Aku dan Gereja Berinteraksi dan Temukan Semangat Baru Pendampingan Remaja dan Pemuda GKJ Panggang    

pada hari Rabu, 29 Maret 2017
oleh adminstube

 

 

 

Stube-HEMAT Yogyakarta mendampingi kegiatan keakraban remaja pemuda GKJ Panggang, Gunungkidul yang diadakan di pantai Gesing, Gunungkidul pada hari Senin-Selasa, 27-28 Maret 2017 bertema ‘Aku dan Gereja’. Pendampingan yang merupakan tindak lanjut atas kerinduan melayani gereja pascapelatihan Christianity ini, bertujuan: 1) merealisasikan kegiatan pascapelatihan, khususnya pelatihan Christianity, 2) anak muda gereja mengetahui sejarah kekristenan dan gerejanya, 3) relasi dengan gereja lokal semakin erat, dan 4) melayani dalam rangka pemberdayaan jemaat gereja lokal.

 

 

Gereja Kristen Jawa (GKJ) Panggang berada di desa Girisekar, kecamatan Panggang, kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, sekitar 40 km dari pusat kota Yogyakarta dan bisa ditempuh dalam waktu 60 menit. Pada tahun 2009 gereja ini mendewasakan diri dari GKJ Paliyan dan memiliki 269 orang jemaat yang tersebar di empat pepanthan, yaitu Girisekar, Girimulyo, Giriharjo dan Giripurwo. Saat ini GKJ Panggang dilayani oleh seorang pendeta, yaitu Pdt. Subagyo, S.Th.

 

 

Di acara yang diikuti dua puluh empat peserta, Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta membagikan sejarah kekristenan masuk ke Indonesia dan sampai di Panggang, Gunungkidul. Ia menggunakan metode kreatif dan games kelompok sehingga peserta antusias mengikuti sesi dengan menyusun kartu-kartu yang berisi tahapan sejarah gereja, seperti masa pelayanan Yesus, Pentakosta, masa pelayanan rasul-rasul, reformasi gereja sampai masuknya kekristenan di Indonesia. Metode ini mendorong mereka berdiskusi dan berpendapat saat membahas urutan kronologis tahapan sejarah gereja.

 


Setelah itu aktivis Stube-HEMAT Yogyakarta mendampingi peserta berdialog untuk menemukan aktivitas-aktivitas apa saja yang diminati anak muda. Mereka memainkan tiga peran yang berbeda, antara lain sebagai majelis, pengurus remaja dan anggota remaja. Ternyata, meskipun muda mereka bersemangat dan aktif melalui ungkapan pendapat mereka tentang apa yang harus dilakukan anak muda gereja dan berbagai usulan kegiatan, antara lain memulai kembali persekutuan remaja, mengasah talenta menyanyi, memainkan alat musik dan menari, melayani di gereja dan mengadakan outbond.

 

Hari berikutnya team Stube-HEMAT Yogyakarta memfasilitasi dinamika kelompok melalui tiga jenis permainan. Elisabeth dan Trustha memandu permainan kerjasama ‘Participation’ di mana peserta memindah bola secara estafet menggunakan belahan bambu dari titik awal ke dalam gelas. Peserta belajar bagaimana bekerjasama dan ikut ambil bagian dalam suatu aktivitas.

Berikutnya Wilton dan Sipry memandu permainan ‘Water Relay’ di mana peserta memindah air di nampan melalui atas kepala dan menjaga supaya airnya tidak tumpah ke anggotanya. Peserta belajar cermat dan berhati-hati dalam bertindak dan melindungi anggotanya.

Sedangkan Redy dan Sarloce memandu permainan ‘Walking in the dark’ di mana peserta harus melewati daerah tertentu dengan mata tertutup. Satu orang dari kelompok dipilih untuk memberikan arahan ke mana anggota akan melangkah. Peserta belajar menjadi pemimpin yang mengarahkan anggota dan sebaliknya, anggota jeli mendengarkan arahan dari pemimpin.

 

 

 

Pdt. Subagyo, di akhir acara mengungkapkan, “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Stube-HEMAT Yogyakarta atas kerjasama pendampingan ini. Di satu sisi kegiatan remaja gereja sedang vakum dan kami sedang mencari fasiltator kegiatan untuk mereka, di sisi lain Stube-HEMAT Yogyakarta menawarkan berkegiatan di sini. Jadi ini seperti istilah Jawa ‘tumbu oleh tutup’ (wadah dan tutupnya) dan saya percaya Tuhan yang bekerja. Selain itu, majelis gereja sangat terbantu dan remaja pemuda menemukan semangat baru melalui materi dan aktivitas yang mereka ikuti di acara ini. Kami berharap kerjasama bisa terus terjalin.”

 

 

 

Benarlah adanya bahwa kerjasama akan mendorong terwujudnya interaksi dan di dalam interaksi ada proses saling mengenal dan saling belajar sehingga muncul pembaharuan dan kemajuan. Anak muda, teruslah berinteraksi dalam semangat kebersamaan. (TRU).


  Bagikan artikel ini

    REFLEKSI EXPLORING SUMBA Seni Peran Untuk Sumba Tanah Yang Permai    

pada hari Minggu, 26 Maret 2017
oleh adminstube
 

 

 

 

 

Pada program eksploring Sumba, saya mendapat kesempatan dari Stube-HEMAT Yogyakarta untuk mengunjungi pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Selama kurang lebih satu bulan saya tinggal di pulau Sumba untuk menggali dan belajar berbagai potensi yang terdapat di sana. Baik dari segi potensi alam, pemuda dan budaya. Sumba merupakan daerah yang sedang berada dalam fase perkembangan, untuk menyusul kemajuan ekonomi seperti yang berada di daerah Jawa, Bali dan Kupang. Dalam menyambut kemajuan ekonomi itulah lembaga Stube-HEMAT hadir untuk membekali dan memperkaya kapasitas para pemuda yang rata-rata adalah mahasiswa untuk menyambut tantangan zaman.

 

 

 

 

 

 

Sebagai salah satu peserta program eksploring Stube-HEMAT ke Sumba, saya mengemas program dalam bentuk pelatihan teater kepada pemuda mahasiswa di samping diskusi-diskusi kecil yang santai. Mengapa teater? Bagi saya teater adalah media untuk memberi ruang bagi pemuda dalam proses mengembangkan kapasitas yang dimilikinya. Segala data yang terpendam dalam memori dan imajinasi, melalui teater data tersebut dapat hidup dan tersalurkan.

 

 

 

 

Selain membantu dalam mengembangkan kapasitas pemuda, teater juga sangat berperan dalam menumbuhkan kesadaran pemuda untuk lebih mengenal lingkungan di mana mereka berada beserta permasalahan yang dihadapi bersama. Teater mencakup berbagai aspek kehidupan, seperti mengolah rasa, psikologis, gerak tubuh, harmoni alam hingga permasalahan kehidupan. Apabila teater dipahami sebagai satu kesatuan dalam hidup, maka teater dapat memberikan dampak positif dalam menumbuhkan potensi dalam diri seseorang.

 

 

 

 

Dalam seni peran, salah satu aspek yang tidak bisa ditinggalkan yaitu memahami situasi kehidupan. Artinya teater mengajak para pemuda untuk terus mempertajam dan melakukan analisa sosial. Dari hasil analisa sosial itulah data-data yang didapatkan kemudian dapat dituangkan dalam tulisan yang kemudian menjadi sebuah naskah pertunjukan. Melalui teater persoalan bersama dapat disuarakan kepada publik dan melalui teater para mahasiswa akan menemukan referensi baru yaitu merasakan apa yang sedang dialami orang lain. Dengan demikian teater menjadi media untuk pendampingan kepada masyarakat.

 

 

 

 

 

 

Tanah Sumba adalah tanah yang permai. Keindahan alam, potensi sumber daya alam, dan kebudayaan di tanah Sumba haruslah tetap dilestarikan. Salah satu cara untuk menjaga dan melestarikannya yaitu melalui seni peran. Pemuda dan mahasiswa dapat memberi bagian dalam menyiapkan dan mengembangkan kapasitas dalam proses menyambut perubahan dan tantangan zaman.

 

 

Antusiasme teman-teman muda di Sumba sangat bagus. Mereka dengan semangat mengikuti sesi latihan teater baik indoor maupun outdoor. Mereka juga berlatih membuat naskah drama yang dijiwai bersama teman-teman muda yang lain. Sayang, pementasan belum bisa dilaksanakan karena waktu yang belum pas. Saya percaya apabila ada kesempatan baik, potensi yang sudah diasah ini bisa ditampilkan saat diperlukan, sebagaimana naskah yang sudah siap diperuntukkan memperingati Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2017 lalu. Tetap semangat teman-teman mengasah kemampuan dan menyuarakan ide-ide kepada publik melalui teater. (VTS).


  Bagikan artikel ini

Tiga Puluh Menit dengan PMK ITY    

pada hari Sabtu, 25 Maret 2017
oleh adminstube
 
Pada hari Jum’at, 24 Maret 2017, Stube-HEMAT Yogyakarta berkesempatan untuk melakukan sosialisasi kepada teman-teman Persekutuan Mahasiswa Kristiani Institut Teknologi Yogyakarta. Sosialisasi dilakukan bersamaan acara ibadah rutin mingguan mahasiswa. Ada sekitar enam belas peserta yang hadir mengikuti ibadah dan sosialisasi. Setelah selesai ibadah, Sarloce, salah satu tim kerja Stube HEMAT Yogyakarta diberi kesempatan menyampaikan apa itu Stube HEMAT dan program-program yang dilakukan lembaga ini. Dalam acara tersebut dijelaskan bahwa Stube adalah lembaga pendampingan mahasiswa bagi mahasiswa yang menempuh studi di Yogyakarta. Beberapa contoh program yang pernah dilakukan meliputi Manajemen Konflik, Pertanian Organik, Masalah Anak Muda dan masih banyak lagi.


Untuk lebih jelas mengenai pelayanan program di Stube HEMAT, diputarlah sebuah video yang berisi kegiatan Stube di tahun 2015 dan 2016. Setelah selesai pemutaran video seorang mahasiswa bernama Riyandi bertanya, “Apa cara yang dilakukan Stube dalam merangkul teman-teman yang berbeda keyakinan dan budaya?” Dijelaskan pada kesempatan itu bahwa Stube HEMAT terus melakukan pendekatan dengan teman-teman yang berbeda budaya dan agama dengan membangun silaturahmi dengan mereka. Apabila komunikasi terjalin dan sudah saling kenal satu dengan yang lain maka sudah pasti akan ada kepercayaan. Proses membangun rasa percaya bukan sesuatu yang instan tetapi dapat dicoba meski perlu sedikit kesabaran.
 

 

Timotius bertanya, “Mengapa Stube hanya di Sumba dan Bengkulu sedangkan banyak tempat lain di Indonesia?” Membuka Stube di lain tempat tidak seperti membuka cabang toko, karena harus dimulai dari keterpanggilan. Stube HEMAT Sumba dan Bengkulu dibawa oleh mereka yang pernah aktif di Stube HEMAT Yogyakarta. Jika teman-teman ingin membangun di tempat lain bergabunglah dengan Stube agar Stube dapat dibangun di Sulawesi, Papua, Kalimantan dan kota lain di Indonesia.
 

 

Elisabet Uru Ndaya (Elis), salah satu aktivis di Stube HEMAT Yogyakarta bercerita bahwa sebelum mengikuti Stube dia tidak banyak tahu tentang motif kain Sumba, meski dia berasal dari Sumba. Tetapi saat bergabung dengan Stube HEMAT Yogyakarta, dia mendapatkan tantangan karena selalu dikatakan “orang Sumba kok tidak tahu motif pada kain Sumba”. Dari kalimat ini Elis menerima tantangan untuk mengikuti program Eksposur Lokal dengan meneliti dan belajar filosofi motif kain Sumba. Saat ini dia merasa lebih diperkaya dan lebih dekat dengan kampung halamannya.
 
Sebagai penutup, Sarloce menyampaikan bahwa Stube tidak menyediakan segala yang mahasiswa butuhkan tetapi Stube merupakan batu pijakan bagi bagi teman-teman untuk meloncat lebih jauh seperti mendapat pengalaman dan pengembangan kemampuan pribadi. (SAP).

  Bagikan artikel ini

  Pengetahuan, Keterampilan dan Jaringan Sosialisasi Stube di KMK St. Agustinus, Instiper    

pada hari Senin, 20 Maret 2017
oleh adminstube

 

 

 

“Keberhasilan hidup menjadi impian setiap orang juga seorang mahasiswa. Ia memiliki harapan yang ingin ia raih. Ia meninggalkan kampung halaman yang jauh dari pulau Jawa untuk menempuh studi di Yogyakarta demi mewujudkan cita-citanya. Ribuan mahasiswa datang ke Yogyakarta untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan baru yang menjadi bekal mereka dalam menjalani kehidupan. Tentu mereka berharap ketika selesai studi mereka benar-benar telah siap untuk masuk dalam dunia kerja maupun mengembangkan usaha mandiri”, demikian pengantar dari Trustha Rembaka, koordinator Stube-HEMAT Yogyakarta mengawali sosialisasi Stube-HEMAT Yogyakarta di Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) St. Agustinus Instiper Yogyakarta, Jumat, 17 Maret 2017 di kampus Instiper, Paingan, Sleman.

 

 

 

Sosialisasi diawali perkenalan dengan menyebutkan nama dan asal daerahnya, dilanjutkan dengan pemutaran video pendek Stube-HEMAT. Dalam sosialiasi ini disampaikan tiga hal penting yang harus dimiliki mahasiswa, yaitu: pertama, pengetahuan (knowledge), ini berkaitan dengan mahasiswa yang belajar dan mendalami materi-materi kuliah di Instiper, khususnya pertanian dan kehutanan sehingga ketika selesai kuliah ia diharapkan memiliki wawasan yang luas tentang pertanian dan kehutanan. Kedua, keterampilan (skills), berkait erat dengan kemampuan mahasiswa menerapkan atau mempraktekkan apa yang sudah dipelajari selama studi, sehingga ia benar-benar terasah dan terampil di bidangnya. Ketiga, jaringan (network), mahasiswa tidak bisa hidup sendiri, ia harus membangun relasi dengan sesama mahasiswa, dengan orang lain, dan lembaga lain demi pengembangan dirinya secara optimal. Jaringan ini bermanfaat bagi dirinya saat masih studi maupun setelah selesai studi dan kembali ke daerahnya. Stube-HEMAT Yogyakarta sebagai lembaga pendampingan mahasiswa Kristiani yang sedang studi di Yogyakarta memberi ruang dan kesempatan mahasiswa untuk belajar dan mengembangkan diri, tidak saja pengetahuan tetapi juga keterampilan dan jaringan melalui kegiatan-kegiatan yang ada di Stube-HEMAT Yogyakarta.

 


 

 

Angela Mugar, salah satu mahasiswa Instiper yang berasal dari Borong, Menggarai Timur menanyakan tentang program Eksposur Lokal, bagaimana cara mengakses kesempatan sebagai peserta program tersebut. Dijelaskan pada kesempatan itu bahwa program tersebut terbuka bagi mahasiswa yang pernah ikut dengan sungguh-sungguh kegiatan Stube-HEMAT Yogyakarta. Calon peserta mengajukan ide-ide apa yang akan ia lakukan di kampung halamannya saat libur jeda semester dan kemudian mempresentasikan proposal tersebut kepada team Stube-HEMAT Yogyakarta. Selanjutnya Nanno Silvano, yang berasal dari Larantuka, Flores Timur menanggapi bahwa kegiatan seperti yang dilakukan Stube-HEMAT inilah yang ia cari. Selama ini kegiatan yang ia ikuti lebih banyak di kerohanian saja, belum menyentuh hal-hal yang berkaitan dengan masyarakat.

 

“Kesempatan berkembang setiap mahasiswa banyak ditentukan dari dalam dirinya sendiri, dari kemauan memiliki pengetahuan, mengasah keterampilan dan membangun jejaring. Melalui proses itu diharapkan ia tumbuh menjadi manusia yang utuh, dewasa pribadinya dan mampu memberikan manfaat untuk sesamanya”, ungkap Trustha mengakhiri acara sosialisasi. Sementara itu Yugo Ardi Saputra, koordinator KMK St Agustinus Instiper menanggapi positif atas inisiatif Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan kegiatan sosialisasi, sebagai wujud kerjasama antar lembaga khususnya dengan mahasiswa di kampus. Ia berharap kerjasama terus terjalin dan bermanfaat untuk semua. (TRU).


  Bagikan artikel ini

Masihkah Menjadi Ekklesia*?    

pada hari Rabu, 15 Maret 2017
oleh adminstube
 
Masihkah menjadi ekklesia? Ya, pertanyaan ini mengemuka seiring berkembangnya zaman. Nilai-nilai kekristenan yang menjadi pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya mendapat tantangan yang tak mudah karena kehidupan terus berubah. Di satu sisi kehidupan duniawi gencar menawarkan berbagai kesenangan dan kemewahan yang bisa diakses dengan mudah oleh siapapun, di sisi lain masih ada realitas permasalahan yang terjadi di tengah masyarakat, seperti ketidakadilan, kemiskinan, fanatisme dan abai terhadap lingkungan.

 

Kata ekklesia dalam kehidupan kekristenan bermakna dipanggil keluar dari kegelapan menuju terang Kristus dan menerangi kegelapan yang ada di dunia. Orang Kristen khususnya anak muda perlu berefleksi, apakah nilai-nilai kekristenan itu masih menjadi pedoman? Apakah kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari merupakan dua bagian yang terpisah? Sudahkah nilai-nilai kekristenan mewujud dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kristiani? Hal ini menjadi titik tolak Stube-HEMAT Yogyakarta mengadakan program pelatihan Christianity pada 10-12 Maret 2017 di Wisma Asrama UKDW Yogyakarta dan diikuti oleh tiga puluh dua peserta dari daerah yang sedang kuliah di berbagai kampus di Yogyakarta.

 

 

 

Renungan pembukaan Pdt. Bambang Sumbodo dari Roma 1:16-17: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman”. Firman ini mengingatkan anak muda untuk kembali pada firman Tuhan, yaitu anugerah, iman dan firman Tuhan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

Ariani Narwastujati, Direktur Eksekutif Stube-HEMAT mengungkapkan bahwa Stube-HEMAT sebagai lembaga pendampingan mahasiswa mendorong anak muda khususnya mahasiswa terus meningkatkan kemampuan pengetahuan dan pengalamannya dalam menjawab tantangan lokal dan internasional. Kemampuan mereka ini nantinya diharapkan bisa bermanfaat bagi orang lain di sekitar mereka. Sejauh ini Stube-HEMAT telah ada di Yogyakarta dan Sumba, dan saat ini sedang ada perintisan multiplikasi Stube HEMAT di Bengkulu.

 

 

 

Sejarah kekristenan dan reformasi gereja yang dilakukan Martin Luther berpengaruh ke berbagai wilayah Eropa yang juga berdampak sampai ke Asia bahkan Indonesia. Salah satunya adalah adanya berbagai denominasi gereja di Indonesia. Hal ini dipaparkan oleh Pdt. Dr. Jozef MN Hehanussa, pengajar di Pascasarjana Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta. Selain itu, anak muda diingatkan tentang tantangan gereja yang harus menjawab konteks masalah saat ini sebagaimana yang ada dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2015-2030 seperti: kemiskinan, ketahanan pangan, kehidupan yang sehat, pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dan kesetaraan gender.

 

 

 

Achmad Munjid, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengungkapkan relasi Muslim dan Kristen terkadang tidak terjadi karena ada ‘barrier’ atau penghalang, yaitu prasangka yang muncul di antara orang Muslim dan orang Kristen itu sendiri. Di satu sisi ada prasangka kristenisasi, sementara di pihak lain ada prasangka terwujudnya negara Islam. Prasangka muncul karena mereka belum ada pengalaman berinteraksi bersama-sama. Menurutnya, ruang-ruang untuk bertemu inilah yang harus diadakan sehingga prasangka-prasangka akan terkikis dan berganti dengan sikap kebersamaan.

 

 

 

Sikap anak muda Kristiani untuk bangsa dikritisi oleh Brigjen (purn) TNI Noeryanto. Anak muda harus melihat kembali perjalanan sejarah bangsa dan berani memegang kebenaran meski menghadapi resiko. Ia mengungkap tantangan ketika masih berdinas sebagai tentara dan memaparkan asas kepemimpinan yang harus dimiliki anak muda, seperti ketakwaan, ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, waspada purba wasesa, ambeg paramarta, prasaja, satya, gemi nastiti, blaka dan legawa. Makna dalam bahasa Indonesianya kurang lebih demikian: bahwa sebagai pemimpin harus memberi contoh di depan, menyemangati, dan memberi kebebasan dalam koridor yang ditetapkan, pemimpin harus selalu waspada, rendah hati, sederhana, setia, tidak boros, jujur dan berani mengakui kesalahan.

 

 

 

Peserta selanjutnya bekerja kelompok merumuskan nilai-nilai kekristenan dan menemukan realita permasalahan yang terjadi di sekitar mereka dan merenungkan sudahkah nilai-nilai kekristenan menjawab permasalahan yang terjadi dan apa yang bisa anak muda lakukan sebagai terang menjawab permasalahan tersebut.

 

 

 

Rut Merani, peserta mahasiswa STAK Marturia dari OKU Timur, Sumatera Selatan berkata, “Di dalam pelatihan ini saya mendapat pengetahuan baru yang memotivasi saya untuk melakukan sesuatu. Walaupun saya masih kurang aktif, pelatihan ini membangun kepercayaan diri saya untuk berani bercerita tentang diri saya dan daerah saya. Saya ingin melakukan sesuatu yang baik untuk daerah saya.“

 

 

Sebuah otokritik untuk anak muda Kristen di Indonesia saat ini untuk hidup inklusif dalam kemajemukan, membuka diri dengan perbedaan, menjaring kerjasama dengan semua orang dan tetap berusaha untuk berpartisipasi menjawab permasalahan yang dialami masyarakat di Indonesia. Anak muda, tetaplah menjadi ekklesia. (TRU).


  Bagikan artikel ini

CHRISTIANITY   Sejarah Kekristenan, Denominasi dan Kontribusi untuk bangsa Indonesia    

pada hari Rabu, 8 Maret 2017
oleh adminstube


Sejarah kekristenan penting diketahui oleh anak-anak muda Kristen, khususnya bagi mereka yang tidak belajar teologi. Keristenan sudah ada di Indonesia dengan berbagai denominasi gereja. Mereka perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupan kekristenan pada era reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther sampai saat ini.

 

 

 

 

 

Nilai-nilai kekristenan menjadi pedoman dalam kehidupan setiap orang percaya, terlebih bagi anak muda di zaman modern di tengah gencarnya tawaran kehidupan duniawi dan mudahnya akses informasi.

 

 

 

Anak muda Kristen perlu berefleksi, apakah nilai-nilai kekristenan itu masih menjadi pedoman? Apakah kehidupan spiritual dan kehidupan sehari-hari merupakan dua bagian yang terpisah? Sudahkah nilai-nilai kekristenan mewujud dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kristiani?

 

 


Pelatihan Christianity ini menjadi sebuah otokritik untuk anak muda Kristen di Indonesia saat ini supaya tetap mampu memberitakan kabar baik dan berpartisipasi dalam menjawab permasalahan yang dialami masyarakat di Indonesia.


  Bagikan artikel ini

Berita Web

 2021 (24)
 2020 (48)
 2019 (37)
 2018 (44)
 2017 (48)
 2016 (53)
 2015 (36)
 2014 (47)
 2013 (41)
 2012 (17)
 2011 (15)
 2010 (31)
 2009 (56)
 2008 (32)

Total: 529

Kategori

Semua  

Youtube Channel

Official Facebook