pada hari Senin, 28 November 2016
oleh adminstube
Lembaga Pemasyarakatan,
Antara Harapan dan Kenyataan
Minggu, 27 November 2016 di Sekretariat
Stube-HEMAT Yogyakarta
 
Diskusi lanjutan pada hari Minggu 27 November 2016 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta, masih mengangkat topik Hak Asasi Manusia yang selalu menjadi diskusi menarik karena berkaitan dengan banyak hal, berbagai perspektif dan pemahaman, terlebih topik ini bersangkut paut dengan manusia dan kemanusiaan.

Dua fasilitator berpengalaman di bidangnya diundang untuk berbagi cerita dan pengalaman. Pertama adalah Eko Prasetyo, SH, aktivis Social Movement Institute (SMI), pegiat Hak Asasi Manusia dan penulis buku. Berikutnya, Edy Warsono, SH, yang bertugas di bidang Pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan. Enam belas mahasiswa dari berbagai kampus ikut ambil bagian dalam diskusi ini. Mereka ingin tahu lebih dalam tentang dinamika pelaksanaan HAM saat ini, bagaimana kehidupan di dalam lembaga pemasyarakatan dan apa saja yang dialami oleh para penjaga penjara.
 
Eko Prasetyo, SH, menjadi fasilitator pertama dalam diskusi ini. Ia mengungkapkan ciri khusus HAM, seperti 1) Hakiki, bahwa hak asasi manusia adalah hak asasi semua umat manusia yang ada pada mereka sejak lahir, 2) Universal, bahwa hak asasi manusia berlaku untuk semua orang tanpa memandang status, suku bangsa, gender atau perbedaan lainnya. Memang, persamaan adalah salah satu dari ide-ide hak asasi manusia yang mendasar, 3) Tak dapat dicabut, artinya hak asasi manusia tidak dapat dicabut atau diserahkan, dan 4) Tak dapat dibagi, bahwa semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah hak sipil dan politik, atau hak-hak ekonomi, sosial dan budaya.

Kehadiran Edy Warsono, SH dari LP Batu Nusakambangan memancing rasa ingin tahu peserta yang sebagian besar mahasiswa. Ketika mendengar istilah ‘Nusakambangan’ imaginasi peserta langsung mengarah pada penjara, narapidana, pulau misterius dan menakutkan. Ini tidak salah karena sejak 1908 Belanda menetapkan Nusakambangan sebagai ‘poelaoe boei’ (pulau bui). LP Batu sendiri termasuk lembaga pemasyarakatan tingkat pengamanan tinggi (SMS-Super Maximum Security) karena di dalamnya berisi narapidana yang mendapat hukuman berat dan beresiko tinggi seperti subversif, narkoba, teroris, politik dan pembunuhan. Edy Warsono bertugas sebagai Pembina Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas I Batu Nusakambangan dan ini menuntutnya selalu berinteraksi dengan setiap narapidana yang ada di LP tersebut. Berkaitan pembinaan narapidana, ia merujuk pada pendapat Dr. Saharjo, tokoh perintis sistem pemasyarakatan dan menteri Kehakiman Indonesia, ‘Narapidana adalah orang tersesat, mempunyai waktu untuk bertobat, pertobatan tidak dapat dicapai dengan penyiksaan, melainkan dengan bimbingan,’ yang disampaikan saat penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa di Universitas Indonesia tahun 1963.

 
Salah seorang peserta diskusi, Danial H Banju, mahasiswa APMD bercerita bahwa ia membaca di media massa, narapidana yang telah bebas terkadang melakukan kejahatan lagi, apakah di LP tidak ada pembinaan? Edy Warsono menjawab, “Ada pembinaan terhadap WBP dan ini dilakukan demi peningkatan kualitas warga binaan agar menyadari kesalahannya, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana sehingga dapat diterima kembali oleh lingkungan masyarakat, berperan aktif dalam pembangunan dan hidup secara wajar sebagai warga yang baik dan bertanggung jawab. Namun, masyarakat belum bisa menerima kembali warga binaan yang telah bebas. Hal ini menyakitkan bagi mereka. Sehingga pembinaan WBP juga melibatkan masyarakat, seperti acara ini. Masyarakat perlu tahu apa yang terjadi di dalam LP dan instrospeksi untuk bisa menerima kembali warga binaan yang telah bebas,” ungkapnya.
 

Ia berharap pemerintah lebih memperhatikan keberadaan Lembaga Pemasyarakatan, karena kenyataannya jumlah narapidana melebihi kapasitas LP. Jumlah penjaga tidak sebanding dengan jumlah narapidana sehingga hal ini sebenarnya beresiko tinggi bagi kehidupan penjaga dan pegawai LP. Namun pada kenyataannya dengan pengetatan belanja negara, operasional LP juga mengalami pemangkasan. Ia juga mendorong mahasiswa menyadarkan masyarakat untuk mau menerima kembali warga binaan yang telah bebas, sehingga mereka memiliki optimisme untuk menjalani kehidupan dengan baik. (TRU).

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 20 November 2016
oleh adminstube
H A K   A S A S I   M A N U S I A   ( H A M )

 

Hak-hak Anak

 

 

 

 

 

 

Ada rasa penasaran ketika sebuah diskusi tentang hak-hak anak sebagai bagian dari Hak Asasi Manusia (HAM) disampaikan dengan metode bermain peran atau dramatisasi. Mengapa dilakukan dengan metode seperti itu, bagaimana cara dialognya, apa saja yang dilakukan dan berbagai pertanyaan lainnya.

 

 

 

Sesuatu hal yang berbeda tentu akan menjadi daya tarik suatu kegiatan. Ini yang mendorong belasan mahasiswa mengikuti diskusi yang diadakan di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta pada hari Sabtu, 19 November 2016. Kegiatan diskusi ini merupakan bagian pertama dari rangkaian kegiatan dalam program Hak Asasi Manusia.

 

 

 

Ariani Narwastujati, S.Pd., S.S. M.Pd, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT menyampaikan materi tentang Hak Asasi Manusia, khususnya hak-hak anak. Ia cukup akrab dengan topik ini karena pernah mengikuti diskusi serupa di Stube Nord, Jerman. Selain itu, ia juga menjadi Sekretaris Kampung Ramah Anak di Nyutran, Yogyakarta.

 

 

 

Di awal diskusi Ariani mengajak peserta untuk berlatih olah nafas dan ekspresi. Dua hal ini merupakan unsur penting dikuasai oleh seseorang untuk bermain peran. Kemampuan olah pernafasan yang baik akan sangat membantu dalam bermain peran, karena seni peran membutuhkan energi untuk bersuara dan bergerak. Kemampuan ekspresi pun tak kalah penting karena ekspresi yang tepat akan memperkuat pesan yang disampaikan.

 

 

 

Masing-masing peserta memilih hak yang akan mereka perjuangkan dan kemudian berlatih menyuarakan hak-hak yang diperjuangkan disertai ekspresi. Ternyata, tidak semua peserta bisa berekspresi dengan bebas, sebagian lain masih canggung dan perlu belajar lagi mengasah kemampuan ekspresinya.

 

 

 

 

 

 

Selanjutnya di dalam kelompok, peserta mempersiapkan drama singkat menyuarakan hak-hak anak. Grup pertama mencipta lagu pendek yang berisi ajakan untuk menghargai hak-hak orang lain. Grup berikutnya mengkreasi ulang lagu yang berisi pesan memenuhi hak-hak anak. Grup ketiga dengan drama menampilkan potret keluarga kecil di pedalaman Kalimantan Barat yang mengalami keterbatasan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

 

 

Dalam paparannya Ariani mengungkap bahwa hak-hak anak sebenarnya telah ada sejak anak dalam kandungan, sejak terjadi konsepsi. Hak-hak anak ini dirangkum dalam beberapa kelompok, di antaranya: hak sipil dan kebebasan, lingkungan dan pengasuhan, kesehatan dan kesejahteraan, pendidikan dan waktu luang dan perlindungan khusus. Salah astu contoh pemenuhan hak anak adalah seorang anak memiliki akta kelahiran.

 

 

 

Mengenai HAM di Indonesia sendiri, meskipun hak asasi manusia sudah dideklarasikan sejak tahun 1948, pemerintah Indonesia baru mewujudkan dalam sebuah Undang-undang pada tahun 1999. Dalam deklarasi HAM memuat 30 pasal yang menjamin hak bagi setiap manusia.

 

 

 

 

 

 

Di akhir acara beberapa peserta mengungkapkan sesuatu yang mereka dapatkan, seperti “Melalui diskusi ini, terjawab semua pertanyaan saya karena saya bercita-cita menjadi seorang pembela atas hak anak dan perempuan”, ungkap Angelicha. Hal senada diungkapkan Marno Lejap, seorang mahasiswa dari Lembata, “Setelah mengetahui bahwa Indonesia sangat tertinggal dari dunia internasional tentang hak anak, maka inspirasi saya adalah bahwa kampung ramah anak memang perlu diterapkan di daerah saya (di Lembata, NTT).”


 

 

Kegiatan lanjutan dari program Hak Asasi Manusia adalah diskusi mendengar pengalaman seorang yang bertugas di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Batu, Nusakambangan dan pelatihan serta kunjungan belajar bersama masyarakat Sedulur Sikep di Pati, Jawa Tengah.

 

 

Selamat berproses mengenali diri, sesama dan hak asasi manusia, teman-teman muda. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 18 November 2016
oleh adminstube
PROGRAM HAK ASASI MANUSIA
 
 
 
Sebuah kesempatan baik untuk rekan-rekan mahasiswa belajar HAM (Hak Asasi Manusia). Tidak hanya mendalami pengetahuan dan memperjuangkan hak diri dan orang lain tetapi juga berproses mengenali diri dan memiliki sikap hidup yang mantap melalui interaksi dengan sesama.
 
Ini agendanya:


Diskusi Awal: Hak-hak Anak
Sabtu, 19 November 2016
Pukul 10.00 – 13.00 WIB
Di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta
 
 
Diskusi dan Sarasehan:

 

Minggu, 27 November 2016

 

Pukul 09.30 - 13.00

 

Di Sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta.

 

bersama
Eko Prasetyo, SH (Social Movement Institute)
Edy Warsono, SH (LP Batu, Nusakambangan)

Pelatihan:
Jumat - Sabtu, 2 - 3 Desember 2016

 

Mulai pukul 16.00 WIB

 

Di Hotel Cailendra Ekstension, Nyutran, Yogyakarta

 

 

 

Live In:

 

Sabtu - MInggu, 3 - 4 Desember 2016
Di Sukolilo, Pati, Jawa Tengah
Bersama Komunitas Sedulur Sikep

 

 
 
Segera hubungi:

 

Team Stube-HEMAT Yogyakarta

 

Trustha 0813 9277 2211

  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 17 November 2016
oleh adminstube
Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya

 

Menyemai Perdamaian Merajut Ke-Bhinneka-an

 



Memiliki keragaman suku bangsa, bahasa, budaya dan agama merupakan kekayaan yang tak ternilai dan perlu terus dipertahankan oleh Indonesia. Namun demikian, keragaman ini bukan tanpa tantangan karena dengan berkembangnya budaya populer, konsumerisme, hedonisme dan fanatisme sempit menjadi tantangan bangsa ini. Selain itu ketidakpedulian terhadap lingkungan ikut ambil bagian di dalamnya.

Kenyataan ini harus disadari oleh seluruh elemen anak bangsa. Salah satu cara dalam memelihara keragaman dan kekayaan ini melalui kebersamaan menggelorakan semangat multikultur melalui karya nyata yang diwujudkan dalam acara Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya.


Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai wadah pendampingan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia ikut ambil bagian dalam acara Apel Kebangsaan Kaum Muda Multikultur di Alun-Alun Klaten, Indonesia Interreligious Carnival dari Alun-Alun sampai Monumen Juang 45 Klaten, dengan mengutus satu grup ke-Bhinneka-an dalam karnaval yang mengawali acara tersebut dua hari sebelumnya.

 

 

 

Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya 2016 diselenggarakan oleh Forum Kebersamaan Umat Beriman Klaten dan diadakan di Rumah Retreat Panti Semedi Klaten 14 – 16 November 2016 bertema Menyemai Perdamaian dan Merajut Ke-Bhinneka-an untuk Indonesia yang Semakin Beradab dan Berkeadilan melalui Kearifan Budaya Lokal. Acara ini diikuti peserta dari jaringan lintas iman yang berasal dari berbagai kabupaten dan kota dari sembilan propinsi di Indonesia. Mereka terdiri dari anak muda dan dewasa, santri, anak muda Katholik dan Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu dan penghayat Kepercayaan. Para pendeta, romo pastor, ulama dan bhikkhu terlibat aktif di dalamnya, juga tak ketinggalan tokoh-tokoh dan aktivis kemanusiaan, lingkungan dan kerukunan dan perdamaian serta berbagai komunitas lainnya. Stube HEMAT Yogyakarta mengutus Trustha Rembaka, koordinator Jogja dan Sarloce Apang, salah satu tim kerja untuk menghadiri pertemuan tersebut.

 

 

 

Dalam refleksi bertema Menyemai Perdamaian di Tengah Perkembangan Gerakan Multikultural melalui Kearifan Budaya Lokal dalam Rajutan Ke-Bhinneka-an, Letkol Caj. Drs. Anak Agung Ketut Darmaja (Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Jawa Tengah) menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara digali dari nilai-nilai lokal bangsa Indonesia. Itulah bukti pentingnya keseimbangan pemahaman iman dan pemahaman kebangsaan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

 

Dr. Prajarta dari Yayasan PERCIK mengungkapkan bahwa pengalaman otentik seseorang ketika berinteraksi dengan orang lain, khususnya yang berbeda latar belakang akan membentuk sikap dan cara pandangnya terhadap keberagaman. Saat ini telah terjadi kapling-kapling berdasar agama bahkan sudah terjadi sejak anak-anak di sekolah-sekolah.

 

 

 

Romo Aloysius Budi Purnomo, Pr (ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang) menyampaikan pengalamannya berinteraksi lintas iman dan budaya, khususnya di kawasan Jawa Tengah. Ia berpendapat bahwa setiap orang harus ‘melek terhadap agama lain,’ artinya dalam menyikapi keberagaman harus dilandasi pikiran positif dan dalam tindakannya menyentuh sampai pada grass-root, tidak hanya pada tataran pengurus atau berhenti dalam forum saja.

 

 

 

Pdt. Penrad Siagian, Sekretaris Eksekutif Bidang Kesaksian dan Keutuhan Ciptaan PGI, memaparkan fenomena sekarang ketika seseorang melihat agama lain dari sudut pandang agamanya, sehingga mudah baginya untuk menilai agama lain itu ‘kafir.’ Negara harus tegas terhadap gerakan-gerakan intoleran dan negara harus bertindak nyata untuk menegakkan regulasi yang ada. Selain itu, Pdt Penrad juga mengingatkan berkembangnya teknologi memudahkan isu trans-nasional mempengaruhi relasi interaksi antar agama di Indonesia. Karena itu penguatan nilai-nilai lokal perlu dilakukan secara berkelanjutan.

 

 

 

KH Imam Aziz, ketua bidang Kebudayaan dan Hubungan antar Umat Beragama PBNU  mengingatkan kita semua untuk kembali pada kesalehan pribadi yang diwujudkan dalam kehidupan, diawali dari dalam keluarga. Kesalehan akan tampak ketika ada kesesuaian antara perkataan dan perbuatan. Hal penting lainnya menurut beliau adalah bersih diri, mengakui keberadaan orang lain (sesama) dan berkontribusi untuk masyarakat.

 

 

 

Di sesi reflektif bertema Menjaga Kelestarian Alam melalui Kearifan Lokal untuk Menjaga Bumi sebagai Rumah Bersama bagi Semua Makhluk, pengasuh Padepokan Agung Sanghyang Jati, Bhante Dhamma Tejo Thera mengungkapkan bahwa manusia harus kembali pada pepatah Eling lan Waspada, bahwa manusia bertanggungjawab atas kelestarian semesta dan seisinya, jika manusia tidak bisa menjaganya, maka alam menyeimbangkan dirinya sendiri, dan manusia menganggap itu sebagai bencana. Pengalaman beliau ketika pertama datang ke Gunung Selok di Cilacap, tempat itu gersang. Beliau menginisiasi penanaman ribuan mahoni dan perlahan namun pasti tempat itu kembali menghijau dan menarik untuk dikunjungi.

 

 

 

Muhammad Al-Fayyadl, aktivis muda yang lahir di Paiton Jawa Timur menyampaikan Islam dan ekologi, berefleksi dengan pertanyaan, apakah kita memiliki hubungan dengan alam? Bagaimana hubungan kita dengan alam? Hal ini menjadi menarik karena kita diajak untuk merenungkan kembali antara kita dan alam apakah eksploitatif atau saling bergantung (melestarikan). Ia juga mengingatkan kekayaan alam yang ada di Indonesia dalam pemanfaatannya jangan sampai membawa bencana dan masyarakat tidak sejahtera.

 

Di akhir acara ini peserta bersafari ziarah ke makam tokoh spiritual berbagai agama seperti makam Pandanaran, gua Maria Marganingsih dan candi Prambanan sebagai wujud kebersamaan dan mengenal relasi antar iman. Indonesia, tetaplah ber-Bhinneka Tunggal Ika. (TRU)


  Bagikan artikel ini

pada hari Minggu, 13 November 2016
oleh adminstube
PARTISIPASI STUBE-HEMAT YOGYAKARTA
Karnaval Lintas Iman dan Budaya
Klaten, 12 November 2016
 
 
Keberagaman budaya dan agama yang ada di Indonesia merupakan kekayaan dan kenyataan yang harus disikapi secara sadar dan penuh ucapan syukur. Sikap ini harus terus ada dalam setiap benak anak bangsa sepanjang perjalanan bangsa Indonesia.
 
Demikian pula Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani yang sedang studi di Yogyakarta menyadari bahwa di dalam lembaga ini juga memiliki keberagaman baik itu latar belakang mahasiswa, asal daerah dan budayanya. Partisipasi Stube-HEMAT Yogyakarta dalam karnaval yang diadakan pada hari Sabtu 12 November 2016 adalah wujud tindak lanjut program Multikultur dan Dialog Antara Agama yang diadakan beberapa waktu lalu, khususnya dalam kerjasama dengan Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten.


Stube-HEMAT Yogyakarta mengirim delegasi yang berjumlah dua puluh orang dan menggunakan pakaian tradisional dari daerah mereka masing-masing, seperti Nias, Lembata, Sumba Timur, Bajawa, Sumatera Utara, Sumba Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Sumba Barat Daya, Alor, Halmahera, Manggarai dan Timor Leste. Keterlibatan para mahasiswa dalam karnaval ini membantu mahasiswa tumbuh kesadaran dirinya bahwa mereka hidup di tengah keberagaman yang ada di bumi Indonesia dan muncul kepercayaan dirinya untuk berinteraksi aktif dalam merawat keberagaman di masyarakat.

Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi bagian dari ribuan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia seperti kelompok keagamaan, penghayat kepercayaan dan organisasi dari Nahdlatul Ulama Klaten, Paroki-paroki gereja Katholik, Komunitas olahraga di Klaten, Banser, kelompok tari topeng ireng Magelang, Fatayat NU, anak muda Gereja-gereja Kristen Jawa di Klaten, NU Pasuruan Jawa Timur, anak muda Buddha, kelompok seni Reog, berbagai komunitas anak muda, Pondok Pesantren, pemuda gereja Kristen Indonesia, anak muda Hindu, FKUB Lampung bahkan utusan dari Gereja Masehi Injili Bolaang Mongondow (GMIBM), Sulawesi Utara.

 

 

 

Rangkaian karnaval diawali dengan apel kebangsaan kaum muda multikultur di Alun-alun Klaten. Semua peserta menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan dilanjutkan mengucapkan Ikrar Kebangsaan Kaum Muda Multikultur yang isinya bersyukur atas rahmat keberagaman sebagai karunia kekayaan nusantara, setia membangun semangat kebersamaan, kekeluargaan dan perdamaian dengan karya nyata, mengakrabi perkembangan teknologi dengan penuh tanggung jawab untuk mewujudkan nilai-nilai kebaikan, dari Klaten untuk Indonesia. Selanjutnya Gus Jazuli Kasmani, salah satu pengurus Forum Kebersamaan Umat Beriman (FKUB Kebersamaan) Klaten menyampaikan salam dari perwakilan enam agama dan penghayat kepercayaan dan dilanjutkan doa pembukaan karnaval.
 

 

Karnaval menempuh rute dari alun-alun Klaten menuju Monumen Juang 45. Beragam kreasi seni dan budaya dari berbagai agama dan etnis itu disuguhkan dalam suatu rangkaian bernuansa keberagaman dalam kedamaian. Masyarakat Klaten dan sekitarnya pun antusias menyaksikan karnaval dan berbagai atraksi yang ditampilkan. Tak sedikit yang merekam dan berfoto bersama peserta kontingen karnaval.
 
"Karnaval lintas iman dan budaya itu akan diselenggarakan tiap tahun untuk memperingati Hari Toleransi Sedunia yang diperingati setiap tanggal 16 November," ungkap Gus Jazuli Kasmani.


 
Keunikan yang ditampilkan kontingen Stube-HEMAT Yogyakarta dengan pakaian tradisional dari beberapa daerah di Indonesia mengundang rasa ingin tahun dari beberapa orang dan mengajak berdialog dan berfoto bersama. Nyatalah adanya bahwa keberagaman itu memang indah. Syukurilah dan rawatlah keberagaman di Indonesia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 5 November 2016
oleh adminstube
Merawat Ke-Bhinneka-an Tunggal Ika

 

 

 

 

 

Berpikir global disertai tindakan nyata dan sederhana pada tataran lokal menjadi semangat banyak orang dan lembaga dalam mengaktualisasikan diri. Semangat ini mengikis wacana dan pola pemikiran kolot yang terkungkung pada pemahaman diri sendiri. Berpikir global membuat pikiran terbuka dan tidak merasa benar sendiri. Selanjutnya pikiran global ini dipakai untuk mendasari tindakan sederhana pada tataran lokal, dengan kata lain, orang-orang dapat beraksi nyata di lingkungannya. Berpikir global dan bertindak lokal menjadi penting karena membuat pikiran semakin bijak dan tidak cepat tersulut api provokasi.Stube-HEMAT dengan jejaring global terus berupaya bekerja berdasar isu yang berkembang pada tingkatan global dan nasional.

 

 

 

Forum komunikasi Guru dan dosen Lintas Agama Yogjakarta menjadi salah satu bentuk aksi nyata menjawab kebutuhan lokal. Sabtu, 5 November 2016, Sartana, M.Pd, koordinator Forum mengeluarkan undangan terbuka bagi siapa saja yang bersedia hadir dan diunggah di media sosial oleh seorang pengajar dan dosen, Subkhi Ridho.  Acara bertempat di SMA PIRI, Jl. Kemuning No. 14, Baciro, Yogyakarta, berlangsung mulai pukul 14.00 WIB dan dihadiri oleh 15 orang yang terdiri dari guru, dosen, dan aktifis mahasiswa.

 

 

 

Forum ini membahas beberapa agenda yang layak untuk direnungkan bersama seperti; Pola pemikiran masyarakat yang sebagian masih mudah tersulut berita provokatif, Perselisihan di tengah masyarakat, serta Metode apa yang bisa dilakukan untuk tetap merawat ke-Bhinneka-an.

 

 

 

Berita provokatif memang sengaja diunggah dan disebarkan oleh pihak-pihak tertentu untuk memancing kemarahan publik. Tidak jarang publik terpancing dan menjadi benci satu sama lain, marah dan kemudian menularkan kebencian kepada yang lain. Namun demikian masih ada rasa optimis bahwa tidak semua orang dapat terprovokasi dan masih banyak kelompok masyarakat yang cerdas menanggapi setiap berita dengan melakukan cek dan ricek.

 

 

 

Diakui dalam forum tersebut bahwa masyarakat terdiri dari berbagai lapisan yang memiliki perbedaan pandangan dan pemikiran. Kondisi semacam ini rawan perpecahan. Sekarang ini masyarakat harus dididik untuk sadar bahwa perbedaan itu bukanlah musuh. Perbedaan ajaran baik internal (satu agama) maupun eksternal (beda agama) adalah hal biasa. Tak kalah menariknya bahwa satu agamapun terdiri dari beragam pandangan.

 

 

 

Merawat ke-Bhineka-an rupanya bukan dengan memihak salah satu kelompok namun mengarahkan yang baik berdasarkan konstitusi dan hukum. Perbedaan dan kesenjangan bukanlah alasan untuk memusuhi. Masing-masing yang hadir kemudian bersepakat untuk memulai cara baru menabur kebaikan dengan media apa pun dan kapan pun. Yang penting sekarang adalah menabur kebaikan dan tidak memusuhi siapapun. Kita semua adalah saudara.

 

 

Demikian hasil diskusi Forum komunikasi Guru dan dosen Lintas Agama Yogyakarta. Masing-masing pihak dan lembaga ditantang berkreasi menemukan metode baru untuk memupuk toleransi dan solidaritas masyarakat. (YDA).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook