Mewujudkan ‘Be Yourself’

pada hari Minggu, 30 Oktober 2022
oleh Koordinator Stube HEMAT wilayah Yogyakarta
Oleh: Koordinator Stube HEMAT wilayah Yogyakarta.          

 

Be Yourself, ini ungkapan sederhana, mudah diucapkan tetapi kenyataanya tidak mudah dilakukan, bahkan oleh mahasiswa. Menjadi diri sendiri atau Be Yourself itu tidak mudah, karena perlu waktu panjang dan bukan sesuatu instan yang terwujud dalam semalam. Kata-kata ini menjadi pengantar Trustha Rembaka, dari Stube HEMAT Yogyakarta dalam kegiatan Masa Pembimbingan anggota baru PMKRI Yogyakarta (29/10/2022). Keterlibatan di kegiatan ini merupakan komitmen Stube HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa dan pengembangan SDM, dalam upaya peningkatan kapasitas mahasiswa dan penguatan jejaring antar lembaga mahasiswa.

 

 

Trustha mengawali sesi ini dengan membagi dua puluhan mahasiswa ke dalam kelompok untuk memperkenalkan diri dan menceritakan potensi diri mereka. Beberapa dari mereka berasal dari Nusa Tenggara Timur, Papua Barat, Papua, Sumatera, Maluku, Kalimantan dan Sulawesi. Setiap orang dituntut menjadi diri sendiri dengan segala kekurangan dan kekuatan, sekaligus menjadi jawaban untuk sesama. Namun, tidak setiap orang mudah menjadi diri sendiri, karena ada beragam faktor yang mempengaruhi bahkan dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga, pendidikan dan masyarakat. Bisa jadi mereka tidak secara langsung mengajarkan bagaimana menjadi diri sendiri, tetapi tidak bisa dihindari kadang muncul ucapan-ucapan yang merendahkan, membuat pesimis dan menyangsikan. Akibatnya, muncul rasa minder, membandingkan diri dengan orang lain dan takut terhadap ‘apa kata orang’ yang memicu penolakan terhadap keadaan dirinya.

 

Bertitik tolak dari Kitab Suci dari Kejadian 1:31 Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Peserta mengingat kembali dan meyakini bahwa keberadaan diri mereka sangat baik dan mestinya tidak ada keraguan bahwa diri mereka memiliki keistimewaan. Ada tahapan untuk menjadi diri sendiri, antara lain 1) mengenal diri dan menerima keadaan diri, kemudian menemukan kekuatan diri mereka dan mengekspresikannya, dalam hal ini seseorang bisa mengetahuinya dengan mengikuti tes kepribadian dan meminta feedback dari orang lain yang terpercaya. 2) Mengidentifikasi persepsi negatif tentang diri sendiri dan menghilangkannya, kemudian ganti dengan kata-kata positif dan membangun optimisme. 3) Melakukan hal-hal baik yang menjadi panggilan hati dan mengerjakannya dengan penuh kesungguhan. 4) tidak mudah menyerah atau tangguh akan tantangan yang muncul karena jalan keluar selalu ada.

 

 

Dikaitkan dengan nilai-nilai PMKRI tentang kepedulian pada sesama, kemanusiaan dan universalitas, Trustha mengingatkan Kembali kata-kata Mother Teresa tentang “Tetaplah di tempatmu. Temukan Kalkuta-mu sendiri. Temukan yang sakit, yang menderita, dan yang kesepian, tepat di mana kamu berada, di rumahmu sendiri dan di keluargamu sendiri, di rumah dan di tempat kerjamu dan di sekolahmu. Kamu bisa menemukan Calcutta di seluruh dunia jika kamu memiliki mata untuk melihat. Ke mana pun, ke mana pun kamu pergi, kamu menemukan orang-orang yang tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak diperhatikan, ditolak begitu saja oleh masyarakat, benar-benar dilupakan, benar-benar ditinggalkan sendirian.” Pesan ini mengingatkan peserta untuk menjadi diri sendiri melalui aktualisasi diri yang menjawab realita yang terjadi di sekitar mereka.

 

Selanjutnya, sebagai aktualisasi diri, peserta diminta mencoba menghubungkan diri mereka dan pengetahuan yang mereka pelajari di kampus dengan orang-orang yang mengalami kesulitan. Beberapa peserta mencoba mengungkapkannya, seperti Jefri dari Manggarai yang kuliah hukum akan membantu edukasi hukum untuk masyarakat, misalnya membuat pengaduan hukum ke kepolisian, dan Meri, mahasiswa dari Sorong akan membantu anak-anak di kampung halamannya belajar membaca dan menulis. Pendekatan ini menjadi terapan praktis bagi mahasiswa dengan ilmu yang mereka pelajari memiliki keterhubungan dengan realita yang ada di masyarakat, dimana konsep ini selaras dengan visi Stube HEMAt terwujudnya kesadaran khususnya anak muda dan mahasiswa untuk memahami masalah di sekitarnya. Jadilah mahasiswa yang menjadi diri sendiri melalui aktualisasi diri. ***

 


  Bagikan artikel ini

Mampu Berkomunikasi dan Menemukan Solusi

pada hari Senin, 24 Oktober 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) OSIS SMA BOPKRI Banguntapan

 

Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

Apyang sebenarnya diharapkan dalam kepemimpinan? Seorang pemimpin yang baik? Bertanggungjawab? Ya, tentu saja itu yang menjadi harapan setiap orang, baik yang dipimpin maupun yang memimpin. Setiap orang berusaha mencari pengalaman bagaimana menjadi pemimpin yang baik untuk sebuah organisasi. Menjadi pemimpin adalah tugas mulia karena menjadi contoh sekaligus sosok yang mendorong anggotanya melakukan kebaikan dan berdampak positif bagi organisasi dan masyarakat.

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta ‘concern’ pada pengembangan sumber daya manusia, dan mendorong anak muda menjadi pemimpin yang berdampak positif bagi masyarakat. Dalam kesempatan ini Stube HEMAT Yogyakarta mendampingi pengurus OSIS SMA BOPKRI Banguntapan dalam Latihan Dasar Kepemimpinan, di Joglo Pasinaon, Kalasan, Sleman (Sabtu22/10/2022). Ada 25 siswa dan beberapa guru berpartisipasi dalam kegiatan untuk membentuk jiwa kepemimpinan pengurus OSIS yang terpilih.

 

 

 

 

Di awal sesi, para peserta mengenal Stube HEMAT program melalui link YouTube Stube HEMAT Videos. Selanjutnya, Kresensia Risna Efrieno, salah satu team Stube HEMAT Yogyakarta memandu peserta dalam Dinamika Kelompok. Peserta dibagi kedalam tiga kelompok dan masing-masing menentukan seorang pemimpin. Para pemimpin tersebut diminta membayangkan suatu gambar dan menggoreskan garis di kertas dan dilarang menyebutkan gambar imajinasi ke anggotanya. Selanjutnya, anggota kelompok meneruskan goresan yang ada. Di akhir proses ternyata gambar berbeda dengan imajinasi para pemimpin. Mengapa bisa terjadi? Karena pemimpin tidak mengungkapkan apa yang menjadi impiannya dan anggota menebak gambar apa yang dipikirkan sang pemimpin. Aktivitas ini mengajarkan bagaimana seorang pemimpin dan anggotanya untuk bisa saling mengkomunikasikan ide dan menjaga kekompakan kelompok untuk mencapai tujuan, dalam hal ini OSIS.

 

 

 

 

Dalam sesi berikutnya, Trustha Rembaka, S.Th koordinator Stube HEMAT Yogyakarta mengundang peserta untuk membaca komitmen peserta bahwa LDK ini “...melahirkan seorang pemimpin yang berdedikasi tinggi, tanggap terhadap suatu permasalahan memang tidak mudah. Bukan hanya kecakapan dan kecerdasan yang diperlukan, tetapi rasa tanggung jawab, peka terhadap situasi dan memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi agar nantinya ketika menjadi pemimpin mampu mengayomi yang dipimpinnya.” Trustha membantu kelompok memetakan tantangan yang dihadapi SMA BOBAYO. Proses ini membantu pengurus OSIS mengidentifkasi tantangan yang ada dan menemukan solusi yang bisa mereka lakukan sebagai program kegiatan OSIS. Satu kelompok menemukan jumlah siswa sekolah masih sedikit, sehingga mereka akan mempromosikan sekolah melalui podcast tentang kegiatan sekolah, siswa dan keberhasilannya, tour vocal group di gereja-gereja, dan mengadakan lomba antar siswa SMP. Kelompok berikutnya mengungkapkan keterbatasan kemampuan siswa di pelajaran tertentu maupun keterampilan yang dimiliki. Dari identifikasi ini mereka membuat kelompok kecil untuk membantu siswa yang kesulitan pelajaran, misalnya Matematika dan belajar alat musik.

 

 

Para peserta menunjukkan antusiasme ketika mendapat ruang mengungkapkan pendapat dan mengusulkan ide sebagai solusi dari masalah-masalah yang dihadapi. Di titik ini sudah muncul karakter kepemimpinan yang baik, komunikatif, dan kerjasama yang baik dalam organisasi. Harapannya gagasan dan solusi yang ditawarkan bisa menjadi program kerja pengurus OSIS SMA BOPKRI Banguntapan. VIVA BOBAYO***

 


  Bagikan artikel ini

Pancasila Di Tengah Generasi Milenial dan Zillenial

pada hari Minggu, 23 Oktober 2022
oleh Sarlota Wantaar
Oleh Sarlota Wantaar,          

 

Globalisasi yang terjadi seiring kemajuan teknologi yang pesat melahirkan istilah untuk membedakan generasi satu dengan yang lain, dari baby-boomers ke milenial dan zillenial dengan perbedaan pola pikir. Generasi milenial dan zillenial tentunya akan sangat berpengaruh untuk menghidupkan dinamikan demokrasi di Indonesia. Topik ini dibahas pada seminar Perhimpunan Warga Pancasila (PWP) Yogyakarta tentang “Generasi Milennial & Zillennial dalam Dinamika Politik Menjelang Pemilu” secara offline di Mlati, Sleman, Yogyakarta dan online di Zoom dan YouTube (Sabtu, 22/10/2022)Peserta berasal dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dari beberapa kampus di Yogyakarta dan lembaga-lembaga sosial, seperti Stube HEMAT Yogyakarta yang mengakomodir mahasiswa mengikuti kegiatan ini sebagai bagian untuk mempersiapkan anak muda menyambut tahun politik Indonesia dan pemilu 2024.

 

Dalam kegiatan ini, Prof. Dr. Nindyo Pramono, S.H., M.S., selaku penasehat PWP mengungkapkan bahwa perhimpunan ini muncul karena kepedulian atas ideologi Pancasila yang terancam luntur di tengah kemajuan jamanDiharapankan perhimpunan ini dapat mengingatkan kembali Pancasila sebagai ideologi bangsa yang mampu mempersatukan anak-anak bangsa yang memiliki berbagai kepercayaan, budaya dan golongan yang berbeda. Selanjutnya, Prof. Dr. Irwan Abdullahketua PWP mengatakan bahwa generasi milenial yang dilahirkan dalam peradaban baru dalam kemajuan teknologi membuat suasana sosial dan politik yang sangat berbeda, untuk itu perlu membangun sumber daya manusia sebagai kunci yang menentukan arah masa depan. Jadi, perlu ada edukasi tentang keamanan informasi, teknologi informasi dan politik.

 

 

 

Brigjenpol Dr. Andry Wibowo, S.IK, M.H, M.SI., kepala Badan Intelijen Daerah Istimewa Yogyakarta selaku keynote speaker’ menyampaikan bahwa berbicara tentang Pancasila, maka kita harus melihat ruang waktu dan kemudian memaknai dan melakukan sebuah re-imajinasi perjalanan para konseptor kebangsaan  yang kemudian sampai pada titik pemahaman dimana kita menemukan sebuah norma dasar dari sebuah konsensus kita memandang Indonesia, yaitu Pancasila. Ia juga mengatakan bahwa dalam masyarakat yang multikultural mestinya mempunyai satu salam yang dapat mewakili seluruh elemen yang ada.

 

Kemudian, Danang Giri Sadewa, pengamat muda, mengungkapkan data pengguna media sosial terbesar adalah WhatsApp, diikuti media sosial lainnya. Generasi milenial menggunakan media sosial selain untuk berkomunikasi juga untuk berpolitik. Sementara itu Bambang Sigap, seorang wartawan senior, mengatakan bahwa berdasarkan data survei Kompas, partisipasi generasi muda yang bergabung dalam organisasi politik sangat rendah bahkan tidak pernah sama sekali, namun ketika ada pemilu, partisipasi mereka cenderung sangat tinggi. Bukan itu saja, ternyata generasi muda saat ini merindukan pemimpin yang tegas, kapabel, merakyat, aksi nyata, adil, dan jujur. Selanjutnya, Dr. Pratama Persadhaseorang pakar keamanan Cyber dan Direktur CISSReC mengatakan bahwa banyak berita-berita hoax tersebar di media sosial sehingga perlu teliti membaca berita atau informasi, kemudian mengecek kebenarannya. Ia menambahkan tips melawan hoax, yaitu hati-hati dengan berita provokatif, cermat terhadap alamat situs dan menutup browser jika menemukan nama situs yang mencurigakan, periksa fakta baik di media sosial maupun di website pemerintah dan masyarakat, atau bergabung di komunitas anti hoax.

 

Diskusi ini menghasilkan pemikiran bagaimana memanfaatkan teknologi untuk berpolitik di era teknologi. Partisipasi apa yang bisa diberikan oleh kaum milenial, apakah hanya sensasi atau mencari keuntungan? Kaum milenial dan zillenial diharapkan memanfaatkan media sosial dan perkembangan teknologi untuk menjaga solidaritas, demokrasi politik , selalu mempertahankan nilai-nilai Pancasila.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2023 (37)
 2022 (41)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 626

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook