Mengolah Kuliner Berbahan Labu Kuning

pada hari Minggu, 17 September 2023
oleh Kresensia R. Efrieno

        

 

Labu kuning dengan nama latin Cucurbita moschata merupakan tumbuhan berkayu dan banyak ditemui di wilayah Indonesia. Tanaman ini memiliki bunga berwarna kuning berbentuk lonceng dan buah berwarna hijau tua dan kuning coklat. Kandungan gizi 100 gram labu kuning adalah air 93,69 g air, energi 20 g kalori (Kal), protein 0,72 g, lemak 0,07 g, karbohidrat 4,9 g, serat 1,1 g, kalsium 15 miligram (mg), zat besi 0,57 mg, magnesium 9 mg, fosfor 30 mg dan kalium 230 mg. Umumnya labu kuning dikonsumsi sebagai campuran kolak, puding, kue dan sup dengan proses kukus rebus, tumis, panggang, sangrai dan bakar.

 

 Labu kuning menjadi salah satu jawaban atas tindakan Inisiasi Pangan Lokal: Mengolah Labu Kuning menjadi beragam produk di Sekret Stube HEMAT Yogyakarta (Sabtu, 16/09/2023). Pelatihan ini menghadirkan beberapa mahasiswa yang berlatar belakang daerah serta jurusan yang berbeda untuk memperkaya wawasan mereka tentang pangan lokal, mengenal labu kuning dan produk turunannya, sebagai ragam produk kuliner.

Trustha Rembaka, S.Th, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta menggali wawasan mahasiswa tentang pengolahan labu kuning di daerah masing-masing. Sebagian besar mengungkapkan bahwa mereka mengolah labu menjadi sayur dan kolak. Namun, ada beberapa menceritakan bahwmereka mengolah biji labu kuning menjadi lauk makanan dengan disangraisebagaimana yang dilakukan di Sumba dan Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

 

 

 

Mahasiswa menjadi lebih terbuka wawasan kulinernya saat Prihartantiyang akrab dipanggil Mbak Tanti, seorang praktisi kuliner membagikan pengalamannya mengolah labu kuning menjadi produk kuliner yang beragam dan menarik, seperti puding, bolu kukus, donat, tepung, kwaci biji labu dan stick labu. “Labu kuning bisa diolah menjadi bermacam produk untuk jualan, hari ini kita praktekkan empat resep yang mudah, murah, dan cocok dilakukan oleh anak kos seperti teman-teman ini, karena menggunakan alat masak sehari-hari, yaitu donat, puding, bolu kukus dan stick”, ungkapnya. 

Mahasiswa nampak antusias dalam sesi praktek karena mereka sendiri yang mengolah. Bahan dasar donat, bolu kukus dan stik menggunakan kombinasi labu kukus dan terigu, sementara puding menggunakan labu kukus dan tepung agar-agar. Proses pembuatan 4 makanan ini dilakukan secara bergantian dan setiap peserta melakukan dan mencatat, bahkan mendokumentasikan bahan dan cara pembuatannya. Kegiatan ini berlangsung selama satu hari sampai produk siap saji.

 

 

Melalui aktivitas ini mahasiswa memiliki bekal baru mengolah bahan pangan lokal, yang laku di pasaran untuk menambah uang saku. Pengolahan pangan lokal yang ada di sekitar menjadi peluang bagi siapa pun, termasuk anak muda, yang memiliki semangat dan kreativitas. Jadi, bahan pangan lokal ternyata potensial, bukan? Ayo manfaatkan peluang bisnis, dengan mengolah potensi pangan nusantara.***


  Bagikan artikel ini

Beragam Sumber Pangan Lokal, Diolah Apa?

pada hari Minggu, 10 September 2023
oleh Trustha Rembaka.

       

 

Indonesia merupakan negara kaya biodiversitas, termasuk sumber pangan nabati maupun hewani. Keragaman hayati tersebut belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pangan karena beragam penyebab, misalnya rendahnya pengetahuan tentang bahan pangan, minim referensi tentang cara pengolahannya, membanjirnya produk jadi dan bahan impor, dan produk dengan bahan lokal belum berkembang dan faktor-faktor lainnya.

 

 

Ini berdampak pada ketahanan pangan Indonesia di 2020 dan 2021 ketahanan pangan Indonesia masih di bawah rata-rata global yang indeksnya 62,2, serta lebih rendah dibanding rata-rata Asia Pasifik yang indeksnya 63,4. Indeks ketahanan pangan Global Food Security Index (GFSI) diukur dari empat indikator, yaitu keterjangkauan harga pangan (affordability), ketersediaan pasokan (availability), kualitas nutrisi (quality and safety), serta keberlanjutan dan adaptasi (sustainability and adaptation). Kabar baiknya di 2022 ada perbaikan.

 

 

Padahal jika menilik sumber pangan dari nabati saja, Indonesia memiliki 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, 40 jenis bahan minuman dan 1.260 jenis tanaman obat. Ini yang harus terus dipromosikan dan dikembangkan para stakeholder, termasuk anak muda dan mahasiswa.

 

 

Gerakan mahasiswa yang concern pada isu pangan lokal terus diperkuat Stube HEMAT Yogyakarta dalam Diskusi Mahasiswa tentang Inisiatif Pangan Lokal di Sekretariat Stube HEMAT Yogyakarta (9/9/2023). Ketika bangsa ini memiliki beragam pangan lokal, apa yang bisa mahasiswa lakukan pada potensi besar ini. Tentu harapannya bisa melakukan inovasi dalam budidaya, pengolahan dan pemasaran produk yang mengerek ekonomi masyarakat setempat.

 

 

Dalam diskusi, Trustha Rembaka, mengawali dengan mengajak para peserta menyebutkan ragam cara mengolah bahan pangan. Beberapa yang disebutkan antara lain menggoreng, menumis, mengukus, merebus, memanggang dan membakar, padahal ada alternatif lain seperti mengasap, fermentasi, dan pengeringan. Selanjutnya Trustha memandu peserta menceritakan potensi pangan di sekitar tempat tinggal mereka dan memetakan produk-produk turunannya yang bisa dihasilkan, misalnya Effie Rambu Boba dari Anajiaka, Sumba Tengah yang mengungkap pisang, ubi jalar, labu dan ternak, Ando dari Sorong menceritakan sagu dan salak sehingga dikenal sebagai kampung salak. Kemudian Sutopo dari Batumarta, Sumatera mengungkapkan kopi, singkong dan pepaya tumbuh di sekeliling rumahnya, sedangkan Yonas menyebutkan jambu mete cukup melimpah di kawasan Manggarai, tempat tinggalnya. Tak kalah, Mensiana dari Kanatang, Sumba Timur memaparkan panenan dominan jagung, labu dan kacang tanah. 

 

 

Sebagai langkah lanjut dari topik ‘Punya Beragam Pangan Lokal, Kamu Bisa Apa?’ para peserta menggagas pengolahan hasil pangan lokal yang mudah untuk mereka kerjakan, dari pisang menjadi manggulu dengan sentuhan baru, labu kuning menjadi makanan basah dan makanan kecil termasuk jagung yang diolah menjadi ‘Kawuhuk’

Dengan memperluas wawasan tentang bahan pangan lokal, menambah referensi cara pengolahan dan mempraktekkan pengolahan menjadi produk yang siap jual, anak muda menjadi inspirator kembalinya eksistensi pangan lokal di bangsa ini. Pasti bisa!***


  Bagikan artikel ini

Go-Digital Bersama UKMIndonesia.ID

pada hari Kamis, 7 September 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta.

       

 

Digitalisasi sudah tidak bisa dihindari oleh siapa pun yang ingin terus bergerak menyesuaikan kemajuan teknologi dan informasi, terlebih bagi para pelaku usaha untuk mempromosikan produk-produknya. Peningkatan kapasitas untuk menguasai teknologi informasi terus diupayakan supaya seluruh komponen masyarakat yang bergerak di bidang usaha bisa memanfaatkan dan mendapatkan keuntungan untuk setiap usahanya, terlebih di pulau-pulau kecil bagian timur Indonesia.

 

 

 

 

Kali ini Gilang Herdyan, alumni Stube HEMAT Yogyakarta, salah satu jejaring alumni, membuka forum diskusi bersama UKMINDONESIA.ID tempat dia bekerja, yang berkedudukan di Jakarta, bersama teman-teman di Pulau Sumba. Mari kenali dulu layanan Lembaga ini. UKMINDONESIA.ID merupakan sebuah media informasi berbasis komunitas bagi bagi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang mempublikasikan informasi dan wawasan bisnis melalui website dan media sosial dimana pelaku UMKM bisa meningkatkan bisnisnya melalui beragam informasi tersedia di dalamnya yang berupa program dan kegiatan pengembangan UMKM, tips bisnis, pengalaman inspiratif, perijinan dan sertifikasi sampai pada pengembangan usaha.

 

 

Melihat peluang dan kesempatan yang bagus ini, Stube HEMAT Yogyakarta menjejaringkan para Multiplikator Stube HEMAT di Sumba yang bergerak di sektor UMKM meliputi kelompok pemberdayaan perempuan dengan produk ragam tenun ikat yang dikelola Elisabeth Uru Ndaya, S.Pd., gerakan petani muda milenial dengan hortikultura yang dikoordinir oleh Frans Fredi Kalikit Bara, S.E., dan komunitas peternak babi Sumba Timur yang dirintis oleh Apriyanto Hangga. Ada peserta lain dari Sumba Barat Daya yang juga menjadi peserta dalam dialog tersebut. Dialog bersama antara Multiplikator Stube HEMAT di Sumba dan UKMINDONESIA.ID berlangsung dengan semangat untuk berkembang melalui program UMKM Go Digital (6/9/2023). Dialog awal ini dimaksudkan untuk saling mengenal dan memahami peran masing-masing dan mempelajari Program UMKM Go Digital yang memiliki kegiatan utama antara lain pelatihan pembentukan jaringan fasilitator ‘Go Digital’ dengan adopsi teknologi digital dan implementasi pendampingan melalui aplikasi Chat Commerce (WhatsApp Business).

 

 

 

 

Jejaring menjadi kekuatan bersama dan Stube HEMAT terpanggil terus membangun jejaring dengan para alumnus untuk bisa menjadi mutual colaboration dan menghadirkan manfaat bagi pihak-pihak yang berjejaringMelalui ‘Go Digital’ usaha-usaha yang telah dirintis diharapkan semakin berdampak untuk masyarakat dan produk-produk yang dihasilkan mendapat tanggapan baik dari publik.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2024 (9)
 2023 (38)
 2022 (41)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 636

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook