pada hari Rabu, 25 Juni 2014
oleh adminstube
Sikap Orang Kristen Menghadapi Persoalan Kebangsaan,
Kini dan Di Masa Mendatang
 
Stube-HEMAT Yogyakarta Hadiri
Sarasehan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia Wilayah (PGIW) DIY
23 Juni 2014
 


Berpolitik bukanlah agenda utama gereja, karena gereja ada bukan untuk berkuasa tetapi untuk melayani umat manusia. Dalam pelayanan itu, gereja mulai memasuki lini-lini hidup umat melalui dimensi sosial, spiritual, kultural, dan pembangunan mental. Melalui kegiatan itu, gereja kemudian mewujudkan cita-cita yakni kesejahteraan bagi seluruh umat manusia tanpa membeda-bedakan.
 
Gereja mempunyai agenda bahwa pewartaan damai dan kasih harus sampai kepada seluruh umat manusia. Agenda kasih dan damai itu tentulah bertentangan dengan kecurangan, penindasan, dan ketidakadilan yang sering terjadi diantara umat manusia. Gereja kemudian menentang segala bentuk yang merusak kedamaian umat. Tentangan itu diaspirasikan pada seluruh lini hidup manusia. Politik kemudian menjadi salah satu cara untuk mewartakan kasih dan damai, bukan untuk berkuasa dan menindas sesama manusia.
 
Pada 23 Juni 2014 yang lalu di Wisma Imanuel Samirono, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (PGIW DIY) menyelenggarakan sarasehan bertajuk “Sikap Orang Kristen Menghadapi Persoalan Kebangsaan, Kini dan Di Masa Mendatang”. Pembicara dalam sarasehan tersebut adalah Pdt. DR. A. A. Yewangoe (Ketua Umum PGI).
 
Acara dibuka oleh Pdt. Purwantoro Kurniawan M. Min melalui renungan singkat dari Mazmur 33:12-17 dengan pesan teologis yang diantaranya adalah setiap pribadi janganlah mengandalkan diri sendiri. Ibadah dilanjutkan dengan Sambutan dari Ketua PGIW DIY, Pdt. Em. Bambang Sumbodo M. Min yang menyerukan bahwa jangan biarkan masyarakat kita larut dalam ketidaktahuan.
 
 
Dalam paparannya, Pdt. Yewangoe menyebutkan isu-isu yang berkembang dalam tiga bulan terakhir yang cukup kompleks menyangkut suku, agama, dan ras (SARA). Isu itu mengarah kepada kampanye yang diusung oleh para capres berisi opini yang tidak bertanggung jawab yang berkembang menjadi kampanye hitam atau kampanye negatif.
 
Untuk ini, masyarakat di lingkungan gereja harus jeli melihat mana berita yang benar dan mana berita yang hanya menjadi desas-desus. Elga Sarapung direktur Dian Interfidei yang bertindak sebagai moderator menegaskan bahwa posisi masyarakat tidaklah bijak apabila mudah terprovokasi. Setiap calon presiden harus dikenali visi-misinya terlebih dahulu. Pilihlah capres yang mewakili cita-cita anda untuk bangsa ini.
 
Stube-HEMAT Yogyakarta mengutus dua orang dalam sarasehan itu yakni Trustha dan Yohanes. Pengalaman untuk mendengar paparan dan arahan menyikapi PEMILU adalah berharga. Setiap orang muda harus berperan aktif dalam pesta demokrasi dan menyiapkannya dengan pilihan yang tepat. Maka, jangan sampai golput dan salah pilih dalam PEMILU ini. (YDA)

 

 
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Jumat, 20 Juni 2014
oleh adminstube
Yang Muda, Yang Berkarya
 
dalam Exploring Sumba
 



Yohanes Dian Alpasa, mahasiswa Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta dari Bengkulu Utara, sangat bersemangat dan menyanggupi ketika mendapat informasi tentang program Exploring Sumba. Yohanes memiliki kerinduan membagi pengetahuan dan ketrampilan khususnya dalam jurnalistik dan penulisan, yang telah dilakukan pada bulan April – Mei 2014. Dengan tema ‘Saling Berbagi demi Kemaslahatan Bersama: Mengenang Hikmat dalam kekuatan Tulisan di Sumba’ Yohanes mengajak mahasiswa dan kaum muda Sumba untuk mulai menumbuhkan kemauan menulis dan menyajikan dalam tulisan yang bermakna.
 
Novia Sih Rahayu dari Kulonprogo, Yogyakarta antusias mengikuti program Exploring Sumba. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang ia dapat selama belajar di Akindo telah dibagikan kepada teman-teman mahasiswa dan pemuda gereja di Sumba pada bulan April – Mei 2014. Dua hal yang menjadi harapan Novia ketika memunculkan tema ‘Menciptakan Sense Of Belonging Dan Mengembangkan Potensi Sumba Melalui Public Speaking’, yaitu pertama, ia dapat membagikan ilmu dan keterampilan public speaking dan editting kepada kaum muda Sumba, untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk untuk memajukan dan mempromosikan potensi daerahnya. Kedua, ia mengenal daerah Sumba dan mendapat banyak teman dan relasi.
 
Hery Alberth Gardjalay, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Janabadra Yogyakarta menjawab tantangan Exploring Sumba dengan suatu karya berupa aktivitas membagikan ilmu pengetahuan yang ia miliki, salah satunya adalah penyadaran kepemilikan dokumen kependudukan, misalnya KTP dan Akta Kelahiran kepada teman-teman mahasiswa dan pemuda gereja di Sumba. Dengan tema ‘Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Menyejahterakan Kehidupan Bersama, sebagai Wujud dari Peran Warga Negara’ Hery berharap khususnya kaum muda dapat memahami hak dan kewajiban sebagai warga negara, mengerti dan memahami peran sentral sebagai warga negara dan aktif dalam menyikapi permasalahan masyarakat yang ada di sekitar mereka. Pengalamannya berinteraksi dengan masyarakat di daerah asalnya, Dobo, Maluku, tentu menjadi bekal yang sangat berharga ketika ia beraktivitas di Sumba pada bulan Juni – Juli 2014.
 
Stenly Recky Bontinge, dari Luwuk, Sulawesi Tengah tergerak untuk mengikuti program Exploring Sumba dengan mengusung tema ‘Logistik, Logika dan Hati’. Ia berpijak dari konsep masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mandiri dari perut, kepala dan hati, yang berarti bahwa suatu masyarakat akan kuat apabila masyarakat itu mampu mandiri dalam mencukupi kebutuhan pangan, memiliki pengetahuan kuat dan komitmen (keteguhan hati). Kombinasi pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki selama studi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan dan Magister Teknik Sistem Universitas Gadjah Mada Yogyakarta serta keterlibatannya sebagai tim Stube-HEMAT Yogyakarta menjadi bekal yang lengkap untuk berkarya bersama mahasiswa dan kaum muda di Sumba pada bulan Juni – Juli 2014. Ia berharap mahasiswa dan pemuda di Sumba dapat produktif dengan memanfaatkan lahan sesuai lokalitas tumbuhan, bisa mengidentifikasi masalah lingkungan dan advokasi serta teknik perekayasaan lingkungan secara sederhana dan dapat memperkuat manajemen komunitas.
 
 
Anda mahasiswa? Anda berminat? (TRU)
 

  Bagikan artikel ini

pada hari Sabtu, 7 Juni 2014
oleh adminstube
Bergabung Dalam Kamisan
Social Movement Institute

Kamis, 5 Juni 2014, beberapa aktivis Stube-HEMAT ambil bagian dalam acara kamisan yang diselenggarakan oleh Social Movement Institute (SMI) bekerjasama dengan KONTRAS. Aksi damai yang dikoordinasi oleh Asman dan Bandel Ilyas dari SMI ini dilaksanakan setiap hari Kamis. Aksi kali ini diikuti oleh sekitar tigapuluh pemuda dari berbagai elemen. Masing–masing mengenakan baju dominasi warna hitam dilengkapi payung hitam. Menurut Ilyas, koordinator lapangan, payung hitam dan busana hitam adalah simbol matinya keadilan, matinya hukum dan penegaknya. Busana hitam itu memang dipakai ketika orang sedang dalam suasana duka kematian.
 
Aksi diam yang ke-11 ini berlangsung sekitar empat puluh menit di seputar Tugu Yogyakarta. Sebuah spanduk dibentangkan bergambar pemuda-pemuda yang hilang dan diduga diculik diantaranya ada Wiji Tukul, Munir, dan wartawan Udin. Spanduk itu berbunyi ”kami tak melupakan, kami tak memaafkan.” Sejumlah stiker bertuliskan ungkapan Gandhi, ”Kekerasan adalah senjata orang berjiwa lemah” dibagikan ke sejumlah orang yang melintas.

Pada sela-sela acara, koordinator lapangan mengatakan kepada para aktivis dari Stube-HEMAT Yogyakarta bahwa sampai saat ini masih ada pelanggaran-pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Pelanggaran-pelanggaran itu tidak boleh dilupakan apalagi untuk kemudian dimaafkan. Ilyas menambahkan sudah terjadi ironi bahwa beberapa kelompok masyarakat melakukan pemaafan terhadap pelanggaran itu. Mereka menganggap bahkan mereka ingin melupakan kasus-kasus itu dengan alasan saatnya menyongsong masa depan dan sebagainya. Anggapan itu tidak benar, karena pelanggaran HAM sampai kapanpun kalau tidak diusut dan tidak diadili secara adil maka ia akan berulang terus.
Penuntasan kasus-kasus HAM adalah agenda besar calon presiden yang akan datang. Siapapun pemimpin mendatang, baik dari militer maupun dari sipil, harus punya agenda tersebut, bila tidak, maka tidak ada ruang untuk mereka menjadi pimpinan di negeri ini. Sampai saat ini Ilyas tidak tahu sampai kapan aksi ini akan dilakukan. Aksi serupa juga dilakukan di Jakarta, bahkan sudah berlangsung delapan tahun. Rencananya nantinya akan dibentuk suatu komite sebagai tindak lanjut.  Komite ini akan menjadi pintu perekrutan aktivis-aktivis baru dimana akan ada pelatihan, pendidikan politik dasar dan sebagainya.
 
 
Berbicara tentang HAM tanpa mempelajari sejarah pelanggaran HAM adalah ibarat berjalan dengan satu kaki, maka pelajaran sejarah harus dilakukan terus-menerus. Untuk itu aktivis Stube dimanapun berada harus selalu mengasah kemampuan dan peka terhadap permasalahan bangsanya sendiri, agar teori dan sejarah HAM  kita ketahui dengan baik. Aksi-aksi sederhana akan berdampak hebat bila dilakukan dengan konsisten. Teman-teman aktivis tidak hanya bertindak untuk mengembangkan potensi diri dan lingkungan tetapi juga aktif menyuarakan penegakkan keadilan. Keadilan menjaga keharmonisan di tengah kemajemukan masyarakat. (YDA)

 

 


  Bagikan artikel ini

pada hari Kamis, 5 Juni 2014
oleh adminstube
Jaminan MDGs

 

bagi kesehatan Ibu dan Anak

 

Diskusi Stube-HEMAT Yogyakarta, 3 Juni 2014

 

 

 

 

 

 

Komitmen masing-masing negara dan komunitas internasional untuk mencapai 8 tujuan pembangunan dalam Milenium (MDGs), sebagai satu paket tujuan pembangunan dan pengentasan kemiskinan yang terukur, harus tetap menjadi tujuan bersama penghuni dunia ini. Komitmen ini mencakup usaha-usaha untuk mengurangi lebih dari separuh orang yang kelaparan, menjamin semua anak menyelesaikan pendidikan dasar, mengentaskan kesenjangan gender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3, dan mengurangi hingga separuh orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015.

 

 

 

 

 

 

Indonesia tak luput dari usaha-usaha melakukan tujuan MDGs. Topik-topik di atas menjadi isu yang menarik dalam diskusi di Stube-HEMAT, Selasa 3 Juni 2014. Didampingi DR. Murti Lestari, selaku pemateri dan sekaligus Board Stube-Hemat, pembicaraan menyoroti tingkat kesehatan ibu dan anak di Indonesia yang masih rendah dan bahkan sangat jauh dari yang seharusnya, meski diakui bahwa pemerintah telah mampu setidaknya menurunkan angka kematian ibu dan anak. Bagaimanapun juga, perhatian pada perempuan dan anak menjadi unsur penting dalam keberlangsungan hidup suatu bangsa.

 

 

 

 

Diskusi ini dihadiri aktivis dari Social Movement Institute (SMI), Angga yang akan menjadi peserta Inter-religion Youth Forum dengan topik MDGs di Jerman; Gus Roy dari pesantren Tebu Ireng-Jombang; Pdt. Bambang Sumbodo M.Min, dan  beberapa aktivis Stube HEMAT Yogyakarta. Sebagai bekal mengikuti IYF, topik diskusi ini membantu memberi gambaran keadaan Indonesia dengan beberapa pencapaian tujuan MDGs.


 

 

Perlu diakui, bahwa isu-isu MDGs belum sepenuhnya tersosialisasi dengan baik dan dipahami oleh masyarakat, bahkan mahasiswa sekalipun. Sehingga perlu suatu kajian ulang atas pelaksanaan suatu program agar tercipta sinergi diantara para pemangku kepentingan guna mencapai tujuan-tujuan yang sudah dirumuskan bahkan menjadi komitmen negara-negara di dunia. (Loce)


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2020 (45)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 502

Kategori

TAG 1  TAG 2  TAG 3  TAG 4  TAG 5  TAG 6  TAG 7  TAG 8  TAG 9  TAG 10  TAG 11  TAG 12  TAG 13  

Youtube Channel

Official Facebook