Menangkap Makna Kehidupan   dari Kraton Yogyakarta

pada hari Senin, 27 November 2017
oleh adminstube
 
 
 
Sabtu, 18 November 2017, hari yang dinantikan oleh mahasiswa dan aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta untuk belajar tentang Kraton Ngayogyakarta, sejarah dan peran dalam perjuangan bangsa, pendidikan,kebudayaan, dan kehidupan. Siti Amirul, salah satu staff wisata kraton memandu peserta menuju Gadri Kasatriyan sambil menjelaskan bagian-bagian kraton yang dilalui seperti bangsal Srimanganti untuk menanti kehadiran Sultan, bangsal Trajumas untuk mendengar pertimbangan dari Sultan, Panitrapura atau administrasi Kraton dan Prabayeksa atau kedhatonsebagai bangunan utama kraton. Meski berusia lebih dari 200 tahun, kraton masih digunakan sebagai kompleks tempat tinggal raja sampai sekarang dan tercatat sebagai bangunan warisan dunia oleh UNESCO di tahun 1995.
 
Rombongan Stube HEMAT Yogyakarta disambut ramah olehKPH Yudohadiningrat dan KRT Rinto Isworo yangmembuka dialog dan mengungkapkan rasa senangnya atas kunjungan ini. Ariani Narwastujati, direktur Stube-HEMAT, menyampaikan rasa terima kasih setinggi-tingginya karena rombongan mahasiswa ini mendapat ijin berkunjung dan belajar tentang Kraton Yogyakarta. Mahasiswa dari berbagai latar belakang studi, suku dan asal daerah merasakan bahwaYogyakarta memiliki toleransi yang sangat baikdengan menerima mereka belajar di kota ini, tentu saja Kraton Yogyakarta menjadi bagian yang menarik untuk dikenal lebih dalam.
 
KPH Yudohadiningrat dengan jelas memaparkan sejarah Kraton Ngayogyakarta yang berawal dari perjanjian Giyanti pada tanggal 13 Februari 1755 yang menyatakan bahwa kerajaan Mataram dibagi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat, yang dipimpin Susuhunan Paku Buwono dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dipimpin Pangeran Mangkubumi, yangkemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.
 
Dalam mengawali pembangunan pusat kerajaan Ngayogyakarta, Pangeran Mangkubumi mendapat ‘bisikan’ tentang sebuah tempat yang suci dan bersihyang berada di antara gunung Merapi dan pantai Parangkusumo, terletak di antara beberapa sungai, yaitu Winongo, Bedog dan Progo di sebelah barat dan Code, Gajahwong dan Opak di sebelah timur. Ketika ditemukan, lokasinya berupa hutan belantara yang bernama hutan Beringan, dengan  desa kecil bernama Pacetokan. Sembilan Oktober 1755 merupakan awalusaha membuka hutan dan membangun pusat kerajaan. Pembangunan selesai pada 7 Oktober 1756 dan mulai ditempati oleh keluarga kerajaan. Tanggal ini dicatat sebagai hari jadi kota Yogyakarta.
 
Bangunan Kraton Ngayogyakarta terdiri dari beberapa bagian, yaitu Kedaton atau Prabayeksa (sedang renovasi), bangsal Kencana, regol Danapratapa, pendhapa Srimanganti, regol Srimanganti, bangsal Ponconiti, regol Brajanala, Siti Hinggil, Tarub Agung, pagelaran, alun-alun lor dengan 64 pohon beringinBagian belakang ada Siti Hinggil Kidul, alun-alun kidul, plengkung Nirbaya dan panggung KrapyakBerbagai tanaman sarat makna ditanam di kraton misalnya, di tengah alun-alun utara ada dua beringin, beringin timur bernama Janadaru (cahaya kemanusiaan) dan beringin barat bernama Dewadaru(cahaya ilahi). Poholainnya ada pakel, kweni, pelem, burahol, tanjung, sawo kecik, gayam, danasem. Keunikan lain adalah sumbu imajiner dari Gunung Merapi, Tugu pal putih, Kraton Yogyakarta, panggung Krapyak dan pantai Parangkusumo. Keunikan ini membuat Yogyakarta masuk daftar the City of Philosophy dari UNESCO.
 
Di lingkungan kraton ada abdi-abdi kraton yang bekerja tulus dan ikhlas untuk kraton. Mereka mengenakan baju khusus, yaitu ‘peranakan’, ikat kepala dan tanpa alas kaki. Ini artinya para abdi kraton adalah bersaudara dan hidup dalam kesederhanaan tanpa membeda-bedakan meskipun memiliki latar belakang pendidikan, agama dan usia yang beragam.
 
Menjawab rasa ingin tahu mahasiswa tentang Yogyakarta dan keistimewaannya, KPH Yudohadiningrat menjelaskan tentang Gubernur dan wakil Gubernur yangadalah Sultan dan Paku Alam yang bertahta. Sejarah Keistimewaan ini berawal di tahun 1945, kesultanan Yogyakarta menyatakan bergabung dalam Republik Indonesia dan Presiden Soekarno menetapkan Yogyakarta sebagai Daerah Istimewa melaui UU 3/1950 dan diperkuat dengan UU no 13/2012. Konsekuensinya adalah perubahan Yogyakarta dari monarki absolut menjadi monarki konstitusional, sehingga Sultan sebagai gubernur pun mengikuti periode jabatan per lima tahun dan diangkat kembali untuk lima tahun berikutnya.
 
Berkaitan pertanyaan mahasiswa tentang apakah Sultan harus laki-laki, KPH Yudohadiningrat mengungkapkan bahwa Sultan Hamengkubuwono X ingin menjadi teladanuntuk masyarakat tentang seorang raja atau sultan yang memiliki satu istri, tentang kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, terlebih berdasarkanbuku-buku Kraton tidak pernah ditemukan keharusan ataupun aturan yang menyatakan bahwa raja harus laki-laki, tetapi justru ditemukan tulisan Sultan Hamengkubuwono V yaitu Serat Puji, yang memuat ‘seyogyanya raja kraton itu laki-laki, akan tetapi apabila sultan yang bertahta tidak memiliki anak laki-laki dan hanya ada perempuan maka perempuan itu berhak menjadi raja.’ Jadi, dasar utama adalah siapa sosok yang baik, mampu mengayomi dan membawa kemakmuran untuk masyarakat.
 
Di dalam dialog itu pula terungkap ada falsafah hidup dari Sultan Hamengkubuwono I, yaitu mangasah mingising budi, ambasuh malaning bumi, dan hamemayu hayuning bawono, yang artinya mempertajam kepekaan hati, membersihkan kotoran yang ada di bumi dan melindungi dan memelihara keselamatan dunia. Bahkan lebih mementingkan karya untuk masyarakat daripada ambisi pribadi.
 

 

Kunjungan di Kraton Yogyakarta membawa mahasiswa menemukan tidak hanya bangunan dan simbol-simbol tetapi juga warisan nilai-nilai kehidupan yang terus dihidupi sampai saat ini. Mari anak muda, seiring belajarmu di Yogyakarta, temukan nilai-nilai kehidupan dan wujudnyatakan dalam kehidupan sehari hari yang bermanfaat untuk masyarakat. (TRU).

  Bagikan artikel ini

2 Jam, Lebih Dekat dengan Teman-Teman UJB

pada hari Kamis, 23 November 2017
oleh adminstube
 

Setiap pelatihan yang dilakukan oleh Stube selalu memiliki kesan yang berbeda bagi setiap pesertanya. Ada yang terkesan dengan materi yang disampaikan pada sesi pelatihan, ada juga yang terkesan dengan fasilitator yang diundang dan ada pula yang terkesan dengan manajeman Stube sendiri. Sama halnya dengan teman-teman dari Universitas Janabadra Yogyakarta yang sangat terkesan dengan pelatihan Survival Competency dan ingin segera berbagi kepada yang lain.

Mereka jujur saat diajak mengikuti pelatihan ada yang terpaksa karena tidak ada teman di kos seperti Estrela, Maria dan Talia, ada yang memang merasa perlu datang seperti Hanis dan Fangges. Mereka bercerita blak-blakan bagaimana mereka mendapatkan pemahaman baru tentang berbisnis dan pentingnya mengetahui UU Desa yang disampaikan pada sesi terakhir pelatihan. Setelah mengikuti alur pelatihan, mulailah mereka paham dan bersyukur berada di sana, bahkan Hanis sudah mencari dan membangun jaringan dengan Rumah Kreatif Jogja untuk menjual tas khas Maybrat ke Jogja dan menjual tas rajut dari Jogja ke Maybrat, Papua.

Karena merasa perlu berbagi, mereka melakukan follow-up dengan mengajak teman-teman Unit Kegiatan Mahasiswa Kristiani (UKMK) dan beberapa teman dari Maybrat Papua untuk berdiskusi bersama. Pada hari Jumat, 17 November 2017 di kampus Universitas Janabadra Yogyakarta ada sekitar tujuh belas orang tertarik dan datang di acara follow-up yang dimulai dengan perkenalan Stube oleh Elisabeth dan dilanjutkansharing dari Hanis, Fangges, Maria, Estrela, Talia dan Lia mengenai materi yang mereka dapatkan. Estrela, “Jujur, saya merasa dipaksa untuk mengajukan pertanyaan dalam sesi pelatihan, tetapi setelah saya pikir-pikir ternyata bermanfaat karena saya orangnya pasif. Stube mengajari saya untuk aktif untuk memunculkan ide”. Maria, “Saya belajar sisi lain dari kota ini, karena ternyata juga adatindak kejahatan dan semua itu mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati.
 
Dari sharing yang dilakukanbeberapa teman yang hadir penasaran dan bertanya-tanya tentang Stube HEMAT, seperti Beny yang datang dari Timor Lesteingin tahu apakah lembaga ini melatih mahasiswamenjadi mediator yang baik. Sarloce, salah satu team kerja Stube menjelaskan bahwa Stube HEMATmemfasilitasi mahasiswa dengan berbagai pelatihan, dan bagaimana menjadi mediator yang baik menjadi salah satu materi pada pelatihan Studi Perdamaian yang sudah diselenggarakan pada bulan September2017, meskipun demikian jika teman-teman mahasiswa memerlukan bahan ataupun diskusi mengenai hal tersebut, maka dipersilahkan menghubungi sekretariatuntuk kemungkinan realisasinya.
 
Elisabeth menambahkan,”Menjadi mediator tidakbisa instan karena ada alur proses yang harus dipelajari. Padapelatihan lalu, ada follow-up bagaimanmenjadi mediator yang baik. Selain teori peserta juga langsung diajak praktek melakukan mediasi sesuai proses”.
 
Masih banyak yang ingin mereka tanyakan tetapi karena kami hanya diberi waktu dua jam dari 16.00 - 18.00 WIB maka acara ditutup dengan berfoto bersama peserta. Dari follow-up ini mereka berharap adadiskusi lanjutan.
 
Tidak ada yang mampu menahan kita untuk belajar jika hati, jiwa dan pikiran kita yang meminta. Jika ingin agar kita didengar maka belajarlah dan bersuaralah dengan cerdas. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

Datang Dengan Asa, Pulang Dengan ...

pada hari Rabu, 22 November 2017
oleh adminstube
 
 
 
Datang dengan asa, pulang dengan … (dilengkapi sendiri oleh masing-masing mahasiswa yang merantau untuk studi di Yogyakarta), menjadi judul pelatihan ‘kemampuan bertahan hidup’ yang diselenggarakan oleh Stube HEMAT pada hari Jumat-Minggu (10-12/11/2017) di Wisma Pojok Indah, Sleman yang dihadiri 48 peserta. Pelatihan ini bertujuan agar mahasiswa memiliki sikap hidup baik, pengetahuan dan keterampilan untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta.
 
 
Yogyakarta dikenal sebagai kota pendidikan karena ada ratusan perguruan tinggi negeri dan swasta, sehingga wajar menjadi tujuan belajar mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Meski Yogyakarta dikenal karena keramahtamahan dan kemudahan, ternyata tidak sedikit mahasiswa belum memiliki persiapan yang baik untuk kuliahmengalami culture shock dan belum mampu memilih kegiatan-kegiatan yang mendukung studinya. Keadaan ekonomi keluarga dan ketidakmampuan mengelola waktu ikut mempengaruhi studi merekabahkan rentan terjerat hal-hal negatif, seperti miras, seks bebas, kriminal dan akhirnya gagal menyelesaikan studi.

Di awal pelatihan Sarloce Apang memperkenalkan Stube-HEMAT sebagai wadah belajar dan pemberdayaan mahasiswa, dilanjutkan multiplikator Stube HEMAT Bengkulu, Yohanes Dian Alpasa yang membagikan pengalaman ketika mengikuti kegiatan Stube-HEMAT yang kemudian mendorongnya merintis Multiplikasi Stube-HEMAT di Bengkulu. Untuk membekali peserta bagaimana bertahan ketika menghadapi perubahan yang tidak bisa ditolak, Robinson P. Aritonang membedah buku berjudul ‘How to Survive Change You Didn’t Ask For’ yang mengungkap tips-tips dalam menghadapinya.

 


Hari berikutnya peserta belajar mengenal Yogyakarta bersama Trustha Rembaka yang memaparkan sejarah Yogyakarta, peran kota ini dalam sejarah Indonesia dan berbagai tempat yang mendukung belajar mahasiswa. Seorang jurnalis Tribunjogja, Sulistiono diundang juga untuk mengungkap ancaman narkoba dan seks bebas di kalangan mahasiswa. Menurut data Polda DIY, dari Januari s.d. Agustus 2017, ada 372 orang terjerat kasus narkoba dan 1.078 remaja putri melahirkan976 di antaranya adalah kehamilan tidak diinginkan. Sulistiono berpesan agar mahasiswa selalu mawas diri terhadap gaya kehidupan kota.


Testimoni beberapa mahasiswa melengkapi pelatihan ini. Arnita Marbun, seorang pekerja sosial memaparkan bagaimana ia mendampingi mahasiswi untuk tetap bangkit dan menyelesaikan studinya meskipun mengalami kekerasan seksual. Retno Puji Astuti, seorang mahasiswi yang bisa menginspirasi peserta karena berhasil menyelesaikan studi kebidanan dengan cum laude, meski kedua orang tuanya tunanetra. Lebih menakjubkan adalah Vindi Dwinantyo, meskipun ia tunanetra, ia tak ingin keterbatasan itu membatasi hidupnya, bahkan saat ini ia sedang kuliah S2. Para fasilitator ini sungguh menggugah peserta untuk lebih giat dan kreatif dengan segala kelebihannya.
 
Stephanus Benny, mahasiswa Magister Psikologi UGM memandu peserta memetakan potensi diri dan kerentanan diri. Ia menjelaskan bahwa setiap studi harus memiliki tujuan jelas, apa yang hendak dicapai. Seorang mahasiswa pun dituntut mandiri, salah satunya bisa melakukan bisnis kreatif. Indah Theresia menawarkan beberapa langkah untuk berbisnis sesuai perkembangan zaman dan peluang pasar, memanfaatkan waktu luangnya dan menggunakan barang yang ada sebagai modal. Sesi inidiperkuat oleh pengalaman dua mahasiswa ketika berada di Yogyakarta, Yohanes Dian Alpasa yang sering menulis di media massa dan berjualan koran dan Yoel Yoga Dwianto dari Lampunyang membuat kebun sayur organik dan mengembangkan musik jimbe sebagai bisnis kreatif dan membuka kursus musik.


Di hari terakhir, Dr. Murti Lestari, M.Si., board Stube-HEMAT mengajak mahasiswa belajar dana desa dan penggunaannya, sehingga ketika kembali ke daerah asalnya, mereka bisa memantau dan memanfaatkan dana desa untuk kesejahteraan masyarakat. Di akhir acara, peserta merancang kegiatan untuk berbagi pengalaman. Hanis, dkk mengadakan diskusi kecil di kampus Janabadra dan Maritjie dkk mengumpulkan mahasiswa dari kepulauanAru dan berdiskusi tentang kuliah di Yogyakarta.
 
Mahasiswa pasti mampu bertahan hidup sebagai mahasiswa jika ia tahu tujuan hidupnya, mampu beradaptasi, tahu potensi diri, dan selalu merespon perubahan yang terjadi dengan positif. (ELZ).

 


 
 

 


  Bagikan artikel ini

Songsonglah Ide dan Menulislah!

pada hari Jumat, 10 November 2017
oleh adminstube
 
 
 
“Seseorang yang menulis fiksi ibarat menggali sumur dengan sebatang jarum, memang tidak mudah dan membutuhkan kerja keras. Ia harus mendapatkan ilham atau inspirasi, tetapi ia tidak bisa menunggu inspirasi atau ilham melainkan harus mencari dan menyongsong ide-ide”,ungkap Achmad Munjid mengawali Workshop Penulisan Fiksi pada hari Minggu, 5 November 2017 di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta. Ini merupakan kerjasama antara Stube-HEMAT Yogyakarta dan team S2 Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada sebagai pengabdian kepada masyarakat.
 
Dua puluh mahasiswa lintas kampus yang berasal dari berbagai daerah yang kuliah di Yogyakarta dan pemuda pengurus kampung ramah anak setempat mengikuti Workshop yang difasilitasi oleh Achmad Munjid, M.A. Ph.D, dosen di fakultas Ilmu Budaya UGM bersama Sulistyaningtyas, Muhammad Zaenuddin dan Fardan Rezkiawan Faida, ketiganya adalah mahasiswa S2 Ilmu Sastra UGM.  Fasilitator merasa senang bertemu dengan peserta Stube-HEMAT Yogyakarta dan salut akan gerak cepat Stube karena meski waktu persiapan sangat singkat, tetapi mampu mempersiapkan kegiatan dengan baik, dan terlihat antusiasme mahasiswa untuk belajar penulisan fiksi. Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa menulis itu seperti olah raga dan sedekah. Semua tahu bahwa dua hal itu baik, tetapi belum tentu mereka mau melakukan. Orang tahu bahwa menulis itu baik, tapi seberapa banyak yang benar-benar mau mengerjakannya? Menulis itu seperti naik sepeda, main gitar atau berenang, tidak cukup tahu teori saja tetapi perlu latihan terus-menerus.
 
Selanjutnya, diungkapkan beberapa hal yang mesti dicermati dalam penulisan fiksi, pertama, cerita merupakan suatu peristiwa yang menggelisahkan pikiran, konflik, dilema atau kejanggalan yang terjadi.Kedua, tentang plot atau alur, yaitu cerita memuat konflik, krisis dan penyelesaian, di mana perlu memasukkan 3D, yaitu drama (yang menarik perhatian),desire (adanya hasrat atau antusiasme), danger (sesuatu yang menantang). Di bagian ini penulis perlu ‘memainkan’ jarak antara konflik, krisis dan penyelesaian sehingga pembaca penasaran dengan cerita. Ketiga, berkait penokohan, ada kata kunci ‘seeing is believing’ yaitu penulis harus mampu menghadirkan tokoh dalam cerita fiksi secara jelas sehingga pembaca seolah-olah bertemu langsung dengan tokoh tersebut. Keempat, mengenai sudut pandang cerita dari orang pertama atau orang ketiga. Ini memiliki kelebihan masing-masing.Kelima, Latar dari cerita berkaitan dengan waktu dan tempat kejadian suatu cerita dan tempat. Latar harus spesifik, nyata dan historis sehingga pembaca merasa sesuatu yang nyata dan terlibat dalam cerita meskipun fiksi. Terakhir, pembuka dan penutup, penulis bisa membuat pembukaan dan penutup cerita secara bertahap atau bahkan menyentak demi efektivitas penyampaian pesan cerita. Namun bisa juga penutup cerita yang ‘mengganggu’ yang membuat pembaca terus memikirkan cerita tersebut.
 

 

Sesi berikutnya para peserta berlatih menulis cerita fiksi. Mereka mengawali dengan membayangkan suatu ide atau inspirasi, kemudian menulis pembukaan cerita fiksi. Ada beberapa peserta yang menulis pembukaan cerita yang mampu memancing rasa ingin tahu dari pembaca, seperti tulisan Anggita Getza tentang kejadian yang mistis dan David Pamerean tentang ledakan di luar angkasa.
 

 

 

Di akhir acara, Sulistyaningtyas, seorang penulis muda yang dikenal di dunia penulisan dengan nama Tyas Effendi, yang telah menulis beberapa buku, seperti Tentang Waktu, Catatan Musim, Life After You dan Dance for Two memberi apresiasi berupa buku-buku karyanya kepada beberapa peserta yang beruntung. Ia juga membagikan pengalaman tulisannya bisa terbit karena ketekunannya menulis dan belajar, jeli melihat tema-tema tulisan yang sedang tren di kalangan pembaca dan mempelajari karakteristik suatu penerbit.
 



Kemampuan menulis fiksi merupakan proses belajar, perlu terus menerus dilatih sejak sekarang. Jadi, mulailah tumbuhkan semangat, songsonglah ide dan menulislah. Jadikan tulisan fiksimu inspirasi yang mencerahkan pembaca. (TRU).
 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook