Media sosial tak luput ikut menyumbang permasalahan dan membuat isu-isu semakin panas. Melihat kondisi ini banyak pihak melihat betapa pentingnya toleransi dan cara menumbuhkan sikap toleran didalam kehidupan sehari-hari. 

Srikandi Lintas Iman Yogyakarta (SRILI Jogja) terpanggil untuk ikut bersama memerangi berbagai macam isu intoleran dan ikut andil dalam upaya rekonsiliasi konflik untuk bersama menjaga harmoni di lingkungan tempat hidup bersama”, ungkap Fata Hanifa salah satu anggota SRILI dalam pembukaan acara diskusi “The Role of Interfaith Women in Peace building” (11/10/2017) bekerjasama dengan PSPP UKDW.

Maria Ida L. Giguiento,akrab disapa Bu Deng, merupakan Training Kordinator untuk “The Peace and Reconciliation Programdari Catholic Relief Services Philippines menyampaikan, ”Salah satu harapan yang sedang berusaha dibangun oleh SRILI khususnya, dapat ikut andil dalam rekonsiliasi konflik dan ikut memberi informasi tentang pentingnya pendidikan toleransi”. Menurut Bu Deng seseorang yang akan menjadi Active Peacebuilders harus tahu benar apa masalah/konflik yang sedang dia hadapi. Untuk sampai kesana dibutuhkan analisa kasus terlebih dahulu. Sebagai contoh, seseorang yang masuk ke universitas, sebenarnya dia sedang masuk ke Universal-City. Maka dia harus paham mengapa dia kuliah, mengapa harus belajar, apa yang dia cari di kampus, semuanya harus sudah terpikirkan. Selain itu dia juga harus tahu apa yang sedang terjadi di sekitarnya, manfaat apa saja yang dia dapatkan ketika ke kampus dan dia harus familiar dengan setiap permasalahan yang ada di Universal-City di mana dia berada. Pemaparan materi dilakukan secara sederhana, dengan tujuan membangun kesadaran perempuan untuk ikut terlibat dalam membangun perdamaian. Membangun perdamaian itu sendiri adalah usaha untuk mentransformasikan isu, hubungan dan institusi/struktur; mengurangi kemungkinan konflik meningkat menjadi kekerasan. “Jika kita ingin membangun perdamaian maka kita harus membangun dahulu hubungan yang positif dengan orang lain”, Bu Deng menekankan.

Dari masa ke masa, peran perempuan dalam peace-building terus berevolusi,mulai dari sekedar menjadi pengamat dluar jendela saat laki-laki mengadakan rapat, dilanjutkan  menjadi pelayan didapur untuk mengurus konsumsi pertemuan kaum laki-laki, kemudian mulai merasa perlu ikut terlibat langsun dengan mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan baik di gereja, di desa dan kelompok lainnya. Saat perempuan terlibat dan berkomunikasi dengan laki-laki, maka ada ruang-ruang yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas perempuan sehingga mampu mengklaim bahwa ruang-ruang yang dikuasai laki-laki sebagai ruang mereka juga, meskipun disadari bahwa ruang gerak perempuan dalam peace building masih terbatas.
 
Untuk menjadi Active peacebuilders memang tidak mudah, tetapi diharapkan perempuan mampu melakukannya. Kehadiran perempuan diharapkan dapat meredam konflik sehingga tidak berakhir dengan kekerasan dimulai dari lingkungan kehidupanperempuan(SAP).

 


  Bagikan artikel ini

B e d a h   B u k u “How to Survive Change You Didn’t Ask For” Bagaimana bertahan atas perubahan yang tidak diinginkan?

pada hari Kamis, 12 Oktober 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
Dalam proses belajar menuju seorang sarjana mungkin ada banyak kondisi dan situasi yang ‘berubah’ yang harus dialami seorang mahasiswa yang tidak mampu ditolaknya, seperti perubahan sistem akademik, kiriman uang yang terbatas karena kemampuan keluarga, meninggalnya orang-orang terkasih, perubahan harga-harga kebutuhan sehari-hari, atau perubahan-perubahan lain yang tidak mampu ditolak.Setiap perubahan membawa dampak pada seseorang entah itu perubahan yang membahagiakan atau menyedihkan. Perubahan yang membuat hidup terasa beratmembutuhkan ketangkasan sikap untuk mampu beradaptasi menghadapinya agar tidak terpuruk dan sulit untuk bangkit.
 
Bedah buku yang memiliki 5 bab ini berjudul “How to Survive Change You Didn’t Ask For”(10/10/2017) oleh Elisabet Uru Ndaya membantu mahasiswa mengetahui tips bagaimana harus bersikap dan mampu bertahan dengan perubahan yang tidak diinginkan. Buku ini ditulis oleh M.J Ryan, seorang motivator dan pemrakarsa Random Acts of Kindess dari New York Time. Beberapa buku yang ditulisnya seperti The Power of PatienceThe Happiness Makeover, dan Attitudes of Gratitude, serta beberapa buku motivasi lainnya. Dalam bukunya, penulis menawarkan bagaimana keluar dari penderitaan dengan lebih cepat yakni dengan menyiapkan pola pikir dan sikap yang tepat.Pertamasaat perubahan terjadi kita harus berbesar hati untuk menerima perubahan tersebut. Kedua, jika sudah mampu menerimanya maka mulailah mengembangkan opsi  yang dapat dipilih sebagai solusi yang tepat untuk menyelesaikan permasalahanKebanyakan orang gagal menghadapi perubahan karena tidak mampu mengembangkan opsi dan tetap menggunakan opsi lama,sehingga mereka digusur perubahan. Ketiga, setelah kita menemukan opsi dan pilihan solusi yang tepat,maka segera mengambil tindakan untuk keluar dari masalah tersebutKeempat, saat kita mulai bertindak, kita harus memperkuat adaptabilitas yang sudah dimiliki agar mampu memprediksi perubahan yang akan terjadi dan selanjutnya mengambil sikap yang tepat untuk menghadapinya.
 
Ada dua puluh tip ditawarkan dalam bab IV buku iniseperti berbicara secara pribadi kepada Tuhan yang diimani atas beban yang ditanggung, tidak menyendiri tetapi keluar mencari teman atau bergaul dengan orang-orang yang bahagia untuk mendapatkan energy positif.
 
Diskusi yang diikuti tiga belas orang ini mengawali program Survival Competency yang akan dilaksanakan November mendatang. Ada beberapa cerita yang peserta sampaikan bagaimana mereka bertahan menghadapi masalah. Seperti tutur Maritjie,”Dua minggu lalu ada akun Ffacebook yang mem-publish postingan sindiran dengan meng-copy ulang status yang aku tulis. Awalnya memang panik dan bingung tetapi ketika mulai mampu mengusai diri dengan baik maka masalah tersebut dapat terselesaikan”. Sari juga bercerita, ”Saat sedang dalam proses mengerjakan tugas kampus dan deadline hanya dua hari, laptop hilang dicuri. Memang sangat menyesakkan dada, tetapi dari pada mengeluh dan menggerutu, lebih baik mencari solusi agar tugas kampus tetap dikumpulkan tepat waktu”.
 
Diskusi bedah buku di tutup dengan closing statement dari Elis, “Apapun yang terjadi di dalam kehidupan, yakinlah kita mampu menghadapinya, karena kita memiliki kekuatan lebih dari masalah yang harus kita tanggung. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

Lebih Tahu tentang Beasiswa LPDP

pada hari Rabu, 4 Oktober 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Pendidikan merupakan salah satu neraca pengukur masa depan dan menjadi penentu kemajuan suatu bangsa.Karena pentingnya pendidikan orang rela menggelontorkan uang hingga ratusan juta agar dapat mengenyam pendidikan tinggi berkualitas dan mampu ikut serta menjadi penentu suatu kebijakan. Namun sayang sekali kesenjangan pendidikan masih terjadi di berbagi daerah di Indonesia.
 
 

 

Stube HEMAT Yogyakarta, lembaga yang bergerak untuk anak muda mengundang Franky Hamonangan Malau (Magister Ekonomi Pembangunan UGM) Koordinator sosialisasi LPDP daerah JogjaDaud Yaferson Dollu, Magister Hukum Litigasi UGM, dan Fridrik Makanlehi (Magister Sistem dan Teknik Transportasi) dalam acara diskusi untuk lebih mengetahui tentang beasiswa LPDP pada hari Selasa, 3 Oktober 2017 di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Mereka bertiga juga para penerima beasiswa dari lembaga tersebut. Untuk mengetahui detail mengenai lembaga ini silahkan baca:
 
 
Saat ini Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan atau LPDP telah membantu ratusan anak negeri ini untuk mampu meraih mimpi mereka mengenyam pendidikan tinggi tanpa kuatir dengan biaya studi yang mahal. Program yang ditawarkan LPDP sangat bervariasi baik di dalam dan di luar negeri seperti:
 
Beasiswa Lanjutan;
(http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/profil/visi-misi-fokus/).
 
Dari beberapa beasiswa yang ditawarkan yang menarik adalah beasiswa Afirmasi. Beasiswa ini diperuntukan bagi : (1) Masyarakat yang berasal dari daerah perbatasan dan/atau daerah tertinggal;  (2) Masyarakat yang sedang mengabdikan diri pada institusi pemerintahan di daerah perbatasan dan/atau daerah tertinggal; (3) Alumni penerima beasiswa Bidikmisi; (4) Masyarakat berprestasi dari keluarga miskin; (5) Individu yang berprestasi dalam bidang Olimpiade Sains, Teknologi, Olah Raga dan Seni/ Budaya di tingkat Nasional maupun Internasional kata(http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-afirmasi/).Selain beasiswa Afirmasi ada juga Beasiswa Indonesia Timur
(http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/beasiswa/beasiswa-indonesia-timur/). Beasiswa ini lebih mengutamakan pelamar dari daerah timur yang memiliki mimpi kuliah di luar negeri. Persyaratan yang ditawarkan juga sedikit lebih dipermudah tetapi penguasaan bahasa asing atau minimal bahasa inggris masih menjadi prioritas utama bagi pelamarnya.
 
Baik beasiswa Afirmasi atau Indonesia Timur keduanya merupakan beasiswa yang memberi peluang bagi siapa saja yang merindukan untuk lanjut studi S2 dan S3 dengan gratis. Beasiswa LPDP mendanai semua kebutuhan kita mulai dari persiapan sampai kita wisuda. Beasiswa ini merupakan yang terbaik di Indonesia dari segi keuangannya. Beasiswa ini akan dibuka pada 2018 mendatang dengan kuota sekitar 15.000 peserta. Daud mendorong mahasiswa yang hadir diskusi pada sore itu, “Jika pemerintah sudah membuka peluang bagi kita maka persiapkan diri kita untuk dapat mengambil kesempatan menjadi bagian dari LPDP membangun daerah kita.
 
Good news bagi pelamar yang berasal dari Kabupaten Sumba Timur. Karena Bupati Sumba Timur sudah MOU dengan LPDP untuk mengirim 50 orang setiap tahunnya untuk mendaftar LPDP”, kataFridrik. Beberapa tips mengikuti seleksi LPDP seperti body language, sikap, gaya bahasa dan sopan santunjuga disampaikan saat diskusi pada sore itu.
 
Sebagai penutup Daud sangat berharap dari 20 peserta yang hadir mengikuti diskusi, ada yang  mendaftar beasiswa LPDP tahun 2018. Kesempatan sudah dibuka lebar, maka tinggal menunggu respon dari anak-anak muda untuk ikut ambil bagian, membawa bangsa ini lebih berkualitas. Acara diskusi ini ditutup dengan berfoto bersama. (SAP).
 

  Bagikan artikel ini

Buka Jejaring Baru dan Peka terhadap Konflik

pada hari Sabtu, 30 September 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Mahasiswa merupakan kelompok masyarakat yang memiliki kesempatan mengembangkan kemampuan intelektualnya untuk mendalami bidang yang diminatinya di perguruan tinggi. Mahasiswa dipandang masyarakat sebagai calon intelektual yang enerjik, bersemangat dan berdedikasi, kritis, cerdas dan berilmu. Mahasiswa perlu berjejaring untuk memperkuat pengaruh dan impact kepada masyarakat.
 
 
Sebagai wujud upaya membuka dan memperkuat jejaring, sekelompok mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang terdiri dari Robertus Letigalli, Siprianus Ndawa Lu, Anna Astri Don dan Redy Hartanto berinisiatif mengadakan diskusi bersama mahasiswa KMK Unriyo pada hari Jumat, 29 September 2017 di kampus Unriyo, Kledokan dengan topik Mahasiswa dan Pemetaan Konflik.
 
Ada dua puluh enam peserta hadir dalam diskusi ini, yang terdiri dari mahasiwa KMK Unriyo, STAK Marturia, kelompokfollow-up dan team Stube-HEMAT Yogyakarta. Yulius, ketua KMK Unriyo dalam pembukaannya mengungkapkan rasa senangnya dan berterima kasih atas kerjasama ini. Ia berharap diskusi berjalan baik dan belajar bersama. Di sesi perkenalan, peserta memperkenalkan nama, asal daerah dan program studi yang dipelajari. Ternyata hampir 90% peserta diskusi berasal dari luar pulau Jawa.

 

Berikutnya, Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta memperkenalkan Stube-HEMAT dan aktivitasnya yang membangun kesadaran anak muda dan mahasiswa untuk memahami masalah di sekitarnya. Ia mengajak mahasiswa tidak ‘memisahkan diri’ dari masyarakat di sekitarnya, namun harus ‘terlibat’ dalam dinamika masyarakat di mana ia tinggal. Ia menambahkan bahwa diskusi ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan Studi Perdamaian yang diikuti oleh Robertus dkk beberapa minggu sebelumnya.
 
Redy Hartanto, salah satu anggota kelompok follow-up, menyampaikan sesi Mahasiswa dan Konflik yang mana peserta diajak berpendapat tentang apa saja penyebab konflik. Ternyata seorang mahasiswa pun bisa menjadi penyebab timbulnya konflik sekaligus penyelesai konflik. Ia menjelaskan bahwa meski konflik menimbulkan hal negatif dan merugikan, ada juga sisi positifnya. Benarkah? Ya! Dampak negatif konflik seperti perselisihan, kebencian bahkan kekerasan, sedangkan sisi positif konflik adalah pihak-pihak yang terlibat konflik akan mengasah pikiran dan memperdalam pengetahuannya untuk mengenal dan memetakan konflik hingga menemukan berbagai solusi terhadap konflik yang dihadapi.

 

Selanjutnya peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari empat orang dan saling bercerita tentang konflik di daerahnya. Kemudian masing-masing kelompok memilih satu konflik untuk dipetakan akar penyebabnya, siapa saja yang terlibat, apa saja kepentingan masing-masing pihak dan dampak konflik. Tidak menutup kemungkinan dari diskusi mereka merumuskan alternatif solusi konflik. Anggota kelompok follow-up pelatihan Studi Perdamaian, seperti Robertus, Siprianus, Astri dan Redy serta team Stube-HEMAT Yogyakarta memandu jalannya diskusi di masing-masing kelompok.
 
Setelah tiga puluh menit berdiskusi, ada dua kelompok membagikan hasilnya, pertama, konflik antar kelompok orang yang berujung pada perkelahian dan kekerasan. Kelompok ini menemukan penyebab konflik, seperti mudahnya seseorang memperoleh dan minum minuman keras dan rendahnya pendidikan. Usulan solusi kelompok ini adalah pembatasan usia pembeli minuman keras dan peningkatan kesadaran sosial melalui perbaikan pendidikan. Kedua, konflik laten yang terjadi di sebuah kawasan di Kalimantan Tengah karena tidak jelasnya kepemilikan tanah untuk kebun kelapa sawit. Kelompok ini memetakan siapa-siapa saja yang terlibat, apa saja kepentingan mereka dan apa yang bisa dilakukan oleh mahasiswa yang berada di kawasan tersebut.
 



Dalam penutupnya Redy mengingatkan peserta bahwa mulai saat ini, setelah mengikuti diskusi mahasiswa dan konflik, anda semua sebagai mahasiswa ketika menghadapi suatu konflik bisa lebih tenang dalam bersikap dan cerdas dalam memilih alternatif solusi penyelesaian konflik. Selain itu, ia berharap pertemuan-pertemuan seperti ini bisa dilakukan secara kontinyu. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

Saling Bertemu, Belajar dan Berbagi

pada hari Selasa, 26 September 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
 
Interaksi langsung seseorang dengan orang lain yang berbeda budaya pasti memberikan pengalaman baru dan pembelajaran bagi masing-masing, tentang keberagaman di Indonesia, promosi daerah beserta konteks permasalahan. Inilah yang menjadi pendorong Stube-HEMAT Yogyakarta memberi kesempatan kepada mahasiswa aktivis Stube untuk berkunjung ke Sumba, salah satu pulau di Nusa Tenggara Timur. Tiga mahasiswa sudah berani menerima tantangan tersebut, siapa saja mereka?
 
Dominggus Urkora, mahasiswa Teologi, STAK Marturia Yogyakarta yang berasal dari Dobo, Maluku Tenggara. Domi berada di Sumba, tepatnya di desa Kanjonga Bakul, Nggaha Ori Angu, Sumba Timur antara 17 Juni-17 Juli 2017 untuk mengadakan kegiatan berkaitan Sekolah Minggu di GKS Kanjonga Bakul.
 
 

Kegiatan pertama, mengumpulkan biodata anak sekolah minggu GKS Kanjonga Bakul di lima kelompok yang meliputi Kanjonga Bakul, Horani, Kalu, Walakiri dan Bidiwai. Kedua, memotivasi guru-guru baru untuk melayani Sekolah Minggu, dan ketiga, pemutaran film untuk anak-anak.Selama berinteraksi di lapangan, Domi menemukan ternyata ada beberapa anak usia SD belum bisa membaca, sehingga dia tergerak mengadakan kegiatan pendampingan belajar membaca untuk anak-anak. Sekalipun melewati jalan setapak berbatu untuk mencapai desa itu, Domi merasa bahagia ketika anak-anak desa memanggil-manggil namanya saat berpapasan di jalan.
 

 




Nova Yulanda Sipahutar, alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, yang berasal dari Sumatera Utara mengadakan pendampingan anak-anak di PAUD Nasareth, Tanggamadita, Sumba Timur. PAUD ini berdiri tahun 2014 dan terdaftar di Dinas Pendidikan Sumba Timur tahun 2016. Meski aktivitasnya masih menumpang di ruangan Posyandu Tanggamadita, karena belum mempunyai gedung sendiri, sampai Juli 2017 sudah ada 18 murid.

 

Di tempat yang sama, Nova mengadakan kelas bahasa Inggris untuk anak usia SD, SMP dan SMA. Karena peserta harus menimba air dan mencari kayu bakar untuk kebutuhan rumah, atau juga karena bersamaan dengan jadwal sekolah siang,tidak jarang mereka datang terlambat. Namun demikian,mereka bersemangat belajar seperti alphabet in English, family, basic introduction, subject, to be, object, possesion. Hasilnya nampak ketika mereka berani melakukan percakapan pendek bahasa Inggris, menyebutkan kosakata dan menulis kalimat sesuai struktur kalimat bahasa Inggris.
 

 

 
Kelompok Membaca Mahasiswa juga menjadi perhatian Nova. Ada lima mahasiswi yang bergabung, yaitu Betriks Lay, Elisabeth Bangi Lida, Yustiwati, Onira Tangga Nalu dan Melianti Betsdwi. Nama kelompok ini adalah Anala’du, artinya matahari yang disimbolkan sebagai perempuan, karena buku-buku yang dibaca bertema perempuan dan dari perspektif perempuan, seperti Tabula RasaGadis PantaiGo To Set A WatchmanEntrokdan Memang Jodoh Kelompok ini sepakat bahwa setiap anggota merupakan fasilitator dan penanggap diskusi. Di setiap diskusi, fasilitator menyediakan resume dan analisis buku sesuai konteks Sumba dan dilanjutkan tanya jawab.
 
 
Redy Hartanto, mahasiswa Teologi STAK Marturia Yogyakarta yang berasal dari Lampung punya ide untuk mengajar sekolah minggu secara kreatif dengan memanfaatkan benda-benda sekitar.
 
Pada tanggal 15 Juli 2017-12 Agustus 2017 ia berada di Sumba, tepatnya di GKS Laihau, kecamatan Lewa Tidas, kabupaten Sumba Timur. Ia menggunakan daun pisang sebagai bahan aktivitas anak-anak dan sedotan plastik sebagai alat bantu mengajar sesuai topik tertentu. Selain itu, ia juga mendata anak-anak Sekolah Minggu, memotivasi remaja untuk menjadi pendamping guru sekolah minggu, pemutaran film untuk anak-anak dan lomba-lomba untuk anak sekolah minggu. Redy sempat sakit di awal kedatangan, tetapi akhirnya ia berhasil memotivasi empat anak muda untuk ambil bagian dalam pendampingan sekolah minggu di GKS Laihau.
 

 

 

Meskipun sederhanatetapi karena aktivitas tersebut menjawab kebutuhan, maka akan sangat bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat. Jadi, anak muda mahasiswajangan hanya berkutat di kampustetapi lengkapi kisah hidup anda dengan berbagai petualangan berinteraksi dengan masyarakat dan problematikanya. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

Berani Berbagi Pengetahuan Manajemen Konflik Follow up Studi Perdamaian

pada hari Senin, 25 September 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Ciri khas Stube-HEMAT Yogyakarta pascapelatihan yaitu mendorong peserta pelatihan untuk merancang dan melakukan kegiatan rencana tindak lanjut atau yang sering disebut follow up activity. Pada tanggal 8-10 September 2017 lalu Stube-HEMAT Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan Studi Perdamaian bertema Melawan Kegagalan Bereaksi.
 
 
Salah satu kelompok yang beranggotakan Ni Putu Sari Yani Darsani, Adi Zamba, Monika Zangga Nata, Imelda Hada Inda, Junerin Kaleka, dan Marthia Sari Rato,pada hari Sabtu 23/09/2017 bertempat di kampus STPMD ”APMD” melakukan sharing pengalaman yang didapat selama pelatihan Studi Perdamaian. Mereka berdiskusi dengan mahasiswa/i yang tergabung di dalam organisasi HIPMASTY (Himpunan Mahasiswa Sumba Timur Yogyakarta). Terlaksananya kegiatan ini karena rasa peduli peserta training dan perlunya berbagi pengetahuan yang didapat agar dapat bermanfaat bagi mahasiswa lain.
 
 
Peserta yang hadir berjumlah dua puluh satu orang yang berasal dari berbagai latar belakang ilmu dan kampus di Yogyakarta. Acara ini dibuka dengan doa bersama dan menyanyikan lagu “Bapa Engkau sungguh baik” yang dipimpin oleh Junerin Kaleka. Marthia Sari Rato memaparkan  pengertian konflik, masalah dan perspektif, konflik dan kekerasan serta macam-macam konflik guna merangsang peserta untuk mulai mengenal dan memahami konflik. Kemudian dilanjutkan Monika Zangga Nata tentang teori dan jenis-jenis konflik yang bertujuan agar peserta diskusi nantinya mampu memilah jenis-jenis konflik karena beda konflik beda penanganannya.

 

Dalam diskusi peserta sangat antusias beradu pendapat dan mempertahankan argumen. Kemudian dilanjutkan dengan role play dalam 2 kelompok dan diarahkan untuk menemukan sendiri konflik yang ada di sekitar kita, menganalisa, kemudian melakukan pemetaan pihak-pihak yang terkait layaknya seorang mediator dengan memperhatikan hal-hal yang sudah dipaparkan 2 pemateri sebelumnya.
 
Kelompok 1 menemukan masalah kesadaran mahasiswa untuk terlibat dan belajar di organisasi khususnya HIPMASTY sebagai bahan kajian dalam kelompok diskusinya. Kelompok 2 mendiskusikan tentang persoalan Pembangunan Pabrik Tebu di Sumba Timur.Temuan dan analisis peserta kompok kemudian dipresentasikan bersama. Perwakilan dari pemateri,Marthia Sari Rato mengungkapkan rasa puas dan terima kasih atas antusiasme peserta dan terlaksananya kegiatan follow up ini.
 

 

“Saya sangat puas dengan adanya follow up ini karena kami (kelompok) dapat membagikan pengalaman kami tentang manajemen konflik dan tampil di depan teman-teman HIPMASTY. Kami juga sangat senang melihat teman-teman HIPMASTY sangat antusias dalam mengikutifollow up ini. Terimakasih banyak untuk HIPMASTY yang sudah meluangkan waktu hadir dan berdinamika bersama dan terimakasih banyak Stube-HEMAT Yogyakarta”,  pungkas Sari Rato. (MAR).

  Bagikan artikel ini

Bergeraklah Mahasiswa!

pada hari Jumat, 15 September 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Mahasiswa adalah masyarakat intelektual yang memiliki pemikiran kritis, analitis, gagasan dan ide-ide kreatif dalam mewujudkan dan memperjuangkan pendidikan, pengajaran dan pengabdian dalam masyarakat. Mahasiswa sebagai agen perubahan dituntut untuk menjadi pengontrol situasi sosial yang ada, mengkritismasalah sosial dan membawa perubahan dengan bekal ilmu dan pengalaman yang didapat di kampus melalui tindakan nyata di masyarakat.
 
Namun kenyataannya, mahasiswa saat ini bukan lagi sebagai agen perubahan tetapi malah menjadi individu-individu apatis, tidak lagi peduli dengan berbagai ketidakadilan yang terjadi, bahkan hanya berorientasi pada indeks prestasi tinggi, segera meraih sarjana, lulus cepat dan langsung kerja. Hal ini disebabkan karena kampus berorientasi pada nilai akademik dan bagian dari industri gelar. Model kampus seperti itulah yang sebenarnya ‘membunuh’ kreativitas mahasiswa.
 
 
Eko Prasetyo, menulis bukuBergeraklah Mahasiswa! sebagai kritikan untuk mahasiswa sekaligus dunia pendidikan. Situasi ini menggerakkan Social Movements Institute (SMI) bersama Toko Buku Toga Mas, Tibun Forum, Tribun Jogja, dan Stube-HEMAT untuk membedah buku “Bergeraklah Mahasiswa!” yang diadakan pada Kamis, 14 September 2017 di Toko Buku Togamas Gejayan.
 
 
Asman Abdullah dari SMI mengungkapkan bahwa ada sebuah kritikan dalam buku “Bergeraklah Mahasiswa!” di mana situasi kampus pada saat ini tidak lagi memungkinkan mahasiswa untuk memiliki banyak waktu beroganisasi di luar kampus dengan sistem tiga setengah tahun selesai. Hal ini menyedihkan karena mahasiswa akan menjadi ‘tumpul’ karena kurang berinteraksi dengan realitas sosial di sekitarnya. Alfath BagusPresiden Mahasiswa UGM mengatakan bahwa mahasiswa di masa sekarang perlu berimajinasi sehingga ia mampu menghubungkan pengetahuan yang ia pelajari dengan apa yang menjadi tantangan zaman sekarang. Sedangkan Sulistiono dari Tribun Jogja mengatakan bahwa keberadaan mahasiswa saat ini berbeda jauh dengan mahasiswa di masa orde lama. Saat itu mahasiswa bersatu dalam kekuatan besar dan punya ‘musuh’ bersama dan bergerak bersama untuk menjatuhkan musuh. Saat ini mahasiswa sulit bersatu karena kelompok mahasiswa memiliki kepentingan yang berbeda. Namun demikian, mahasiswa tetap bisa bergerak menjawab permasalahan sosial masyarakat sesuai segmen masing-masing, misalnya menghadapi kerusakan lingkungan dan mendampingi masyarakat meningkatkan ekonominya.
 
 
Beberapa peserta menanggapi, antara lain Mardi dari Nusa Tenggara Timur, mahasiswa perlu mengasah kemampuan analitisnya dan perlu punya ruang untuk melakukan sesuatu atau berkarya. Berikutnya, Anggara, mahasiswa yang berasal dari Kalimantan mengungkapkan bahwa mahasiswa yang ada di kota mestinya tidak hanya ‘bersuara’ melawan pemerintah, tetapi harus berani bertindak nyata, misalnya bergerak untuk mengurangi kesenjangan pendidikan di pedalaman Kalimantan misalnya, ini lebih bisa dirasakan.
 
Akhirnya, pilihan itu kembali pada mahasiswa itu sendiri, apakah kuliah demi mendapatkan nilai-nilai bagus di atas kertas, selesai dan bekerja atau kuliah dan berpertualang menemukan realitas sosial yang menggelisahkan yang membutuhkan suatu perubahan. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

Melawan Kegagalan Bereaksi

pada hari Selasa, 12 September 2017
oleh Stube HEMAT
 
 

 

Mudahnya mengakses informasi, digunakan oleh beberapa oknum untuk menyebarkan isu sara & berita ‘hoax’. Jika anak muda tidak dibekali dengan pengetahuan yang mumpuni dan sikap yang kritis maka mereka dengan mudahnya dapat diperdaya. Sebab saat ini banyak sekali berita ‘hoax’ yang bertebaran di media. Melihat perlunya penguatan daya pikir dan sikap kritis mahasiswa dan anak muda, Stube-HEMAT Yogyakarta kembali mengadakan pelatihan Studi Perdamaian: Manajemen Konflik & Resolusi. Pelatihan ini diadakan di Ngesti Laras Hotel Kaliurang (8-10/9) dengan jumlah peserta 42 orang.
 
 
Dalam pelatihan ini Stube mengusung tema “Melawan Kegagalan Bereaksi”. Tujuan dari pelatihan ini agar peserta mendapatkan pengetahuan tentang studi perdamaian, bagaimana mengelola konflik dan memberi resolusi. Peserta juga memiliki pemahaman dan keberanian melawan terorisme serta radikalisme, juga mampu menganalisa aktor-aktor yang terlibat untuk mengupayakan resolusi damai.

 

 

Sesi pertama dibuka dengan perkenalan secara umum tentang Stube-HEMAT Yogyakarta oleh Direktur Eksekutif Stube-HEMAT Indonesia, Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S., M.Pd. Sesi dua membawa peserta untuk paham dengan teori dasar Manajemen Konflik oleh Sarloce Apang, S.T & Trustha Rembaka, S.Th. Rudyolof I.M. Pinda, S.Sos. Dari pemaparan yang disampaikan, peserta diajak memahami dan mampu menganalisa konflik, menemukan orang kunci dari konflik yang terjadi, bahkan belajar untuk memunculkan konflik di permukaan agar terlihat dan dapat menemukan solusi dari konflik tersebut.

Fasilitator-fasilitator yang ahli di bidangnya turut melengkapi tiga hari pelatihan ini. Yoga Khoiri Ali, MAdari Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Daerah Istimewa Yogyakarta memberi pemahaman tentang bagaimana pihak luar berusaha menguasai Indonesia dengan berbagai taktik, salah satunya isu Agama. Isu ini benar-benar 'dimainkan' agar kita terpecah belah. Dari hasil penelitian tenyata pemicu konflik terbesar di daerah equator termasuk Indonesia adalah krisis energi. Isu agama sengaja dimainkan untuk menciptakan konflik di mana-mana sebagai pengalihan sedang terjadinya perebutan energi secara besar-besaran.

Sebagai bekal penting untuk cerdas menghadapi isu sara dan hoax di media, RifqiyaHidayatul Mufidahdan Sarjoko dari Gusdurian melengkapi pemahaman para peserta. Rifkia memaparkan materi tentang apa itu Komunitas Gusdurian dan apa saja yang mereka lakukan. Sarjoko memberi pemaparan penting bagaimana media benar-benar membodohi kita dengan berita ‘hoax’ dan isu sara yang memang sengaja dibuat tergantung permintaan. Satu kali menerbitkan isu tersebut mereka dapat meraup rupiah yang terbilang sangat besar jumlahnya. Sedangkan sebagai konsumen dari berita ‘hoax’ tersebut kita hanya bisa saling menyalahkan dan bahkan mencaci satu sama lain. 


Sabtu malam peserta melakukan role play. Role play yang dimainkan adalah bagaimana peserta mampu menjadi seorang mediator yang cerdas dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di sekitar mereka. Konflik yang diangkat oleh panitia dan dimainkan oleh peserta adalah Taxi/ojek Online Vs Taxi/ojek Konvensional, Full-day School & PERPPU Ormas. 

Pelatihan ini ditutup dengan rencana tindak lanjut. Harapannya setelah mengikuti pelatihan selama tiga hari dua malam ini, mereka mampu berbagi dengan teman-teman, komunitas, kelompok atau dimana saja mereka berada. Rencana tindak lanjut akan menjadi bukti nyata bahwa anak muda tidak hanya diam, mereka tidak akan gagal bereaksi sebab mereka sudah mendapatkan informasi yang valid sehingga mampu menjadi agen perdamaian bagi Indonesia dan dunia.(SAP).

 

 

 

 

 



 

  Bagikan artikel ini

Membangun Interaksi Lintas Agama yang Konstruktif

pada hari Senin, 28 Agustus 2017
oleh Stube HEMAT

 

 
 
 
 
Diskusi pembuka yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengawali program Studi Perdamaian: Manajemen Konflik dan Resolusipada hari Senin, 28 Agustus 2017 terasa menarik. Mengapa? Pembicaradalam diskusi tersebut adalah Ustadz Hasyim Abdullah, S.E seorang penulis dan praktisi dakwah Islamiyah yang berbicara di tengah-tengah mahasiswa Kristiani. Sebagai anggota FKUB Daerah Istimewa Yogyakarta, Ustadz Hasyim memberi apresiasi positif atas kegiatan yang dilakukan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta karena membuka ruang perjumpaan antara tokoh Islam dan anak-anak muda Kristen. Perjumpaan-perjumpaan semacam ini akan mencairkan kebekuan komunikasi antar kelompok yang akan menumbuhkan rasa saling percaya.
 
 
Menurut Ustadz, ‘Membangun Interaksi Lintas Agama yang Konstruktif bisa jadi ‘ya’ bisa juga ‘tidak’ mungkin, bergantung pada kemauan orang ituJika ingin hidup sendiri berarti tidak perlu memiliki relasi dengan orang lain atau menganggap orang lain itu tidak perlu ada. Namun realita berbicara bahwakita hidup di Indonesia yang memiliki lebih dari 17 ribu pulau, beragam suku, agama dan bahasa yang berbeda-beda dan bahkan saat ini mobilitas penduduk antar daerah sudah tinggi, lebih-lebih ditunjang dengan kemajuan teknologi sehingga mau tidak mau interaksi dengan banyak orang yang berbeda latar belakang itu pasti terjadi. Siapa pun bisa secara mudah berinteraksi dan mengungkapkan pendapat dan pemikirannya. Dari interaksi yang terjadi, tidak jarang muncul perbedaan pandangan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Perbedaan ini bisa menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan baik. Bagi yang gagal menerima perbedaan akan bereaksi secara terbuka sebagai lawan yang merusak (menimbulkan konflik), namun sebaliknya, bisa terjadi reaksi yang konstruktif.
 

 

SelanjutnyaUstadz Hasyim memaparkan beberapa poin untuk membangun interaksi lintas agama yang konstruktif, diantaranya:pertama, mempelajari kembali relasi Islam dan Kristen dalam lintasan sejarah ada beberapa tokoh, seperti Warrabah bin Nawfal bin Assad bin Abd al-Uzza penerjemah kitab Kristen ke bahasa Arab pada masa itu. Kemudian ada raja Negus (Islam=Najas) pada tahun 600 M. Seorang raja yang bijak dan tidak ingin ada rakyatnya yang terzalimi. Ia menampung nabi Muhammad SAW dan pengikutnya untuk tinggal di daerah di kerajaannya dan kaisar Romawi Timur (Bizantium) yang memiliki hubungan baik dengan pengikut Islam pada waktu itu. Kedua, memahami kebhinekaan dalam realitas sosial yang ada di Indonesia, jadi seorang manusia tidak boleh merasa dirinya lebih mulia, lebih superior, lebih hebat dan lebih-lebih lainnya. Sebaliknya, tidak boleh merasa rendah dari manusia lainnya. Ketiga, memahami kebhinekaan dalam konteksagama. Agama adalah keyakinan yang ada dalam hati manusia. Dalam konteks ini, tidak ada seorang punyang sanggup mengintervensi hati manusia untuk meyakini suatu agama, karena sejujurnya hanya dirinyalah yang mengetahui hubungan dirinya dengan Tuhan. Saya menjalani keyakinan yang saya yakini dan setiap orang yang meyakini keyakinannya harusberusaha mendalaminyaPerdamaian harus selalu diusahakan dan disebarkan, meskipun sebagian orangmasih kurang menyadari perlunya menciptakan perdamaian.
 
 
Di akhir diskusi Ustadz berharap bahwa interaksi lintas agama yang konstruktif bisa terwujud jika masing-masing pemeluk agama bisa mengikis prasangka dan rasa curiga satu sama lain. Di sisi lain,ditegaskan kembali bahwa perlu memperbanyak ruang interaksi atau perjumpaan antar pemeluk agama yang mengarah untuk kebaikan bersama. Ini saatnya anak muda menjadi inspirator perubahan dan perdamaian. (TRU).
 

 


  Bagikan artikel ini

Berselancar ke Taiwan

pada hari Senin, 21 Agustus 2017
oleh Stube HEMAT
 
 


Jimmy, salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta berangkat ke Taiwan mengikuti kegiatan dengan tema“2017 I Love Taiwan Mission Camp: Thy Name”, sebuah program kemah pemuda internasional yang diselenggarakan oleh Gereja Presbiterian di Taiwan. Ketertarikan untuk berangkat dimulai dari berita yang diposting Stube-HEMAT pada akun Facebook-nya bulan Februari lalu. Program ini hanya menanggung biaya akomodasi mereka selama di sana, sedangkan tiket pesawat baik berangkat ataupun pulang ditanggung oleh masing-masing peserta. Berlangsungdari tanggal 28 Juni 2017 sampai dengan 15 Agustus 2017, kegiatan ini diikuti oleh pemuda-pemudi dari berbagai negara seperti Malaysia, Korea, Jerman, Belanda, Jepang dan Indonesia. Jimmy merupakan satu-satunya peserta yang berasal dari Indonesia yang mengikuti kegiatan tersebut. 

 
Tujuan dari kegiatan I Love Taiwan atau ILT ini adalah: agar para muda saling mengenal dan membangun jejaring yang dimulai dari “Thy Name” (Your Name). Dengan mengenal nama, maka orang akan saling mengenal dan diharapkan akan lebih mengenal penciptaNya, yakni Tuhan kita. Kegiatan ini diselenggarakan sekaligus untukmemperingati 500 tahun Reformasi gereja. “Hajatanini juga untuk mengumpulkan anak muda dari berbagai negara yang memiliki jiwa peduli pada sesama untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan, berbagi dan belajar di gereja-gereja lokal di Taiwan. Anak-anakmuda bisa belajar mengenal budaya negara lain terutama kehidupan dan pergumulan gereja-gereja dalam menghadapi permasalahan-permasalahan sosial di dalam masyarakat”, Jimmy menjelaskan.
 
Banyak pemahaman dan pengetahuan baru diperoleh sebab selain diberi waku untuk berkeliling kota, peserta juga mendapat kesempatan berangkat ke gereja pedalaman yang merupakan gereja lokal suku AMIS dan BUNUNdua dari enambelas suku asli Taiwan. Peserta belajar dan berbagi bersama sekolah minggu, remaja pemuda dan orang tua di sana.
 
“Bagi saya, kegiatan selama disana sangat berkesan sebab saya dapat bertukar informasi dan juga berbagi tentang budaya IndonesiaSaya bersyukur dapat mengikuti kegiatan ini, sebab saat ini untuk mencari pekerjaan, kita harus melampirkan beberapa sertifikat keahlian dan pengalam. Saya diberi sertifikat dari program tersebut dan ini akanmembantu saya jika melamar pekerjaan”, tambah Jimmy.
 
Jimmy berharap dapat menerapkan konsep Summer Camp PCT ke Gereja asal di Sulawesi Tengah untuk mengumpulkan anak-anak muda dari berbagai negara, sehingga mereka saling kenal dan membuka wawasan internasional. Dia juga berharap agar di tahun-tahun yang akan datang kegiatan seperti ini dapat dilakukan lagi karena memberi  peluang bagi anak muda Indonesia untuk mengembangkan diri dan berani tampil di acara-acara internasional. (SAP).
 

  Bagikan artikel ini

Menyapa Teman-Teman di ITY

pada hari Jumat, 9 Juni 2017
oleh Stube HEMAT

 

Stube-HEMAT merupakan lembaga pengembangan sumberdaya manusia yang konsen terhadap mahasiswa, untuk itu perlu menjangkau mahasiswa-mahasiswa baru supaya mengenal pelayanan dan kerja lembaga ini. Kali ini tim kerja kembali menyapa teman-teman mahasiswa di PMK Kampus Institut Teknologi Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat 9 Juni 2017 bertempat di sekretariat PMK ITY Jl. Janti Km 4, Gedongkuning, Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
 

 

Sosialisasi kali ini dihadiri delapan belas peserta dari berbagai disiplin ilmu yang ada di ITY. Diawali dengan ibadah bersama yang dipimpin oleh Robin Aritonang salah satu tim Stube-HEMAT dengan mengambil bacaan dari Injil Matius 21:18–35 “Perumpamaan tentang Pengampunan”. Bacaan ini hendak mengajarkan kepada kita bahwa sebagai umat manusia harus saling mengampuni satu sama lain tanpa ada batasan. Hal ini menjadi faktor utama untuk menjaga perdamaian di semua tingkatan di dunia ini. Kemudian dilanjutkan dengan Presentasi Pengenalan Lembaga Stube-HEMAT dan program-program pelatihan oleh Mariano Lejap.

 

Dengan fokus pada program Exploring Sumba, disertai dengan beberapa foto kegiatan yang pernah dilakukan peserta, program ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk mengenal pulau Sumba dan berbagi pengetahuan maupun keterampilan yang dimiliki. Peserta berjejaring dengan masyarakat setempat dan aktivis Stube-HEMAT di Sumba.

 

 
Di sela-sela presentasi ada dua orang peserta, yaitu Oliva Wuwur dan Cindy Wasonono ‘sharing’ pengalaman tentang pelatihan yang pernah diikuti dalam program Bencana Alam dan Pelestarian Lingkungan. Mariano juga menceritakan pengalamannya selama pelatihan Hak Azasi Manusia dilanjutkan live in di Sukolio dan pelatihan Keterampilan Berkomunikasi. Mahasiswa yang hadir diajak untuk ikut dalam pelatihan yang akan diadakan pada 1-3 September 2017 yang akan datang dalam program Studi Perdamaian: Manajemen Konflik dan Resolusi.

 

Dalam termin diskusi, Jessika, salah satu peserta yang berasal dari Jawa Tengah sangat tertarik dengan program Exploring Sumba, “Program yang dimiliki Stube-HEMAT sangat bagus dan kita dapat melakukan kegiatan di masyarakat. Informasi ini perlu disebarluaskan ke teman-teman yang lain,” tuturnya.


Program-program Stube-HEMAT memang didesain untuk mahasiswa agar memiliki kesadaran atas permasalahan sosial yang ada dengan harapan mahasiswa dapat melakukan pemberdayaan masyarakat di sekitarnya. Sehingga selagi masih menjadi mahasiswa perlengkapilah diri dan tingkatkan kualitas diri, agar kita dapat bermanfaat bagi sesama. (MYL).

 


  Bagikan artikel ini

  • Mahas mahastama.trazz@gmail.com memberikan komentar.  Rabu, 21 Juni 2017 pukul 07:20:00

    Hello, artikel ini sangat bermanfaat

  • adminstube admin (at) stube-hemat (dot) or (dot) id memberikan komentar.  Rabu, 28 Juni 2017 pukul 17:45:11

    Terima kasih atas komentarnya.

Aku Ada, Aku Bicara

pada hari Minggu, 21 Mei 2017
oleh admin
 
 
Menyuarakan sesuatu hal sangatlah penting, terlebih yang berkaitan dengan keadilan, keilmuan dan kebenaran. Untuk mencapai tujuan tersebut ketrampilan berkomunikasi secara efektif merupakan syarat utama khususnya mahasiswa. Komunikasi yang efektif memudahkan pendengar memahami informasi yang disampaikan baik secara lisan, tulisan, visual maupun non-verbal. Komunikasi efektif juga akan mempermudah pihak yang ingin menyampaikan pesan, debat, mempertahankan pendapat, memimpin diskusi, atau mengeluarkan ide untuk publik. Mahasiswa diharapkan memiliki keterampilan berkomunikasi secara efektif meskipun banyak faktor yang mempengaruhi seperti latar belakang budaya, logat bicara karena pengaruh bahasa ibu, atau juga faktor psikologis.
 
Menjawab kebutuhan ini, Lembaga Stube HEMAT Yogyakarta menyelenggarakan program pelatihan keterampilan berkomunikasi. Mulai dari pelatihan menyajikan data dengan grafik, mengoptimalkan powerpoint hingga tiga hari pelatihan dengan fasilitator yang ahli di bidang komunikasi secara verbal.
 
 
Tiga hari pelatihan dengan tema “Aku Ada, Aku Bicara” diadakan di wisma Omah Jawi Kaliurang, pada 19-21 Mei 2017. Kegiataan ini diikuti 30 peserta dari berbagai kampus di Yogyakarta. Tim Stube HEMAT dan Magdalena Betty seorang penyiar radio dan juga praktisi di bidang public speaking menjadi fasilitator dalam pelatihan ini. Magdalena memyampaikan materi tentang apa itu verbal grafity dan bagaimana cara menghilangkannya. Verbal grafity adalah kebiasaan saat berbicara menggunakan kata-kata yang tidak perlu seperti ehmm, anu, eee, apa ya, trus, mmmm, dst. Materi lain yang disampaikan adalah verbal dan non-verbal komunikasi dan tips berpendapat yang baik. Peserta juga berlatih menganalisa kalimat-kalimat asumsi dan fakta untuk membantu obyektivitas berpikir dan menyimpulkan.

 

 
 
Model penyampaian materi pelatihan tidak menggunakan model satu arah atau teacher centered learning, tetapi melibatkan semua peserta di semua sesi dan langsung praktek berbicara seperti simulasi debat. Kegiataan terakhir adalah challenge make a video yang mensyaratkan semua peserta membuat video dengan konten ajakan positif berdurasi 1-5 menit. Para peserta membuat secara kreatif konten video mereka, mulai dari yang mengajak memakai helm saat berkendara, tertib membuang sampah, disiplin belajar, menyadari adanya berita, bahaya merokok, dll. Dari video yang dibuat, dipilih 6 video terbaik.
 

 

Salah satu peserta bernama Seprianus, mahasiswa APMD dari Sumba mengatakan, “Pelatihan Stube HEMAT ini berbeda dengan pelatihan-pelatihan yang pernah saya ikuti. Biasanya pelatihan tersebut sangat serius dan membosankan, tetapi pelatihan Stube HEMAT ini memberi nuansa keakraban yang membuat peserta semangat dan menumbuhkan ide.“ Dengan materi yang diterima, peserta diharapkan memiliki kemampuan komunikasi yang lebih baik serta bisa memberi efek positif untuk masyarakat dan bangsa ini. Perubahan memang tidak akan terjadi dalam sekejap, butuh perjuangan dan kerja keras seperti peribahasa, berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi yang berarti menuntut ilmu hendaknya sepenuh hati dan tidak tanggung-tanggung agar mencapai hasil yang baik. (ITM).
 
 

  Bagikan artikel ini

Program Keterampilan Berkomunikasi

pada hari Sabtu, 20 Mei 2017
oleh admin


  Bagikan artikel ini

Tips untuk Mahasiswa: Powerpoint yang Menarik & Efektif

pada hari Sabtu, 29 April 2017
oleh
  

   

Dalam ruang lingkup pendidikan, presentasi adalah hal yang wajib dikuasai dan dikembangkan baik oleh para mahasiswa maupun pengajar, supaya setiap materi yang disampaikan dapat dipahami oleh pendengar. Pada hari Sabtu 29 April 2017, sharing mengenai presentasi dan memaksimalkan powerpoint diadakan di sekretariat stube-HEMAT Yogyakarta dan dihadiri 15 peserta dari berbagai kampus di sekitaran Yogyakarta. Para peserta antusias mendengarkan materi yang disampaikan oleh staff pengajar IT dari Universitas Kristen Duta Wacana, Aditya Wikan Mahastama,S.Kom,M.Cs.

 

Dalam paparannya, fasilitator menegaskan bahwa setiap orang dapat mendesain powerpoint sesuai dengan kreativitas masing-masing. Powerpoint merupakan poin-poin materi yang memiliki kekuatan, sehingga yang ditampilkan bukan sebuah teks yang panjang. Desain powerpoint yang menarik tentu akan membuat pendengar lebih tertarik sehingga mudah dalam menerima materi. Desain-desain yang akan dipakai dalam presentasi tentu saja harus sesuai dengan konteks materi dan pendengar, seperti apakah presentasi tersebut ditujukan untuk anak-anak kecil, forum ilmiah, para pebisnis atau kalangan rohani. Desain yang tidak cocok akan merusak materi yang disampaikan.

 

  

  

Di sisi lain, dibutuhkan pula keterampilan berbicara saat menyampaikan powerpoint supaya lebih interaktif dan suasana tidak membosankan. Contoh-contoh powerpoint yang menarik yang belum diketahui oleh para peserta berikut bagaimana cara membuatnya juga disajikan dalam kegiatan ini. Gambar ataupun animasi bisa disispkan dalam powerpoint untuk memberi semangat pendengar memperhatikan dan terus mendengarkan materi yang disampaikan. Di akhir sesi, fasilitator menyampaikan info tentang website desain powerpoint yang unik dan lebih berwarna yang dapat diunduh bebas sesuai selera masing-masing.

 
Wilton, salah seorang peserta mengatakan bahwa kegiatan ini mendorongnya lebih kreatif membuat powerpoint. Jika kita mampu menyampaikan materi powerpoint dengan baik tentu kehadiran kita akan dinantikan oleh pendengar yang pernah mengikuti presentasi kita. (RA).


  Bagikan artikel ini

Buat Dunia Lebih Baik tanpa CAH dan Genosida

pada hari Sabtu, 29 April 2017
oleh Stube HEMAT

 

 

 

 

Dalam seminar ilmiah yang diadakan di kampus STPMD “APMD” 29 April 2017 sebuah tema diangkat untuk diketahui oleh khalayak umum. Tema tersebut mudah diucapkan, “Crime Against Humanity (Kejahatan terhadap kemanusiaan) dan Genosida”, tetapi sangat sulit dalam kenyataan.

 

 

 

Sepintas, kejahatan terhadap kemanusiaan dan Genosida bermakna sama, yaitu pemusnahan terhadap kemanusiaan dan bertautan erat dengan pelanggaran HAM, tapi jika ditelisik lebih dalam, kedua istilah tersebut memiliki arti masing-masing. Kejahatan terhadap kemanusiaan memiliki korban yang berasal dari penganut ideologi dan paham politik tertentu, contoh pembantaian terhadap Kulak (petani kaya dalam bahasa Rusia) oleh rezim Stalin yang memaksakan konsep sosialisnya.

 

 

 

Sedangkan Genosida menurut konvensi Genosida yang ditetapkan dalam sidang umum PBB 1948 di Paris yang diprakarsai oleh Raphael Lemkin (advokat Polandia, penemu konsep Genosida), berarti setiap perbuatan yang dilakukan dengan tujuan merusak, keseluruhan ataupun sebagian dari suatu kelompok bangsa, etnis, rasial dan agama. Contoh pembantaian etnis di Rwanda dan Bosnia.

 

 

 

Mencegah Pengulangan

 

Mempelajari sejarah masa lalu bukan saja menambah ilmu, tapi juga sebagai pengingat bagi generasi masa depan agar tidak mengulangi kesalahan fatal di masa lampau. Seiring berjalan waktu bukan tidak mungkin kasus pembantaian besar-besaran bisa terulang, sebab hanya satu negara di dunia yang memasukkan korban politik ke dalam korban genosida, sehingga negara ini dapat meminimalisir korban ketika terjadi pergolakan politik.

 

 

 

 

Mengapa demikian? Sebab kerangka penindakan pada kasus kekerasan terhadap kemanusian (yang dipakai pada korban politik) memiliki fokus hanya pada pengakuan korban, sehingga efek jera untuk pelaku di akar rumput tidak berdampak signifikan. Tapi genosida memiliki fokus dari perspektif pelaku maka dapat diketahui apa niat dan motifnya. Dari situlah tindakan pencegahan terhadap pewarisan niat pada anak cucunya dapat dilakukan.

 

 

 

Prof. Akihisa Matsuno (peneliti sejarah dan hukum internasional, Universitas Osaka) yang hadir sebagai pembicara, mengatakan “adalah sangat penting untuk terus menerus menuntut agar penghancuran kelompok politik diperlakukan serius sejajar dengan genosida. Karena dalam sejarah umat manusia kejahatan berskala besar hampir semua ada hubungannya dengan motivasi politik”. Beliau juga memberi referensi pendukung dalam konstitusi kerajaan Belanda, ayat 1 yang berbunyi “Diskriminasi dengan alasan agama, kepercayaan, tanggapan politik, ras atau seks atau dengan alasan apapun tidak diperbolehkan”. Sebagai closing statement ia mengatakan “Sebenarnya tidak ada alasan yang kuat lagi untuk tidak memasukkan kelompok korban politik ke dalam genosida”.

 

 

Seminar siang itu memberi pengetahuan baru yang praktis bagi pemuda saat ini, bahwa apapun motif dan niatnya, pelanggaran HAM berat mesti ditindak agar terjadi rekonsiliasi antara pelaku dan korban, terutama sebagai garansi tidak berulangnya kejadian serupa di masa depan. (SRB).


  Bagikan artikel ini

Program Keterampilan Berkomunikasi Workshop #2: Sabtu, 29 April 2017

pada hari Sabtu, 29 April 2017
oleh Stube HEMAT


  Bagikan artikel ini

Mengkomunikasikan Data

pada hari Sabtu, 22 April 2017
oleh Stube HEMAT
 
 

 

 

 

 

Mengkomunikasikan data berupa angka-angka merupakan tantangan tersendiri bagi setiap penyaji. Data berupa angka, grafik atau prosentase akan lebih mudah dimengerti jika disajikan dalam bentuk visual dengan desain yang menarik. Grafik merupakan pilihan yang tepat untuk menyajikan data dengan ringkas dan jelas. Grafik dapat diartikan sebagai suatu kombinasi data-data baik berupa angka, huruf, simbol, lambang, perkataan, gambaran yang disajikan dalam sebuah media dengan tujuan memberikan penjelasan tentang suatu data.

 

 

 

Melihat pentingnya grafik sebagai salah satu alat untuk mempermudah dalam penyampian informasi, Stube HEMAT mengadakan latihan membuat grafik pada tanggal 22 April 2017 di sekeretariat Stube HEMAT Yogyakarta yang diikuti oleh 15 peserta dari berbagai jurusan dan  kampus di Yogyakarta. Pemateri latihan ini adalah Sarloce Apang, S.T dan Indah Theresia, S.E. Keduanya merupakan tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

Pelatihan ini diawali dengan pengenalan beberapa jenis grafik dan kegunaannya. Miscrosoft PowerPoint telah menyediakan 11 macam grafik yang meliputi grafik batang, grafik lingkaran, grafik kolom, grafik garis, grafik bidang, grafik penyebaran, grafik stock, grafik permukaan, grafik donat, grafik gelembung, dan grafik radar. Namun pada kenyataan sehari-hari hanya 4 grafik yang paling sering digunakan sehingga pada latihan kali ini fokus membuat grafik lingkaran, grafik garis, grafik kolom dan grafik batang.

 

 

 

 

Selanjutnya peserta diberi waktu membuat grafik secara bertahap yang dilakukan di laptop masing-masing berdasarkan contoh soal yang diberikan dengan mengikuti arahan pemateri. Grafik pertama yang dibuat adalah grafik lingkaran, diteruskan dengan grafik kolom, batang dan grafik garis. Pemateri menjelaskan dari proses awal yakni dengan memasukkan data ke MS Excel terlebih dahulu yang selanjutnya akan diproses menjadi sebuah grafik.

 

 

 

Grafik yang sudah siap kemudian diedit menjadi lebih menarik dengan memakai aplikasi yang tersedia di MS PowerPoint, mulai dari warna grafik atau pun background yang bisa diganti-ganti.

 

 

 

 

 

Kegiatan diakhiri dengan memberikan soal yang harus dikerjakan sendiri oleh peserta. Peserta juga harus menganalisa grafik yang cocok untuk data yang dikelola. Dengan latihan singkat ini mahasiswa diharapkan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam mengkomunikasikan data. (ITM).


  Bagikan artikel ini

Tahapan Seleksi Peserta Program Exploring Sumba 2017

pada hari Sabtu, 22 April 2017
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Sosialisasi Program Exploring Sumba
(Kamis, 20 April 2017)
 
Konsultasi Calon Peserta
(21 April – 1 Mei 2017)
 
Workshop Proposal
(Selasa, 2 Mei 2017)
 
Presentasi Proposal

 

(Selasa, 16 Mei 2017)
 

  Bagikan artikel ini

Program Keterampilan Berkomunikasi Workshop #1: Sabtu, 22 April 2017  

pada hari Jumat, 21 April 2017
oleh Stube HEMAT
 
Menyajikan data menggunakan grafik
 
Menyampaikan data berbasis grafik

 


  Bagikan artikel ini

Sosialisasi Program   Eksposur Lokal dan Exploring Sumba    

pada hari Rabu, 19 April 2017
oleh Stube HEMAT
 

 


  Bagikan artikel ini

EKSPOSUR LOKAL

pada hari Rabu, 19 April 2017
oleh Stube HEMAT

 

 

 

 

 

Deskripsi:

 

Setelah studi beberapa tahun di Yogyakarta, mahasiswa yang berasal dari luar Jawa pasti memiliki pemikiran yang berbeda atas diri mereka dan daerah mereka. Mereka seharusnya mempersiapkan diri untuk pulang, melakukan sesuatu untuk daerah mereka dan penduduk asli, dan membuat orientasi kerja.

 

 

 

Kegiatan dalam program ini membuka pemahaman mengenai daerah asal mereka, sehingga mereka benar-benar siap setelah selesai studi di Yogyakarta.

 


 

Tujuan:

 

1. Peserta mengetahui dinamika daerah asal setelah meninggalkannya untuk beberapa tahun studi di Yogyakarta.

 

2. Peserta mampu memetakan potensi, ancaman dan kesempatan daerah asal yang bisa dipakai untuk kesejahteraan masyarakat.

 

3. Peserta mampu membangun jejaring dengan dan untuk daerah asal.

 


 

Indikator:

 

1. Peserta menulis analisis dinamika daerah asal mereka.

 

2. Peserta memetakan potensi, ancaman dan kesempatan dari daerah asal mereka.

 

3. Peserta memformulasikan apa yang akan mereka lakukan setelah selesai studi di Yogyakarta dengan jejaring yang sudah mereka ketahui.

 

 

 

Peserta: 3 orang



 




  Bagikan artikel ini

EXPLORING STUBE-HEMAT SUMBA  

pada hari Senin, 10 April 2017
oleh Stube HEMAT
 


Deskripsi:
Pulau Sumba memiliki keterbatasan kemudahan akses seperti pendidikan, transportasi, informasi dan teknologi, padahal pulau ini sebenarnya memiliki modal dasar potensial yang mencakup alam, budaya dan manusia. Mahasiswa di seluruh Indonesia yang bergabung di Stube HEMAT Yogyakarta bisa berbagi kemampuan dengan mahasiswa yang bergabung di Stube-HEMAT Sumba bersama dengan masyarakat Sumba.
 
Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman atas perbedaan yang dimiliki kedua belah pihak, membuka kesempatan untuk mempromosikan Sumba, dan menemukan berbagai jalan keluar sebagai hasil dari interaksi dan berjejaring.

Tujuan:
1. Peserta menemukan pengalaman hidup baru dalam perbedaan latar belakang budaya yang mereka miliki dan memahami alam, budaya dan modal dasar manusia di Sumba.
 
2. Peserta mempelajari bagaimana beradaptasi, memahami, menghargai orang lain dengan perbedaan dalam sebuah kegiatan yang dilakukan bersama dengan memberikan keterampilan dan pengetahuan yang mereka miliki yang diperlukan oleh masyarakat setempat.
 
 
3. Peserta berjejaring dengan aktivis Stube HEMAT di Sumba untuk mempromosikan pendidikan, pertanian organik, kesehatan dan sanitasi, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan untuk peningkatan pendapatan melalui pengolahan produk-produk lokal, dll.

Indikator:
1. Peserta tinggal bersama masyarakat Sumba selama satu bulan.

2. Peserta membuat kegiatan bersama dengan jejaring yang baru di Sumba berdasarkan keterampilan dan pengetahuan yang dimiliki dalam bidang pendidikan, pertanian, peningkatan keterampilan, aplikasi teknologi, dll.


3. Peserta mengunjungi dan membuat jejaring dengan aktivis Stube-HEMAT.
 

Peserta: 3 orang

 

 


  Bagikan artikel ini

  Aku dan Gereja Berinteraksi dan Temukan Semangat Baru Pendampingan Remaja dan Pemuda GKJ Panggang    

pada hari Rabu, 29 Maret 2017
oleh Stube HEMAT

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta mendampingi kegiatan keakraban remaja pemuda GKJ Panggang, Gunungkidul yang diadakan di pantai Gesing, Gunungkidul pada hari Senin-Selasa, 27-28 Maret 2017 bertema ‘Aku dan Gereja’. Pendampingan yang merupakan tindak lanjut atas kerinduan melayani gereja pascapelatihan Christianity ini, bertujuan: 1) merealisasikan kegiatan pascapelatihan, khususnya pelatihan Christianity, 2) anak muda gereja mengetahui sejarah kekristenan dan gerejanya, 3) relasi dengan gereja lokal semakin erat, dan 4) melayani dalam rangka pemberdayaan jemaat gereja lokal.

 

 

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Panggang berada di desa Girisekar, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 40 km dari pusat kota Yogyakarta dan bisa ditempuh dalam waktu 60 menit. Pada tahun 2009 gereja ini mendewasakan diri dari GKJ Paliyan dan memiliki 269 orang jemaat yang tersebar di empat pepanthan, yaitu Girisekar, Girimulyo, Giriharjo dan Giripurwo. Saat ini GKJ Panggang dilayani oleh seorang pendeta, yaitu Pdt. Subagyo, S.Th.

 

 

Di acara yang diikuti dua puluh empat peserta, Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta membagikan sejarah kekristenan masuk ke Indonesia dan sampai di Panggang, Gunungkidul. Ia menggunakan metode kreatif dan games kelompok sehingga peserta antusias mengikuti sesi dengan menyusun kartu-kartu yang berisi tahapan sejarah gereja, seperti masa pelayanan Yesus, Pentakosta, masa pelayanan rasul-rasul, reformasi gereja sampai masuknya kekristenan di Indonesia. Metode ini mendorong mereka berdiskusi dan berpendapat saat membahas urutan kronologis tahapan sejarah gereja.

 


Setelah itu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta mendampingi peserta berdialog untuk menemukan aktivitas-aktivitas apa saja yang diminati anak muda. Mereka memainkan tiga peran yang berbeda, antara lain sebagai majelis, pengurus remaja dan anggota remaja. Ternyata, meskipun muda mereka bersemangat dan aktif melalui ungkapan pendapat mereka tentang apa yang harus dilakukan anak muda gereja dan berbagai usulan kegiatan, antara lain memulai kembali persekutuan remaja, mengasah talenta menyanyi, memainkan alat musik dan menari, melayani di gereja dan mengadakan outbond.

 

Hari berikutnya team Stube-HEMAT Yogyakarta memfasilitasi dinamika kelompok melalui tiga jenis permainan. Elisabeth dan Trustha memandu permainan kerjasama ‘Participation’ di mana peserta memindah bola secara estafet menggunakan belahan bambu dari titik awal ke dalam gelas. Peserta belajar bagaimana bekerjasama dan ikut ambil bagian dalam suatu aktivitas.

Berikutnya Wilton dan Sipry memandu permainan ‘Water Relay’ di mana peserta memindah air di nampan melalui atas kepala dan menjaga supaya airnya tidak tumpah ke anggotanya. Peserta belajar cermat dan berhati-hati dalam bertindak dan melindungi anggotanya.

Sedangkan Redy dan Sarloce memandu permainan ‘Walking in the dark’ di mana peserta harus melewati daerah tertentu dengan mata tertutup. Satu orang dari kelompok dipilih untuk memberikan arahan ke mana anggota akan melangkah. Peserta belajar menjadi pemimpin yang mengarahkan anggota dan sebaliknya, anggota jeli mendengarkan arahan dari pemimpin.

 

 

 

Pdt. Subagyo, di akhir acara mengungkapkan, “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Stube-HEMAT Yogyakarta atas kerjasama pendampingan ini. Di satu sisi kegiatan remaja gereja sedang vakum dan kami sedang mencari fasiltator kegiatan untuk mereka, di sisi lain Stube-HEMAT Yogyakarta menawarkan berkegiatan di sini. Jadi ini seperti istilah Jawa ‘tumbu oleh tutup’ (wadah dan tutupnya) dan saya percaya Tuhan yang bekerja. Selain itu, majelis gereja sangat terbantu dan remaja pemuda menemukan semangat baru melalui materi dan aktivitas yang mereka ikuti di acara ini. Kami berharap kerjasama bisa terus terjalin.”

 

 

 

Benarlah adanya bahwa kerjasama akan mendorong terwujudnya interaksi dan di dalam interaksi ada proses saling mengenal dan saling belajar sehingga muncul pembaharuan dan kemajuan. Anak muda, teruslah berinteraksi dalam semangat kebersamaan. (TRU).


  Bagikan artikel ini

    REFLEKSI EXPLORING SUMBA Seni Peran Untuk Sumba Tanah Yang Permai    

pada hari Minggu, 26 Maret 2017
oleh Stube HEMAT
 

 

 

 

 

Pada program eksploring Sumba, saya mendapat kesempatan dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengunjungi pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Selama kurang lebih satu bulan saya tinggal di pulau Sumba untuk menggali dan belajar berbagai potensi yang terdapat di sana. Baik dari segi potensi alam, pemuda dan budaya. Sumba merupakan daerah yang sedang berada dalam fase perkembangan, untuk menyusul kemajuan ekonomi seperti yang berada di daerah Jawa, Bali dan Kupang. Dalam menyambut kemajuan ekonomi itulah lembaga Stube-HEMAT hadir untuk membekali dan memperkaya kapasitas para pemuda yang rata-rata adalah mahasiswa untuk menyambut tantangan zaman.

 

 

 

 

 

 

Sebagai salah satu peserta program eksploring Stube-HEMAT ke Sumba, saya mengemas program dalam bentuk pelatihan teater kepada pemuda mahasiswa di samping diskusi-diskusi kecil yang santai. Mengapa teater? Bagi saya teater adalah media untuk memberi ruang bagi pemuda dalam proses mengembangkan kapasitas yang dimilikinya. Segala data yang terpendam dalam memori dan imajinasi, melalui teater data tersebut dapat hidup dan tersalurkan.

 

 

 

 

Selain membantu dalam mengembangkan kapasitas pemuda, teater juga sangat berperan dalam menumbuhkan kesadaran pemuda untuk lebih mengenal lingkungan di mana mereka berada beserta permasalahan yang dihadapi bersama. Teater mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti mengolah rasa, psikologis, gerak tubuh, harmoni alam hingga permasalahan kehidupan. Apabila teater dipahami sebagai satu kesatuan dalam hidup, maka teater dapat memberikan dampak positif dalam menumbuhkan potensi dalam diri seseorang.

 

 

 

 

Dalam seni peran, salah satu aspek yang tidak bisa ditinggalkan yaitu memahami situasi kehidupan. Artinya teater mengajak para pemuda untuk terus mempertajam dan melakukan analisa sosial. Dari hasil analisa sosial itulah data-data yang didapatkan kemudian dapat dituangkan dalam tulisan yang kemudian menjadi sebuah naskah pertunjukan. Melalui teater persoalan bersama dapat disuarakan kepada publik dan melalui teater para mahasiswa akan menemukan referensi baru yaitu merasakan apa yang sedang dialami orang lain. Dengan demikian teater menjadi media untuk pendampingan kepada masyarakat.

 

 

 

 

 

 

Tanah Sumba adalah tanah yang permai. Keindahan alam, potensi sumber daya alam, dan kebudayaan di tanah Sumba haruslah tetap dilestarikan. Salah satu cara untuk menjaga dan melestarikannya yaitu melalui seni peran. Pemuda dan mahasiswa dapat memberi bagian dalam menyiapkan dan mengembangkan kapasitas dalam proses menyambut perubahan dan tantangan zaman.

 

 

Antusiasme teman-teman muda di Sumba sangat bagus. Mereka dengan semangat mengikuti sesi latihan teater baik indoor maupun outdoor. Mereka juga berlatih membuat naskah drama yang dijiwai bersama teman-teman muda yang lain. Sayang, pementasan belum bisa dilaksanakan karena waktu yang belum pas. Saya percaya apabila ada kesempatan baik, potensi yang sudah diasah ini bisa ditampilkan saat diperlukan, sebagaimana naskah yang sudah siap diperuntukkan memperingati Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2017 lalu. Tetap semangat teman-teman mengasah kemampuan dan menyuarakan ide-ide kepada publik melalui teater. (VTS).


  Bagikan artikel ini

Tiga Puluh Menit dengan PMK ITY    

pada hari Sabtu, 25 Maret 2017
oleh Stube HEMAT
 
Pada hari Jum’at, 24 Maret 2017, Stube-HEMAT Yogyakarta berkesempatan untuk melakukan sosialisasi kepada teman-teman Persekutuan Mahasiswa Kristiani Institut Teknologi Yogyakarta. Sosialisasi dilakukan bersamaan acara ibadah rutin mingguan mahasiswa. Ada sekitar enam belas peserta yang hadir mengikuti ibadah dan sosialisasi. Setelah selesai ibadah, Sarloce, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta diberi kesempatan menyampaikan apa itu Stube HEMAT dan program-program yang dilakukan lembaga ini. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa Stube adalah lembaga pendampingan mahasiswa bagi mahasiswa yang menempuh studi di Yogyakarta. Beberapa contoh program yang pernah dilakukan meliputi Manajemen Konflik, Pertanian Organik, Masalah Anak Muda dan masih banyak lagi.


Untuk lebih jelas mengenai pelayanan program di Stube HEMAT, diputarlah sebuah video yang berisi kegiatan Stube di tahun 2015 dan 2016. Setelah selesai pemutaran video seorang mahasiswa bernama Riyandi bertanya, “Apa cara yang dilakukan Stube dalam merangkul teman-teman yang berbeda keyakinan dan budaya?” Dijelaskan pada kesempatan itu bahwa Stube HEMAT terus melakukan pendekatan dengan teman-teman yang berbeda budaya dan agama dengan membangun silaturahmi dengan mereka. Apabila komunikasi terjalin dan sudah saling kenal satu dengan yang lain maka sudah pasti akan ada kepercayaan. Proses membangun rasa percaya bukan sesuatu yang instan tetapi dapat dicoba meski perlu sedikit kesabaran.
 

 

Timotius bertanya, “Mengapa Stube hanya di Sumba dan Bengkulu sedangkan banyak tempat lain di Indonesia?” Membuka Stube di lain tempat tidak seperti membuka cabang toko, karena harus dimulai dari keterpanggilan. Stube HEMAT Sumba dan Bengkulu dibawa oleh mereka yang pernah aktif di Stube HEMAT Yogyakarta. Jika teman-teman ingin membangun di tempat lain bergabunglah dengan Stube agar Stube dapat dibangun di Sulawesi, Papua, Kalimantan dan kota lain di Indonesia.
 

 

Elisabet Uru Ndaya (Elis), salah satu aktivis di Stube HEMAT Yogyakarta bercerita bahwa sebelum mengikuti Stube dia tidak banyak tahu tentang motif kain Sumba, meski dia berasal dari Sumba. Tetapi saat bergabung dengan Stube HEMAT Yogyakarta, dia mendapatkan tantangan karena selalu dikatakan “orang Sumba kok tidak tahu motif pada kain Sumba”. Dari kalimat ini Elis menerima tantangan untuk mengikuti program Eksposur Lokal dengan meneliti dan belajar filosofi motif kain Sumba. Saat ini dia merasa lebih diperkaya dan lebih dekat dengan kampung halamannya.
 
Sebagai penutup, Sarloce menyampaikan bahwa Stube tidak menyediakan segala yang mahasiswa butuhkan tetapi Stube merupakan batu pijakan bagi bagi teman-teman untuk meloncat lebih jauh seperti mendapat pengalaman dan pengembangan kemampuan pribadi. (SAP).

  Bagikan artikel ini

  Pengetahuan, Keterampilan dan Jaringan Sosialisasi Stube di KMK St. Agustinus, Instiper    

pada hari Senin, 20 Maret 2017
oleh Stube HEMAT

 

 

 

“Keberhasilan hidup menjadi impian setiap orang juga seorang mahasiswa. Ia memiliki harapan yang ingin ia raih. Ia meninggalkan kampung halaman yang jauh dari pulau Jawa untuk menempuh studi di Yogyakarta demi mewujudkan cita-citanya. Ribuan mahasiswa datang ke Yogyakarta untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan baru yang menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan. Tentu mereka berharap ketika selesai studi mereka benar-benar telah siap untuk masuk dalam dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri”, demikian pengantar dari Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta di Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St. Agustinus Instiper Yogyakarta, Jumat, 17 Maret 2017 di kampus Instiper, Paingan, Sleman.

 

 

 

Sosialisasi diawali perkenalan dengan menyebutkan nama dan asal daerahnya, dilanjutkan dengan pemutaran video pendek Stube-HEMAT. Dalam sosialiasi ini disampaikan tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa, yaitu: pertama, pengetahuan (knowledge), ini berkaitan dengan mahasiswa yang belajar dan mendalami materi-materi kuliah di Instiper, khususnya pertanian dan kehutanan sehingga ketika selesai kuliah ia diharapkan memiliki wawasan yang luas tentang pertanian dan kehutanan. Kedua, keterampilan (skills), berkait erat dengan kemampuan mahasiswa menerapkan atau mempraktekkan apa yang sudah dipelajari selama studi, sehingga ia benar-benar terasah dan terampil di bidangnya. Ketiga, jaringan (network), mahasiswa tidak bisa hidup sendiri, ia harus membangun relasi dengan sesama mahasiswa, dengan orang lain, dan lembaga lain demi pengembangan dirinya secara optimal. Jaringan ini bermanfaat bagi dirinya saat masih studi maupun setelah selesai studi dan kembali ke daerahnya. Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani yang sedang studi di Yogyakarta memberi ruang dan kesempatan mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri, tidak saja pengetahuan tetapi juga keterampilan dan jaringan melalui kegiatan-kegiatan yang ada di Stube-HEMAT Yogyakarta.

 


 

 

Angela Mugar, salah satu mahasiswa Instiper yang berasal dari Borong, Menggarai Timur menanyakan tentang program Eksposur Lokal, bagaimana cara mengakses kesempatan sebagai peserta program tersebut. Dijelaskan pada kesempatan itu bahwa program tersebut terbuka bagi mahasiswa yang pernah ikut dengan sungguh-sungguh kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta. Calon peserta mengajukan ide-ide apa yang akan ia lakukan di kampung halamannya saat libur jeda semester dan kemudian mempresentasikan proposal tersebut kepada team Stube-HEMAT Yogyakarta. Selanjutnya Nanno Silvano, yang berasal dari Larantuka, Flores Timur menanggapi bahwa kegiatan seperti yang dilakukan Stube-HEMAT inilah yang ia cari. Selama ini kegiatan yang ia ikuti lebih banyak di kerohanian saja, belum menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat.

 

“Kesempatan berkembang setiap mahasiswa banyak ditentukan dari dalam dirinya sendiri, dari kemauan memiliki pengetahuan, mengasah keterampilan dan membangun jejaring. Melalui proses itu diharapkan ia tumbuh menjadi manusia yang utuh, dewasa pribadinya dan mampu memberikan manfaat untuk sesamanya”, ungkap Trustha mengakhiri acara sosialisasi. Sementara itu Yugo Ardi Saputra, koordinator KMK St Agustinus Instiper menanggapi positif atas inisiatif Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan kegiatan sosialisasi, sebagai wujud kerjasama antar lembaga khususnya dengan mahasiswa di kampus. Ia berharap kerjasama terus terjalin dan bermanfaat untuk semua. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Masihkah Menjadi Ekklesia*?    

pada hari Rabu, 15 Maret 2017
oleh Stube HEMAT
 
Masihkah menjadi ekklesia? Ya, pertanyaan ini mengemuka seiring berkembangnya zaman. Nilai-nilai kekristenan yang menjadi pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya mendapat tantangan yang tak mudah karena kehidupan terus berubah. Di satu sisi kehidupan duniawi gencar menawarkan berbagai kesenangan dan kemewahan yang bisa diakses dengan mudah oleh siapapun, di sisi lain masih ada realitas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, seperti ketidakadilan, kemiskinan, fanatisme dan abai terhadap lingkungan.

 

Kata ekklesia dalam kehidupan kekristenan bermakna dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Kristus dan menerangi kegelapan yang ada di dunia. Orang Kristen khususnya anak muda perlu berefleksi, apakah nilai-nilai kekristenan itu masih menjadi pedoman? Apakah kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari merupakan dua bagian yang terpisah? Sudahkah nilai-nilai kekristenan mewujud dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kristiani? Hal ini menjadi titik tolak Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan program pelatihan Christianity pada 10-12 Maret 2017 di Wisma Asrama UKDW Yogyakarta dan diikuti oleh tiga puluh dua peserta dari daerah yang sedang kuliah di berbagai kampus di Yogyakarta.

 

 

 

Renungan pembukaan Pdt. Bambang Sumbodo dari Roma 1:16-17: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman”. Firman ini mengingatkan anak muda untuk kembali pada firman Tuhan, yaitu anugerah, iman dan firman Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT mengungkapkan bahwa Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa mendorong anak muda khususnya mahasiswa terus meningkatkan kemampuan pengetahuan dan pengalamannya dalam menjawab tantangan lokal dan internasional. Kemampuan mereka ini nantinya diharapkan bisa bermanfaat bagi orang lain di sekitar mereka. Sejauh ini Stube-HEMAT telah ada di Yogyakarta dan Sumba, dan saat ini sedang ada perintisan multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu.

 

 

 

Sejarah kekristenan dan reformasi gereja yang dilakukan Martin Luther berpengaruh ke berbagai wilayah Eropa yang juga berdampak sampai ke Asia bahkan Indonesia. Salah satunya adalah adanya berbagai denominasi gereja di Indonesia. Hal ini dipaparkan oleh Pdt. Dr. Jozef MN Hehanussa, pengajar di Pascasarjana Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Selain itu, anak muda diingatkan tentang tantangan gereja yang harus menjawab konteks masalah saat ini sebagaimana yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 seperti: kemiskinan, ketahanan pangan, kehidupan yang sehat, pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dan kesetaraan gender.

 

 

 

Achmad Munjid, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengungkapkan relasi Muslim dan Kristen terkadang tidak terjadi karena ada ‘barrier’ atau penghalang, yaitu prasangka yang muncul di antara orang Muslim dan orang Kristen itu sendiri. Di satu sisi ada prasangka kristenisasi, sementara di pihak lain ada prasangka terwujudnya negara Islam. Prasangka muncul karena mereka belum ada pengalaman berinteraksi bersama-sama. Menurutnya, ruang-ruang untuk bertemu inilah yang harus diadakan sehingga prasangka-prasangka akan terkikis dan berganti dengan sikap kebersamaan.

 

 

 

Sikap anak muda Kristiani untuk bangsa dikritisi oleh Brigjen (purn) TNI Noeryanto. Anak muda harus melihat kembali perjalanan sejarah bangsa dan berani memegang kebenaran meski menghadapi resiko. Ia mengungkap tantangan ketika masih berdinas sebagai tentara dan memaparkan asas kepemimpinan yang harus dimiliki anak muda, seperti ketakwaan, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purba wasesa, ambeg paramarta, prasaja, satya, gemi nastiti, blaka dan legawa. Makna dalam bahasa Indonesianya kurang lebih demikian: bahwa sebagai pemimpin harus memberi contoh di depan, menyemangati, dan memberi kebebasan dalam koridor yang ditetapkan, pemimpin harus selalu waspada, rendah hati, sederhana, setia, tidak boros, jujur dan berani mengakui kesalahan.

 

 

 

Peserta selanjutnya bekerja kelompok merumuskan nilai-nilai kekristenan dan menemukan realita permasalahan yang terjadi di sekitar mereka dan merenungkan sudahkah nilai-nilai kekristenan menjawab permasalahan yang terjadi dan apa yang bisa anak muda lakukan sebagai terang menjawab permasalahan tersebut.

 

 

 

Rut Merani, peserta mahasiswa STAK Marturia dari OKU Timur, Sumatera Selatan berkata, “Di dalam pelatihan ini saya mendapat pengetahuan baru yang memotivasi saya untuk melakukan sesuatu. Walaupun saya masih kurang aktif, pelatihan ini membangun kepercayaan diri saya untuk berani bercerita tentang diri saya dan daerah saya. Saya ingin melakukan sesuatu yang baik untuk daerah saya.“

 

 

Sebuah otokritik untuk anak muda Kristen di Indonesia saat ini untuk hidup inklusif dalam kemajemukan, membuka diri dengan perbedaan, menjaring kerjasama dengan semua orang dan tetap berusaha untuk berpartisipasi menjawab permasalahan yang dialami masyarakat di Indonesia. Anak muda, tetaplah menjadi ekklesia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

CHRISTIANITY   Sejarah Kekristenan, Denominasi dan Kontribusi untuk bangsa Indonesia    

pada hari Rabu, 8 Maret 2017
oleh Stube HEMAT


Sejarah kekristenan penting diketahui oleh anak-anak muda Kristen, khususnya bagi mereka yang tidak belajar teologi. Keristenan sudah ada di Indonesia dengan berbagai denominasi gereja. Mereka perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan kekristenan pada era reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sampai saat ini.

 

 

 

 

 

Nilai-nilai kekristenan menjadi pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya, terlebih bagi anak muda di zaman modern di tengah gencarnya tawaran kehidupan duniawi dan mudahnya akses informasi.

 

 

 

Anak muda Kristen perlu berefleksi, apakah nilai-nilai kekristenan itu masih menjadi pedoman? Apakah kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari merupakan dua bagian yang terpisah? Sudahkah nilai-nilai kekristenan mewujud dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kristiani?

 

 


Pelatihan Christianity ini menjadi sebuah otokritik untuk anak muda Kristen di Indonesia saat ini supaya tetap mampu memberitakan kabar baik dan berpartisipasi dalam menjawab permasalahan yang dialami masyarakat di Indonesia.


  Bagikan artikel ini

Sosialisasi Stube-HEMAT di STAK Marturia    

pada hari Sabtu, 18 Februari 2017
oleh Stube HEMAT

 

 

 

Pengenalan Stube-HEMAT pada hari Jumat, 17 Februari 2017 dilakukan tim kerja STUBE HEMAT di Sekolah Tinggi Agama Kristen Marturia yang berlokasi di Nologaten, Caturtunggal, Depok, Sleman. Kegiatan ini dihadiri oleh enam belas mahasiswa semester dua hingga semester delapan. Tujuan sosialisasi ini untuk mengenalkan layanan Stube-HEMAT beserta program-program yang bisa diikuti oleh mahasiswa. Peserta yang hadir mendengarkan materi tentang Stube dan antusias bertanya apa yang disampaikan.

 

 

 

 

Indah selaku nara sumber dalam sosialisasi tersebut sangat bersemangat menceritakan pengalaman selama mengikuti kegiatan di Stube yang bermanfaat bagi dirinya. Selain pelatihan-pelatihan yang diadakan setiap tiga bulan, juga ada program lain, seperti exploring Sumba dan eksposure lokal. Exploring Sumba adalah program yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mengunjungi Sumba dan membagikan keterampilan serta pengetahuan yang dimiiki mahasiswa. Sedangkan eksposur lokal adalah program bagi mahasiswa ketika liburan di daerah asal. Selama liburan peserta bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat, seperti memetakan permasalahan yang ada di daerahnya, membagikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman yang dimiliki dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.

 

 

 

 

 

 

Salah satu peserta sosialisasi yang bernama Aan Priyadi, mahasiswa STAK Marturia semester dua mengatakan bahwa visi dan misi Stube-HEMAT sangat bagus karena memperhatikan dan melayani masyarakat khususnya di pedesaan.

 

 

 

 

 

 

Kegiatan Stube sangat cocok bagi setiap mahasiswa yang memiliki latar belakang pendidikan yang berbeda-beda karena dapat bertemu dengan teman-teman baru dari berbagai wilayah di Indonesia, belajar kebudayaan, pengetahuan dan mengasah keterampilan baru. Jadi, semasa di bangku perkuliahan pelajarilah berbagai hal baru dan lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. (RBN).

 


  Bagikan artikel ini

Membuka Cakrawala Melalui Interaksi Antar Bangsa Partisipasi Stube-HEMAT dalam Pre-Conference International Youth Camp (IYC) 2017   Wittenberg, Jerman, 30 Jan – 5 Feb 2017

     

pada hari Jumat, 10 Februari 2017
oleh Stube HEMAT

Stube-HEMAT merupakan lembaga pengembangan sumber daya manusia yang berorientasi pada mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Jaringan kerjasama terjalin baik di tingkat nasional maupun internasional. Kegiatan internasional yang dilakukan diantaranya adalah Eksposur ke Stube Jerman dan partisipasi dalam International Youth Camp (IYC) di Wittenberg, Jerman. Eksposur ke Stube Jerman dilakukan untuk meningkatkan persaudaraan antar pemuda dan aktivis Stube HEMAT Indonesia dan Stube yang ada di Jerman atas inisiatif ESG (Evangelischen Studierendengemeinden in Deutschland). Sementara partisipasi dalam IYC merupakan undangan dari dua lembaga yakni aej/arbeitsgemeinschaft der Evangelischen Jugend eV (Federasi Pemuda Kristen di Repulik Jerman) dan ESG.
 
IYC menjadi salah satu kegiatan dari peringatan 500 tahun reformasi gereja yang diadakan di Wittenberg, Jerman pada bulan Juli-Agustus 2017 dan diikuti sekitar 300 peserta dari 20 negara untuk belajar dan mengenal Martin Luther, sejarah dan perkembangan reformasi sampai saat ini. Di dalamnya ada aktivitas untuk saling mengenal budaya dan keberagaman melalui pertunjukan seni, workshop, permainan dan diskusi kelompok.
 
Sebagai persiapan kegiatan tersebut, diselenggarakan pertemuan awal IYC pada 30 Januari s.d. 5 Februari 2017 di Wittenberg, Jerman. Pertemuan tersebut merupakan pertemuan pertama antara panitia internasional dengan para koordinator utusan masing-masing lembaga dari berbagai negara. Stube-HEMAT mengutus Ariani Narwastujati, Direktur Stube-HEMAT dan Trustha Rembaka, koordiantor Stube-HEMAT Yogyakarta. Ariani Narwastujati merupakan anggota International Planning Committee IYC dan Trustha Rembaka sebagai koordinator utusan dari Stube-HEMAT Indonesia.
 
 
Pertemuan persiapan ini membahas banyak hal seperti usulan kegiatan selama IYC yang mencakup aspek ‘dahulu’ (then), ‘now’ (sekarang) dan ‘soon’ (nanti) dan berkaitan dengan ‘head’ (kepala), ‘heart’ (hati) dan ‘hand’ (tangan).’ Adapun usulan workshop mencakup diskusi tentang Martin Luther, acara rohani, kunjungan kota Wittenberg, olahraga, menyanyi dan permainan kerjasama. Pembahasan yang tak kalah seru adalah tata tertib, karena IYC menjadi wadah pertemuan lintas negara yang berbeda budaya dan kebiasaan, maka ada perbedaan cara pandang dan perilaku yang menjadi kebiasaan setiap bangsa. Hal ini mesti disadari dan dipahami oleh koordinator kelompok yang harus menyampaikan hal itu kepada para anggotanya. Pre-conference ini memberi gambaran yang jelas tentang IYC, apa saja yang dilakukan, siapa saja pesertanya, bagaimana keadaan lokasinya, apa saja kegiatan IYC, apa yang harus disiapkan oleh setiap kontingen dan apa yang akan dilakukan setelah pre-conference.
 
 
 


Untuk memberi gambaran lokasi yang akan dipakai, para koordinator mendapat kesempatan mengunjungi lokasi perkemahan yang terletak di bagian utara kota Wittenberg yang saat itu tertutup salju musim dingin. Namun demikian peserta tetap bisa menyaksikan lokasi yang terhampar luas dan beberapa gundukan tanah yang menyerupai bukit-bukit kecil. Dipandu oleh Claudius Weykonath, manajer pelaksana IYC, peserta mendapat informasi pembagian kawasan perkemahan baik untuk tenda peserta, kegiatan luar ruang, tenda workshop, layanan umum dan hiburan. Selanjutnya Annette Klinke (ESG) mengajak peserta berkeliling Wittenberg untuk mengunjungi Stadtkirche, tempat Martin Luther menyampaikan kotbah-kotbahnya, juga Schlosskirche, sebuah gereja klasik dari abad pertengahan yang memiliki menara tinggi besar, dimana Martin Luther memakukan dalil-dalil penolakan terhadap penyelewengan ajaran kekristenan di pintu gerbangnya. Gereja-gereja tersebut tetap terawat baik sampai saat ini.
 

Meskipun belum semua bisa hadir, beberapa koordinator lembaga yang datang saat itu diantaranya adalah Wilfredo (Argentina), Chun Yung (Taiwan), Arpad (Rumania), Fadi (Palestina), Jeno (Romania), Carmen (Germany), Gottfried (Germany), Heidrun (Germany), Matthias (Germany), Sandra (Portugal), Jean Bosco (Rwanda), Yana (Rusia), Lena (Germany), Nadine (Germany), Ulrike (Germany), Hannan (Palestine), Hafeni (Namibia), dan Hans Ulrich (Germany). Hal yang menarik adalah meskipun baru bertemu, rasa kebersamaan dan kehangatan relasi dapat dirasakan oleh masing-masing peserta.
 
 
 
Sebelum kembali ke Indonesia, Ariani dan Trustha bersama Annette Klinke bertemu dengan Dirk Thesenvitz (direktur aej) dan Kathleen Schneider-Murandu dari BfDW, salah satu jejaring Stube di Berlin. Sophieneck, sebuah restoran khas makanan Jerman, menjadi salah satu tempat untuk melewatkan malam di kota ini selain sejarah tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.
 

Sungguh sebuah pertemuan yang membuka perspektif bahwa keberagaman adalah kenyataan di muka bumi ini dan terwujudnya relasi antar bangsa khususnya anak muda yang dilandasi sikap saling menghargai merupakan upaya untuk mewujudkan perdamaian. (TRU).

Ariani memandu sesi introduction peserta

 

Trustha mempresentasikan gagasan kelompok
 
Ariani memandu salah satu FGD

 


  Bagikan artikel ini

Islam: Bangkit dari Kenyataan untuk Menggapai Harapan Bedah buku di Togamas Affandi Gejayan (4/2/2017)    

pada hari Minggu, 5 Februari 2017
oleh Stube HEMAT

 

Islam merupakan salah satu ajaran yang memiliki mayoritas penganut di Indonesia. Di balik pesatnya perkembangan Islam, namun tidak lepas dari berbagi pergumulan penganutnya. Baik itu permasalah sosial dan politik yang terjadi didalam masyarakatnya. Dalam bukunya “Krisis Peradaban Islam, antara Kebangkitan dan Keruntuhan Total”, Ali A. Alawi berusaha menyampaikan kegelisahannya bahwa di dalam tubuh Islam ada penganut paham Islam politik.

 

 

 

“Islam politik dipahami sebagai salah satu ajaran di mana cara pandang umat Islam tidak lagi sesuai dengan syariat Islam yang diajarkan oleh Islam di Madinah tetapi mereka lebih mengarah ke pandangan Barat. Mereka berbicara dan melakukan syariat Islam sebagai agama tetapi tidak mengimplementasikan dalam kehidupan mereka”, kata AM Shafwan. Semua yang mereka gunakan dalam kehidupan mereka adalah produk-produk Barat. “Mereka tidak memanfaatkan apa yang berasal dari daerah mereka sendiri tetapi malah memilih menggunakan produk dari luar daerah luar negeri, terutama produk dari dunia Barat”, lanjutnya.

 

 

 

AM Shafwan berusaha menjelaskan apa itu Islam politik ke dalam beberapa bagian seperti;

 

 

 

Islam politik lebih berpihak kepada kepentingan pemilik modal; Dalam paham Islam politik, tidak ada kaitan dengan moral dan etika. Sedangkan di Madinah umat Islam hidup berdampingan dengan orang-orang kafir dan saling menghormati. Hal tersebut juga tercatat di dalam piagam Madinah; Islam politik juga mengobjektifkan Nabi Besar Muhammad SAW.

 

 

 

Eko Prasetyo menambahkan agama menjadi wilayah individual dan proses di mana kesadaran sebagai seorang muslim tidak dipikirkan lagi.  Pada era kolonialisme perubahan Islam sudah dimulai berubahan ke arah yang tidak tepat. Berbagai permasalahan muncul dan mengatasnamakan agama. Saat ini banyak sekali kasus penyerobotan lahan yang terjadi dan menggunakan agama sebagai tameng. Yang harus kita renungkan adalah apakah Islam akan menjadi aktor? Bagaiamana kita mengembalikan peradaban ini pada tempatnya yaitu Islam yang benar. Apa yang berubah dari kita baik lingkungan atau diri kita sendiri.

 

 

 

Kritikan yang pedas bukan hanya bagi umat Islam tetapi juga bagi kita semua. Seberapa jauh kita mengenal jadi diri kita sebagai orang Kristen. Apakah kita sudah menjadi orang Kristen yang menjalankan ajaran Yesus sebagai panutan kita? Sebab sejauh ini banyak sekali ajaran-ajaran di dalam Kristen yang tidak sesuai dengan yang Yesus ajarkan.

 

 

Seperti harapan dan kesedihan penulis yang mengharapkan kesadaran dari umat Islam, apa sumbangsih yang sudah diberikan bagi Indonesia? Maka kita juga seharunya mampu berbenah dan mulai melihat berbagai macam permasalahan di lingkungan kita. Apakah sumbangsih yang sudah kita berikan bagi negara ini terlebih khusus bagi keluarga, masyarakat di lingkungan kita. (SAP).


  Bagikan artikel ini

DISKUSI CHRISTIANITY Baca Sejarah, Iman Tergugah    

pada hari Minggu, 22 Januari 2017
oleh Stube HEMAT
 

 

 
Kekristenan telah berkembang sampai di Indonesia dan sejarahnya penting untuk diketahui oleh anak muda Kristen, karena ada berbagai denominasi gereja yang ada sampai saat ini. Namun generasi muda Kristen di Indonesia yang hidup dalam berbagai denominasi belum mengetahui apa sebenarnya yang terjadi dalam sejarah kekristenan dan sejauh mana sumbangsih kekristenan untuk bangsa ini.

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa kristiani dari berbagai daerah melihat hal ini penting diketahui oleh mahasiswa. Melalui diskusi mahasiswa yang diadakan pada hari Sabtu, 21 Januari 2017 di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta, diharapkan anak muda mampu mengetahui sejarah kekristenan di Indonesia, denominasi dan kontribusinya untuk bangsa Indonesia.

 

 

 

Dua puluhan peserta mengikuti diskusi yang dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dipandu oleh Trustha Rembaka, yang mengajak peserta melihat ulang sejarah awal kekristenan. Peserta membaca kembali Alkitab tentang para rasul yang mendapat mandat dari Yesus Kristus untuk menyampaikan kabar baik kepada setiap orang, yang diawali dari Yerusalem, Yudea dan Samaria sampai ke ujung bumi seperti yang tertulis di Kisah Para Rasul 1:8. Sedangkan istilah Kristen itu sendiri muncul sekitar tahun 40 M. Kekristenan mula-mula berkembang dari Palestina kemudian menyebar ke berbagai kota-kota di Asia Kecil, Afrika Utara dan Siria. Meskipun ada tantangan dan hambatan, kekristenan terus berkembang hingga ke Yunani sampai ke Roma. Kekaisaran Romawi pada saat itu memiliki pengaruh yang sangat kuat. Beberapa kaisar menentang kekristenan namun ada beberapa yang akhirnya menjadi Kristen.

 

Sesi kedua dipandu oleh Yohanes Dian Alpasa. Ia memaparkan bahwa kekristenan telah memiliki kekuasaan dan menjadi agama negara. Kekuasaan yang besar ini akhirnya mendorong terjadinya penyelewengan yang dilakukan oleh oknum-oknum pemimpin gereja dimana masyarakat yang mengalami kesulitan tidak diperhatikan bahkan diabaikan oleh gereja, suap di antara pejabat gereja demi kedudukan tertentu, perselingkuhan dan skandal seks di antara para pemimpin gereja, penjualan surat pengampunan dosa, serta benda-benda disakralkan dan dikultuskan tanpa makna yang jelas. Martin Luther tergerak melakukan kampanye reformasi gereja pada tahun 1517. Reformasi muncul untuk memperbaiki gereja sehingga keberadaan gereja mampu membawa masyarakat ke dalam kehidupan yang lebih baik. Gerakan reformasi gereja menyebar ke berbagai bangsa di Eropa seperti Swiss, Jerman, Belanda, Perancis dan Inggris. Perkembangan kekristenan di berbagai kawasan yang berbeda menghasilkan gereja dan lembaga dengan ciri khas dan keunikan tertentu, meskipun secara esensi kekristenan tidak ada perbedaan.

 

 

 

Sejarah Kekristenan di Indonesia disampaikan oleh Vicky Tri Samekto di sesi ketiga. Ia memaparkan latar belakang bangsa Eropa yang menjelajah ke berbagai penjuru bumi, yang dikenal sebagai 3G yaitu Glory, Gold dan Gospel. Abad 16 kekristenan mulai masuk ke Indonesia, khususnya di kawasan timur Indonesia seperti Ternate, Maluku, Nusa Tenggara dan Timor. Katholik Roma dibawa oleh Portugis dan Spanyol, sedangkan aliran kristen protestan dibawa oleh bangsa Belanda.

 

 

 

Di akhir acara, beberapa peserta menceritakan pengalaman mereka, seperti Aniri, mahasiswa UMBY dari Kalimantan Barat, mengungkapkan, “Saya jadi tahu terutama sejarah kekristenan dan menumbuhkan rasa ingin tahu terutama menggali permasalahan gereja di kampung saya.” Pendapat lain diungkapkan Wenny, mahasiswa UKRIM dari Maluku Tenggara, berefleksi bahwa gereja pertama-tama dibentuk dari diri pribadi dan membangun sikap dan karakternya.

 

 

 

 

 

Perkembangan kekristenan tidak hanya berkaitan dengan iman tetapi juga menorehkan sejarah dunia untuk terus menyampaikan kabar baik kepada semua bangsa. Anak muda, bacalah sejarah dan iman akan lebih tergugah. (TRU).

 

 


  Bagikan artikel ini

Natal: Meretas Batas antara Manusia    

pada hari Minggu, 15 Januari 2017
oleh Stube HEMAT

 

Setiap tahun orang-orang yang percaya kepada sang Juruselamat akan merayakan hari kelahiranNya. Pohon dihiasi, lampu berkelap-kelip, kado-kado terbungkus rapi, lonceng berbunyi merdu, kemeriahan dan sukacita hadir di setiap hati umatNya. Menyadari bahwa Dia yang Agung datang menyelamatkan semua orang.

 

 

 

Perayaan Natal sudah dilakukan bertahun-tahun untuk menjadi pengingat bahwa Dia lahir dan mati untuk kita. Bertempat di ruang B.C Kampus ITY, pada tanggal 14 Januari 2017, persekutuan mahasiswa Kristen Institut Teknologi Yogyakarta (PMK ITY) merayakan Natal yang kali ini mengusung tema “Menyongsong Dia dengan penuh Karya (1 Timotius 1:7).

 

 

 

Ada dua tempat dan waktu yang berbeda dalam merayakan Natal. Perayaan pertama dilaksanakan di yayasan Dream House pada tanggal 12 Desember 2016. Dream House merupakan yayasan yang mengasuh anak putus sekolah dan anak yang tidak memiliki tempat tinggal. Merayakan Natal bersama adik-adik di DH dengan harapan mahasiswa bisa membagi kasih dan perhatian kepada mereka. Perayaan kedua dilaksanakan di kampus ITY, Perayaan kali ini menggunakan tata ibadah Katholik, yang dibawakan oleh Romo Januarius Berek.

 

 

 

 
Romo menyampaikan dalam khotbahnya, bahwa Natal merupakan peristiwa iman. Kedatangan Yesus menjadikan tidak adanya pembatas antara Tuhan dengan manusia. Tetapi lain hal dengan manusia. Kita membatasi diri kita dengan ego, sombong dan serakah, mementingkan diri sendiri, membuat batas dengan sesama bahkan membatasi Tuhan bekerja dalam hidup kita. Pesan yang bisa diambil adalah bahwa Kristen sejati harus mampu melampaui batas kenyamanan diri untuk menjangkau orang yang membutuhkan pertolongan.

 

 

 

 
Perayaan Natal dihadiri mahasiswa kampus lain dan beberapa unit kegiataan mahasiswa ITY. Setelah ibadah, beberapa undangan menyumbangkan suara, menyanyikan lagu dan perayaan diakhiri dengan foto bersama.

 

Di sela-sela perayaan, Stube-HEMAT menyempatkan bertanya kepada Deltiar selaku ketua panitia apa yang menjadi harapannya. “Kami berharap Natal tahun ini berjalan dengan baik, damai natal beserta kita dan PMK menjadi lebih baik ke depan. Perayaan ini tidak akan bisa terlaksana tanpa kerja sama semua anggota-anggota PMK, dan bantuan dari para senior.” Sementara itu Stube-HEMAT sebagai wadah mahasiswa berharap teman-teman mahasiswa punya waktu mengaktualisasikan diri lewat program-program pelatihan yang ada di Stube-HEMAT. (ITM).


  Bagikan artikel ini

Stube-HEMAT Yogyakarta Selamat Datang 2017  

pada hari Minggu, 1 Januari 2017
oleh Stube HEMAT
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook