Menemukan Konteks Daerah   Dan Anak Mudanya   Empat Mahasiswa dalam Program Eksposur Lokal        

pada hari Minggu, 22 Desember 2019
oleh adminstube
 

 

 

Hal penting yang acap kali lalai diperhatian adalah menumbuhkan ‘sense of belonging’ atas daerah asal pada anak-anak muda mahasiswa yang merantau untuk studi di luar pulau. Adanya rasa keterhubungan atas kepemilikan ini memunculkan kepedulian dan keinginan untuk melakukan sesuatu untuk daerah asalnya, karena anak-anak muda mahasiswa ini adalah aset daerah. Kesempatan studi di luar merupakan berkat berharga karena tidak setiap anak muda dari daerah bisa melanjutkan studi karena keterbatasan ekonomi, kondisi geografis dan pengaruh budaya. Mengelola aset daerah yang berupa sumber daya manusia (SDM) ini menjadi concern Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan SDM, khususnya mahasiswa dengan memberi nilai tambah pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup kepada mahasiswa aktivisnya di Yogyakarta sehingga tumbuh kesadaran sebagai agent of change bagi daerah asalnya melalui program Eksposur Lokal. Kali ini program eksposur lokal diikuti empat mahasiswa yakni:

 

 

 

 

 

 

Putri Nirmala Valentina Laoli, mahasiswa dari Nias yang kuliah ilmu pemerintahan di STPMD APMD Yogyakarta. Putri terpanggil pulang Nias selama liburan kuliah untuk melihat kembali anyaman lokal Nias di Gido, kampung halamannya yang mulai sulit dijumpai karena pengrajin anyaman ini kebanyakan sudah berusia lanjut dan kaum muda kurang berminat menekuni anyaman meskipun sebenarnya anyaman ini, seperti bolanafo dan tufo, dibutuhkan dalam acara tradisional Nias dan sebagai cinderamata. Putri berkeliling di desa Somi kecamatan Gido dan desa Hiliganoita kecamatan Bawolato untuk menemukan pengrajin anyaman dan ketika ketemu ternyata pengrajin sudah sangat tua dan tidak ada yang mewarisi keterampilan ini. Tanaman untuk serat anyam adalah Keleömö (Eleocharis dulcis) sejenis rumput yang tumbuh di rawa-rawa, tanaman dikeringkan dan dipipihkan, lalu diberi pewarna dan dianyam.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ia menemui perangkat desanya untuk berdialog tentang program desa berkaitan pelestarian anyaman tradisional Nias dan belum ada upaya khusus untuk itu, sehingga ia mendorong perangkat desa memberi perhatian pada pelestarian warisan budaya lokal dan memberdayakan masyarakat dengan usaha kerajinan yang menguntungkan. Kegiatan Putri lainnya adalah memotivasi siswa-siswa SMA belajar dengan baik dan cermat memilih jurusan di kampus, dan mengajari bahasa Inggris untuk anak-anak di sekitar rumahnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Marianus Yakobus Lily Lejap, seorang anak muda dari Lembata, Nusa Tenggara Timur yang kuliah di Universitas Janabadra (UJB) Yogyakarta jurusan Teknik Informatika. Marno, nama akrab Marianus kembali ke kampung halaman dan membagikan keterampilan mengoperasikan komputer untuk perangkat desa Omesuri dan Lamagute, kecamatan Ile Ape. Penguasaan teknologi dibutuhan perangkat desa mengingat fasilitas komputer sudah ada tetapi belum digunakan optimal karena belum bisa mengoperasikan komputer, sementara tuntutan layanan desa dan administrasi sudah berbasis teknologi dan komputer.

 

 

 

 

 

 

Kesulitan merancang jadwal karena sebagian perangkat desa sibuk mengurus kebun dan acara di daerah lain, tidak menyurutkan semangat Mariano untuk tetap mendampingi beberapa dari mereka yang antusias belajar. Dalam prosesnya, bidan desa dan pemuda karang taruna bergabung belajar komputer untuk mengetik surat administrasi desa, menyusun data penduduk, membuat tabel anggaran dan mendesain powerpoint. Selama proses interaksi dalam kegiatan ini, terungkap harapan para perangkat desa kepada mahasiswa daerah untuk membagikan pengetahuan mereka sebagai wujud partisipasi pembangunan desa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Fei Anjelicha Tiladuru, mahasiswa program studi Ilmu Pemerintahan di STPMD APMD Yogyakarta yang berasal dari Poso, Sulawesi Tengah, memanfaatkan liburan untuk mendalami konsep dan pelaksanaan desa digital di desa Lamahu, Gorontalo. Konsep desa digital ini menarik sebagai respon perkembangan teknologi dan peningkatan kualitas layanan desa kepada penduduk berupa surat menyurat dan administrasi berbasis komputer, layanan pengaduan, darurat kesehatan dan keamanan berbasis aplikasi, termasuk peningkatan pendapatan desa melalui unit bisnis desa berupa rumah makan dan kios makanan kecil.

 

 

 

 

 

 

 

 

Dari Lamahu, Fei kemudian mencari peluang penerapan desa digital di kampung halamannya, di Pendolo, Sulawesi Tengah. Ia menemui perangkat desa dan karang taruna setempat, namun organisasi mereka belum terkelola dengan baik dan bahkan aktivitasnya mandeg. Sebagai alternatif ia mengumpulkan anak muda secara mandiri dan berdialog informal tentang realita yang dihadapi anak muda setempat tentang pergaulan dan kesempatan kerja, juga membangun komitmen saling berhubungan dan bertukar informasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Riskia Gusta Nita, dari Pugungraharjo, Lampung Timur, yang sedang menempuh studi Teologia di STAK Marturia dan mendalami dinamika pelayanan gereja dan isu-isu aktual berkaitan relasi antar umat beragama, dimana saat ini marak dengan isu intoleransi. Ia ingat di desanya ada tradisi saling kunjung saat hari besar agama, dimana penduduk setempat berkunjung ke penduduk yang merayakan hari besarnya, tidak masalah apakah mereka beragama Islam, Hindu atau Kristen, mereka tetap berelasi baik dan mewarisi tradisi ini sampai sekarang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Di saat liburan kampus ia kembali ke desa dan mendalami tradisi saling kunjung tersebut, bagaimana awalnya, siapa saja yang berperan sehingga tradisi ini tetap lestari dan apa saja tantangan pada masa kini. Diakui bahwa tradisi ini bukan asli desa setempat karena penduduk desa ini awalnya dihuni oleh para transmigran dari Jawa, Bali dan Lombok sehingga penduduknya beragam. Saat hari besar sanak saudara saling berkunjung meskipun memeluk agama berbeda, kemudian ini berkembang menjadi kebutuhan bersama masyarakat setempat untuk menjalin kerukunan antar umat beragama, terbukti dengan adanya komunitas Gerakan Menjalin Kerukunan (GMK). Saat mengikuti tradisi saling kunjung, Kia berdialog bersama pemuda gereja setempat tentang partisipasi pemuda dalam pelayanan gereja dan relasi baik antar agama. Pengalaman ini menjadi bekal ke depan ketika Kia menjadi seorang pendeta menyampaikan pesan-pesan gerejawi secara inklusif dan mampu mewujudkan relasi harmonis antar agama di masyarakat.

 

 

 

 

 

Kiprah mahasiswa untuk melestarikan anyaman lokal, berbagi keterampilan komputer, meningkatkan layanan desa dan peran karang taruna, serta melestarikan semangat toleransi melalui tradisi saling kunjung merupakan buah-buah kesadaran mahasiswa untuk daerah asalnya. Adanya hubungan kontekstual antara mahasiswa dan permasalahan di daerahnya akan menggerakkan hati dan mendorong mereka melakukan sesuatu yang bemanfaat untuk daerah asal. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Menjahit Kain Merakit Masa Depan Anak Muda Mandiri dari Menjahit

pada hari Jumat, 20 Desember 2019
oleh adminstube
 
 
Kegagalan adalah kondisi tidak tercapainya tujuan yang sudah ditetapkan dari awal. Hal Ini normal terjadi dalam kehidupan, bahkan bisa dikatakan setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Tokoh-tokoh terkenal pun, tak luput dari kegagalan sebagaimana tertulis dalam biografinya yang memuat kisah mulai dari perjuangan, pengorbanan, kegagalan yang bertubi-tubi dan akhirnya meraih keberhasilan.
 
Kegagalan yang biasa dialami mahasiswa seperti gagal dalam studi, gagal dalam berorganisasi, bahkan gagal bertahan hidup, terlebih mahasiswa yang merantau. Pengalaman ini menjadi refleksi dan memiliki makna baik sebagai batu loncatan untuk meraih keberhasilan. Dengan perspektif yang benar, ketika semakin sering mengalami kegagalan, maka seseorang akan semakin matang untuk menempa dirinya dengan berbagai keterampilan dan kecakapan untuk mengatasi masalah, bahkan cara mengantisipasinya.

Kecakapan tambahan selain pengetahuan dari kampus adalah salah satu strategi yang disampaikan dalam pelatihan Belajar dari Kegagalan dengan tema Per Angusta Ad Augusta (dari Kesulitan menuju Kemuliaan) yang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada tanggal 18- 21 Oktober di Villa Taman Eden 1 Kaliurang. Berbagai strategi hidup yang muncul dalam pelatihan ini merupakan ‘sharing’ pengalaman dari para peserta ketika mereka mengalami kegagalan dan mencari jalan keluarnya. 

Satu kelompok mahasiswa yang terdiri dari Yoel, Maritjie, Thomas, dan Eri Kristian bersemangat untuk memiliki keahlian dalam bidang menjahit, sebagai upaya untuk membuka peluang mendapatkan tambahan uang saku. Yoel Yoga Dwianto selaku mahasiswa fasilitator, sudah memiliki keahlian dalam membuat tas punggung dengan label Anakita Tas, karena saat ini Yoel bekerja di perusahaan ini sebagai karyawan. Karena kesukaannya berbagi dengan anak muda yang bersemangat untuk belajar, maka Yoel sangat terbuka untuk siapa saja boleh belajar asalkan mempunyai kemauan dan niat yang kuat. Ia melatih mereka memanfaatkan bahan sisa kain yang disediakan oleh produsen tas tersebut. Mereka belajar mengoperasikan mesin jahit, membuat pola pada kain memotong kain dan menjahit potongan kain. Peserta hanya membutuhkan waktu dua kali pertemuan untuk menghasilkan satu buah tas sederhana. Pada pertemuan pertama, peserta belajar mengoperasikan mesin, dan menjahit kain bekas. Selanjutnya pada pertemuan kedua, peserta belajar menjahit tas sendiri dan di akhir pembelajaran mereka membawa pulang tas hasil karya masing-masing.

Kesulitan-kesulitan hidup yang Yoel alami sebagai mahasiswa rantau dari Kotabumi Lampung yang sedang studi di Yogyakarta, seperti keterbatasan biaya studi, pesimisme orang atas dirinya, dan ditinggal ayahanda untuk selamanya karena sakit, sempat membuatnya cuti kuliah untuk bekerja mengumpulkan dana supaya bisa melanjutkan kuliah. Banyak hal dia lakukan, dari mengelola kebun sayuran, menjadi pemain jimbe profesional, tukang potong rambut, sampai berjualan rambut reggae dan akhirnya menekuni pembuatan tas. Kesulitan-kesulitan ini menempanya menjadi seseorang yang tangguh dan tetap murah hati berbagi ilmu.
 
“Saya terbuka dengan siapa saja yang mau belajar, tetapi saya juga menyaring siapa yang punya niat dan keinginan mau belajar, karena percuma kalau seseorang tidak punya niat untuk belajar tetapi saya paksa untuk belajar, akhirnya pasti tidak akan jadi. Semangat saya adalah ketika melihat teman-teman punya minat, maka mari kita belajar bersama”, ungkapnya.
 
Untuk teman-teman muda, terlebih yang merantau ke Yogyakarta, seberapa pun berat kesulitan yang dihadapi ketika studi saat ini, janganlah mudah menyerah, coba dalami apa penyebab kesulitan dan cari solusinya dengan membekali diri dengan berbagai keterampilan agar bisa melakukan hal baik lebih banyak. Salam, Per Angusta Ad Augusta (Mariano Lejap)



  Bagikan artikel ini

Menggali Motif Eksotis Batik Waropen   (Kegiatan bersama dengan Dinas Pemuda dan Olahraga   Kabupaten Waropen, Papua)        

pada hari Selasa, 10 Desember 2019
oleh adminstube
 

 

Waropen adalah kabupaten baru yang mekar pada tahun 2003. Sebelumnya daerah ini merupakan bagian dari kabupaten Yapen Waropen. Waropen memiliki potensi hutan bakau dan budidaya kepiting yang luar biasa. Kabupaten ini dikenal dengan kota 1000 bakau karena  dikelilingi dengan tumbuhan bakau hampir di seluruh pesisirnya. Sebuah aset yang berpotensi sangat besar yang bisa diolah sebagai sumber pendapatan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

 

 

 

 

Menjadi utusan Stube HEMAT Yogyakarta ke kabupaten Waropen untuk berbagi ilmu dan menularkan ketrampilan merupakan anugrah besar dan sangat berkesan, karena baru pertama kali saya menginjakkan kaki di Tanah Papua. Berbagi dengan pemuda dan masyarakat di sana tentang apa itu batik, bagaimana membuat batik, serta filosofis batik juga sekaligus menggali potensi anak muda dan mengangkat motif-motif eksotis Waropen dalam batik menjadi kegiatan yang seru dan mengasyikkan. Kegiatan menarik ini tidak lepas dari program yang digagas oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Waropen yang menggandeng Stube-HEMAT Yogyakarta, sebuah lembaga pendampingan mahasiswa yang berpusat di Yogyakarta dalam program ‘Pelatihan Membatik dan Usaha Produktif  Berbasis Batik’.

 

 

 

 

Perjalanan ke Waropen menjadi sebuah tantangan tersendiri. Selain jauh di bagian timur Indonesia, perjalanan ditempuh dengan beberapa kali transit pesawat dan lanjut moda transportasi laut. Bersama Bapak Enos Refasi (Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Waropen) dan Iron Kayai (staff dinas pemuda dan olahraga), kami memulai perjalanan pada tanggal 21 Desember 2019. Sekitar jam 15:00 WIB kami terbang dari Yogyakarta menuju Surabaya, selanjutnya menuju Makasar. Pukul 23.45 WITA kami tiba di Makasar dan berganti pesawat menuju Biak. Pukul 07.00 WIT pesawat mendarat di Biak, dan masih berlanjut menuju Serui. Ternyata perjalanan belum selesai sampai di Serui, karena kami masih naik speed boat selama dua jam untuk sampai Waropen. Akhirnya tanggal 22 Desember 2019 jam 15:00 WIT, kami tiba di tempat tujuan dengan selamat. Sungguh perjalanan yang seru dengan mengalami realita transportasi Indonesia dalam bingkai negara kepulauan.

 

 

 

 

 

 

Sambutan hangat masyarakat Waropen dengan penyambutan adat sangat menyentuh hati dan membuat saya lupa atas perjalanan panjang yang melelahkan. Saya juga belajar mengenal alam Papua yang memiliki hutan yang masih sangat lebat. Rasa lelah terobati dengan kegembiraan saat saya bertemu dengan beberapa peserta yang pernah ikut pelatihan membatik di Stube HEMAT Yogyakarta. Kami bersama membahas kegiatan membatik yang akan kami lakukan esok hari.

 

 

 

 

 

 

 

Pelatihan membatik dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2019 pukul 09.00 WIT yang  dibuka resmi oleh kepala Dinas Pemuda dan Olahraga. Pukul 11.00 WIT saya mulai memberikan materi perkenalan tentang batik kepada semua peserta yang hadir. Saya memulai dengan menjelaskan sejarah batik, penyebaran motif batik di daerah Jawa dan memperkenalkan alat dan bahan membatik. Setelah diskusi bersama terkait proses serta bahan untuk membuat batik, kami melanjutkan dengan menggambar motif pada kertas yang dipandu langsung oleh teman-teman peserta yang pernah pelatihan ke Jogja, dengan menggali  motif lokal dari Waropen seperti bunga, burung, kepiting dan beberapa alat musik.

 

 

 

 

 

 

Setelah maka siang dilanjutkan dengan menggambar motif pada kain mengikuti motif yang telah di gambar pada kertas, dilanjutkan dengan mencanting dan mewarnai. Proses pewarnaan dilakukan dengan dua teknik yaitu colet dan celup. Dari kedua teknik ini yang paling mudah menurut peserta adalah teknik celup karena tidak membutuhkan proses yang lama. Sedangkan bagi peserta yang punya hobby menggambar, cenderung memilih ke teknik colet karena memiliki banyak variasi warna.

 

 

 

 

 

Dari kegiatan ini saya melihat ada ketertarikan anak muda pada batik dan banyak potensi yang bisa dikembangkan. Alam yang masih alami, aneka pepohonan, terumbu karang, aneka ikan dan burung-burung, serta hutan mangrove yang cantik bisa menjadi inspirasi motif-motif lokal batik khas Waropen yang bisa dikemas dalam industri kreatif yang dikelola oleh pemuda. Hal ini terlihat dari pernyataan teman-teman yang pernah belajar ke Yogyakarta dan  aktif berbagi tentang batik pada anggota sanggar masing masing.

 

 

Walau hanya sehari, saya merasa puas telah memberi pemahaman dan cara membatik agar menghasilkan produk yang siap dijual dan diterima semua kalangan. Jadilah anak muda yang kreatif agar bisa menularkan ide dan gagasan kepada orang lain untuk bersama membangun Indonesia lebih baik. (EP).


  Bagikan artikel ini

Sumba: Berpetualang dan Rindu Refleksi Exploring Sumba (Susana Ulandari)

pada hari Minggu, 3 November 2019
oleh adminstube
 
 


Selasa, 9 Juli 2019 adalah pertama kali saya menginjakkan kaki di Sumba, salah satu pulau di bagian timur Indonesia. Saya mengingat satu hari sebelumnya saya begitu bersemangat menempuh perjalanan menggunakan travel dari Yogyakarta menuju Surabaya dan disambung pesawat dari Surabaya ke Waingapu. Sepanjang perjalanan dipenuhi rasa penasaran terhadap pengalaman baru yang akan saya temukan nanti di pulau itu.

Setelah hampir tiga jam dari Surabaya dan transit di Denpasar, pesawat mulai menurunkan ketinggian untuk mendarat di bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu. Dari jendela pesawat nampak pemandangan layaknya Afrika yang hanya saya lihat di televisi, kini terhampar di depan mata saya. “Wow, menakjubkan” terucap dari mulut ketika melihat bukit dan padang savanna yang seolah tak berujung.
 
Di Waingapu saya tinggal bersama keluarga Apriyanto Hangga, salah satu team Stube-HEMAT Sumba, yang membekali informasi awal tentang Sumba dan desa yang akan saya tinggali beberama minggu ke depan. Sesampainya di Tanaraing, ada sambutan yang begitu hangat dari keluarga ibu Pendeta Katrina Remihau, pendeta GKS Tanaraing. Keesokan harinya saya mengikuti ibadah dengan jemaat setempat yang menyambut dengan ramah dan hangat sekalipun saya datang sebagai orang asing. Para pemuda gereja pun menyambut dengan ramah, berkenalan, ngobrol, bercanda dan berfoto di tepi pantai.

Hari-hari berikutnya saya beraktivitas bersama masyarakat dan remaja setempat berkaitan dengan topik ‘Konselor Sebaya’. Menjadi konselor sebaya tidak mudah karena harus ada sikap saling percaya satu sama lain. Saya selalu menemukan hal baru dan menyenangkan dalam setiap pertemuan. Suatu ketika saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan tapi mereka bilang semua yang diceritakan adalah hal baik mengenai saya. Jadi, saya berusaha belajar bahwa saya juga harus mempercayai orang lain dan menurut saya untuk mempercayai orang lain ini bukan sesuatu yang salah.

 
‘Konselor Sebaya sangat penting dipahami oleh remaja agar mereka bisa saling memberikan perhatian kepada teman-temannya. Ketika mereka saling terbuka satu dengan lainnya maka mereka dapat mengelola masalah mereka lebih baik, karena mendapat masukan dari teman-temannya. Selain itu, mereka akan bisa merangkul kembali pemuda gereja yang sebelumnya jarang ke gereja untuk bersemangat kembalaktif di lingkungan gereja, atau remaja yang jarang mengobrol dalam keluarga mau berkomitmen untuk lebih perhatian kepada keluarga masing-masing. Awalnya, kegiatan wirausaha tidak masuk dalam rencana saya tetapi saya mengusulkan ini ketika remaja gereja akan menggalang dana pemuda dan mereka bisa melakukannya.

Bagi saya, berada di Sumba, di tengah masyarakatnya bagai perjalanan untuk menemukan diri dan kehidupan, menemukan diri saya menjelajah, bertemu banyak orang, berbagi cerita dan canda tawa. Dalam perjalanan di Sumba terbersit rasa RINDU yang selalu mengikuti, rindu suasana rumah di Kalimantan Barat saat bersenda gurau dengan anggota keluarga, makan masakan mama, memijat bapak, bermain dengan keponakan dan bahkan berkelahi dengan saudara-saudara saya. Merekalah orang-orang penting di hidup saya dan saya ingin mereka bahagia seperti yang saya rasakan. Perasaan kebersamaan dan perhatian melalui konselor remaja inilah yang saya harap terus ada dan berdampak di tengah-tengah remaja di Sumba, khususnya Tanaraing.



  Bagikan artikel ini

Lembata Pangge Bale (Lembata panggil pulang) Refleksi Eksposur Lokal oleh Mariano Lejap

pada hari Sabtu, 2 November 2019
oleh adminstube
 
 
 
Liburan dan pulang kampung sepertinya sudah menjadi hal yang biasa-biasa saja bagi mahasiswa seperti saya yang merantau untuk kuliah di Yogyakarta. Ketika pulang sudah pasti akan terpengaruh kembali dengan atmosfir lokal sehingga rasa-rasanya seperti tidak ada perubahan pada diri saya. Aktivitas yang dilakukan setiap liburan hampir-hampir sama saja yaitu kembali ke kampung mengunjungi sanak saudara dan selebihnya berkumpul dengan teman-teman pemuda.


 
Liburan saya kali ini berbeda, sebagai peserta program Eksposur Lokal dari Stube-HEMAT Yogyakarta, dan anggota tim kerja Stube-HEMAT Yogyakarta saya tertantang untuk sesuatu yang berbeda. Liburan saya kali ini adalah liburan plus, plusnya adalah ikut berkontribusi untuk desa saya dengan membagikan ilmu komputer yang saya pelajari di kampus dan tentu saja hal ini membuat saya lebih dekat dengan masyarakat setempat dan lebih mengenal mereka.

Saat pertama kali saya menawarkan diri untuk membagikan ilmu kepada perangkat desa, mereka memberikan respon antusias, tetapi kesulitan ketika mulai menyusun agenda kegiatan pelatihan, dengan mengatakan tidak memiliki waktu kosong karena ada rapat perangkat desa, mengurus kebun dan acara keluarga. Namun demikian saya tidak menyerah. Untuk meyakinkan mereka, saya tetap menghubungi dan mengusulkan kegiatan diadakan di tempat terdekat mereka tinggal, meskipun saya harus melakukan perjalanan lebih jauh. Akhirnya kegiatan pelatihan komputer menggunakan Word, Excel dan Powerpoint berjalan dengan baik, meskipun hanya diikuti sebagian perangkat desa, tetapi ada bidan yang tertarik untuk mengikuti pelatihan.
 
Selain menjalankan pelatihan mengoperasikan komputer untuk perangkat desa, saya juga intens berkomunikasi dengan masyarakat mengenai usaha ekonomi masyarakat yang berasal dari sumber daya alam desa saya, salah satunya adalah budidaya rumput laut dan sarang walet. Dari dialog ini saya temukan hal baru tentang potensi desa saya dan kendala yang dihadapi masyarakat untuk mengembangkan rumput laut dan sarang walet. Ini wajar karena kenyatannya Sumber Daya Manusia di desa sangat terbatas, namun sebenarnya mereka punya kemauan untuk belajar.
 
Saya sebagai mahasiswa merasa puas dan bangga ketika saya bisa mengaplikasikan ilmu saya untuk perangkat desa dan mereka semangat untuk mempelajarinya. Saya mulai sadar dan prihatin karena tak sedikit anak muda dari desa saya yang sedang kuliah di perguruan tinggi dan disetiap liburan mereka kembali tetapi tidak memanfaatkan waktu dengan mentransfer ilmunya untuk masyarakat. Sebenarnya perangkat desa mengharapkan kontribusi positif dari mereka, para mahasiswa yang merantau untuk membangun desanya.
 
Semoga kegiatan saya ini bermanfaat dan kualitas perangkat desa semakin meningkat, khususnya dalam mengoperasikan komputer untuk melayani masyarakat dan menggugah kesadaran para mahasiswa dari desa saya untuk mengabdi kepada masyarakat melalui transfer ilmu pengetahuan mereka demi kemajuan bersama.

  Bagikan artikel ini

Merawat Toleransi di Sumba Timur Refleksi Exploring Sumba oleh Mutiara Srikandi

pada hari Jumat, 1 November 2019
oleh adminstube
 
 
 
Namaku Mutiara Srikandi, dari Bandung Jawa Barat, kuliah di jurusan Desain Interior, Institut Seni Indonesia  di Yogya. Aku mendapat kesempatan ke Sumba sebagai peserta program Exploring Sumba yang dilaksanakan Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini pertama kali seorang peserta Muslim mengikuti seleksi dan dikirim oleh Stube ke Sumba. Tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta selalu ‘make sure, apakah aku yakin berangkat ke tempat dimana banyak babi dan anjing berkeliaran. Aku selalu memantapkan diri lagi “iya gapapa, aku yakin”. Lahaula, akan selalu ada jalan bagi kamu yang berusaha untuk kebaikan.
 
Sebelum menginjakkan kaki di Sumba banyak hal yang harus aku persiapkan dan pertimbangkan. Dari lingkungan, pola hidup, dan agama yang totally berbeda dengan budaya Jawa pada umumnya. Setelah mendapat informasi tentang tempat tinggal dan lingkungan yang akan aku tinggali nanti, aku menyiapkan mental dan fisik jauh-jauh hari sebelumya untuk memantapkan diri agar bisa menjalani program dengan baik.

Hari itu pun tiba. Dari jendela pesawat hamparan savanna yang terlihat dari ketinggian menyita perhatianku. Tak sabar rasanya aku untuk menjejakan kaki langsung di sana. Aku merasakan manuver pesawat yang berbeda ketika akan mendarat di bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, yang mungkin karena bandara berada di antara bukit-bukit. Petualangan di Sumba pun dimulai.

Di Sumba aku tinggal di rumah Elisabeth Uru Ndaya, salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yang sudah kembali ke kampung halamannya, di desa Karunggu, kecamatan Nggaha Ori Angu (Nggoa), Sumba Timur. Tinggal di rumah tradisional Sumba menjadi pengalaman yang berkesan karena saat aku datang suhu udara sangat dingin, jadi kami harus menggunakan selimut empat lapis, namun aku menyukainya. Seorang ibu yang akrab dipanggil ‘mama Domi’ selalu telaten menanyakan menu makanan yang cocok denganku. Ia sempat ragu-ragu menyiapkan nasi jagung karena ia kuatir aku tidak mau. Ia mengatakan padaku kalau memasak ia memisahkan alat masak dari jangkauan hewan, karena anjing dan babi berkeliaran di sekitar rumah, bahkan ia menjelaskan dengan detil untuk meyakinkanku kalau makanan yang disajikan terjaga sesuai syariat Islam.

Sebagai orang baru di desa ini, tentu saja kehadiranku mengundang banyak perhatian orang sekitar karena tingkah lakuku yang lugu dan banyak bertanya membuat mereka tertawa dan menceritakan ke keluarga mereka yang lain. Meski aku muslim, aku tidak merasa terkucil malah mereka menerima dengan baik dan terbuka. Bahkan saat aku akan sholat mereka tulus mengambilkan air untukku meskipun daerah di situ kekurangan air. Aku juga datang ke gereja untuk memperkenalkan diri dan program kegiatan selama di Sumba. Berkenalan dengan warga secara resmi di gereja menjadi bagian penting karena gereja berperan di lingkungan sekitar dalam kehidupan masyarakat dan gereja bisa menjamah hidup masyarakat secara menyeluruh.

Beberapa kali aku mengikuti acara adat Sidi, Belis dan acara keluarga lainnya, ada yang unik ketika cium hidung, dengan menempelkan hidung di hidung sebagai ungkapan selamat datang dan kekerabatan. Tak kurang lima kali aku potong ayam secara syariat Islam, karena mereka menghargaiku sebagai muslim di acara tersebut. Makan dan bercengkerama satu sama lain dalam satu jamuan makan terlihat kontras saat aku makan ayam seorang diri di tengah-tengah orang yang menyantap hidangan daging babi. Awalnya orang-orang ragu, “Tidak apa-apa nona kami makan babi?” tanya salah seorang bapak yang ragu-ragu menyantap kudapannya. “Tidak apa-apa, ayo silahkan makan”, jawabku, sambil tersenyum padanya. Kami makan bersama dengan nikmat, menerima segala perbedaan dan menghargai satu sama lain. Mereka menghargaiku yang makan daging ayam seorang diri bahkan mereka tidak membiarkan satu tetes kuah daging babi mengenai piringku. Mereka menjaga dengan baik dan aku menghargainya, ada timbal balik yang indah yang aku lihat nyata.

Setiap hari minggu, aku di rumah menunggu keluarga pulang gereja, mendengar bunyi lonceng gereja dan merasakan atmosfer pagi hari yang begitu hangat. Setiap orang anak yang lewat mengucapkan salam “selamat pagi” sebagai sambutan pagi dan ini berulang ketika orang-orang lewat. Mereka ramah sekali, sembari melirikku sebagai tamu di desa itu. Aku senang berada di antara masyarakat setempat yang sukacita meski hidup sederhana. Kehangatan keluarga yang begitu terasa, membuatku iri karena aku tinggal di kota besar yang sudah individualistis. Di sini sanak saudara gotong royong menyekolahkan saudaranya, selain itu tidak ada rasa kuatir kekurangan makanan karena bisa singgah makan di rumah keluarga lainnya. Kebersamaan lain aku temukan ketika masyarakat berdendang bersama dengan tarian serempak yang biasa orang timur lakukan, masing-masing berusaha menyelaraskan gerakannya menjadi gerakan yang indah.

Perpisahan memang menguras air mata dan keluarga baruku di Sumba mengucapkan terimakasih karena aku mau menerima keadaan yang sederhana. Aku belajar banyak hal, dalam keberbedaan aku tidak merasa terasing atau sendiri, malah aku merasakan sambutan dan perhatian yang tulus. Budaya dan agama yang berbeda tidak menjadi pemisah malah menjadi sarana belajar dan membangun toleransi yang memperkaya pengalaman hidup. Semoga Tuhan menjaga kita selalu dalam kedamaian.


  Bagikan artikel ini

Tak Menyerah meski Berpisah  (Jalan Berkat dari Kacang Hijau dan Roti Bakar)  Herisen Witno Ngongare

pada hari Sabtu, 26 Oktober 2019
oleh adminstube
 
 
Berawal dari gambar brosur acara yang masuk di WhatsApp dari saudara saya, Erik, salah satu anggota team Stube-HEMAT Yogyakarta, di situ nampak ada kata-kata “Anda Gagal?” dan “Per Angusta Ad Augusta” yang lebih menonjol dibanding lainnya, ini membuat saya menjadi penasaran, karena saya baru pertama kali melihat kata-kata itu dan ingin tahu lebih dalam, akhirnya saya memutuskan ikut kegiatan tersebut.
 
 
Ternyata kegiatan ini adalah sebuah pelatihan tentang kegagalan! Namun bukan kegagalan semata tetapi Kegagalan dilihat dari sudut pandang Alkitab dan psikologi dengan tema Per Angusta Ad Augusta yang berarti Dari Kesulitan Menuju Kemuliaan. Saya menemukan semangat baru dan bersyukur karena Tuhan tidak pernah meninggalkan keluarga kami dan kami percaya diri untuk terus melangkah, dan beberapa pesan refleksi yang menguatkan, seperti “Teruslah melangkah dengan kaki kanan yang menuju masa depan dan kaki kiri di masa lampau” yang berarti, jika berhenti melangkah maka kita terjepit di antara dua masa yang dapat membuat kita bimbang, maka teruslah melangkah dan hadapi kehidupan bersama Tuhan.
 
Ada salah satu sesi yang membuat saya terkesan, yang menghadirkan beberapa orang yang telah mengalami gagal and bangkit kembali, seperti Andmesh Kamaleng, yang mengalami kedukaan tapi tidak menyerah, Maria Calista, yang mengangkat keluarganya melalu suara emas, Marco C Alvino, putus kuliah tak membuatnya menyerah dan Sudarmono meski kehilangan tangan tidak kehilangan harapan. Sungguh, ini pelatihan yang sangat menarik karena peserta mendapat ruang dan kesempatan untuk menceritakan kegagalan yang pernah dialami dan bagaimana menyusun strategi untuk bangkit dari kegagalan itu sendiri.
 
Temasuk pengalaman saya, ketika itu Mei 2006 menjelang kenaikan kelas di Sekolah Menengah Pertama, saya dan keluarga mengalami situasi yang sangat berat, ketika Ayah meninggalkan kami selamanya. Ayah tiada disaat saya masih bergantung padanya untuk menyelesaikan PR sekolah, saat kakak saya membutuhkan support dari segi mental and finansial untuk kuliah dan ibu yang kehilangan pendamping hidup. Saat mendengar tangisan ibu, saya merasakan suasana hati yang sangat kehilangan. Hadir di pikiran sebuah janji untuk tidak akan menyakiti hati ibu. Bertahun-tahun saya membantu ibu menyelesaikan pekerjaan rumah dan berjualan es kacang hijau dan roti bakar. Saya tidak ragu dan malu untuk berjualan karena ini menjadi jalan untuk melanjutkan kehidupan dan mencukupi kebutuhan kuliah kakak. Akhirnya tahun 2010 saya menyelesaikan SMA dan melanjutkan kuliah di Yogyakarta dibiayai oleh ibu saya.
 
Saat ada libur kuliah saya kembali ke kampung halaman, namun saya malah mendukakan hati ibu, yaitu berpacaran, karena ketika itu ibu mengingatkan saya untuk tidak berpacaran sampai selesai kuliah, tetapi saya melanggarnya. Kembali hati ibu tersakiti dan mengeluarkan air mata dengan kelakuan saya itu. Keadaan ini membuat saya ingat apa yang pernah saja janjikan dan merasa gagal untuk menjaga ibu. Saya menyesal dan meminta maaf kepada ibu. Saya tetap menjaga janji ini sampai saat saya melanjutkan kuliah di S2 dan menyelesaikannya.

Kegagalan tidak bisa lepas dari hidup manusia, bahkan tidak ada manusia yang tidak mengalami kegagalan, tapi bagaimana ia bangkit lagi dari kegagalan itu. Saya menemukan makna bahwa kegagalan membuat saya melihat dari arah yang berbeda dan melakukan sesuatu dengan niat baik dan kesungguhan, maka Tuhan akan mengizinkan dan berhasil melewatinya. Keberhasilan jika tanpa Tuhan, itu sementara, tapi berhasil bersama Tuhan itu abadi. (Refleksi kecil setelah pelatihan Per Angusta Ad Augusta).



  Bagikan artikel ini

Per Angusta Ad Augusta

pada hari Jumat, 25 Oktober 2019
oleh adminstube
 

‘Per Angusta Ad Augusta’ sebuah istilah Latin yang berarti ‘Dari Kesulitan Menuju Kemuliaan’. Kata-kata ini mendorong seseorang untuk tekun saat ‘masa sulit’ dengan tetap optimis sampai akhirnya berhasil. Kegagalan tak bisa lepas dari kehidupan manusia, tetapi bagaimana cara seseorang merespon kegagalan secara kontruktif tanpa kehilangan sikap baik itulah yang penting, dan yang terutama adalah bagaimana ia belajar dari kegagalan dan menemukan energi untuk memulai yang baru.

Sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang studi di Yogyakarta, Stube HEMAT memahami bahwa mahasiswa yang merantau untuk kuliah di kota ini, membawa beban tersendiri di pundak mereka. Harapan-harapan keberhasilan baik dari diri sendiri dan keluarga, juga sanak-saudara dan masyarakat setempat menjadi salah satunya. Sementara di perantauan, mereka menghadapi persaingan, tantangan, kompleksitas, tuntutan standar tinggi sumber daya manusia dan perubahan yang bisa menghalangi terwujudnya harapan keberhasilan tersebut. Banyak kasus menyedihkan terjadi di tengah-tengah proses mewujudkan harapan tersebut seperti depresi bahkan bunuh diri. Melalui pelatihan Belajar dari Kegagalan dengan judul ‘Per Angusta Ad Augusta’ di Villa Taman Eden 1, Kaliurang, 18-20 Oktober 2019, Stube-HEMAT mengundang mahasiswa membangun optimisme untuk menghadapi segala tantangan terlebih menyikapi kegagalan.

Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min, board Stube-HEMAT, membuka pelatihan dengan mengajak mahasiswa bersikap dalam membuat keputusan. Mengambil keputusan tidaklah mudah. Ada beberapa tipe dalam pengambilan keputusan, yaitu, pertama, asal memilih yang penting ia aman; kedua, mempertimbangkan untung rugi keputusan itu, pilihan yang menguntungkan akan diambil; ketiga, mempertimbangkan motivasi dari keputusan yang diambil dilandasi oleh motivasi yang benar. Nelson Mandela menjadi salah satu contoh pengambil keputusan yang dilandasi motivasi yang benar, meski dia harus menanggung 27 tahun hukuman penjara karena perjuangan anti ras dan diskriminasi di Afrika Selatan yang dia lakukan.

Upaya memaknai kegagalan dalam perspektif Kristen bersama Pdt. Dr. Jozef MN. Hehanussa menggugah antusiasme peserta untuk bertanya-tanya apakah Allah juga pernah gagal? Beberapa kisah tokoh di Alkitab seperti Adam dan Hawa yang gagal memegang perintah Allah dengan makan buah pengetahuan baik dan buruk, Musa gagal tidak masuk ke tanah perjanjian, Petrus menyangkal Yesus dan Yudas berkhianat, menjadi contoh kongkrit kegagalan. Jika manusia mengalami kegagalan, apakah artinya Tuhan juga gagal dalam menyertai manusia? Perdebatan dan diskusi yang seru mewarnai sesi ini. Kalau benar Tuhan gagal, apa yang akan dilakukan? Pergi dan berpaling meninggalkanNya? Kisah Sadrakh, Mesakh dan Abednego di kitab Daniel 3: 17-18, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu”, menjawab bagaimana harus bersikap saat rencana Tuhan tidak seturut keinginan manusia, yakni tetap setia. Rencana Tuhan tidak pernah gagal, hanya ketidakmampuan manusia memahami itulah yang membuat seolah Allah gagal dan tidak adil. Sungguh sesi ini memberi wawasan dan penguatan kepada peserta dalam menghadapi kegagalan.

 

Pendekatan psikologi bersama Drs. T.A. Prapancha Hary, M.Si, membantu para peserta mendalami pribadi mereka melalui gambar-gambar yang mereka buat sebelumnya. Tak hanya itu, peserta juga mengisi kuisioner untuk mengungkap karakter dan kecenderungan diri, yang nantinya bisa dikembangkan guna menyelesaikan kuliah dan masuk dunia kerja. Tak sedikit dari peserta mengakui kecocokan situasi diri yang ‘terbaca’ melalui gambar dan menerima saran-saran untuk dikembangkan.

 

Memahami penyebab dan konteks kegagalan akan membantu orang menghindari kegagalan selanjutnya dan membantu menemukan strategi yang efektif. Pengalaman beberapa tokoh, seperti Marco C. Alvino, putus kuliah tetapi sekarang hidup dari bisnis jagung; Maria Calista, bermodal suara mengangkat keluarganya; atau Sudarmono, penyandang disabilitas yang hidup dari menjahit, menjadi contoh riil orang-orang yang bangkit dari kegagalan dan berstrategi dalam hidupnya. Memang tidak mudah mengungkap kegagalan-kegagalan karena berarti mengakui kesalahan dan kelemahan, bisa menjatuhkan semangat bahkan membuka aib, padahal ini adalah bagian untuk memperbaiki diri dan menemukan bekal hidup yang baru.


Beberapa tekad peserta untuk menghindari kegagalan adalah dengan memperluas jejaring dengan mengenal orang, memetakan penyebab kegagalan, mengasah cara berbicara, melatih berbahasa Inggris, memperoleh ketrampilan menjahit dan berbisnis. Jadi, anak muda tetaplah optimis untuk melengkapi diri dan melangkah maju menghadapi masa depan. Per Angusta Ad Augusta. (TRU).








 


  Bagikan artikel ini

Mencetak Gol Persatuan (Merayakan perbedaan lewat Futsal)

pada hari Sabtu, 21 September 2019
oleh adminstube
 
 
Keberagaman selain menyimpan kekayaan karena keanekaragamannya, bisa menjadi bumerang bagi kehidupaan masyarakat itu sendiri karena berpotensi memicu konflik karena perbedaan yang dimiliki. Banyak elemen masyarakat berusaha mengedukasi kalau keberagaman adalah harta yang sangat berharga dan sudah sepatutnya menjadi kebanggaan bangsa dan negara. Merespon maraknya isu keberagaman yang terjadi, Stube-HEMAT ikut ambil bagian untuk menjaga keakraban dan menyatukan semua aktivis Stube-HEMAT yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Merauke dari Miangas sampai pulau Rote dengan bermain futsal di Telaga Futsal 1, Babarsari Yogyakarta.

Olahraga menjadi pilihan sebagai ajang untuk menyatukan semua orang didalam satu lapangan. Dari olahraga seperti futsal, orang bisa belajar pentingnya kerjasama tim tanpa melihat asal, agama, suku atau pun ras. Teman-teman peserta yang diajak berolah raga menyambut antusias, dengan hadir tepat waktu mulai jam 16.00 WIB memakai kostum lengkap. Tercatat 33 orang mahasiswa dari berbagai daerah, agama dan latar belakang studi berpartisipasi dalam olah raga ini.

Pertandingan dibuka dengan sambutan dari Trustha Rembaka, S.Th selaku koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, dan tendangan pertama dari Pdt. Em, Bambang Sumbodo, S.Th., M.Min selaku board Stube-HEMAT sebagai penanda permainan futsal resmi dibuka. Ada 4 tim futsal yang terdiri dari 2 tim putra dan 2 tim putri, yang selanjutnya tim putri mendapat kesempatan bermain terlebih dahulu dengan durasi 10 menit x 2, dan 5 menit untuk istirahat. Pertandingan berjalan lancar dan semua bermain dengan gembira terlihat dari raut wajah peserta, kelincahan dan teriakan spontan para pemain. Mereka menendang bola dengan penuh semangat dan terus berusaha membobol gawang lawan, tercatat skor lima dan dua gol di akhir permainan tim putri.
 
Tim putra bermain pada putaran kedua dan terbagi menjadi 2 tim dengan masing-masing tim beranggotakan 8-10 orang. Peserta yang bermain berasal dari Halmahera, Maluku, Maybrat, Raja Ampat, Sulawesi, Sumba, Flores, Bogor, Cilacap, Bengkulu, Palembang dan Lampung. Selain itu juga mereka semua berasal dari berbagai kampus di Jogja seperti UIN, UNPROK, ITY, UBSI, UJB, UST & STAK MARTURIA.
 
Keakraban harus terus dibangun ditengah-tengah keragaman yang ada agar tidak mudah termakan hoax yang sangat marak saat ini. Keakraban lapangan Futsal bukan hanya soal olahraga tetapi soal kerjasama tim mencetak goal ‘persatuan’ yang dibutuhkan untuk  membangun negeri ini tetap damai dan nyaman bagi semua suku, ras, dan agama. Anak muda Indonesia adalah satu bangsa yang berbahasa satu dan bertanag air satu dengan motto Bhinneka Tunggal Ika, berbeda tetapi tetap satu. Mari terus belajar bekerjasama dengan penuh rasa tanggung jawab sebagai sesama anak bangsa untuk kejayaan negeri ini. (SAP)

 

 

  Bagikan artikel ini

Memperkuat Relasi dan Mendalami Kehidupan di Indonesia

pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019
oleh adminstube
 

 

 
Tahun 2017 menjadi awal interaksi mahasiswa Indonesia dan Student Christian Movement in India (SCMI) dalam program South to South Exchange Program ke India, yang menumbuhkan antusiasme kedua belah pihak untuk semakin mengenal dan memperkuat relasi sebagai anak muda dari negara di kawasan yang sama, Asia. Kedua negara ini sama-sama sedang berjuang meningkatkan taraf hidup masyarakat dengan mengacu pada Tujuan Pembangungn Berkelanjutan (SDGs) meskipun ada banyak tantangan sosial, budaya dan kehidupan masyarakat. South to South Exchange program diharapkan dapat memberikan kontribusi pengetahuan dan pembelajaran bagi mahasiswa dari kedua negara tersebut mengenai isu-isu SDGs. South to South Exchange Program ke Indonesia sebagai tindak lanjut program tahun 2017, dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 29 Agustus 2019 yang didukung oleh Ecumenical Scholarship Program - Brot fur die Welt (BfdW), Jerman.

Program ini memberi kesempatan peserta memahami realita kehidupan mahasiswa di Indonesia; mempelajari keragaman budaya, isu dan tantangan berkaitan kekayaan alam; mengamati praktek pertanian alternatif yang berkelanjutan; dan terlibat dalam dialog lintas iman. Peserta SCMI terdiri dari dua pendamping dan tujuh mahasiswa, yaitu, Tolly Yeptho, Rebekah Rajkumar, Larihun Lyngdoh, Minta Varghese, Santhi Perusetti, Sharon Christy, Imlikokba Kichu dan dua pendamping, yaitu, Inbaraj Jeyakumar dan Ibatista Shylla.

Bersama mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta, mereka mengenal kota Yogyakarta termasuk Sumbu Filosofis kota ini dan mengunjungi kraton Yogyakarta dan kebun binatang Gembira Loka. Berkaitan dengan pertanian berkelanjutan di Indonesia mereka belajar di kawasan Samas, dimana lahan pasir kering dikelola sedemikian rupa menggunakan kompos dan sistem irigasi pipa sehingga menjadi lahan pertanian yang produktif. Para petani setempat memanfaatkan lahan pasir menjadi lahan pertanian yang produktif, seperti bawang merah, cabe, kacang hijau, jagung dan terong. Mengantisipasi permainan harga oleh para tengkulak mereka memperkuat diri melalui koperasi petani yang memfasilitasi modal dan penjualan hasil panen.

 
Sebagai bentuk pengenalan budaya dan sejarah, mahasiswa India berkesempatan mengunjungi candi Borobudur, candi Buddha terbesar di dunia. Sebagai salah satu warisan dunia, candi ini sangat megah dan unik dimana susunan setiap batu saling mengunci satu sama lain sehingga struktur candi menjadi kuat, sementara ornamen dan relief candi terpahat detil dan hal itu memukau mereka. Pelatihan Multikultural dan Dialog Antaragama dimana puluhan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang kuliah di Yogyakarta terkumpul dalam pelatihan ini dan menjadi ruang dialog yang berharga karena masing-masing peserta baik dari Indonesia dan India bisa mengenal dan bertukar pengalaman mengenai studi, budaya dan kehidupan. Tak ketinggalan praktek membatik tulis khas Yogyakarta, ‘henna’ seni lukis tangan India dan sajian khas kuliner India, seperti puri, masala, chapati, yoghurt atau pun chai tea melengkapi pemahaman aspek budaya. Dialog dengan organisasi mahasiswa Kristen, GMKI dan menyaksikan film Bumi dan Manusia memberi informasi pergerakan mahasiswa dan sejarah perjuangan bangsa Indonesaia di masa penjajahan, khususnya kehidupan perempuan.


“Saya baru pertama kali menemukan sistem pertanian lahan kering dengan mengolah lahan yang tidak produktif menjadi produktif. Saya pikir ini bisa diterapkan di India sebagai alternatif pertanian di lahan yang kering dan saya ingin membagikan apa yang saya alami di daerah saya, ”ungkap Imlikokba Kichu, salah satu peserta dari India. Ada banyak lagi pengalaman dan kesan positif dari para mahasiswa SCMI atas kegiatan yang dilakukan di Indonesia seperti penataan kota, kebersihan, fasilitas untuk orang cacat, keramahan masyarakat dan masih banyak lagi.

Pertemuan dan interaksi langsung para mahasiswa lintas bangsa ini tentu saja memberi nilai tambah bagi setiap pihak yang terlibat. Mereka saling belajar sekaligus memperbaiki diri sehingga sumber daya manusia bisa lebih berkualitas untuk mengarah pada peningkatan taraf kehidupan manusia secara universal. (TRU).
 
 
 
 
Connecting Soul,
Celebrating Diversity
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Connecting Soul, Celebrating Diversity

pada hari Selasa, 27 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
 
Cerdas mengatur perbedaan yang ada di Indonesia menjadi kunci stabilitas negara dan jaminan rasa aman rakyatnya. Simbol-simbol keagamaan, etnis, ras atau pun kelompok-kelompok tertentu membuat orang terkotak-kotak dalam beragam perbedaan, ditambah lagi syak wasangka dan radikalisme akan menambah kebekuan gap komunikasi dan interaksi antar anggota masyarakat. Pelatihan dengan judul dalam bahasa Indonesia Menghubungkan JiwaMerayakan Perbedaan, menjadi salah satu sumbang sih lembaga Stube HEMAT untuk bangsa ini.
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar-agama Stube-HEMAT Yogyakarta di Hotel Kukup Indah, kawasan pantai Kukup, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat-Minggu 23-25 Agustus 2019, menjadi ajang diskusi dan interaksi mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta. Utusan Stube-HEMAT dari Bengkulu, aktivis Stube-HEMAT Sumba dan peserta program South to South dari Student Christian Movement of India (SCMI) turut ambil bagian menyumbangkan pemikiran dalam pelatihan tiga hari tersebut.


Connecting Soul Celebrating Diversity mendorong peserta untuk saling mengenal meski beragam latar belakang dan bersama-sama mengkampanyekan keberagaman di Indonesia. Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif, menyampaikan seluk-beluk pelayanan Stube HEMAT, juga keragaman networking di level internasional, yang menuntut setiap individu memahami keberadaannya sebagai bagian dari keragaman itu sendiri. Student Christian Movement of India (SCMI) menjadi salah satu keragaman networking yang dimiliki lembaga ini. Inbaraj Jeyakumar, Sekretaris Umum SCM of India mengungkap rasa senangnya bertemu dengan mahasiswa di Indonesia dan bergerak bersama SCMI untuk memperjuangkan kesetaraan laki-laki dan perempuan, hak asasi manusia, pendidikan, pengentasan kemiskinan dan kemanusiaan.


Menjawab Keberagaman Agama & Budaya di Indonesia, sebuah tantangan atau peluang? Wening Fikriyati, dari Srikandi Lintas Iman (Srili) membuka pemikiran peserta dengan menulis karakteristik dirinya, misalnya etnis, warna kulit, agama, bentuk rambut, dan karakteristik lainnya. Selanjutnya, peserta diantar memahami syak wasangka melalui ‘games’ menebak benda yang ada dalam sebuah wadah tertutup. Peserta berhasil menyebutkan beberapa benda, namun ada yang terlewat karena ukurannya kecil dan tersembunyi. Dari sini peserta belajar bahwa mudah menilai sesuatu karena sering berjumpa tapi ada yang terlupakan karena jarang berjumpa. Dalam satu wadah Indonesia, keberagaman budaya, etnik, ras dan agama akan tidak harmonis jika tidak dikelola dengan baik, bahkan bisa merusak wadah yang ada. Jadi, wadah ini harus terus terpelihara dengan saling mengenal dan menghargai keberadaan masing-masing melalui interaksi lintas budaya lintas agama, karnaval budaya, dan lain-lain.


 
 
 
Sebagai bukti keragaman yang ada, para peserta mengenakan kostum daerah masing-masing, seperti Lampung, Sumba, Nias, Timor Leste, Kalimantan, Flores, Sumatera Utara dan Jawa dalam parade budaya dengan berjalan kaki berkeliling pantai Kukup sebagai sarana edukasi kepada masyarakat betapa kayanya budaya Indonesia. Parade ini mengawali diskusi tentang Sekolah Kebhinnekaan Gunungkidul bersama Pdt. Christiana Riyadi, Bilal Ahmad dari JAI, Pdt Lucas, dan Budi perwakilan PDHI. Sekolah Kebhinnekaan ini digagas oleh gereja-gereja Klasis Gunungkidul bersama NU, Fatayat, MBI, PDHI, JAI dan lembaga-lembaga lainnya sebagai sarana edukasi kepada remaja lintas agama tentang karakter inklusif dan toleran di Gunungkidul melalui interaksi bersama, menyaksikan film pendek tentang toleransi, berkunjung ke rumah-rumah ibadah, tinggal bersama penduduk yang berbeda agama dan merancang kampanye keberagaman dan toleransi.


 
Selanjutnya peserta mendalami contoh-contoh kearifan lokal yang ada di berbagai daerah di Indonesia seperti Sandinganeng di Halmahera daSintuwu Maroso di Poso. Malam pentas budaya dan seni tidak kalah serunya dengan penampilan para peserta melalui nyanyian daerah Kepulauan Aru dan Nias, puisi, gerak lagu dari India dan teater oleh peserta pelatihan. Semakin kuatlah ikatan kebersamaan antar peserta.





Aksi lanjut peserta dengan bekal dan pengalaman baru yang mereka dapat di pelatihan, diwujudkan dalam rencana aksi mereka untuk menyuarakan sikap toleransi, pemahaman inklusi dan kebersamaan melalui video keberagaman, tulisan tentang warisan budaya daerah, diskusi mahasiswa dan partisipasi dalam gerakan lintas agama dan lintas budaya. Harapan nantinya setiap orang menemukan keterkaitan satu sama lain tanpa prasangka dan menemukan keindahan keberagaman di Indonesia. (TRU).





 


 


 

 
 

  Bagikan artikel ini

Festival Wai Humba  Kami Bukan Sumba Yang Menuju Kemusnahan 

pada hari Selasa, 20 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
 
Festival Wai Humba merupakan festival yang diadakan untuk mendekatkan kembali manusia dengan sang Pencipta dan alam sekitar, sekaligus menyatukan empat kabupaten di pulau Sumba, yaitu Kabupaten Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya. Festival ini wujud ucapan syukur kepada Sang Pencipta atas berkah air dan refleksi pentingnya menjaga kelestarian alam Sumba.
 
Wai Humba sendiri dari kata Wai/wee yang berarti air dan Humba/zuba yang berarti Sumba. Banyak ditemui nama-nama tempat di pulau Sumba dengan awalan ‘Wai’ seperti Waingapu di Sumba Timur, Waibakul di Sumba Tengah, Waikabubak di Sumba Barat dan Weetabula di Sumba Barat Daya. Bagi masyarakat Sumba, air merupakan sumber dari segala kehidupan di muka bumi dan mereka pantang merusak air dan selalu melakukan sembahyang untuk menjaga kawasan air, agar selalu terberkati dan lestari, serta dijauhkan dari tangan-tangan jahat manusia yang akan merusaknya.
 
Adapun spirit festival ini adalah “Kami Bukan Sumba yang Menuju Kemusnahan”, dalam bahasa daerahnya ‘Nda Humba Li La Mohu Akama (Sumba Timur)’, ‘Da Zuba Da Sagage Mod’da Damo’ (Sumba Barat), ‘Nda Suba Kima Pa Aro Modda Dana’ (Sumba Barat Daya). Spirit tersebut menegaskan kepada siapa pun bahwa, meskipun jaman akan semakin maju, peradaban dan kebudayaan orang Sumba tidak akan musnah atau hancur.
 
Sejak 2012 Festival Wai Humba telah berlangsung 7 kali berpindah lokasi di seluruh pulau Sumba.
Festival Wai Humba I di Sungai Paponggu, kawasan Gunung Tanadaru, Sumba Tengah, 29 Oktober 2012.
Festival Wai Humba II di lereng gunung Yawila, Umma Pande, desa Dikira, Sumba Barat Daya.
Festival Wai Humba III di desa Ramuk, Sumba Timur.
Festival Wai Humba IV di Paponggu, Tanadaru, Sumba Tengah.
Festival Wai Humba V di Kadahang, Haharu, Sumba Timur.
Festival Wai Humba VI di desa Tabera, Desa Doka Kaka, Sumba Barat.
Festival Wai Humba VII di desa Ekapata, Yawila, Sumba Barat Daya.
Festival Wai Humba VIII akan diadakan di Kananggar, Sumba Timur, 18-20 Oktober 2019.
 
Selama 3 hari festival diisi berbagai acara yang berbeda tiap tahunnya, seperti ikrar persaudaraan, pentas seni dan budaya se-Sumba, penghijauan, kalarat wai atau ritual pemberkatan air, diskusi kampung Humba, kunjungan kampung ke kampung dan penghargaan Wai dan Tana Humba. Dari rangkaian kegiatan ini muncul rekomendasi kepada pemerintah daerah, misalnya festival ke VI menghasilkan sepuluh poin rekomendasi kepada pemerintah, dua di antaranya adalah (1) merekomendasikan agar pemerintah melakukan inventarisasi dan melindungi masyarakat adat, tanah ulayat dan hutan di Sumba serta membuat Peraturan Daerah perlindungan masyarakat hukum adat; (2) menjadikan bahasa daerah Sumba sebagai salah satu mata pelajaran/muatan lokal di semua sekolah di Sumba.
 
Respon positif datang dari masyarakat Sumba, bagi masyarakat adat, mereka sangat bersyukur karena festival ini menjadi ruang untuk menjalin dan mempererat tali persaudaraan sesama orang Sumba serta wadah untuk bertukar pandangan tentang masalah dan pemahaman terkait Sumba; bagi generasi muda, festival ini dapat menambah pemahaman baru sekaligus menumbuhkan kecintaan atas tanah Humba. Selain orang-orang Sumba, pengunjung juga dari luar Sumba, karena kegiatan seperti ini menarik dan bisa menemukan wawasan baru tentang budaya lokal yang berbeda dengan budaya mereka.
 
Harapannya, Festival Wai Humba berdampak positif bagi kemajuan Sumba dan menyatukan masyarakat adat Sumba meskipun berbeda daerah administrasi. Kami bukan Humba yang menuju Kemusnahan! (Antonia Maria Oy)

  Bagikan artikel ini

Sandinganeng “Sekawan”

pada hari Minggu, 18 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
Setiap daerah memiliki kearifan lokal yang membuat daerah tersebut unik dan punya daya tarik. Kearifan lokal terdiri dari berbagai macam seperti makanan khas, kalimat bijak, peninggalan budaya, pesan moral, etika  dan masih banyak lagi.

Kearifan lokal ini juga dapat kita jumpai di salah satu suku pendatang di desa Puao. Desa  Puao adalah salah satu desa di kecamatan Wasile Tengah di wilayah Kabupaten Halmahera Timur. Desa ini berpenduduk 635 jiwa dengan luas kawasan 474,90 KM. Desa ini didiami suku asli yaitu Tobelo dan suku pendatang seperti Sangihe, Buto, Makasar, Jawa dan Manado. Mayoritas masyarakat yang tinggal di desa ini beragama Kristen protestan dan beberapa Muslim. Kehidupan keseharian masyarakat di sini adalah nelayan dan petani.

Kebanyakan mereka menggeluti kedua pekerjaan itu disesuaikan dengan musimnya. Suku Sangihe adalah salah satu suku pendatang (1973) dari Sulawesi Utara dari Pualu Sangihe (Sangir) yang bisa dibilang sukses dalam melakukan pendekatan sehingga mereka bahkan diberi tanah untuk membangun rumah dan lahan untuk perkebunan. Seiring perkembangan zaman, mereka membangun kampung dan pada tahun 2007 dimekarkan menjadi desa Silalayang.
 
 
Desa Silalayang yang merupakan pemekaran dari desa Puao mayoritas adalah suku Sangihe. Mereka menikah silang dengan suku asli atau sesama suku Sangihe. Sejak 1973, setiap tahunnya selalu ada sanak saudara dari Sangihe yang datang untuk mencari pekerjaan atau sekedar merantau ke daratan Halmahera. Karena pekerjaan utama suku ini adalah melaut maka kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai nelayan.
 
Menariknya saat mereka masuk ke wilayah Halmahera khususnya di Desa Puao mereka membawah semboyan “sandinganeng” yang berarti “sekawan”, “sekelompok”, atau berkawan”. Semboyan itu membuat masyarakat asli desa Puao membuka tangan dan menerima mereka dengan ramah. Semboyan sandinganeng juga membuat  suku Sangihe bisa bertahan tinggal di daerah yang baru tanpa merasa takut dan khawatir sebab sedari awal mereka sudah menghidupi semboyan tersebut.
 
Semboyan itu dapat kita lihat dari etos kerja dari suku Sangihe yang merantau ke tanah Halmahera. Mereka pekerja keras dan selalu berusaha membantu orang sekitar mereka. Hal ini dapat kita jumpai jika berkunjung ke wilayah Halmahera. Selain itu ketrampilan membuat perahu dan juga kepandaian melaut suku Sangihe tidak diragukan lagi.
 
Sampai saat ini semboyan tersebut masih melekat kuat pada suku Sangihe yang berada di desa Silalayang. Semboyang ini dihidupi dengan tidak pernah membuat masalah dengan suku asli daerah setempat. Sebaliknya suku asli yang sering membuat masalah dengan suku Sangihe, seperti anak muda suku asli sering membuat keributan di desa Silalayang, tetapi suku Sangihe tidak menanggapi atau dendam terhadap suku mereka.
 
Semboyan sandinganeng juga dapat kita lihat di desa Silalayag yang saat ini banyak didatangi orang luar daerah seperti, Filipina, Manado, Jawa, Buton, Talaut, Makasar dan beberapa suku Tobelo yang juga tinggal dan menetap di desa ini. Menariknya suku Sangihe tidak pernah membuat keributan malahan mereka hidup rukun. Sampai saat ini suku Sangihe pun masih menggunakan percakapan sehari-hari bahasa Sangihe (Sangir).
 

 

Suku Sangihe yang dulunya pendatang sekarang sudah menjadi masayarakat asli Halmahera dan ikut memberi sumbangsih pemikiran ide dan gagasan dalam menunjang kemajuan desa Silalayang. Keterlibatan suku Sangihe dan pendatang di desa Silalayang dapat dilihat dari terpilihnya kepala desa dari suku Manado campuran Sangihe Bapak Robles Makatika. Seorang kepala desa muda yang visioner dan menjadi panutan bagi anak muda saat ini dengan capaian kemajuan desa Silalayang saat ini dari segi pembangunan infastruktur desa mulai dari kantor desa yang dulunya tidak ada, sekarang ada dan mendapatkan predikat kator terbaik dan paling rapi, ada pasar yang menjual pakaian, sayur mayur dan juga ikan segar. Selain itu dibangun juga dermaga sebagai tempat bersandar perahu nelayan, taxi laut dan juga menjadi tempat spot berswafoto populer di kawasan kecamatan Wasile Tengah.

Desa ini menjadi contoh bagi semua desa di kecamatan Wasile Tengah sebagai desa baru yang berkembang pesat dilihat dari pembangunan infrastruktur yang memadai dan menunjang perekonomian masyarakat. Semboyan sandinganeng bukan hanya sebuah kalimat tetapi benar-benar dihidupi dan terus dijaga sampai hari ini. (ERI)

 


  Bagikan artikel ini

Poso Dalam Sintuwu Maroso

pada hari Sabtu, 17 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
Kearifan lokal seringkali diartikan sebagai kebijakan setempat, pengetahuan setempat atau kecerdasan setempat. Kearifan lokal adalah pandangan hidup dan pengetahuan serta berbagai strategi kehidupan yang dilakukan oleh masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Kearifan lokal merupakan sesuatu yang berkaitan spesifik dengan budaya tertentu dan mencerminkan cara hidup masyarakat tertentu.

 
Poso adalah salah satu kabupaten yang mempunyai nilai-nilai budaya luhur yang mempersatukan tanah Poso, adapun sebagian orang mengenal Poso sebagai zona merah, terorisme, tanah perkelahian antara agama, banyak pembunuhan bahkan ketika menyangkut perang ideologi, ikut memainkan peran. Di Poso pernah ada upaya menyatukan kekuatan nasionalis dalam medan perpolitikan untuk menghalau gerakan-gerakan primordial yang bisa mengganggu pluralisme dan persatuan Indonesia. Apapun argumentasinya, kekerasan yang membawa kematian banyak orang, termasuk orang-orang yang tidak berdosa tidak bisa dibenarkan.

 
Poso mempunyai satu nilai adat yaitu Sintuwu Maroso yang berasal dari dua suku kata, Sintuwu yang berati persekutuan, persatuan, kesederhanaan dan Maroso yang berati kuat. Jika digabungkan menjadi persekutuan hidup yang kuat. Dimana kehidupan masyarakatnya diwarnai oleh harmoni dan toleransi. Selain itu, ada yang menarik di balik falsafah hidup to poso (orang Poso) dalam bahasa daerah Pamona (bahasa suku Pamona)Poso mempunyai arti “Pecah” dalam bahasa Indonesia, tentu berbanding terbalik dengan nilai adat yang dijunjung oleh orang Poso Sintuwu Maroso. Dapat disimpulkan bahwa walaupun Poso dalam keadaan darurat intoleransi tetapi masyarakat Poso menjunjung tinggi nilai adat dari Sintuwu Maroso yang mempunyai makna, yaitu : TUWU MOMBETUWUNAKA (hidup saling menghargai), TUWU MOMBEPATUWU (hidup saling menghidupi), dan TUWU MOMBESUNGKO (hidup saling menolong).

Sejatinya orang Poso bukanlah masyarakat yang tertutup dengan toleransi sebab Sintuwu Maroso yang mempersatukan hidup masyarakat tetap damai dan sehat sentosa dan hal inilah yang menjadi impian seluruh masyarakat Poso dari dulu sampai sekarang. (FAT)

 


  Bagikan artikel ini

 Ngerti, Ngrasa, Nglakoni  Mengerti, Merasakan dan Melakukan (Kognitif, Afektif dan Psikomotorik)

pada hari Jumat, 9 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
 
Salah satu kelompok masyarakat yang disebut masyarakat Jawa, merupakan masyarakat yang pada umumnya tinggal di bagian tengah pulau Jawa. Masyarakat Jawa dikenal memiliki kekayaan budaya, ajaran-ajaran dan ungkapan-ungkapan yang beragam bahkan bisa dikatakan kompleks karena berkaitan dengan banyak hal dan mendapat pengaruh karena perjalanan sejarah masyarakat Jawa sendiri, misalnya pengaruh Hindu dan Islam. Kebudayaan, ajaran dan ungkapan ini menjadi pedoman hidup sehari-hari dalam berelasi antara manusia dengan dirinya, manusia dengan sang Mahakuasa, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitar. Semua ini merupakan sarana yang diyakini untuk menjaga keseimbangan tatanan hidup bermasyarakat.

Harus diakui bahwa ada berbagai petuah, nasehat dan ungkapan yang hidup dan berkembang di tengah-tengah masyarakat Jawa. Salah satunya adalah Ngerti, Ngrasa dan Nglakoni. Petuah ini diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara, seorang tokoh pendidikan Indonesia dan pendiri Tamansiwa.
 
Pengertian sederhana dari Ngerti, Ngrasa dan Nglakoni ini adalah:
Ngerti (Mengerti) :
ini adalah upaya seseorang untuk memperoleh pengetahuan atas sesuatu yang ingin diketahui maupun yang tidak disengaja melalui panca inderanya. Di dalam aspek kognitif ini ia akan mampu mengenali sesuatu, identifikasi dan membuat suatu konsep dari pengetahuan baru yang ia peroleh.
 
Ngrasa (Merasakan):
ini adalah fase afeksi dimana seseorang merasakan dan menghayati apa yang telah ia ketahui, tidak hanya sekedar tahu tetapi menemukan makna di dalamnya. Ini nampak dari perubahan sikapnya karena pengetahuan baru yang telah diperoleh sebelumnya.
 
Nglakoni (Melakukan):
bagian ini merupakan aspek motorik di mana seseorang bertindak, melakukan sesuatu atau keterampilan karena pengetahuan baru yang ia pelajari sebelumnya. Ini merupakan bentuk konsistensi dan keteladanan, melakukan apa yang telah dipelajari sebelumnya.
 
Petuah ini tetap relevan sampai saat ini karena seseorang dari lahir melalui tahapan kehidupan sesuai perkembangan dirinya menuju kedewasaan, selalu mendapatkan pengetahuan baru, merasakan dan melakukan.
 

Dalam kaitan kehidupan manusia di dalam dunia yang penuh dengan keberagaman, dan keberagaman adalah keberadaan hakiki yang ada di dalam dunia, termasuk manusia dan keadaan alam di sekitarnya. Manusia berada di dalamnya dan ia berusaha mengenali dan mengetahui segala sesuatu yang ada di sekitarnya, dan pada kenyataannya ia tidak bisa melepaskan diri dari lingkungan di sekitarnya. Pengetahuan dan pengalaman baru terhadap keberagaman mendorong seseorang merenungkan dan menghayati kenyataan yang ada. Ini yang membuat seseorang menentukan sikapnya dan menentukan tindakan sebagai respon terhadapnya. 
 
Khususnya di Indonesia dengan keberagaman budaya, etnik, religi dan masyarakat maka langkah-langkah yang perlu diambil adalah ‘Ngerti’ yaitu berupaya memperoleh pengetahuan tentang keberagaman tersebut sehingga menemukan dan mengerti tentang nilai-nilai atau filosofi hidup, keunikan dan ekspresi budaya dari masyarakat lainnya. Kemudian ‘Ngrasa’ atau merasakan dan menghayati keberagaman bukan sebagai ancaman melainkan kenyataan dan kekayaan Indonesia. Selanjutnya ‘Nglakoni’ yaitu mewujudkan dalam tindakan yang menujukkan sikap saling toleransi, keterbukaan melalui kerjasama, gotong royong, sopan santun dan kepedulian pada kemanusiaan dan lingkungan.
 
Ngerti, ngrasa dan nglakoni adalah petuah sederhana tetapi membutuhkan kemauan, kesadaran dan kesungguhan untuk mewujudkan dalam tindakan hidup sehari-hari. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

Stube-HEMAT  Mengakar Dalam Masyarakat 

pada hari Kamis, 8 Agustus 2019
oleh adminstube
 

 

 

Hidup di tengah masyarakat dan belajar menghidupi budaya setempat membuat hidup lebih berarti dimana pun kita berada. Demikian juga Stube HEMAT yang ditempatkan di tengah-tengah masyarakat Yogyakarta, khususnya wilayah RW 19, Nyutran, sudah sepatutnya ambil bagian dalam dinamika kemasyarakatan yang terjadi. Seperti dalam kegiatan menyongsong hari kemerdekaan Indonesia ke-74 tahun, Stube-HEMAT berpartisipasi membagi informasi dalam acara “Dialog Budaya” pada tanggal 14 Agustus 2019, bertempat di kediaman Empu Keris, Eko Supriyono. Dialog Budaya mengangkat tiga topik yakni; Pemahaman Sumbu Filosofis kota Yogyakarta, Sejarah Kampung Nyutran, dan Keris.

Pemahaman sumbu filosofis kota Yogyakarta disampaikan oleh Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati, dengan menayangkan video pendek yang menarik dan mudah dipahami khalayak. Video tersebut menjadi acuan dasar sederhana mengenai sumbu filosofis kota Yogyakarta yang menempati rangking ke-4 dari 15 video yang dikompetisikan oleh Dinas Komunikasi dan Informasi, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Video dengan sub-title bahasa Inggris bisa diakses pada link:
Video sumbu filosfis menjadi pembuka dialog budaya dan membuat hadirin lebih memahami dan mencintai kota Yogyakarta yang menjujung tinggi nilai-nilai kehidupan, kemanusiaan dan perbedaan ciptaan. Penonton dibuat merenungkan kembali hakikat dilahirkan, mengisi hidup dan proses kembali ke Ilahi.

Topik selanjutnya adalah sejarah kampung Nyutran oleh Endro Gunawan, generasi kesekian warga asli yang mula-mula tinggal di kampung ini. Kampung Nyutran mula-mula bisa diibaratkan sebuah markas prajurit yang berasal dari pulau Madura yang diberi nama Prajurit Nyutra. Prajurit ini menjadi salah satu bagian dari prajurit Kesultanan Yogyakarta yang berasal dari berbagai daerah dan pulau di Nusantara untuk mendukung Sultan.

 
 
Melanjutkan sejarah kampung, dialog mengenai Keris yang dibawakan Eko Supriyono, tidak kalah menariknya. Sudah ratusan, bahkan ribuan keris dihasilkan dari tangannya sejak tahun 1979. Sedikit banyak Eko Supriyono menjelaskan tentang jenis warangka dan juga setiap bentuk warangka memiliki namanya masing-masing. Pada prosesnya keris buatan Indonesia sudah terdaftar di UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Dunia pada tahun 2005.


Warga kampung Nyutran terlihat antusias mengikuti acara dialog dan muncul ide agar acara seperti ini dapat diagendakan secara rutin sebagai sarana edukasi masyarakat terkait dengan sejarah kota Yogyakarta, sejarah kampung Nyutran dan juga tentang keris yang juga merupakan salah satu kelengkapan busana adat laki-laki suku Jawa.

Indonesia sudah merdeka selama 74 tahun, menjadi perenungan bersama apa kontribusi yang dapat kita berikan bagi bangsa dan negara kita ini? Mencintai budaya, saling menghargai dan terus saling mendukung adalah salah satu pilihan yang bisa kita ambil. Sebab tugas kita melahirkan pemimpin yang bijak tanpa melihat suku, ras dan agama. Mari bersatu karena kita Indonesia yang penuh aneka ragam adat istiadat dan sejarah lokalnya. (SAP).

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 8 Agustus 2019
oleh adminstube

 

 
 
 
“Napurantano-tano Ranging Masiranggoman,
Tung pe Badanta Padao-dao Tonditta ma
Masigomgoman”
 
 
 
Kebudayaan suku Batak memiliki bermacam-macam istilah untuk menghayati kehidupan, salah satunya mengenai keharmonisan dalam kekerabatan dan persatuan. Suku Batak memiliki 6 suku di dalamnya yaitu Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak, Batak Mandailing dan Batak Angkola. Setiap suku Batak memiliki bahasa, budaya dan motif pakaian adat yang berbeda pula. Ciri khas mengenal seseorang yang berasal dari suku Batak adalah dari marganya atau nama keluarga yang diturunkan dari orang tua laki-laki/ayah. Setelah mengenal nama marganya maka akan diketahui orang itu berasal dari suku Batak apa dan darimana asal daerahnya. Beberapa wilayah di Indonesia sering kali dijumpai masyarakat yang berasal dari suku Batak. Suku ini pun terkenal dari cara bicaranya yang keras dan martarombo yaitu mencari hubungan saudara dengan marga yang sama. Maka tak heran jika ada kekerabatan yang sangat erat di antara sesama marga.

Ada istilah Batak yang mengatakan “ Napurantano-tano Rangging Masiranggoman Tung pe Badanta Padao-dao Tonditta ma Masigomgoman”  tano = Lahan, ranging marsiranggoman = saling mengikat, tung = sungguh, pe = punbadan = tubuhpadao-dao = berjarak jauhtondita ma = Jiwa lah. Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia “pohon sirih yang tumbuh ditanah, batangnya saling mengikat, biarpun badan kita berpisah jiwa kita tetap bersatu”. Meskipun kita berada dalam lokasi yang berbeda tempat, tapi akhirnya kita tetap bersatu.
 
Filosofi ini diambil dari kebudayaan setempat dimana masyarakat di sana dahulu mengkonsumsi sirih. Oleh karena itu, filosofi ini diambil dari pohon sirih. Jika diamati batang pohon ini, ketika tumbuh batang dan ujungnya akan bertemu atau bersatu. Seperti halnya ketika kita pergi ke lokasi yang jauh untuk merantau bekerja ataupun menuntut ilmu suatu saat akan bertemu kembali. Makna ini memberikan pengharapan bagi kita yang memiliki perbedaan baik itu asal daerah, bahasa dan kebudayaan bahwa perbedaan itulah yang melengkapi dan menyatukan kita. Dalam kepercayaan daerah juga memiliki arti ketika badan/tubuh berpisah dengan jiwa, suatu saat pasti akan bertemu kembali.
 
 
Pohon sirih yang meski hidup dengan menumpang pada tanaman lain ini, tidaklah mengambil nutrisi dari tanaman yang ditumpanginya. Bahkan daunnya yang indah berbentuk hati itu malah akan memperindah tanaman yang ditumpanginya. Demikianlah simbol yang dapat kita pelajari yang menggambarkan hidup berdampingan dengan damai dengan keanekaragaman yang ada di tanah Batak bahkan di keseluruhan wilayah Indonesia. Sebagai simbol kerukunan dan perdamaian, tak heran dalam adat istiadat suku tertentu kerap membawa dan atau menyuguhkan daun sirih ini sebagai arti pernyataan hidup harmonis dan tidak saling merugikan.


Satu lagi keunikan pohon sirih bila kita perhatikan tumbuhan ini merambat dari bawah ke atas yang bermakna dalam kehidupan maupun pekerjaan yaitu segala sesuatunya haruslah dimulai dari bawah hingga perlahan-lahan menjadi lebih tinggi dengan tanpa merugikan orang lain. Sudah sebaiknya kita memahami dan menghargai budaya bangsa kita yang luhur ini agar tercipta suatu perdamaian dan persatuan yang harmonis untuk menjaga kekerabatan kita. (ROB).

  Bagikan artikel ini

Faramaw re Fatenow Farumi Kalimat Pemersatu

pada hari Selasa, 6 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
Desa Buli adalah ibu kota kecamatan Maba. Kecamatan Maba memiliki luas 408,50 km2 (6% dari keseluruhan Halmahera Timur), berjarak sekitar 46,66 km dari ibukota kabupaten Halmahera Timur. Kecamtan Maba terdiri dari 10 desa yakni Buli, Buli Asal, Buli Karya, Wayafli, Geltoli, Sailal, Pekaulang, Teluk Buli, Gamesan dan Baburino. Tiga nama yang disebutkan terakhir merupakan desa yang baru dimekarkan pada akhir 2012 (https://haltimkab.go.id/kecamatan-maba/).

Secara administratif ibu kota kecamatan berada di Desa Buli, tetapi secara tatanan dan adat semuanya terpusat di Buli Asal. Hal ini dapat kita lihat dari gaya hidup dan juga cara masyarakat Buli Asal mengadakan acara pernikahan yang masih menggunakan adat Buli dan setiap keluarga pasti diajar untuk berbahasa Buli. Berangkat dari cara menghargai budaya dan cara melestarikannya secara turun temurun, ada  cerita menarik tentang kearifan lokal yang masih terus dijaga. Salah satunya adalah kearifan lokal dalam mempersatukan semua suku yang yang tinggal di Kecamatan Maba.
 
Selain suku Asli Buli yang beragama Kristen dan Islam terdapa juga beberapa suku pendatang, diantaranya Maba, Bugis, Sangir, Tobelo, Toraja, Jawa dan beberapa pendatang dari wilayah Halmahera lainnya. Selain itu agama terbesar adalah Kristen dan Islam yang masih mendominasi di wilayah ini. Buli adalah lumbung tambang nikel, emas dan tembaga. Sejak 1997 perusahan pemboran Geomin sudah masuk ke wilayah ini dan berkantor di Desa Buli (sekarang desa Geltoly; yang berarti persimpangan). Selain perusahan tambang, di Buli juga terdapat kantor Pos dan beberapa perusahaan ekpedisi seperti JNE dan Lion Parcel untuk menunjang infrastruktur jual beli online. Kantor Kapolres Halmahera Timur pun masih tetap berada di Desa Buli bukan di ibu kota kabupaten. Selain itu sekarang ini sudah terdapat 1 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), beberapa toko pakaian dan pasar ikan dan sayur mayur untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Situasi Buli saat ini tidak lepas dari usaha para leluhur terutama tetua-tetua adat Buli yang terus berjuang menggiatkan pemahaman filosofi hidup rukun dan saling menghargai. Pada tahun 1998–2000 ada kerusuhan besar di Poso, Maluku dan Halmahera. Kerusuhan tersebut memakan banyak korban jiwa, harta benda, sanak saudara dan memutuskan rantai persaudaraan di antara kakak adik dan saudara.
 
Awal masalah yang tersebar adalah masalah perbatasan dua desa yaitu Kao dan Malifut. Dari masalah tapal batas berubah menjadi sebuah kerusuhan yang merenggut nyawa banyak orang yang tidak berdosa. Kerusuhan terjadi hampir di seantero Halmahera dari Utara sampai Selatan tetapi tidak terjadi di Buli. Berdasarkan beberapa literatur, kerusuhan pecah pada Januari tahun 1999 sampai penandatanganan Piagam Malino II tanggal 13 Februari 2002 
 
Wilayah Buli bisa bertahan dan tidak terjadi kerusuhan sama sekali dikarenakan adanya semboyan kearifan lokal “Faramaw re Fatenow Farumi” yang berarti “Saudara bersaudara”, “Kita Semua Bersaudara” yang didengungkan oleh tetua adat di wilayah Buli. Semboyan tersebut sampai saat ini menjadi pemersatu dan terus dihidupi oleh semua masyarakat di wilayah Buli. Karena semboyan itulah membuat wilayah Buli atau kecamatan Maba aman dari kerusuhan 1999/2000. Semboyan ini selalu diucapkan pada saat membuka pidato pada acara-acara besar di kampung. Bahasa pemersatu ini terbukti bisa menyatukan semua suku, agama dan aliran yang tinggal dan menetap di Buli. Di desa Buli Asal, setiap acara resmi seperti pernikahan atau lepas sambut pendeta baru, kalimat di atas masih terus diucapkan sebagai kalimat pembuka.
 
Terlebih lagi jika akan bergotong-royong membangun gereja, pastori atau fasilitas umum lainnya, kalimat tersebut seperti kunci yang dapat membuka hati setiap orang untuk terlibat membantu atau bekerjasama. Kearifan lokal harus terus kita jaga dan hidupi karena  saat ini dan dimasa depan kita akan terus hidup saling berdampingan dan bersatu walaupun kita berbeda agama, suku dan ras. (SAP)

  Bagikan artikel ini

Belajar Toleransi Dari Budaya Lamaholot

pada hari Senin, 5 Agustus 2019
oleh adminstube
 
 
‘Orang Lamaholot’ adalah sebutan bagi salah satu suku di Nusa Tenggara timur. Suku itu adalah suku Lamaholot. suku asli yang bermukim di Flores Timur, Adonara, Solor dan Lembata, dengan ciri utamanya adalah menggunakan bahasa Lamaholot sebagai bahasa ibu sekaligus bahasa dalam kehidupan sehari-hari.

Lamaholot berasal dari dua (2) kata yakni Lama: kampungHolot: bersambung. Sehingga Lamaholot diartikan sebagai kampung yang bersambung-sambung.
 
Setiap orang yang lahir menjadi bagian keluarga besar Lamaholot sungguh meyakini, setiap rejeki dan kemudahan dalam pekerjaan di mana saja, adalah berkat Lewotana (kampung halaman) dan peran leluhur nenek moyang.

Lewo tanah molo nage kame dore, ti pana akene todok, gawe akene walet (Kampung halaman jalan lebih dulu, baru kami ikut, supaya perjalanan kami tidak ada hambatan dan rintangan). Kame pana mai, seba wata piri tou, buku biliki teratu, balik maan gelekat lewo, gewayan tanah (Kami pergi mencari sesuap nasi, mencari ilmu pengetahuan, pulang kembali untuk mengharumkan nama kampung halaman). Ini menjadi doa setiap orang Lamaholot saat berpergian. Doa yang menyelamatkan sekaligus memberi rejeki saat berada di tanah orang, atau di perantauan.


Leluhur lamaholot telah mewariskan bagaimana hidup berdampingan tanpa permusuhan. Agama datang kemudian. Jauh sebelumnya adalah, keyakinan "taan kakan noo arin. Ake pewone geni" (Hidup berdampingan sebagai sesama saudara. Jangan saling membenci antara satu dengan yang lain).

Bentuk kebersamaan sesama anak Lewotana baik yang ada di kampung halaman, maupun yang ada di perantauan adalah dengan makan bersama. Momen ini yang selalu ditunggu dimana anak kecil, orang dewasa, tua muda, laki-laki atau perempuan dari semua agama tanpa kecuali, hadir dan melebur bersama dalam hajatan makan bersama.

Semua anak Lewotana, mendapat pesan untuk membawa misi perdamaian, persatuan dan tolerasi kepada sesama saudara lain di mana saja ia berada. Melalui hewan yang dikurbankan dan makan bersama, orang tua memberi kekuatan dan berkat kepada semua anak Lewotana dalam melanjutkan pekerjaan dan karya di mana pun ia berada. (MAR).

 


  Bagikan artikel ini

Interaksi Global Menuju Pembangunan Berkelanjutan

pada hari Minggu, 4 Agustus 2019
oleh adminstube
 
Interaksi global sudah tidak terhindarkan, bahkan menjadi tuntutan khususnya mahasiswa untuk memanfaatkan kemajuan teknologi yang memungkinkan komunikasi dan perjumpaan antar manusia tanpa dibatasi jarak, ruang dan waktu yang berguna untuk transfer pengetahuan, menambah pengalaman dan memperluas jaringan demi peningkatan kualitas hidup manusia itu sendiri sesuai indikator tujuan pembangunan berkelanjutan. Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa membuka diri menjadi tuan rumah untuk mahasiswa jurusan Sosiologi Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz, Hannover untuk belajar tentang pembangunan berkelanjutan di Indonesia pada tanggal 8-10 Agustus 2019 di Yogyakarta.
 
Kegiatan ini menjadi sarana mahasiswa Indonesia dan Jerman mendalami pemahaman mereka tentang budaya dan sistem politik yang berbeda, membagikan gagasan dan pengalaman berkaitan aspek-aspek dalam pembangunan berkelanjutan, seperti kesehatan, pendidikan lingkungan dan lainnya. Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, Ariani Narwastujati, S.Pd, S.S, M.Pd, menyambut mereka dan memaparkan tentang kota Yogyakarta melalui video dan mempromosikan sumbu filosofis kota ini. Koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, Trustha menceritakan pendampingan Stube-HEMAT di Yogyakarta, Sumba maupun Bengkulu. Andreas Kurschat, koordinator grup dari Hannover memperkenalkan rombongan dan menjelaskan tujuan kedatangan ke Indonesia bersama beberapa mahasiswa untuk mengamati kehidupan sosial dan kesehatan masyarakat Indonesia, khususnya di Semarang, Jawa Tengah dan belajar keunikan budaya di Yogyakarta bersama Stube-HEMAT.
 
Praktek membatik tulis menjadi pengalaman pertama para mahasiswa dari Hannover menghayati warisan budaya Jawa yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia. Team Stube-HEMAT mendampingi mereka membatik dari menentukan pola dan menggambar pada kain. Mereka menampakkan antusiasme meskipun pertama kali membatik dan menuangkan malam cair ke kain menggunakan canting. Beberapa kali malam menetes di luar garis pola tetapi tidak menyurutkan semangat mereka dan berlanjut untuk mewarnai batik menggunakan teknik colet.
 
Informasi awal tentang Sumbu Filosofi memancing rasa ingin tahu para mahasiswa dan mendatangi lokasi-lokasi bagian dari Sumbu Filosofi dari Panggung Krapyak ke utara sampai di Alun-Alun Selatan, kemudian dari Tugu ke selatan melewati jalan Marga Utama, Malioboro, Marga Mulya dan Pangurakan sampai Alun-Alun Utara Kraton Yogyakarta dengan berjalan kaki. Kedalaman makna dari simbol-simbol menyita perhatian para mahasiswa untuk meraih kemuliaan hidup manusia, terlebih keberadaan berbagai jenis tanaman dalam Sumbu Filosofis memperkuat adanya perhatian terhadap lingkungan.
 
Diskusi dengan pengurus Community Development Bethesda di Yogyakarta sebagai pendamping masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesehatan merupakan bagian Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan Keluarga (PIS-PK) yang diwujudkan melalui pendampingan dan pelayanan kesehatan ibu, bayi dan keluarga, kecukupan gizi dan ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan di beberapa desa di kabupaten Sumba Timur, kabupaten Alor dan kabupaten Malaka, keduanya di Propinsi Nusa Tenggara Timur.
 
Perhatian kampus tentang kualitas kesehatan masyarakat didiskusikan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta, dan dokter Teguh Kristian Perdamaian, yang mengampu mata kuliah Ilmu Kedokteran Umum dan Ilmu Kesehatan Masyarakat mengungkap alasan-alasan seseorang menunda urusan kesehatan seperti asuransi, pemeriksaan berkala dan penyembuhan karena (1) rendahnya tingkat pendidikan, karena rendahnya melek huruf, minimnya sosialisasi kesehatan, (2) kendala keuangan, yang berkait non medis seperti biaya transport, konsumsi selama perawatan dan kehilangan income, (3) pengaruh keluarga dan budaya, tentang keputusan keluarga, latar belakang budaya dan pengobatan alternatif, (4) aspek psikologis, kendala emosi dan persepsi masyarakat terhadap penyakit.
 
Kunjungan ke Kraton melengkapi rangkaian belajar tentang komitmen Kraton untuk menjaga warisan budaya yang berupa ajaran-ajaran, filosofi hidup dan beragam wujud seni, serta warisan benda seperti bangunan kraton dan koleksi literatur dan barang-barang antik.
 
Harapannya dengan beragam pengalaman dari interaksi mahasiswa lintas bangsa, observasi lapangan dan diskusi mengajarkan kepada setiap mahasiswa untuk menghargai keberadaan manusia dan nilai-nilai kemanusian demi kelangsungan kehidupan di muka bumi. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Menggali Potensi Lokal Untuk Desain Batik Waropen

pada hari Sabtu, 6 Juli 2019
oleh adminstube
 
 
 
Keinginan untuk mandiri sebagai wirausahawan menjadi titik temu antara Stube-HEMAT, sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia dengan Dinas Pemuda dan Olahraga kebupaten Waropen, Papua yang mengutus para pemudanya untuk belajar membatik dan usaha produktif berbasis batik di Yogyakarta dari tanggal 2-4 Juli 2019. Pertemuan dua lembaga ini tidak luput dari peran Roni Kayai yang pernah mengikuti pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta saat masih studi di kota ini sekitar tahun 2006.
 
 
Jarak tempuh dan perjalanan panjang yang lebih dari 24 jam menuju Yogyakarta tidak menyurutkan hasrat mereka. “Kami ingin belajar membatik di Yogyakarta dan memiliki pengetahuan kewirausahaan sehingga para pemuda kami nantinya mandiri dan mengembangkan wirausaha di daerah”, ungkap Enos Refasi, S.Sos, Kepala Bidang Pemuda Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Waropen dalam sesi pembukaan pelatihan.


Peserta mengawali eksposur dengan mengunjungi Museum Batik Yogyakarta, Jl. Dr. Sutomo 13 A, Bausasran. Dengan penuh perhatian, mereka menyimak penjelasan petugas museum tentang perkembangan batik di Yogyakarta, Surakarta maupun di pesisir utara Jawa yang mendapat pengaruh dari bangsa-bangsa lain. Awalnya batik digunakan hanya oleh kalangan tertentu namun saat ini masyarakat umum bisa memakainya. Mereka juga mengamati motif-motif batik yang menyiratkan pesan tersembunyi atau doa dari pembuatnya dan penggunaan batik dengan tepat antara motif dengan momen yang ada, seperti motif Sidoasih dikenakan saat pernikahan, dan motif Gringsing dipakai ketika sakit.


Membekali mereka dengan gambaran potensi lokal yang bisa diangkat menjadi motif batik, Stube-HEMAT membawa peserta mengunjungi sanggar batik ‘Manggala’ di Kulonprogo. Pak Surasa, sang pemilik, menyambut dan mengungkapkan rasa senang mendapat kunjungan pemuda-pemudi Waropen. Ia mengajak mereka mengamati berbagai koleksi batik, motif Gebleg renteng khas Kulonprogo, motif abstrak dan motif-motif dengan figur tertentu, proses mencanting, membuat pola, dan meluruhkan malam. “Kami mengembangkan batik tulis dan cap karena kami ingin masyarakat dari berbagai kalangan bisa memakai batik asli. Aneh rasanya kalau kita memiliki warisan batik tetapi tidak bisa membeli karena harganya mahal. Jadi, kami melakukan inovasi untuk menekan biaya produksi sehingga harga terjangkau. Selain itu, kami memasarkan batik sampai di luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi dan bahkan Papua Barat”, ungkapnya.



Kampung Batik Giriloyo, yang telah lama dikenal sebagai sentra batik tulis tradisional menjadi tempat belajar berikutnya. Said Romli (Divisi pemasaran paguyuban) dan Isnaini Muhtarom (Ketua Paguyuban Batik Giriloyo, juga kepala dusun setempat) menyambut para peserta dan menyampaikan pengantar, “Sentra batik Giriloyo ini menjadi sandaran hidup ribuan masyarakat. Paguyuban ini menaungi belasan sanggar batik di Giriloyo agar mereka memiliki daya saing di pasaran dan galeri ini menjadi showroom untuk memajang koleksi batik yang sebagian besar menggunakan pewarna alami”, jelasnya. Saat praktek membatik peserta nampak canggung dalam menorehkan lilin, namun perlahan mereka bisa melakukan meski tetesan lilin mengenai kain. Ini hal wajar karena baru pertama kali praktek membatik. Langkah terakhir adalah pewarnaan dan meluruhkan lilin/malam, dan akhirnya jadilah karya pertama mereka.





Pengalaman-pengalaman selama di Yogyakarta ini membekali peserta mendapatkan ide mendesain motif khas daerah Waropen. Muncullah beberapa motif batik berisi ornamen khas Waropen di hari terakhir sebelum kepulangan mereka ke Papua.

Pemuda identik dengan semangat untuk belajar hal baru. Kiranya ini menjadi bekal mereka untuk  berkembang, mandiri dan berkontribusi memajukan daerah. (TRU).

  Bagikan artikel ini

Mampir Sejenak di Griya Gusdur

pada hari Senin, 17 Juni 2019
oleh adminstube
 
 
Gus Dur atau lengkapnya Dr. K.H. Abdurrahman Wahid, presiden keempat Indonesia yang sangat terkenal dengan kecerdasan dan kerendahan hati dalam menyatukan bangsa Indonesia melalui nilai-nilai kehidupan bermasyarakat, merupakan tokoh nasional yang inspiratif.


Pada tanggal 15 Mei 2019, penulis berkesempatan ke Jakarta dan mampir ke Griya Gus Dur di jalan Taman Amir Hamzah. Rumah lama tersebut masih sangat kental dengan model arsitektur Belanda. Rumah tersebut, menurut Pak Hasyim, salah satu pekerja di Griya Gus Dur, merupakan rumah peninggalan ayah Gus Dur yakni K.H. Abdul Wahid Hasyim. Bisa dibilang rumah ini adalah rumah masa kecil Gus Dur yang menyimpan banyak kenangan dan juga ragam kisah perjuangan bagi Gus Dur.
 
“Gus Dur kecil sudah tumbuh dan besar di rumah ini dan menjadi rumah belajar, diskusi sampai tempat perumusan-perumusan kebijakan kenegaraan pun dilakukan di sini semasa Wahid Hasyim masih menjabat sebagai menteri agama. Rumah ini sudah menjadi rumah belajar sejak Gus Dur masih muda.” tutup Pak Hasyim. Rumah yang sangat asri dipenuhi pepohonan yang rindang dan teduh membuat nyaman bagi siapa saja yang berkunjung. Saat ini rumah ini telah menjadi kantor beberapa yayasan yang dikelola langsung oleh keluarga Gus Dur terkhusus keempat putrinya dengan jam buka pukul 09.00 WIB.

 
Rumah ini diresmikan oleh istri Gus Dur, Shinta Nuriyah Wahid, didampingi keempat putrinya yaitu: Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah Wahid pada tanggal 24 Januari 2016 sebagai “Griya Gus Dur” yang menandai sejumlah tonggak penting rumah pergerakan: peluncuran gusdur.net dan peluncuran Lumbung Amal Gusdurian. Dan saat ini di Griya Gusdur terdapat sejumlah lembaga pelanjut perjuangan Gus Dur seperti: The Wahid Institute (Sekarang Wahid Foundation), Yayasan Bani KH Abdurrahman Wahid (yang menaungi Sekretariat Nasional Jaringan GUSDURian Indonesia, Abdurrahman Wahid Center for  Interfaith Dialogue & Peace at University of Indonesia, Jaringan Kios Rakyat, dan Pojok Gus Dur), Yayasan Teman Bangkit, dan Positive Movement. (http://wahidinstitute.org/wi-id/agenda/326.html)

 

Setiap sudut rumah ini menarik untuk dipelajari, terlebih mushola di belakang rumah yang berbentuk pendopo, bisa dipakai untuk sholat dan juga untuk diskusi. Terlihat jelas saat masuk ke dalam rumah tersebut banyak kata-kata bijak yang ditulis rapih dan dipajang di sana. Selain itu ada foto-foto keluarga Gus Dur dan beberapa foto lainnya. Di dalam rumah ini tedapat empat ruangan khusus yang dijadikan kantor bagi Alissa Wahid, Yenny Wahid, Anita Wahid, dan Inayah. Jika ada tamu atau kepentingan terkait institusi, maka mereka akan mengadakan pertemuan di ruang tersebut.



Saat masuk ke dalam ruangan-ruangan di dalam rumah ini pun auranya sangat terasa, begitu hidup dan penuh gairah. Semangat serta inspirasi kehidupan dari kedua tokoh besar Indonesia Wahid Hasyim dan anaknya Gus Dur yang ingin kembali digaungkan membuat rumah ini menjadi tempat berkumpulnya anak muda dari berbagai latar belakang, suku dan agama. Inilah Indonesia. (SAP)




  Bagikan artikel ini

Tujuan Pembangunan Berkelanjutan Tanggung Jawab Bersama

pada hari Rabu, 29 Mei 2019
oleh adminstube
 
 
Tujuh belas Juli 2019 adalah deadline pengiriman draf Voluntary National Review atau VNR yang berisi ulasan capaian pemerintah Indonesia terkait implementasi Sustainable Development Goals atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke New York. Sebelum tanggal tersebut pemerintah mengumpulkan capaian-capaian tahun 2018 terkait isu yang akan diulas tahun 2019 ini.

Ada 5 tujuan besar yang akan diulas, diantaranya adalah tujuan ke-4 tentang pendidikan yang berkualitas, tujuan ke-8 mengenai pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi, tujuan ke-10 berkurangnya kesenjangan, tujuan ke-13 berkaitan dengan penanganan perubahan iklim dan tujuan ke-16 yaitu perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh.
 
Kelima tujuan di atas juga menjadi fokus perhatian dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik atauSave the Children dengan melakukan dialog bersama anak muda di Soppeng, Sulawesi Selatan dan Yogyakarta, medio Maret 2019. Dialog yang diberi nama Konsultasi Orang Muda untuk SDGs tersebut ditutup dengan mengirim perwakilan ke Jakarta untuk audiensi bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dengan harapan menyampaikan hasil konsultasi yang sudah dilakukan selama dua hari di masing-masing kota tersebut.

Pertemuan dengan BAPPENAS, Jakarta Pusat dilaksanakan Kamis, 16 Mei 2019 dengan perwakilan yang dikirim adalah Debbi dan Adi dari Soppeng, Sarloce (Stube HEMAT) dan Ferdi (Gusdurian) dari Yogyakarta. Perwakilan dari Yayasan Sayangi Tunas Cilik adalah Tata Sudrajad (Direktur Advokasi dan Kampanye), Ratna Yunita (Penasehat Tata Kelola Hak Anak), Nurma Nengsih (Program Officer, Soppeng) dan Ryan Febrianto (Youth Konsultan). Sementara BAPPENAS hadir beberapa personil yakni, Dr. Ir. Arifin Rudiyanto, MSc (Deputi Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya Alam), Amalia Adininggar Widyasanti, ST, MSi, M.Eng. Ph.D (Staf Ahli Menteri PPN Bidang Sinergi Ekonomi dan Pembiayaan), Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc, (Direktur Kehutanan Sumber Daya Air Kementerian PPN).
 
Dr. Ir. Arifin sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Yayasan Sayangi Tunas Cilik dalam upaya memberi masukan pembuatan draft VNR yang akan dikirim. Dari lima tujuan besar yang dibahas berisi tantangan yang sedang dihadapi, berikut rekomendasinya. Salah satu hal yang ikut disuarakan Sarloce, peserta dari Jogja adalah terkait alih fungsi lahan di Halmahera dan rekomendasinya agar ke depan pemerintah memastikan status hukum bagi lahan yang diambil paksa atas nama negara, tetapi berselang 2-3 bulan lahan tersebut dibuka untuk pertambangan. Hal ini marak terjadi di seluruh wilayah Halmahera tanpa terkecuali. Selain itu, Sarloce merekomendasikan terkait efisiensi penggunaan dana desa dengan mengirim staf ahli untuk mendampingi kepala desa dalam melakukan pembagian anggaran agar tepat sasaran, dan menghindari korupsi karena ketidaktahuan kepala desa dalam membagi dana tersebut yang diperuntukkan terciptanya lapangan pekerjaan di desa.

Dalam pertemuan tersebut juga ditanyakan upaya pemerintah terkait penyiapan draf VNR? Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan semua pihak, juga bekerjasama dengan beberapa kampus untuk membuat SDGs Center yang fokus menyelesaikan permasalahan di masing-masing tujuan. Misalnya, Universitas Bengkulu dengan fokus topik Kemiskinan, Universitas Hasanudin fokus dengan masalah kesehehatan dan ada beberapa kampus lainnya. Tujuannya agar para akademisi ikut terlibat memecahakan permasalahan yang dihadapai bangsa ini, terkhusus di daerah-daerah yang masih rawan dan kesulitan infrastruktur. Semuanya inisatif dari kampus jika mau terlibat mengambil bagian untuk membantu mengurangi kemiskinan dan permasalahan kesehatan yang terjadi. Pemerintah berupaya maksimal dan membuka diri menerima masukan dari semua pihak untuk membantu mengurangi permasalahan yang dihadapi saat ini.

Audiensi diharapkan bermanfaat bagi kedua belah pihak dan ditutup dengan ucapan terimakasih dari Direktur Advokasi dan Kampanye, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Tata Sudrajad dan dilanjutkan dengan berfoto bersama. (SAP).

 

 

  Bagikan artikel ini

Family, Problems and Solutions Parenting Skills Program  

pada hari Rabu, 15 Mei 2019
oleh adminstube
 
Keluarga merupakan pondasi utama yang menjadi kekuatan bangsa dan negara. Untuk itu pengetahuan pola asuh dan relasi yang baik antara anggota keluarga terutama orang tua dan anak bukan hal yang sepele, ditambah lagi pergaulan kehidupan anak muda yang semakin bebas. Inilah mengapa Stube-HEMAT Yogyakarta berinisiatif mengadakan pelatihan ini. Alasan lain yang pertama, setiap mahasiswa adalah hasil pengasuhan orang tuanya dengan beragam situasi dan latar belakang yang mempengaruhi hidup dan perkembangan jiwanya yang juga akan mempengaruhi pola asuh pada keturunan selanjutnya, kedua, setiap mahasiswa akan dihadapkan pada dua pilihan, berkeluarga atau tidak dengan segala konsekuensi yang ada. Kedua pilihan memerlukan pembekalan dan kesiapan masing-masing.

Pelatihan kali ini diikuti tiga puluh mahasiswa yang berkumpul bersama di Griya Sejahtera, Ngablak, Magelang (10-12/05/2019). Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di Yogyakarta. Meskipun memiliki berbagai latar belakang studi, peserta antusias mengikuti pelatihan ini. Para fasilitator membagikan pengetahuan dan pengalaman sesuai kompetensi masing-masing. Sebagai dasar alkitabiah, Pdt. Bambang Sumbodo, mengingatkan peserta atas ancaman gaya hidup modern pada keluarga-keluarga Kristen saat ini dengan mengangkat kisah Musa dan keluarganya. Musa yang berperan sebagai pembebas bangsa Israel dari perbudakan saat itu, tentulah sangat sibuk. Dengan mencermati kisah kunjungan Imam Yitro yang tak lain adalah ayah mertua Musa, ke keluarga Musa, peserta belajar bahwa perlunya saling mendukung dan berinteraksi antar anggota keluarga. Keberhasilan Musa tidak lepas dari dukungan anggota keluarganya.


 
Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT, melalui sebuah narasi mengajak peserta melihat kembali perjalanan sejarah Stube-HEMAT, dalam sesi pengenalan lembaga. Topik tentang Pemahaman Hak-hak Anak dan Ruang Berkembang Anak difasilitasi oleh Ahmad Damar Arifin, S.Pd., seorang fasilitator PAUD, pemerhati anak dan pendongeng. Ia mengungkapkan bahwa setiap orang akan menjadi orang tua, tapi tidak setiap orang tua paham bagaimana mendidik anaknya sesuai kecerdasan anak. Ia membekali peserta tentang hak-hak anak sesuai Konvensi Hak-hak Anak PBB tahun 1989 seperti, hak untuk bermain, mendapat pendidikan, perlindungan, nama atau identitas, status kebangsaan, makanan, akses kesehatan, rekreasi, kesamaan perlakuan dan berperan dalam pembangunan.


Selanjutnya Anggraeni Upik Pratiwi, S.Psi., membagikan Tips Memilih Pasangan Hidup yang Ideal dari Aspek Psikologi, yang mencakup pertama, mengenali diri sendiri, kelebihan dan kekurangan; kedua, menentukan kriteria dari pasangan hidup yang diharapkan. Upik menekankan pentingnya kesadaran tentang kriteria yang tidak bisa diubah, misal fisik dan etnis atau keturunan, sedangkan sifat dan hobi bersifat bisa diubah; dan yang ketiga, memperluas interaksi yang membuat seseorang bertemu banyak orang dan memungkinkan mengenal mereka secara mendalam.
 
Kemajuan teknologi mempengaruhi kehidupan keluarga, baik cara komunikasi atau pun interaksi dalam keluarga. Bagaikan dua sisi mata uang, di satu sisi kemajuan teknologi membuat seseorang mampu mengakses informasi tanpa batas, bahkan cenderung individualistis, namun di sisi lain bermanfaat, seperti memasarkan bisnis keluarga, atau komunikasi tatap muka meski di tempat jauh. Hal ini disampaikan oleh Dr. Murti Lestari, M.Si, dosen Fakultas Bisnis UKDW dan praktisi ekonomi. 

Sebuah talkshowFamily, Problems and Solutionsyang menghadirkan Drs. Bambang Hediono, MBA dan istri, yakni Ibu Lucia Nucke Idayani memberi kesempatan peserta berdialog tentang apa yang dialami di keluarga, kriteria pasangan hidup, cara pendekatan dan mengasuh anak. Kedua narasumber sepakat bahwa pasangan hidup harus diperjuangkan meski ada perbedaan di antara mereka, memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, saling percaya, dan memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan.

Sesi analisa kasus menggiring peserta mendalami suatu kasus tertentu dalam keluarga dan mendiskusikan dalam kelompok. Mereka menghubungkan kasus dengan materi pelatihan dan menentukan bentuk tindakan pencegahan, penyelesaian maupun pendampingannya.



Pada hari terakhir pelatihan, kebersamaan dengan jemaat GKJ Gumuk menjadi pelengkap rangkaian kegiatan, dimana para peserta berkesempatan mempersembahkan pujian dalam ibadah Minggu dan menyerahkan buku-buku dan alat peraga untuk sekolah minggu.

Sebagai output pelatihan, para peserta menulis pengalaman anak-anak di daerah dan pergumulan keluarga yang mereka temui. Riskia Gusta Nita, mahasiswa STAK Marturia, asal Lampung mengungkapkan, “Pelatihan ini mengolah sisi dalam diri peserta. Ini bagus diterapkan karena terkadang kita belum memahami diri kita sendiri, lalu bagaimana memilih pasangan hidup dan merancang masa depan. Saya merasa perlu untuk berbagi apa yang saya dapatkan dan rasakan di pelatihan kepada teman-teman di lingkungan saya”.

Pengenalan diri seseorang terhadap dirinya dan pemahaman menjadi orang tua menjadi bekal yang baik untuk merancang dan memasuki masa depan. (TRU).

 

 

  Bagikan artikel ini

Menulis dan Mengungkap Kegelisahan

pada hari Jumat, 3 Mei 2019
oleh adminstube
 
 
Aktivitas menulis mengiringi kehidupan seseorang dilihat dari aktivitas menulis yang berwujud status dan komentar di media sosial, pesan pendek, tugas kuliah dan skripsi. Namun ada juga yang tidak menulis apa pun ke publik karena alasan kurang percaya diri, belum terbiasa dan takut. Perlu dipahami bahwa tulisan yang berkualitas datang dari latihan dan pantang menyerah. Untuk itu Stube-HEMAT Yogyakarta bekerjasama dengan team S2 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada mengadakan Workshop Menulis Fiksi (Rabu, 1/5/2019) di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.

Dua puluhan mahasiswa dari berbagai daerah yang kuliah di berbagai kampus di Yogyakarta mengikuti workshop ini. Dalam pembukaan acara, Trustha Rembaka, S.Th., koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengapresiasi semangat mahasiwa untuk meningkatkan keterampilan menulis fiksi. Setiap orang memiliki cerita hidup masing-masing dan menjadi pelajaran berharga bagi yang lain, jadi yakinlah dan mulailah menulis.
 
Achmad Munjid, M.A., Ph.D., dosen S2 Ilmu Budaya UGM dan fasilitator workshop merasa senang bekerjasama dengan Stube-HEMAT Yogyakarta karena bisa berinteraksi dengan mahasiswa yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ia memulai workshop dengan pertanyaan: “Jika seseorang kursus berenang dan pelatihnya hanya memberi buku teori berenang, apakah ia mampu berenang saat ‘nyemplung’ ke kolam? Belum tentu. Ia harus praktek bagaimana berenang, menggerakkan tangan, kaki dan pernafasan. Sama dengan menulis, teori tidak cukup. Ia harus menulis dan terus mengasah keterampilan menulisnya.”
 
Ada berbagai jenis tulisan dan salah satunya adalah fiksi, karya sastra yang berisi cerita rekaan atau imajinasi dan bukan kejadian nyata. Meski imajinasi, penulis fiksi harus mengolah tulisannya agar menarik dan pembaca terkesan dengan tulisan fiksinya. Ia perlu menyadari bahwa tulisan fiksi sebenarnya ungkapan pikiran penulis karena ada konflik yang membuatnya gelisah. Kemudian, ia harus menentukan plot atau alur cerita dari konflik, krisis dan penyelesaian yang memuat 3D, yaitu Drama (menarik perhatian), Desire (hasrat atau antusiasme) dan Danger (bahaya atau tantangan) sehingga pembaca tertarik untuk membaca sampai selesai. Bagian penting lain adalah mendeskripsikan tempat, tokoh, peristiwa atau sesuatu secara spesifik dan nyata yang membuat pembaca merasa ‘seolah-olah’ masuk dalam cerita dan berjumpa langsung dengan tokohnya. Penulis tidak bisa mengatakan ‘makanan ini enak’ karena enak itu relatif. Jadi penulis harus ‘menceritakan’ makanan tersebut, apa saja bahannya, bagaimana tampilan, rasa dan aroma bumbunya. Jika pembaca sampai merasa seperti ‘mencecap’ makanan itu artinya penulis berhasil.


Sebagai latihan, peserta diminta mengamati lukisan dan mendeskripsikan dengan kata-kata dan mencoba ‘masuk’ ke dalam perasaan pembaca. Narasumber mengungkapkan bahwa menulis itu seperti seseorang yang menggali sumur dengan sebatang jarum, menggali tanah dengan perlahan. Sama halnya menulis yang merangkai huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat akhirnya menjadi satu tulisan utuh.
 
“Awalnya saya suka menulis diary isi hati dan cerita anak, tapi malu dan tidak percaya diri kalau orang lain membacanya. Tapi di workshop saya mendapat jawaban bahwa penulis tak perlu memikirkan itu, yang penting tuliskan apa yang ada di pikiran, bahasakan emosi, perasaan dan jangan hiraukan komentar pembaca. Sekarang saya percaya diri untuk menulis”, kata Marina, mahasiswa UMBY dari Riung, Flores.
 
Karena ini adalah tahap awal menulis fiksi dan masih proses belajar, perlu segera menulis dan terus melatih diri. Jadi, mulailah menulis, ungkapkan segala sesuatu yang menggelisahkan hatimu! (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

Semangat Mengejar Target SDGs 2030

pada hari Minggu, 31 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
Negara yang berdaulat adalah negara yang berkomitmen mensejahterakan rakyatnya dengan cara-cara:mengentaskan kemiskinan, semua bisa bersekolah sampai jenjang SMA, sanitasi dan kesehatan yanglayakjuga mengurangi angka kematian ibu dan anak. Untuk mencapainya, setiap negara harus memilikitolak ukur pencapaian yang sama, maka pada September 2000, Millenium Development Goals (MDGs) atau“Tujuan Pembangunan Milenium” dideklarasikan dalamKonferensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Ada delapan poin utama yang harus di capai pada tahun 2015, meliputi: (1)Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; (2)Pendidikan dasar untuk semua; (3)Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (4)Menurunkan angka kematian anak; (5) Meningkatkan kesehatan ibu; (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; (7) Memastikan kelestarian lingkungan hidup; (8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam prosesnya, MDGs di Indonesia dan dunia belum sepenuhnya tercapai. Waktu15 tahun untuk mencapai MDGs dirasa kurang, sehingga negara-negara anggota PBB melanjutkan kembali program tersebut dengan nama SDGs atau Sustainable Development Goals pada September 2015 di New York. Indikator capaian SDGs lebih detail dengantujuh belas poin dengan harapan pada tahun 2030 semua negara sudah bebas dari kemiskinan, semua anak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas baik itu infrastruktur maupun kualitas sumberdayamanusianya, semua negara bisa menangani permasalahan iklim global dan berbagai permasalahan lainnya terkait dengan keberlanjutan kehidupan serta kedamaian bersama.

Berkaitan pertanggungjawabanIndonesia ke PBB tahun 2019 ini, Stube-HEMAT Yogyakarta turut ambil bagian untuk berbagi dan mengumpulkan aspirasi serta permasalahan apa saja yang dihadapi teman-temanmuda di daerah, karena 90% aktivis Stube HEMAT berasal dari luar Jawa.


Dari diskusi di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta(31/03/2019) yang dihadiri kurang lebih delapan belas orang pesertadengan fasilitator Dr. Murti Lestari, M.Si selaku Board Stube-HEMAT,kendala terbesar yang sering ditemui adalah rendahnya kualitas pendidik yang mengakibatkanrendahnya sumber daya manusia. Kualitas guru, sarana prasarana, infrastruktur, jarak tempuh rumah ke sekolah menjadi kendala utama di banyak pulau dan daerah pelosok di Indonesia. Pemakaian bahan bakar yang tidak bisa diperbaharui seperti batu bara menjadi agenda dalam pemeliharaan lingkungan dan ekosistem untuk mencapai iklim yang ideal atau menurunkan emisi gas rumah kaca yang saat ini sudah berdampak pada naiknya permukaan air laut.

SDGs baru berjalan 4 tahun, kita masih punya 11 tahun lagi untuk bisa ikut terlibat ambil bagiandalam setiap poinnya serta mendorong pemerintahuntuk memenuhi ketujuh belas poin tersebut agar Indonesia bisa memenuhi indikator keberhasilan SDGs pada tahun 2030. (SAP).




 


  Bagikan artikel ini

Semangat ‘Melek’ Politik Warga GKJ Panggang

pada hari Minggu, 31 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
Suasana akrab dan hangat begitu terasa ketika team Stube-HEMAT Yogyakarta berjumpa dengan Majelis dan jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Panggang di Watu Payung, Gunungkidul (Sabtu, 30/3/2019) dalam kegiatan dengan tajuk ‘Belajar Bersama tentang Politik’ sebagai bekal menyambut pesta demokrasi Indonesia yaitu Pemilihan Umum. Pesertanya adalah majelis gereja, komisi warga dewasa, komisi pemuda dan remaja, sesepuh gereja dan komisi kesaksian pelayanan. 


Dalam sambutannya, Prambudi Yakobus S, S.Pd, ketua majelis gereja, menyampaikan rasa syukur karena jaringan kerjasama gereja dan Stube-HEMAT Yogyakarta terus ada sampai sekarang dan menjadi modal berharga pertumbuhan gereja di masa mendatang. Selanjutnya Elizabeth Uru Ndaya, S.Pd memperkenalkan Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristen di Yogyakarta dan menjadikan mereka sebagai saluran berkat untuk gereja-gereja sesuai keahlian yang dimiliki. Acara pembinaan warga gereja saat ini adalah wujud membagi berkat pengetahuan bagi banyak orang.
 
Selanjutnya Trustha Rembaka, S.Th., mengungkap sejarah interaksi gereja dan kekuasaan politik, dimulai dari masa Yesus dan murid-muridNya yangberada di luar kekuasaan politik bahkan dianggap sebagai pemberontak. Dalam perkembangannya pengikut Kristus bertambah dan mereka memiliki cara hidup baik, jujur dan peduli, bahkan banyak berperan di masyarakat. Namun penguasa Romawi menganggap hal ini sebagai ancaman dan mulai menghambat dan menganiaya orang Kristen. Meskipun demikian  kekristenan terus berkembang, bahkan kemudian pada akhirnya diakui menjadi agama negara. Ketika kekristenan mulai bercampur dengan kekuasaan, maka mulailah sedikit demi sedikit kehilangan daya kritis, mengabaikan kemanusian, kemiskinan dan ketidakadilan, karena sudah berada di zona nyaman. Reformasi gereja tahun 1517 menjadi puncak kemuakan atas sikap manipulatif gereja dan para pemukanya yang membawa gereja kembali pada hakikatnya menyuarakan suara-suara kenabian dengan memperjuangkan kemanusiaan, pengentasan kemiskian dan melawan ketidakadilan.

Satu ‘game’ menarik, yang dinamaiMaju Mandegdihadirkan, dimana pesertamemerankan tokoh-tokoh tertentu. Narator menyampaikan penyataan-pernyataan dan peserta menentukan apakah melangkah ‘Maju’ atau ‘Mandeg’ (diam di tempat). Saat peserta  merasa mampu mereka akan ‘maju’ atau ‘mandeg’ saat merasa tidak mampu dan terungkap bahwa peserta yang ‘mandeg’ karena miskin, pendidikan rendah dan tidak percaya diri. Ini menyadarkan peserta bahwa merekabisa maju dalam keterbatasan yang dimiliki apabila ada keputusan-keputusan politik yang berpihak. Permainan ini menggugah kesadaran dan semangatpeserta untuk ikut PEMILU dengan memilih pemimpin yang mampu menghadirkan kesejahteraan.

Sarloce Apang, S.T., mengajak Warga Gereja Bergerak untuk Bangsa, warga gereja tidak hanya memikirkan gereja, tetapi juga kepentingan bangsa. Ia mengingatkan jangan sampai buta politik, yaitu ketidakmauan untuk melihat, mendengar, berbicara dan berpartisipasi dalam peristiwa politik. Perlu sadar bahwa berbagai kebijakan bangsa merupakan hasil keputusan politik, jadi sikap apatis dan tidak peduli terhadap dunia politik akan menghambat bangsa ini untuk maju. Sesi terakhir oleh Marianus YL Lejap memaparkan tentang Aku dan Pemilu sebagai bekal warga gereja mengenal partai-partai yang berlaga di Pemilu, Penyelenggara Pemilu dan mengamati calon presiden, calon anggota DPD, calon legislatif untuk DPR RI, DPR tingkat propinsi dan DPRD tingkat Kabupaten Gunung Kidul.
 
“Beberapa waktu lalu remaja dan pemuda mengungkapkan kesan positif ketika belajar bersama dengan tim dan mahasiswa Stube-HEMAT. Jadi, ketika ada peluang belajar bersama lagi dengan Stube-HEMAT, kami menerimanya. Intinya kami haus akan pengetahuan dan belajar hal baru”, ungkap Pdt. Subagyo, pendeta gereja setempat di akhir acara.

Gereja yang memiliki jejaring kuat, semangatmempelajari hal-hal baru, mau membuka mata, dan melek politik adalah gereja yang bertumbuh dan menjadi modal bagus untuk berkembang karena kegiatan ini membantu warga gereja jernih dan cerdas dalam menentukan pemimpin yang mampu menghadirkan kesejahteraan di masyarakat Selamat memilih yang terbaik. (TRU).

 

 


  Bagikan artikel ini

SDG’s dan Peran Anak Muda Bangsa

pada hari Selasa, 26 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
Agenda 2030 untuk (TPB) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG’s (Sustainable Development Goals) ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia yang berisi 17 tujuan dan 169 target yang merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan. Di antaranya mengurangi kemiskinan; mengurangi kelaparan; kehidupan sehat dan sejahtera; kesetaraan gender; air bersih dan sanitasi layak; energi bersih dan terjangkau; pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; industri, inovasi, dan infrastruktur; berkurangnya kesenjangan; kota dan pemukiman yang berkelanjutan; konsumsi, dan produksi yang bertanggung jawab; penanganan perubahan iklim; ekosistem lautan; ekosistem daratan; perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh; dan kemitraan untuk mencapai tujuan. 

TPB atau SDG’s berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa terkecuali memiliki kewajiban moral untuk mencapai tujuan dan target SDG’s. Setiap negara wajib melakukan tinjauan tentang SDG’s atau capaian-capaian untuk menyusun dokumen agar dilaporkan kelevel Global. Oleh karena itu, melihat bahwa anak muda memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan, di bawah kerjasama BAPPENAS, Yayasan Save The Children Indonesia bersama jaringan Gusdurian mengadakan konsultasi anak muda pada tanggal 23 dan 24 Maret 2019 di Hotel Ibis Yogyakarta dengan dihadiri 30 peserta anak muda dari berbagai organisasi, kampus dan daerah.
 
Ratna Yunita, penasehat yayasan Save the Chidlren meminta peserta membuat river of life dengan menuliskan dan menggambarkan permasalahan atau bentuk ketidakadilan yang mereka temukan dari masa kecil hingga saat ini. Setelah itu, ia menjelaskan apa manfaat dan tujuan SDG’s bagi anak muda/masyarakat dan apa peran anak muda saat ini. Ratna juga menjelaskan kondisi pencapaiantantangan pelaksanaan SDG’s dan menegaskan bahwa pemerintah sudah membuat tim koordinasi sampai tingkat daerah.

Didampingi oleh Ryan, Konsultan Independen Kepemudaan, peserta membentuk kelompok besar dan mengidentifikasi isu secara lebih mendalam di setiap capaian yang ditinjau berdasarkan river of life dan mempresentasikannya. Ada 6 capaian yang ditinjau untuk tahun ini yaitu pendidikan berkualitas, perubahan iklim, perdamaian dan keadilan, kesenjangan sosial, kemitraan untuk mencapai tujuan dan kesetaraan gender. Peserta juga merumuskan akuntabilitas dan pendanaan SDG’s, berdiskusi menentukan prioritas dan modalitas, dan menulis rekomendasi dari tiap-tiap capaian yang merupakan isu besar untuk disampaikan ke BAPENAS. Di sesi terakhir peserta diminta berunding memilih 2 orang muda yang terdiri dari laki-laki dan perempuan untuk diutus ke BAPPENAS Jakarta untuk menyampaikan aspirasi anak muda Yogayakarta.
 
Di akhir pelatihan yang berlangsung dua hari tersebut, terpilih Ferdi dari Jaringan Gusdurian dan Sarloce Apang dari Organisasi Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mewakili menyampaikan ide dan masukan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta medio April 2019. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

Memahami Politik Versi Milennial Follow Up PMKRI dan Mercu Buana

pada hari Senin, 25 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
Kesadaran maupun partisipasi generasi milenial agar melek politik harusterus dikampanyekan. Momentum kali ini dimanfaatkan oleh kelompok follow up bernama “Milenial produktif” yang beranggotakan  Rusli, Riki, Marina, dan Grace untuk mengkampanyekan bagaimana milenial yang melek politik. Berbekal pengetahuan yang diperoleh saat pelatihan Gereja dan Politikmereka menyebarluaskan pengetahuan dan hal baru yang didapat kepada teman-teman mahasiswa lainya. Bertempat di Nemo kafe Nologaten (23/03/2019) mulai dari pukul 20.45 WIB, 10 orang mahasiswa asal NTT ikut ambil bagian dalam diskusi kecil ini.

Mariano Lejap Tim Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai pendamping kelompok, menjelaskan maksud dan latar belakang kegiatan diskusi ini.Lebih lanjut, Lejap memperkenalkan Lembaga Stube-HEMAT, sebuah lembaga pemberdayaan mahasiswa dengan mengadakan pembekalan melalui program-program pelatihan. Berbagai tema diangkat Stube agar memperkaya pengalaman dan wawasan mahasiswa.

Dalam diskusi ini ada 2 topik besar yaitu milenial dan partisipasi dalam politik, serta hubungan gereja dan situasi politik daerah. Marina,mahasiswa komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta memandu diskusi dan semua peserta terlibat aktif berbagi pengalaman tentang anak muda di ruang publik daerah masing-masing, serta pengalaman melihat hubungan gereja dan politik. Riki  mengawali dengan pemahaman milenial dan partisipasinya dalam politik saat ini. Masihkah relevan dengan anak muda yang dimaksud Soekarno waktu dulu? Milenial sekarang cendrung lebih instan untuk melakukan berbagai hal, contoh ketika mereka ingin terlibat dalam ruang publik,mereka memakai aplikasi online seperti kitabisa.com untuk menggalang dana bagi korban bencana atau membangun sebuah sekolah. Mereka meninggalkan pola lama yang berciri procedural rumit”, ungkap Mariano.

Dalam sesi gereja dan politik, Rusli, mahasiswa pertanian UST, selaku pemantik mengutarakan jika ada kebijakan daerah dan masyarakat menolak karena tidak pro rakyat,apakah gereja terlibat? Apakah gereja perlu terlibat politik?
 
Grace, peserta asal Atambua NTT,bercerita bahwa di daerahnya pernah ada pastor yang berkotbah menyarankan jemaat memilih pemimpin yang terlibat aktif di gereja dan jangan pilih yang tidak aktif. Menilai pemimpin tidak hanya dari keaktifan di gereja tetapi juga dari rekam jejak pengalaman dan prestasi. Tokoh agama harusnya tidak terlibat dalam politik praktisYoldi,mahasiswa manajemen Sanata Dharma berpendapat berbeda, gereja harus terlibat politik hanya saja pada batasan tertentu, karena menurutnya Paus saja memimpin gereja dan juga mengurusi administrasi di Vatikan. “Jika gereja ingin terlibat dalam politik praktis, lebih baik melalui kita-kita sebagai umat. Kita juga sebagai generasi yang harus terlibat di gereja agar terlibat dalam penentuan kebijakan di gereja”, lanjutnya.
 
Sebagai penutup, para peserta diskusi berkesimpulan bahwa generasi millennial harus peduli politik dengan berpartisipasi sesuai potensi millenialnya yang identik dengan teknologi informasi. [ML]

 

 

  Bagikan artikel ini

Melek Politik dan  Berpartisipasi di Gereja Diskusi Mahasiswa Sumba Tentang Gereja dan Politik

pada hari Sabtu, 16 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
 
Menindaklanjuti Pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta tentang Gereja dan Politik yang bertemakan Muda, Milenial, Melek Politik yang diadakan Februari lalu, menggugah hati para peserta untuk membagikan pengalaman yang sudah mereka dapatkan. Kelompok ‘follow-up’ dari Sumba berinisiatif mengadakan diskusi kecil membahas situasi politik saat ini dan peran gereja terhadap politik di Sumba dengan mengundang beberapa mahasiswa sejumlah lima belas orang  di kafe Kebun Laras, Balirejo (14/03/2019).
 
Daniel Hamba Banju, seorang mahasiswa STPMD, bertugas sebagai pemantik memulai diskusi dengan mengajak teman-teman muda berpikir  apa pemahaman mereka tentang politik. Ada yang mengatakan politik itu kotor, ada juga yang mengatakan politik adalah cara untuk memikat orang agar mengikuti apa yang ingin dicapai. Anton, mahasiswa Pertanian UST,mengatakan bahwa memang sebenarnya politik itu kotor, tetapi jika semua beranggapan kotor, siapa yang akan merubah politik itu menjadi bersih, makanya anak muda tidak boleh buta politik. Sarloce Apang yang juga hadir mendampingi teman-taman saat itu memberi pemahaman tentang perbedaan politik praktis dan teoritis.
 
Setelah saling memberi pemahaman tentang politik,kelompok ini kemudian membahas sejauhmana gereja di Sumba berkontribusi pada dunia politik. Tania Taka, Mahasiswa UGM yang kebetulan orang tuanya pendeta bercerita bahwa berdasarkan pengetahuannya, tahun ke tahun gereja di Sumba terus memberi pemahaman tentang politik yang baik dan tetap bersifat netral. Ia juga bercerita Bapaknya seorang pendeta dan pernah menjabat sebagai anggota DPR, programnya pun banyak yang berhasil dilakukan.
 
Namun demikan ada beberapa peserta tidak setuju jika Pelayan Firman terjun ke dunia politik. Seperti Alan Mehakati, mahasiswa Kehutanan UGM mengatakan bahwa sebenarnya Pendeta adalah orang yang paling dipercaya di masyarakat, tetapi ketika pendeta tersebut terjun ke dunia politik maka akan mempengaruhi kenyamanan jemaat yang dilayani. Dari percakapan tersebut, Tania Taka juga menjelaskan bahwa ada aturan dari Sinode Sumba bagi Pendeta yang terlibat dengan politik di wajibkan mundur dari jabatannya sebagai pelayan di jemaat dan tidak diperbolehkan naik mimbar berkhotbah. Berkaitan dengan peran anak muda untuk gereja, peserta diskusi beranggapan bahwa masih jarang anak muda terlibat langsung dengan kehidupan gereja. Mereka juga mengungkapkan situasi gereja di Sumba, seperti ada gereja yang menggunakan uang persembahan untuk membuka usaha namun hasilnya nihil. Bagi mereka, situasi ini sangat memprihatinkan, uang persembahan tidak boleh digunakan untuk hal-hal lain di luar gereja karena itu adalah persembahan dari jemaat semata-mata hanya untuk Tuhan.
 
Dari hasil diskusi tersebut, disimpulkan bahwa anak muda tidak boleh apatis terhadap situasi politik saat ini, apalagi dalam menyambut pesta demokrasi diharapkan mereka memiliki pemahaman tentang setiap calon pemimpin yang akan dipilih agar tidak salah pilih. Mereka juga berpendapat jika ingin ada perubahan dalam kehidupan gereja, penting bagi anak muda ambil bagian, setidaknya aktif dalam komisi pemuda gereja atau menjadi majelis jemaat agar terlibat langsung dalam pengambilan keputusan di gereja. Mari berpartisipasi dan terlibat untuk kemajuan, apa pun komunitas kita. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

 Melek Politik  Berbasis Literasi Informasi

pada hari Kamis, 14 Maret 2019
oleh adminstube
Media menjadi sangat penting di era globalisasi ini,khususnya bagi kaum muda milenial yang melek politik. Sebab, media sangat membantu dan mempermudah orang mengakses informasi berita dengan cepat. Namun ada yang perlu diwaspadai saat media itu diakses, karena sering ditemukan munculnya berita-berita palsu atau sering disebut hoaks. Bersamaan dengan adanya pesta demokrasi di tahun ini, maka semua pihak perlu mengantisipasi berita-berita yang salah (dis-informasi) dan berita yang tidak utuh (mis-informasi) yang bisa berdampak memecah belah, membawa kebingungan atau malah membangun kebencian.
 
Dalam kegiatan follow-up kelompok mahasiswa yang menamakan diri GSP (Gerakan Sumatera Purworejo),bertempat di gedung pasca sarjana STAK Marturia Yogyakarta (12/03/2019), ada empat topik diskusi yang disampaikan berkaitan dengan pendidikan politik berbasis literasi informasi. Literasi informasi itu sendiri adalah kemampuan untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan, diidentifikasi, serta dievaluasi secara efektif. Selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk memahami isu atau pun masalah yang sedang dihadapi.
 
Sebanyak 22 orang mahasiswa dan mahasiswi STAK Marturia menghadiri diskusi tersebut  dengan 4 orang narasumber yaitu: Christian Apri Wijaya (Wasek DPD GAMKI DIY) dengan topik diskusi “Pemahaman Politik”;Sari Dwi Kristianto (mahasiswa Teologi STAK Marturia Yogyakarta) dengan topik ”Gereja dan Politik”Erik Sihombing (Sekfung pendidikan Kader GMKI Yogyakarta) dengan topik “Sosialisasi Pemilu”; dan Astiwijaya Setiandari S. (Mahasiswa PAK STAK Marturia) dengan topik “Antisipasi Hoax di Tahun Politik”.Sebelumnya, keempat pemateri telah mengikuti pelatihan Gereja dan Politik dengan tema: Muda, Milenial, Melek politik yang dilaksanakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta (15-17/02/2019). Diskusi berjalan dengan baik, peserta antusias mengikuti setiap sesi dan aktif dalam sesi tanya jawab.
 
Partisipasi anak bangsa dalam pemilihan umum 17 April 2019 ini, salah satunya bisa diwujudkan dengan memberikan suara bagi calon-calon pemimpin Indonesia. Sebagai penutup diskusi tersebut kelompok GSP kembali menekankan, “Satu suara sangat menentukan bangsa Indonesia agar lebih maju ke depannya, dan jangan lupa cek kebenaran informasi dari media yang diperoleh agar tidak menerima berita bohong atau hoax”. Selamat menikmati pesta demokrasi Indonesia. (FAT)

  Bagikan artikel ini

Bergereja  Vs  Berwisata

pada hari Senin, 11 Maret 2019
oleh adminyogya
 
 
 
Bergereja versus berwisata menjadi tantangan tersendiri baik bagi umat maupun para pemimpin umat. Terlebih bagi jemaat di tempat-tempat yang dipakai sebagai destinasi wisata. Hal ini menjadi pergumulan panjang dan berkelanjutan di beberapa desa di Kabupaten Raja Ampat. Salah satunya adalah Distrik Kepulauan Sembilan, Jemaat GKI Effata Wejim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.
 
Setiap hari minggu anak muda tidak antusias ke gereja, bahkan bunyi lonceng gereja terdengar tidak merdu lagi bahkan tidak dirindukan. Anak muda lebih memilih menemani turis yang akan menginap di resort dan membutuhkan jasanya. Tempat ibadah banyak yang kosong dan tidak terjadi pertumbuhan rohani karena setiap hari Minggu semua orang sibuk untuk menyambut tamu yang akan berwisata. Lalu apa yang akan terjadi dengan nasib jemaat, pemuda dan bahkan masa depan gereja tersebut?” Viktor, salah satu mahasiswa di Yogyakarta yang berasal dari Distrik Kepulauan Sembilan mengungkapkan kegundahannya.
 
Kabupaten Raja Ampat merupakan resort yang memiliki pesona bawah laut yang luar biasa dan selalu ramai dikunjungi turis lokal maupun manca negara. Pesona laut dengan gugusan pulaunya sungguh menakjubkan. Ada gugusan karst yang membentang juga laguna laut berbentuk bintang. Sungguh pemandangan alam yang indah layaknya di surga.
 
Diskusi gereja dan politik yang dilakukan beberapa mahasiswa(9/3/2019)mengambil bacaan yang berjudul “Jika Semak Duri Menjadi Raja” yang diambil dari Hakim-hakim 9:8-15, berjalan sangat hidup karena semua peserta berbagi pengalaman bergereja dari daerah asal. Anis Bame, mahasiswa Universitas Janabadra asal Maybrat, Papua memimpin diskusi dengan hangat. Ada begitu banyak masalah yang terjadi didalam kehidupan bergereja. Selain masalah pemuda yang tidak tertarik lagi untuk beribadah, juga kasus yang sering terjadi adalah pastor dan pendeta terjun kedalam dunia politikpraktis, sehingga terjadi tumpang tindih kepentingan. Menjadi perdebatan sengit ketika seorang pendeta atau pastor tetap melayani jemaat sebagai seorang pendeta dan pastor sementaramenjabat sebagai anggota legislatif. Hal ini membuat jemaat merasa tidak nyaman”, tutur Giovani, Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiwa Raja Ampat. “Sampai saat ini belum ada kejelasan di GKI di Tanah Papua,apakah seorang pendeta atau pastor bisa menjabat di legislatif dan tetap melayani jemaat ataukah harus memilih untuk melepaskan salah satu”, tanyanya. Sarloce tim kerja Stube HEMAT dan Kifli Senen, mahasiswa dari Halmahera menginformasikan kalau di GMIH sudah ada peraturan bahwa pendeta yangmencalonkan diri menjadi anggota legislatif harus meletakkan jabatan rohaninya. Kita semua punya kemampuan bekerja sama untuk bisa mewujudkan keharmonisan dalam bergereja dan berpolitik dengan memisahkan institusi Gereja dan politiktetapi dalam prakteknya gereja tetap harus menyuarakan suara kenabian yang berkaitan dengan ketidakadilan atau kemiskinan yang semua itu berkaitan dengan ranah politik”, tutur Sarloce.
 
Dalam kasus bergereja vs berwisata inisangat berkaitandengan kekurangan lapangan pekerjaanyang memicu banyak pemuda lebih memilih kerja di hari Minggu dan tidak ke gereja. Bisa jadi karena pendeta dan pastor sudah tidak lagiberkhotbah tentang kesejahteraan, kemiskinan, dan persoalan sosial budaya dan ekonomi, karena mereka sudah masuk kedalam sistem kekuasaan.
 
Menjadi pergumulan bersama untuk melawan kemapanan yang tidak mendengarkan pergumulan ketidakadilan dan kemiskinan masyarakat. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

Anak Muda Kritis dalam Menentukan Pilihan

pada hari Rabu, 6 Maret 2019
oleh adminstube
 
 

Lanjutan dari Pelatihan Muda, Milenial, Melek Politik yang diselenggarakan Stube-HEMAT Yogyakarta, menggelitik peserta membagikan apa yang sudah didapat dari pelatihan tersebut secara mandiri ataupun berkelompok. Beberapa peserta yang menamakan diri kelompok PAPEDA (Papua Penuh Damai) yang beranggotakan Hanis, Ram, Yansen, Yubelina, Roni, dan Frengki melaksanakan follow-up di Universitas Janabadra pada hari Sabtu, 2 Maret 2019.

Ram Hara  mahasiswi Janabadra asal Maybrat, Papua Barat yang juga aktif sebagai Menteri Sosial BEM Universitas Janabadra menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Sosial BEM Universitas Janabadra dan kelompok follow-up PAPEDA. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah berbagi pemahaman positif dan pengetahuan kepada mahasiswa tentang politik yang diperoleh saat mengikuti pelatihan Stube-HEMAT. Muatan acara menjadi lebih lengkap dengan diskusi refleksi perpolitikan Indonesia yang dibawakan oleh Frans A. Djalong, MA dosen dari Departemen Sosiologi Fisipol UGM. 


Bertempat di ruang 1.21 Fakultas teknik Universitas Janabadra, acara dimulai pukul 10.00-13.15 WIB. Dua puluh dua mahasiswa dari berbagai kampus seperti UGM, Janabadra, dan APMD terlihat antusias mengikuti sesi. Mariano Lejap perwakilan Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali acara dengan presentasi pengenalan lembagadilanjutkan dengan sharing pengalaman dan wawasan dari kelompok PAPEDA yang diwakili oleh Yube, Roni dan Yansen.


Dalam pemaparannya,Frans Djalong merefleksikan situasi perpolitikan tanah air, mulai dari awal Soekarno dan tokoh nasional lainnya dalam membaca situasi Geopolitik dan memanfaatkannya untuk kemerdekaan Indonesia. Buku‘Di Bawah Bendera Revolusi’ menjadi salah satu referensi untuk dibaca mahasiswa agar lebih memahami sejarah. Lebih lanjut, salah satu poin tentang teori politik menurut beliau adalah tidak ada teori dan praktek, teori ialah praktek itu sendiri. Contoh seorang petani yang berkebun, masa tidak ada teorinya? Teori itu ialah seperangkat pemikiran yang membuat seseorang bertindak secara teratur dan sistematis dari waktu ke waktu. Tugas mahasiswa adalah mengecek teori apa dibalik suatu praktek atau tindakan. Sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kritis dalam menentukan pilihan politik. Dalam situasi politik saat ini Frans Djalong berpesan,Kita sebagai mahasiswa perlu kritis, bukan mendewakan Jokowi atau Prabowo sebagai personal,tetapi apa yang ada di balik itu? Siapa dibalik Jokowi? Siapa di balik Prabowo? Apa konsep yang mereka tawarkan untuk membangun Indonesia dari Aceh sampai Papua.
 
Di akhir sesi,Robinson, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta mengajak semua peserta mahasiswa khususnya mahasiswa rantau untuk mengecek nama dilindungihakpilihmu.com dan mengingatkan peserta untuk tidak Golput saat pesta demokrasi, 17 April 2019 mendatang, dengan cara mengurus Formulir A5 atau keterangan pindah pemilih. Selamat menyongsong pesta demokrasi. (ML).
 

  Bagikan artikel ini

Aku Mendengar, Melihat dan Melakukan Sharing komunitas mahasiswa Aru tentang Gereja dan Politik

pada hari Senin, 4 Maret 2019
oleh adminstube
 
 
 
 
‘Aku mendengar maka aku lupa, aku melihat maka aku ingat, aku melakukan maka aku paham’ ini adalah pepatah kuno dari Konfusius. Pepatah ini menjadi pendorong yang kuat bagi seseorang ketika belajar tidak cukup hanya mendengar tetapi perlu mengamati dan mempraktekkan apa yang dipelajari. Ketika seseorang mengalami sendiri sebuah proses pembelajaran maka ia akan mengerti.
 
 
Hal sama terjadi ketika dalam pelatihan Gereja dan Politikyang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada 15-17 Februari 2019 dengan tema ‘Muda Milenial Melek Politik’, para peserta mendapatkan pencerahan dan pemahaman baru tentang sejarah gereja dan dinamika politik, bagaimana seharusnya anak muda Kristen bersikap dalam politik masa kini. Dalam pelatihan para peserta didorong tidak hanya menjadi pendengar tetapi membagikan pengalaman yang mereka peroleh kepada orang lain, baik itu pribadi maupun kelompok.
 

 

 
Salah satu kelompok adalah mahasiswa dari kepulauan Aru, yang mengadakan ‘sharing’ dengan pemuda pemudi Gereja Sahabat Indonesia (GSI) di Condongcatur pada hari Jumat, 1 Maret 2019. Dalam sharing ini Natasya Derman, mahasiwa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UST memulai sharing dengan menyampaikan pengalamannya mengikuti kegiatan di Stube-HEMAT Yogyakarta, seperti pelatihan, diskusi dan eksposur lokal. Selanjutnya ia mengajak peserta menulis persepsi mereka tentang dunia politik. Ada berbagai pendapat, seperti kekuasaan, korupsi, tidak tahu dan kotor. Ini sama seperti yang ia alami sebelumnya yang tidak tahu bahkan apatis terhadap politik, namun dalam pelatihan ia menemukan pencerahan, ternyata esensi politik tidak buruk, kotor dan nafsu kekuasaan, tetapi tindakan untuk menghadirkan kesejahteraan bersama. ‘Image’ negatif politik disebabkan oknum-oknum yang memiliki kekuasaan politik melakukan korupsi, kolusi dan penyalahgunaan wewenang. Karena itu kita terpanggil untuk memperbaiki keadaan itu, salah satunya ikut dalam pemilihan umum untuk menentukan pemimpin bangsa ini.
 

 

Berkaitan dengan gereja dan dunia politik, Lenora Nada, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Imanuel membagikan topik tentang perjumpaan gereja dengan dunia politik. Gereja mula-mula terpisah dengan kekuasaan politik, bahkan dianggap sebagai ancaman. Tetapi sekalipun gereja mula-mula dihambat dan dianiaya, anggotanya semakin berperan di tengah masyarakat saat itu karena mereka dinilai sebagai orang-orang yang baik, memiliki spiritualitas kuat dan bisa dipercaya. Mau tidak mau penguasa saat itu mengakomodir mereka berkiprah di masyarakat. Perkembangan kekristenan semakin meluas. Puncaknya ketika kekristenan menjadi agama negara pada era Konstantinus. Orang-orang masuk Kristen karena mereka ingin mendapat hak sebagai warga Romawi. Gereja dan kekuasaan politis menjadi satu dan memicu penyalahgunaan kekuasaan baik itu pemimpin gereja dan pemimpin politik. Gereja tidak lagi menyuarakan pembelaan terhadap ketidakadilan, kemiskinan dan penindasan, tetapi justrumelanggengkan kekuasaan. Akhirnya reformasi gereja terjadi dan gereja menempatkan diri berada di luar kekuasaan politik, namun ini juga berdampak pada anggota gereja yang seperti takut untuk berbicara berkaitan politik.
 
 
Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta yang mendampingi kelompok ini, mengingatkan peserta sebagai warga negara untuk ikut ambil bagian di pemilihan umum dengan ikut pemungutan suara. Ia juga membantu peserta untuk mengecek apakah namanya sudah terdaftar sebagai pemilih. Di akhir sesi, Tasya kembali mengungkapkan bahwa kita sebagai anak muda merenungkan kembali nilai-nilai kekristenan dan mendukung pemerintah untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. (Natasya Derman).

 


  Bagikan artikel ini

Cerdas Memerangi Hoax Imajinasi Agama Dan Media Dalam Politik (mengikuti dikusi di UKDW 23/02/2019)

pada hari Selasa, 26 Februari 2019
oleh adminstube
 
 
 
Berimajinasi berarti kita sedang membayangkan hal yang menyenangkan di masa depan. Imajinasi juga berarti kita memiliki sebuah harapan di masa depan yang lebih baik dari saat ini. Tetapi bagaimana dengan imajinasi liar yang mengarah kepada perpecahan dan melahirkan konflik  baru.
 
Imajinasi seperti ini sangat banyak kita temukan dizaman ini dan semakin tidak terarah”, kata Dr. Zuly QodirDosen Sosiologi Politik UMY yang menjadi fasilitator membuka diskusi. Beliau mengupas beberapa imajinasi yang terjadi saat ini dalam kehidupan masyarakat kita seperti adanya imajinasi agama dalam media seperti Islam sebagai agama, dalam media barat dipotret sebagai “agama yang negatif”. (Ahmed and Matthes 2017; Knott et al. 2013),sedangkan Yahudi dan Kristen diimajinasikan sebagai “musuh” utama Islam (Karim dan Eid, 2018).Selanjutnya ada imajinasi-imajinasi yang lain seperti imajinasi politik dalam media, imajinasi politik keagamaan, imajinasi “yang lain” tentang politik dan sebagainya. Semua imajinasi itu mengarahkan dan membuat masyarakat memilih salah satu, mau berpikir untuk kehidupan berbangsa dan bernegara atau harus berpikir untuk kehidupan kesejahteraan kelompok masing-masing. Masyakarat kita digiring menjadi individu yang hanya memingkirkan tentang diri dan kelompoknya. Hal ini yang menyebabkan masyakarat kita tidak manusiawi, bermunculanlah banyak perilaku kekerasan, berkurangnya response sosial, kebangkitan kelompok etnik, perlawan dan berbagai permasalahan yang timbul dari akar rumput untuk mendapatkan keadilan”,tutup Dr. Zuly.
 
Permasalahan yang muncul semakin meluas dan berkembang seketikasaat di goreng dengan isu hoax. Dengan berbagai keterbatasan dan kurangnya pengetahuan masyarakat kita tentang menggunakan media sosial membuat kita menjadi sasaran empuk dari bertebarannya berita hoax di media sosial sambung”,Valentine Wiji, Kepala Sekretariat Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia atau MAFINDO. MAFINDO sendiri adalah kelompok relawan yang tergerak hati untuk melakukan pengumpulan data dan informasi yang terdapat di berbagai media masa, media sosial atau biasa disebut literasi digital. Fokus dari kelompok ini adalah melawan kurang informasi dan salah informasi.
 
MAFINDO berdiri pada 19 November 2016 dengan semangat memerangi hoax dengan merangkul berbagai lapisan elemen masyarakat, untuk terus berbagi informasi. Mafindo juga bergabung dalam cekfakta.com dan bekerjasama dengan lebih dari 20 media daringkredibel seperti kompas.com, tirto.id, detik.com, antara dan beberapa lainnya serta didukung oleh Google, AMSI, & First Draft. Selain itu MAFINDO memiliki satu akun group Facebook yang bisa menjadi saluran informasi bagi semua orang Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax atau disingkat menjadi FAHHH yang sudah memiliki 61.995 orang anggota sampai hari ini dan Instagram @turnbackhoaxid dengan 3.659pengikut.
 
Valentine Wiji mengajak semua peserta untuk ikut bergabung dengan group FB tersebut agar bisa saling berbagi berita dan memberi informasi yang benar kepada keluarga dan sanak saudara. Sebab media masa saat ini memiliki peran penting dalam menyebar luaskan informasi. Pastikan keluarga kita terbebas dari isu hoax. Menurut global web index, per-Januari 2019 platfoms Youtube memiliki 88%, Whatsapp 83%, Facebook 81% dan Instagram 80% yang aktif dan sering diakses oleh masyarakat Indonesia.
 
Jika masyarakat sudah bijak dalam menggunakan media sosial maka diharapkan dapat mengurangi korban kekerasan atas nama agama, suku, dan ras. Terlebih dalam situasi tahun pemilu saat ini, masyarakat diharapkan ikut terlibat aktif memerangi isu hoax yang bertebaran di media sosial. Mari budayakan membaca agar kita bisa lebih cerdas dan bijak bermedia sosial. (SAP)
 
 

  Bagikan artikel ini

Muda, Milenial Dan Melek Politik

pada hari Selasa, 19 Februari 2019
oleh adminstube
 
 
 
Tiga puluh sembilan mahasiswa dari berbagai daerah dan berbagai kampus yang sedang kuliah di Yogyakarta berpartisipasi dalam pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta yang diadakan di Wisma Pojok Indah, Condongcatur pada hari Jumat-Minggu, 15-17 Februari 2019. Mereka tertarik dan ingin tahu pelatihan dengan topik Muda, Milenial dan Melek Politik yangmerupakan bagian dari program Spiritualitas: Gereja dan Politik. Mereka bukanlah anak muda yang melek politik, malah bisa dikatakan tidak tahu dan bahkan buta politik.

“Ini adalah topik hangat sebelum 17 April 2019. Publik sudah gegap gempita menyambut suasana hangat dan panas bernuansa politik, terlebih kemajuanteknologi informasi memudahkan public menerima berita benar maupun hoax dengan cepat. Ironisnya tidak banyak anak muda kaum milenial tertarik politik mungkin lebih banyak yang apatis dan apriori. Melek politik penting karena mau tidak mauranah privat maupun publik masyarakat dipengaruhi oleh keputusan politik. Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia yang sedang kuliah di Yogyakarta melihat pentingnya pemahaman politik yang benar dikalangan mahasiswa karena mereka akan menjadi agent of change,” papar Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT.


Sebagai bekal mendalami politik, peserta menelaah dinamika hubungan gereja (kekristenan) dan politik bersama Pdt. Paulus Sugeng Wijaya, MAPS., Ph.D dari Universitas Kristen Duta Wacana. Awalnya gereja memang terpisah dari politik pemerintahan, gereja bersebarangan dan bahkan ditekan. Meskipun demikian gereja terus berkembang dan memegang posisi strategis di masyarakat. Galerius, kaisar masa itu akhirnya mengakomodir gereja dalam kehidupan masyarakat. Bahkan Kaisar Konstantinus menetapkan agama Kristen menjadi agama negara. Sejak itu gereja berbaur dengan berbagai kepentingan politik dan kekuasaan sehingga gereja mulai lupa memperjuangkan pembebasan, ketidakadilan dan pengentasan kemiskinan.

Dalam diskusi bersama William E. Apipidely, M.A, Direktur EksekutifYayasan Satunama,terungkap asumsi peserta mengenai politik. Sebagian menganggap politik sebagai seni, mempengaruhi dan kekuasaan, tetapi sebagian lain menganggap politik itu kotor, penuh korupsi dan bahkan apatis terhadap politik. ‘Image’ buruk politik terjadi karena banyak pemberitaan negatif tentang politik dan telah terjadi pembelokan sejarah politik di Inodonesia. Jadi, peserta perlu paham arti politik yang sebenarnya. Aristoteles mengungkapkan bahwa politik adalah cerdas dan berintergritas, politik adalah upaya mendistribusikan keadilan dan menghadirkan keadilan. Tindakan politik adalah tindakan menghadirkan keadilan. Ini menjadi satu pencerahan bagi peserta.

Beberapa praktisi politik dan calon legislatif membagikan pengalaman berpolitik mereka. Mereka adalah Chang Wendryanto, calon anggota DPD DIY, Budi Oetomo dari tim kampanye PKB, San Akuan, calon anggota DPRD Kabupaten Sleman dari Partai Solidaritas Indonesia dan M Fuad, calon anggota DPR RI dari partai Demokrat. Peserta belajar tentang realita dunia politik karena dialog ini menyingkap keteguhan, intrik, lobi dan strategi dalam berpolitik.


Ahmad Shidqi, komisioner KPU DIY mendorong peserta untuk proaktif berpartisipasi dalam pemilu karena pemilih muda, usia 17-30 tahun berjumlah lebih dari 60 juta, jadi, pemilih muda memegang posisi strategis dalam menentukan arah bangsa ke depan.

Desi, mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma dari Kalimantan Utara mengatakan, “Acara menarik dan pemateri menambah wawasan saya. Saya menemukan hal baru tentang sejarah gereja, baptisan karena pengaruh politik dan makna politik itu sendiri. Awalnya saya berasumsi politik itu kotor, koruptif dan lain-lain, tetapi pelatihan ini mengubah mindset saya bahwa politik itu sebenarnya upaya bersama untuk mendapatkan keadilan dan kesejahteraan.”



Komitmen peserta untuk ikut ambil bagian dalam pemilu dan berbagi kepada orang lain mengenai pengalaman pelatihan membangkitkan optimisme tumbuhnya kesadaran politik yang cerdas, dewasauntuk menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi bangsa Indonesia. (TRU).
 




 
 

  Bagikan artikel ini

Mengenal dan Bersikap untuk Pemilu Eksposur ke Komisi Pemiluhan Umum DIY  

pada hari Kamis, 31 Januari 2019
oleh adminstube
 
 
Tiga puluhan lebih mahasiswa dari berbagai daerah dan kampus berkunjung ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DIY pada hari Senin, 28 Januari 2019. Mereka adalah peserta eksposur KPU, salah satu bagian kegiatan program Church and Politics Stube-HEMAT Yogyakarta. Kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran mahasiswa tentang hak dan kewajiban dalam Pemilu serta melindungi hak pilih mahasiwa luar daerah agar tetap bisa memberikan suaranya 17 April 2019mendatang. Kemudian mendorong mahasiswa mengenal lembaga penyelenggara pemilu, tugas, kewenangan, dan semua aktivitas penyelenggaraan Pemilu.
 
 
Pukul 13.00 WIB Ahmad Shidqi, salah satu anggota Komisioner KPU DIY, ketua divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM membuka diskusi dan memperkenalkan dua anggota yang hadir, yaitu Wawan Budiyanto, ketua divisi Perencanaan, Data dan Informasi, kemudian Moch. Zaenuri Ikhsan, ketua divisi Teknik Penyelenggaraan. Ia mengapresiasi inisatif Stube-HEMAT Yogyakarta untuk ambil bagian dalam menyambut Pemilu dengan menghadirkan mahasiswa di kantor KPU DIY untuk belajar hal-hal yang terkait dengan PEMILU. Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta memperkenalkan lembaga dan keberpihakan Stube kepada mahasiswa untuk memberi nilai tambah kepada mahasiswa berkaitan topik-topik tertentu, dan saat ini berkaitan dengan pemilu dan isu-isu politik.
 
Dalam diskusi, Wawan Budiyanto menjelaskan bagaimanacara mahasiswa luar daerah pindah memilih dengan mengurus form A5 di TPS tempat asalnya dan mendaftar di TPS terdekat. Ia juga mengundang peserta untuk mengecek apakah namanya terdaftar atau belum. Bahkan ia juga memaparkan rencana KPU mengunjungi kampus-kampus untuk sosialisasi tentang Pemilu. Teknik penghitungan suara dan cara memperebutkan kursi juga dijelaskan dalam sesi ini. Beberapa topik yang muncul antara lain tentang sikap KPU merespon ‘money politic’, mahasiswa yang bersikap apatis dengan politik dan memilih golput dan membahas isu mantan narapidana korupsi menjadi caleg.
 
Achmad Shalahudin, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga,asal dari Parepare, Sulawesi Selatan menanyakan standar yang digunakan KPU untuk menjaring 16 partai politik dari sekian banyak partai yang ada di Indonesia. “KPU menjaring partai politik berdasarkan UUD No 31 tahun 2002 tentang syarat partai, yaitu memiliki kepengurusan di tingkat provinsi, memiliki kepengurusan di tingkat kabupaten sejumlah 80% kabupaten di Indonesia dan menyertakan kartu anggota sejumlah seribu anggota”, jelas Wawan Budiyanto.
 
Di akhir sesi, Pak Ahmad Shidqi memberi ruang dialog jika ada hal yang ingin diketahui oleh peserta. Ia juga berharap Stube-HEMAT Yogyakarta bisa bekerjasama mensukseskan Pemilu 2019. Di akhir acara, Trustha Rembaka menyampaikan ucapanterimakasih karena KPU telah mewadahi mahasiswa untuk belajar tentang Pemilu. Selain itu ia juga menginformasikan pelatihan Muda, Milenial dan Melek Politik pada tanggal 15-17 Februari 2019. Biarlah pengalaman ini menjadi langkah awal yang baik untuk anak muda mengenal dan bersikap untuk Pemilu. (ELZ).

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook