Taat Agama Bergaul Harmonis Sopan Berkomunikasi (Forum Dialog dan Literasi Media)          

pada hari Rabu, 31 Oktober 2018
oleh adminstube
 
Mengikuti forum dialog dan literasi yang diadakan oleh KOMINFO bekerja sama dengan PGI wilayah Yogyakarta pada tanggal 30 Oktober 2018, di Hotel Tentrem Yogyakarta membawa tambahan wawasan dan pengalaman tersendiri. Mengusung tema ‘Taat Agama, Bergaul Harmonis, Sopan Berkomunikasi’ forum ini dihadiri kurang lebih 70 utusan gereja dan mahasiswa-mahasiswi kristiani.

 
Dalam sambutannya, ketua umum PGI Yogyakarta Pdt. Bambang Sumbodo, S,Th., M.Min menyebutkan bahwa perkembangan teknologi melahirkan budaya baru dan bukan  hanya menjadi kebutuhan saja, teknologi sudah menjadi bagian hidup manusia.
 
Sesi pertama dipandu oleh Nugroho Agung (Yakum Pusat) selaku moderator, mendampingi nara sumber Fariza M. Irawady, Ketua Tim Media Kementerian Polhukam, yang menyampaikan topik kesatuan bangsa. Narasumber memaparkan bahwa Indonesia rentan akan peperangan dan kehancuran karena banyaknya kelompok etnik, suku bangsa dan bahasa. Hasil laporan dari berbagai lembaga dunia, seperrti Price Waterhouse coopers menyampaikan bahwa pada tahun 2030 Indonesia akan menjadi lima besar dalam perekonomian, sementara Gallup Global Law and Order menyampikan bahwa Indonesia merupakan 10 negara teraman dari 144 negara. Sayangnya 43% persen masyarakat Indonesia merespon keberhasilan Indonesia dengan negatif. Di akhir sesi nara sumber mengajak peserta untuk tidak menyebarkan hoax maupun ujuran kebencian demi menjaga kesatuan bangsa.
 

 

 

Pembicara kedua adalah Pdt. Retno Ratih dari GKI Manahan mengawali dengan menyampaikan data penggunaan internet di Indonesia saat ini. Menurut hasilHootsuite, pengguna aktif sosial media sebesar 120 juta dan dalam satu hari rata-rata pengguna menghabiskan 8 jam 51 menit menggunakan internet. Fungsi media pun bergeser, yang seharusnya sebagai alat penyampai informasi berubah menjadi media provokasi, yang seharusnya sosialisasi menjadi media politik. Ajaran Kristen mengajarkan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial. Prinsip-prinsip komunikasi dalam iman Kristen antara lain; bingkai kesataraan dan perdamaian, partisipatoris, memihak pembebasan, membangun kebudayaan dan keberagamaan, profetik dan menantang kepalsuan.
 
Dr. Hendrasmo, pembicara ketiga adalah tenaga ahli Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik menyampaikanhoax atau hatespeech masih menjadi salah satu agenda utama di direktorat jendral informasi dan komunikasi. Menurut data Kominfo pada tahun 2017 terdapat 32 ribu aduan dengan kategori SARA, hoax, pornografi, radikalisme/terorisme dan penipuan online. Dalam 4 tahun terakhir Kominfo sudah memblokir kurang lebih 1 juta situs negatif.  Dalam sesi tanya jawab, Hendrasmo menyampaikan bahwa Kominfo sendiri belum memilik aplikasi untuk memberantas hoax, tapi Kominfo bekerjasama dengan kelompok Mafindo (Masyarakat Anti Fitnah Indonesia). Ketika masyarakat merasa ragu terhadap suatu berita, mereka dapat mengecek kebenarannya melalui aplikasi tersebut atau melaporkan situs tersebut kepada Kominfo. Memang diakui bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan tetap berharap bahwa masyarakat berperan aktif dan membantu.

Sesi lanjutan setelah tanya jawab adalah membuat produk konten yang disampaikan oleh Dwitri Waluyo, dengan memberikan tips-tips bagaimana membuat suatu pemberitaan yang benar. Konten harus bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda tanpa menimbulkan gesekan dengan memperhatikan hipnoratingyaitu pemilihan kata/diksi, besar kecilnya huruf, dan mengandung 5W + 1H. Peserta diminta untuk membuat produk konten berupa meme dengan mengkreasikan ide melalui gambar dan tulisan berupa ajakan untuk tidak menyebarkan hoax danhatespeech. Semua peserta berpartisipasi dalam pembuatan konten tersebut yang selanjutnya dipilih tiga peserta terbaik. Sesi ini menjadi bagian akhir dari forum dialog ini. (ITM).




  Bagikan artikel ini

Mengenal Wildlife Rescue Center (WRC)

pada hari Rabu, 24 Oktober 2018
oleh adminstube
 

Wildlife Rescue Center (WRC) adalah sebuah project di bawah Yayasan Konservasi Alam Yogyakarta yang memiliki aktivitas utama merehabilitasi dan merawat satwa-satwa liar hasil sitaan negara. Satwa yang dirawat tersebut adalah satwa yang secara hukum tidak boleh dipelihara, diperdagangkan baik secara utuh ataupun mati. Wildlife Rescue Center (WRC) menempati lokasi dengan luas sekitar 14 hektar yang terletak di Jl. Pengasih - Nanggulan, Derwelo, Sendangsari, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta.
 
Pengetahuan ini diperoleh para siswa klas IX SMPK Tirtamarta-BPK Penabur Pondok Indah Jakarta yang melakukan kunjungan ke tempat ini sebagai rangkaian studi sosial di Yogyakarta dengan beberapa mahasiswa Stube-HEMAT sebagai pendampingnya. Kunjungan ini diharapkan membangun kepedulian siswa terhadap kelestarian alam, khususnya satwa dan tanaman.
 
Dr. Arini, salah satu dokter hewan yang mengurus dan merawat satwa-satwa yang ada di tempat tersebut memperkenalkan latar belakang didirikannya WRC dan menceritakan kepada siswa-siswi bagaimana cara menangani dan merawat satwa-satwa liar yang ada. Namun pada saat kunjungan ini satwa-satwa liar yang dipelihara dalam karantina tidak dapat dilihat atau dikunjungi oleh manusia karena alasan tertentu seperti penularan sakit-penyakit. Setelah itu siswa-siswi diajak berkeliling dan bermain fun games dalam 2 kelompok. Permainan ini bertujuan supaya para siswa mengenal lebih detil berbagai tanaman dan pepohonan serta macam-macam serangga yang mereka temui. Di akhir kunjungan mereka mempresentasikan apa yang sudah mereka pelajari.

 

Para siswa pun sangat antusias mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai. Mengenal berbagai macam pepohonan dan jenis-jenis serangga yang mereka temui merupakan hal baru bagi mereka. Lebih mengejutkan lagi ketika mereka diperlihatkan seekor buaya besar di dalam kandang. Ada yang senang ada juga yang berteriak histeris karena ketakutan. Dan ini adalah sesuatu yang menarik bagi mereka karena sebagian dari mereka baru pertama kali melihat buaya secara langsung. Dengan kegiatan Studi Sosial ini, diharapkan siswa-siswi SMPK Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta semakin mengenal, peduli dan cinta terhadap lingkungan alam dan satwa yang ada di dalamnya. (ELZ) 

  Bagikan artikel ini

Menginspirasi Dalam Keterbatasan

pada hari Rabu, 24 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
ASIAN Para Games yang diselenggarakan di Indonesia sudah berakhir dengan capaian para atlet yang luar biasa melampaui target yang ditetapkan di awal. Para atlet yang memiliki kekurangan secara fisik mampu menginspirasi banyak orang lewat prestasi yang membanggakan untuk Indonesia. Semangat hidup dan pantang menyerah ini juga ditemui para siswa dan guru SMPK Tirta Marta-BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta di Sekolah Luar Biasa Ganda-AB Helen Keller, saat berkunjung dan anjang kasih di sana pada tanggal 10 Oktober 2018.
 
Sekolah yang didirikan oleh Yayasan Dena-Upakara ini meneruskan karya misionaris Belanda sejak tahun 1938 di Wonosobo. Sejak tahun 1996, yayasan ini telah mengembangkan pendidikan untuk penyandang tunaganda meliputi tunarungu-netra, tunarungu-low vision dan tunarungu-wicara dengan nama SLB/G-AB Helen Keller Indonesia bertempat di Yogyakarta(http://www.slbhki-jogjakarta.com/tentang-kami).
 
Nama Helen Keller sendiri diambil dari nama seseorang yang lahir normal tetapi pada usia 19 bulan mengalami buta dan tuli dariTuscumbiaAlabama, negara Bagian Amerika pada 1880. Karena susah diajar sampai meginjak usia 7 tahun, Helen Keller diajar oleh seorang guru privat yang bernama Anne Sullivan. Dengan dorongan Anne dan semangat yang dimiliki, Hellen menjadi orang tuna rungu dan tuna netra pertama yang lulus dari Universitas Radcliffe College, cabang dari Universitas Harvard khusus wanita(https://id.wikipedia.org/wiki/Helen_Keller).Semangat inilah yang ditumbuhkan dan dibangun di SLB/G-AB Helen Keller.
 
Kunjungan ke Helen Keller ini merupakan rangkaian studi sosial dengan tujuan mengenalkan kehidupan yang berbeda jauh dari kehidupan mereka dengan fisik yang lengkap dan kelimpahan materi. Program ini diharapkan membantu menumbuhkan kepekaan sosial dan kepedulian siswa pada sesama. Ibu Rina selaku kepala sekolah Helen Keller dengan semangat menjelaskan program dan kurikulum serta mengajak berkeliling untuk melihat aktivitas dari siswa-siswi di sana yang berjumlah kurang lebih 33 anak. Diakui pihak sekolah bahwa mereka kekurangan tenaga pengajar. Suster Yosefa salah satu guru di sekolah ini menyampaikan bahwa mereka berusaha semaksimalmungkin untuk mengajari anak-anak, meskipun idealnya satu guru menghadapi satu murid, namun karena guru mereka terbatas maka satu guru harus mengajari dua sampai tiga bahkan empat orang anak.

Dalam keterbatasan sekalipun mereka tetap nampak bahagia, bermain seperti anak-anak lainnya, tertawa dan mereka menguasai huruf jari untuk berkomunikasi. Tentu saja komunikasi ini mungkin kita sendiri belum tentu bisa. Jika mereka yang memiliki keterbatasan saja tidak merasakan adanya penghalang untuk terus berkarya, tentu saja bagi yang secara fisik sempurna harus terus terinspirasi berkarya dan menjadi berkat bagi banyak orang. (SAP).


  Bagikan artikel ini

Bumi Langit: Alamku Butuh Diriku!

pada hari Senin, 22 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
Berapa harga yang pantas untuk membayar kebaikan alam? Berbicara tentang berapa harga yang pantas untuk membayar kebaikan alam, tidak akan ada nilai yang cukup untuk membayar kebaikan alam. Alam menyediakan segala yang dibutuhkan manusia, tetapi karena keserakahan dan kerakusan manusia, alam mengalami kerusakan. Begitu banyak kerusakan yang terjadi, lihatlah betapa panas suhu bumi beberapa tahun belakangan ini akibat mencairnya glester di kutub utara, banyaknya sampah plastik di lautan yang mengakibatkan rusaknya ekosistem laut. Alam butuh pembaruhan, alam butuh perbaikan.
 
Institut Bumi Langit, merupakan salah satu lembaga yang mendedikasikan waktu dan pikirannya untuk mengolah alam dengan cara yang baik dan tepat. Sebuah tempat di mana nilai-nilai etika menjadi fondasi dasar dalam hubungan manusia dengan alam, dan antara manusia. Institut ini didirikan pada Mei 2014 dengan konsep pendekatan yang menyeluruh pada kehidupan (permakultur). Kebun Bumi Langit menjadi sarana terbuka bagi masyarakat agar dapat melihat dan belajar bersama mengenai hubungan saling memberi manfaat antara manusia dan lingkungannya.


Institut Bumi Langit menyediakan pelatihan, tempat kursus, tempat magang dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan lingkungan. Fasilitas diberikan dari tingkat Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi. Pada tanggal 10 Oktober 2018, siswa-siswi SMPK Tirtamarta-BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta didampingi oleh Stube-HEMAT mengunjungi Institut Bumi Langit untuk belajar mengenai hubungan manusia dengan alam.
 
Disambut oleh Ibu Nung, salah satu pengurus Institut Bumi Langit, obrolan dimulai dengan menceritakan sejarah berdirinya Institut Bumi Langit. Siswa-siswi juga diajak untuk melihat kebun Bumi Langit. Terdapat berbagai jenis tanaman sayuran dan buah-buahan organik. Terdapat pula peternakan, pertanian, pengolahan biogas, pengolahan air bersih hingga membuat aliran listrik dengan tenaga surya.


Segala yang terdapat di Bumi Langit sangat ramah lingkungan, air limbah dari aktivitas sama sekali tidak tercemar karena barang-barang yang digunakan tanpa bahan kimia. Mulai dari sabun mandi, sabun cuci hingga makanan pun organik. Semua hasil panen diolah sendiri sehingga menghasilkan makanan yang ramah lingkungan.

Siswa-siswi juga menikmati hasil olahan tani dari kebun Bumi Langit. Kue sorgum, pisang goreng dan air sumur murni. Ibu Nung menjelaskan proses pembuatan kue dan pisaag goreng tersebut. Mulai dari bahan yang semuanya organik hingga proses pembuatannya. Di sesi ini juga Ibu Nung menyampaikan betapa pentingnya menjaga alam dan betapa pentingnya mengkonsumsi makanan organik. Siswa-siswi juga diberikan kesempatan untuk memaparkan hasil analisis selama mengunjungi kebun. Kunjungan diakhiri dengan foto bersama dan pemberian plakat oleh salah satu murid kepada perwakilan institut Bumi Langit. (ITM).


  Bagikan artikel ini

Mencerna Irama Hidup di Omah Cangkem Mataraman

pada hari Minggu, 21 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
Iringan gamelan mengalun merdu menyambut kedatangan siswa-siswi kelas IX SMP Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta di sanggar Omah Cangkem Mataraman di Kawasan Bangunjiwo, Sewon, Bantul. Lima belas peserta yang terdiri dari dua belas siswa, dua guru dan satu pendamping dari Stube-HEMAT Yogyakarta terpesona dengan sambutan Pardiman Djoyonegoro, seorang praktisi pendidikan, seni dan budaya sekaligus pemilik sanggardan beberapa aktivisnya yang mengenakan pakaian tradisional Jawa. Aneka sajian jajan pasar yang tersedia, kawasan sanggar yang teduh, semilir angin dan panorama lembah dengan hamparan sawah dan padi kecoklatan melengkapi suasana sanggar pagi itu. Mengapa ke sanggar ‘Omah Cangkem Mataraman’?
 
Pardiman memaparkan arti nama iniOmah adalah Rumah, Cangkem adalah Mulut dan Mataraman adalah kawasan budaya Mataram. Jadi, Omah Cangkem Mataraman artinya rumah atau tempat untuk menghasilkan suara, bukan sembarang suara tetapi suara-suara kebenaran, harmoni dan ungkapan kecintaan terhadap budaya, khususnya budaya Jawa. Sunggun indah bukan?
 
“Sanggar ini membangun komunikasi generasi dengan warisan budaya leluhur, salah satunya gamelan, bermain janur, dolanan anak, kentongan, tarian, nembang, unggah-ungguh, dll.  Kita tahu bahwa bangsa ini kaya kesenian tradisional, salah satunya gamelan, yang begitu terkenal di level internasional, tapi ironisnya gamelan belum mendunia di dada anak negeri sendiri. Hal ini sangat disayangkan karena keberlangsungan sebuah bangsa tergantung dari generasi dan budayanya. Padahal sejarah telah mencatat bangsa ini termasyhur di dunia internasional karena produk kebudayaannya. Jadi, perlu upaya berkelanjutan agar generasi muda ‘melek’ budaya dan paham potensi seni budaya tanah airnya”, ungkap Pardiman.


Di sanggar ini, peserta mengawali belajar irama hidup dengan merasakan detak jantung. Peserta duduk bersila dan menepuk tangan sesuai irama dan beraturan. Dalam setiap birama, peserta bergiiran mengucapkan satu suku kata secara bebas. Ternyata tidak setiap peserta lancar mengucapkan satu suku kata secara spontan. Berikutnya peserta memperkenalkan diri berkata-kata melodi secara bebas tapi sesuai ‘beat-beat’ yang dipelajari sebelumnya. Hal sama terjadi, peserta nampak ragu-ragu untuk bersuara. Pardiman membesarkan hati para siswa bahwa ini proses belajar menyeimbangkan otak kiri dan kanan dan siswa perlu tekun mempelajari irama dan mengungkapkan kata-kata secara spontan. Pembelajaran berlanjut mengenal satu perangkat gamelan tradisional Jawa. Beberapa siswa memainkan saron, demung, bonang dan gong. Mereka antusias memainkan istrumen-instrumen yang belum pernah mereka jumpai sebelumnya secara langsung. Peserta juga memainkan kentongan dengan beragam ukuran dan dipukul dengan irama tertentu secara harmonis hingga menjadi sebuah komposisi instrumental. Hal ini membutuhkan usaha keras, karena peserta harus memukul kentongan dalam irama konstan sekaligus menyimak suara kentongan peserta lainnya supaya terwujud volume suara yang seimbang.

 

Benar adanya bahwa manusia harus menghayati kehidupan dirinya, tidak saja dirinya sendiri tetapi juga memikirkan orang lain. Pembelajaran di “Omah Cangkem Mataraman yangmerupakan rangkaian studi sosial memang singkat, namun peserta menemukan semangat untuk membiasakan keseimbangan otak kiri dan otak kanan, menghayati setiap detak jantung sebagai bagian dari irama kehidupan. (TRU).



  Bagikan artikel ini

Anak Milenial Cinta Batik  

pada hari Sabtu, 20 Oktober 2018
oleh adminstube
 
Kegiatan Pendampingan menjadi aktivitas yang rutin dilakukan Stube-HEMAT Yogyakarta. Stube-HEMAT sebagai Lembaga Pendampingan Mahasiswa dan anak muda mendapat kesempatan untuk mendampingi Studi Sosial siswa-siswi kelas IX SMPK Tirta Marta-BPK Penabur Pondok Indah,Jakarta tahun 2018.

Salah satu kegiatannya adalah kunjungan dan praktik membatik di Batik Sungsang Giriloyo,Imogiri, Kabupaten Bantul. Pada tanggal 10 Oktober 2018 bersama13 orang siswa-siswi, 2 guru dan 2 mahasiswa pendamping dari Stube-HEMAT berkunjung ke lokasi untuk mempelajarisejarah sekaligus praktek pembuatan batik.
 
Siswa-siswi disambut oleh Sunhaji, pemilik sekaligus narasumber yang menjelaskan sejarah batik diGiriloyo, motif-motif batik dan tahapan proses membuatnya. Konon katanya, asal-usul batik tulis Giriloyo bersamaan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri yang terletak di bukit Merak. Sejalan dengan berdirinya makam raja-raja di Imogiri ini perlu ada yang memelihara dan menjaganya. Untuk itu, keraton menugaskan beberapa abdi dalem untuk melakukan tugas ituInteraksi yang terjadi antara abdi dalem dan masyarakat setempat terutama ibu-ibu, membuka peluang terjadinya transfer ilmu bagaimanacara membatik. Maka tidak mengherankan apabilaketrampilan membatik dengan motif batik halus keraton berkembang di wilayah ini. Seiring dengan berjalannya waktu, keterampilan membatik diwariskan kepada anak atau cucu perempuannya.


Saat praktik membatik, siswa-siswi sangat antusias membuat batik sendiri.Diawali dari proses menggambar pola,lalu digambar dengan menggunakan malam/lilin dengan alat namanyacanting, kemudian dilanjutkan dengan proses pewarnaan, setelah itu kain direbus untuk menghilangkan lilin dan kemudian dicuci dan dijemur hingga kering. Walau hasilnya tidak serapih dan sebagus para ibu pembatik di desa Giriloyo namum siswa-siswi bangga dengan hasil karya mereka sendiri. Semangat mereka perlu terus dipupuk untuk selalu mencintai dan bangga menggunakan produk-produk asli Indonesia, salah satunya batik. (ML).

  Bagikan artikel ini

Berapa Harga Sesamaku? Studi Sosial SMPK Tirtamarta BPK Penabur Pondok Indah Jakarta

pada hari Jumat, 19 Oktober 2018
oleh adminstube
 
 
 
Stube-HEMAT Yogyakarta memberi pendampingan studi sosial bagi siswa-siswi kelas IX SMPK Tiurtamarta – BPK Penabur, Pondok Indah, Jakarta pada tanggal 10-12 Oktober 2018. Kegiatan yang dilakukan berupa aktivitas turun ke bawah (Turba) di 6 lokasi dan tinggal bersama masyarakat (Live-in) di daerah Wates Selatan. Pada studi sosial kali ini, sekolah mengusung judul “Berapa Harga Sesamaku?”. Pasti pembaca akan mengernyitkan dahi dan berpikir apa maksud judul ini? Apakah berarti memasang suatu harga kepada sesama manusia?
 
Menjadi pemikiran bersama para guru dan pendeta sekolah bahwa ada kecenderungan seseorang menilai orang lain berdasar kekayaan yang dimiliki dan kesuksesan diukur dari seberapa banyak harta yang dipunyai. Pandangan ini tidak tepat karena semestinya seseorang diperhitungkan dari seberapa manfaat dirinya untuk orang lain. Sejalan dengan pemikiran tersebut, lembaga Stube-HEMAT ikut serta dalam pendampingan untuk menanamkan kesadaran ini kepada para siswa melalui kegiatan pendampingan Studi Sosial yang memberi mereka kesempatan berinteraksi langsung dan mengalami secara nyata realita kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan pendampingan sendiri menjadi karakteristik dan spirit Stube-HEMAT karena lembaga ini fokus pada pendampingan anak muda.
 

 

 
Enam lokasi Turba yang dikunjungi yakni: sentra Batik Giriloyo, Yayasan Bumi Langit, Sekolah Helen Keller, Wildlife Rescue Center, Omah Cangkem dan Chumplung Adji. Kelompok Batik praktek membuat batik dan menghayati para lanjut usia yang tetap bersemangat melanjutkan hidup bekerja sebagai pembatik sekaligus melestarikan motif-motif batik tradisional di Batik Sungsang, desa Giriloyo, Imogiri, Bantul. Kelompok Bumi Langit belajar tentang keseimbangan dan keutuhan lingkungan di Bumi Langit Institute, Imogiri. Di sini siswa-siswa mengikuti ‘farm tour’ mengenali ekosistem alam, murbei diolah menjadi selai, cantel atau sorgum menjadi bahan dasar roti, ternak menghasilkan biogas untuk memasak dan pupuk organik dan daur ulang air limbah menjadi layak pakai. Kelompok Omah Cangkem mendalami budaya setempat yakni keterampilan dasar olah vokal dan berlatih menggunakan kentongan menjadi sebuah komposisi lagu di sanggar Omah Cangkem, desa Bangunjiwo, Sewon, Bantul. Kelompok Chumplung Adji melatih kreativitas merangkai kepingan tempurung kelapa menjadi barang yang bermanfaat di Chumplung Adji, sanggar kerajinan tangan di Guwosari, Pajangan Bantul. Sanggar kerajinan tangan ini memanfaatkan limbah tempurung kelapa menjadi bermanfaat dan menguntungkan masyarakat setempat. Kelompok Turba Helen Keller belajar mengasah empati dan kepedulian di sekolah ini, sebuah Sekolah Luar Biasa yang mendampingi anak-anak cacat ganda. Para siswa berdialog dengan para guru tentang panggilan mendampingi anak-anak difabel dan semangat anak-anak difabel untuk mandiri. Kelompok WRC bergerak menuju Pengasih, Kulonprogo, tepatnya di Wildlife Rescue Center (WRC), sebuah lembaga yang memiliki perhatian, merawat dan mengembalikan satwa ke karakter dan habitat aslinya. Di sini siswa mengidentifikasi ciri-ciri tanaman dan berusaha menemukan tanaman tersebut dan mengenal satwa dan habitat aslinya.
 

 

 

Live-in memberi kesempatan siswa-siswa tinggal dan beraktivitas selama tiga hari dua malam dan beraktivitas bersama duapuluh enam keluarga jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Wates Selatan, Kulonprogo yang tersebar di Triharjo (Wates), Depok (Panjatan), Kranggan dan Sidorejo (Galur) dan Jatisari (Lendah). Pendamping dari Stube-HEMAT membantu para siswa mengenal keluarga, lingkungan setempat dan beraktivitas bersama mereka, seperti menanam padi, memberi makan ayam dan memanen telur, menimba air, memandikan ternak, membuat anyaman, memasak, menyapu, membuat kopra, berjualan kelapa muda, menyiram sayuran dan membuat media tanam dan hidroponik. “Sungguh pengalaman yang mengesankan”, ungkap para siswa.
 
 
Bapak Binzamin, salah satu tuan rumah di Galur dan anggota majelis gereja setempat mengungkap rasa senangnya menjadi ‘orang tua angkat’ dan berbagi pengalaman dengan para siswa yang penasaran hidup di desa. Sekalipun singkat, interaksi dengan sesama melalui Turba dan Live-in diharapkan memperkaya pengalaman peserta Studi Sosial untuk memahami sesama, berefleksi tentang seberapa bermanfaat dirinya untuk orang lain, menumbuhkan kesadaran diri atas hidup dan kehidupan serta adaptasi diri terhadap lingkungan. Kiranya proses yang boleh terjadi menajdi bagian pembentukan diri untuk menjadi lebih berkualitas. (TRU).
 

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook