pada hari Senin, 10 Desember 2012
oleh adminstube
Program Masyarakat Sipil

 

Ayo Kaum Muda Bersinergi

 

dan Bangkit untuk Negeri

 

 

 

 

 

 

Masyarakat sipil Indonesia belum terwujud seutuhnya! Dengan populasi lebih dari 200 juta yang tersebar di ribuan pulaunya, dan kondisi masyarakat yang beragam dari segi mata pencaharian, pendidikan, ekonomi, tradisi dan budaya, Indonesia menghadapi berbagai keterbatasan. Ketidakmerataan berbagai akses antar pulau berdampak pada kesenjangan perkembangan masyarakat antar wilayah, bahkan kemajuan ekonomipun hanya dinikmati oleh mereka yang memiliki kemampuan mengakses. Untuk itulah diperlukan penguatan Masyarakat Sipil yang oleh Stube-HEMAT Yogyakarta diwujudkan dalam pelatihan dengan tema Ayo Kaum Muda Bersinergi dan Bangkit untuk Negeri.

 

 

 

 

 

 

Diskusi dengan koordinator Indonesia Corruption Monitoring (ICM), Tri Wahyu KH, S.H yang diadakan pada 20 dan 28 November 2012 mengawali rangkaian acara untuk membuka wawasan peserta mengenai apa itu Masyarakat Sipil. Rangkaian pelatihan Civil Society berlanjut pada 7 – 9 Desember 2012 di Wisma Sargede Yogyakarta dengan peserta mahasiswa dari berbagai daerah dan bidang studi. Pelatihan ini mengajak peserta berpikir apa itu masyarakat sipil serta permasalahan-permasalahan yang dialami masyarakat.

 

 

 

Kunjungan peserta ke beberapa lembaga sosial seperti Yayasan Satunama dan Ombudsman Republik Indonesia (ORI) dan kehadiran narasumber dari Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) dalam diskusi kelompok memberi pemahaman peserta ke lembaga mana masyarakat bisa mengadukan permasalahan berkaitan dengan ketidakpuasan pelayanan publik.

 

 

 

 

 

 

Yayasan Satunama, yang berkantor di Sendangadi, Mlati, Sleman, merupakan community education yang mendampingi masyarakat, khususnya di Indonesia bagian timur. Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah, (sebelumnya bernama Komisi Ombudsman Nasional) adalah lembaga negara di Indonesia yang mempunyai kewenangan mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik, baik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan, termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), dan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) serta badan swasta atau perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu yang sebagian atau seluruh dananya bersumber dari APBN atau APBD. Lembaga Ombudsman Swasta (LOS) DIY, diwakili oleh Dwi Priyono, SH sebagai anggota LOS DIY bidang Kerjasama dan Penguatan Masyarakat, mengungkapkan bahwa LOS bergerak untuk mewujudkan penyelenggaraan usaha yang bersih, bebas KKN, bebas penyalahgunaan wewenang, serta praktek usaha yang tidak beretika.

 

 

 

 

 

 

Proses pembentukan perundang-undangan sebagai kekuatan hukum yang mengatur masyarakat dijelaskan oleh Sri Handayani RW, SH, MH, dosen Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta. Berbagai pertanyaan muncul seputar tahapan pembentukan suatu usulan sampai menjadi peraturan perundangan, kesempatan masyarakat ikut mengontrol, mengawasi dan memberikan usulan dalam proses penyusunan undang-undang, serta bagaimana penyelenggaraan publik hearing antara dewan dan masyarakat sipil.

 

 

 

 

  

Model-model penguatan masyarakat sipil, di berbagai bidang di antaranya disampaikan oleh Dr. Murti Lestari (ekonomi), Dr Wimmie (teknik informatika), Susilo Nugroho atau Den Baguse Ngarso (seni dan budaya), dan Suparlan dari WALHI untuk lingkungan. Pemahaman akhir dari masyarakat sipil dalam berbagai model penguatan adalah menjadikan masyarakat yang memiliki kemampuan, kualitas dan hasrat (inner motivated) untuk menjadikan dirinya sebagai masyarakat yang tumbuh berkembang secara kuantitatif sehingga bisa disebut sebagai masyarakat yang berkualitas. (TRU) ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 5 Desember 2012
oleh adminstube
Eksposur Lokal

 

Sofia Atalia, Elisabeth H. Balibo dan Balbina Bie

 

 

 

 

  

 

Eksposur Lokal atau Hospitasi merupakan program Stube-HEMAT Yogyakarta, mahasiswa aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta diberi kesempatan untuk kembali ke daerah asalnya dan melakukan pengamatan dan pemetaan terhadap daerah asalnya. Pemetaan yang dilakukan dalam hal ini berupa potensi yang bisa dikembangkan maupun permasalahan yang terjadi di daerah asalnya. Selain itu, kegiatan ini juga mempersiapkan para mahasiswa untuk mengadakan orientasi kerja dan membuka jaringan kerja ketika mereka selesai studi dan kembali ke daerah asal mereka.

 

 

 

 

 

 

Tanggal 3 Desember 2012 peserta program hospitasi melakukan presentasi proposal kegiatan hospitasi. Peserta program hospitasi tahun ini adalah:

 

 

 

Sofia Atalia (19), asal daerah Tarakan, Kalimantan Timur. Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta. Sofia melakukan pemetaan dan penelitian tentang Pengembangan Garam Gunung di Desa Long Midang Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur. Harapannya adalah keberadaan garam gunung mulai diperhitungkan dan mampu menjadi ikon bagi daerah setempat, dan nantinya menjadi salah satu bentuk penguatan ekonomi daerah setempat.

 

  

 

Elisabeth Hoar Balibo (29), asal daerah Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Konservasi Lingkungan. Dalam hospitasi ini Lisa mengambil topik tentang Reklamasi Lahan Bekas Tambang Mangaan dengan Pemberian Kapur Tohor dan Bokashi Jerami di Desa Oetalus Kecamatan Bikomi Selatan Kabupaten Timor Tengah Utara. Dengan adanya hasil penelitian ini nantinya menjadi masukan dan metode untuk melakukan perbaikan kondisi tanah yang rusak karena adanya tambang mangaan.

 

  

Balbina Bie (23), asal daerah Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan ‘YLH’ Yogyakarta, jurusan Teknik Konservasi Lingkungan. Dalam hospitasi ini Ribie mengambil topik tentang Daya Dukung Lingkungan Kawasan Pariwisata Di Taman Nasional Danau Kelimutu Desa Moni Kecamatan Kelimutu Kebupaten Ende Nusa Tenggara Timur. Pesona Danau Kelimutu telah menjadi daya tarik wisata Flores khususnya daerah Ende, namun kemampuan atau daya dukung kawasan ini masih terbatas, dan membutuhkan pengembangan-pengembangan. Melalui penelitian hospitasi ini diharapkan muncul ide dan masukan-masukan pengembangan kawasan danau Kelimutu. (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 26 November 2012
oleh adminstube

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 5 November 2012
oleh adminstube

Pendampingan Studi Sosial SMPK Tirta Marta Cinere 2012

 
 
Bersama Tuhan Aku Bisa!
Studi Sosial Siswa
SMPK Tirta Marta – BPK Penabur Cinere
 
Kebutuhan berinteraksi bagi remaja yang dilandasi rasa peduli terhadap sesama, menjadi dasar pemikiran kegiatan studi sosial bagi siswa-siswi klas VII dan IX SMPK Tirta Marta - BPK Penabur Cinere Jakarta. Kegiatan ini tidak kalah serunya dengan studi sosial yang dilakukan kawan-kawan mereka dari Tirta Marta Pondok Indah seminggu lalu.
 
 
“Pergunakanlah kesempatan mengikuti Studi Sosial ini sebaik mungkin untuk semakin memperlengkapi diri kalian menjadi remaja Indonesia yang utuh dan tangguh, jadilah sahabat yang baik bagi sesama putra putri Indonesia, terus tumbuhkan bangun semangat cinta bangsa dan cinta tanah air”, pesan kepala sekolah Ester Susilowati, S.Pd membekali siswa-siswinya.
 
 
Kegiatan Studi Sosial yang didampingi oleh Stube-HEMAT Yogyakarta ini dilaksanakan pada tanggal 30 Oktober – 2 November 2012 di Yogyakarta dan sekitarnya mengusung tema Bersama Tuhan Aku Bisa. Studi sosial ini diwujudkan dalam dua kegiatan yaitu TurBa dan Live In di pedesaan. TurBa yang artinya Turun ke Bawah, merupakan aktifitas untuk melihat tempat dan kegiatan sosial kemasyarakatan untuk menumbuhkan kepedulian, kemandirian dan mau kerja keras. Lokasi TurBa mengambil 5 tempat kunjungan yang meliputi;
 
  1. Wirausaha Lilin Hias “Pensil Terbang”
  2. Sanggar Anak Alam (SALAM)
  3. Yayasan Sayap Ibu
  4. Museum Wayang Kekayon
  5. Kerajinan Topeng Kayu Bobung.

 

 
 
 
 
 
 
Kegiatan Live In atau tinggal dan hidup bersama, memberi kesempatan para siswa bermalam di rumah dan beraktivitas bersama dengan warga pedesaan di Watusigar, Ngawen, Gunungkidul. Ketika Live In inilah para siswa mengalami dan mendalami kehidupan masyarakat pedesaan dengan berbagai dinamika yang ada seperti berjalan kaki melewati tanah berbatu, menyusur sungai, mencari rumput untuk makanan ternak, mencangkul di tanah berbatu, menanam jagung, dan bertegur sapa dengan setiap orang yang dijumpai meski sebelumnya tidak kenal.
 
 
Meski kegiatan TurBa dan Live in relatif singkat, muncul berbagai cerita tentang pengalaman yang dialami oleh para siswa, guru, pendamping Stube dan penduduk setempat, dari peristiwa yang lucu sampai yang mengharukan. Mereka belajar bahwa persoalan hidup bisa dihadapi asal tetap berpegang teguh bahwa Tuhan adalah setia dan tidak akan pernah meninggalkan anak-anaknya.***
 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 19 Oktober 2012
oleh adminstube

Pendampingan Studi Sosial SMPK Tirta Marta Pondok Indah 2012

 
 
Pendampingan Studi Sosial untuk Siswa
SMPK Tirta Marta – BPK Penabur Pondok Indah
"Menjadi Sahabat bagi Sesama"
 
Kehidupan kota memiliki dinamika yang berbeda dengan pedesaan. Namun keduanya  memiliki keterkaitan erat satu sama lain dan saling mempengaruhi. Kehidupan sosial masyarakatnya pun berbeda, tetapi hal ini bukan berarti tidak ada komunikasi satu sama lain, karena komunikasi perlu terus menerus diupayakan supaya terwujud rasa kepedulian di dalamnya. Inilah dasar pemikiran atas kegiatan studi sosial bagi siswa-siswi klas IX SMPK Tirta Marta – BPK Penabur Jakarta sebagaimana diungkapkan Christina Ratnaningsih, S.Pd. selaku kepala sekolah. “Melalui kegiatan ini diharapkan para siswa dapat mengembangkan kemampuan bekerjasama, sikap mandiri, tanggungjawab dan kepedulian bagi sesama”, ujarnya.
 
Kegiatan Studi Sosial yang didampingi oleh Stube-HEMAT Yogyakarta ini dilaksanakan pada tanggal 15 – 17 Oktober 2012 di Yogyakarta dan sekitarnya mengusung tema Menjadi Sahabat bagi Sesama. Studi sosial ini diwujudkan dalam dua kegiatan yaitu TurBa dan Live In di pedesaan.
 
TurBa yang artinya Turun ke Bawah, merupakan aktifitas untuk melihat tempat dan kegiatan sosial kemasyarakatan untuk menumbuhkan kepedulian, kemandirian dan mau kerja keras. Lokasi TurBa mengambil 8 tempat kunjungan yang meliputi:
 
 
  1. Panti Wreda “Hanna”
  2. Wirausaha Lilin Hias “Pensil Terbang
  3. Sanggar Anak Alam (SALAM)
  4. Yayasan Sayap Ibu
  5. Rehabilitasi Narkoba Panti Sosial Pamardi Putra
  6. Pondok Pesantren Nurul Ummahat
  7. TPA Sampah Piyungan
  8. Kerajinan Topeng Kayu Bobung

 

 
Sedangkan kegiatan Live In atau tinggal dan hidup bersama, memberi kesempatan para siswa bermalam di rumah dan beraktivitas bersama dengan warga pedesaan di Girisekar, Panggang, Gunungkidul. Ketika Live In inilah para siswa mengalami dan mendalami kehidupan masyarakat pedesaan dengan berbagai dinamika yang ada seperti berjalan kaki mengambil air, mencari kayu bakar di hutan, mencangkul di tanah berbatu, bertegur sapa dengan setiap orang yang dijumpai meski tidak kenal.
 
Beraneka pengalaman pun dialami oleh para siswa, guru, pendamping Stube dan penduduk selama kegiatan TurBa dan Live in, dari kejadian yang lucu sampai yang mengharukan. Satu hal yang dapat ditemukan dalam rangkaian kegiatan ini adalah, makna persahabatan akan dapat diwujudkan ketika seseorang itu mau merendahkan diri, mengenal dan berinteraksi secara tulus dengan sesamanya. Selamat bertumbuh, bertambah dewasa dan berbuah. (TRU)*** 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 30 September 2012
oleh adminstube
PROGRAM PENDIDIKAN NASIONAL

 

Quo Vadis Pendidikan Indonesia???

 

Menggagas Ulang Pendidikan Indonesia

 

 

 

 

 

 

Berbicara mengenai pendidikan di negara ini, kita memang sering kali menjumpai jalan buntu. Banyak pertanyaan yang muncul di benak kita. Kenapa pendidikan di negara kita seakan-akan jalan di tempat, tidak pernah maju. Adakah yang salah dari pendidikan di negara kita? Apakah kurikulumnya, metodenya atau sumber dayanya? Mau dibawa ke mana arah pendidikan di  negara kita ini?

 

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta mencoba menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Sebagai lembaga pendampingan dan pendidikan bagi mahasiswa Kristiani yang bergerak dalam usaha membangun kesadaran sosial mahasiswa terhadap permasalahan dalam masyarakat, Stube HEMAT Yogyakarta memandang permasalahan pendidikan nasional sebagai permasalahan sosial yang penting dipahami dan disadari oleh mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. 

 

 

 

Melalui Program Pelatihan Pendidikan Nasional, Stube HEMAT Yogyakarta mendorong para mahasiswa Kristiani dan Aktivis Pemuda Gereja untuk menempatkan diri dalam masyarakat secara tepat dan dapat memberikan sumbangsih yang nyata dalam menganalisa masalah dan memberi masukan desain pendidikan yang ideal. Dengan tema “Quo Vadis Pendidikan Indonesia? Menggagas Ulang Pendidikan Indonesia” Stube-HEMAT Yogyakarta mencoba membuka wawasan para peserta untuk dapat memahami, menyadari dan menganalisis permasalahan pendidikan di Indonesia.

 

 

 

Bertempat di Wisma Sargede Yogyakarta, Pelatihan Pendidikan Nasional diselenggarakan pada 28 - 30 September 2012. Tiga puluh peserta hadir dan berpartisipasi dalam pelatihan tersebut. Program Pelatihan ini menjadi media bagi para peserta untuk saling bertukar pikiran mengenai masalah pendidikan di Indonesia. Diampu oleh para praktisi pendidikan yang aktif mengkritisi masalah-masalah pendidikan, suasana diskusi bersama tiap sesi pada pelatihan ini menjadi lebih hidup.

 

 

 

Diawali dengan diskusi bersama mengenai pemetaan masalah Pendidikan Indonesia: Sejauh mana pendidikan membentuk karakter bangsa? Diskusi yang diampu oleh Darmaningtyas (Praktisi Bidang Pendidikan) ini berlangsung seru. Darmaningtyas menjelaskan bagaimana reformasi pendidikan nasional baik formal maupun nonformal benar-benar diperlukan untuk membentuk karakter dan kesadaran nasional. Berbagai pertanyaan menarik mewarnai sesi tersebut. “Kerapuhan bangsa tidak disebabkan oleh karena rendahnya kecerdasan bangsa tersebut tapi tidak adanya karakter dan kesadaran nasional”, jelas Darmaningtyas menjawab salah satu pertanyaan peserta pelatihan.

 

 

 

 

 

 

 

 

Lalu bagaimana kondisi Pendidikan di Indonesia saat ini? Rasa ingin tahu para pesertamengenai topik tersebut terjawab dalam sesi diskusi bersama Bambang Wisudo (Direktur Eksekutif Sekolah Tanpa Batas). Dalam sesi ini, para peserta pelatihan diberi gambaran bagaimana kondisi Pendidikan Indonesia saat ini. Melalui visualisasi gambar, peserta dibuka wawasannya mengenai fenomena yang terjadi dalam Pendidikan Indonesia saat ini yaitu sekolah bersifat menakutkan, memenjarakan dan siswa seperti robot berseragam yang harus selalu patuh pada perintah guru. Lebih lanjut Bambang Wisudo menyampaikan bahwa pendidikan tingkat dasar seharusnya dibuat menyenangkan, kemampuan dasar berkomunikasi yaitu mendengarkan, membaca, berbicara dan menulis seharusnya menjadi fokus utama dalam pendidikan dasar.

 

 

 

Pendidikan erat kaitannya dengan Sumber Daya Manusia (SDM). Dalam sesi ini, Ariani Narwastujati, S.S, M.Pd (Direktur Eksekutif Stube-HEMAT) menjelaskan bahwa salah satu aspek yang dapat dilakukan untuk mempersiapkan karakter SDM yang kuat adalah melalui pendidikan. Pertanyaan menarik dari beberapa peserta mewarnai sesi ini. Fenomena yang terjadi saat ini banyak lulusan perguruan tinggi yang belum siap kerja. Aspek Hard Skills dan Soft Skills dalam diri para pencari kerja belum maksimal. Aspek Soft Skills sering menjadi kendala, bagaimana berinteraksi dengan orang lain  dan bekerja sama dengan orang lain menjadi hal penting yang sering terlupakan oleh para pencari kerja. “Meningkatkan aspek Soft Skills dalam diri kita tentunya menjadi hal penting bagi teman-teman calon sarjana ini”, jelas Ariani Narwastujati menjawab pertanyaan peserta pelatihan.

 

 

 

 

 

 

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh pendidikan yang sudah tidak asing di telinga kita. Perjuangannya dalam dunia pendidikan dan nasionalisme kebangsaan dalam dirinya selalu menginspirasi generasi muda. Belajar dan terus menggali tentang Konsep Pendidikan Ki Hajar Dewantara menjadi salah satu harapan para peserta pelatihan. Bersama  Prof. Dr. Ki Supriyoko, M.Pd, para peserta dibuka wawasannya mengenai pemikiran-pemikiran Ki HajarDewantara, salah satunya yaitu pendidikan untuk rakyat banyak, artinya mengutamakan pemerataan pendidikan tanpa harus meninggalkan atau mengorbankan mutunya.

 

 

 

 

 

 

Rangkaian acara Pelatihan Pendidikan Nasional semakin lengkap dengan hadirnya Wahyaningsih (Penggagas Sanggar Anak Alam). Dalam sesi Desain Pendidikan Sanggar Anak Alam (SALAM) ini, Wahyaningsih menjelaskan bahwa Sanggar Anak Alam adalah Sekolah Alternatif bagi anak-anak dengan dasar kecintaan pada alam. Hal yang menarik dari desain pendidikan SALAM adalah proses belajar mengajar di SALAM dan kurikulum yang lebih berfokus pada perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup dan sosial budaya.

 

 

 

Selain SALAM, sekolah formal yang memiliki desain pendidikan yang unik adalah SD Mangunan. Bersama Prasena Nawak Santi (Tim DED) dan Kartika  Kirana (Pengelola SD Mangunan), peserta pelatihan belajar tentang bagaimana desain pendidikan di SD Mangunan. Proses belajar di SD Mangunan berfokus untuk mengasah daya eksploratif, kreatif, integral dan komunikatif anak. Kurikulum yang digunakan sesuai kurikulum nasional, namun ada penambahan beberapa mata pelajaran yang khas yaitu Musik Pendidikan, Majalah Meja Komunikasi Iman,  Membaca Buku Bagus dan Kotak Pertanyaan.

 

 

 

 

 

Desain pendidikan SALAM dan SD Mangunan menginspirasi para peserta pelatihan untuk dapat mendesain pendidikan yang ideal dalam bentuk follow up pelatihan. Follow up pelatihan berupa sebuah rencana aksi ke masyarakat dengan materi yang sudah didapat selama proses pelatihan pendidikan nasional. Beberapa peserta ada yang berencana memperbaharui kurikulum sekolah minggu di gereja masing-masing sehingga lebih menarik, membuka sanggar belajar untuk mendampingi anak-anak belajar di sekitar tempat kosnya dan belajar membuat Media Blog bagi yang tertarik menulis tentang seputar permasalahan Pendidikan Nasional. Meski sederhana, hal tersebut merupakan aksi nyata untuk berkontribusi dalam pendidikan. ***


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 20 September 2012
oleh adminstube
Eksposur Stube-HEMAT Yogyakarta
Agustus – September 2012
 
 
 
Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar. Hampir semua pelajar di Indonesia ingin melanjutkan belajar mereka di kota ini, namun hanya sebagian kecil yang mampu mewujudkannya. Berbagai keuntungan yang ada antara lain pilihan lembaga pendidikan yang sangat beragam, fasilitas penunjang pendidikan yang lengkap, suasana kota yang nyaman untuk menimba ilmu serta biaya hidup yang relatif murah menjadi daya tarik bagi mereka.
 

 

 
Stube-HEMAT Yogyakarta berinisiatif memberi kesempatan kepada mahasiswa dan pemuda dari Sumba untuk belajar di Yogyakarta. Dengan membawa ke Yogyakarta tentu memberi pengalaman yang menarik karena mereka melihat perbedaan-perbedaan yang ada dan mempelajari banyak hal yang tentunya baru.
 
Mereka adalah Yonatan Kura (23) dan Henggu Hama Pati (23) mahasiswa STIE Kriswina Waingapu, Angraini Warata (21) dan Marselina Loda Ana Amah (22) keduanya dari STT GKS Lewa, serta Antonius Karepi Andung (22) pemuda GKS Kanjonga Bakul, Apriajes Lay (23) pemuda GKS Mauhau.
 
 
Selama 3 minggu, dari 29 Agustus – 18 September 2012 mereka berada di berbagai lokasi untuk belajar dan mengasah keterampilan yang nantinya dikembangkan di Sumba, antara lain di Yayasan Sahabat Gloria belajar mengenai lele kolam terpal, pupuk pokcing dan sayuran organik. Di Sahabat Bambu, didampingi oleh Indra Setiadharma mempelajari teknik pengawetan bambu. Dan masih berkaitan dengan bambu, di Karti Aji, Minggir, Sleman para pemuda ini belajar menganyam bambu menjadi beraneka ragam bentuk dan fungsi.
 
 
Sedangkan di Samas mereka belajar pertanian memanfaatkan lahan pasir kepada Pak Subandi, seorang pioner dalam Pertanian Lahan Pasir Samas. Selain itu, mereka dibekali dengan kemampuan mengolah makanan berbahan dasar lokal seperti tepung MOCAF, tepung ketan dan tepung pisang menjadi kue bolu dan bermacam kue kering.
 
 
Sebagai pelengkap kunjungan belajar di Yogyakarta, mereka mengunjungi kawasan wisata Malioboro, Candi Borobudur, Kebun Binatang Gembira Loka dan Komunitas Belajar Sanggar Anak Alam serta pengalaman baru naik kereta api.
 
 
Harapan kegiatan ini sangat jelas, yaitu supaya mereka mengalami pencerahan dan terbukanya pikiran serta keberanian mengambil peluang pengembangan di Sumba, seperti yang diungkapkan oleh salah satu peserta, Antonius “Sebelum mengikuti Stube tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi setelah mengikuti, jadi tahu apa yang bisa dilakukan, misalnya pupuk organik untuk lahan pertanian, bambu yang punya banyak kegunaaan seperti untuk kerajinan dan kursi, dan masih banyak hal lagi yang semuanya itu nanti akan dibagikan kepada teman-teman dan masyarakat.” (TRU).
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 15 Agustus 2012
oleh adminstube
PROGRAM MANAJEMEN KONFLIK

 

Ayo Beraksi dengan Bermediasi!!

 

Wisma PGK Shanti Dharma Yogyakarta

 

10 - 12 Agustus 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia adalah negara yang memiliki keberagaman budaya, agama, dan suku. Keberagaman inilah yang menjadi sebuah celah terjadinya konflik, baik konflik budaya maupun konflik agama. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan orang-orang yang tergerak untuk menjadi duta damai dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi duta damai dalam kehidupan sehari-hari adalah kerinduan para peserta Pelatihan Manajemen Konflik Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

 

 

Bertempat di Wisma Santi Dharma Yogyakarta, pelatihan dilaksanakan pada 10 - 12 Agustus 2012. Para peserta pelatihan adalah mahasiswa-mahasiswi Kristiani dari berbagai daerah yang menyelesaikan studi di Yogyakarta. Keberagaman suku dan budaya antara para peserta menambah semarak dan semangat tiap sesi pelatihan tersebut. Dengan tema: Ayo Beraksi dengan Bermediasi, Stube-HEMAT Yogyakarta membekali para peserta menjadi pelaku perdamaian dan membentuk komunitas Peace Building. Dapat melahirkan mediator-mediator yang cerdas ketika terlibat dalam penyelesaian konflik dan mampu menganalisa potensi konflik yang akan terjadi adalah harapan Stube-HEMAT Yogyakarta dalam penyelenggaraan pelatihan tersebut.

 

 

 

 

 

Endah Setyowati dari Pusat Studi Pengembangan Perdamaian (PSPP) UKDW, mengawali pelatihan tersebut dengan menjelaskan mengenai bagaimana proses terjadinya konflik. Para peserta pelatihan dibuka wawasannya bahwa konflik tidak hanya menimbulkan dampak negatif, tapi juga dapat berdampak positif dalam kehidupan kita. Dalam sesi ini peserta juga diajak untuk melakukan tes untuk mengetahui kecenderungan seseorang ketika terjadi konflik apakah akan cenderung menghindar, menghadapi, mengalah atau justru segera ingin menyelesaikan.

 

 

 

 

 

 

Keingintahuan peserta mengenai bagaimana proses penyelesaian konflik terjawab dengan hadirnya Dra. Krisni Noor Patrianti, M.Hum dari PSPP UKDW. Konflik dapat diselesaikan dengan koersi, mediasi, arbitrasi dan negosiasi. Koersi adalah proses penyelesaian konflik ketika ada dua pihak yang berkonflik ternyata ada satu pihak yang memutuskan solusinya. Ketika dua pihak berkonflik, ada pihak ke tiga yang memfasilitasi proses penyelesaian konflik disebut mediasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Arbitrasi adalah proses penyelesaian konflik ketika ada dua pihak yang berkonflik dan sama-sama kuat mencari pihak ke tiga. Pihak ke tiga yang membuat solusi. Karena pihak yang berkonflik sudah menyerahkan solusinya kepada pihak ke tiga. Sedangkan, ketika dua pihak berkonflik, posisinya setara, membicarakan masalah bersama untuk mencari pilihan-pilihan solusi disebut negosiasi.
 
Beliau juga menjelaskan beberapa contoh kasus model penyelesaian konflik. Misalnya, kasus Di Ambon pasca konflik tahun 2001. “UKDW diundang UNICEF untuk membantu memediasi konflik di sana. Kurikulum pendidikan di sana juga pemicu konflik. Pembuatan kurikulum didasarkan pengkotak-kotakan agama” jelas Dra. Krisni Noor Patrianti, M.Hum menjawab pertanyaan peserta pelatihan.
 

 

 

 

 

 

 

 

 

Puncak rangkaian Pelatihan Manajemen Konflik adalah pada sesi terakhir yaitu sesi Spiritualitas Perdamaian. Dalam sesi tersebut, Pdt. Mathelda Yeanne Tadu, S.Si. mengajak para peserta memasuki saat hening, merefleksikan apa yang didapatkan dari pelatihan dan apa yang akan dilakukan dalam kehidupan sebagai pembawa damai. Dari sesi tersebut, peserta pelatihan menyadari bahwa menjadi duta damai bukan hal yang mudah, pembawa damai bukan tugas sampingan namun merupakan panggilan hidup.

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 9 Agustus 2012
oleh adminstube
FOLLOW-UP PROGRAM WIRAUSAHA

 

Yang Muda Menjadi Wirausaha

 

 

 

SOEBAG’S – Berwirausaha dan Peduli Lingkungan

 

 

 

 

Mendorong generasi muda untuk berwirausaha yang memberdayakan masyarakat dan peduli lingkungan menjadi fokus Stube-HEMAT Yogyakarta dalam setiap Program Kewirausahaan yang terselenggara. Hal tersebut menginspirasi salah satu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta yaitu Kuncoro Adhi Prabowo yang akrab disapa Ecoon. Merintis usaha yang dibangun dengan tujuan pemberdayaan masyarakat dan berupaya untuk terus konsisten terhadap isu-isu lingkungan ditekuninya sejak awal bulan Mei 2012. Bersama Stube-HEMAT Yogyakarta, Ecoon dapat mewujudkan cita-citanya. Melalui Follow-Up Program Kewirausahaan Stube-HEMAT Yogyakarta, Ecoon mendapat peluang untuk merintis usahanya. 

 

 

 

 

Usaha yang dirintisnya diberi nama SOEBAG’S. SOEBAG’S adalah sebuah usaha yang bertujuan memberdayakan masyarakat dan peduli terhadap isu-isu lingkungan. Produk SOEBAG’S adalah tas berbahan sampah visual (bekas spanduk, baliho, neonbox). Dengan membuat produk yang ramah lingkungan yaitu penggunaan tas kantong yang dapat digunakan berkali-kali, secara tidak langsung memanfaatkan bahan-bahan daur ulang. 

 

 

 

Produk ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam membangun karakter masyarakat yang peduli lingkungan. Dalam merintis usahanya, Ecoon bekerjasama dengan Resti yang juga aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta. Investasi alat, pembuatan pola (desain tas), riset bahan, pemetaan segmen pasar dan pemasaran produk dikerjakan bersama-sama. Ecoon berharap rintisan usaha ini tidak hanya berorientasi pada profit, namun juga dapat menjadi media untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap lingkungan dimana kita tinggal. 

 

 

 

CHICKEN BINANGUN- Meretas Asa, Merintis Usaha

 

Siapa yang tidak ingin sukses?? Siapa yang tidak ingin hidup mandiri?? Kehidupan yang sukses dan mandiri di usia muda tentunya menjadi harapan setiap orang. Keinginan untuk sukses dan mandiri juga dirasakan Kurnia Wijaya salah satu mahasiswa IKIP PGRI yang akrab disapa Yanto. Yanto mulai merintis usaha beternak ayam pada awal tahun 2012. Usaha ini pernah dirintis oleh ayah dan ibu Yanto saat Yanto masih kecil. Namun, pada tahun 1998, saat Indonesia dilanda krisis moneter, usaha tersebut gulung tikar. Berkat usaha dan kerja keras Yanto, sekarang Yanto dapat merintis kembali usaha tersebut. Melalui Follow-Up Program Kewirausahaan Stube-HEMAT Yogyakarta, Yanto mendapat peluang untuk merintis usahanya.

 

 

 

Bersama Eddy, salah satu teman yang juga aktivis Stube-Hemat Yogyakarta, Yanto mulai merintis usaha beternak ayam. Pembangunan kandang, pembelian makanan ternak, pembelian dan pemeliharaan ayam mereka kerjakan bersama-sama. “CHICKEN BINANGUN” atau CB, menjadi tag-line untuk usaha yang dirintis Yanto ini. Kata Binangun menjelaskan lokasi usaha ternak ayam ini yaitu berada di Kabupaten Kulonprogo Binangun. Singkatan tag-line tersebut terinspirasi oleh salah satu Girl Band Indonesia yang saat ini sedang melejit namanya yaitu Cherry Belle yang dikenal dengan sebutan CB oleh para penggemarnya. Yanto berharap dengan sebutan CB, usahanya pun juga dapat sukses dan melejit namanya seperti GirlBand Cherry Belle.

 

 

 

Usaha ternak yang diawali pada bulan Mei 2012 ini, sudah menunjukkan hasil yang cukup signifikan. Sekarang, 5 ekor ayam yang dibeli Yanto di awal usahanya sudah menghasilkan 2 buah telur, dan 1 ekor kuthuk. Meskipun diawal usahanya Yanto sempat hampir putus asa, karena saat 1 bulan mulai beternak ayam, kelima ekor ayamnya tersebut belum ada yang bertelur. Bersama Eddy, Yanto membeli buku –buku tentang cara-cara beternak ayam yang efektif. Terus belajar tak kenal lelah dan terus bersabar ternyata mebuahkan hasil. Akhirnya 2 ekor ayam ternaknya menetaskan telur. Yanto pun semakin bersemangat merintis usahanya. Ia yakin suatu saat usahanya akan sukses, harapan menjadi pribadi yang lebih mandiri dan dapat meringankan beban orang tua diyakini Yanto akan terwujud. 

 

 

 

Gengsi Hilang, Sukses pun Menjulang

 

Muda, sukses, dan mandiri adalah impian setiap orang. Seperti halnya Yanto, Frida salah satu peserta Program Kewirausahaan Stube-HEMAT Yogyakarta juga merasakan hal yang sama. Berwirausaha menjadi angan-angannya untuk mewujudkan hidup mandiri dan sukses. Bersama Stube-HEMAT Yogyakarta, Frida dapat mewujudkan angan-angannya. Melalui Follow-Up Program Kewirausahaan Stube-HEMAT Yogyakarta, Frida mendapat peluang untuk merintis usahanya.

 

 

 

Berjualan snack di kampus menjadi pilihan Frida untuk mulai merintis usahanya. Frida yang saat ini menempuh studi di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jurusan BK ini, melihat kesulitan yang dialami teman-teman dan para dosen saat jam istirahat ingin membeli snack. Lokasi kelas-kelas di jurusan BK terlalu jauh dengan lokasi kantin kampus. Terkadang teman-teman atau pun dosen mengurungkan niat untuk membeli makanan di kantin karena waktu yang sangat mepet dan lokasi kantin yang jauh.

 

 

 

Dengan berjualan snack di kampus, teman-teman Frida dan para dosen tidak harus membeli snack di kantin kampus yang jaraknya cukup jauh. Frida memasarkan aneka snack dan jajanan di dekat kelas-kelas dan kantor para dosennya. Sebuah kotak box besar berisi beraneka snack dan jajanan selalu menemani Frida saat berjualan snack di kampusnya. Para dosen dan teman-temannya pun senang dengan usaha yang dirintis Frida. Rasa gengsi karena “berjualan” di kampus tidak ada di benaknya. Sikap optimis Frida untuk meringankan beban orang tua dengan berwirausaha menjadi inspirasi generasi muda agar dapat mandiri dan sukses dalam hidupnya. 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 5 Juni 2012
oleh adminstube
P R O G R A M   B A M B U

 

Bamboo: The Hidden Treasure

 

Wisma Shanti Dharma, 1 - 3 Juni 2012

 

 

 

 

 

Rasa ingin tahu untuk mengenal bambu tidak akan ada habisnya karena bambu seperti harta karun terpendam, memiliki manfaat luar biasa. Kesadaran akan manfaat bambu tersebut dirasakan oleh para peserta Program Pelatihan Bambu Stube-HEMAT Yogyakarta. Bertempat di Wisma Shanti Dharma Yogyakarta, pelatihan ini berlangsung pada tanggal 1 - 3 Juni 2012. Dengan tema: Bamboo: The Hidden Treasure, Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak para peserta pelatihan untuk menyadari potensi bambu yang luar biasa. 

 

 

 

 

 

Para peserta pelatihan dibuka wawasannya bagaimana pemanfaatan potensi bambu di Indonesia, teknologi pengolahan dan pengawetan bambu juga berwirausaha bambu. 

 

 

 

 

 

 

Diawali dengan penjelasan mengenai bambu dan potensinya oleh Indra Setiadharma (Sahabat Bambu), peserta pelatihan mulai mengenal berbagai jenis bambu. Indra mencoba membuka wawasan para peserta pelatihan mengenai kekayaan spesies bambu di Indonesia dan negara-negara lain.

 

 

 

                                                                          

 


 

 

 

 

Proses belajar menjadi lebih lengkap dengan turun langsung ke lapangan. Pada hari ke-2 pelatihan, peserta melakukan eksposure ke beberapa tempat yaitu Bambu Nusa Verde (Pakem, Sleman), Sahabat Bambu (Kalasan, Sleman), Kerajinan Bambu Karti Aji (Toglengan, Sleman) dan Kerajinan Bambu Karya Manunggal (Cebongan, Sleman). Peserta pelatihan dibagi 2 kelompok. Kelompok pertama melakukan eksposur ke Sahabat Bambu dan Kerajinan Bambu Karya Manunggal. Kelompok kedua melakukan eksposur ke Bambu Nusa Verde dan Kerajinan Bambu Karti Aji.    

 

 

 

Di Sahabat Bambu, peserta pelatihan belajar proses pengawetan bambu. Dipandu oleh Indra Setiadharma (Sahabat Bambu), peserta ikut mempraktekkan salah satu tahapan pengawetan bambu yaitu bambu dibor terlebih dahulu sebelum diawetkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Belajar berwirausaha berbasis bambu di Kerajinan Bambu Karya Manunggal menginspirasi peserta pelatihan untuk mempunyai usaha mandiri dalam bidang kerajinan bambu. Karya Manunggal adalah sebuah bentuk usaha bambu yang berfokus pada pembuatan furniture. Sumarno (Pemilik Kerajinan Bambu Karya Manunggal) menjelaskan bahwa usaha ini sudah dipasarkan di luar Jawa. Bambu yang digunakan dalam pembuatan furniture adalah Bambu Apus, Petung, Tutul dan Wulung. 

 

 
Keinginan untuk mempunyai usaha mandiri dalam bidang kerajinan bambu juga dirasakan peserta pelatihan yang melakukan eksposur ke Kerajinan Bambu Karti Aji. Kerajinan Bambu Karti Aji adalah salah satu sentra kerajinan bambu terkemuka di Yogyakarta yang berawal dari sekelompok ibu yang mendapatkan pelatihan dari dinas Perindustrian DIY pada tahun 1986. Kelompok ibu-ibu di daerah Toglengan, Sleman ini menyukai kegiatan menganyam besek berbahan dasar bambu. Setelah pelatihan, kelompok ini membentuk kelompok pengrajin bambu yang kemudian terus berkembang menjadi sebuah sentra kerajinan bambu.
 
 

 

Di Bambu Nusa Verde peserta pelatihan belajar mengenai proses pembudidayaan tanaman bambu dengan metode kultur jaringan. Bambu Nusa Verde adalah perusahaan yang mengembangkan bioteknologi dan bergerak di bidang budidaya tanaman bambu. Bambu Nusa Verde secara teknis mendapatkan dukungan dari Oprins Plant Belgia.

 

 

 

Keingintahuan peserta pelatihan mengenai bagaimana upaya pelestarian bambu bagi lingkungan terjawab dalam diskusi bersama Ir. Yustinus Suranto, M.Si. (Fak Kehutanan UGM). Peserta dibuka wawasannya mengenai bagaimana budidaya tanaman bambu dalam rangka pelestarian lingkungan. Beliau menjelaskan bagaimana lokasi yang tepat untuk penanaman bambu, selain di daerah aliran sungai, lokasi penanam bambu di sekitar sawah ternyata juga berdampak positif pada kesuburan tanah dan cadangan air.

 

 

 

 

 

 

 

Wawasan peserta pelatihan mengenai bambu semakin kaya dengan hadirnya Ir. Eko Prawoto. M.Arch (Teknik Arsitektur UKDW). Dalam sesi ini, beliau menjelaskan mengenai bagaimana bambu dapat bermanfaat sebagai Konstruksi Arsitektur berbasis lokal dan ramah lingkungan. Berbagai pertanyaan menarik dari peserta mewarnai sesi ini. “Bambu adalah kearifan lokal yang terganjal gengsi. Banyak orang salah persepsi tentang bambu, rumah bambu memiliki citra yang tidak sehat dan miskin. Pada dasarnya, arsitektur rumah bambu memiliki cita rasa seni yang tinggi. Tantangan kita adalah bagaimana mengubah citra bambu tersebut,” jelas Ir. Eko Prawoto, M.Arch menjawab pertanyaan peserta pelatihan.

 

 

 

Setelah proses belajar selama 3 hari mengenai bambu, para peserta mendapat banyak pengetahuan tentang bambu. “Setelah mengenal bambu, apa yang akan kita lakukan?” Pertanyaan dari Trustha Rembaka, S.Th. (Koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta) mewarnai sesi terakhir Pelatihan Bambu tersebut. Dalam sesi Focus Grup Discussion tersebut, peserta diajak untuk berdiskusi mengenai apa tindak lanjut dari pelatihan tersebut.

 

 

Beberapa peserta ingin menulis mengenai bambu dan manfaatnya, beberapa peserta ingin belajar menanam bambu dan beberapa peserta ingin belajar mengenai bagaimana teknik pembuatan kerajinan di Sentra Kerajinan Bambu Karti Aji. Semangat para peserta pelatihan untuk belajar tentang bambu ternyata sangat besar. Terus belajar dan menggali potensi bambu menjadi tindak lanjut para peserta dalam Program Pelatihan Bambu kali ini.**


  Bagikan artikel ini

pada hari Rabu, 30 Mei 2012
oleh adminstube
T O E F L   C L A S S

 

 

 

Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Inggris
Bersama Stube-HEMAT Yogyakarta
Di Aula Yayasan Bopkri, 30 Maret – 30 Mei 2012

 

 

 

 

 

Globalisasi berdampak semakin terbukanya hubungan antar bangsa di segala bidang, terlebih lagi dengan kemajuan teknologi, komunikasi dan informasi. Hal ini menuntut penguasaan bahasa asing untuk komunikasi global. Siapa pun yang mempunyai kunci untuk mempertahankan diri, dia akan mampu bertahan dalam menghadapi kompetisi global. Bahasa asing merupakan salah satu alat komunikasi agar mampu bertahan dalam kompetisi tersebut.

 

 

 

Kesadaran akan pentingnya penguasaan bahasa asing baik Bahasa Inggris maupun bahasa asing lainnya di Era Globalisasi mendorong Stube-HEMAT Yogyakarta membentuk Kelompok Belajar Bahasa Asing. Kelompok Belajar Bahasa Asing tersebut merupakan rangkaian Program Stube-HEMAT Yogyakarta semester III.  

 

 

 

Pada semester III, Program Kelompok Belajar Bahasa Asing Stube-HEMAT Yogyakarta lebih fokus pada persiapan menghadapi TOEFL Test yang mencakup bagaimana teknik penguasaan TOEFL. Peserta dibekali dengan berbagai materi persiapan TOEFL Test seperti reading, listening dan penguasaan vocabular. TOEFL Class yang dibuka merupakan kelas kecil terdiri dari 10 peserta supaya dapat lebih intensif dalam menyerap materi yang disampaikan pembimbing. Bertempat di Aula Yayasan Bopkri Yogyakarta, TOEFL Class diadakan setiap hari Rabu pada pukul 16.00 - 18.00. Proses belajar TOEFL tersebut berlangsung 30 Maret - 30 Mei 2012.

 

 

 

“Belajar Bahasa Inggris itu seperti mengasah pisau. Pisau kalau belum diasah tidak akan tajam, setelah diasah pasti tajam. Meskipun pisau itu kemudian tajam, tapi apabila tidak pernah digunakan juga akan kembali tumpul. Begitu pula belajar Bahasa Inggris, semakin banyak waktu yang digunakan untuk mempelajarinya, maka kemampuan berbahasa Inggris akan semakin baik. Rajin membaca teks, artikel, buku dalam Bahasa Inggris dan sering mempraktekkannya saat berkomunikasi tentunya membuat belajar Bahasa Inggris menjadi lebih mudah”, jelas Ariani Narwastujati (Direktur Eksekutif Stube-HEMAT) di sela-sela proses belajar TOEFL. Para peserta TOEFL Class bersemangat terus meningkatkan kemampuan dalam berbahasa Inggris, terlebih akan mengikuti test TOEFL di Pusat Bahasa Universitas Gadjah Mada. Semoga semua mendapatkan skor yang diinginkan.

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 19 Mei 2012
oleh adminstube
P R O G R A M   B A M B U
 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 18 Mei 2012
oleh adminstube
Diskusi Potensi Bambu dan

 

Konservasi Lingkungan

 

Wisma PU Yogyakarta, 17 Mei 2012

 

  

 

 

 

 

 

 

Kata “Bambu” sudah tidak asing di telinga kita. Bambu sudah sejak lama dimanfaatkan untuk bangunan rumah, berbagai perabotan, alat-alat pertanian, seni dan kerajinan, alat musik, dan makanan. Selain pemanfaatan bambu dalam bidang konstruksi dan usaha mebel, bambu juga dimanfaatkan untuk reboisasi, pelestarian air dan lingkungan. Meskipun bambu memiliki manfaat yang luar biasa, kenyataannya, bambu belum menjadi prioritas untuk dikembangkan oleh penduduk Indonesia.

 

 

 

Mengenal dan menggali lebih dalam tentang Bambu dan permasalahannya di Indonesia menjadi kerinduan mahasiswa-mahasiswi Kristiani yang tergabung dalam peserta Diskusi Bambu dan Konservasi Lingkungan yang dilaksanakan pada 17 Mei 2012 di Wisma PU Yogyakarta. Diskusi Bambu dan Konservasi Lingkungan tersebut merupakan rangkaian Program Pelatihan Bambu Stube Hemat Yogyakarta tahun 2012.

 

 

 

Melalui program ini, Stube-HEMAT Yogyakarta ingin membuka wawasan dan ketrampilan mahasiswa untuk mengelola, memanfaatkan bambu dengan baik serta mampu memetakan permasalahan dan pemanfaatan potensi bambu di Indonesia. Diskusi Bambu yang dihadiri 20 peserta tersebut diawali dengan topik mengenai Bambu dalam Konservasi Lingkungan oleh Herry Subrastowo (Pionir Konservasi Lingkungan). Ia menjelaskan bagaimana merintis Desa Sambak yaitu sebuah desa yang melakukan pemberdayaan masyarakat yang gerakannya fokus pada pengelolaan air bersih dan konservasi lingkungan. Program Konservasi Lingkungan di Desa Sambak tersebut melahirkan Komunitas Pemerhati Bambu. Berbagai pertanyaan menggelitik dan pendapat menarik mewarnai sesi Diskusi Bambu tersebut.

 

 

 

“Komunitas Pemerhati Bambu menggerakkan masyarakat Desa Sambak untuk melihat tanaman Bambu sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu bentuk perhatian komunitas ini terhadap bambu adalah kegiatan komunitas ini dalam bidang kerajinan bambu untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Pemerintah awalnya juga penasaran dengan gerakan yang dilakukan komunitas ini, perangkat pemerintah pun akhirnya turun langsung ke lapangan, melakukan survey dan berdialog langsung dengan anggota komunitas pemerhati bambu tersebut”, jelas Pak Herry menjawab pertanyaan peserta diskusi.

 

 

 

 

 

 

Proses belajar tentang Bambu dan Konservasi Lingkungan semakin lengkap dengan hadirnya Indra Setiadarma dari Komunitas Sahabat Bambu (Praktisi Bambu). Mas Indra mencoba membuka wawasan para peserta diskusi mengenai kekayaan spesies bambu di Indonesia dan negara-negara lain. Mas Indra juga menjelaskan bagaimana cara melestarikan dan mengelola bambu.

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 5 Mei 2012
oleh adminstube
Program Wirausaha dan
Bisnis Kreatif

 

 

 

 

 

 

 

Ayo Teman2 Stube-HEMAT

 

ikut pelatihan Wirausaha dan Bisnis Kreatif....

 

(info lengkap ada di poster yaaaaa....)

 

 

 

Latar Belakang

 

Dewasa ini generasi muda memiliki potensi untuk berkembang optimal di berbagai aspek kehidupan. Berkembangnya potensi ini sangat didukung oleh adanya kemajuan teknologi dan informasi.

 

 

 

Peluang yang bagus ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh generasi muda demi menjawab berbagai tantangan zaman. Sebagai contoh, tingginya biaya pendidikan, terbatasnya peluang kerja yang tersedia, tingginya pengangguran di Indonesia, dan sebaran perekonomian antar daerah yang tidak merata dan hanya terpusat di pusat-pusat kota.

 

 

 

Menjawab permasalahan di atas, sejak dari awal generasi muda perlu dibangun kesadarannya untuk menjadi mandiri, dan diasah kemampuannya sehingga mampu ‘survive’ dari tantangan-tantangan yang ada. Kemandirian generasi muda tentu menjadi modal kuat untuk menjadi jawaban atas tantangan yang dihadapinya.

 

 

 

Salah satu cara untuk membangun kemandirian generasi muda adalah dengan menumbuhkan semangat kewirausahaan. Dalam kewirausahaan seseorang dibekali kemampuan untuk melihat potensi, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada. Sehingga ia mampu melihat kelebihan dan kekurangan yang ada dalam dirinya, dan menjawab tantangan-tantangan yang ada. Bahkan lebih dari itu, keberhasilannya membangun kemandirian berupa wirausaha itu dibarengi dengan usaha-usaha pemberdayaan masyarakat sebagai wujud kepedulian kepada sesama dan lingkungan sekitarnya.

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 22 April 2012
oleh adminstube

Follow-Up Program Capacity Building

Workshop Biopori “LOVE OUR EARTH”
STAK Marturia, 21 April 2012
 
 
Sebagai Follow Up Program Capacity Building Stube-HEMAT Yogyakarta tahun 2012, Kelompok Biopori Stube-HEMAT Yogyakarta bekerja sama dengan STAK Marturia mengadakan Workshop Biopori dengan tema “Love Our Earth”. Bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April, Workshop Biopori tersebut dilaksanakan pada Sabtu, 21 April 2012 di STAK Marturia Yogyakarta.
 
Tujuan Workshop Biopori ini adalah dapat meningkatkan kemampuan para peserta workshop dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan. Sebagai sumber daya alam, sumber daya air mempunyai peranan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk hidup. Permasalahan air, baik itu dari segi jumlah maupun kualitasnya hampir selalu dihadapi di setiap wilayah. Air tanah sebagai bagian dari sumber daya air juga menghadapi permasalahan serupa.
 
Biopori sebagai teknologi tepat guna untuk konservasi air bawah tanah dapat mengatasi permasalahan tersebut. Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Dengan tema “Love Our Earth” Kelompok Biopori Stube-HEMAT Yogyakarta yaitu Stenly (STTL), Herman (STTL), Frida (USD), Yeru (UKDW) dan Daniel (STAK Marturia) mengajak para pemuda-pemudi Kristiani untuk lebih peduli, mencintai dan menjaga lingkungannya.
 
Acara Workshop Biopori tersebut dimulai pada pukul 13.00 WIB. 20 peserta hadir dalam workshop tersebut. Ana Ximenes (STTL) sebagai pembicara sesi 1 memaparkan mengenai pentingnya konservasi tanah dan biopori. Konservasi tanah sebagai upaya untuk mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak. Biopori sebagai salah satu metode konservasi memiliki manfaat diantaranya mengurangi resiko banjir di musim hujan, memaksimalkan peran dan aktivitas flora fauna tanah juga mencegah terjadinya erosi tanah dan bencana tanah longsor. 
 
 
Penjelasan mengenai bagaimana pemasangan dan pemeliharaan Biopori dipaparkan oleh pembicara pada sesi 2, yaitu Ricky R.P. Lawoliyo (STTL). Pada pukul 16.00, Workshop Biopori dilanjutkan dengan praktek pembuatan biopori di halaman Kampus STAK Marturia oleh para peserta workshop dan kelompok Biopori Stube-HEMAT Yogyakarta. Para peserta workshop dibagi menjadi 5 kelompok. Setiap kelompok membuat 2 Lubang Resapan Biopori (LRB).
 
 
Acara Workshop Biopori berakhir pada pukul 18.00 WIB. Para peserta berhasil membuat 10 LRB di halaman Kampus STAK Marturia Yogyakarta. Senyum kelegaan menghiasi wajah para peserta workshop. “Senang, bisa dapat ilmu dan bisa praktek langsung membuat biopori, terimakasih Stube-HEMAT!” kata Yanto salah satu peserta workshop saat menyampaikan kesan dan pesan tentang Acara Workshop Biopori tersebut. Hal senada juga diungkapkan Sinta salah satu peserta workshop, “Bisa dapat ilmu, puas sekali, tapi waktunya kurang lama, untuk praktek pembuatannya masih agak bingung, semoga ada pelatihan lagi”.
 
 

 

Kelompok Biopori Stube-HEMAT Yogyakarta yang diwakili oleh Daniel menyampaikan bahwa Program Workshop Biopori ini tidak sampai di sini saja karena Stube-HEMAT Yogyakarta akan terus melakukan pendampingan untuk teman-teman yang masih ingin belajar tentang Biopori.
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Senin, 12 Maret 2012
oleh adminstube
Festival Foto “Coz I Care”
9 – 10 Maret 2012, di Atrium Gedung Agape
 
UKDW Yogyakarta
 
 
Stube-HEMAT Yogyakarta bekerjasama dengan Pokja Theologi UKDW mengadakan Festival Fotografi dengan tema “Coz I Care” pada 9 - 10 Maret 2012 di Atrium Gedung Agape UKDW Yogyakarta. Festival Fotografi ini bertujuan untuk menggali potensi-potensi aktivis pemuda Gereja dan mahasiswa/mahasiswi Kristiani di bidang Fotografi. Dengan tema “Coz I Care” Stube-HEMAT Yogyakarta mengajak aktivis pemuda gereja dan mahasiswa/mahasiswi Kristiani untuk peduli terhadap masalah-masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar kita.
 
Foto-foto dalam festival fotografi ini berupa foto yang mengandung nilai-nilai sosial dan perhatian terhadap lingkungan. Rangkaian Acara Festival Foto bertajuk “Coz I Care” tersebut dimulai dengan Pameran Foto hasil karya peserta pada 9 Maret 2012 pukul 10.00 - 15.00. Sejumlah 100 foto hasil karya peserta mendukung Pameran Foto di Atrium Gedung Agape UKDW Yogyakarta tersebut.
 
Rangkaian Acara Festival Foto “Coz I Care” dilanjutkan dengan Diskusi Foto pada 10 Maret 2012 di Atrium Gedung Agape UKDW Yogyakarta. Dr. Kees De Jong (Praktisi di bidang Foto Jurnalistik) sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, memaparkan tentang Etika dalam dunia Fotografi. Beliau memaparkan bahwa melalui foto-foto kita dapat menjelaskan kenyataan sosial atau sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kekuatan dari foto-foto itu dapat menimbulkan kepedulian sosial, dalam arti mengundang reaksi publik yang melihat foto tersebut.
 
 
Peserta juga diajak memahami bagaimana foto dapat menunjukkan kepedulian sosial sampai pada bagaimana orang memberikan penilaian terhadap foto. Setiap orang dapat memberikan penilaian yang berbeda antara satu dengan yang lainnya terhadap sebuah foto. Acara Diskusi Foto dimulai pada pukul 13.00 – 14.30, dihadiri oleh para peserta festival foto dan peminat foto.

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 18 Februari 2012
oleh adminstube
 
 
PROGRAM CAPACITY BUILDING
Eksposur Kiat Esemka
Ajang Peningkatan Kapasitas Mahasiswa
Stube-HEMAT Yogyakarta

Bukan latah dalam eforia mobil nasional apabila mahasiswa yang tergabung dalam lembaga Stube-HEMAT, sebuah wadah yang memfasilitasi mahasiswa dengan program-program pendampingan mahasiswa yang berorientasi untuk memahami dan memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun, bersemangat berkunjung ke Solo dan belajar mengenai perintisan mobil nasional ini. Di tengah kehausan akan keberpihakan pada potensi lokal yang dimiliki serta tuntutan bagi semua orang untuk terus menerus meningkatkan potensi diri, sebanyak 20 mahasiswa yang datang dari berbagai daerah di Indonesia ini mencoba menggali informasi dari para aktor pelaku yang terlibat langsung.
 
Proses belajar diawali dari kantor Walikota Surakarta dan berlanjut di Kiat Motor Klaten pada 16 Februari 2012. Meskipun sayang sekali tidak berhasil bertemu dengan branding-icon mobnas, Joko Widodo, mahasiswa terpaksa puas berdialog dengan asisten administrasi Joko Pangarso bersama beberapa anggota Komisi 3 DPRD Lampung Tengah mengenai perkembangan Kota Solo, strategi pembangunan, pemberantasan kemiskinan, peningkatan kesejahteraan masyarakat, pemasukan asli daerah dan sedikit tentang mobnas.
 
“Ada TPKD, yakni tim pengendali kemiskinan daerah yang membidangi permasalahan kemiskinan di kota ini. Tim tersebut diantaranya Bidang Kesehatan dan Pendidikan dalam bentuk bantuan kesehatan dan pendidikan masyarakat Surakarta. Dinas-dinas teknis dalam melakukan pengentasan kemiskinan adalah penataan lingkungan kumuh dan pemberdayaan masyarakat kecil,” jelas Joko Pangarso menjawab pertanyaan mahasiswa. “Satpol PP kami tidak dilengkapi dengan penthung dan benda-benda yang menyulut kekerasan, tetapi dengan kalimat-kalimat halus untuk merelokasi PKL, komunikasi dan dialog karena pasar tradisional merupakan aset penting kota Surakarta.” Joko Pangarso mengakui bahwa mobnas saat ini dalam tahap branding yang masih perlu ditunjang dengan manajemen produk dan konsumen salah satunya dengan menetapkan mobil ini sebagai mobil dinas.
 
Pertemuan dengan Bachruddin Sukiat dikenal dengan Pak Kiat, di Kiat Motor Klaten menjadi pelengkap proses belajar memahami bagaimana seseorang mengembangkan potensi diri. Pembawaannya yang sederhana, ramah dan komunikatif, membuat para mahasiswa Stube tercengang-cengang dengan kisahnya yang sungguh inspiratif untuk selalu haus berbuat baik bagi bangsa, “Saya hanya sebagai pembuka ‘pintu’ dan nanti generasi mudalah yang diharapkan meneruskan dan terus menyempurnakan,” paparnya dengan berfilosofi niteni, artinya mengamati, nirokke yang berarti menduplikasi secara lebih kreatif dan inovatif menurut ilmunya masing-masing, dan nambahi artinya modifikasi.
 
 
Belajar dari perjalanan kehidupan Pak Kiat dan bagaimana strategi pembangunan Kota Surakarta, membuat mahasiswa Stube lebih bersemangat meningkatkan kapasitas diri di tengah era globalisasi yang menuntut mahasiswa meng-upgrade diri terus-menerus dan berusaha jangan sampai menjadi budak di negeri sendiri. (KUN)
 

  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook