pada hari Selasa, 25 November 2014
oleh adminstube
Program Pelatihan Populasi, Pasar dan Tenaga Kerja:
Memperbarui Semangat yang Baru?
Wisma PGK Shanti Dharma Godean, 21- 23 November 2014
 

 

 

 

 

Judul di atas membuat bingung! Bagaimana mungkin hal baru diperbaharui? Ya benar, tidak semua orang mudah memahami judul itu. Mari sejenak kita renungkan beberapa hal yang melatarbelakangi pembuatan judul itu.

 

 

 

 

Akhir November 2014, Yogyakarta sering diguyur hujan. Temperatur udara sedikit banyak mempengaruhi kesehatan dan stamina, namun demikian puluhan mahasiswa Stube-HEMAT Yogyakarta tetap melangsungkan aktivitasnya: berlatih, berdiskusi, dan merancangkan aktivitas lanjutan. Aktivitas itu terkemas rapi dalam pelatihan berjudul Carpe Diem: Petiklah Harimu!

 

 

 

 

 

 

Pelatihan dikemas selama dua malam tiga hari di Wisma PGK Shanti Dharma, Godean, pada 21 – 23 November 2014. Pelatihan ini mencakup beberapa aktivitas seperti perkenalan, perenungan, permainan beregu, ice-breaking, diskusi, dan sharing. Sungguh antusiasme dan semangat muda mahasiswa Stube ditunjukkan dengan banyaknya peserta yang hadir. Sejumlah empat puluh tujuh orang dari berbagai fakultas, kampus, jurusan, semester, daerah, dan tradisi, bertemu, berolah pikir dalam diskusi di satu ruangan.

 

 

 

 

Setelah saling berkenalan, mereka belajar lebih lanjut apa itu Lembaga Stube, sebuah lembaga pendampingan mahasiswa yang membekali mahasiswa dengan berbagai pengetahuan, keterampilan dan pengalaman. Selanjutnya peserta diharapkan mampu mengembangkan daerahnya yang kaya potensi.

 

 

 

 

Hadi Sutarmanto, dosen Psikologi Universitas Gadjah Mada, membagikan materi tentang teori psikologis yang dipakai untuk seleksi penerimaan pekerja. Macam–macam kebutuhan perusahaan membuat seleksi diperketat. Tidak selamanya pekerja dengan pengetahuan dan kemampuan relasional yang tinggi dapat mudah diterima bekerja. Seorang yang memiliki keterampilan biasa dapat saja diterima karena sesuai dengan kebutuhan perusahaan.

 

 

 

 

Martuti, aktivis buruh dari Sragen mengisi sesi ketiga. Ia menampilkan film tentang buruh dan kehidupannya yang mengungkap bagaimana kesejahteraan pekerja diabaikan demi keuntungan maksimal sebuah perusahaan. Buruh tidak sempat untuk memikirkan investasi hidup maupun usaha lain, sehingga perlindungan terhadap buruh mutlak diperlukan. Sesi berikutnya adalah Sri Hartati dari BPPM DIY yang mengungkapkan pengalaman dalam mendampingi perempuan dan masyarakat di DIY. Kinardi dari Dewan Pimpinan Daerah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPD KSPSI), mengisi sesi berikutnya. Beliau banyak membahas tentang birokrasi dan keberpihakan pemerintah untuk buruh.

 

 

 


 

Sesi akhir pelatihan Populasi, Pasar, dan Tenaga Kerja ini diampu oleh DR. Murti Lestari M.Si., peneliti bidang Ekonomi Pembangunan. Topik yang dibahas adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), sebuah topik penting tetapi belum terlalu populer di kalangan mahasiswa. Berlakunya MEA ini membuat persaingan di segala bidang menjadi semakin luas, dari tingkat nasional sampai pada tingkat regional. Namun demikian, di satu sisi kita mendapatkan kesempatan yang lebih luas karena MEA membuat penduduk ASEAN lebih mudah berpindah tempat di lingkungan Asia Tenggara. Dengan demikian kita bisa bekerja di berbagai negara di Asia Tenggara. Namun demikian di sisi lain, jumlah pekerja non-Indonesia di wilayah Indonesia ini menjadi semakin banyak pula. Ketidaksiapan kita akan merugikan diri kita sendiri. Untuk itu kita harus siap untuk bersaing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pada sesi penutup, Follow-Up yang ingin dilakukan peserta adalah menyebarluaskan topik ini kepada mahasiswa yang lain dan kegiatan persiapan menghadapi persaingan dengan peningkatan kualitas diri dan wirausaha. Semoga menjadi berkat bagi kita semua. (YDA).

 

 

 

 

 

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Selasa, 11 November 2014
oleh adminstube
 

 

Jurnalisme Investigasi

 

 

 

 

Membela yang benar adalah sebuah tugas mulia. Menyuarakan kebenaran adalah sendi untuk membangun peradaban luhur. Namun, apa jadinya bila kebenaran itu dibungkam dan yang sampai kepada kita adalah kebenaran semu? Maka yang terjadi adalah kita semua tertipu dan menganggap tipuan itu sebagai kebenaran sejarah. Lalu, apa yang terjadi bila suara kebenaran itu menutupi orang- orang yang berbuat salah?

 

 

 

 
Empat mahasiswa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta hadir mengikuti Pelatihan Jurnalisme Investigasi yang diselenggarakan SMI (Social Movement Institute) pada tanggal 8 dan 9 November 2014. Pelatihan ini bertujuan melatih kaum muda untuk lebih mengenal kenyataan di sekelilingnya. Setiap pengumpulan data dan pelaporan harus dilakukan cermat agar menghasilkan berita yang penting dan menarik publik. Empat orang wartawan dari media Tempo, Tribun Jogja, Jakarta Post, serta Allan Nairn, seorang jurnalis investigasi dari Amerika yang pernah dipenjarakan militer Indonesia saat kerusuhan Timor-Timur, pasca jajak pendapat.

 

 

Bambang dari Jakarta Pos mengungkapkan bahwa produk jurnalisme investigasi sangat sulit dihasilkan karena mempunyai kerumitan tertentu. Biasanya yang melakukan jurnalistik investigasi ini adalah wartawan senior yang cukup berpengalaman dan memiliki jaringan luas. Jurnalisme investigasi rumit karena harus melakukan riset awal untuk mendapatkan penajaman dan gambaran utuh. Investigasi merupakan hasil kerja tim. Observasi harus dilakukan dengan terjun ke lapangan yang beresiko karena biasanya lapangan selalu mengandung konflik.

 

 

 

Wartawati dari Koran Tempo juga turut diundang. Ia sedang mendalami kasus pembunuhan wartawan Udin dan membagikan sharing-nya tentang wawancara dan penggalian riset. Teknik wawancara harus membuat narasumber nyaman dan akrab. Selanjutnya, keamanan narasumber menjadi tanggung jawab kita.

 

 

 

Ikrom dari Tribun Jogja menyatakan bahwa jurnalisme investigasi tergolong sulit. Di dalamnya terkandung usaha untuk verifikasi data dan konfirmasi. Dua belah pihak yang bertentangan atau berbeda harus ditunjukkan pernyataannya untuk menunjukkan bahwa karya jurnalistik kita berimbang dalam menguak fakta.

 

 

 

Seri pamungkas dari rangkaian acara adalah pemaparan dari Allan Nairn. Dia bercerita mengenai beberapa investigasi yang dia lakukan pada peristiwa pembantaian yang terjadi di Peru dan Guatemalla. Dia juga banyak bercerita tentang sejarah bangsa ini yang bertabur tangis dan darah.

 

 

Untuk mengasah kemampuan peserta pelatihan, mereka diminta  melakukan observasi layanan BPJS di dua rumah sakit yakni RSUD Wirosaban dan RS. Hidayatullah. Dari pelatihan ini beberapa teman mengakui peningkatan kemampuan untuk bertanya dan menggali data.

 

 

Akhirnya, setiap kebenaran yang disuarakan oleh karya–karya investigasi, kiranya dapat menyadarkan setiap orang bahwa kejahatan ada di sekeliling mereka dan mereka harus bertindak menyuarakan kebenaran berdasarkan fakta dan data seta menentang kejahatan itu. Selamat bergerak! (YDA)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook