Mengenal dan Bersikap untuk Pemilu Eksposur ke Komisi Pemiluhan Umum DIY  

pada hari Kamis, 31 Januari 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Tiga puluhan lebih mahasiswa dari berbagai daerah dan kampus berkunjung ke kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi DIY pada hari Senin, 28 Januari 2019. Mereka adalah peserta eksposur KPU, salah satu bagian kegiatan program Church and Politics Stube-HEMAT Yogyakarta. Kunjungan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan kesadaran mahasiswa tentang hak dan kewajiban dalam Pemilu serta melindungi hak pilih mahasiwa luar daerah agar tetap bisa memberikan suaranya 17 April 2019mendatang. Kemudian mendorong mahasiswa mengenal lembaga penyelenggara pemilu, tugas, kewenangan, dan semua aktivitas penyelenggaraan Pemilu.
 
 
Pukul 13.00 WIB Ahmad Shidqi, salah satu anggota Komisioner KPU DIY, ketua divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM membuka diskusi dan memperkenalkan dua anggota yang hadir, yaitu Wawan Budiyanto, ketua divisi Perencanaan, Data dan Informasi, kemudian Moch. Zaenuri Ikhsan, ketua divisi Teknik Penyelenggaraan. Ia mengapresiasi inisatif Stube-HEMAT Yogyakarta untuk ambil bagian dalam menyambut Pemilu dengan menghadirkan mahasiswa di kantor KPU DIY untuk belajar hal-hal yang terkait dengan PEMILU. Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta memperkenalkan lembaga dan keberpihakan Stube kepada mahasiswa untuk memberi nilai tambah kepada mahasiswa berkaitan topik-topik tertentu, dan saat ini berkaitan dengan pemilu dan isu-isu politik.
 
Dalam diskusi, Wawan Budiyanto menjelaskan bagaimanacara mahasiswa luar daerah pindah memilih dengan mengurus form A5 di TPS tempat asalnya dan mendaftar di TPS terdekat. Ia juga mengundang peserta untuk mengecek apakah namanya terdaftar atau belum. Bahkan ia juga memaparkan rencana KPU mengunjungi kampus-kampus untuk sosialisasi tentang Pemilu. Teknik penghitungan suara dan cara memperebutkan kursi juga dijelaskan dalam sesi ini. Beberapa topik yang muncul antara lain tentang sikap KPU merespon ‘money politic’, mahasiswa yang bersikap apatis dengan politik dan memilih golput dan membahas isu mantan narapidana korupsi menjadi caleg.
 
Achmad Shalahudin, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga,asal dari Parepare, Sulawesi Selatan menanyakan standar yang digunakan KPU untuk menjaring 16 partai politik dari sekian banyak partai yang ada di Indonesia. “KPU menjaring partai politik berdasarkan UUD No 31 tahun 2002 tentang syarat partai, yaitu memiliki kepengurusan di tingkat provinsi, memiliki kepengurusan di tingkat kabupaten sejumlah 80% kabupaten di Indonesia dan menyertakan kartu anggota sejumlah seribu anggota”, jelas Wawan Budiyanto.
 
Di akhir sesi, Pak Ahmad Shidqi memberi ruang dialog jika ada hal yang ingin diketahui oleh peserta. Ia juga berharap Stube-HEMAT Yogyakarta bisa bekerjasama mensukseskan Pemilu 2019. Di akhir acara, Trustha Rembaka menyampaikan ucapanterimakasih karena KPU telah mewadahi mahasiswa untuk belajar tentang Pemilu. Selain itu ia juga menginformasikan pelatihan Muda, Milenial dan Melek Politik pada tanggal 15-17 Februari 2019. Biarlah pengalaman ini menjadi langkah awal yang baik untuk anak muda mengenal dan bersikap untuk Pemilu. (ELZ).

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook