Menjaga Ketahanan Pangan Rumah Tangga

pada hari Selasa, 29 Agustus 2023
oleh Stube HEMAT Yogyakarta.

Pendampingan Warga Dusun Klegung, Nglipar       

 

 

 Apa saja tanaman bahan pangan yang ada di sekitar rumah anda masing-masing? Ini pertanyaan yang dilontarkan Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta, kepada warga dusun Klegung, Katongan, Nglipar yang mengikuti Diskusi Ketahanan Pangan Rumah Tangga, bekerjasama dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata 56 STPMD APMD Yogyakarta (28/8/2023). Mereka bersemangat menceritakan tanaman bahan pangan yang ada di rumah mereka, antara lain cabe, sawi, terong, seledri, jagung, singkong, pepaya, bawang merah, sampai sumber pangan hewani seperti kambing, sapi, dan lele.

 

 

Pertanyaan di atas menjadi pembuka diskusi dengan isu Ketahanan Pangan di Indonesia yang menjadi perbincangan menarik karena berkaitan dengan beragam faktor, seperti bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan pangan, berkurangnya luasan lahan pertanian karena perubahan fungsi lahan pertanian, ancaman perubahan iklim dan pertanian sendiri belum menjadi primadona bagi anak muda untuk bekerja di dalamnya. Namun demikian sebenarnya dunia pertanian akan terus ada seiring dengan kehidupan.

 

 

Selanjutnya Trustha memaparkan bahwa secara regulasi pemerintah sudah memiliki UU No 12 Tahun 2012 tentang Pangan, pasal 1 ayat 4, Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan, yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Pertanyaan lanjutnya adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan sampai perseorangan? Salah satu alternatifnya yaitu memperkuat ketahanan pangan rumah tangga dengan cara memetakan kebutuhan pangan keluarga.

 

 

Dalam proses pemetaan ini masing-masing peserta tahu bahan pangan apa yang sering dikonsumsi oleh keluarganya dan apa saja yang bisa mereka budidayakan baik secara keluarga maupun kelompok masyarakat setempat. Di sini para peserta belajar tentang prinsip ‘nandur apa sing dipangan, mangan apa sing ditandur’ (bahasa Jawa) atau ‘menanam apa yang dimakan, makan apa yang ditanam.’

 

 

Trustha juga memandu peserta mengenal keragaman pangan yang bersumber dari hewani seperti ayam, itik, ikan nila, lele, daging sapi, maupun sumber pangan nabati seperti singkong, padi, ubi jalar, gembili, sawi kangkung, pepaya dan jahe. Kemudian mencermati bahan pangan berdasar waktu panennya, apakah harian (telur), mingguan (kecambah, persemaian), bulanan (sawi, kangkung, triwulan: cabe, terong, nila, lele), semester (pembesaran ternak, sampai tahunan seperti buah-buahan). Keberagaman pangan ini menjadi unsur penguat dalam ketahanan pangan.

 

 

Dari akhir sesi, sebagai aksi tindak lanjut menjaga ketahanan pangan rumah tangga, peserta merancang penanaman benih-benih baru di pekarangan rumah maupun di sebagian ladang. Selama proses diskusi berlangsung, terungkap cerita-cerita seperti ada keluarga yang punya panen lebih, ada juga yang membutuhkan benih tertentu untuk kebunnya, menariknya, beberapa peserta tergerak untuk menawarkan benih yang dimiliki supaya ditanam oleh rekan lainnya.

Pengetahuan, kesadaran, kemauan bertindak dan rasa kebersamaan di antara peserta telah mereka miliki. Ini menjadi modal dasar mewujudkan ketahanan pangan rumah tangga. Dusun Klegung pasti bisa!

 


  Bagikan artikel ini

Fermentasi Berbasis Jambu Mete

pada hari Minggu, 27 Agustus 2023
oleh Trustha Rembaka

        

 

 

 

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati, dari sumber pangan nabati ada 77 jenis sumber karbohidrat, 26 jenis kacang-kacangan, 389 jenis buah-buahan, 228 jenis sayur-sayuran, 110 jenis rempah dan bumbu, 40 jenis bahan minuman, 1.260 jenis tanaman obat. Kemudian, pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minuman bagi konsumsi manusia.

 

 

Kekayaan pangan di Indonesia belum diimbangi dengan pengolahan untuk mendapatkan produk turunan dari bahan pangan tersebut. Pengolahan ini penting untuk memanfaatkan secara optimal hasil produksi khususnya saat over-produksi. Keterampilan untuk mengolah bahan pangan menjadi perhatian Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pengembangan sumber daya manusia. Stube HEMAT Yogyakarta berinisiatif untuk memperkenalkan teknik fermentasi buah jambu mete dan abon jambu mete (26/08/2023).

 

 

 

 

Fermentasi sendiri adalah proses penguraian senyawa organik yang dilakukan mikroorganisme yang menghasilkan energi, dalam hal ini fermentasi untuk menghasilkan produk turunan. Jambu mete menjadi pilihan karena selama ini petani hanya mengambil kacang mete sedangkan buahnya belum dimanfaatkan, padahal ada beragam potensi olahan jambu mete selain kacang mete, antara lain sirup, wine, selai, abon dan dodol. Produksi jambu mete di Indonesia, tiga terbesar ada di Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Tenggara dan Jawa Timur, namun luasan lahan sampai tahun 2022, tercatat cenderung turun dari 555 ribu hektar menjadi 436 ribu hektar karena alih komoditas pertanian dan alih fungsi lahan. Tercatat produksi jambu mete tahun 2022 sebesar 171 ribu ton (Kementerian Pertanian).

 

 

 

 

Praktek pembuatan fermentasi jambu mete menggunakan 1 liter sari buah yang berasal dari perasan daging buah jambu mete, 3/4 kg gula pasir dan 2 liter air. Bahan-bahan tersebut dimasak hingga mendidih dan diamkan sampai benar-benar dingin. Selanjutnya tambahkan gula dan fermipan. Air sari buah dimasukkan dalam toples modifikasi airlock untuk masuk fase fermentasi selama minimal tiga minggu dan nantinya bisa menghasilkan fermentasi sebanyak dua belas botol @ 250 ml.

Sedangkan abon jambu mete menggunakan daging buah jambu mete. Daging buah jambu mete dicincang halus dan dikukus. Bumbu yang diperlukan meliputi bawang merah, bawang putih, serai, lengkuas, gula merah yang dihaluskan dan ditumis. Selanjutnya campurkan bumbu pada daging buah jambu mete cincang tadi, goreng, dan tiriskan menggunakan spinner sampai minyak goreng benar-benar hilang. Produk abon jambu mete dalam kemasan 50 gram menjadi alternatif lauk pelengkap nasi panas.

Produk olahan wine dan abon jambu mete menjadi alternatif pengembangan potensi jambu mete untuk merambah bisnis komersial, bahkan menjadi produk yang kompetitif. Ayo anak muda, tingkatkan keterampilan mengolah produk berbasis pangan lokal dan jeli mengambil peluang bisnis. ***


  Bagikan artikel ini

Bertindak Kelola Potensi Pangan

pada hari Jumat, 18 Agustus 2023
oleh Sarlota Wantaar, S.Pd.

     

 

 

 

Pangan menjadi kebutuhan pokok manusia, dan ada banyak sumber pangan yang disediakan  alam yang memungkinkan manusia mengambil, mengembangbiakkan serta mengolah sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Indonesia memiliki banyak keragaman pangan lokal di masing-masing daerah, namun tidak semua orang bisa mengolahnya menjadi produk lain. Program Local Food Innitiative dari Stube HEMAT mengajak mahasiswa, khususnya perempuan yang sedang belajar di Yogyakarta, belajar bagaimana mengelola pangan lokal.

Pada kesempatan ini peserta mengelola produk turunan dari hasil budidaya ikan lele menjadi abon lele. Pelatihan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan mahasiswa mampu memproduksi dan memulai bisnis di waktu luang, atau menjadi bekal keterampilan saat mereka kembali ke daerah.

 

 

Bertempat di sekretariat Stube HEMAT Yogyakarta (15/08/2023), mahasiswa mengikuti pelatihan yang didampingi oleh Sarlota Wantaar bertindak sebagai instruktur. Sebelum memulai praktek, mahasiswa mendapatkan teori tentang bagaimana proses pembuatan serta bahan apa saja yang digunakan. Ada 5 kg ikan lele yang tersedia dalam praktek saat ini dengan bumbu rempah yang terdiri dari bawang putih, bawang merah, jahe, gula jawa, daun jeruk, daun salam, kunyit, garam, sereh, lengkuas, minyak goreng, dan penyedap organik.

 

 

Terlebih dulu lele dibersihkan, kemudian dikukus selama 20 menit, berlanjut dengan proses pemisahan tulang ikan dari daging. Memisahkan tulang ikan lele dari dagingnya butuh kesabaran serta ketelitian karena ada banyak tulang halus dan kecil. Bumbu yang sudah dihaluskan, ditumis dan dicampurkan pada daging ikan lele. Selanjutnya digoreng selama 25 sampai 30 menit sampai warna berubah kecoklatan. Siapkan spinner untuk meniriskan minyak dari masakan, setelah didinginkan, dihaluskan, ditimbang dan masuk proses packaging (pembungkusan).

 

 

 

Produk siap dipasarkan dengan memeriahkan bazaar, yang diadakan oleh Gereja Baptis Indonesia Yogyakarta (17/08/2023), dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-78. Peserta belajar pemasaran dan bagaimana melakukan promosi. Memberi penjelasan fungsi serta manfaat dan bahan dari suatu produk, akan meyakinkan konsumen untuk membelinya.

Pangan lokal menjadi potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah bisnis komersial dan perempuan bisa terlibat aktif mengelolanya. Perempuan tidak hanya melihat atau mendengar saja, tetapi berani bertindak tanpa takut salah dan takut gagal. Perempuan terus maju. ***

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2024 (12)
 2023 (38)
 2022 (41)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 639

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook