Semangat Mengejar Target SDGs 2030

pada hari Minggu, 31 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Negara yang berdaulat adalah negara yang berkomitmen mensejahterakan rakyatnya dengan cara-cara:mengentaskan kemiskinan, semua bisa bersekolah sampai jenjang SMA, sanitasi dan kesehatan yanglayakjuga mengurangi angka kematian ibu dan anak. Untuk mencapainya, setiap negara harus memilikitolak ukur pencapaian yang sama, maka pada September 2000, Millenium Development Goals (MDGs) atau“Tujuan Pembangunan Milenium” dideklarasikan dalamKonferensi Tingkat Tinggi Milenium oleh 189 negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York.

Ada delapan poin utama yang harus di capai pada tahun 2015, meliputi: (1)Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan; (2)Pendidikan dasar untuk semua; (3)Kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan; (4)Menurunkan angka kematian anak; (5) Meningkatkan kesehatan ibu; (6) Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya; (7) Memastikan kelestarian lingkungan hidup; (8) Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan. Dalam prosesnya, MDGs di Indonesia dan dunia belum sepenuhnya tercapai. Waktu15 tahun untuk mencapai MDGs dirasa kurang, sehingga negara-negara anggota PBB melanjutkan kembali program tersebut dengan nama SDGs atau Sustainable Development Goals pada September 2015 di New York. Indikator capaian SDGs lebih detail dengantujuh belas poin dengan harapan pada tahun 2030 semua negara sudah bebas dari kemiskinan, semua anak mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas baik itu infrastruktur maupun kualitas sumberdayamanusianya, semua negara bisa menangani permasalahan iklim global dan berbagai permasalahan lainnya terkait dengan keberlanjutan kehidupan serta kedamaian bersama.

Berkaitan pertanggungjawabanIndonesia ke PBB tahun 2019 ini, Stube-HEMAT Yogyakarta turut ambil bagian untuk berbagi dan mengumpulkan aspirasi serta permasalahan apa saja yang dihadapi teman-temanmuda di daerah, karena 90% aktivis Stube HEMAT berasal dari luar Jawa.


Dari diskusi di sekretariat Stube-HEMAT Yogyakarta(31/03/2019) yang dihadiri kurang lebih delapan belas orang pesertadengan fasilitator Dr. Murti Lestari, M.Si selaku Board Stube-HEMAT,kendala terbesar yang sering ditemui adalah rendahnya kualitas pendidik yang mengakibatkanrendahnya sumber daya manusia. Kualitas guru, sarana prasarana, infrastruktur, jarak tempuh rumah ke sekolah menjadi kendala utama di banyak pulau dan daerah pelosok di Indonesia. Pemakaian bahan bakar yang tidak bisa diperbaharui seperti batu bara menjadi agenda dalam pemeliharaan lingkungan dan ekosistem untuk mencapai iklim yang ideal atau menurunkan emisi gas rumah kaca yang saat ini sudah berdampak pada naiknya permukaan air laut.

SDGs baru berjalan 4 tahun, kita masih punya 11 tahun lagi untuk bisa ikut terlibat ambil bagiandalam setiap poinnya serta mendorong pemerintahuntuk memenuhi ketujuh belas poin tersebut agar Indonesia bisa memenuhi indikator keberhasilan SDGs pada tahun 2030. (SAP).




 


  Bagikan artikel ini

Semangat ‘Melek’ Politik Warga GKJ Panggang

pada hari Minggu, 31 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Suasana akrab dan hangat begitu terasa ketika team Stube-HEMAT Yogyakarta berjumpa dengan Majelis dan jemaat Gereja Kristen Jawa (GKJ) Panggang di Watu Payung, Gunungkidul (Sabtu, 30/3/2019) dalam kegiatan dengan tajuk ‘Belajar Bersama tentang Politik’ sebagai bekal menyambut pesta demokrasi Indonesia yaitu Pemilihan Umum. Pesertanya adalah majelis gereja, komisi warga dewasa, komisi pemuda dan remaja, sesepuh gereja dan komisi kesaksian pelayanan. 


Dalam sambutannya, Prambudi Yakobus S, S.Pd, ketua majelis gereja, menyampaikan rasa syukur karena jaringan kerjasama gereja dan Stube-HEMAT Yogyakarta terus ada sampai sekarang dan menjadi modal berharga pertumbuhan gereja di masa mendatang. Selanjutnya Elizabeth Uru Ndaya, S.Pd memperkenalkan Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristen di Yogyakarta dan menjadikan mereka sebagai saluran berkat untuk gereja-gereja sesuai keahlian yang dimiliki. Acara pembinaan warga gereja saat ini adalah wujud membagi berkat pengetahuan bagi banyak orang.
 
Selanjutnya Trustha Rembaka, S.Th., mengungkap sejarah interaksi gereja dan kekuasaan politik, dimulai dari masa Yesus dan murid-muridNya yangberada di luar kekuasaan politik bahkan dianggap sebagai pemberontak. Dalam perkembangannya pengikut Kristus bertambah dan mereka memiliki cara hidup baik, jujur dan peduli, bahkan banyak berperan di masyarakat. Namun penguasa Romawi menganggap hal ini sebagai ancaman dan mulai menghambat dan menganiaya orang Kristen. Meskipun demikian  kekristenan terus berkembang, bahkan kemudian pada akhirnya diakui menjadi agama negara. Ketika kekristenan mulai bercampur dengan kekuasaan, maka mulailah sedikit demi sedikit kehilangan daya kritis, mengabaikan kemanusian, kemiskinan dan ketidakadilan, karena sudah berada di zona nyaman. Reformasi gereja tahun 1517 menjadi puncak kemuakan atas sikap manipulatif gereja dan para pemukanya yang membawa gereja kembali pada hakikatnya menyuarakan suara-suara kenabian dengan memperjuangkan kemanusiaan, pengentasan kemiskian dan melawan ketidakadilan.

Satu ‘game’ menarik, yang dinamaiMaju Mandegdihadirkan, dimana pesertamemerankan tokoh-tokoh tertentu. Narator menyampaikan penyataan-pernyataan dan peserta menentukan apakah melangkah ‘Maju’ atau ‘Mandeg’ (diam di tempat). Saat peserta  merasa mampu mereka akan ‘maju’ atau ‘mandeg’ saat merasa tidak mampu dan terungkap bahwa peserta yang ‘mandeg’ karena miskin, pendidikan rendah dan tidak percaya diri. Ini menyadarkan peserta bahwa merekabisa maju dalam keterbatasan yang dimiliki apabila ada keputusan-keputusan politik yang berpihak. Permainan ini menggugah kesadaran dan semangatpeserta untuk ikut PEMILU dengan memilih pemimpin yang mampu menghadirkan kesejahteraan.

Sarloce Apang, S.T., mengajak Warga Gereja Bergerak untuk Bangsa, warga gereja tidak hanya memikirkan gereja, tetapi juga kepentingan bangsa. Ia mengingatkan jangan sampai buta politik, yaitu ketidakmauan untuk melihat, mendengar, berbicara dan berpartisipasi dalam peristiwa politik. Perlu sadar bahwa berbagai kebijakan bangsa merupakan hasil keputusan politik, jadi sikap apatis dan tidak peduli terhadap dunia politik akan menghambat bangsa ini untuk maju. Sesi terakhir oleh Marianus YL Lejap memaparkan tentang Aku dan Pemilu sebagai bekal warga gereja mengenal partai-partai yang berlaga di Pemilu, Penyelenggara Pemilu dan mengamati calon presiden, calon anggota DPD, calon legislatif untuk DPR RI, DPR tingkat propinsi dan DPRD tingkat Kabupaten Gunung Kidul.
 
“Beberapa waktu lalu remaja dan pemuda mengungkapkan kesan positif ketika belajar bersama dengan tim dan mahasiswa Stube-HEMAT. Jadi, ketika ada peluang belajar bersama lagi dengan Stube-HEMAT, kami menerimanya. Intinya kami haus akan pengetahuan dan belajar hal baru”, ungkap Pdt. Subagyo, pendeta gereja setempat di akhir acara.

Gereja yang memiliki jejaring kuat, semangatmempelajari hal-hal baru, mau membuka mata, dan melek politik adalah gereja yang bertumbuh dan menjadi modal bagus untuk berkembang karena kegiatan ini membantu warga gereja jernih dan cerdas dalam menentukan pemimpin yang mampu menghadirkan kesejahteraan di masyarakat Selamat memilih yang terbaik. (TRU).

 

 


  Bagikan artikel ini

SDG’s dan Peran Anak Muda Bangsa

pada hari Selasa, 26 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Agenda 2030 untuk (TPB) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau SDG’s (Sustainable Development Goals) ditentukan oleh PBB sebagai agenda dunia yang berisi 17 tujuan dan 169 target yang merupakan rencana aksi global untuk 15 tahun ke depan. Di antaranya mengurangi kemiskinan; mengurangi kelaparan; kehidupan sehat dan sejahtera; kesetaraan gender; air bersih dan sanitasi layak; energi bersih dan terjangkau; pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi; industri, inovasi, dan infrastruktur; berkurangnya kesenjangan; kota dan pemukiman yang berkelanjutan; konsumsi, dan produksi yang bertanggung jawab; penanganan perubahan iklim; ekosistem lautan; ekosistem daratan; perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh; dan kemitraan untuk mencapai tujuan. 

TPB atau SDG’s berlaku bagi seluruh negara (universal), sehingga seluruh negara tanpa terkecuali memiliki kewajiban moral untuk mencapai tujuan dan target SDG’s. Setiap negara wajib melakukan tinjauan tentang SDG’s atau capaian-capaian untuk menyusun dokumen agar dilaporkan kelevel Global. Oleh karena itu, melihat bahwa anak muda memiliki kekuatan untuk mempengaruhi kebijakan, di bawah kerjasama BAPPENAS, Yayasan Save The Children Indonesia bersama jaringan Gusdurian mengadakan konsultasi anak muda pada tanggal 23 dan 24 Maret 2019 di Hotel Ibis Yogyakarta dengan dihadiri 30 peserta anak muda dari berbagai organisasi, kampus dan daerah.
 
Ratna Yunita, penasehat yayasan Save the Chidlren meminta peserta membuat river of life dengan menuliskan dan menggambarkan permasalahan atau bentuk ketidakadilan yang mereka temukan dari masa kecil hingga saat ini. Setelah itu, ia menjelaskan apa manfaat dan tujuan SDG’s bagi anak muda/masyarakat dan apa peran anak muda saat ini. Ratna juga menjelaskan kondisi pencapaiantantangan pelaksanaan SDG’s dan menegaskan bahwa pemerintah sudah membuat tim koordinasi sampai tingkat daerah.

Didampingi oleh Ryan, Konsultan Independen Kepemudaan, peserta membentuk kelompok besar dan mengidentifikasi isu secara lebih mendalam di setiap capaian yang ditinjau berdasarkan river of life dan mempresentasikannya. Ada 6 capaian yang ditinjau untuk tahun ini yaitu pendidikan berkualitas, perubahan iklim, perdamaian dan keadilan, kesenjangan sosial, kemitraan untuk mencapai tujuan dan kesetaraan gender. Peserta juga merumuskan akuntabilitas dan pendanaan SDG’s, berdiskusi menentukan prioritas dan modalitas, dan menulis rekomendasi dari tiap-tiap capaian yang merupakan isu besar untuk disampaikan ke BAPENAS. Di sesi terakhir peserta diminta berunding memilih 2 orang muda yang terdiri dari laki-laki dan perempuan untuk diutus ke BAPPENAS Jakarta untuk menyampaikan aspirasi anak muda Yogayakarta.
 
Di akhir pelatihan yang berlangsung dua hari tersebut, terpilih Ferdi dari Jaringan Gusdurian dan Sarloce Apang dari Organisasi Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mewakili menyampaikan ide dan masukan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta medio April 2019. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

Memahami Politik Versi Milennial Follow Up PMKRI dan Mercu Buana

pada hari Senin, 25 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
Kesadaran maupun partisipasi generasi milenial agar melek politik harusterus dikampanyekan. Momentum kali ini dimanfaatkan oleh kelompok follow up bernama “Milenial produktif” yang beranggotakan  Rusli, Riki, Marina, dan Grace untuk mengkampanyekan bagaimana milenial yang melek politik. Berbekal pengetahuan yang diperoleh saat pelatihan Gereja dan Politikmereka menyebarluaskan pengetahuan dan hal baru yang didapat kepada teman-teman mahasiswa lainya. Bertempat di Nemo kafe Nologaten (23/03/2019) mulai dari pukul 20.45 WIB, 10 orang mahasiswa asal NTT ikut ambil bagian dalam diskusi kecil ini.

Mariano Lejap Tim Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai pendamping kelompok, menjelaskan maksud dan latar belakang kegiatan diskusi ini.Lebih lanjut, Lejap memperkenalkan Lembaga Stube-HEMAT, sebuah lembaga pemberdayaan mahasiswa dengan mengadakan pembekalan melalui program-program pelatihan. Berbagai tema diangkat Stube agar memperkaya pengalaman dan wawasan mahasiswa.

Dalam diskusi ini ada 2 topik besar yaitu milenial dan partisipasi dalam politik, serta hubungan gereja dan situasi politik daerah. Marina,mahasiswa komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta memandu diskusi dan semua peserta terlibat aktif berbagi pengalaman tentang anak muda di ruang publik daerah masing-masing, serta pengalaman melihat hubungan gereja dan politik. Riki  mengawali dengan pemahaman milenial dan partisipasinya dalam politik saat ini. Masihkah relevan dengan anak muda yang dimaksud Soekarno waktu dulu? Milenial sekarang cendrung lebih instan untuk melakukan berbagai hal, contoh ketika mereka ingin terlibat dalam ruang publik,mereka memakai aplikasi online seperti kitabisa.com untuk menggalang dana bagi korban bencana atau membangun sebuah sekolah. Mereka meninggalkan pola lama yang berciri procedural rumit”, ungkap Mariano.

Dalam sesi gereja dan politik, Rusli, mahasiswa pertanian UST, selaku pemantik mengutarakan jika ada kebijakan daerah dan masyarakat menolak karena tidak pro rakyat,apakah gereja terlibat? Apakah gereja perlu terlibat politik?
 
Grace, peserta asal Atambua NTT,bercerita bahwa di daerahnya pernah ada pastor yang berkotbah menyarankan jemaat memilih pemimpin yang terlibat aktif di gereja dan jangan pilih yang tidak aktif. Menilai pemimpin tidak hanya dari keaktifan di gereja tetapi juga dari rekam jejak pengalaman dan prestasi. Tokoh agama harusnya tidak terlibat dalam politik praktisYoldi,mahasiswa manajemen Sanata Dharma berpendapat berbeda, gereja harus terlibat politik hanya saja pada batasan tertentu, karena menurutnya Paus saja memimpin gereja dan juga mengurusi administrasi di Vatikan. “Jika gereja ingin terlibat dalam politik praktis, lebih baik melalui kita-kita sebagai umat. Kita juga sebagai generasi yang harus terlibat di gereja agar terlibat dalam penentuan kebijakan di gereja”, lanjutnya.
 
Sebagai penutup, para peserta diskusi berkesimpulan bahwa generasi millennial harus peduli politik dengan berpartisipasi sesuai potensi millenialnya yang identik dengan teknologi informasi. [ML]

 

 

  Bagikan artikel ini

Melek Politik dan  Berpartisipasi di Gereja Diskusi Mahasiswa Sumba Tentang Gereja dan Politik

pada hari Sabtu, 16 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
Menindaklanjuti Pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta tentang Gereja dan Politik yang bertemakan Muda, Milenial, Melek Politik yang diadakan Februari lalu, menggugah hati para peserta untuk membagikan pengalaman yang sudah mereka dapatkan. Kelompok ‘follow-up’ dari Sumba berinisiatif mengadakan diskusi kecil membahas situasi politik saat ini dan peran gereja terhadap politik di Sumba dengan mengundang beberapa mahasiswa sejumlah lima belas orang  di kafe Kebun Laras, Balirejo (14/03/2019).
 
Daniel Hamba Banju, seorang mahasiswa STPMD, bertugas sebagai pemantik memulai diskusi dengan mengajak teman-teman muda berpikir  apa pemahaman mereka tentang politik. Ada yang mengatakan politik itu kotor, ada juga yang mengatakan politik adalah cara untuk memikat orang agar mengikuti apa yang ingin dicapai. Anton, mahasiswa Pertanian UST,mengatakan bahwa memang sebenarnya politik itu kotor, tetapi jika semua beranggapan kotor, siapa yang akan merubah politik itu menjadi bersih, makanya anak muda tidak boleh buta politik. Sarloce Apang yang juga hadir mendampingi teman-taman saat itu memberi pemahaman tentang perbedaan politik praktis dan teoritis.
 
Setelah saling memberi pemahaman tentang politik,kelompok ini kemudian membahas sejauhmana gereja di Sumba berkontribusi pada dunia politik. Tania Taka, Mahasiswa UGM yang kebetulan orang tuanya pendeta bercerita bahwa berdasarkan pengetahuannya, tahun ke tahun gereja di Sumba terus memberi pemahaman tentang politik yang baik dan tetap bersifat netral. Ia juga bercerita Bapaknya seorang pendeta dan pernah menjabat sebagai anggota DPR, programnya pun banyak yang berhasil dilakukan.
 
Namun demikan ada beberapa peserta tidak setuju jika Pelayan Firman terjun ke dunia politik. Seperti Alan Mehakati, mahasiswa Kehutanan UGM mengatakan bahwa sebenarnya Pendeta adalah orang yang paling dipercaya di masyarakat, tetapi ketika pendeta tersebut terjun ke dunia politik maka akan mempengaruhi kenyamanan jemaat yang dilayani. Dari percakapan tersebut, Tania Taka juga menjelaskan bahwa ada aturan dari Sinode Sumba bagi Pendeta yang terlibat dengan politik di wajibkan mundur dari jabatannya sebagai pelayan di jemaat dan tidak diperbolehkan naik mimbar berkhotbah. Berkaitan dengan peran anak muda untuk gereja, peserta diskusi beranggapan bahwa masih jarang anak muda terlibat langsung dengan kehidupan gereja. Mereka juga mengungkapkan situasi gereja di Sumba, seperti ada gereja yang menggunakan uang persembahan untuk membuka usaha namun hasilnya nihil. Bagi mereka, situasi ini sangat memprihatinkan, uang persembahan tidak boleh digunakan untuk hal-hal lain di luar gereja karena itu adalah persembahan dari jemaat semata-mata hanya untuk Tuhan.
 
Dari hasil diskusi tersebut, disimpulkan bahwa anak muda tidak boleh apatis terhadap situasi politik saat ini, apalagi dalam menyambut pesta demokrasi diharapkan mereka memiliki pemahaman tentang setiap calon pemimpin yang akan dipilih agar tidak salah pilih. Mereka juga berpendapat jika ingin ada perubahan dalam kehidupan gereja, penting bagi anak muda ambil bagian, setidaknya aktif dalam komisi pemuda gereja atau menjadi majelis jemaat agar terlibat langsung dalam pengambilan keputusan di gereja. Mari berpartisipasi dan terlibat untuk kemajuan, apa pun komunitas kita. (ELZ).

  Bagikan artikel ini

 Melek Politik  Berbasis Literasi Informasi

pada hari Kamis, 14 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
Media menjadi sangat penting di era globalisasi ini,khususnya bagi kaum muda milenial yang melek politik. Sebab, media sangat membantu dan mempermudah orang mengakses informasi berita dengan cepat. Namun ada yang perlu diwaspadai saat media itu diakses, karena sering ditemukan munculnya berita-berita palsu atau sering disebut hoaks. Bersamaan dengan adanya pesta demokrasi di tahun ini, maka semua pihak perlu mengantisipasi berita-berita yang salah (dis-informasi) dan berita yang tidak utuh (mis-informasi) yang bisa berdampak memecah belah, membawa kebingungan atau malah membangun kebencian.
 
Dalam kegiatan follow-up kelompok mahasiswa yang menamakan diri GSP (Gerakan Sumatera Purworejo),bertempat di gedung pasca sarjana STAK Marturia Yogyakarta (12/03/2019), ada empat topik diskusi yang disampaikan berkaitan dengan pendidikan politik berbasis literasi informasi. Literasi informasi itu sendiri adalah kemampuan untuk mengetahui kapan informasi dibutuhkan, diidentifikasi, serta dievaluasi secara efektif. Selanjutnya informasi tersebut digunakan untuk memahami isu atau pun masalah yang sedang dihadapi.
 
Sebanyak 22 orang mahasiswa dan mahasiswi STAK Marturia menghadiri diskusi tersebut  dengan 4 orang narasumber yaitu: Christian Apri Wijaya (Wasek DPD GAMKI DIY) dengan topik diskusi “Pemahaman Politik”;Sari Dwi Kristianto (mahasiswa Teologi STAK Marturia Yogyakarta) dengan topik ”Gereja dan Politik”Erik Sihombing (Sekfung pendidikan Kader GMKI Yogyakarta) dengan topik “Sosialisasi Pemilu”; dan Astiwijaya Setiandari S. (Mahasiswa PAK STAK Marturia) dengan topik “Antisipasi Hoax di Tahun Politik”.Sebelumnya, keempat pemateri telah mengikuti pelatihan Gereja dan Politik dengan tema: Muda, Milenial, Melek politik yang dilaksanakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta (15-17/02/2019). Diskusi berjalan dengan baik, peserta antusias mengikuti setiap sesi dan aktif dalam sesi tanya jawab.
 
Partisipasi anak bangsa dalam pemilihan umum 17 April 2019 ini, salah satunya bisa diwujudkan dengan memberikan suara bagi calon-calon pemimpin Indonesia. Sebagai penutup diskusi tersebut kelompok GSP kembali menekankan, “Satu suara sangat menentukan bangsa Indonesia agar lebih maju ke depannya, dan jangan lupa cek kebenaran informasi dari media yang diperoleh agar tidak menerima berita bohong atau hoax”. Selamat menikmati pesta demokrasi Indonesia. (FAT)

  Bagikan artikel ini

Bergereja  Vs  Berwisata

pada hari Senin, 11 Maret 2019
oleh Admin Yogya
 
 
 
Bergereja versus berwisata menjadi tantangan tersendiri baik bagi umat maupun para pemimpin umat. Terlebih bagi jemaat di tempat-tempat yang dipakai sebagai destinasi wisata. Hal ini menjadi pergumulan panjang dan berkelanjutan di beberapa desa di Kabupaten Raja Ampat. Salah satunya adalah Distrik Kepulauan Sembilan, Jemaat GKI Effata Wejim, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat.
 
Setiap hari minggu anak muda tidak antusias ke gereja, bahkan bunyi lonceng gereja terdengar tidak merdu lagi bahkan tidak dirindukan. Anak muda lebih memilih menemani turis yang akan menginap di resort dan membutuhkan jasanya. Tempat ibadah banyak yang kosong dan tidak terjadi pertumbuhan rohani karena setiap hari Minggu semua orang sibuk untuk menyambut tamu yang akan berwisata. Lalu apa yang akan terjadi dengan nasib jemaat, pemuda dan bahkan masa depan gereja tersebut?” Viktor, salah satu mahasiswa di Yogyakarta yang berasal dari Distrik Kepulauan Sembilan mengungkapkan kegundahannya.
 
Kabupaten Raja Ampat merupakan resort yang memiliki pesona bawah laut yang luar biasa dan selalu ramai dikunjungi turis lokal maupun manca negara. Pesona laut dengan gugusan pulaunya sungguh menakjubkan. Ada gugusan karst yang membentang juga laguna laut berbentuk bintang. Sungguh pemandangan alam yang indah layaknya di surga.
 
Diskusi gereja dan politik yang dilakukan beberapa mahasiswa(9/3/2019)mengambil bacaan yang berjudul “Jika Semak Duri Menjadi Raja” yang diambil dari Hakim-hakim 9:8-15, berjalan sangat hidup karena semua peserta berbagi pengalaman bergereja dari daerah asal. Anis Bame, mahasiswa Universitas Janabadra asal Maybrat, Papua memimpin diskusi dengan hangat. Ada begitu banyak masalah yang terjadi didalam kehidupan bergereja. Selain masalah pemuda yang tidak tertarik lagi untuk beribadah, juga kasus yang sering terjadi adalah pastor dan pendeta terjun kedalam dunia politikpraktis, sehingga terjadi tumpang tindih kepentingan. Menjadi perdebatan sengit ketika seorang pendeta atau pastor tetap melayani jemaat sebagai seorang pendeta dan pastor sementaramenjabat sebagai anggota legislatif. Hal ini membuat jemaat merasa tidak nyaman”, tutur Giovani, Ketua Umum Ikatan Pelajar Mahasiwa Raja Ampat. “Sampai saat ini belum ada kejelasan di GKI di Tanah Papua,apakah seorang pendeta atau pastor bisa menjabat di legislatif dan tetap melayani jemaat ataukah harus memilih untuk melepaskan salah satu”, tanyanya. Sarloce tim kerja Stube HEMAT dan Kifli Senen, mahasiswa dari Halmahera menginformasikan kalau di GMIH sudah ada peraturan bahwa pendeta yangmencalonkan diri menjadi anggota legislatif harus meletakkan jabatan rohaninya. Kita semua punya kemampuan bekerja sama untuk bisa mewujudkan keharmonisan dalam bergereja dan berpolitik dengan memisahkan institusi Gereja dan politiktetapi dalam prakteknya gereja tetap harus menyuarakan suara kenabian yang berkaitan dengan ketidakadilan atau kemiskinan yang semua itu berkaitan dengan ranah politik”, tutur Sarloce.
 
Dalam kasus bergereja vs berwisata inisangat berkaitandengan kekurangan lapangan pekerjaanyang memicu banyak pemuda lebih memilih kerja di hari Minggu dan tidak ke gereja. Bisa jadi karena pendeta dan pastor sudah tidak lagiberkhotbah tentang kesejahteraan, kemiskinan, dan persoalan sosial budaya dan ekonomi, karena mereka sudah masuk kedalam sistem kekuasaan.
 
Menjadi pergumulan bersama untuk melawan kemapanan yang tidak mendengarkan pergumulan ketidakadilan dan kemiskinan masyarakat. (SAP).

 


  Bagikan artikel ini

Anak Muda Kritis dalam Menentukan Pilihan

pada hari Rabu, 6 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 

Lanjutan dari Pelatihan Muda, Milenial, Melek Politik yang diselenggarakan Stube-HEMAT Yogyakarta, menggelitik peserta membagikan apa yang sudah didapat dari pelatihan tersebut secara mandiri ataupun berkelompok. Beberapa peserta yang menamakan diri kelompok PAPEDA (Papua Penuh Damai) yang beranggotakan Hanis, Ram, Yansen, Yubelina, Roni, dan Frengki melaksanakan follow-up di Universitas Janabadra pada hari Sabtu, 2 Maret 2019.

Ram Hara  mahasiswi Janabadra asal Maybrat, Papua Barat yang juga aktif sebagai Menteri Sosial BEM Universitas Janabadra menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan kerjasama Kementerian Sosial BEM Universitas Janabadra dan kelompok follow-up PAPEDA. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah berbagi pemahaman positif dan pengetahuan kepada mahasiswa tentang politik yang diperoleh saat mengikuti pelatihan Stube-HEMAT. Muatan acara menjadi lebih lengkap dengan diskusi refleksi perpolitikan Indonesia yang dibawakan oleh Frans A. Djalong, MA dosen dari Departemen Sosiologi Fisipol UGM. 


Bertempat di ruang 1.21 Fakultas teknik Universitas Janabadra, acara dimulai pukul 10.00-13.15 WIB. Dua puluh dua mahasiswa dari berbagai kampus seperti UGM, Janabadra, dan APMD terlihat antusias mengikuti sesi. Mariano Lejap perwakilan Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali acara dengan presentasi pengenalan lembagadilanjutkan dengan sharing pengalaman dan wawasan dari kelompok PAPEDA yang diwakili oleh Yube, Roni dan Yansen.


Dalam pemaparannya,Frans Djalong merefleksikan situasi perpolitikan tanah air, mulai dari awal Soekarno dan tokoh nasional lainnya dalam membaca situasi Geopolitik dan memanfaatkannya untuk kemerdekaan Indonesia. Buku‘Di Bawah Bendera Revolusi’ menjadi salah satu referensi untuk dibaca mahasiswa agar lebih memahami sejarah. Lebih lanjut, salah satu poin tentang teori politik menurut beliau adalah tidak ada teori dan praktek, teori ialah praktek itu sendiri. Contoh seorang petani yang berkebun, masa tidak ada teorinya? Teori itu ialah seperangkat pemikiran yang membuat seseorang bertindak secara teratur dan sistematis dari waktu ke waktu. Tugas mahasiswa adalah mengecek teori apa dibalik suatu praktek atau tindakan. Sehingga mahasiswa dituntut untuk lebih kritis dalam menentukan pilihan politik. Dalam situasi politik saat ini Frans Djalong berpesan,Kita sebagai mahasiswa perlu kritis, bukan mendewakan Jokowi atau Prabowo sebagai personal,tetapi apa yang ada di balik itu? Siapa dibalik Jokowi? Siapa di balik Prabowo? Apa konsep yang mereka tawarkan untuk membangun Indonesia dari Aceh sampai Papua.
 
Di akhir sesi,Robinson, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta mengajak semua peserta mahasiswa khususnya mahasiswa rantau untuk mengecek nama dilindungihakpilihmu.com dan mengingatkan peserta untuk tidak Golput saat pesta demokrasi, 17 April 2019 mendatang, dengan cara mengurus Formulir A5 atau keterangan pindah pemilih. Selamat menyongsong pesta demokrasi. (ML).
 

  Bagikan artikel ini

Aku Mendengar, Melihat dan Melakukan Sharing komunitas mahasiswa Aru tentang Gereja dan Politik

pada hari Senin, 4 Maret 2019
oleh Stube HEMAT
 
 
 
 
‘Aku mendengar maka aku lupa, aku melihat maka aku ingat, aku melakukan maka aku paham’ ini adalah pepatah kuno dari Konfusius. Pepatah ini menjadi pendorong yang kuat bagi seseorang ketika belajar tidak cukup hanya mendengar tetapi perlu mengamati dan mempraktekkan apa yang dipelajari. Ketika seseorang mengalami sendiri sebuah proses pembelajaran maka ia akan mengerti.
 
 
Hal sama terjadi ketika dalam pelatihan Gereja dan Politikyang diadakan oleh Stube-HEMAT Yogyakarta pada 15-17 Februari 2019 dengan tema ‘Muda Milenial Melek Politik’, para peserta mendapatkan pencerahan dan pemahaman baru tentang sejarah gereja dan dinamika politik, bagaimana seharusnya anak muda Kristen bersikap dalam politik masa kini. Dalam pelatihan para peserta didorong tidak hanya menjadi pendengar tetapi membagikan pengalaman yang mereka peroleh kepada orang lain, baik itu pribadi maupun kelompok.
 

 

 
Salah satu kelompok adalah mahasiswa dari kepulauan Aru, yang mengadakan ‘sharing’ dengan pemuda pemudi Gereja Sahabat Indonesia (GSI) di Condongcatur pada hari Jumat, 1 Maret 2019. Dalam sharing ini Natasya Derman, mahasiwa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UST memulai sharing dengan menyampaikan pengalamannya mengikuti kegiatan di Stube-HEMAT Yogyakarta, seperti pelatihan, diskusi dan eksposur lokal. Selanjutnya ia mengajak peserta menulis persepsi mereka tentang dunia politik. Ada berbagai pendapat, seperti kekuasaan, korupsi, tidak tahu dan kotor. Ini sama seperti yang ia alami sebelumnya yang tidak tahu bahkan apatis terhadap politik, namun dalam pelatihan ia menemukan pencerahan, ternyata esensi politik tidak buruk, kotor dan nafsu kekuasaan, tetapi tindakan untuk menghadirkan kesejahteraan bersama. ‘Image’ negatif politik disebabkan oknum-oknum yang memiliki kekuasaan politik melakukan korupsi, kolusi dan penyalahgunaan wewenang. Karena itu kita terpanggil untuk memperbaiki keadaan itu, salah satunya ikut dalam pemilihan umum untuk menentukan pemimpin bangsa ini.
 

 

Berkaitan dengan gereja dan dunia politik, Lenora Nada, mahasiswa Teknik Informatika Universitas Kristen Imanuel membagikan topik tentang perjumpaan gereja dengan dunia politik. Gereja mula-mula terpisah dengan kekuasaan politik, bahkan dianggap sebagai ancaman. Tetapi sekalipun gereja mula-mula dihambat dan dianiaya, anggotanya semakin berperan di tengah masyarakat saat itu karena mereka dinilai sebagai orang-orang yang baik, memiliki spiritualitas kuat dan bisa dipercaya. Mau tidak mau penguasa saat itu mengakomodir mereka berkiprah di masyarakat. Perkembangan kekristenan semakin meluas. Puncaknya ketika kekristenan menjadi agama negara pada era Konstantinus. Orang-orang masuk Kristen karena mereka ingin mendapat hak sebagai warga Romawi. Gereja dan kekuasaan politis menjadi satu dan memicu penyalahgunaan kekuasaan baik itu pemimpin gereja dan pemimpin politik. Gereja tidak lagi menyuarakan pembelaan terhadap ketidakadilan, kemiskinan dan penindasan, tetapi justrumelanggengkan kekuasaan. Akhirnya reformasi gereja terjadi dan gereja menempatkan diri berada di luar kekuasaan politik, namun ini juga berdampak pada anggota gereja yang seperti takut untuk berbicara berkaitan politik.
 
 
Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta yang mendampingi kelompok ini, mengingatkan peserta sebagai warga negara untuk ikut ambil bagian di pemilihan umum dengan ikut pemungutan suara. Ia juga membantu peserta untuk mengecek apakah namanya sudah terdaftar sebagai pemilih. Di akhir sesi, Tasya kembali mengungkapkan bahwa kita sebagai anak muda merenungkan kembali nilai-nilai kekristenan dan mendukung pemerintah untuk ikut ambil bagian dalam mewujudkan kesejahteraan bersama. (Natasya Derman).

 


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook