pada hari Selasa, 20 Oktober 2015
oleh adminstube
Program Pembangunan Masyarakat
Lanjut Usia Dan Tunawisma
Aku: Tak Lekang oleh Waktu
 
 
“Ada ungkapan ‘Menjadi Tua adalah Kepastian, Menjadi Dewasa adalah Pilihan.’ Masa tua pasti dialami setiap manusia, namun kedewasaan harus terus menerus diupayakan seiring dengan bertambahnya usia,” ungkap Trustha Rembaka mengawali pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta tentang Pembangunan masyarakat: Lanjut Usia dan Tunawisma. Kemudian Indah Theresia dalam Alur Program memaparkan bahwa berkembangnya suatu daerah diikuti peningkatan kesejahteraan dan naiknya usia harapan hidup di daerah tersebut yang berimbas bertambahnya penduduk lanjut usia. Sementara makin maju suatu daerah makin mahal harga tanah daerah tersebut yang berakibat munculnya kelompok masyarakat yang tidak mampu menjangkau kebutuhan rumah tinggal. Apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan menghadapi realita tersebut?
 
 
Pelatihan yang diadakan 16 – 18 Oktober 2015 di wisma Sargede dan dilanjutkan di Bumi perkemahan Sumberboyong Pakem ini membekali mahasiswa memahami sistem perlindungan terhadap lanjut usia dan tunawisma, membangun jejaring untuk memberdayakan lanjut usia dan tunawisma. Yang tidak kalah penting adalah sebuah pemahaman untuk mahasiswa bagaimana merancang masa depan secara mandiri sejak di bangku kuliah.
 
Drs. Suryana, M.Si dan Ir. Baried Wibawa, keduanya dari Dinas Sosial DIY memberikan apresiasi positif kepada mahasiswa yang mengadakan kegiatan tentang lanjut usia dan tunawisma. Kedua narasumber memaparkan peran pemerintah dalam pemberdayaan dan perlindungan terhadap lanjut usia dan tunawisma berwujud regulasi dan fasilitas yang bisa diakses oleh mereka dalam berbagai wadah unit pelaksana teknis, seperti panti wredha, rehabilitasi sosial dan tunawisma.

 

Eksposur sebagai wahana belajar lapangan peserta diadakan di tiga tempat. Yang pertama adalah Lembaga Sosial Hafara, bertempat di Gonjen Tamantirto, Kasihan, Bantul. Hafara adalah lembaga sosial yang bergerak di bidang pengentasan dan pemberdayaan komunitas jalanan serta kaum dhuafa. Fokus Hafara yaitu: satu, pengentasan anak jalanan melalui rumah singgah; dua, pengentasan dan pemberdayaan anak terlantar dan orang terlantar; tiga, pendidikan luar sekolah bagi anak-anak kurang mampu; empat, pemberdayaan masyarakat miskin, dan lima, kegiatan ekonomi produktif. Di Hafara, peserta pelatihan Stube-HEMAT Yogyakarta beraktivitas bersama berupa dialog dan sharing, membuat batako dan bermain dengan anak-anak dampingan.


 
Yang kedua, Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budhi Luhur yang dikelola Dinas Sosial DIY, berlokasi di Kasongan, Bantul. Peserta berdialog dengan warga binaan yang berjumlah lebih dari 80 orang lanjut usia. PSTW Budhi Luhur dikelola Dinas Sosial DIY. Dalam dialog, peserta menemukan berbagai kisah yang melatarbelakangi keberadaan mereka di situ, seperti ketidakmampuan keluarga dalam merawat, tidak adanya sanak saudara atau mereka diangkut dari jalanan.


Yang terakhir, Panti Wredha Hanna di Surokarsan, Yogyakarta. Panti ini merupakan wujud pelayanan gereja terhadap masyarakat yang sudah memasuki masa tua. Sembilan peserta pelatihan berinteraksi dengan sebagian warga panti, karena tidak sedikit yang mengalami keterbatasan kemampuan komunikasi dan kondisi fisik. Peserta pelatihan menemukan kenyataan bahwa keberadaan mereka di panti tidak melulu karena tidak mampu secara ekonomi, tetapi mereka sendiri yang memilih berada di situ dan tidak ada sanak saudara yang merawat. Perjumpaan ini membuat peserta merenungkan kembali makna keluarga. Selain itu, peserta belajar tentang totalitas kasih perawat saat mendampingi warga panti menjalani masa tua mereka.
 

Seusai eksposur, peserta menuju bumi perkemahan Sumberboyong Pakem. Perkemahan ini bertujuan memberi pengalaman merasakan hidup seperti tunawisma, hidup tanpa naungan dinding tembok dan atap rumah. Meski berada di dataran tinggi yang menjadi daerah resapan air, namun kondisi lingkungan cukup kering dan beberapa tanaman mati kekurangan air. Sekalipun demikian, peserta tetap antusias membangun tenda dan mempersiapkan presentasi eksposur.
 
Sesi Mengelola Keuangan ala Mahasiswa yang diampu Dr. Murti Lestari, board Stube-HEMAT disambut antusias oleh peserta dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pengelolaan waktu antara kuliah dan aktivitasnya, bagaimana menata pemasukan, pengeluaran dan tabungan. Selain itu, peserta didorong untuk mandiri dan memiliki kegiatan produktif.

 
 
Pencerahan yang dialami peserta tentang lanjut usia, tunawisma, keluarga dan masa depan memotivasi peserta melakukan kegiatan lanjutan seperti menulis refleksi tentang hidup, membuat film pendek tentang keberadaan orang-orang terpinggirkan, tulisan ‘feature’ tentang kemanusiaan dan kumpulan foto-foto perjalanan hidup manusia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook