pada hari Senin, 18 November 2013
oleh adminstube
Leadership: Menjawab Tantangan Dunia

 

 

Terkejutkah kita kalau umat manusia di dunia ini pada hakikatnya hanya ditentukan oleh beberapa orang saja yang berstatus sebagai pemimpin? Mereka adalah penentu kebijakan-kebijakan seperti ekonomi, perang ataupun perdamaian. Tentu saja kita semua menginginkan pemimpin yang bisa membawa manusia dan dunia menuju kondisi yang lebih baik. Atau bisakah kita menjadi seorang pemimpin yang mampu menjawab tantangan dunia? Ir. Tikno Iensufiie, M.Pd., M.A, staff pengajar Faculty Of Liberal Arts, Universitas Pelita Harapan, Jakarta tertarik meluangkan waktu dan membagikan ilmunya bersama mahasiswa-mahasiswa yang tergabung di Stube HEMAT Yogyakarta dalam pelatihan sehari mengenai kepemimpinan.
 
 
Bertempat di Aula LPP Sinode GKI-GKJ Jateng, Sabtu, 16 November 2013, kegiatan ini cukup menarik buat peserta. Dengan mengusung tema Leadership Menjawab Tantangan Dunia, pelatihan sehari ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama membahas Tantangan Leadership dan Teori Leadership sementara sesi kedua membicarakan Motivasi Leadership dan Pengambilan Keputusan. Peserta belajar bahwa keberhasilan atau kegagalan suatu organisasi, perusahaan, bahkan diri sendiri sebagian besar ditentukan oleh kepemimpinan dengan semua keterbatasan dan kelebihannya.
 
 
Paulus, mahasiswa teologia UKDW yang mengikuti kegiatan ini bertanya, ”Apakah untuk menjadi seorang leader harus memiliki akses? Dengan tegas fasilitator mengatakan tidak. Menjadi seorang pemimpin tidak harus memerlukan akses karena pada dasarnya manusia memiliki kehendak bebas (Human Free) yang dilengkapi dengan mental dan fisik yang baik. Jika sifat dan kemampuan dasar itu tidak dimanfaatkan dengan baik akan membuatnya selalu kalah (the loser) bukan menjadi pemenang (the winner). Bahkan kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi perilaku, baik perorangan ataupun kelompok yang tidak harus memiliki batasan atau aturan-aturan organisasi untuk mencapai tujuan organisasi. Kepemimpinan sering kali disamakan dengan manajemen, yang memikirkan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi yang dibatasi oleh tata krama birokrasi dan konsep kepemimpinan sangat dekat dengan konsep kekuasaan. Padahal seorang leader berbeda dengan seorang manager.
 
 
Di akhir sesi disimpulkan bahwa seseorang dapat dikatakan sebagai pemimpin ketika dia dapat mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama mencapai suatu tujuan yang semuanya harus mengarah pada: 1) Apakah membuat Tuhan semakin dipermuliakan, 2) Apakah membuat manusia semakin manusiawi, dan 3) Apakah membuat alam lestari. Bagi anak-anak muda hendaknya sebelum memimpin lingkungan yang besar, haruslah berlatih memimpin dalam lingkungan kecil termasuk memimpin dirinya terlebih dahulu.*** (SA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 17 November 2013
oleh adminstube

 

Wisuda Sekolah Tani Angkatan Pertama
 
 
Program sekolah tani gelombang pertama (kerjasama Jenderal Soedirman Center dan Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM) telah berakhir. Utusan Stube-HEMAT Yogyakarta, Yohanes Dian Alpasa telah diwisuda. Wisuda diselenggarakan di pendopo Stupa Donolayan, Jalan Tentara Pelajar Km 12, Ngaglik Sleman, Yogyakarta yang merupakan kantor dari JSC. Penyelenggaraan Wisuda bertepatan hari Pahlawan 10 November. Hadir di sana Wakil Bupati Sleman, Kepala PUSTEK UGM, Direktur JSC, dan masyarakat sekitar. Wisudawan diberi keyakinan dalam mengarungi kehidupan petani. Petani tidak perlu pesimis karena kemandirian adalah mimpi yang akan menjadi nyata jika diperjuangkan.

Dr. Revrisond Baswir atau akrab dipanggil Bang Sony memberikan dukungannya kepada petani. Ia mengungkapkan kemerdekaan adalah perjuangan tiada henti. Kemerdekaan adalah proses yang harus terus menerus diperjuangkan. Maka, kemerdekaan pada dasarnya bukan sekali jadi. Selama beratus tahun bangsa kita dijajah dengan sebutan kolonialisme. Hari-hari ini kita bukan hanya merayakan kemerdekaan tapi juga merayakan 68 tahun neokolonialisme. Kemerdekaan sepertinya merupakan proses pemindahan jajahan dari Jepang, Belanda, ke Amerika Serikat. Walaupun kenyataan berbicara demikian, masyarakat tani harus sadar bahwa perjuangan kita melawan kompeni/penjajah adalah berbeda bentuk tetapi semangatnya harus sama.

Direktur JSC, Ir. Bugiakso memberikan penekanan dan sering ia ucapkan terkait dengan sumber daya alam kita. Kekayaan alam adalah milik negara begitu juga air yang sangat vital buat petani. Mungkin hari ini kita belum bisa mengelola batubara dan emas di Bumi Indonesia, tetapi sumber daya yang lain harus bisa kita olah sendiri. Masyarakat sebenarnya mudah mengelola air. Namun, air di beberapa lokasi justru dikuasai oleh asing. Petani seharusnya mandiri dan jangan sesekali bergantung ataupun minta bantuan asing. Dalam hal ini, Pak Bugi mengutip pernyataan J. F. Kennedy, jangan menuntut apa yang bisa Negara berikan kepada saya, tetapi bertanyalah apa yang bisa saya berikan kepada Negara. Petani harus berdaulat!

Wakil Bupati Sleman, Hj. Yuni Satia Rahayu menyatakan dukungannya kepada petani. Petani harus mandiri dan berdaulat. Setiap program pemerintah daerah memang ditujukan untuk kesejahteraan rakyat. Kadangkala program tidak efektif dan tidak tepat sasaran karena sebuah penyelewengan. Kemandirian petani adalah upaya cerdas dalam membangun ketahanan bangsa.

Wisudawan sekolah tani diharapkan memberi dampak pada masyarakat di sekelilingnya. Ilmu yang didapat selama rentang waktu 2 Mei 24 September 2013 harus segera diaplikasikan. Wisuda bukanlah akhir tetapi awal dari sebuah perjuangan baru yang lebih luas. Selamat berjuang para wisudawan! (YDA)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 16 November 2013
oleh adminstube
Informasi Pelatihan
Stube-HEMAT Yogyakarta
 
 
 
Siapkan waktu teman-teman untuk belajar dan menumbuhkan kepedulian terhadap pembangunan dan dinamikanya bagi masyarakat melalui kegiatan Pelatihan dan Eksposur dalam Program Pelatihan Pembangunan Berkelanjutan
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 15 November 2013
oleh adminstube

Kegiatan Tindak Lanjut (2)

 

 


Anak-Anak Di Sekitar Rumah Kos

 

  

 

 

Rasa kepedulian atas apa yang bisa dilakukan untuk pendidikan yang coba dibangun lewat Pelatihan Pendidikan Global yang kami ikuti di Stube HEMAT, memberi kami inspirasi untuk peduli pada anak-anak di sekitar kos kami yang tidak punya kegiatan positif selepas sekolah. Kami berlima, terdiri dari Uchy, Putry, Herman, Eka, dan Fransiska bersepakat memfasilitasi belajar bersama untuk anak-anak disekitar kos kami. Kegiatan ini dimulai pada hari Sabtu, 2 November 2013. Kami berdua, Putry dan Uchy memulai kegiatan ini bersama anak-anak di sekitar rumah kos.

 

 

 

 

Dengan bermodalkan pengetahuan yang kami peroleh di kampus dan sedikit kreativitas, kami mencoba membantu anak-anak yang saat ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) mengerjakan tugas sekolah. Selanjutnya anak-anak tersebut kami minta untuk menulis cerita mengenai hobi atau hal-hal yang sering mereka lakukan dan senangi.

 

 

 

 

Akhirnya, hasil tulisan dari anak-anak tersebut ditempel menjadi majalah dinding yang menarik. Harapannya hasil belajar bersama dan tulisan yang telah mereka buat dapat memberi motivasi bagi anak-anak untuk terus belajar meski dengan segala keterbatasan yang mereka miliki.

 

 

 

Buat teman-teman mahasiswa lain bisa melakukan hal yang sama di tempat masing-masing. Dengan mempedulikan hal-hal di sekitar, kita bisa andil melakukan sesuatu meski sederhana.

 

 


Selamat mencoba. (OCE).


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 14 November 2013
oleh adminstube

Kegiatan Tindak Lanjut (1)

 

 

Berpikir Global, Bertindak Lokal
 
 
Practical Education Center (PEC) adalah sebuah lembaga pendidikan tempat Yoel Anto, salah satu aktivis Stube-HEMAT terlibat di dalamnya. Lembaga ini mengembangkan pendidikan bahasa Inggris untuk siswa-siswa sekolah dasar (SD) di daerah setempat. Selaras dengan pemikiran “berpikir global, bertindak lokal”, lembaga ini mencoba membangun konstruksi dari tingkat lokal untuk menjawab tantangan global, salah satunya yakni penguasaaan bahasa Inggris, meskipun ada banyak bahasa asing yang dipakai dalam lingkup global seperti bahasa Mandarin, Jerman, dan Prancis.
 
Bahasa Inggris membantu seseorang memperoleh informasi mancanegara sebanyak-banyaknya, seperti beasiswa untuk studi, berita sosial-politik, isu bisnis terbaru, dan banyak lagi. Yoel yakin bahwa membangun daya saing pada tataran global harus dimulai dengan pembenahan pendidikan di daerah, salah satunya bahasa asing, maka dia lebih termotivasi terlibat mengembangkan lembaga ini setelah mengikuti pelatihan Pendidikan Global yang diselenggarakan Stube-HEMAT.
 
 
 

 

Mahasiswa memiliki peran membangun daerah, salah satunya adalah peningkatan kualitas dan kuantitas pendidikan, terlebih penguasaan bahasa asing untuk menyikapi persaingan global. Sehingga hal yang ditanggungkan di atas pundak pemuda mahasiswa yang studi di Yogyakarta adalah mereka harus pulang dan membangun daerah. Mahasiswa daerah tidak hanya menguasai bahasa lokal dan bahasa Indonesia saja tetapi juga bahasa Inggris. Apabila bahasa kita semakin kaya maka kemampuan bersaing kita akan semakin meningkat.
 
 
 

 

 

 

Pada tanggal 26 Oktober 2013, beberapa mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta berkesempatan mengunjungi lembaga ini untuk belajar sekaligus melihat peluang yang bisa dikembangkan di daerah. Lembaga pendidikan bahasa asing belum banyak di daerah, apalagi di daerah pelosok, sehingga bisa dipahami kalau daerah mengalami banyak ketertinggalan. Menyambut persaingan global, tidak salah tentunya apabila kita menyiapkan sumber daya manusia kompetitif mulai dari tingkat lokal.
 
Mari berpikir global bertindak lokal. (YDA)

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook