Pengalaman Saya Yang Menakjubkan

pada hari Minggu, 24 April 2022
oleh Yohanes Tola
Refleksi Peserta Eksposur Lokal ke Lampung     

 

Oleh Yohanes Tola          

 

 

Menjadi salah satu peserta program Local Exposure to Lampung adalah kesempatan luar biasa yang pernah saya alami sampai saat ini. Tidak pernah terpikirkan, pertemuan saya dengan team Stube HEMAT Yogyakarta di akhir 2021 menghadirkan ‘hadiah’ pengalaman terbaik. Saat itu, saya bertemu dengan team Stube HEMAT Yogyakarta sebagai ‘orang baru’ yang belum mengenal apa itu Stube HEMAT Yogyakarta, dan saat itu saya sedang menjabat sebagai ketua Persekutuan Mahasiswa Kristiani (PMK) Institut Teknologi Yogyakarta.

 

 

Selanjutnya, saya mengikuti pelatihan Stube HEMAT Yogyakarta tentang Water Security antara lain memanfaatkan air hujan menjadi air layak minum, kunjungan ke PDAM untuk memahami realita masalah distribusi air di DIY, diskusi bersama WALHI tentang air dan tantangannya. Beragam kegiatan ini membentuk saya menjadi figur yang berusaha menghayati motto Hidup, Efisien, Mandiri, Analitis dan Tekun.

 


 

Kegiatan berikutnya yang saya ikuti adalah Local Exposure to Lampung untuk membagikan program pelatihan public speaking dan pengenalan Energi Baru Terbarukan (EBT). Di Lampung saya menemukan hal-hal baru, bertemu orang baru, belajar membawakan materi, belajar beradaptasi, belajar kepekaan sosial, dan belajar aktualisasi pengetahuan kampus di tengah-tengah masyarakat. Saya melihat realita dunia secara lebih jelas dan melihat persoalan masyarakat lewat orang-orang yang bergerak lebih dulu untuk mengupayakan perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik.

 

 

Pertemuan dengan Pdt. Theofilus Agus Rohadi, S.Th. pendeta di GKSBS Batanghari Lampung Timur yang juga Multiplikator Stube HEMAT di Lampung mengajarkan saya makna ketulusan hati yang murni, wujud menggunakan rahmat Tuhan untuk dunia dan anak-anak  yang lebih baik. Pertemuan dengan anak-anak di Pondok Diakonia membuka mata tentang semangat belajar mengalahkan kendala yang ada, seperti keterbatasan ekonomi, jarak antara rumah dengan sekolah, keterbatasan fasilitas pendidikan di wilayah, sehingga tinggal di Pondok Diakonia menjadi pilihan yang tepat untuk melanjutkan studi. Apalagi dengan melatih keterampilan ‘publik speaking’ akan menjadi nilai lebih untuk mereka. Saya mendapati pengalaman lain dari Mbah Ji, salah seorang jemaat di GKSBS Batanghari di mana saya tinggal selama kurang lebih empat belas hari. Bersama beliau, saya seperti mengalami ‘kuliah’ dan menemukan makna yang membekas, tentang ‘kuliah Kehidupan’. Pertemuan bersama Yabima dan orang-orang yang bergerak di dalamnya memberi makna tentang idealisme yang harus dijunjung tinggi di tengah kerusakan alam saat ini, khususnya dunia pertanian yang mengalami modernisasi berlebihan yang kemudian meninggalkan nilai nilai tradisional yang ramah pada alam.

 

 

Saya sangat senang bisa memiliki orang-orang luar biasa seperti ini dalam hidup saya. Saya percaya selalu ada alasan untuk sebuah pertemuan, apakah itu tentang waktu yang mempertemukan kembali atau tentang waktu yang mengingatkan untuk terus menjaga kenangan itu. Terima kasih Stube HEMAT Yogyakarta yang menyediakan ruang belajar ini untuk saya, saya bangga menjadi bagian dari Stube HEMAT Yogyakarta yang menjadi ‘alarm kehidupan’ saya saat ini, yaitu tentang sebuah sikap dan cara hidup menjadi mahasiswa akan terus saya jaga dan saya bagikan kepada teman-teman saya melalui aktivitas organisasi dan sosial saya.***


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2022 (37)
 2021 (42)
 2020 (49)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 585

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook