pada hari Selasa, 10 Mei 2016
oleh adminstube
PEDULIKU PADAMU
Mahasiswa Bermasyarakat dan Bekerjasama
Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan (KMPL)
 
 
 
Pelatihan Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta di Wisma Panti Semedi, Klaten pada 22 - 24 April 2016 menjadi pendorong peserta menindaklanjuti dengan kegiatan yang menyentuh realitas sosial. Beberapa peserta mahasiswa berbasis di STPMD “APMD” merespon positif hal tersebut dengan membangun kerjasama di tengah-tengah masyarakat yang beragam suku, agama dan budaya. Mereka membuat sebuah komunitas yang diberi nama Komunitas Mahasiswa Peduli Lingkungan (KMPL). Aksi nyata komunitas ini diperlihatkan dengan melakukan kerjasama dengan Komunitas Pemuda Gendeng dan warga masyarakat RW 20 Gendeng diwujudkan dalam bakti sosial bersih kampung.
 

 

Aksi bakti sosial ini berlangsung pada hari Minggu, 08 Mei 2016 di wilayah RW 20 Gendeng, Kelurahan Baciro yang dimulai pukul 06.00 – 09.20 WIB. Kegiatannya adalah membersihkan ruas jalan Timoho, lingkungan masjid Anwar Rasyid dan selokan air yang tersumbat sampah. Tujuan dari KMPL adalah mewujudkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan terjalinnya hubungan antar warga masyarakat di kampung Gendeng baik warga asli maupun para pendatang. Untuk kegiatan pertama kali ini diikuti sekitar 35 orang yang terdiri dari mahasiswa, pemuda dan warga masyarakat setempat.
 

 

Pascakegiatan aksi bakti sosial, Komunitas Pemuda Gendeng dan warga masyarakat Gendeng mengundang KMPL untuk hadir dalam HUT ke-13 Komunitas Pemuda Gendeng (KOMPAG) yang diselenggarakan pada hari Minggu, 15 Mei 2016. Dalam acara HUT KOMPAG tersebut, Koramil setempat memberi tanggapan positif terhadap kaum muda Indonesia yang mau bermasyarakat dan menyampaikan pesan untuk menjauhi narkoba dan jangan sekali-kali penasaran dengan hal itu. Berikutnya, Ketua RW Gendeng mengucapkan terima kasih kepada KMPL dan berharap kerjasama yang sudah ada terus terjalin. Puncak acara berupa penyerahan penghargaan kepada masyarakat yang dibagi beberapa kategori, yaitu kategori pemuda berkreasi yang diraih pemuda Kampung Gendeng, ketegori anak cerdas diberikan kepada anak-anak Kampung Gendeng dan kategori mahasiswa kritis dan berelasi diberikan kepada KMPL atas inisiatif dan partisipasi dalam kegiatan bersama masyarakat.
 
Dengan demikian, pesan penting dari kegiatan ini adalah keberagaman yang ada di tengah masyarakat tidak bisa dijadikan alasan permusuhan, tetapi keberagaman tersebut disatukan dalam sebuah wadah kerjasama sehingga bisa kokoh menopang persatuan dan kesatuan Indonesia. Terus berkreasilah anak muda untuk bangsa! (CAR).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 8 Mei 2016
oleh adminstube
Belajar Keberagaman
 
di Vihara Mendut

Sabtu, 7 Mei 2016 dua puluhan mahasiswa mengadakan kunjungan belajar atau eksposur ke Vihara Mendut. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Multikultur dan Dialog Antar Agama yang diselenggarakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta. Vihara Mendut merupakan salah satu bangunan religi Buddha di desa Mendut, Magelang, Jawa Tengah. Di dalam vihara, lingkungan cukup asri dan terjaga dalam kerapiannya, dinaungi pepohonan dan taman dengan berbagai ornamen dan monumen Buddha, para peserta eksposur terkagum dan merasakan suasana damai yang kontemplatif ketika memasukinya.

Yohanes menjadi pemandu diskusi eksposur mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta dan Bhikkhu Atthapiyo sebagai tuan rumah dengan ramah memfasilitasi eksposur di Vihara Mendut. Beliau  sangat antusias dan mengapresiasi kehadiran mahasiswa sebagai generasi masa depan untuk mengenal keberagaman yang ada di Indonesia.
 
Trustha Rembaka, S.Th., koordiantor Stube-HEMAT Yogyakarta mengungkapkan rasa terima kasih kepada pihak Vihara Mendut yang diwakili Bhikkhu Atthapiyo atas kesempatan yang diberikan kepada Stube dan mahasiswa untuk berdialog dan belajar bersama tentang agama Buddha dan relasi di tengah masyarakat yang majemuk.
 
Bhikkhu Atthapiyo memperkenalkan diri dan mengungkapkan bahwa beliau menjadi Bhikkhu pertama dari Flores, NTT. Umat Buddha di Indonesia berada di bawah naungan Sangha Theravada Indonesia (STI). Vihara di Mendut ini mulai dibangun tahun 1970an oleh Bhikkhu Pannavaro. Meskipun di sekitar vihara tidak ada umat Buddha, keberadaan vihara memberikan manfaat untuk masyarakat setempat, karena mereka bisa bekerja di lingkungan vihara dan berdagang di sekitar vihara Mendut.
 
Aktivitas di vihara Mendut tidak hanya untuk umat Buddha, tetapi ada yang terbuka untuk masyarakat umum, salah satunya adalah aktivitas bermeditasi, yang diselenggarakan setiap akhir tahun. Aktivitas ini dilakukan selama 10 hari dan diikuti bukan hanya oleh masyarakat umum tetapi juga  turis mancanegara. Inti dari meditasi adalah melihat dengan mata batin terhadap dirinya sendiri. Di fase itu seseorang belajar berdamai dengan dirinya sendiri dan kemudian berdamai dengan orang lain. Seseorang, sebelum berdamai dengan diri sendiri, ia tidak akan bisa berdamai dengan orang lain.

 
Pada kesempatan kunjungan ini, Bhikkhu Atthapiyo menjelaskan sejarah perkembangan Buddha dari awal dan keberadaannya di Indonesia sampai saat ini. Lebih lanjut, beliau bercerita tentang Bhikkhu dan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan, mengikis keserakahan, menghapus kebencian dan memerangi kebodohan batin, dan selanjutnya mewujudkan kehidupan yang dilandasi empat bahasa kasih: cinta kasih, belas kasih, ikut berbahagia ketika orang lain bahagia dan keseimbangan batin.
 

 
Rasa ingin tahu bahkan mungkin ‘penasaran’ peserta diungkapkan secara jujur dalam sesi tanya jawab membuat dialog semakin akrab dan Bhikkhu Atthapiyo menanggapinya dengan ramah. Pertanyaan tentang ajaran Buddha dan hari besarnya, kehidupan seorang Bhikkhu, ornamen-ornamen yang ada di lingkungan vihara dan tentang meditasi.

Setelah berdialog, kami berkesempatan berkeliling kawasan vihara dipandu oleh Bhikkhu Atthapiyo. Mahasiswa juga bisa mendengar filosofi kolam air dengan tanaman teratai, dimana di tengah air yang keruh teratai tetap bisa berbunga indah. Patung-patung Buddha banyak menghiasi halaman dengan keindahan dan keunikannya, tergantung daerah dan negara asal seperti India, Thailand dan Myanmar. Pohon Bodhi (ficus religiosa L) dan pohon Sala (shorea robusta) disebut juga cannon ball tree, stupa, tugu Ashoka, lonceng raksasa bisa ditemukan di sana sebelum masuk ke dalam ruang meditasi.
  


 
“Ini sebuah pengalaman baru yang saya rasakan ketika mengikuti eksposur di vihara, khususnya tentang berdamai dengan diri sendiri sebelum berdamai dan berelasi dengan orang lain” ungkap Grace, salah seorang peserta.
 
 
Selamat merenungkan pengalaman baru, bermeditasi dan menemukan kesadaran bahwa Indonesia kaya akan keragaman. (TRU).

 

  



  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook