Dunia Pendidikan Merespon Teknologi Maju, Sudah Siapkah?

pada hari Sabtu, 30 April 2022
oleh Kresensia Risna Efrieno
Oleh Kresensia Risna Efrieno.          

 

Siapa yang tidak mengenal teknologi? Teknologi sudah merebak di seluruh dunia termasuk Indonesia. Tidak bisa dipungkiri kehidupan manusia berkaitan erat dengan teknologi, termasuk dunia pendidikan. Apakah kehadiran teknologi ini sebuah kabar baik, atau tantangan? Pernahkah berpikir bahwa isu ini penting? Bagaimanakah kondisi pendidikan kita dengan hadirnya teknologi ini? Oleh karenanya Stube HEMAT mengajak anak muda khususnya mahasiswa di Yogyakarta peka isu ini.

 

 

Stube HEMAT sebagai sebuah lembaga pendampingan mahasiswa mengadakan pelatihan dalam program Pendidikan Era Teknologi Maju: Jangan Biarkan Seorang Pun Terbelakang untuk menantang mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia lebih peka terhadap isu-isu pendidikan di Indonesia yang berkutat dengan kebijakan pendidikan yang sering berubah, pencarian kurikulum yang ideal, kesenjangan akses dan fasilitas, biaya yang kian tak terjangkau dan kualitas SDM pendidik bertempat di Wisma Pojok Indah (Sabtu, 30/04/2022).

Dalam pengantar acara, Pdt. Bambang Sumbodo, M.Min, Board Stube HEMAT mengingatkan peserta tentang kisah Alfred Dreyfus, perwira Prancis yang menjadi korban ketidakadilan karena dianggap pengkhianat dengan memberikan informasi ke pihak lawan. Ketika ia ditetapkan bersalah sepertinya itu adalah upaya untuk penegakan kebenaran tetapi kebenaran yang dimaksud adalah bukan kebenaran secara jernih. “Tantangan di dunia keilmuan sekarang adalah mengedepankan kebenaran rasional karena belum tentu kebenaran itu benar adanya,” ungkapnya. “Jadilah anak muda yang menggunakan akal sehat dalam hal apapun, cerdik seperti ular tetapi tulus seperti merpati, jangan mudah menjadi sumbu pendek,” lanjutnya.

 

 

Di sesi selanjutnya peserta mendalami dasar-dasar Filsafat pendidikan bersama Yoel Yoga Dwiyanto, S.Th, salah satu team Stube HEMAT Yogyakarta. “Pendidikan tidak akan ada jika tidak ada manusia, dan seiring berjalannya waktu pendidikan akan selalu berubah-ubah,” ungkapnyaPara peserta sangat antusias dalam mencari jawaban seperti apa filsafat pendidikan dan aliran filsafat pendidikan secara berkelompok dan selanjutnya mereka mempresentasikan aliran-aliran filsafat pendidikan, yaitu Idealisme (pendidikan membantu perkembangan pemikiran dan diri pribadi, karena bakat manusia berbeda-beda, maka pendidikan yang diberikan harus sesuai dengan bakat masing-masing untuk mengembangkan rasio dan moral). Realisme (pendidikan membentuk setiap individu menjadi apa yang dipandang baik sehingga pendidikan yang diberikan terhadap subjek terdidik tak beda dengan robot yang taat dan patuh). Pragmatisme (pendidikan mendasarkan bahwa subjek bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman. Setiap subjek adalah individu yang mengalami, sehingga mereka berkembang dan memiliki inisiatif untuk bertindak). Progresivisme (pendidikan untuk melatih kemampuan berpikir dengan penerapan cara yang bebas, analisisa, ilmiah, alamiah, dan pertimbangan agar menghasilkan pemikiran yang maju). Esensialisme (pendidikan yang mengagungkan kebudayaan masa lalu yang memiliki kejelasan nilai dan sudah teruji agar memberikan kestabilan). Perenialisme (pendidikan yang mampu membangkitkan kemampuan berpikir secara konstruktif untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi). Eksistensialisme (pendidikan mendorong setiap individu mengembangkan semua potensinya secara kontinyu sampai kepenuhan diri dan kesadaran penuh untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa dilakukan). Rekonstruksianisme (pendidikan yang menuntun jiwa manusia mengerti tata kehidupan yang rasional untuk memikirkan apa yang perlu diubah untuk masa depan). Dari pendalaman mengenai aliran-aliran filsafat di atas ternyata berpengaruh terhadap praktek pendidikan sampai saat ini.

 

 

Berkaitan topik Pendidikan di Era Teknologi Dema Mathias Lumban Tobing, M.Kom, yang sering dipanggil Dema memaparkan tema ‘Your Digital Life’. Dengan skill teknologi informasi, komputer, gamer dan game developer, Dema menjelaskan kehadiran teknologi yang semakin tahun semakin naik bahkan melebihi otak manusia. “Tantangan kita di zaman sekarang adalah bukan antar manusia tetapi, manusia dengan komputer. Lalu apa yang terjadi jika otak manusia tidak mengikuti zaman? tantangnya kepada peserta. Ia juga mengingatkan pekerjaan yang terancam punah. Selain itu, peserta juga mendapat pengalaman bagaimana memanfaatkan gadget yang dimiliki agar lebih produktif. Beberapa peserta menceritakan bagaimana planning-nya ke depan untuk memanfaatkan gadget dengan latar belakang mereka masing-masing.

 

 

Kehadiran teknologi yang semakin pesat di dunia pendidikan menjadi sesuatu tidak bisa dipungkiri. Artinya tahun bergantiperubahan akan terus terjadi dan manusia akan berjalan beriringan dengan perubahan termasuk hadirnya teknologi. Sebagai anak muda harus memanfaatkan gadget atau teknologi yang dimiliki untuk karir dan masa depan yang lebih baik.***


  Bagikan artikel ini

Menyeberang, Berbagi dan Belajar

pada hari Rabu, 27 April 2022
oleh Antonia Maria Oy
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung.      

 

Oleh: Antonia Maria Oy.         

 

 

Terpilih menjadi peserta Local Exposure ke provinsi Lampung di pulau Sumatera, merupakan berkat Tuhan yang sangat berharga dan menjadi tantangan bagi seorang mahasiswa seperti saya. Ini pertama kali saya mengunjungi suatu daerah yang sama sekali asing karena belum mengenal karakteristik masyarakatnya. Di satu sisi, ini merupakan kebanggaan karena bisa belajar hal-hal baru dan menambah daftar pulau-pulau di Indonesia yang saya kunjungi! Namun, di sisi lain, ini menjadi tantangan karena Lampung dan masyarakatnya mempunyai budaya dan kebiasaan yang berbeda dengan saya yang berasal dari Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

 

 

Selama dua minggu di bulan April, saya berusaha sebaik-baiknya membagikan pengetahuan dan keterampilan kepada anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari, Lampung Timur, yang berusia di bawah 19 tahun. Karakteristik anak muda di satu wilayah sangat berbeda dengan wilayah lainnya. Anak muda di daerah asal saya belum memiliki dan tidak terbiasa menggunakan ponsel pintar, sedangkan hampir semua anak muda di Pondok Diakonia memiliki ponsel pintar, bahkan sejak SD. Ini mempengaruhi pengetahuan dan wawasan mereka tentang ‘dunia luar’ karena dengan mudah menemukan sesuatu yang sedang ‘trend’ di dunia maya atau mempelajari hal baru yang mereka minati. Di Lampung saya membagikan keterampilan berbicara di depan publik, tips memimpin acara, teknik merekam dan mengedit video dan mengolah coklat batangan menjadi beragam bentuk (emoticon, figur kartun, miniatur topeng) yang bisa dijual.

 

 

Dari pengalaman ini saya menemukan beberapa hal sebagai refleksi mahasiswa, pertama, pentingnya edukasi penggunaan media sosial sejak dini. Waktu ke waktu, arus perkembangan teknologi berjalan cepat seiring dengan banyaknya informasi yang beredar dan sulit dibatasi. Bersamaan munculnya hal-hal negatif yang beredar di linimasa media sosial (TikTok, Instagram, Facebook) yang mempengaruhi watak, sifat dan sikap remaja. Remaja perlu mendapat bekal untuk mampu menyaring tontonan dan bacaan yang sesuai dengan usia mereka agar tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif.

Kedua, pentingnya menanamkan skill atau keterampilan dasar kepada anak muda sebagai bekal untuk menjalani hidup. Saya menemukan bahwa orang muda di program multiplikasi Lampung potensial dengan passion untuk mengembangkan diri, seperti menjadi penulis, pemandu acara, orator dan lainnya. Mereka bisa meraihnya jika mendapat pendamping untuk mengembangkan potensi mereka. Menurut pendapat saya, hal inilah yang harus terus-menerus dilakukan karena mereka memerlukan teman, pelatih, pendamping, sekaligus guru yang bisa mengasah potensi mereka. Jika tidak, ada kekuatiran bahwa perlahan-lahan potensi tersebut akan layu.

Ketiga, edukasi kesehatan dasar secara berkelanjutan menjadi kebutuhan anak muda. Temuan-temuan kasus penyakit seksual dan penyimpangan perilaku seks yang terjadi di Lampung Timur sebagai pertanda  kurangnya pendidikan seksual yang bagi anak-anak maupun remaja. Pendidikan seks bukan lagi sesuatu yang tabu dan harus secara terbuka diinformasikan agar remaja memahami apa yang berbahaya dan tidak boleh dilakukan di masa remaja.

Dan yang terakhir, pemberdayaan mahasiswa di Lampung agar berkontribusi untuk kampung halaman, khususnya mengembangkan kapasitas anak muda, sehingga SDM masyarakat setempat meningkat dan mampu memanfaatkan hasil-hasil di daerah.

 

 

Terima kasih kepada Stube HEMAT Yogyakarta yang menjadi wadah untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan mahasiswa. Semoga ke depannya semakin banyak mahasiswa yang berkesempatan mendapat pengalaman dan melakukan pemberdayaan diri agar bermanfaat bagi masyarakat. ***

 


  Bagikan artikel ini

Utamakan Kemanusiaan

pada hari Selasa, 26 April 2022
oleh Andraharis Pati Ndamung
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung.    

 

Oleh: Andraharis Pati Ndamung         

 

 

Stube HEMAT Yogyakarta merupakan adalah wadah yang memfasilitasi mahasiswa dengan harapan peserta berproses dalam pelatihan-pelatihan yang diikuti agar menjadi pribadi yang lebih berkualitas. Di sinilah tempat saya banyak belajar dan menambah wawasan serta peka terhadap fenomena sosial yang terjadi di sekitar. Selain itu, Stube HEMAT Yogyakarta berorientasi pada mahasiswa untuk memahami dan memanfaatkan hidup secara efisien, mandiri, analitis dan tekun melakukan segala sesuatu untuk meraih masa depan yang dicita-citakan. Di Stube saya menambah pengetahuan dan pengalaman, mengasah kemampuan dan potensi yang ada dalam diri saya, salah satunya kegiatan eksposur ke Lampung.

 

 

Kegiatan eksposur ke Lampung merupakan pengalaman yang tak terlupakan dan menjadi bagian dari cerita hidup saya. Saya membagikan keterampilan pangkas rambut menggunakan gunting dan alat pangkas elektrik, termasuk membahas pangkas rambut dan aspek ekonominya. Pangkas rambut ini bisa menjadi alternatif pekerjaan yang bisa menghasilkan income. Kegiatan lainnya adalah mendampingi membuat video dan mengeditnya.

 

 

Saya juga belajar tentang Lampung melalui kunjungan, seperti ke Taman Nasional Way Kambas yang menjadi tempat konservasi gajah bahkan berinteraksi dengan gajah. Saya juga mempraktekkan cara menyadap getah karet di Mesuji. Ternyata menyadap karet itu tidak mudah karena harus masuk ke kebun karet yang banyak nyamuk dan tak jarang ada lintah dan ular. Dua hal ini, gajah dan pohon karet tidak saya temukan di kampung halaman saya di Sumba Timur.

 

 

Bagi saya, menjadi mahasiswa memang menjadi masa emas sebagai peralihan dari remaja menuju dewasa dan menemukan permasalahan sosial yang bermunculan, kebingungan sampai kehilangan jati diri. Seorang mahasiswa menghadapi pilihan-pilihan yang datang dan harus mampu memprediksi bagaimana ke depannya. Jadi mahasiswa perlu memiliki pendirian untuk tujuan awal menjadi mahasiswa dan siap menghadapi dunia luar dengan bijak memilih lingkungan yang mendukung dan membentuk diri menjadi sosok yang membawa perubahan. Ketika pilihan ada di tangan, mana yang hendak didahulukan, apakah kemanusiaan atau kesejahteraan? Dengan berpikir keras belum tentu memilih kemanusiaan. Kebanyakan dari pengalaman yang saya lihat dan temukan, masih banyak orang yang tertindas dan mencari keadilan. Pelajaran yang dapat dipetik adalah meneriakkan ‘kasihani mereka’ tidaklah cukup, tetapi bangun-bantu-berbagi sebagai bentuk nyata mengangkat nilai-nilai kemanusiaan.

 

 

 

 

Dari kegiatan Eksposur Lampung saya banyak belajar mengenai kemanusiaan, seseorang yang berpendidikan tinggi dituntut tidak hanya menunjukkan dedikasi terhadap profesionalitas pekerjaan, tetapi juga kepekaan melihat lingkungan sekitarnya dengan membuka ruang hidupnya untuk memperhatikan dan mengangkat harkat hidup orang lain, sebagaimana menerima dan mendampingi anak muda untuk mendapat kesempatan belajar demi hidup yang lebih baik.

Saya mengucapkan terima kasih untuk Stube HEMAT Yogyakarta yang telah memberikan kesempatan sehingga saya bisa belajar mengenal kehidupan sosial dan budaya di Lampung sekaligus membagikan pengetahuan dan pengalaman yang saya miliki kepada teman-teman muda di Lampung.***

 


  Bagikan artikel ini

Pondok Diakonia & Potensi SDM Yang Dimiliki

pada hari Senin, 25 April 2022
oleh Trustha Rembaka
Refleksi peserta Eksposur Lokal ke Lampung     

 

Oleh: Trustha Rembaka.          

 

 

Eksposur Lokal ke Lampung menjadi salah satu program kegiatan Stube HEMAT Yogyakarta untuk memperkuat pelayanan Stube HEMAT di daerah sekaligus ruang berkarya bagi mahasiswa yang sedang kuliah di Yogyakarta untuk membagikan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki. Pendeta Theofilus sebagai multiplikator program Stube HEMAT di Lampung memiliki pelayanan pendampingan untuk para remaja di tingkat SMP dan SMA disamping melayani jemaat GKSBS Batanghari. Peserta eksposur mendukung pelayanan yang dilakukan multiplikator dan tentu saja menjadi tantangan ketika berinteraksi dengan fase pertumbuhan remaja yang dinamis diiringi rasa ingin tahu sehingga menjadi peluang peserta eksposur membekali pengetahuan dan keterampilan untuk masa depan mereka.

 

 

Dalam perbincangan bersama para remaja yang tinggal di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari terungkap bahwa mereka berasal dari berbagai kabupaten di Lampung, seperti Lampung Timur, Lampung Tengah, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat dan Lampung Utara. Mereka meninggalkan orang tua dan desanya kemudian tinggal di pondok demi mendapat lingkungan yang kondusif untuk belajar dan akses pendidikan yang lebih baik dibanding di tempat asalnya. Sebenarnya tidak mudah bagi mereka untuk berpisah dengan orang tuanya, tetapi secara tidak langsung keadaan ini mendorong mereka lebih mandiri, bertanggung jawab dan saling menjaga satu sama lain.

 

 

 

Untuk kegiatan eksposur di Lampung saya menyiapkan pelatihan penulisan blog dan narasi untuk video, pengambilan gambar dan pembuatan video pendek, dan membantu pelaksanaan kegiatan Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung. Pelatihan penulisan memperkuat keterampilan menulis remaja, dan ini bermanfaat ketika mereka menulis tugas-tugas sekolah, membuat narasi-narasi dalam video dan mendokumentasikan kegiatan-kegiatan Stube HEMAT. Harus diakui bahwa tidak mudah menemukan ide dan mewujudkan sebuah tulisan, jadi mesti duduk dan ngobrol dengan mereka agar bisa ‘nyambung’ dengan mereka sehingga beragam cerita akan terungkap dan ide-ide akan bermunculan. Kemudian, salah satu strategi adalah memberi kesempatan untuk menentukan pilihan topik yang menjadi minat mereka untuk ditulis. Mereka membuktikan kalau mereka mampu menghasilkan tulisan dan sudah dimuat baik di blog maupun menjadi narasi untuk video pendek mereka. Namun demikian ada sebagian yang belum berhasil.

 

Penguatan kapasitas di kalangan remaja di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari memiliki peran penting karena menyiapkan remaja menjadi pemuda-pemudi yang memiliki nilai tambah baik itu spiritualitas di bawah dampingan pendeta, majelis dan jemaat GKSBS Batanghari. Para remaja dilengkapi pengetahuan yang aktual, peningkatan keterampilan, pembangunan karakter yang mandiri dan wawasan yang lebih luas ketika berinteraksi dengan topik dan narasumber yang ada, sehingga ini semua membantu mereka merespon masa depan dengan lebih optimis. Lebih lanjut, pendekatan dan pemetaan kampus-kampus dan spot-spot berkumpulnya mahasiswa di perkotaan seperti Bandarlampung, Metro, dan Bandarjaya, serta membuka jejaring-jejaring baru dan terus mendampingi remaja perlu terus diupayakan berkelanjutan.***


  Bagikan artikel ini

Pengalaman Saya Yang Menakjubkan

pada hari Minggu, 24 April 2022
oleh Yohanes Tola
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung     

 

Oleh Yohanes Tola          

 

 

Menjadi salah satu peserta program Local Exposure to Lampung adalah kesempatan luar biasa yang pernah saya alami sampai saat ini. Tidak pernah terpikirkan, pertemuan saya dengan team Stube HEMAT Yogyakarta di akhir 2021 menghadirkan ‘hadiah’ pengalaman terbaik. Saat itu, saya bertemu dengan team Stube HEMAT Yogyakarta sebagai ‘orang baru’ yang belum mengenal apa itu Stube HEMAT Yogyakarta, dan saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK) Institut Teknologi Yogyakarta.

 

 

Selanjutnya, saya mengikuti pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Water Security antara lain memanfaatkan air hujan menjadi air layak minum, kunjungan ke PDAM untuk memahami realita masalah distribusi air di DIY, diskusi bersama WALHI tentang air dan tantangannya. Beragam kegiatan ini membentuk saya menjadi figur yang berusaha menghayati motto Hidup, Efisien, Mandiri, Analitis dan Tekun.

 


 

Kegiatan berikutnya yang saya ikuti adalah Local Exposure to Lampung untuk membagikan program pelatihan public speaking dan pengenalan Energi Baru Terbarukan (EBT). Di Lampung saya menemukan hal-hal baru, bertemu orang baru, belajar membawakan materi, belajar beradaptasi, belajar kepekaan sosial, dan belajar aktualisasi pengetahuan kampus di tengah-tengah masyarakat. Saya melihat realita dunia secara lebih jelas dan melihat persoalan masyarakat lewat orang-orang yang bergerak lebih dulu untuk mengupayakan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

 

 

Pertemuan dengan Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th. pendeta di GKSBS Batanghari Lampung Timur yang juga Multiplikator Stube HEMAT di Lampung mengajarkan saya makna ketulusan hati yang murni, wujud menggunakan rahmat Tuhan untuk dunia dan anak-anak  yang lebih baik. Pertemuan dengan anak-anak di Pondok Diakonia membuka mata tentang semangat belajar mengalahkan kendala yang ada, seperti keterbatasan ekonomi, jarak antara rumah dengan sekolah, keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah, sehingga tinggal di Pondok Diakonia menjadi pilihan yang tepat untuk melanjutkan studi. Apalagi dengan melatih keterampilan ‘publik speaking’ akan menjadi nilai lebih untuk mereka. Saya mendapati pengalaman lain dari Mbah Ji, salah seorang jemaat di GKSBS Batanghari di mana saya tinggal selama kurang lebih empat belas hari. Bersama beliau, saya seperti mengalami ‘kuliah’ dan menemukan makna yang membekas, tentang ‘kuliah Kehidupan’. Pertemuan bersama Yabima dan orang-orang yang bergerak di dalamnya memberi makna tentang idealisme yang harus dijunjung tinggi di tengah kerusakan alam saat ini, khususnya dunia pertanian yang mengalami modernisasi berlebihan yang kemudian meninggalkan nilai nilai tradisional yang ramah pada alam.

 

 

Saya sangat senang bisa memiliki orang-orang luar biasa seperti ini dalam hidup saya. Saya percaya selalu ada alasan untuk sebuah pertemuan, apakah itu tentang waktu yang mempertemukan kembali atau tentang waktu yang mengingatkan untuk terus menjaga kenangan itu. Terima kasih Stube HEMAT Yogyakarta yang menyediakan ruang belajar ini untuk saya, saya bangga menjadi bagian dari Stube HEMAT Yogyakarta yang menjadi ‘alarm kehidupan’ saya saat ini, yaitu tentang sebuah sikap dan cara hidup menjadi mahasiswa akan terus saya jaga dan saya bagikan kepada teman-teman saya melalui aktivitas organisasi dan sosial saya.***


  Bagikan artikel ini

Bertumbuh dalam Persaudaraan bersama Anak Muda di Lampung

pada hari Selasa, 19 April 2022
oleh Trustha Rembaka

Eksposur Lokal ke Program Multiplikasi Stube HEMAT di Lampung    

Oleh Trustha Rembaka         

 

 

 

 

Kesempatan tinggal di daerah yang berbeda masyarakat, budaya dan lingkungan merupakan pengalaman otentik yang sangat berharga yang akan memperkaya mahasiswa dan masyarakat setempat dalam wawasan, pengetahuan dan pengalaman. Di tahun 2022 Stube HEMAT Yogyakarta mengutus tiga mahasiswa dalam program Eksposur Lokal ke Lampung, yaitu Nia Oy (Agribisnis Universitas Tribhuwana Tunggadewi, Malang), dan Andraharis (Akuntansi Universitas Teknologi Yogyakarta), keduanya dari Sumba Timur dan Yohanes Tola, dari Manggarai (Teknik Sistem Energi Institut Teknologi Yogyakarta). Mereka berangkat ke Lampung bersama Trustha Rembaka, koordinator Stube HEMAT Yogyakarta yang mendampingi dari tanggal 2-16 April 2022.

 

 

Mereka membagikan pengetahuan dan keterampilan untuk anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari, Lampung Timur, mencakup pelatihan pangkas rambut dan prospek usahanya, sebagai nilai tambah anak muda sekaligus alternatif pekerjaan di masa depan. Ada sembilan anak mengikuti pelatihan pangkas rambut secara manual menggunakan gunting dan elektrik dengan clipper tetapi harus diakui bahwa masing-masing berkembang berbeda-beda. Kegiatan lainnya yaitu public speaking untuk mengasah keterampilan berbicara dengan mencermati jenis-jenis acara dan karakteristiknya, merancang alur suatu acara dan mempraktekkan gerak tubuh yang sesuai, cara berbicara yang mudah dipahami, artikulasi jelas dan tanpa verbal grafiti. Pelatihan menulis menjadi alternatif mengasah kemampuan memberitakan kegiatan yang telah dilakukan maupun menyampaikan gagasan atau ekspresi diri mereka dan selanjutnya tulisan dimuat di blog.

 

 

Dua pelatihan lain melengkapi keterampilan anak muda di Pondok Diakonia GKSBS Batanghari adalah mengolah coklat batangan dengan beragam warna menjadi bentuk lain seperti bentuk hati, daun, figur kartun sampai miniatur topeng, bahkan mereka juga menghitung biaya modal dan menentukan harga jual yang cocok. Kemudian pelatihan editing video menjadi alat untuk menggabungkan public speaking dan tulisan-tulisan narasi. Selanjutnya, para anak muda menampilkan kemajuan mereka dengan menjadi pemandu acara dan moderator di acara pelatihan Stube HEMAT di Lampung tentang Kesehatan dan Masyarakat, bahkan mereka juga membuat konten video berkait anak muda dan kesehatan untuk YouTube.

 

 

Tak hanya anak muda Lampung yang belajar tetapi mahasiswa dari Stube HEMAT Yogyakarta juga mengalami perjumpaan istimewa di Taman Nasional Way Kambas untuk mengamati gajah-gajah secara langsung dan di Mesuji mereka merasakan secara langsung perjuangan menyadap karet, yang mana dua pengalaman ini tak mereka temukan di hidup mereka sebelumnya.

 

 

 

 

Kegiatan di Lampung terbukti menghadirkan manfaat seperti yang diungkap oleh Griya, remaja dari Kotabumi, Lampung Tengah. “Dalam kegiatan Stube April lalu, saya menemukan banyak hal yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya, dari public speaking saya belajar tentang percaya diri, ekspresi wajah, gesture tubuh, penyusunan kata-kata dan saya merasakan kemajuan. Kehadiran Stube sangat penting dan membantu anak muda di sini lebih mengembangkan diri dan semoga kegiatannya diadakan lebih lama agar kami semakin bertambah skill, keterampilan dan pengetahuan,” 

Rangkaian kegiatan ini menjadi ruang belajar bagi semua pihak, mahasiswa yang menjadi utusan ke Lampung, para anak muda Pondok Diakonia GKSBS Batanghari dan Multiplikator Stube HEMAT di Lampung. Harapannya adalah pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari bermanfaat sebagai bekal diri sendiri, bagi sesama dan lingkungan. ***

 

 


  Bagikan artikel ini

Pendidikan Yang Mengubah Dunia (Bedah Buku)

pada hari Jumat, 8 April 2022
oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th
Oleh Yoel Yoga Dwianto, S.Th.          

 

Pendidikan tidak dapat hadir dan berlangsung dalam ruang hampa, karena pendidikan muncul dari pengalaman hidup manusia dalam konteks tempat mereka hidup yang berhubungan dengan persoalan, isu, dan permasalahan. Seperti waktu dan ruang berpindah dan berganti, seperti kejadian dan pengalaman terus berjalan dan mengalir, demikian juga pendidikan harus terus merespon perubahan dengan cepat dan tepat. Berbagai teori pendidikan yang ada pasti memiliki konstruksi pemikiran yang melatarbelakanginya. Seringkali, konstruksi pemikiran itu hasil dari suatu konflik, ketegangan, realisasi untuk menjawab  kebutuhan, atau visi yang lebih baik bagi masyarakat.

 

 

Dalam rangka merespon permasalahan pendidikan, Stube HEMAT menggumuli permasalahan pendidikan yang bertema “Pendidikan Di Era Teknologi Maju”. Sebagai langkah awal, Stube HEMAT membuat bedah buku yang berjudul “Filsafat Pendidikan: Mazhab-Mazhab Filsafat Pendidikan” karya Teguh Wangsa Gandhi HW, terbitan Ar-Ruzz Media, 2013 (07/04/2022).  Yuel Yoga Dwianto, S.Th. , salah seorang tim kerja menjadi penyaji dalam bedah buku tersebut. Ia memperkenalkan kepada peserta diskusi tentang mazhab filsafat pendidikan yang mencakup Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Progresivisme, Esensialisme, Perenialisme, Eksistensialisme, dan Rekontruksianisme. Dalam pemaparannya Yuel mencoba mengkritisi buku yang dibedahnya karena tidak memasukkan aliran Rasionalisme yang diprakarsai Rene Descartes pada awal era modern.

 

 

Mazhab-mazhab itu muncul sebagai respon kegelisahan manusia terhadap permasalahan pendidikan. Respon-respon tersebut merupakan sebuah respon akademis, sosial, bahkan politis dari orang-orang terhadap kebaruan dan keperluan pendidikan di masa yang akan datang. Uniknya, pendekatan-pendekatan ini sungguh-sungguh terkait dengan perilaku dan sikap. Dikaitkan dengan tantangan teknologi maju dan perubahan peradaban manusia yang cepat, maka pendekatan eksistensialismenya Jean Paul Sarte memungkinkan untuk menjawabnya karena teori eksistensialisme mendorong setiap individu (peserta didik) untuk mengembangkan semua potensinya dengan cara terus menerus untuk mencapai kepenuhan diri dan kesadaran, serta membayangkan apa yang mungkin terjadi dan apa yang bisa dilakukan.

Kajian tentang pemikiran filsafat pendidikan diharapkan menyadarkan peserta diskusi/mahasiswa menyadari landasan berpikir akan pentingnya pendidikan bagi kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Dalam arti yang lebih luas, masyarakat dapat berkembang sesuai dengan tujuan dan hakikat, serta eksistensi kehidupan manusia terus berlangsung sesuai perubahan zaman. Singkatnya, hidup dan tujuan hidup dapat diraih ketika pendidikan benar-benar “hidup”. Sebab, pendidikan dan kehidupan manusia adalah dua hal identik, sukar dipisahkan. Hubungan keduanya ibarat tubuh dengan jiwa manusia: jiwa berpotensi menggerakkan tubuh, sementara tujuan kehidupan yang didambakan digerakkan oleh pendidikan. Tanpa pendidikan, bisa dipastikan bahwa manusia akan kehilangan ruh penggerak kehidupannya.

 

 

Dalam bedah buku ini juga diungkapkan bahwa pendidikan di era teknologi ini berkembang secara gemilang, perkembangannya mencakup ruang lingkup kurikulum yang lebih berimbang, pendekatan pendidikan yang lebih menghormati sifat khas peserta didiknya, penyusunan rencana belajar-mengajar yang lebih teratur, dan banyak menggunakan teknologi. Sebagai konsekuensinya, para pengajar dan peserta didik yang terlibat di dalam pendidikan harus menyadari bahwa mereka tidak boleh merasa puas. Mereka harus terus berpikir untuk mengurai sistem pendidikan yang selama ini hanya menjadi landasan imajiner menjadi pegangan riil di lapangan. Selanjutnya, persepsi, konsepsi, artikulasi, dan analisis seseorang dibentuk oleh kemampuan fisik dan psikologis seperti perkembangan zaman dan konteksnya dalam proses pendidikan.

 

 

Sayangnya, karena perolehan pengetahuan yang terbatas, pengetahuan manusia juga terbatas. Apa yang dipikirkan, pahami, dan rasakan, pasti selalu sedikit pada suatu waktu. Tidak seorang pun dapat mengklaim bahwa ia telah tiba pada akhir yang final dan mutlak. Apa pun yang dirasakan dan dipahami sebagai sesuatu yang terbaik yang harus dimiliki. Meskipun dalam keterbatasan, pendidikan mampu berkontribusi merubah dunia dalam suatu kurun waktu tertentu. Teruslah mencari jawab atas segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan untuk mendapatkan perubahan-perubahan. (YYD) *** 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook